You are on page 1of 9

KEWAJIBAN MANUSIA

A. Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

Manusia dilihat dari aspek ajaran akhlak mempunyai beberapa kewajiban.


Kewajiban yang pertama harus dilaksanakan adalah kewajiban terhadap diri sendiri.
Orang akan dapat melaksanakan beberapa kewajiban yang lain apabila ia telah dapat
menyelamatkan dirinya sendiri.

Manusia hidup di dunia tak lepas dari dua persoalan kebutuhan, yaitu kebutuhan
jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani adalah segala kebutuhan yang berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan jasad. Tubuh kita perlu berkembang, berenergi, dan
sehat. Untuk
mendapat itu semua tubuh kita membutuhkan makanan, atau obat-obatan. Maka
manusia berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya itu.
Di samping kebutuhan jasmani, manusia juga membutuhkan kesenangan,
kedamaian, pengetahuan, yang semuanya ini merupakan kebutuhan rohani. Ia harus
memberi makan pada pikirannya dengan ilmu pengetahuan, ia harus memberi makan
pada hatinya untuk mendapatkan kedamaian, ketenangan hidup, dan semangat serta
harapan hidup kelak yang damai sejahtera.
Kedua kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara seimbang. Apabila antara salah
satunya kurang terpenuhi dengan baik, maka akan berpengaruh pada keseluruhan jiwa
dan raga manusia, dalam mengarungi hidup ini. Oleh karena itu sudah merupakan
ketentuan bahwa manusia harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Kebutuhan itu
antara lain meliputi :
1. Pemenuhan kebutuhan baik lahir maupun batin.
2. Menjaga agar keadaan jasmani maupun rohani tetap sehat dan baik.
Sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an :

Artinya :
Dan janganlah kamu menjatuhkan diri sendiri ke dalam jurang kebinasaan. (QS.
Al Baqarah : 195).
Memenuhi kebutuhan baik lahir maupun batin merupakan perjuangan hidup yang
kadang memang berat. Akan tetapi menjaga agar kita tetap sehat lahir dan batin adalah
perjuangan hidup yang lebih berat. Kita dapat melihat kenyataan bahwa banyak manusia
yang telah berhasil mengumpulkan harta untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya atau
juga orang telah berhasil meraih ilmu pengetahuan untuk pemenuhan kebutuhan
rohaninya, akan tetapi menjaga harta atau ilmu pengetahuan agar tetap digunakan
untuk kemaslahatan sesuai dengan aturan Allah bukanlah hal yang mudah. Banyak orang
yang tergelincir karena harta atau ilmunya ke jurang kehidupan, yang tidak di
kehendaki aturan Sang Pencipta. Berkaitan dengan ini Allah SWT. memperingatkan
kepada orang-orang yang beriman sebagai berikut :

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
(QS. At Tahriim : 6).

Demikian juga dalam hal menjaga keseimbangan pemenuhan kebutuhan,


manusia sering tergelincir. Pemenuhan kebutuhan jasmani memang berat, demikian
tidak kalah beratnya pemenuhan kebutuhan rohani. Akan tetapi lebih berat lagi
menjaga keseimbangan pemenuhan kebutuhan itu. Kita dapat melihat di sekeliling
kehidupan kita, orang sering lebih mementingkan kehidupan dunia, dengan
mengabaikan pemenuhan kebutuhan rohani atau akhirat. Atau sebaliknya, orang
melupakan pemenuhan kebutuhan dunia dengan lebih banyak mementingkan
pemenuhan kebutuhan rohani. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh Islam. Islam
menghendaki keseimbangan pemenuhan kebutuhan, sebagaimana firman Allah
SWT. :

Artinya :
Dan carilah segala apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
tentang negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari
kenikmatan dunia.(QS. Al Qashash : 77).
Sejalan dengan maksud ayat tersebut. RasuluIIah SAW. bersabda :

Artinya :
Bukanlah orang yang terbaik dari kamu orang yang meninggalkan dunianya
karena mengejar akhiratnya, dan juga orang yang meninggalkan akhiratnya
karena mengejar dunianya, (ia akan baik) sehingga ia mendapat keduanya
sekaligus dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia yang lain. (HR.
Ibnu Asakir dan Dailami).

