You are on page 1of 12

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA TUMBUHAN

HUKUM MENDEL

Oleh:
Nama : Naufal Rahman
NIM : A1L006280

LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Genetika tanaman adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai sifat - sifat
genetik suatu tanaman dan perwujudan hasil dari persilangan suatu gen tanaman yang
mencakup kegiatan seperti pengembangan varietas, persilangan dan peningkatan
mutu tanaman yang diinginkan dengan melakukan pewarisan sifat campuran. Dalam
genetika tanaman dikenal istilah teori pewarisan sifat. Teori pewarisan sifat
dirumuskan oleh Mendel dai rangkai percobaan yang dilakukan yang berawal dari
kemauan dan kemampuan dalam mempersiapkan bahan-bahan untuk melakukan
persilangan tersebut.
Tumbuhan atau tanaman merupakan salah satu penopang hidup manusia yang
sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting
untuk perkembangan mahluk hidup. Setiap tumbuhan memiliki akar, batang dan daun
(baik itu sejati maupun tidak). Masing – masing memiliki fungsi utama dalam
pertumbuhan sebuah tumbuhan, dari setiap bagian itu memiliki fungsi yang saling
berkesinambungan satu dengan lainnya.
Hukum mendel satu adalah perkawinan dua tetua yang mempumyai satu sifat
beda (monohibrid). Setiap individu yang berkembangbiak secara seksual terbentuk
dari peleburan dua gamet yang berasal dari induknya. Berdasarkan hipotesis mendel
setiap sifat/ karakter ditentukan oleh gen (sepasang alel). Hukum mendel satu berlaku
pada waktu gametogenesis F1 X F1 itu memiliki genotipe heterozigot. Dalam
perestiwa meiosis, gen sealael akan terpisah, masing-masing akan membentuk gamet.
Waktu terjadi penyerbukan sendiri (F1 X F1) dan pada proses fertilisasi gamet-gamet
yang mengandung gen itu akan melebur secara acak dan terdapat empat macam
peleburan atau perkawinan. (penuntun praktikum, 2014)
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis
berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak
berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses
pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji
dari persilangan monohibrid (Syamsuri, 2004:101).
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh
keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya.
Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang
lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur
yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan
keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang
istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja
pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai
keseluruhan.
Mendel melakukan percobaan selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin
silang) sejenis buncis dengan memerhatikan satu sifat beda yang menyolok.
Misalnya, buncis berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput, buncis
dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau, buncis berbunga
merah dengan bunga putih, dan seterusnya. (Fandri, 2009).

1.2 Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk menjelaskan prinsip dan proses perpaduan
bebas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hukum Mendel I


