You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penilaian adalah bagian yang sangat penting dalam proses evaluasi (Nitko : 1993).
Penilaian hasil belajar pserta didik yang dilakukan oleh guru selain untuk memantau
proses kemajuan dan perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang
dimiliki, juga sekaligus umpan balik kepada guru gara dapat menyempurnakan
perencanaan dan proses program pembelajaran.
Namun penilaian yang ada tidak serta merta dilakukan begitu saja agar proses
penilaian yang dilakukan oleh guru tidak asal-asalan dan tanpa arah yang jelas. Penilaian
yang dilakukan secara asal-asalan pada akhirnya akan menghasilkan informasi tentang
hasil pencapaian pembelajaran peserta didik yang tidak akurat dan tidak sesuai dengan apa
yanga ada di lapangan. Dalam Ensiklopedia Pendidikan, Prof. Soegarda mengatakan
bahwa evaluasi adalah: perkiraan kenyataan atas dasar ukuran nilai tertentu dalam rangka
situasi yang khusus dan tujuan yang ingin dicapai. Pendapat lain evaluasi pendidikan
adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan dunia pendidikan. Bagaimana bisa evalausi itu dikatakan valid jika
dalam pelaksanaan penilaiannya cenderung asal-asalan adan tanpa acuan. Oleh karena itu
adanya acuan dalam penilain mutlak harus ada.
Keberadaan acuan dalam penilaian ini akan menjadi pembahasan dalam makalah
ini. Hal ini berangakat dari kenyataan bahwa di lapangan yang masih banyak penilaian
yang dilakukan oleh para pendidik yang hanya sebatas formalitas dalam melakukan
penilaian tanpa mengacu pada acuan yang telah ada.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas penulis merumuskan beberapa permasalahan di
antaranya :
1. Apa itu penilaian dalam pembelajaran?
2. Apa pengertian tes,pengukuran,asesmen,dan evaluasi?
3. Bagaimana kedudukan tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi?
4. Apa saja prinsip-prinsip dalam pembelajaran?
5. Apa saja aspek-aspek yang dinilai?
6. Apa saja manfaat penilaian?
7. Bagaimana jenis dan fungsi penilaian dalam pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa itu penilaian dalam pembelajaran
2. Untuk mengetahui apa pengertian tes,pengukuran,asesmen,dan evaluasi
3. Untuk mengetahui bagaimana kedudukan tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi
4. Untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip dalam pembelajaran
5. Untuk mengetahui aspek-aspek yang dinilai
6. Untuk mengetahui manfaat penelitian
7. Untuk mengetahui bagaimana jenis dan fungsi penilaian dalam pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penilaian
Penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi tentang kinerja
siswa, untuk digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan. Penilaian
merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan.
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan
kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaiannya.
Menurut Mardapi, (2004), penilaian dan pembelajaran adalah dua kegiatan yang
saling mendukung, upaya peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui
upaya perbaikan sistem penilaian.
Sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik.
Kualitas pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Selanjutnya sistem
penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar
yang baik dalam memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik. Oleh karena
itu, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan diperlukan perbaikan sistem
penilaian yang diterapkan. Pada saat membicarakan masalah penilaian, kita sering
menggunakan beberapa istilah seperti tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi yang
digunakan secara tumpang tindih (over lap). Untuk itu berikut ini akan disajikan
beberapa pengertian dari istilah-istilah tersebut.
1. Tes
Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan atau tugas yang
direncanakan unutk memperoleh informasi tentang trait atau sifat atau atribut
pendidikan dimana dalam setiap butir pertanyaan tersebut mempunyai jawaban
atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian maka setiap tes menuntu
siswa memberi respons atau jawaban. Respons yang diberikan siswa dapat benar
atau salah. Jika respons yang diberikan siswa benar, maka kita katakana siswa
tersebut telah mencapai tujuan embelajaran yang kita ukur melalui butir soal
tersebut tetapi jika respons yang diberikan salah, berarti mereka belum dapat
mencaai tujuan pembelajaran yang kita ukur. Apabla ada seperangkat tugas atau
pertanyaan yang diberikan kepada siswa tetapi tidak ada jawaban yang benar
atau salah maka itu buka tes, (Nasoetion, 1990).

