You are on page 1of 9

Jurnal Tugas Akhir

ANALISA VIBRASI PADA VARIASI FLANGE PIPA PENYALUR HIDROKARBON


AKIBAT ALIRAN INTERNAL
Krishna Kurniawan Ramadhan1, Wisnu Wardhana2, Suntoyo3
1
Mahasiswa Teknik Kelautan, 2,3Staf Pengajar Teknik Kelautan
Abstrak
Flange pada pipa penyalur hidrokarbon menyebabkan adanya turbulensi aliran fluida di dalam pipa yang
mengakibatkan terjadinya getaran (vibrasi). Analisa vibrasi dilakukan untuk mengetahui apakah frekuensi dan
amplitudo getaran yang terjadi pada variasi flange yaitu Lap Joint Flange, Slip-On Flange, Socket Weld Flange,
Reducing Flange, dan Orifice Flange masih berada pada batas aman atau tidak. Pressure dan velocity diperoleh
dari hasil simulasi dengan menggunakan software flow3D, sedangkan untuk mendapatkan frekuensi natural,
displacement dan sebaran tegangan von mises digunakan ANSYS Multiphysics. Dari hasil analisa menunjukkan
bahwa turbulensi yang terjadi menyebabkan terjadinya getaran pada struktur pada saat beroperasi. Getaran yang
terjadi pada flange berdasarkan OM-3 masih dalam batas aman yaitu amplitudo berupa displacement masih
kurang dari 2.164 x 10-4 m, dan frekuensi natural kurang dari 134 Hz untuk mode 2.
Kata kunci : vibrasi, flange, aliran internal.

1. PENDAHULUAN dengan flange kemudian diikat dengan baut (bolt


Eksplorasi minyak dan gas bumi semakin meningkat dan nut).
di perairan Indonesia yang memerlukan sarana Jenis-jenis flange (Parisher, 2002) antara lain:
transportasi yang efektif dan efisien. Penggunaan
1. weld neck flange
pipa bawah laut sebagai alternatif transportasi hasil 2. threaded flange
eksplorasi yang harus memiliki tingkat integritas 3. socket weld flange
yang tinggi (Soegiono, 2004). Pitting corrosion
4. slip-on flange
yang menyebabkan kebocoran pipa kebanyakan 5. lap-joint flange
terjadi pada flange atau sambungan pipa karena 6. reducing flange
terbentuk ulegan yang terjadi secara kontinyu
7. blind flange
(Chevron, 2008). Kemudian diadakan suatu 8. orifice flange
penelitian oleh Rouza (2009) mengenai pola aliran
yang terjadi pada flange dengan memvariasikan
jenis flange dan kecepatan fluida. 2.2. Fluida
a. Aliran Laminar
Fenomena fluida di dalam pipa berkaitan dengan Aliran dalam pipa terhadap sumbu z tidak simetris
perubahan kecepatannya, jenis aliran (laminar atau
sehingga diperlukan kontrol volume differensial.
turbulen) dan perubahan bentuk penampang pipa. Bentuk kontrol volumenya adalah bentuk cincin dan
Ketika pipa dialiri fluida yang bersifat turbulen, dua sumbu yaitu sumbu x dan r (gambar 2.1).
maka akan terjadi getaran (vibrasi) pada struktur
pipa. Jika pipa tersebut tidak kuat maka pipa akan
terjadi kegagalan karena beban dinamis yang
mengenainya.
Getaran (vibrasi) yang terjadi pada variasi flange
dikaji dengan meninjau frekuensi dan amplitudo
getaran yang terjadi memenuhi batas aman dengan
memacu pada ASME OM-3.
Gambar 2.1 Kontrol Volume Cincin untuk Analisis
2. DASAR TEORI Aliran dalam Pipa (Swierzawski, 2000)
2.1. Perpipaan
Sistem perpipaan selalu dilengkapi dengan Dengan menyelesaikan persamaan tegangan pada
komponen-komponen seperti valve, flange, elbow, luasan permukaan dalam dan permukaan luar cincin
fitting, bolting, tubes, dll. Menurut Raswari (2007), maka akan diperoleh distribusi kecepatan terhadap
tipe sambungan pada sistem perpipaan dapat sumbu r didapat persamaan (2.1):
dikelompokkan sebagai berikut:
(2.1)
1. Sambungan langsung (stub in)
2. Menggunakan fitting Distribusi tegangan geser persamaan (2.2):
3. Menggunakan flange
(2.2)
Sambungan pipa menggunakan flange yaitu dengan
cara kedua pipa yang akan disambung dipasang Laju aliran volume adalah persamaan (2.3):

