Вы находитесь на странице: 1из 6

Analisis Kasus

Kegawatdaruratan pada kasus

1. Dekompensasi kordis

Pada pemeriksaan fisik kasus ditemukan terdapat bising sistolik yang dapat yang
menandakan adanya dekompensasi kordis yang diakibatkan oleh kapasitas
pengangkutan oksigen ke organ ataupun jaringan menurun. Pada keadaan anemia
terjadi perubahan nonhemodinamik dan hemodinamik sebagai kompensasi dari
penurunan konsentrasi hemoglobin. Mekanisme nonhemodinamik diantaranya yaitu
peningkatan produksi eritropoetin untuk merangsang eritropoesis dan meningkatkan
oxygen extraction. Ketika konsentrasi hemoglobin di bawah 10 g/dL, faktor
nonhemodinamik berperan dan terjadi peningkatan cardiac output serta aliran darah
sebagai kompensasi terhadap hipoksia jaringan.

Tatalaksana transfusi darah pada pada pasien anemia yang memiliki tanda-tanda
klinis gagal jantung dengan dosis 5 ml/kgBB selama 3-4 jam. Sesuai pada kasus
transfusi yang diberikan pada pasien ini adalah 150 cc

2. Trombositopenia

Pada pemeriksaan penunjang kasus, didapatkan nilai trombosit 9000/mm3 nilai


tersebut menunjukkan bahwa terdapat trombositopenia.

Trombositopenia atau defisiensi trombosit, merupakan keadaan dimana trombosit


dalam sirkulasi jumlahnya di bawah normal (150.000-400.000/µL darah). Penderita
trombositopenia cenderung mengalami pendarahan yang biasanya berasal dari
venula-venula atau kapiler-kapiler kecil. Akibatnya, timbul bintik-bintik perdarahan
di jaringan tubuh. Pada kulit penderita menampakkan bercak-bercak kecil berwarna
ungu. Sesuai pada kasus, pasien memiliki bercak-bercak keunguan di tangan, kaki
serta bahu.

Tatalaksana pasien dengan kasus trombositopenia dapat diberikan


kortikosteroid dengan Sediaan glokokortikoid (prednison, prednisolon). Dosis yang
biasa digunakan ialah 1-2 mg/kgBB/hari selama kurang lebih 2-3 minggu. Penelitian
terbaru menunjukkan respon yang lebih cepat (secepat IVIG) dalam menaikkan
jumlah trombosit pada dosis prednison yang lebih tinggi (4 mg/KgBB/hari) jangka
pendek. Pilihan pengobatan ini mungkin yang paling sesuai untuk ITP pada anak
dengan gejala yang nyata dan mengganggu (sedang secara klinis). Ada pula yang
memakai dosis 10-30 mg/kgBB/hari, intravena, selama beberapa hari. Pemberian
steroid biasanya mempercepat kenaikan jumlah trombosit, tetapi tidak mengubah
morbiditas ataupun mortalitas. Sesuai pada kasus untuk mengatasi trombositopenia
yaitu dengan pemberian kortikosteroid metil prednisolone 3 x 10 mg iv.

Masalah medis pada kasus

1. Pansitopenia

Didapatkan pada kasus pasien memiliki pansitopenia, dimana nilai hasil pemeriksaan
penunjang menunjukkan:

HB (hemoglobin): 5.6 Gr% dengan nilai normal 13-16

Thrombosit 9000 dengan nilai normal 150000-400000

Leukosit 2.800/mm3 dengan nilai normal 4000-11000

2. Potensi sepsis
Jika melihat dari nilai leukosit 2.800/mm3, pasien berpotensi menjadi sepsis, karena
itu perlu upaya pemberian antibiotic, sesuai pada kasus pasien ini sudah diberikan
antibiotic berupa cefotaxim 3 x 1 gr IV

3. Batuk

Pada kasus ini pasien mengatakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien
memiliki keluhan batuk, namun batuk tersebut hilang timbul dan tidak berdahak. Dari
keluhan tersebut sudah dilakukan penatalaksanaan, yaitu pemberian Ambroxol 2 x 1
tab

4. Konstipasi

Pada kasus ini pasien mengatakan sudah 2 hari tidak buang air besar. Dari keluhan
tersebut belum dilakukan tatalaksana, dimana tatalaksana dari konstipasi pada anak
adalah dapat diberikan: Tahap awal kita harus mengevakuasi tinja yang sudah
menumpuk berhari-hari di dalam usus besarnya. Evakuasi biasanya dilakukan dengan
cara enema dengan gliserin yang dilakukan di rumah sakit. Bila tinja yang menumpuk
tidak terlalu banyak, evakuasi juga bisa dilakukan dirumah dengan cara pemberian
obat supositoria. Bila menggunakan obat peroral, dapat digunakan mineral oil (paraffi
n liquid) dengan dosis 15-30 ml/tahun umur (maksimal 240 mL/hari) kecuali pada
bayi. Evakuasi tinja dengan obat perrektal dapat menggunakan enema fosfat
hipertonik (3mL/ kgBB, 2 kali sehari, maksimum 6 kali enema), enema garam
fisiologis (600-1000 mL), atau 120 mL mineral oil.

Masalah Non-medis

1. Tingkat pendidikan orang tua


Orang tua dan anak merupakan satu kesatuan ikatan dimana orang tua merupakan
anggota tim kesehatan yang baik untuk melakukan pengawasan kesehatan.Sesuai
pada kasus bahwa orang tua pasien hanya lulusan Sekolah dasar yang mungkin
memiliki keterbatasan mengenai pengetahuan penyakit yang dialami oleh pasien.