2. Pengukuran
Pengukuran pada dasarnya merupakan kegiatan penentuan angka dari
suatu objek yang diukur. Gronlund dan linn (1990) secara sederhana
merumuskan pengukuran sebagai “measurement is limited quantitative
descriptions of pupil behavior, that is result of measurement are always
expressed in number”. (pengukuran adalah uraian kwantitatif yang terbatas dari
perilaku murid, yang hasil dari pengukuran selalu berbentuk jumlah). Penetapan
angka ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan karakteristik suatu
objek. Untuk dapat menghasilkan angka (yang merupakan hasil pengukuran)
maka diperlukan alat ukur.
Dalam melakukan pengukuran kita harus berupaya agar kesalahan
pengukurannya sekecil mungkin. Untuk itu diperlukan alat ukur yang dapat
menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliable. Jika dalam melakukan
engukuran kita tidan banyak melakukan kesalahan, maka hasil pengukuran tidak
dapat menggambarkan skor yang sebenarnya dari objek yang kita ukur.
Kesalahan pengukuran dapat bersumber dari tiga hal yaitu dari alat ukur
yag digunakan, objek yang diukur, atau orang yang melakukan pengukuran.
Kesalahan pengukuran tersebut dapat bersifat acak (random) atau dapat juga
bersifat sistematis. Kesalahan acak dapat disebabkan karena adanya perbedaan
kondisi fisik dan mental yang diukur dan yang mengukur, sedangkan kesalahan
sistematis bersumber dari kesalahan alat ukur, yang diukur atau yang mengukur.
Contoh : guru dapat melakukan kesalahan sistematis jika dalam memberi skor,
guru tersebut cenderung memberi skor yang murah atau cenderung memberi
skor yang mahal pada seluruh siswa. Tetapi jika dalam memberi skor kepada
siswa, gru tidak melukannya secara konsisten maka akan terjadi bias dalam
pengukuran.
3. Asesmen
Kenyataan menunjukan bahwa banyak guru yang belum mengetahui
dengan benar konsep asesmen dan evaluasi. Satu istilah yang sering digunakan
untuk mewadahi kegiatan asesmen dan evaluasi adalah penilaian. Penggunaan
istilah penilaian untuk mewadahi kedua kegiatan tersebut sebenarnya tidak
terlalu salah karena dalam konsep asesmen tersebut sebenarnya tidak terlalu
salah karena dalam konsep asesmen dan evaluasi mengandung unsur
pengambilan kesimpulan.
Menurut hanna (1993) “assessment is the process of collecting,
interpreting, and synthesizing information to aid in decision making. Assessment
synonymous with measurement plus observation. It concerns drawing inferences
from these data sources. The primary purpose of assessment is to increase
student”s learning and development rather than simply to grade or rank student
performance”.
Jadi asesmen merupakan kegiatan pengumpulan informasi hasil belajar
siswa yang diperolh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut
untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. Berbagai jenis
tagihan yang digunakan dalam asesmen antara lain : kuis, ulangan harian, tugas
individu, tugas kelompok, ulangan akhir semester, laporan kerja dsb.
4. Evaluasi
Jika kita bicara asesmen dan evaluasi dalam pembelajaran maka lingkup
asesmen hanya pada individu siswa dalam kelas, sedangkan lingkup evaluasi
adalah seluruh komponen dalam program pembelajaran tersebut. Evaluasi
merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan suatu
program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (asesmen) serta
pelaksanaannya, engadaan dan peningkatan kemampuan guru, manajemen
endidikan dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Evalusi bertujuan
meningkatkan kualitas, kinerja atauproduktivitas suatu lembaga dalam
melaksanakan programnya. Agar dapat meningkatkan kualitas, kinerja dan
produktivitas maka kegiatan evaluasi selalu didahului dengan kegiatan
pengukuran dan asesmen.
Tyler seperti dikutip oleh mardapi, D. (2004) menyatakan bahwa
evaluasi merupakan peroses penetuan sejauh mana tujuan pendidikan telah
tercapai. Banyak definisi evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli tetapi pada
hakekatnya evaluasi selalu memuat masalah informasi dan kebijakan yaitu
infoirmasi tentang pelaksanaan dan keberhasilan suatu program yang
selanjutnya digunakan untuk menetukan kebjakan selanjutnya, kalau seorang
guru mengevaluasi program pembelajaran yang telah ia lakuakan, maka ia harus
mengevaluasi pelaksanan dan keberhasilan dari program pembelajaran dapat
mendorong guru untuk mengejar lebih baik mendorong siswa untuk belajar lebih
baik.