Sebelum abad ke-20, pewarisan sifat dari tetua kepada keturunannya dipahami
sebagai “blending inheritance” atau pewarisan campuran. Sifat yang diperlihatkan
oleh keturunan adalah campuran dari sifat kedua tetuanya. Hukum Pewarisan Mendel
adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor
Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum
ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum
Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga
dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum segregasi (hukum pertama Mendel). Perbandingan antara B (warna
coklat), b (warna putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2.
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin),
kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga
tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya (Darjanto 1990).
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter
turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu
nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di
sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar,
misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww
dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di
sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada
gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual
dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan
diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Hukum mendel I adalah perkawinan dua tetua yang mempunyai satu sifat
beda (monohibrit). Setiap individu yang berkembang baik secara seksual terbentuk
dari perleburan 2 gamet yang berasal dari induknya. Berdasarkan hipotesis mendel
dari setiap sifat/karakter ditentukan oleh gen (sepasang alel). Hokum mendel I
berlaku pada waktu gametogenesis F1. F1 memiliki genotip heterozigot. Dalam
peritiwa meiosis, gen sealel akan terpisah , massng-masing terbentuk gamet. Baik
pada bunga jantan maupun bunga betina terjadi 2 macam gamet. Waktu terjadi
penyerbukan sendiri (F1 x F2) dan pada proses fertilisasi gamet-gamet yang
mengandung gen itu akan melebur secara acak dan terdapat 4 macam peleburan atau
peristiwa.( Suryati Doti, 2011)
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis
berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak
berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses
pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji
dari persilangan monohibrid (Syamsuri, 2014).
Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif
heterozigot. Baik pada bunga betina maupun benang sari, terbentuk 2 macam gamet.
Maka kalau terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) terdapat 4 macam perkawinan.
(Wildan Yatim, 1996:76).
Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun
sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai
kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant
lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet,
setengahnya mempunyai alel dominan A dan setengahnya mempunyai alel resesif a.
Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan
sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu
3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap
(AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33)
Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade kedua dari abad ke-19
setelah mendel menyajikan secara hati-hati hasil analisis beberapa percobaan
persilangan yang dibuatnya pada tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990).
Johann Mendel lahir tanggal 22 Juli 1822 di kota kecil Heinzendorf di Silesia,
Austria. (Sekarang kota itu bernama Hranice wilayah Republik Ceko.) Johann
memunyai dua saudara perempuan. Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam
bidang hortikultura ternyata dimulai sejak dia masih kecil. (Paskah,2010).
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh
keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya.
Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang
lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur
yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan
keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang
istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja
pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai
keseluruhan. Dalam eksperimennya, Mendel memilih tumbuhan biasa, kacang
polong, sedangkan para peneliti lain umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka.
Dia mengidentifikasi tujuh ciri berbeda yang kemudian dia teliti:
à bentuk benih (bundar atau keriput),
à warna benih (kuning atau hijau),
à warna selaput luar (berwarna atau putih),
à bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),
à warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning),
à letak bunga (tersebar atau hanya di ujung), dan
à panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek). (Paskah, 2010)
Mendel melakukan percobaan selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin
silang) sejenis buncis dengan memerhatikan satu sifat beda yang menyolok.
Misalnya, buncis berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput, buncis
dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau, buncis berbunga
merah dengan bunga putih, dan seterusnya. (Fandri, 2009).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Genetika Tanaman mengenai “Hukum Mendel I” dilaksanakan
pada hari Selasa, tanggal 8 Maret 2016, pukul 07.30-09.10 WIB. Bertempat di
Laboratorium Bioteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kertas HVS (A4), plastik
dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kancing merah, kancing hijau,
kancing putih, kancing kuning

3.3 Cara Kerja


Kancing berwarna berbeda diambil, masing-masing 30 pasang. Kancing yang
berwarna berbeda tersebut diibaratkan sebagai sel gamet. Dipisahkan masing-masing
kancing sehingga menjadi 60 satuan. Kancing-kancing tersebut dimasukan kedalam
kantung plastik dan dikocok. Kancing diambil secara acak dari dalam kantung plastik.
Hasil percobaan ditulis, kemudian percobaan diulangi dengan jumlah pasang kancing
yang berbeda, yaitu 40 pasang dan 20 pasang.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan


Tabel 1 Pencatatan Pengambilan 60x
Kombinasi Alel Perbandingan Jumlah Pasangan
MM (Hijau) 16
mm (kuning) 4:4:7 16
Mm (hijau-kuning) 28
Pada tabel 1 hasil pengambilan kancing 60 pasang secara acak didapatkan
kombinasi alel MM (hijau dominan) muncul 16 pasang, sedangkan untuk kombinasi
alel m ( kuning resesif didapatkan ada 16 pasang, dan untuk kombinasi alel hijau-
kuning didapatkan 28 pasang, yang akan didapatkan perbandingan 4:7:4. Hal ini tidak
merujuk kepada perbandingan hukum mendel yang berlaku, yaitu 1:2:1.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan ketidak sesuaian hasil
pengamatan dengan hukum mendel 1, diantaranya adalah perbedaan secara teoritis
ataupun logika dari perhitungan persilangan dengan cara pengambilan yang dilakukan
secara manual, yaitu dengan cara pengambilan kancing secara acak dalam kantung
plastik, yang berarti pada kancing hijau dan kancing kuning memiliki kemungkinan
banyak variasi hasil pengambilan. Ditambah lagi pada percobaan pertama ini
memiliki jumlah 30 kancing hijau dan 30 kancing kuning yang mengakibatkan akan
ada banyak kemungkinan hasil yang akan terbentuk.