1
Jurnal Tugas Akhir

Untuk aliran pipa dengan penampang bundar. Jika


tidak ada fluida yang ditambahkan atau
(2.3) dipindahkan, maka volume fluida yang mengalir
tiap satuan waktu adalah tetap, dan dapat
Maka laju aliran volume fungsi penurunan tekanan dirumuskan dengan konstan (white,
adalah persamaan (2.4): 1994). Persamaan tersebut adalah persamaan
kontinuitas aliran dimana . Jika fluida
(2.4) mengalir di dalam pipa adalah incompressible maka
sehingga
b. Aliran Turbulen
(2.11)
Pada aliran turbulen tidak dapat diturunkan suatu (2.12)
persamaan umum antara medan tegangan dan
Dengan,
kecepatan, sehingga semua persamaan untuk aliran
debit aliran (kg/ )
turbulen adalah berdasarkan hasil percobaan.
luas penampang ( )
Yamaguchi (2008), hubungan empiris untuk λ kecepatan aliran fluida (m/s)
dalam hidrodinamika permukaan pipa halus adalah
valid untuk jangkauan Reynolds Number yang 2. Persamaan Momentum Linear
mengalami aliran turbulen. Hubungan antara Hukum kedua dari Newton untuk suatu sistem,
kekasaran dengan Reynold Number dapat ditulis digunakan sebagai dasar guna mencari persamaan
dalam persamaan (2.5) momentum linear untuk suatu volume kontrol.

(2.5) (2.13)

Kecepatan aliran turbulen dapat ditulis dalam 3. Persamaan Energi


persamaan (2.6) Hukum pertama termodinamika untuk suatu sistem
menyatakan bahwa panas yang diberikan kepada
(2.6) sistem dikurangi dengan kerja yang dilakukan
oleh suatu sistem hanya bergantung pada keadaan
Dengan, awal serta keadaan akhir sistem itu.
y = r0 – r , wall distance.
n = power index (2.14)
u = average velocity
Untuk tegangan geser adalah persamaan (2.7)
(2.15)
Energi intrinsik per massa satuan disebabkan oleh
(2.7) jarak serta gaya molekular.
Laju aliran volume adalah persamaan (2.8) (2.16)
d. RNG Model
RNG model turbulen diturunkan dari
persamaan Navier Stokes, menggunakan teknik
(2.8) matematical yang disebut “renormalization group”
(RNG). Hasil analisa model dengan konstanta
c. Persamaan-persamaan dasar untuk berbeda dari standard model, ketentuan
menganalisis gerakan fluida tambahan dan fungsi dalam persamaan transport
1. Persamaan Kontinuitas untuk dan . Persamaan transport untuk RNG
Persamaan-persamaan kontinuitas dikembangkan model mempunyai bentuk yang hampir sama
dari asas-asas umum kekekalan energi, yang
dengan standard model :
menyatakan bahwa massa di dalam suatu sistem
adalah tetap konstan terhadap waktu,
(2.9)
(2.17)
Persamaan kontinuitas untuk volume kontrol
menyatakan bahwa laju pertambahan terhadap
waktu untuk massa di dalam volume kontrol adalah
tepat sama dengan laju bersih aliran-masuk massa
ke dalam volume kontrol itu. (2.18)
Dalam model standard k-epsilon viskositas eddy
(2.10)
ditentukan dari skala panjang turbulensi tunggal,