B. Prinsip-prinsip penilaian
Dalam melakukan penilaian atau evaluasi benar-benar dapat memberi gambaran
yang senenarnya tentang pencapaian hasil belajar siswa, maka dalam melakukan
penilaian guru perlu memperhatikan prinsi-prinsip penilaian sebagai berikut:
1. Berorientas pada pencapaian kompetensi
Artinya penilaian yang dilkukan harus berfungsi untuk mengukur
ketercapaian siswa dalam pencapaian kompetensi seperti yang telah ditetapkan
dalam kurikulum
2. Instrumen penilaian harus valid dan reliable
Artinya penilaian yang dilakukan harus dapat mengukur apa yang
seharusnya diukur. Untuk itu guru guru memerlukan alat ukur yang data
menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliable. Reliable artinya alat
ukur tersebut walaupun digunakan berluang ulang akan mendapat hasil yang
sama.
3. Adil, Artinya penilaian oleh guru harus adil kepad seluruh siswa
4. Obyektif, artinya dalam penilaian hasil belajar siswa guru haurs dapat menjaga
obyektifitas proses dan hasil belajar siswa.
5. Berkesinambungan (kontinuitas)
Artinya penilaian yang dilakukan harus terencana, bertahap, teratur, terus
menerus dan berkesinambungan untuk memperoleh informasi hasil belajar dan
perkembangan belajar siswa.
6. Menyeluruh
Dalam arti bahwa penilaian yang guru lakukan harus mampu menilai
keseluruhan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum yang melitputi kognitif,
afektif, dan psikomotor.
7. Terbuka,
Kriteria penilaian harus terbuka bagi berbagai kalangan sehingga
keputusan hasil belajar siswa jelas bagi pihak ihak yang berkepentingan.
8. Bermakna,
Hasil penilaian harus bermakna bagi siswa, dan juga pihak pihak yang
berkepentingan.
C. Aspek yang Dinilai
Menurut Haris dan Jihad (2012) sesuai dengan kemampuan dasar yang ingin
dicapai, maka pengujian harus mencakup :
1) Proses belajar
Proses belajar yaitu seluruh pengalaman belajar yang dilakukan siswa.
2) Hasil belajar
Hasil belajar yaitu ketercapaian setiap kemampuan dasar, baik kognitif,afektif
maupun psikomotor yang diperoleh siswa selama mengikuti kegiatan
pembelajaran tertentu.
D. Manfaat Penilaian
Menurut Uno dan Koni, manfaat penilaian kelas antara lain :
1. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan
kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
2. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan yang dialami peserta
didik.
3. Untuk umpan balik bagi pendidik dalam memperbaiki metode, pendekatan,
kegiatan dan sumber belajar yang digunakan.
4. Untuk masukan bagi pendidik guna merancang kegiatan belajar.
5. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite satuan pendiidikan
tentang efektifitas pendidikan.
6. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan dalam mempertimbangkan
konsep penilaian kelas yang digunakan.
E. Fungsi Penilaian Dalam Pembelajaran
F. Teknik Tes dan Non Tes
1. Teknik Tes
Sebagai alat pengukur tes dapat dibedalkan menjadi beberapa jenis atau
golongan, tergantung daris segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes
itu dilakukan.
a. Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat ukur perkembangan
atau kemajuan belajar peserta didik
1) Tes seleksi
Diberbagai media massa baik cetak maupun elektronik kita sering
mendengar, melihat atau membaca iklan tentang lowongan pekerjaan,
penerimaan siswa/mahasiswa baru yang dipasang oleh berbagai instansi,
sekolah dan perusahaan.
