You are on page 1of 12

“Andai Saya Menjadi Presiden :

Apa Yang Akan Saya Lakukan Dalam Menciptakan Kehidupan Politik


Yang Bermoral”

Tugas Ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Politik

Dosen Pengampu : DR. Agus Subagyo, S.IP., M.SI

Disusun oleh :

Faisal Nugraha Sulaeman

NIM : 6211161046

Kelas A

Universitas Jenderal Achmad Yani

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Jurusan Hubungan Internasional

Cimahi

2016
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sistem politik pada suatu negara terkadang bersifat relatif, hal ini dipengaruhi oleh
elemen-elemen yang membentuk sistem tersebut. Juga faktor sejarah dalam perpolitikan di
suatu negara. Pengaruh sistem politik negara lain juga turut memberi kontribusi pada
pembentukan sistem politik disuatu negara. Seperti halnya sistem politik di Indonesia, seiring
dengan waktu, sistem politik di Indonesia selalu mengalami perubahan.

Indonesia merupakan bagian dari sistem politik dunia, dimana sistem politik
Indonesia akan berpengaruh pada sistem politik negara tetangga maupun dalam cakupan
lebih luas. Struktur kelembagaan atau institusi khas Indonesia akan terus berinteraksi secara
dinamis, saling mempengaruhi, sehingga melahirkan sistem politik hanya dimiliki oleh
Indonesia. Namun demikian, kekhasan sistem politik Indonesia belum dapat dikatakan
unggul bila kemampuan positif struktur dan fungsinya belum diperhitungkan sistem politik
negara lain.

Salah satu syarat penting dalam memahami bagaimana sistem politik Indonesia adalah
melalui pengembangan wawasan dengan melibatkan institusi-institusi nasional dan
internasional. Artinya lingkungan internal dan eksternal sebagai batasan dari suatu sistem
politik Indonesia harus dipahami terlebih dahulu.

B. Rumusan Masalah

Untuk mempermudahkan dalam penulisan Karya tulis ini, maka penulis menyusun rumusan
masalah sebagai berikut :

1. Jelasakan apa pengertian politik?


2. Bagaimana sistem politik Indonesia pada saat ini?
3. Bagaimana caranya menciptakan sistem Politik di Indonesia lebih bermoral dan
berwawasan luas?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Politik
Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan
dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan
dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya
dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang
berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari politik atau politics atau kepolitikan.
Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Di Indonesia kita teringat pepatah
gemah ripah loh jinawi. Orang Yunani Kuno terutama Plato dan Aristoteles menamakannya
sebagai en dam onia atau the good life.

Mengapa politik dalam arti ini begitu penting? Karena sejak dahulu kala masyarakat
mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi
terbatasnya sumber daya alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar semua
warga merasa bahagia dan puas. Ini adalah politik.

Bagaimana caranya mencapai tujuan yang mulia itu? Usaha itu dapat dicapai dengan
berbagai cara, yang kadang-kadang bertentangan satu dengan lainnya. Akan tetapi semua
pengamat setuju bahwa tujuan itu hanya dapat dicapai jika memiliki kekuasaan suatu wilayah
tertentu (negara atau sistem politik). Kekuasaan itu perlu dijabarkan dalam keputusan
mengenal kebijakan yang akan menentukan pembagian atau alokasi dari sumber daya yang
ada.

Para sarjana politik cenderung untuk menekankan salah satu saja dari konsep-konsep
ini, akan tetapi selalu sadar akan pentingnya konsep-konsep lainnya.

Dengan demikian, kita sampai pada kesimpulan bahwa politik dalam suatu negara
(state) berkaitan dengan masalah kekuasaan (power) pengambilan keputusan (decision
making), kebijakan publik (publc policy), dan alokasi atau distribusi (allocation or
distribution).

Jika dianggap bahwa ilmu politik itu mempelajari politik, maka perlu kiranya dibahas
dulu istilah “politik” itu. Pemikiran mengenai politik (politics) di dunia Barat banyak
dipengaruhi oleh filsuf Yunani Kuno abad ke-5 S.M. Filsuf seperti Plato dan Aristoteles
menganggap politics sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (politics) yang
terbaik. Di dalam politiy semacam itu manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang
untuk mengembangkan bakat, bergaul, dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup
dalam moralitas yang tinggi. Pandangan normatif ini berlangsung sampai abad ke-19.

Dewasa ini definisi mengenai politik yang sangat normatif itu telah terdesak oleh
definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada upaya (means) untuk mencapai masyarakat
yang baik seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai, dan sebagainnya.

