Вы находитесь на странице: 1из 13

Dosen : Maryati Bachtiar, SH.,M.Kn.

Hukum Perbankan

Fakultas Hukum
UNIVERSITAS RIAU

Disusun Oleh :
TOPAN REZKI ERLANDO
1109111434

1|Hukum Perbankan
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang HUKUM PERBANKAN

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan
akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang
setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Pekanbaru, September 2013

2|Hukum Perbankan
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Secaraterminologi “bank” berasal dari bahasa Italy “banca” yang berarti bence
yaitu suatu bangku tempat duduk.Sebab, pada zaman pertengahan pihak banker Italy
yang memberikan pinjaman-pinjaman melakukan usahanya tersebut denganduduk di
bangkubangku di halamanpasar.
Hukum yang mengaturmasalah perbankan adalah hukum perbankan. Hukum
ini merupakan seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang-
undangan yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumber hukum, yang mengatur
masalah-masalah perbankan sebagai lembaga, dan aspek kegiatannya sehari-hari,
rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh bank, perilaku petugas-petugasnya, hak,
kewajiban, tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersangkut bisnis perbankan,
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-
lain yang berkenaandenganduniaperbankantersebut.
Sedangkanmenurut Drs. Muhammad Djumhana, S.H pengertian hukum
perbankan adalah sebagai kumpulan peraturan hukum yang mengatur kegiatan
lembaga keuangan bank yang meliputi segala aspek, dilihat dari segi esensi, dan
eksistensinya, sertahubungannyadenganbidangkehidupan yang lain.1
Ada beberapakekhasan yang terlihat jelas dalam kehidupan perbankan
Indonesia, diantaranya yaitu:
 Perbankan Indonesia
dalammelakukanusahanyaberasaskandemokrasiekonomidenganmenggunakan
prinsipkehati-hatian.
Fungsiutamanyaadalahsebagaipenghimpundanpengaturdanamasyarakat,
danbertujuanmenunjangpelaksanaanpembangunannasional.

1
Diakses dari http://id.scribd.com/doc/48151293/hukum-perbankan tanggal 19
September 2013 pukul 22.23

3|Hukum Perbankan
 Perbankan Indonesia
sebagaisaranauntukmemeliharakesinambunganpelaksanaanpembangunannasi
onal, jugagunamewujudkanmasyarakat Indonesia yang adildanmakmur.
Perbankan Indonesia
dalammenjalankanfungsidantanggungjawabnyakepadamasyarakattetapharussenantias
abergerakcepatgunamenghadapitantangan yang
semakinberatdanluasdalamperkembanganperekonomiannasionaldaninternasional.Seda
ngkanperananhukum modern mempunyaisifatdanfungsi instrumental,
yaitubahwahukumsebagaisaranaperubahan.Hukumakanmembawakanperubahanperub
ahanmelaluipembuatanperundang-undangan yang
dijadikansebagaisaranamenyalurkankebijakan-kebijakan yang
dengandemikianbisaberartimenciptakankeadaan-keadaan yang
baruataumengubahsesuatu yang sudahada.2
B. RUMUSAN MASALAH
a. Dasar Hukum Perbankan
b. Pengaturan Hukum
c. Asas-Asas Hukum Perbankan
d. Jenis-jenis perbankan menurut UU

C. TUJUAN PENULISAN

Untuk memberikan penjelasan serta pemahaman kepada mahasiswa


serta kepada orang-orang dibidang akademisi, terhadap hukum perbankan,
karena seperti yang kita ketahui bahwa perbankan yang berasaskan demokrasi
ekonomi dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana
masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional, dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan
dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional, ke arah
peningkatan taraf hidup rakyat banyak.3

2
Ibid

4|Hukum Perbankan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum Perbankan dan Fungsi Perbankan DiIndonesia