Agar instansi, sekolah dan perusahaan tersebut memperoleh
pegawai, atau siswa yang mengikuti syarat dan berkualitas dari sekian
banyak calaon yang melamar atau mendaftar, mka instansi, sekolah dan
perusahaan tersebut baiasanya mengadakan tes seleksi. Sesuai dengan
nemanya, tes seleksi merupakan satu jenis tes yang dimaksudkan untiuk
menyeleksi atau memilih calon peserta yang memenuhi syarat untuk
mengikuti suatu program. Tes seleks biasanya diadakan jika jumlah
peminat yang akan mengikuti suatu program melebihi dari ayng
dibutuhkan. Tes seleksi dapat dilaksanakan secara tertulis, wawancara
dan keduanya. Proses untuk memlih orang yang telah menduduki suatu
jabatan biasanya dilakukan dengan wawancara. Sudah tentu instansi atau
perusahaan sudah menyiapkan criteria yang harus dipenuhi oleh calon.
Dari hasil wawancara mendalam terhadap calon, pihak pimpina instansi
atau manajemen perusahaan akan memilih calon yang dianggap paling
tepat dan menguntungkan instansi/perusahaan. Cara inilah yang sekarag
dikena; dengan istilah fit and proper test.
Untuk mengadakan tes seleksi yang biasanya dilakukan dalam
beberapa tahap misalnya tahap pertama seleksi berkas, seleksi tertulis,
seleksi wawancara, bahkan kadang-kadang ditambah dengan tes
kecakapan khusus yang disesuaikan dengan program atau pekerjaan yang
akan dikerjakan, misalnya untuk penerimaan tenaga dosen, materi yang
diajukan biasanya berupa tes bahasa inggris dan tes potensi akademik
(TPA) kedua tes tersebut dianggap dapat menunjang keberhasilan tugas
seorang dosen.
2) Tes Penempatan
Tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran adalah sertiap siswa
diharapkan dapat mencapai kompetensi atau tujuan pembelaaran yang
telah ditetapkan. Kalau demikian maka semestinya setia individu siswa
diberi kesempatan yang sama untuk mencapai tujuan pembelajaran
sesuai dengan kecepatannya. Inilah yang sebenarnya menjadi konsep
belajar tuntas (mastery learning). Jika diberikan kesempatan yang cukup
pada dasarnya setiap individu siswa dapat mencapai semua tujuan
pembelajaran yang telah diteptakan yang membedakan adalah kecepatan
setiap individu siswa dalam mencaai tujuan tersebut. Apabila konsep ini
diterapkan maka setiap siswa akan diberi kesempatan untuk belajar
sesuai dengan kemampuan dan kecepatan masing masing. Siswa yang
cerdas akan dapat menyelesaikan proses pembelajaran lebih ceat dari
siswa yang kurang cerdas. Dengan sistem belajar seperti ini sebenarnya
siswa akan data belajar secara maksimal dan terhi8ndar dari rasa bosan.
Dalam sistem pembelajaran maka tes penempatan (placement test)
memegang peranan penting dalam membantu mengelompokkan siswa
dengan sesuai kemampuannya. Gronlund dan lim (1990) dalam suryanto
menyatakan bahwa “the goal of placement evaluation is to determine the
position in instructional sequence and the mode of instruction that is
most beneficial each pupil.”
Konsep mastery learning pernah dilaksanakan di Indonesia mulai
tahun 1976 melalui royek perintis sekolah pembangunan (PPSP) sampai
tahun Sembilan puluhan. Setelah proyek PPSP dihentikan maka sistem
pembelajaran kelas di Indonesia kembali menerapkan konsep “mix
ability”. Artinya dalam satu kelas akan terdiri dari siswa siswa dengan
tingkat kemapuan dan kecerdasan yang beragam. Dalam satu kelas akan
terdaat siswa yang pandai, sedang dan kurang pandai. Dengan sistem
seperti ini waktu pencaaian seerti ini jelas akan merugikan siswa yang
cerdas.