Namun demikian, pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat
yang lebih baik daripada yang dihadapinya, atau yang disebut Peter Merkl: “Politik dalam
bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan
berkeadilan (Politics, at its best is a noble quest for a good order and justice)” betapa samar-
samar pun tetap hadir sebagai latar belakang serta tujuan kegiatan politik. Dalam pada itu
tentu perlu disadari bahwa persepsi mengenai baik dan adil dipengaruhi oleh nilai-nilai serta
ideologi masing-masing dan zaman yang bersangkutan.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah usaha untuk
menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk
membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good
life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses
penentuan tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Masyarakat
mengambil keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu dan hal
ini menyangkut pilihan antara beberapa alternatif serta urutan prioritas dari tujuan-tujuan
yang telah ditentukan itu.

Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut


pengaturan dan alokasi (allocation) dari sumber daya alam, perlu dimiliki kekuasaan (power)
serta wewenang (authority). Kekuasaan ini diperlukan baik untuk membina kerja sama
maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses ini. Cara-cara yang
dipakainya dapat bersifat persuasi (meyakinkan) dan jika perlu bersifat paksaan (coercion).
Tanpa unusr paksaan, kebijakan ini hanya merupakan perumusan keinginan (statement of
intent) belaka.

Akan tetapi, kegiatan-kegiatan ini dapat menimbulkan konflik karena nilai-nilai (baik
yang materiil maupun yang mental) yang dikejar biasanya langka sifatnya. Di pihak lain, di
negara demokrasi, kegiatan ini juga memerlukan kerja sama karena kehidupan manusia
bersifat kolektif. Dalam rangka ini politik pada dasarnya dapat dilihat sebagai usaha
penyelesaian konflik (conflict resolution) atau konsensus (consensus).

Tetapi tidak dapat disangkal bahwa dalam pelaksanaannya, kegiatan politik,


disamping segi-segi yang baik, juga mencakup segi-segi yang negatif. Hal ini disebabkan
karena politik mencerminkan tabiat manusia, baik nalurinya yang baik maupun nalurinya
yang buruk. Perasaan manusia yang beraneka ragam sifatnya, sangat mendalam dan sering
saling bertentangan, mencakup rasa cinta, benci, setia, bangga, malu, dan marah. Tidak heran
jika dalam realitas sehari-hari kita acapkali berhadapan dengan banyak kegiatan yang tak
terpuji, atau seperti dirumuskan oleh Peter Merkl sebagai beriku:”Politik, dalam bentuk yang
paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri
sendiri (politics at its worst is a selfish grab for power, glory and riches). Singkatnya, politik
adalah perebutan kuasa, takhta, dan harta.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun
nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu
antara lain:

 politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama
(teori klasik Aristoteles)
 politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
 politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan
kekuasaan di masyarakat
 politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan
publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan
politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik,partisipasi politik, proses politik, dan juga
tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.
Berikut ini adalah pengertian politik menurut para ahli :

1. Aristoteles
Usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

2. Joice Mitchel
Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum
untuk masyarakat seluruhnya.

3. Roger F. Soltau
Bermacam-macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan
pelaksanaan tujuan itu. Menurutnya politik membuat konsep-konsep pokok tentang
negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision marking),
kebijaksanaan (policy of beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi
(allocation).

4. Johan Kaspar Bluntchli


Ilmu politik memerhatikan masalah kenagaraan yang mencakup paham, situasi, dan
kondisi negara yang bersifat penting.

5. Hans Kelsen
Dia mengatakan bahwa politik mempunyai dua arit, yaitu sebagai berikut.
a. Politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan manusia atau individu agar
tetap hidup secara sempurna.
b. Politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan cara (teknik) manusia atau individu
untuk mencapai tujuan.

Dengan demikian, politik adalah kegiatan untuk membangun sebuah tatanan negara untuk
mewujudkan kebijakan– kebijakan negara dan merealisasikan cita-cita negara. Dalam
berpolitik tentu nya memiliki sikap atau moral untuk membangun kegiatan berpolitik dengan
baik jika tidak memiliki moral yag baik maka, tidak pernah tercapai nya cita-cita negara itu
sendiri.
B. Sistem Politik di Indonesia Pada Saat Ini

Politik Indonesia dewasa ini seperti sedang mendominasi wacana di media. Layaknya
gula yang sedang di kelilingi semut, seperti itulah media yang memberitakan kondisi politik
di Indonesia.

Saat ini kondisi politik yang terjadi justru saling memperebutkan kekuasaan. Para
penjabat yang memiliki kekuasaan telah melupakan masyarakat. Janji – janji yang dulu di
buat justru di lupakan seiring dengan kursi kekuasaan yang di peroleh. Seolah tidak
menerima dengan kemenangan sang rival, maka berusaha mencari kesalahan untuk dapat
menggulingkan.