B. Kewajiban Terhadap Ibu Bapak dan Keluarga

Ibu dan bapak adalah manusia yang paling dekat dengan kita. Sejak kita masih
berada di alam rahim, ibu bapak lah yang pertama memikirkan tentang kita.
Kemudian kita lahir di dunia, ibu bapak juga yang pertama menaruh perhatian
dengan segala kasih sayang. Kita merasakan sakit, sedih, juga bapak ibu kita yang
pertama memperhatikan kita. Ibu bapak adalah manusia pertama yang paling dekat
dengan kita.
Lebih lanjut kita merasakan bahwa ibu bapak adalah manusia yang bersedia
mencurahkan kasih sayangnya kepada kita sepanjang masa. Kasih sayang yang
mereka berikan meliputi pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Ibu dan bapak
mengupayakan untuk memberikan materi sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani,
juga memberikan kasih sayang untuk memenuhi kebutuhan rohani. Kita sakit, ibu
bapak lah yang berupaya mengobati. Kita sedih, ibu bapak lah yang berupaya
menghibur. Dan yang tak kalah pentingnya, ibu bapak lah yang membekali kita ilmu
pengetahuan, mendidik kita sehingga kita mampu hidup dan menyesuaikan dengan
lingkungan, bahkan kita bisa sukses dalam kehidupan.
Islam mengajarkan agar seseorang berbakti, serta mentaati ibu bapak selama ibu
bapak tidak menyuruh untuk menyekutukan Allah SWT. Setelah kita menunaikan
kewajiban terhadap Allah, maka kewajiban berikutnya adalah berbakti kepada ibu
bapak. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan tentang perintah berbuat baik kepada ibu
bapak, antara lain :

Surat An Nisa ayat 36 :

Artinya :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, kerabat dekatmu,
anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu
sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An Nisa : 36).

Surat Lukman ayat 14 :

Artinya :
Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang tua ibu
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang semakin
bertambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua orang ibu bapakmu. (QS. Lukman : 14).
Surat Al Isra' ayat 23 - 24 :

Artinya :
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Diay dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-
baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaannya, maka janganlah sekali-kali kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "hus" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanldh dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah "wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagai-mana
mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al Isra' : 23 - 24).

Beberapa hadits nabi menyatakan antara lain :

Artinya :
Dari Abdu Rahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : "Aku bertanya kepada Nabi
SAW. : 'Manakah amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah?' Nabi menjawab :
'Shalatlah tepat waktu.' Kemudian aku bertanya : 'Kemudian apa lagi?' Nabi
menjawab : 'Berbuat baik kepada orang tua.' Saya bertanya lagi : 'Kemudian
apa lagi?' Nabi menjawab : 'Berjuang di jalan Allah'." (HR. Bukhari dan
Muslim).
Artinya :
Pulanglah kepada ibu bapakmu dan baik-baiklah bergaul dengan keduanya. (HR.
Muslim).

Artinya :
Berbaktilah kepada ibu bapakmu, pasti nanti anak-anakmu akan berbuat baik
kepadamu. (HR. Tabrani).

Artinya :
Keridhoan Allah tergantung pada keridhoan ibu bapak, dan kutukan Allah
tergantung juga pada kutukan kedua ibu bapak. (HR Tumudzi).

Artinya :
Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. (HR. Ahmad).

Artinya :
Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang ia
pimpinnya; apakah ia memelihara atau menyia-nyiakannya, sehingga seseorang
akan ditanya tentang urusan keluarganya. (HR. Ibnu Hibban).
C. Kewajiban Terhadap Allah SWT.