2
Jurnal Tugas Akhir

sehingga difusi turbulen yang terjadi dihitung pada • Velocity


skala yang ditentukan. Pendekatan RNG yang • Acceleration
merupakan teknik matematika yang dapat digunakan
Untuk analisa dinamis digunakan perhitungan
untuk mendapatkan model turbulensi, mirip dengan
dynamic response dari struktur yang terkena beban
k-epsilon, hasilnya dalam bentuk yang dimodifikasi
dinamis yang hasilnya berupa displacement,
dari persamaan epsilon, yang dapat menjelaskan
tegangan, regangan, dan gaya pada struktur pipa.
berbagai skala gerak melalui perubahan jangka
Persamaan gerak secara umum untuk analisa
waktu produksi.
dinamis dapat ditulis dalam persamaan (2.19)
2.3. Getaran (Vibrasi)
FIV (Flow Induced Vibration) bisa disebabkan (2.19)
karena adanya sesuatu yang dapat merubah aliran
Dengan,
laminar menjadi aliran turbulen. Aliran turbulen
(M) = matriks massa
inilah yang menyebabkan pipa mengalami vibrasi
(C) = matriks redaman
(getaran).
(K) = matriks kekakuan
Getaran adalah suatu gerakan bolak-balik yang = vektor percepatan
mempunyai amplitudo yang sama (Rao, 2004). = vektor kecepatan
Beberapa komponen penting pada getaran adalah = vektor displacement
sebagai berikut: = vektor beban
1. Frekuensi 2.4. Vibrasi perpipaan yang diijinkan
Frekuensi adalah banyaknya jumlah putaran atau Berdasarkan teori yang digunakan pada ASME
gerakan dalam satu satuan waktu. Dinyatakan Operations and Maintenance Standards/Guides
dalam satuan Hertz (Hz). Part 3 untuk menghitung vibrasi pada operasi steady
2. Amplitudo state, dapat menggunakan nomogram yang telah
Amplitudo adalah simpangan terbesar dari titik dikembangkan. Nomogram dapat digunakan untuk
normalnya. Amplitudo dapat dapat berupa : analisa jika frekuensi natural cocok dengan
(1) Perpindahan (displacement) perhitungan frekuensi natural pada span. Ini
(2) Kecepatan (velocity) membutuhkan asumsi-asumsi digunakan untuk
(3) Percepatan (acceleration) perhitungan vibrasi akibat stress yang valid.
(4) Sudut Fase (phase angle) Dynamic stress maksimum dapat dihitung
Sudut fase dapat diartikan sebagai perbedaan menggunakan perhitungan vibration displacement
amplitudo dalam satu frekuensi. maksimum dan stress intensity factors C2K2 yaitu
Analisa Vibrasi dapat didefinisikan sebagai studi 5.12. Vibration Amplitude maksimum yang
dari pergerakan osilasi, dengan tujuan mengetahui diijinkan dapat dibaca secara langsung dari harga
efek dari vibrasi dalam hubungannya dengan stress per mil. Nomogram ini memperbolehkan
performance dan keamanan sebuah sistem dan analisis untuk perhitungan cepat pada sistem
bagaimana mengontrolnya (Medio, 2008). perpipaan untuk perhitungan span yang mempunyai
batas keamanan yang cukup.
2.5. Penggunaan Nomogram:
1. Menentukan frekuensi span pipa.
Persamaan yang digunakan didalam nomogram
yaitu:
(2.20)

dengan : = frekuensi (Hz)


= Frekuensi faktor
= outside diameter (inch)
Gambar 2.2. Deskripsi Vibrasi Sederhana = panjang span (ft)
(Medio,2008) Untuk perhitungan pertama adalah menentukan
Seperti gambar 2.2, ketika massa ditarik kebawah frekuensi natural. Pertama dengan menghubungkan
lalu dilepaskan maka akan terjadi gerakan osilasi panjang span kepada outside diameter pada
sampai periode tertentu. Dibutuhkan sedikit energi gambar A. Antara panjang span dan outside
untuk menimbulkan frekuensi natural dari sebuah diameter , ditandai dengan titik R pada
sistem, seperti halnya sebuah struktur yang ingin perpotongan dengan garis referensi (reference line).
merespon frekuensi tertentu. Hasil dari vibrasi dapat Tahap kedua adalah menentukan frekuensi natural
berupa: dari span yaitu dengan menghubungkan garis dari
• Displacement titik R ke frequency factor dari karakteristik

