You are on page 1of 4

METODE MCUA (MULTI CRITERIA UTILITY ASSESMENT)

Metode MCUA merupakan suatu teknik atau suatu cara yang digunakan
untuk membantu tim dalam mengambil keputusan atas beberapa pilihan atau
alternatif. Alternatif dapat berupa masalah pada langkah penetuan prioritas
masalah, atau pemecahan masalah pada langkah penetapan prioritas pemecahan
masalah.
Untuk menyaring alternatif masalah yang sesuai dengan kebutuhan
dibutuhkan suatu batasan atau kriteria. Penggunaan metode MCUA dalam
penentuan prioriotas masalah dilaksanakan apabila pihak perencana belum terlalu
siap dalam penyediaan sumber daya, serta pelaksana program atau kegiatan
menginginkan masalah yang diselesaikan adalah masalah yang ada dimasyarakat.
Tata cara penggunaan Matriks MCUA dalam penentuan prioritas
masalah, dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut3) :
a. Menetapkan kriteria
Yang dimaksud dengan kriteria adalah sesuatu hal yang
dianggap sebagai akibat atau pengaruh yang sangat signifikan dan
spesifik dari suatu masalah terhadap subjek (masyarakat) sehingga
dapat membedakan masalah. Kriteria yang digunakan antara lain
kegawatan masalah, Besarnya masalah, Trend (kecenderungan).
b. Melakukan pembobotan kriteria
Merupakan pemberian kisaran bobot (nilai) terhadap masing –
masing yang ada. Kriteria ditentukan berdasarkan kesepakatan tim.
Nilai (bobot) yang disepakati adalah untuk kegawatan masalah diberi
bobot 4, gawat diberi skor 3, cukup gawat diberi skor 2, kurang atau
tidak gawat 1.
Kita berikan empat range atau rentang nilai dengan tujuan agar
tidak terjadi kecenderungan pemilihan angka yang berada di tengah,
misalnya kalau rangenya 1 sampai 3, orang cenderung memlih angka
2 dibanding angka 1 atau angka 3.
c. Memberikan skor masing–masing kriteria terhadap masing–masing
masalah
Artinya estimasi berapa besarnya pengaruh masalah terhadap
masing – masing kriteria. Dalam pemberian skor setiap anggota tim
memberikan skor secara subjektif dan selanjutnya jumlah semua skor
dibagi banyaknya jumlah anggota dalam kelompok.
Jika pengaruh kriteria besar maka skornya juga diberikan
besar, dan jika kriteria kecil maka diberi skor kecil. Hasil skor yang
telah dibagi dengan jumlah anggota tiap bagian.
d. Mengalikan nilai skor dengan bobot
Masing–masing masalah yang dikalikan dengan bobot untuk
tiap–tiap kriteria kemudian dijumlahkan dengan hasil perkalian
tersebut.
Penggunaan metode Multiple Criteria Utility Assessment (MCUA)
adalah berupa sebuah tabel yang berisi (pada baris atau horizontal) bersisi kriteria
dan jumlah total untuk memprioritaskan masalah. Sedangkan kolom atau vertikal
berisi nilai, bobot, jenis penyakit serta kolom dikalikan bobot. Keputusan
mendapatkan prioritas utama permasalahan.
Kriteria yang digunakan dalam memilih prioritas masalah kesehatan yang
ada meliputi:
1. Kegawatan (semakin gawat suatu masalah kesehatan maka nilai
bobotnya semakin tinggi).
2. Besar/ jumlah (semakin banyak yang menderita akibat karena suatu
masalah kesehatan maka nilai bobotnya semakin tinggi).
3. Tren (semakin sering suatu masalah kesehatan muncul, nilai bobotnya
semakin tinggi).
Penentuan bobot masing-masing kriteria MCUA
Penentuan bobot masing-masing kriteria ditentukan oleh peneliti. Basic
Priority Rating, MCUA dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Membuat tabel MCUA yang terdiri dari kolom nomor, kolom kriteria,
kolom bobot, dan kolom masalah
b. Kriteria dan bobot diletakkan pada baris, masalah diletakkan pada kolom
c. Kriteria diberi bobot sesuai seberapa pentingnya kriteria tersebut
dibanding kriteria yang lain
d. Tiap masalah diberi nilai dibanding dengan masalah lain terhadap kriteria
yang sama
e. Nilai setiap masalah merupakan hasil konsensus semua anggota tim
f. Nilai dikalikan dengan bobot kriteria adalah skor
g. Jumlah skor terbanyak merupakan masalah yang diprioritaskan
h. Kriteria ditentukan berdasarkan beberapa faktor, antara lain banyaknya
orang yang dirugikan, tidak dipenuhinya harapan pelanggan, kemampuan
mengatasi masalah, dan faktor politis.

Dalam menentukan prioritas masalah dengan menggunakan MCUA


disyaratkan perbedaan skor antara masalah >10 % dan penilaian di atas sudah
memenuhi syarat tersebut, sehingga ditetapkanlah masalah 2. (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2011)
MCUA dapat digunakan untuk menentukan penyebab masalah terpilih.
Penggunaan matriks MCUA misalnya kelompok pemecah masalah menemukan
situasi yang penyebab masalahnya belum jelas, sedangkan pengumpulan data
yang lebih baik tidak mungkin dilakukan. Jika demikian, kelompok harus memilih
alternatif ketiga yaitu matriks MCUA untuk menentukan penyebab masalahnya.
Misalnya penggunaan antibiotikan yang boros sementara kemungkinan
penyebabnya yang ditemukan oleh kelompok pemecah masalah adalah pembinaan
atasan lemah, petugas puskesmas tidak mematuhi standar layanan kesehatan,
pasien tidak mengerti bahaya penggunaan antibiotika, petugas puskesmas tidak
mengetahui indikasi atau kontradiksi penggunaan antibiotika, dan tidak dibuatnya
laporan penggunaan obat puskesmas secara akurat dan tepat waktu.
Metode MCUA secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam pemecahan
masalahm setelah masalah diidentifikasi barulah menetapkan prioritas masalah.
Masalah dengan prioritas tinggi akan mendapat alokasi sumber daya tinggi. Salah
satu metode memprioritaskan masalah dengan metode MCUA. Dimana MCUA
tersebut adalah suatu metode yang memperhitungkan bobot dan skor. Bobot untuk
menilai kriteria dan skor untuk menilai masalah. Kriteria yang digunakan adalah
kriteria dampak (tingkat kepentingan, tingkat keparahan, akibat terhadap pasien,
akibat terhadap masyarakat). Besar nilai bobot 1-5, sedangkan besar nilai skor 1-
10. Nilai bobot dikalikan dengan skor tiap masalah, kemudian dijumlah kebawah.
Nilai paling besarlah yang mendapat prioritas utama.
Tabel berikut merupakan Contoh Metode MCUA: Analisis Prioritas
Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Desa Sidogemah Kecamatan Sayung
Kabupaten Demak Tahun 2011.

Tabel 1. Contoh analisis prioritas masalah


Berdasarkan pemberian nilai (bobot) pada masing-masing masalah, yang
merupakan prioritas I sampai IV adalah sebagai berikut :
Prioritas I : Gizi kurang
Prioritas II : Anemia
Prioritas III : KEK