Pada saat ini tes penempatan banyak dilakukan di lembaga
lembaga pendidikan non formal seperti ditempat kursus bahasa asing dan
kursus keterampilan. Sebelum mengikuti kursus bahasa inggris semua
peserta diharuskan untuk mengikuti tes enempatan terlebih dahulu. Dari
hasil tes enematan kan diketahui kelompok kelompok siswa sesuai
dengan kemampuannya. Setelah program PPSP dihapus ada tahun
Sembilan puluhan, saat ini mulai muncul sekolah sekolah yang
mempunyai kelas unggulan. Kelas unggulan ini ditempatki oleh siswa
siswa yang berdasarkan tes penempatan mempunyai keunggulan
disbanding dengan siswa lain. Waktu penyelesaian program bagi siswa
yang masuk pada kelas unggulan sama dengan siswa yang berada dikelas
bukuan unggulan, tetapi siswa dikelas unggulan diberi program program
tambahan sehingga kemampuan siswa dalam menguasai tujuan
pembelajarannya menjadi lebih mantap. Disamping kelas unggulan, saat
ini muncul kelas akselerasi. Seperti halnya kelas unggulan, kelas ini diisi
oleh siswa siswa yang berdasarkan tes penematan mempunyai restasi
lebih dibandingkan dengan siswa lainnya. Kalau ada kelas unggulan
waktu penyelesaian studinya sama dengan siswa kwlas biasa, maka pada
kelas penyelesaian studinya sama dengan siswa kelas biasa. Siswa kelas
akselerasi dapat menyelesaikan studinya si SMP atau SMA hanya dalam
waktu dua tahun.
Manfaat yang dapat dipetik dengan dilaksanakannya tes
penempatan adalah kita dapat memperoleh kelompok peserta program
dengan kemampuan yang relative homogeny sehingga program dapat
dilaksanakan dengan efektif dan efisien.
3) Pre test-post test dan fungsinya
Dilihat dari tes tersebut kita sudah dapat mengetahui bahwa pre
test merupakan salah satu jenis tes yang dilaksanakan pada awal proses
pembelajaran dan post test merupakan salah satu jenis tes yang
dilaksanakan setelah proses embelajaran selesai. Jika dilihat dari
tujuannya, pre test bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah
menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan demikian apabila dilihat
dari waktu pelaksanaan tenya maka pre test diambil? Sudah barang tentu
materi untuk pre test diambil dari seluruh materi yang akan disampaikan
dalam proses pembelajaran. Butir soal dari pre test dikembangkan untuk
mengukur semua tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam
rencana pembelajaran. Untuk mengetahui keberhasilan proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan maka pada akhirnya proses
pembelajaran kita data melakukan post test. Agar kita dapat mengetahui
apakah pembelajaran yang dilakukan berhasil atau tidak maka tes yang
digunakan pada saat pre test dan post test harus mengukur tujuan yang
sama. Test yang digunakan pada saat pre test dan post test sebaikknya
tidak tes yang sama tetapi tes yang mengukur tujuan embelajaran yang
sama. Tes inilah yang disebut dengan tes parallel.

4) Tes diagnostik dan fungsinya


Tes diagnostic merupakan tes yang dilaksanakan untuk mengetahui
penyebab kesulitan yang dialami siswa. Ronlund dan lim (1990)
menyatakan bahwa “the fungsion of diagnostic is to diagnose learning
difficulities during instruction”. Karena tes diagnostic akan digunakan
untuk mengetahui dan menemukan kesulitan pemahaman konsep konse
yang sulit diahami maka materi tes diagnostik dikemabngkan dari konsep
konsep yang sulit dipahami siswa. Dari hasil tes diagnostic guru akan
dapat menemukan kesultan belajar yang dialami siswa. Selanjutnya guru
harus beruapaya untuk mencari cara menghilangkan penyebab kesulitan
belajar itu sehingga siswa data berhasil menyelesaikan semua program
pembekajaran yang telah dirancang.
Kesulitan belajar siswa yang dialami oleh siswa dalam mempelajari
suatu konsep akan berbeda satu sama lainnya. Jadi walaupun tes
diagnostic itu dilakukan secara klasikal tetapi terapi dari setiap kesulitan
tersebut harus tetap dilakukan secara individual. Kesulitan belajar siswa
dapat disebabkan karena proses pembelajaran. Guru merupakan actor
penting dalam pembelajaran. Sebagai salah satu komponen penentu dalam
proses pembelajaran, guru memegang kunci dalam menetukan
keberhasilan siswa. Jika guru pandai dalam memilih dan menerapkan
metode pembelajaran yang tepat. Maka siswa akan mudah mencerna
materi yang disampaikan oleh guru tersebut. Faktor diluar pembelajaran
yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar siswa antara lain adanya
hambatan fisik, psikologis dan sosial.