Salah satu pilar pembangunan ekonomi Indonesia terletak pada
industriperbankan. Pengakuan secara yuridis formal mengenai eksistensi perbankan
sudahberlangsung lebih kurang 39 tahun sejak dilahirkannya Undang-Undang Nomor
14Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan. Lahirnya Undang-Undang Nomor
14Tahun 1967 didasarkan kepada pemikiran dan jiwa Ketetapan
MajelisPermusyawaratan Rakyat Sementara Nomor XVIII/MPRS/1966 yang
menginginkanperlunya penilaian kembali terhadap Tata Perbankan. Pengaturan Tata
Perbankandilandasi kepada hal-hal sebagai berikut: pertama, tata perbankan harus
merupakansuatu kesatuan sistem yang menjamin adanya kesatuan pimpinan dalam
mengaturseluruh perbankan di Indonesia serta mengawasi pelaksanaan kebijaksanaan
moneterpemerintah di bidang perbankan; kedua, memobilisasikan dan
memperkembangkanseluruh potensi yang bergerak di bidang perbankan berdasarkan
asas-asas demokrasiekonomi; ketiga, membimbing dan memanfaatkan segala potensi
tersebut bagikepentingan perbaikan ekonomi rakyat. Dalam undang-undang tersebut
tidakdijumpai pernyataan yang tegas mengenai fungsi perbankan Indonesia. Dengan
demikian,pengertian dari hukum perbankan adalah himpunan peraturan berupa UU,
peraturanPemerintah dan keputusan-keputusan lainnya yang dikeluarkan instansi yang
berwenang, yang berkaitan dengan bank dan transaksi perbankan lainnya. 4
Sesuai dengan dinamika perekonomian nasional dan internasional
diikutiperubahan budaya yang bergerak cepat dengan tantangan yang semakin
kompleks dan meluas, maka Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 perlu disusun
kembali dengan mengadakan pembaharuan pada tataran idealistik hukum sehingga

4
Diakses dari http://id.scribd.com/doc/48151293/hukum-perbankan tanggal 19
September 2013 pukul 22.23

5|Hukum Perbankan
mampu menyahuti realistik hukum. Pembaharuan diawali dengan adanya indikasi
perubahan di bidang perbankan sejak tahun 1983 yang diikuti dengan kebijakan baru
di bidang moneter dan perbankan yang dikenal dengan tahap awal deregulasi.
Kebijakan selanjutnya diikuti dengan Paket Juni (Pakjun) 1983, disusul dengan Paket
Oktober (Pakto) 1988, Pakjun 1990, Paket Februari 1991, dan mencapai puncaknya
pada tahun 1992 dengan melahirkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan. Melalui undang-undang ini dinyatakan bahwa perbankan memiliki fungsi
utama sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Fungsi perbankan tersebut
pada era reformasi tetap dikukuhkan dan tidak mengalami perubahan sebagaimana
terlihat dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Undang-
undang No. 10 Tahun 1998 ini membedakan bank berdasarkan kegiatan usahanya
menjadi dua, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan
bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Sebagaimana
disebutkan dalam butir 13 Pasal 1 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 memberikan
batasan pengertian prinsip syariah sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam
antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan
usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syariah, antara lain,
pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan
prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh
keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa
murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas
barang yang disewa dari pihak Bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina)
Dengan fungsi perbankan yang demikian maka kehadiran bank di dalam
masyarakat sebagai badan usaha memiliki arti yuridis dan peran yang sangat strategis
dalam proses pembangunan nasional. Dalam agenda pembangunan nasional tahun
2004 – 2009 secara politis dikatakan bahwa kondisi perbankan dan lembaga keuangan
lainnya belum mantap. Lemahnya pengaturan dan pengawasan terhadap produk
perbankan dan keuangan yang semakin bervariasi dan kompleks, serta dalam
mengantisipasi globalisasi perdagangan jasa dan inovasi teknologi informasi, telah
meningkatkan arus transaksi keuangan masuk dan keluar Indonesia. Pernyataan
politik hukum ini pada tataran landasan teknis operasional menghendaki adanya
perubahan Undang-Undang Perbankan di masa yang akan datang. Politik hukum yang
dimaksudkan adalah aktivitas memilih suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dengan
keharusan untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan dan cara-cara yang

6|Hukum Perbankan
hendak dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kaitannya dengan politik
hukum perbankan adalah bagaimana arahan dari kehendak pelaku politik yang
memiliki beraneka kepentingan hukum untuk mewujudkan tujuan negara, dan dalam
hal yang kongkret politik hukum merupakan alat untuk merespons persoalan
perbankan melalui pembuatan undang-undang dalam rangka mencapai tujuan negara.
Beberapa hal yang harus disikapi adalah dengan meletakkan asas hukum
(rechtsbeginsel, principle of law) perbankan yang sesuai dengan cita-cita masyarakat
terkini dengan tetap mempertahankan eksistensi prinsip kepercayaan dan kehati-hatian
(prudential banking) dalam menjalankan usaha bank. Selain itu, pengelolaan bank
harus didasarkan kepada asas-asas tata pengelolaan perusahaan yang baik (good
corporate governance).
Pada saat ini pelaksanaan fungsi perbankan terlihat dari pengaturan usaha
bank yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perbankan. Usaha bank yang dimaksud
tidak bersifat limitatif melainkan enumeratif, sehingga memungkinkan hubungan
antara bank dengan nasabahnya untuk melakukan perjanjian yang tidak bertentangan
dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. Dalam arti yuridis, fungsi
perbankan sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat merupakan esensi
perjanjian yang meliputi 2 (dua) hal yaitu menghimpun dana dari masyarakat, disebut
sebagai perjanjian simpanan, dan menyalurkan dana ke masyarakat, disebut sebagai
perjanjian kredit bank. Perjanjian simpanan dan perjanjian kredit bank pada bank
konvensional berbeda dengan perjanjian simpanan dan perjanjian pembiayaan pada
bank syariah. Perbedaan ini terletak pada filsafat yang dianut dari kedua sistem bank
yang bersangkutan. Bank syariah tidak menggunakan sistem bunga, sedangkan bank
konvensional memakai sistem bunga dalam kegiatan usahanya. Di samping itu,
terdapat perbedaan pada aspek operasional, sosial, dan organisasinya. Sebenarnya
istilah bank konvensional kurang tepat jika hendak dipersandingkan atau
diperlawankan dengan bank syariah. Lebih tepat dipakai frase “bank non-syariah”.
Seolah-olah bank konvensional itu kuno, kolot, dan tidak membawa perubahan.
Kenyataan yuridis dalam ius constitutum, figur-figur hukum yang lahir dari produk
bank non-syariah lebih besar frekuensinya dibandingkan dengan bank syariah. Kedua
bentuk perjanjian tersebut akan dilihat dalam perspektif hukum perdata yang