3
Jurnal Tugas Akhir

span pipa (constraint). Garis frekuensi dari natural pada jenis data dan kebutuhan data untuk melakukan
tepat berada disebelah kanan dari garis referensi. kajian.
2. Perhitungan vibrasi Stress per-mil. Langkah kedua yaitu dengan melakukan pemodelan
Persamaan yang digunakan di dalam nomogram pada software flow3D untuk mendapatkan pola
yaitu: aliran yang outputnya berupa pressure dan velocity.
Pada langkah ketiga, pressure yang didapat pada
(2.21) langkah sebelumnya menjadi input pada pemodelan
struktur dengan ANSYS Multiphysics, outputnya
dengan:
berupa frekuensi natural dan displacement serta
= Deflection Stress Factor
tegangan von mises. Setelah didapatkan frekuensi
= Outside diameter (inch) natural dan amplitudo berupa displacement
= panjang span (ft) dilakukan pengecekan dengan code yang ada yaitu
= Stess per-mil of vibration ASME OM-3 yang dilakukan dengan penggunaan
nomogram yang telah dikembangkan oleh Wachel
Untuk menentukan vibrasi karena stress per-mil, (1995).
dengan menghubungkan titik R (reference line)
kepada stress deflection factor . Stress per-mil 3.2. Data-data yang digunakan
yang didapatkan dari (s/y) adalah nominal stress dan Data pipa yang digunakan berdasarkan API RP 14E:
tidak termasuk intensity factors . Untuk • Diameter 12” dan wall thickness 0.375”
perhitungan ukuran vibration induced stresses, • Diameter 8” dan wall thickness 0.32”
harus menggunakan persamaan, Data flange yang digunakan berdasarkan MSS SP-4:
(2.22) • lap-joint flange 12”
• slip-on flange 12”
3. Amplitudo vibrasi yang diijinkan. • socket weld flange 12”
Persamaan yang digunakan di dalam nomogram • reducing flange 12”
yaitu: • orifice flange 12”
(2.23) Fluida yang digunakan yaitu hidrokarbon:
• Mass Density 39.44 lb/ft3
dengan :
• Molecular weight 82.82 lb/mol
= Amplitudo vibrasi ijin (mil)
• Flow Rate 34000 bpd
= stress per-mil of vibration (psi/mil)
• Viskositas 0.179 lb/in2
Harga dari vibration displacement yang diterima 3.3. Analisa aliran fluida FLOW3D
dapat ditentukan pada lokasi yang sama pada stress Untuk menganalisa aliran fluida menggunakan
per-mil dengan membaca bagian sisi sebrangnya software flow3D, dilakukan pemodelan fluida yang
dimana allowable vibration amplitude tertulis. bentuknya menyerupai geometri dalam pipa.
4. Amplitudo velocity yang diijinkan.
Velocity getaran yang diijinkan dapat ditentukan
dari perhitungan vibration displacement yang
diijinkan dengan menkonversi harga ini ke velocity.
(2.24)

dengan :
= Velocity yang diinginkan (in/s)
= displacement allowable (mil) Gambar 3.1 pemodelan fluida akibat lap joint flange
= frekuensi natural (Hz)
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Algoritma
Langkah pemodelan aliran fluida digunakan untuk
memperoleh pola tekanan pada pipa dan
menghasilkan respon pipa akibat aliran fluida di Gambar 3.2 kontur velocity amplitude pada lap joint
dalam pipa. Langkah pertama adalah melakukan flange (v = 0.25m/s)
studi literatur dengan cara mencari, mempelajari dan Hasil output dari flow3D berupa kontur velocity
memahami berbagai sumber pustaka atau media magnitude dan pressure karena fluida tersebut.
elektronik untuk mendapatkan parameter koefisien
persamaan getaran dan mendapatkan data yang 3.4. Analisa dinamis struktur pipa
diperlukan. Setelah itu, mengelompokan data ini Pemodelan geometri struktur pipa dan flange
sesuai dengan kriteria yang dititik beratkan pada dilakukan pada ANSYS Multiphysics, bukan lagi
memodelkan fluidanya.

4
Jurnal Tugas Akhir

X
Z

Gambar 3.3 pemodelan Struktur pipa dengan lap Gambar 4.1 kontur velocity amplitude pada lap joint
joint flange flange (v = 0.25m/s)

Dilakukan 2 macam pekerjaan yaitu untuk mencari Pada gambar 4.1 dapat dilihat perubahan kecepatan
frekuensi natural menggunakan modal analysis dan aliran akibat lap joint flange, kecepatan aliran pada
untuk mendapatkan tegangan dan displacement lap joint flange semakin meningkat sebanding
akibat beban fluida digunakan harmonic analysis. dengan peningkatan inlet velocity.