5) Tes Formatif dan Fungsinya


Tes formatif merupakan salah satu jenis tes yang diberikan kepada
siswa setelah menyelesaikan satu unit pembelajaran. Tes formatif tidak
dimaksudkan untuk memberi nilai kepada siswa tetapi hasil tes formatif
akan dimanfaatkan untuk memonitor apakah proses pembelajaran yang
baru saja dilaksanakan telah dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran atau belum. Seperti apa
yang disampaiakan oleh gronlubnd dan linn (1990) bahwa “the function
of formative evaluation is to monitor learning progress during
instruction”. Jika dari hasil tes formatif ternyata terdapat sejumlah tujuan
embelajaran yang belum dapat dikuasai siswa. Guru harus mencari
penyebabnya, apakah penyebab tersebut karena adanya masalah pada diri
siswa atau karena proses pembelajaran tidak berjalan sebagaimana
mestinya.
6) Tes Sumatif dan Fungsinya
Jika tes formatif ebih dimaksudkan untuk memperbaiki
pembelajaran, maka tes sumatif merupakan jenis tes yang dilakukan
pada akhir pembelajaran dan dimaksudkan untuyk mengukur
keberhasilan siswa dalam menguasai keseluruhan tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran setiap meta pelajaran akan
mencakup pengembangan tiga kawasan (ranah) pada diri siswa yaitu
pengembangan kawasan kognitif afektif dan psikomotor walaupun
penekanan pengembangan kawasan yang berbeda. Sehingga manfaat tes
sumatif adalah :
a) Bagi siswa
Tes sumatif bertujuan untuk menilai keberhasilan siswa setelah
mengikuti seluruh rangkaian proses pembelajaran. Setelah siswa
mengikuti tes sumatif maka hasilnya harus segera diberitahukan
kepada siswa yang bersangkutan agar mereka dapat mengetahui
sejauh mana prestasi atau tingkat kemampuannya dalam mata
pelajaran tersebut
b) Bagi guru
Hasil tes sumatif tidak dimaksudkan untuk memperbaiki proses
pembelajaran pada saat itu, tetapi akan dapat menjadi bahan renungan
bagi guru untuk menganalisiskembali proses pembelajaran yang telah
dilakuakn sehingga dapat ditemukan apa yang menjadi faktor
penyebab dadanya siswa yang tidak mencapai tujuan pembelajaran.
c) Bagi orang tua
Banyak orang rua karena kesibukannya bekerja, tidak sempat
mengontrol aktivitas belajar anaknya dirumah. Padahal sesungguhnya
anaknya hanya akan berada disekolah dalam waktu 6-7 jam per hari.
Waktu yang terbanya dati anak itu justru berada dirumah atau diluar
rumah. Jika kemudian anknya mengalami masalah seperti tidak naik
kelas , tidak lulus, bahkan terlibat tauran. Maka tumuan kesalahan
biasanya adalah sekolah. Supaya masalah ini tidak terjadi sebaiknnya
para orang tua selalu berusaha mengontrol aktivitas anaknya saat
berada didalam atau diluar rumah.
d) Bagi kepala sekolah
Maanfaatnya bagi kepala sekolah dapat dimanfaatkan utnuk
mengetahui sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah
di tetapkan dalam GBPP.

b. Penggolongan tes berdasarkan Aspek psikis yang ingin diungkap, dapat


dibedakan menjadi lima golongan yaitu:
1) Tes Intelegensi, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengungkapkan atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang
2) Tes Kemampuan, yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki.
3) Tes sikap, yakni salah satu jenis tes yang digunakan untk mengungkap
predisposisi atau kecendrungan seseorang untuk melakukan suatu respon
tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun
terhadap objek disekitarnya.
4) Tes Kepribadian, yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan
mengungkapkan cirri-ciri khas dari seseorang yang bayaknya bersifat
lahiria seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara dll.
5) Tes hasil belajar, yaitu juga sering dikenal dengan istilah pencapaian,
yakni biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau
prestasi belajar.
c. Penggolongan laian-lain
Dilihat dari segi banya orang yang mengikuti tes dapat dibedakan menjadi
dua golongan;
1) Tes individual, yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu
orang testee saja.
2) Tes kelompok, yakni dimana testee untuk menyelesaikan tes berhadapan
lebih dari satu testee.
Ditilik dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes
tersebut, dapat dibedakan menjadi dua golongan:
1) Power tes, yakni dimana waktu yang disediakan buat testee untuk
menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi.