Kondisi politik di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Para pejabat masih saja sibuk
mengurusi kursi jabatannya. Lagi – lagi mereka melupakan soal rakyat. Semisal saja soal
kasus suap wisma atlet. kita ketahui bahwa Anggelina S merupakan kunci dari bobroknya
korupsi yang terjadi di Wisma Atlet. Namun, apa yang terjadi? Apakah Anggelina S
berbicara jujur terkait korupsi yang terjadi di Wisma Atlet? Tidak kawan, justru beliau
menutupi kondisi yang sebenarnya terjadi.

Kondisi tersebut sangatlah memprihatinkan. Hal tersebut masih salah satu contoh
yang ada. Berbicara kondisi politik di Indonesia maka tidak akan jauh dari sebuah kekuasaan.
Dewasa ini politik justru seringkali di gunakan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Ntah
dengan apa pun, tidak melihat rambu rambu yang ada, hal yang terpenting kursi kekuasaan
harus di dapat. Namun, kursi kekuasaan itu harus di bayar dengan pengorbanan yang besar
juga baik itu fikiran dan materil.

Akhirnya rakyat yang menjadi korban dari kondisi politik yang ada sekarang. Para
birokrat bangsa ini sepertinya masih terlalu sibuk untuk terus berebut kursi kekuasaan.
Sebenarnya politik layaknya sebuah pisau. Bila pisau tersebut di gunakan oleh ibu rumah
tangga untuk memasak maka pisau akanlah sangat bermanfaat. Maka akan tersedia hidangan
yang lezat untuk keluarga. Namun beda cerita bila pisau tersebut di gunakan oleh pembunuh.
Maka yang terjadi adalah sebuah kesedihan dan kesengsaraan yang terjadi.
Begitu pula dengan politik, ia akan bisa menjadi sebuah alat untuk mencapai sebuah
kebahagiaan atau malah menjadi sebuah kesengsaraan. Dewasa ini, para politikus yang ada
justru tidak mampu memberikan sebuah kesejukan di tengah gerahnya suasana politik yang
ada. Para politikus ini nampaknya masih terlalu sibuk. Padahal rakyat Indonesia di luar sana
menjadi korban mereka.

Kita semua bisa melihat gejala mati rasa penyelenggara negara misalnya dalam soal
pembelian mobil mewah untuk para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II atau juga
pembangunan pagar istana presiden yang menelan biaya puluhan miliar rupiah. Kebijakan itu
jelas mencederai rasa keadilan publik karena di saat yang sama kemiskinan masih mengharu
biru Indonesia (jumlah orang miskin di Indonesia per Maret 2010 berdasar BPS sebanyak
31,02 juta orang–relatif tak banyak berubah jika dibandingkan dengan data per Februari
2005, yakni sebesar 35,10 juta orang). Publik juga bisa melihat bagaimana penyikapan kasus
Lapindo, terjadinya ‘kriminalisasi’ terhadap dua pemimpin KPK, penanganan kasus Bank
Century yang belum jelas bagaimana akhirnya, serta kuatnya nuansa tebang pilih terhadap
penanganan kasus korupsi. Kesemuanya itu adalah contoh-contoh lain yang harus diakui kian
mengiris rasa keadilan. Kendati dibalut pernyataan-pernyataan yang apik dan santun, toh
penyikapan dari penyelenggara negara terhadap kasus-kasus tersebut tetap saja dinilai jauh
dari komitmen untuk mewujudkan aspirasi dan kehendak rakyat.

Selain contoh contoh yang ada di atas, masih banyak kita lihat masalah soal
kemiskinan, putus sekolah dan kelaparan. Namun sepertinya para pejabat ini masih belum
tersentuh untuk menuju ke situ akhirnya masih berkutat dengan masalah kekuasaan.

Sebenarnya politik tidak hanya di kekuasaan saja. Namun ekonomi pun sudah di
politikkan. Sebenarnya politik itu merupakan bagaimana seseorang mampu mempengaruhi
orang sekelompok lain agar mengikuti gagasan yang kita fikirkan.