MX Y

MN Z X

.267388 4.808 9.348 13.888 18.429


2.538 7.078 11.618 16.158 20.699
Gambar 4.2 kontur velocity magnitude pada slip-on
Gambar 3.4 kontur tegangan von mises pada lap flange (v = 0.25 m/s)
joint flange (v = 0.25m/s)
Pada gambar 4.2 dapat dilihat perubahan kecepatan
4. HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN aliran akibat slip-on flange, kecepatan aliran pada
4.1. Analisa pola aliran fluida dalam pada slip-on flange semakin meningkat sebanding dengan
Flange dengan FLOW3D peningkatan inlet velocity.
(4.1)

Tabel 4.1 perhitungan Reynold Number

Inlet velocity
Reynold Number Jenis Aliran Gambar 4.3 kontur velocity magnitude pada socket
(m/s)
weld flange (v = 0.25 m/s)
0.25 7.9e+05 Turbulen Pada gambar 4.3 dapat dilihat perubahan kecepatan
0.50 1.5e+05 Turbulen aliran akibat socket weld flange, kecepatan aliran
pada socket weld flange semakin meningkat
0.75 2.3e+05 Turbulen sebanding dengan peningkatan inlet velocity.
1.00 3.2e+06 Turbulen
1.25 4.0e+06 Turbulen
Dari hasil perhitungan pada table 4.1 maka
didapatkan jenis aliran yang mengalir pada pipa
bersifat turbulen, sehingga di dalam pemodelan Gambar 4.4 kontur velocity magnitude pada
menggunakan aliran turbulen untuk jenis aliran reducing flange (v = 0.25 m/s)
fluidanya. Aliran fluida didalam pipa dapat dianalisa
Pada gambar 4.4 dapat dilihat perubahan kecepatan
dengan menganalisa pressure dan velocity akibat
aliran akibat reducing flange, kecepatan aliran pada
fluida yang mengalir pada daerah flange dengan
reducing flange semakin meningkat sebanding
bantuan software flow3D.
dengan peningkatan inlet velocity.
Hasil output dapat dilihat dalam bentuk kontur
velocity serta grafik pressure dan velocity. Velocity
magnitude merupakan velocity resultan dari u-
velocity, v-velocity dan w-velocity. Dari gambar
tersebut dapat dilihat terjadinya perubahan aliran
karena adanya flange, perubahan aliran ini Gambar 4.5 kontur velocity magnitude pada orifice-
menimbulkan vortex yang menyebabkan getaran. A flange (v = 0.25 m/s)
Pada gambar 4.5 dapat dilihat perubahan kecepatan
aliran akibat orifice flange, kecepatan aliran pada
orifice flange semakin meningkat sebanding dengan
peningkatan inlet velocity. Dan semakin kecil hole
pada orifice flange, semakin bertambah besar
velocity magnitude yang terjadi.

5
Jurnal Tugas Akhir

Tabel 4.2 output total pressure (MPa) pada flange Dari persamaan (2.20) didapatkan nilai frekuensi
natural yang diijinkan adalah 203 Hz, maka dari
inlet velocity (m/s) variasi flange tersebut telah memenuhi frekuensi
Jenis flange
0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 natural ijin untuk mode 1 dan mode 2. Sedangkan
untuk mode 3 keatas struktur pipa akan mengalami
Lapjoint 4.21 4.81 5.07 5.48 6.48 kegagalan karena telah melewati batas frekuensi
Slip-on 2.50 2.60 2.89 3.20 3.59 natural yang diijinkan.
Socket Weld 2.62 2.81 3.08 3.33 4.12 4.3. Analisa dinamis flange dengan ANSYS
Multiphysics
Reducer 10.90 40.90 163.00 355.00 562.00 Hasil output berupa kontur distribusi tegangan yang
Orifice A 7.25 17.60 85.10 191.00 587.00 biasa disebut sebagai tegangan Von Mises (ANSYS
11.0), dimana tegangan Von Mises merupakan
Orifice B 22.40 54.10 107.00 145.00 412.00 tegangan gabungan antara tegangan arah x, tegangan
Orifice C 10.50 14.70 34.50 132.00 141.00 arah y dan tegangan arah z.
MX Y

