You are on page 1of 3

Serotinus/postterm adalah kehamilan lebih dari 42 minggu dengan berdasarkan perhitungan

kehamilan dengan HPHT dan belum terjadi persalinan

Aterm adalah kehamilan 38-42 minggu (periode persalinan normal)

Postmatur adalah penggambaran janin yang memperlihatkan adanya kelainan akibat kehamilan
yang berlangsung lebih dari yang seharusnya (serotinus).

Pengaruh Serotinus

Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari serotinus adalah :

a). Terhadap Ibu :

Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, maka akan
sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.

b). Terhadap Bayi :

Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu,
karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi
seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42
minggu. Ada pula yang terjadi kematian janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin
besar, moulage.

Komplikasi

a). Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu:

(1) Komplikasi pada Ibu

Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri, atonia uteri dan
perdarahan postpartum.

(2) Komplikasi pada Janin

Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap atau berkurang,
serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.

b). Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi
pada Janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin, gerakan janin berkurang, kematian
janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.

c). Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi pada
janin. Komplikasi yang terjadi seperti : kelainan kongenital, sindroma aspirasi mekonium, gawat janin
dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka pangjang
pada bayi.
RESIKO

Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin,
sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan
aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang,
lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan
kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan
terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai
cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke
dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum
aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat
mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan
neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia
karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang.
Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan
perdarahan postpartum.

Terhadap Ibu :

Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, maka
akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.

Terhadap Bayi :

Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40
minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada
janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang
sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian janin dalam kandungan,
kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage.

Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998), yaitu :

a) Biasanya lebih berat dari bayi matur (> 4000 gram)


b) Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
c) Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
d) Verniks kaseosa di badan kurang
e) Kuku-kuku panjang
f) Rambut kepala agak tebal
g) Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal
4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada
trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28
minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai
usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7-8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir.
Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah
terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang
digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu
diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah
hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat
ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka
itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.