Dalam aspek obyektif, Sukardi mencontohkan harga cabai yang makin hari semakin
mahal. Kondisi tersebut akan semakin parah bila pemerintah mengeluarkan kebijakan yang
tergesa-gesa, misalnya dengan kenaikan harga tiket kereta ekonomi. Momentum ini bisa
dipakai untuk menyerang kekuatan politik lawannya. Untuk aspek dari daerah, Sukardi
mencontohkan polemik keistimewaan Yogyakarta yang hingga saat ini masih berlarut-larut.
Menurut Sukardi, pemerintah harus cepat menyelesaikan polemik tersebut. Kalau tidak,
masalah itu juga akan dijadikan partai lain sebagai amunisi untuk menyerang Demokrat.
Sekarang ini keadaan politik di Indonesia tidak seperti yang diinginkan. Banyak
rakyat beranggapan bahwa politik di Indonesia adalah sesuatu yang hanya mementingkan dan
merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Pemerintah Indonesia pun tidak
mampu menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian
rakyat yang mengeluh, karena hidup mereka belum dapat disejahterakan oleh negara.
Pandangan masyarakat terhadap politik itu sendiri menjadi buruk, dikarenakan pemerintah
Indonesia yang tidak menjalankan kewajibannya sebagai wakil rakyat
dengan baik.bagimereka politik hanyalah sesuatu yang buruk dalam mencapai kekuasaan.

Jika hal ini terus di biarkan, maka seperti bom yang terus di pendam. Maka suatu saat
akan meletus juga. Jika kondisi pemerintah terus seperti ini maka tidakl mustahil jika rakyat
tidak akan percaya dengan politik. Ketidakpercayaan para rakyat inilah yang sangat
berbahaya bagi kestabilan negara. Akibatnya masyarakat akan cenderung apatis terhadap
kondisi sebuah negara. Karena kestabilan negara juga di pengaruhi oleh kestabilan politik
yang ada di negara tersebut. Apabila gejolak politik di suatu negara terus menerus bergejolak
maka tidak mustahil jika terjadi peperangan. Akibatnya masyarakat yang menjadi korban
seperti negara negara di timur tengah.

Rakyat Indonesia belum merasakan kinerja yang baik dari pemerintah Indonesia,
malahan membuat mereka memandang buruk terhadap politik itu sendiri. Selain itu, para
generasi muda Indonesia haruslah diperkenalkan dengan politik yang sebenarnya, agar
dikemudian hari mereka dapat menjadi generasi baru yang lebih bertanggung jawab.
Sehingga kondisi bangsa ini tidak terus terpuruk akibat politik tidak bertanggungjawab para
pejabat sekarang. Sedah seharusnya kita membanahi bangsa ini. Karena bila kondisi seperti
ini terus di budayakan, maka bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat nanti nama Indonesia
hanya tinggal sejarah.
C. Bagaimana Caranya Menciptakan Sistem Politik di Indonesia
Lebih Bermoral Dan Berwawasan Luas?
Berbicara soal politik di Indonesia ini memang tidak akan ada habisnya. Bicara soal
politik bermoral itu agak sulit bagi kita untuk mengukurnya. Sementara persyaratan itu kan
sesuatu yang bisa diukur. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa saja tidak ada yang bisa
mengukur. Terlebih kehidupan politik di Indonesia yang sudah sering dicap kotor oleh
masyarakat. Hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan politik bermoral adalah mulai
dari kesadaran tiap-tiap individu itu sendiri. Di Indonesia ini masih banyak sekali para
Politikus yang belum sadar akan tugas dan amanahnya. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi,
dan juga nepotisme masih sering kita jumpai di bidang politik. Kebiasaan buruk Indonesia
tersebutlah yang harus kita ubah.

Hal yang terpenting dalam mengubah kebiasaan buruk orang-orang Indonesia tersebut
adalah dengan cara merubah pola pikir, dan membuat sesuatu kebiasaan baru yang bersifat
positif. Hal ini yang dibutuhkan oleh Pemerintah Indonesia dalam mengatasi kasus-kasus
korupsi dan lain sebagainya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Rakyat Indonesia belum merasakan kinerja yang baik dari pemerintah Indonesia, malahan
membuat mereka memandang buruk terhadap politik itu sendiri. Selain itu, para generasi
muda Indonesia haruslah diperkenalkan dengan politik yang sebenarnya, agar dikemudian
hari mereka dapat menjadi generasi baru yang lebih bertanggung jawab. Sehingga kondisi
bangsa ini tidak terus terpuruk akibat politik tidak bertanggungjawab para pejabat sekarang.
Sedah seharusnya kita membanahi bangsa ini. Karena bila kondisi seperti ini terus di
budayakan, maka bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat nanti nama Indonesia hanya
tinggal sejarah.
Daftar Pustaka :

 DASAR-DASAR ILMU POLITIK, Prof. Miriam Budiardjo


 http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/04/100424_politicsmoral.shtml
 https://id.wikipedia.org/wiki/Politik