Вы находитесь на странице: 1из 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan praaksara.

Paleontologi mencakup studi fosil untuk menentukan evolusi suatu organisme dan

interaksinya dengan organisme lain dan lingkungannya (paleoekologi). Pengamatan

paleontologi telah didokumentasikan sejak abad ke 5 sebelum masehi. Sains

paleontolog berkembang pada abad ke 18 ketika Georges Cuvier melakukan anatomi

komparatif, dan berkembang secara cepat pada abad ke 19.

Paleontologi berada pada batas antara biologi dan geologi, namun berbeda

dengan arkeologi karena paleontologi tidak memasukkan kebudayaan Homo sapiens

modern. Paleontologi kini mendayagunakan berbagai metode ilmiah dalam sains,

mencakup biokimia, matematika, dan teknik. Penggunaan berbagai metode ini

memungkinkan paleontologi untuk menemukansejarah evolusioner kehidupan, yaitu

ketika bumi menjadi sesuatu yang mampu mendukung terciptanya kehidupan, sekitar

3.800 juta tahun silam. Dengan pengetahuan yang terus meningkat, paleontologi kini

memiliki subdivisi yang terspesialisasi, beberapa fokus pada jenis fosil tertentu, yang

lain mempelajari sejarah lingkungan dalam paleoekologi, dan yang lain mempelajari

dalam iklim dalam paleoklimatologi.

Salah satu bagian dalam mempelajari ilmu paleontologi yaitu dengan

mengetahui filum dari spesies-spesies yang menjadi fosil, diantaranya yaitu filum

Protozoa dan Bryozoa. Dari kedua filum ini, kita dapat mengetahui bagaimana

keadaan lingkungan tempat tinggal organisme ini pernah hidup. Selain itu, kita dapat

mengetahui komunitas apa saja yang hidup di sekitar fosil ini pada waktu itu serta

kegunaan lain dari kedua filum tersebut. Oleh karena itu diadakanlah praktikum

tentang filum Protozoa dan Bryozoa tersebut.


1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari praktikum paleontologi acara kedua filum protozoa dan

bryozoa adalah untuk mengetahui pendeskripsian fosil.

Adapun tujuan adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui pengertian dari filum Protozoa dan Bryozoa.

2. Mengetahui ciri-ciri dari filum Protozoa dan Bryozoa.

1.3 Alat dan Bahan

Beberapa peralatan dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Lembar Kerja Praktikum

b. 7 Sampel Fosil

c. Alat Tulis

d. Buku Penuntun Praktikum

e. Lap Kasar/Halus

f. HCl 0,1 M
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Fosil

Fosil sendiri ialah sisa organisme yang dulunya hidup di bumi di beberapa

waktu lalu, dikarenakan telah terawetkan bahkan sejak 3,5 miliar tahun yang lalu,

fosil ini menjadi sebuah petunjuk penting tentang sejarah bumi.

2.2 Pengertian Filum Protozoa dan Bryozoa

Filum Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal

dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,

Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista

eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya.

Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop.

Filum Bryozoa berasal dari bahasa yunani, Bryon :lumut dan Zoon : hewan.

Dahulu Bryozoa dianggap sebagai tumbuhan karena bentuk dan karakteristik dari

Bryozoa menyerupai tumbuhan lumut. Namun, setelah penelitian lebih lanjut

Bryozoa merupakan koloni dari hewan kecil-kecil, seperti hamparan lumut berbulu,

menempel pada batu, benda atau tumbuhan air di perairan dangkal yang subur dan

jernih.

2.3 Ciri – Ciri Protozoa

Ciri – ciri umum dari filum Protozoa sendiri ada tujuh di anataranya adalah

sebagai berikut :

a. Organisme uniseluler (bersel tunggal)

b. Eukariotik (memiliki membran nukleus)

c. Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)

d. Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof)


e. Hidup bebs, saprofit atau parasit

f. Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup

g. Alat gerak berupa pseudopodia, silia, atau flagella

2.4 Klasifikasi Protozoa

Protozoa memiliki beberapa kelas, dan dibagi menjadi empat kelas dari

system alat geraknya yaaitu sebagai berikut :

a. Flagellata (Mastigopora)

Organisme ini mempunyai ciri-ciri bersel satu, mempunyai protoplasma dengan

satu atau beberapa inti sel, mempunyai satu atau dua flagel melekat pada sel yang

gunanya untuk bergerak. Hidup di air tawar, laut, secara plangtonik, bebas atau

parasitik. Kelas ini dibagi menjadi empat ordo diantaranya :

1. Ordo Chrysomonadida

2. Ordo Dinofladellida

3. Ordo Silicoflagellida

4. Ordo Choanoflagellida

Gambar 2.1 Contoh kelas Flagellata

b. Ciliata (Ciliopora)

Golongan ini memiliki Cilia yang meliputi seluruh tubuhnya. Dinding selnya

mempunyai bentuk tetap, yaitu protoplasma dengan satu atau beberapa nukleus.