MN Z X

.267388 4.808 9.348 13.888 18.429


2.538 7.078 11.618 16.158 20.699

Gambar 4.7 kontur tegangan von mises pada lap


joint flange (v = 0.25m/s)
Gambar 4.7 adalah kontur tegangan von mises pada
lap joint flange (v = 0.25m/s) hasil dari harmonic
analysis, tegangan semakin meningkat dengan
meningkatnya pressure yang terjadi.
Gambar 4.6 output total pressure pada flange akibat Y

fluida. Z
MX
X MN

Pada gambar 4.6 terjadi peningkatan pressure


seiring dengan meningkatnya velocity yang terjadi. .115781
1.188
2.261
3.333
4.405
5.478
6.55
7.623
8.695
9.767

Hasil pressure akibat fluida yang mengalir pada Gambar 4.8 kontur tegangan von mises pada slip-on
variasi flange terjadi nilai rata-rata terbesar pada flange (v = 0.25 m/s)
reducing flange. Hal ini terjadi karena adanya Gambar 4.8 adalah kontur tegangan von mises pada
penyempitan luas penampang pada reducing flange slip-on flange (v = 0.25m/s) hasil dari harmonic
sedangkan gaya fluida yang mengalir tidak analysis, tegangan semakin meningkat dengan
mengalami pengurangan sehingga pressure yang meningkatnya pressure yang terjadi.
terjadi lebih besar.
Y
4.2. Analisa frekuensi natural dengan ANSYS Z X
MX
MN

Multiphysics
Output dari hasil pemodelan di modal analysis pada .116012 1.929 3.742 5.555 7.368
ANSYS Multiphysics adalah frekuansi natural 1.022 2.835 4.648 6.461 8.274

Gambar 4.9 kontur tegangan von mises pada socket


beserta mode shapedapat dilihat pada tabel 4.3.
weld flange (v = 0.25 m/s)
Tabel 4.3 frekuensi natural pipa akibat variasi flange Gambar 4.9 adalah kontur tegangan von mises pada
frekuensi natural (Hz) socket weld flange (v = 0.25m/s) hasil dari harmonic
jenis flange analysis, tegangan semakin meningkat dengan
mode 1 mode 2 mode 3 mode 4 mode 5 meningkatnya pressure yang terjadi.
Lapjoint 134.15 134.16 309.09 442.22 442.29 Y
Z
MN X
Slip-on 133.51 133.56 306.04 437.00 437.32 MX

Socket Weld 131.19 131.20 301.85 436.75 436.93 12.215 42.8 73.385 103.97 134.555
27.507 58.092 88.677 119.263 149.848

Reducing 105.36 105.50 258.12 391.26 391.54 Gambar 4.10 kontur tegangan von mises pada
Orifice A 127.82 128.13 290.99 435.56 436.18 reducing flange (v = 0.25 m/s)
Orifice B 128.00 128.29 291.06 435.55 436.14 Gambar 4.10 adalah kontur tegangan von mises
pada reducing flange (v = 0.25m/s) hasil dari
Orifice C 128.23 128.51 291.20 435.58 436.15 harmonic analysis, tegangan semakin meningkat
dengan meningkatnya pressure yang terjadi.

6
Jurnal Tugas Akhir

Y
Y

MNZ X MN Z X

MX MX

5.753 45.996 86.24 126.483 166.727


25.874 66.118 106.361 146.605 186.848

Gambar 4.11 kontur tegangan von mises pada


orifice-A flange (v = 0.25 m/s)
Gambar 4.11 adalah kontur tegangan von mises
pada orifice flange dengan hole 5/10D (v = 0.25m/s)
hasil dari harmonic analysis, tegangan semakin
meningkat dengan meningkatnya pressure yang Gambar 4.13 displacement pada variasi flange
terjadi. Dan semakin kecil hole pada orifice flange,
semakin bertambah besar tegangan yang terjadi. Dari gambar 4.13 dapat dilihat bahwa displacement
terbesar terjadi pada orifice flange yang mempunyai
Tabel 4.4 Von mises stress maksimum (Mpa) hole 5/10D sebesar 3.05 x 10-8 m untuk inlet velocity
inlet velocity (m/s) 1.25 m/s.
jenis flange Untuk mengetahui batas ijin suatu getaran, dapat
0.25 0.50 0.75 1.00 1.25
menggunakan persamaan-persamaan berdasarkan
Lapjoint 23.775 27.163 28.631 30.947 36.594 OM-3.
Slip-on 10.858 11.293 12.552 13.899 15.593 Dari persamaan (2.21) didapat nilai Stess per-mil of
Socket Weld 9.6668 10.368 11.364 12.286 15.201 vibration sebesar 352.2 psi/mil (2.428 MPa/mil).