2) Speed tes, yaitu tes dimana waktu yang disediakan buat testee untuk
menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Apabiloa ditinjau dari segi mengajukan pertanyaan dan cara memberikan
jawaban, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
1) Tes tertulis, yakni jenis tes dimanan tester dalam mengajukan butir-butir
pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis, testeememberi jawaban
secara tertulis.
2) Tes lisan, yakni tes dimana tester memberikan pertanyan-pertanyan atau
soalnya dilakukan secara lisan, dan teste memberikan jawaban secara
lisan pula.
2. Teknik Non Tes
Kegiatan mengukur itu pada umumnya dilakukan dengan mengunakan
tes dengan berbagai variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang sering
dipergunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik. Pernyataan
ini tidak lah harus diartikan bahwa teknis tes satu-satunya teknik untuk
melakukan evaluasi hasil belajar sebab masi ada teknik non tes. Dengan teknik
non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan
dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan
pengamatan secara sistematis yaitu;
a. Pengamatan
Secara umum pengertian observasi cara menghimpun bahan-bahan
keterngan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan
secara sistematis terhadap fenomen-fenomena yang yang sedang dijadikan
sasaran pengamatan. Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk
menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang
dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan.
b. Wawancara
Secara yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun
bahan-bahan keterngan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab
lisan secara sepihak, berhadapan muka dan dengan arah tujuan yang
ditentukan.
c. Angket
Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian
hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai berhadapan secara
langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainya, maka denga
menggunakan angket pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar
jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja jawaban-
jawaban yang diberikan acap seklali tidak sesuai dengan kenyataan yang
sebenarnya.
d. Pemeriksaan dokumen
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan
belajar peserta didik tanpa menguji juga dapat dilengkapi atau
diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-
dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai
riwayat hidup. Dokumen juga memuat info tentang orang tua peserta
didik
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk menuju kualitas
pembelajaran yang baik, diperlukan sistem penilaian yang baik pula. Agar penilaian
dapat berfungsi dengan baik, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka sangat
perlu untuk menetapkan standar penilaian yang akan menjadi dasar dan acuan bagi guru
dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian. Untuk mewujudkan hal
tersebut, maka perlu kerjasama yang baik dari beberapa pihak terkait, seperti guru,
siswa dan sekolah. Ketiga pihak tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda sesuai
dengan proporsi masing-masing. Jika masing-masing pihak melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya sebagaimana mestinya maka akan tercipta suatu suasana yang
kondusif, dinamis, dan terarah untuk perbaikan kualitas pembelajaran melalui perbaikan
sistem penilaian. Hingga Tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran adalah sertiap
siswa diharaplkan dapat mencapai kompetensi atau tujuan pembelaaran yang telah
ditetapkan. Kalau demikian maka semestinya setiap individu siswa diberi kesempatan
yang sama untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kecepatannya. Inilah
yang sebenarnya menjadi konsep belajar tuntas (mastery learning). Jika diberikan
kesempatan yang cukup pada dasarnya setiap individu siswa dapat mencapai semua
tujuan pembelajaran yang telah diteptakan. Yang membedakan adalah kecepatan setiap
individu siswa dalam mencaai tujuan tersebut.

B. Saran
Saran dari penulis kiranya makalah ini dapat menjadi bahan pembelajaran baik
penulis, pembaca khususnya siswa dan guru didalam meningkatkan proses
pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA

Gronlund, N.E & Linn, R.L. 1990. Measurement and evalution in teaching. New York:
memillan publishing company
Hanna, G.S. 1993. Better teaching trough better measurement. New York: Harcourt
barce jonavovich collage pub.
Haris,Abdul. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Mardapi, D. 2004. Penyusunan tes hasil belajar. Yogyakarta, program pascasarjana
universitas negeri Yogyakarta.
Nasoetion, N dan Suryanto, A. 1999. Evaluasi pembelajaran, Jakarta : universitas
terbuka.
Nitko, A.J. 1983. Educational test and measurement ; an introduction, New York:
Harcourt brace jonavovich inc.
Uno, Hamzah.B dan Koni, Satria. 2012. Assesment Pembelajaran. Jakarta : Bumi
Aksara