Mempunyai cangkang yang terdiri dari zat organik serta partikel-partikel asing

lainnya. Hidupnya di segala jenis air, baik secara bebas maupun parasitis.
Gambar 2.2 Contoh spesies dari kelas ciliata

c. Apicomplexa ( sporozoa )

Golongan ini merupakan protozoa berspora, tidak dapat bergerak sendiri, tidak

mempunyai cilia ataupun flagel, tidak mempunyai memiliki bagian-bagian yang

keras. Kebanyakan hidup parasitis dan ada yang terdapat di dalam usus manusia .

Gambar 2.3 Contoh kelas sporozoa

d. Sarcodina.

Jenis protozoa ini umumnya tidak mempunyai dinding (selaput), bentuknya

dapat berubah-berubah oleh adanya pseudopodia, kelas ini umumnya hidup di air

tawar maupun di air laut.

1. Subkelas Rhizopoda

- Ordo Amoebida

- Ordo Testacida

- Ordo Foraminifera

2. Subkelas Actinopoda

- Ordo Radiolaria
- Ordo Heliozoa

2.5 Ciri – Ciri Bryozoa

Bryozoa memiliki beberapa ciri – ciri, diantaranya adalah ciri umum dari

filum Bryozoa sebagai berikut :

a. Hidup berkoloni dan hidup bebas di air laut.

b. Mirip dengan beberapa koral, bunga karang dan algae.

c. Umumnya memiliki kerangka keras yang membatu.

d. Biasanya sering ditemukan di bebatuan.

e. Memiliki lubang-lubang kecil dipermukaan tubuhnya.

f. Variasi bentuk tubuhnya bermacam-macam misalnya, bentuk ranting, bentuk

bercabang, dan menyerupai tenda.

2.6 Klasifikasi Filum Bryozoa

Dari filum Bryozoa diklasifikasikan dalam tiga kelas diantarnya adalah

sebagai berikut :

1. Phylactolaemata

Lophophore berbentuk tapal kuda mempunyai epistome, dinding berotot,hidup

secara koloni, terdapat di air tawar, tidak ada zooid, dan tidak ada proses pengerasan

asam kapur. Dalam kelas Phylactolaemata hanya terdapat satu ordo yaitu ordo

Plumatellina.

2. Gymnolaemata

Lophophore berbentuk lingkaran, dinding tubuh tidak berotot, hidup secara

berkoloni, lebih dari 3000 spesies dan kebanyakan hidup di laut.

Dalam kelas Gymnolamata terbagi lagi dalam dua kelas adalah sebagai berikut :
a. Ctenostomata

Contoh dari ordo Ctenostomata adalah Pladucella (di air tawar) dan Alcyonidium

diaphanum (di air laut), Vinella repens, dan Bowerbankia.

b. Cheilostomata

Tubuh dari kapur, berbentuk kotak, dan bentuk koloni berumbai-umbai.

Adadpun contoh dari ordo Cheilostomata adalah Bugula, Membranipora

membranace, Adeona grisea dan Callopora ramosa.

3. Stenolaemata

Bentuk tubuh sepetri tabung, terbuka di bagian ujung, dinding tubuh berkapur

dan menyatu satu sama lain, terdapat 900 spesies dan semua hidup dilaut.

Pada kelas stenolaemata ini dibagi lagi dalam enam ordo, yaitu :

a. Ordo Cyclostomata atau tubulipora

Contoh: crissia, tubulipora.

b. Ordo Cystoporata.

Contoh: Fistulipora nura

c. Ordo Stomatopora.

Contoh: Stomatopora gingrina

d. Ordo Cryptostomata.

Contoh: Archemedes sp., Fistulipora sp.

e. Ordo Treopostomata.

Contoh: Batostoma minnesotense, Prasopora simulatrix, dan Constellaria florida.

f. Ordo Fenestrata.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Acanthoceras rhotomagense (DEFR.)


1. Test

2. Zooid

3. Zoorium

4. Maticula

5.Calic

Gambar 3.1 Spesies Acanthoceras rhotomagense (DEFR.)

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam filum mollusca,

Kelas cephalopoda, ordo cyclosmata, family acanthocerasidae, genus Aanthoceras,

dan organisme ini termasuk dalam spesies Acanthoceras rhotomagense (DEFR.)