2. Menolak untuk dirujuk ke fasilitas yang lebih tinggi

Dengan melihat kondisi pasien, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.


Pasien dapat digolongkan kedalam pasien yang memiliki kasus serius, yang harus
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi agar pasien mendapatkan pemeriksaan
yang lebih memadai untuk mengetahui diagnosis pasti penyakit yang dialami pasien
sekarang, pada kasus ini pasien membutuhkan pemeriksaan sumsum tulang. Namun
pada kasus ini orang tua pasien menolak untuk membawa pasien ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi

Kegawatan Anemia Gravis

1. Penyakit Kardiovaskular

Pada keadaan anemia dengan kadar hemoglobin < 7g/dL mengakibatkan kapasitas
pengangkutan oksigen oleh sel darah merah menurun. Suatu proses pengantaran
oksigen ke organ ataupun jaringan dipengaruhi oleh tiga faktor di antaranya faktor
hemodinamik yaitu cardiac output dan distribusinya, kemampuan pengangkutan
oksigen di darah yaitu 19 konsentrasi hemoglobin, dan oxygen extraction yaitu
perbedaan saturasi oksigen antara darah arteri dan vena (Dyer & Fifer, 2003). Pada
keadaan anemia terjadi perubahan nonhemodinamik dan hemodinamik sebagai
kompensasi dari penurunan konsentrasi hemoglobin. Mekanisme nonhemodinamik
diantaranya yaitu peningkatan produksi eritropoetin untuk merangsang eritropoesis
dan meningkatkan oxygen extraction. Ketika konsentrasi hemoglobin di bawah 10
g/dL, faktor nonhemodinamik berperan dan terjadi peningkatan cardiac output serta
aliran darah sebagai kompensasi terhadap hipoksia jaringan.

Kompensasi mekanisme hemodinamik bersifat kompleks, antara lain terjadi


penurunan afterload akibat berkurangnya tahanan vaskular sistemik, peningkatan
preload akibat peningkatan venous return dan peningkatan fungsi ventrikel kiri yang
berhubungan dengan peningkatan aktivitas simpatetik dan faktor inotropik. Pada
anemia kronik, terjadi peningkatan kerja jantung menyebabkan pembesaran jantung
dan hipertrofi ventrikel kiri.

Data longitudinal menunjukkan bahwa anemia merupakan predisposisi terjadinya


dilatasi ventrikel kiri dengan kompensasi hipertrofi yang dapat mengakibatkan
terjadinya disfungsi sistolik. Manifestasi kardiovaskular pada pasien dengan anemia
kronis yang berat tidak terlihat jelas kecuali pada pasien mengalami gagal jantung
kongestif. Pasien biasanya mengalami pucat, bisa terlihat kuning, denyut jantung saat
istirahat cepat, prekordial aktif dan dapat terjadi murmur sistolik. Pada keadaan
anemia, venous return jantung akan meningkat. Pada jantung dapat terjadi hipertrofi
ventrikel kiri, dengan miofibril jantung yang memanjang dan ventrikel kiri dilatasi,
akibatnya akan memperbesar stroke volume sesuai dengan mekanisme Starling

Secara fisiologis akibat dari hal ini terjadi dilatasi ventrikel khususnya terjadi
peningkatan tekanan dinding jantung yang mengakibatkan peningkatan 20 konsumsi
oksigen dan percepatan kerusakan miosit. Pada tahap terjadi dilatasi yang progresif
dinding ventrikel kiri menebal yang disebut dengan eccentric hipertrofi yang
bermanfaat sebagai mekanisme adaptasi untuk melindungi jantung dari peningkatan
tahanan dinding jantung.
Tatalaksana transfusi darah pada pada pasien anemia yang memiliki tanda-tanda
klinis gagal jantung dengan dosis 5 ml/kgBB selama 3-4 jam.

2. Hipoksia Anemik

Tujuan dasar sistem kardiorespirasi adalah untuk mengirim oksigen (dan substrat) ke
sel-sel dan membuang karbon dioksida (dan hasil metabolik lain) dari sel-sel.
Pertahanan yang sesuai dari fungsi ini tergantung pada sistem respirasi dan
kardiovaskuler yang intak dan suplai udara yang diinspirasi yang mengandung
oksigen adekuat. Perubahan teganagan oksigen dan karbon diaoksida serta perubahan
konsentrasi intraeritrosit dari komponen fosfat organik, terutama asam 2,3-
bifosfogliserat, menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksigen. Bila hasil hipoksi
sebagai akibat gagal pernafasan, PaCO2 biasanya meningkat dan kurva disosiasi
bergeser kekanan. Dalam kondisi ini, persentase saturasi hemoglobin dalam darah
arteri pada kadar penurunan tegangan oksigen alveolar (PaCO2) yang diberikan.

Setiap penurunan kadar hemoglobin akan disertai dengan penurunan


kemampuan darah dalam mengangkut oksigen. PaCO2 tetap normal, tetapi jumlah
absolut oksigen yang diangkut perunit volume darah akan berkurang. Ketika darah
yang anemik melintas lewat kapiler dan oksigen dalam jumlah yang normal
dikeluarkan dari dalam darah tersebut, maka PaCO2 di dalam darah vena akan
menurun dengan derajat penurunan yang lebih besar daripada yang seharusnya terjadi
dalam keadaan normal.