Tabel 2 Pencatatan Pengambilan 40x


Kombinasi Alel Perbandingan Jumlah Pasangan
M ( Hijau ) 7
m ( kuning ) 7:7:16 7
Mm ( kuning-hijau ) 26
Pada percobaan tabel kedua, diamana jumlah yang diamati dikurangi 20 buah
pasang ( 10 kancing hijau dan 10 kancing kuning ). Pada tabel 2 ini dilakukan
pengambilan acak 40 pasang kancing dengan metode yang sama, yaitu kancing dalam
jumlah yang sama (20 kancing hijau dan 20 kancing kuning) dimasukan kedalam
plastik. Pada pengambilan 40 kali ini didapatkan, kombinasi alel MM (hijau
dominan) muncul 7 pasang, sedangkan untuk kombinasi alel m ( kuning resesif
didapatkan ada 7 pasang, dan untuk kombinasi alel hijau-kuning didapatkan 26
pasang, yang akan didapatkan perbandingan 7:7:16. Hal ini tidak merujuk kepada
perbandingan hukum mendel yang berlaku, yaitu 1:2:1.
Kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian hukum mendel pada tabel 2 ini,
diduga memiliki penyebab yang hampir sama, seperti pada percobaan di tabel 1.
Jumlah kancing benar-benar berpengaruh terhadap hasil pengambilan secara acak.

Tabel 3 Pencatatan Pengambilan 20x


Kombinasi Alel Perbandingan Jumlah Pasangan
M (Hijau) 5
m (kuning) 1:1:2 5
Mm(kuning-hijau) 10
Pada percobaan tabel terakhir masih menggunakan metode yang sama, dengan
jumlah pengambilan secara acak hanya 20 kali saja. Pada tabel 3 ini dilakukan
pengambilan acak 20 pasang kancing dengan metode yang sama, yaitu kancing dalam
jumlah yang sama (10 kancing hijau dan 10 kancing kuning) dimasukan kedalam
plastik. Pada pengambilan 20 kali ini didapatkan, kombinasi alel MM (hijau
dominan) muncul 5 pasang, sedangkan untuk kombinasi alel m ( kuning resesif
didapatkan ada 5 pasang, dan untuk kombinasi alel hijau-kuning didapatkan 10
pasang, yang akan didapatkan perbandingan 1:1:2. Hal ini merujuk kepada
perbandingan hukum mendel yang berlaku, yaitu 1:2:1.
Dengan kata lain, pada percobaan pengambilan kancing secara acak di tabel 3
sesuai dengan hukum I mendel. Hukum mendel I adalah perkawinan dua tetua yang
mempunyai satu sifat beda (monohibrit). Setiap individu yang berkembang baik
secara seksual terbentuk dari perleburan 2 gamet yang berasal dari induknya.
Berdasarkan hipotesis mendel dari setiap sifat/karakter ditentukan oleh gen (sepasang
alel). Hokum mendel I berlaku pada waktu gametogenesis F1. F1 memiliki genotip
heterozigot.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Didapatkan bahwa perbandingan monohybrid untuk sifat dominan : resesif =
3 : 1, terjadinya karena ada proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina dan
jantan. Setiap individu membawa sepasang gen, baik dari tetua jantan maupun betina.
Pada rasio genotip juga didapatkan bahwa genotipe merah-merah: merah-putih: putih-
putih yaitu 1:2:1. Sepasang gen yang memiliki dua alel yang berbeda, alel dominan
akan selalu nampak dari luarnya secara visual, sedangkan alel resesif tidak nampak
tetapi akan diwariskan pada gamet yang dibentuknya. Metode pengambilan kancing
dan jumlah kancing dapat mempengaruhi sesuai atau tidaknya hasil pengambilan
dengan hukum mendel I sendiri.

5.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa harus lebih mencari referensi mengenai hukum Mendel
I yang pada praktikum kali ini akan dilakukan. Agar mahasiswa sudah lebih mengerti
dan memiliki gambaran tentang praktikum yang akan dilakukan, demi menunjang
kualitas jalannya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Gajah Mada University Press :


Yogyakarta.
Darjanto. 1990. Hukum Mendel I dan II. Gramedia : Jakarta.
Fandri.2008. Hukum Mandel I. UMM PRESS : Solo.
Paskah. 2010. Hukum Mendel I. IPB PRESS : Bogor.
Suryati, Dotti. 2007. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi
Universitas Bengkulu.
Suryo.1990. Genetika Tanaman. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Erlangga : Jakarta.
Yatim, Wildan. 1996. Genetika. TARSITO : Bandung.
LAMPIRAN

Gambar 1 Hasil Pengambilan 20x Gambar 2 Kancing Hijau dan


Kuning yang digunakan

Gambar 3 Hasil Pengambilan 60x Gambar 4 Hasil pengambilan 40x