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil, lubang kecil atau zooid, lubang pada tubuh yang lebih

besar dari zooid yaitu zoorium, lubang yang lebih besar dari zoorium yaitu maticula,

serta garis-garis yang ada pada tubuh fosil yaitu calic.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian atau seluruh tubuh organisme dengan mineral yang lebih

tahan terhadap pelapukan.

Bentuk dari fosil ini adalah tabular yaitu bentuk yang menyerupai bentuk

tabung. Setelah ditetesi HCl fosil ini tidak bereaksi maka dapat diketahui bahwa

komposisi kimianya adalah Silika (SiO2), dengan lokasi pengendapan yaitu laut

dalam. Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini

tergolong dalam zaman Kapur Atas (±100-65 juta tahun yang lalu).
Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.

3.2 Odontobelus tripartitus gracilis (A.)

1. Test

2. Oral Disk

3. Oral Opening

4. Calic

5.Holdfast

Gambar 3.2 Spesies Odontobelus tripartitus gracilis (A.)

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam filum bryozoa,

dengan kelas pylactelaemata, ordo hoemosporedia, family Odontobelusidae, genus

odontobelus, dan organisme ini termasuk dalam Spesies Odontobelus tripartitus

gracilis (A.).

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil, oral opening,oral disk, calic atau garis-garis pada tubuh

makhluk hidup dan holdfast atau tempat bertambat.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah

permineralisasi yaitu pergantian sebagian dari tubuh organisme dengan mineral yang

tahan terhadap pelapukan. Bentuk dari fosil ini adalah branching yaitu bentuk yang

menyerupai koral.

Setelah ditetesi HCl fosil ini bereaksi maka dapat diketahui bahwa komposisi

kimianya adalah karbonat (CaCO3), dengan lokasi pengendapan yaitu laut dangkal.

Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini

tergolong dalam zaman Jura Bawah (±230-225 juta tahun lalu).


Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.

3.3 Heliolithes cf. megastoma Mc COY

1. Test

Gambar 3.3 Spesies Heliolithes cf. megastoma Mc COY

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam filum bryozoa,

dengan kelas gymnolaemata, ordo ctenostomata, family heliolithesidae, genus

heliolithes, dan organisme ini termasuk dalam spesies Heliolithes cf. Megastoma Mc

COY.

Fosil ini hanya memiliki satu bagian tubuh yang masih dapat diamati yaitu,

test atau kenampakan keseluruhan tubuh fosil.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian dari tubuh organisme dengan mineral yang tahan terhadap

pelapukan. Bentuk dari fosil ini adalah globular atau bentuk bulat. Setelah ditetesi

HCl fosil ini bereaksi maka dapat diketahui bahwa komposisi kimianya adalah

karbonat (CaCO3), dengan lokasi pengendapan yaitu laut dangkal. Berdasarkan

skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini tergolong dalam

zaman Silur Tengah (±435-395 juta tahun lalu).

Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.
3.4 Coral limestone
1. Test

2. Oral Disk

3. Oral Opening

4. Calic

Gambar 3.4 Spesies Coral limestone

Fosil ini tergolong dalam filum cnidaria, dengan kelas anthosa, ordo

hexacorallia, family coralidae, genus coral, dan organisme ini termasuk dalam

spesies Coral limestone.

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil, oral opening,oral disk atau tempat masuknya makanan

serta calic atau garis-garis pada tubuh makhluk hidup.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian dari tubuh organisme dengan mineral yang tahan terhadap

pelapukan.

Bentuk dari fosil ini adalah Brancing yaitu bentuk yang menyerupai seperti

koral. Setelah ditetesi HCl fosil ini bereaksi maka dapat diketahui bahwa komposisi

kimianya adalah karbonat (CaCO3), dengan lokasi pengendapan yaitu laut dangkal.

Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini

tergolong dalam zaman Kapur Atas (±100-65 juta tahun lalu).

Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup

.
3.5 Nummelites millecaput BOUBEE

1. Test

2. Endoderm

3. Eksoderm

Gambar 3.5 Spesies Nummelites millecaput BOUBEE

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam filum protozoa,

dengan kelas sarcodina, ordo foraminifera, family nummelitesidae, genus

gummelites, dan organisme ini termasuk dalam pesies Nummelites millecaput

BOUBEE.

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil, endoderm bagian dalam fosil dan eksoderm bagian luar

fosil.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian dari tubuh organisme dengan mineral yang tahan terhadap

pelapukan. Bentuk dari fosil ini adalah Brancing yaitu bentuk yang menyerupai

seperti koral. Setelah ditetesi HCl fosil ini bereaksi maka dapat diketahui bahwa

komposisi kimianya adalah karbonat (CaCO3), dengan lokasi pengendapan yaitu laut

dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil

ini tergolong dalam zaman Eosen Tengah(±50-44 juta tahun lalu).

Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.
3.6 Fenestella explanata A. ROEM

1. Test

2. Calic

Gambar 3.6 Fenestella explanata A. ROEM

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam filum protozoa,

dengan kelas foraminifera, ordo fenestrata, family fenestellaidae, genus fenestella,

dan organisme ini termasuk dalam spesies Fenestella explanata A. ROEM.

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil dan calic atau garis-garis yang ada pada tubuh fosil.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian atau seluruh tubuh organisme dengan mineral yang tahan

terhadap pelapukan.

Bentuk dari fosil ini adalah Branching yaitu bentuk yang menyerupai seperti

koral. Setelah ditetesi HCl fosil ini tidak bereaksi maka dapat diketahui bahwa

komposisi kimianya adalah Silika (SiO2), dengan lokasi pengendapan yaitu laut

dalam. Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini

tergolong dalam zaman Devon Tengah (±370-360 juta tahun lalu).

Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.
3.7 Caninia Cornucopiae NICH.

1. Test

2. Zooid

3. Zoorium

4. Holdfast

Gambar 3.7 Spesies Caninia Cornucopiae NICH.

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam Filum Bryozoa,

dengan Kelas Gymnoslaemata, Ordo Cyclostomata, Family Caninianidae, Genus

Caninia, dan organisme ini termasuk dalam Spesies Caninia Cornucopiae NICH.

Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya, test

yaitu seluruh tubuh fosil, zoorium atau lubang pada tubuh fosil dan holdfast atau

tempat bertambatnya organism tersebut semasa hidup.

Adapun proses pemfosilan yang terjadi pada fosil tersebut adalah mineralisasi

yaitu pergantian sebagian atau seluruh tubuh organisme dengan mineral yang tahan

terhadap pelapukan. Bentuk dari fosil ini adalah Brancing yaitu bentuk yang

menyerupai seperti koral.

Setelah ditetesi HCl fosil ini bereaksi maka dapat diketahui bahwa komposisi

kimianya adalah karbonat (CaCO3), dengan lokasi pengendapan yaitu laut dangkal..

Berdasarkan skala waktu geologi atau penarikan umur secara relatif fosil ini

tergolong dalam zaman Karbon Bawah (± 345-318 juta tahun lalu).

Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan

pengendapannya, menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan

antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

a. Filum Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal

dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan.

Jadi, Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain

protista eukariotik. Sedangkan Bryozoa merupakan koloni dari hewan kecil-

kecil, seperti hamparan lumut berbulu, menempel pada batu, benda atau

tumbuhan air di perairan dangkal yang subur dan jernih.

b. Ciri – ciri umum dari filum Protozoa sendiri ada tujuh di anataranya adalah

sebagai berikut : Organisme uniseluler (bersel tunggal), eukariotik (memiliki

membran nukleus), hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok),

umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof), hidup bebas,

saprofit atau parasit, dapat membentuk sista untuk bertahan hidup, alat gerak

berupa pseudopodia, silia, atau flagella. Bryozoa memiliki beberapa ciri – ciri,

diantaranya adalah ciri umum dari filum Bryozoa sebagai berikut : Hidup

berkoloni dan hidup bebas di air laut, mirip dengan beberapa koral, bunga

karang dan algae, umumnya memiliki kerangka keras yang membatu,

biasanya sering ditemukan di bebatuan, memiliki lubang-lubang kecil

dipermukaan tubuhnya, variasi bentuk tubuhnya bermacam-macam

misalnya, bentuk ranting, bentuk bercabang, dan menyerupai tenda.

4.2 Saran

4.2.1 Saran Untuk Laboratorium

a. Sebaiknya laboratoium dilengkapi dengan sarana yang lebih lengkap


b. Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum disediakan gambaran-gambaran dari

berbagai ordo pada setiap kelas filum

4.2.2 Saran Untuk Asisten

a. Sebaiknya asisten memberikan waktu lebih banyak saat praktikum.

b. Sebaiknya dalam praktikum semua asisten dapat hadir

c. Sebaiknya asisten memberikan penjelasan tentang gambaran ordo-ordo dari

setiap kelas sehingga memudahkan dalam pengidentifikasian fosil tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Noor.J. 2012. E-book Pengantar Geologi. Di akses pada 9 Maret 2017 23;15

Rochmanto.B. 2005. Geologi Fisik. Makassar : Universitas Hasanuddin

Syulasmi, A., Sriyati, S., Peristiwati. (2011). Avetebrata Air Jilid II. Malang:
Erlangga.

Suwignyo, S. (2005). Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta: Djambatan

Treman, I Wayan. 2014. Geologi Dasar. Yogyakarta : Graha Ilmu