Reducing 106.67 400.27 1595.2 3474.2 5291.2 Dari persamaan (2.23) didapatkan nilai
displacement yang diijinkan (yall) yaitu sebesar 8.52
Orifice A 168.54 409.15 3789.3 7429.1 13646 mils (2.164 x 10-4 m).
Orifice B 378.85 915.00 1809.7 2452.4 6968.2 Displacement terbesar yang terjadi sebesar 3.05 x
Orifice C 101.87 123.99 334.72 1280.7 1368.0 10-8 m yaitu pada orifice flange dengan hole 5/10D
berada dibawah batas yang diijinkan. Untuk variasi
flange yang lainnya, besarnya displacement dapat
dilihat pada tabel 4.5, variasi flange tersebut telah
memenuhi batas yang diijinkan.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Pada analisa fluida yang mengalir di dalam pipa
didapatkan nilai pressure terbesar terjadi pada
pada Orifice flange dengan hole 5/10D sebesar
587 MPa dan velocity terbesar akibat adanya
turbulensi terjadi pada Orifice flange dengan
Gambar 4.12 tegangan von mises maksimum hole 5/10D sebesar 0.0909 m/s.
Tegangan maksimum terbesar terjadi pada orifice 2. Pada analisa struktur flange didapatkan frekuensi
flange dengan hole 5/10D sebesar 13.6 GPa, natural terbesar terjadi pada Lap Joint flange
sedangkan tegangan maksimum terkecil terjadi pada dengan nilai 134.16 Hz untuk mode 2 yang
socket weld flange sebesar 15.2 MPa untuk inlet memenuhi batas dari frekuensi natural ijin yang
velocity 1.25 m/s. ditentukan oleh OM-3 yaitu kurang dari 203 Hz.
Sedangkan untuk mode diatas mode 2 akan
Tabel 4.5 Output displacement pada variasi flange terjadi kegagalan. Nilai frekuensi natural mulai
inlet velocity (m/s) dari yang terkecil hingga terbesar yaitu reducing
jenis flange flange, orifice flange (dari terkecil hingga
0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 terbesar yaitu dengan hole 5/10D, 6/10D,
Lapjoint 1.3E-11 1.5E-11 1.6E-11 1.7E-11 2.0E-11 7/10D), socket weld flange, slip-on flange, dan
lapjoint flange.
Slip-on 5.9E-12 6.2E-12 6.9E-12 7.7E-12 8.6E-12 3. Displacement terbesar yang terjadi sebesar 3.05
Socket Weld 5.5E-12 5.9E-12 6.4E-12 7.0E-12 8.6E-12 x 10-8 m yaitu pada orifice flange dengan hole
5/10D berada dibawah batas yang diijinkan oleh
Reducing 2.6E-10 9.7E-10 3.9E-09 8.4E-09 1.3E-08 OM-3 yaitu 2.164 x 10-4 m. Nilai displacement
Orifice A 3.8E-10 9.1E-10 8.5E-09 1.8E-08 3.1E-08 mulai dari yang terkecil hingga terbesar yaitu
socket weld flange, slip-on flange, lapjoint
Orifice B 8.0E-10 1.9E-09 3.8E-09 5.2E-09 1.5E-08 flange, reducing flange, dan orifice flange (dari
Orifice C 2.3E-10 3.2E-10 7.5E-10 2.9E-09 3.0E-09 terkecil hingga terbesar yaitu dengan hole
7/10D, 6/10D, 5/10D). Sedangkan tegangan von