Dalam sejarah kehidupan manusia, kita dapat menemukan bahwa manusia pada
dasarnya mempercayai kekuatan-kekuatan ghaib di luar dirinya. Kita mengenal dalam
perkembangan kepercayaan manusia, bahwa pada tahapan tertentu ada yang mempercayai
adanya kekuatan-kekuatan ghaib yang ada pada benda, dan pada roh-roh. Dari
kepercayaan-kepercayaan ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya
mempercayai adanya kekuatan-kekuatan ghaib yang ikut mempengaruhi kehidupan
nyata ini. Adanya unsur kepercayaan kepada kekuatan di luar alam nyata telah melekat
pada diri manusia. Allah SWT. Maha Kasih dengan makhluk-Nya. Dia menurunkan
wahyu melalui para rasul-Nya untuk membimbing manusia agar kepercayaannya
kepada yang ghaib tidak keliru. Melalui kitab suci-Nya menjelaskan bahwa Allah lah
yang menciptakan segalanya, dan Allah lah Yang Maha Pengatur segalanya. Oleh
karena itu "hanya kepada Allah jualah segala kepercayaan dan keimanan dicurahkan.
Tak ada daya upaya melainkan dari Allah SWT. semata.

Allah yang Maha Pencipta menurunkan kasih sayang-Nya berupa tuntunan keimanan
melalui Kitab Suci yang diwahyukan kepada rasul-Nya, sehingga manusia mengetahui
tentang kewajibannya menyembah Allah. Manusia wajib bersyukur kepada Allah yang
telah menciptakan dan memberikan bimbingan, sehingga manusia akan selamat dalam
menempuh kehidupan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kewajiban manusia
beribadah bukanlah merupakan kebutuhan Allah SWT., akan tetapi kebutuhan manusia
sebagai makhluk-Nya, dan sebagai tanda terima kasih kepada-Nya. Tanda terima kasih
kepada Allah tidaklah terlalu sulit untuk dikerjakan manusia. Allah telah memberikan
tuntunan bahwa terima kasih itu banya perlu diwujudkan dengan bentuk becbakti dan
beribadah kepada Allah. Sebagaimana dinyatakan. dalam firman-Nya :

Artinya :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadat
kepada-Ku. (QS. Az Za-riyat : 56).

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal, bahwa manusia pada fitrahnya ingin
mengabdi kepada kekuatan yang lebih besar. Sedangkan Allah adalah Maha Besar. Allah
telah menjelaskan dan memberikan tuntunan cara-cara untuk mengabdi kepada
kekuatan yang Maha Besar. Allah menjelaskan bahwa Allah lah Tuhan yang Maha Esa.
Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah. Dengan demikian jika manusia akan
menyesuaikan dengan fitrahnya, maka manusia menyembah kepada Allah SWT. semata.
Manusia yang tidak mau menyembah Allah sebagai kekuatan yang Maha Besar berarti
manusia tersebut mengingkari fitrahnya sebagai manusia dan berada dalam kesesatan.
Firman Allah SWT.

Artinya :
Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, pantaskah kamu
menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan
kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al An 'aam : 74).

Dari ayat ini kita dapat menarik pelajaran bahwa mempersekutukan Allah dengan
benda merupakan kesesatan yang nyata. Sebab Allah telah memberikan tuntunan kepada
manusia tentang kepada siapa sebenarnya manusia beriman dan beribadah.

Sejalan dengan ini Rasulullah SAW. bersabda :

Artinya :
Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah
perbuatan jahat dengan perbuatan baik, pasti dapat menghapuskannya, dan
pergaulilah manusia dengan perangai yang baik dan mulia. (HR. Turmudzi).

Demikian dapat kita simpulkan bahwa manusia mempunyai kewajiban kepada


Allah, antara lain ;
1. Mempercayai bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib di sembah.
2. Tidak boleh menyekutukan Allah kepada sesuatu apapun.
3. Melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Menjadi khalifah di muka bumi untuk membuat kedamaian dan kesejahteraan di bumi.