7
Jurnal Tugas Akhir

mises maksimum terbesar terjadi pada orifice Raswari. 2007. “Perencanaan dan Penggambaran
flange dengan hole 5/10D sebesar 13.6 GPa. Sistem Perpipaan”. UI-Press, Jakarta.
Nilai tegangan mulai dari yang terkecil hingga Rouza, Eka S. 2009. Tugas Akhir : “Analisis Pola
terbesar yaitu socket weld flange, slip-on flange, Aliran Terhadap Pengaruh Variasi Flange Pipa
lapjoint flange, reducing flange, dan orifice Penyalur Hidrokarbon”. Jurusan Teknik
flange (dari terkecil hingga terbesar yaitu dengan Kelautan ITS, Surabaya.
hole 7/10D, 6/10D, 5/10D). Schlitching. H. 1979. “Boundaty Layer Theory”.
McGraw Hill Book Company, New York.
5.2. Saran
Setiawan, Arief. 2003. Laporan Penelitian “Aplikasi
1. Untuk mengetahui berapa umur struktur pipa
karena variasi flange akibat aliran internal fluida Metode Interasi Newton-Raphson dalam
diperlukan analisa kelelahan (fatigue analysis). Peramalan Kinerja Aliran Fluida Dua Fasa pada
2. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai Sistem Pipa Transportasi”. Jurusan Teknik
sumber-sumber yang dapat menyebabkan vibrasi Perminyakan FIKTM-ITB, Bandung.
Soegiono. 2007. “Pipa Laut”. Airlangga University
pada pipa selain akibat aliran internal, seperti
adanya water hammer, slug flow, ataupun Press, Surabaya.
getaran mesin diesel di sekitar perpipaan. Streeter, V. L. & E. Benjamin Wylie. 1985. “Fluid
Mechanics 8th Edition”, McGraw-hill, New
3. Kecepatan fluida yang tinggi dapat
menyebabkan korosi erosi sehingga York.
menyebabkan ketebalan pipa menjadi berkurang Swierzawski, Tadeusz J. 2000. “Flow of fluids
Chapter B8”. Burlington, Massachusets.
dan mempengaruhi kekuatan pipa. Untuk itu
diperlukan penelitian selanjutnya dengan analisa Thompson, S. P. & Gere J. 2000. Mekanika Bahan,
masalah erosi agar hasil yang diperoleh lebih Edisi keempat, jilid 1”. Erlangga, Jakarta.
sesuai dengan lapangan. Wachel, J. C. 1995. “Displacement Method for
Determining Acceptable Piping Vibration
Daftar Pustaka amplitudes”. San Antonio, Texas.
ANSYS Release 11.0. ANSYS Theory Reference. White, Frank M. 1994. “Mekanika Fluida. Jilid 1
Documentation for ANSYS. cetakan II”. Erlangga, Jakarta.
API RP 14 E. 1991. “Recommended Practice for Yamaguchi, H. 2008. “Engineering Fluid
Design and Installation of Offshore Production Mechanics”. Spriger.
Platform Pipe System, 5th Edition”. American
Petrolium Institute, USA.
Chevron Indonesia Company. 2008. “Fit For
Purpose Report of 12” Oil Pipeline Sepinggan
Tango to Lawe Terminal. Kalimantan Timur.
Crane Company. 1957. “Flow of Fluids Trough
Valves, Fittings, and Pipe”. Crane Co. Technical
Paper No. 410, Chicago, Illnois.
DOE, The Department of Energy. 1996.
“Fundamental Handbook of Fluid Flow”. EG &
G Idaho, Inc., USA.
Irsyad, M., Zulhendri, H. 2007. Laporan Penelitian
“Kaji eksperimental Aliran Dua Fase Gas-Cair
Terhadap Getaran pada Pipa Belokan 90o”.
Fakultas Teknik – UNILA, Lampung.
Medio, Vladimer. 2008. Jurnal Tugas Akhir :
“Analisa Vibrasi Sistem Pipa Penyalur Gas-
Liquid (Multiphase) Untuk Meningkatkan
Produktivitas Gas TOTAL E&P INDONESIE”.
Jurusan Teknik Kelautan ITS, Surabaya.
MSS SP-44. 1996. “Steel Pipeline Flange”.
Manufacturers Standardization Society of the
Valve and Fittings Industry, Inc., USA.
Munson, Bruce R., Donald F.Y. Theodore H.O.,
2002. Fundamentals of Fluid Mechanics, Fourth
Edition. John Wiley & Sons, Inc., USA.
Parisher Roy A. dan Robert A. Rhea. 2002. “Pipe
Drafting and Desain 2nd edition”. Gulf
Professional Publishing, USA.
Rao, Singiresu S. 2004. “Mechanical Vibrations”.
New Jersey. Pearson Prentice Hall.

8
Jurnal Tugas Akhir

9
Gambar A. Nomogram allowable piping vibration berdasarkan OM-3 (Wachel, 1995)