7|Hukum Perbankan
mencakup hukum perjanjian pada satu sisi dan hukum benda pada sisi lainnya
khususnya hukum jaminan.5

B. Dasar Hukum Perbankan Indonesia Sesuai UU No. 10 Tahun 1998


Sistemkeuanganmerupakansatukesatuansistem yang
dibentukdarisemualembagakeuangan yang adadan yang
kegiatanutamanyadibidangkeuanganyaitumenarikdanadarimasyarakatdanmenyalurkan
nyakepadamasyarakat.
Keberadaansistemkeuanganinidiharapkandapatmelaksanakanfungsinyasebagailembag
aperantarakeuangan (financial intermediation) danlembagatransmisi yang
mampumenjembatanimereka yang kelebihandanadenganmereka yang
kekurangandanasertamemperlancartransaksiekonomi.
Berkaitandengansistemkeuangan yang dianut di Indonesia,
terdiridarisistemkeuanganmoneterdanlembagakeuanganlainnya.Sistemkeuanganmonet
erterdiriatasotoritasmoneterdansistem Bank Umum (commercial
bank).OtoritasmonetersebagaimanadiaturdalamUndang-Undang No. 23 tahun 1999
tentang Bank Indonesia jo. Undang-Undang No. 3 tahun 2004
tentangperubahanatasUndang-UndangRepublik Indonesia No. 23 tahun
1999.Secarategasmenyatakanbahwa Bank Indonesia
adalahpenanggungjawabotoritaskebijakanmoneter yang
biasanyadisebutotoritasmoneter.
Sebagaiotoritasmoneter Bank Indonesia
berwenangmenetapkandanmelaksanakankebijakanmoneterdalamrangkamencapaidan
memeliharakestabilannilai rupiah.Disampingotoritasmoneter, sistem bank umum yang
merupakanbagiandarisistemperbankansebagaimanadiaturdalamUndang-Undang No. 7
tahun 1992 jo. Undang-undang no. 10 tahun 1998 tentangperbankan,
iniberartibahwasistemmoneterberhubunganeratdengan bank

5
Ibid,

8|Hukum Perbankan
sentraldanlembagakeuangan bank.Selainsistemkeuangan bank, sistemkeuangannon
bankjugamerupakanbagiandarisistemkeuangaan.

C. Asas-Asas Hukum Perbankan


alamhukumperbankanada 4 asaspenting, antara lain :
1. AsasDemokrasiEkonomi
2. AsasKepercayaan
3. AsasKerahasiaan
4. AsasKehati – hatian

Adapunpenjelasankeempatasas di atasadalahsebagaiberikut :
1. AsasDemokrasiEkonomi
Yang manadenganasasini, tidak terjadi monopoli. Hal ini dikarenakan setiap
warganegara berhakuntukmendapatsuatuhal yang sama.
2. AsasKepercayaan
Asasinimerupakantulang punggung dari suatu bank yang dapat mendukung
kemajuan bank. Dengan kokohnya kepercayaan yang diterima oleh bank dari
masyarakat, maka akan dapat memberikan eksistensi dan value yang
baikterhadapBank Tersebut.
3. AsasKerahasiaan
Asasinimerupakanasas yang digunakanuntukmelindungiparanasabah yang
beritikadbaik.Artinyaparanasabahakandijaminprivasinya,
misalnyaberkenaandenganidentitasataupunhal – hallainnya yang bersifatpribadi,
makaoleh bank hal – hal yang pribaditersebutakandijagadenganbaik.
4. AsasKehati – Hatian (Prudential)
Tentunyabahwa bank sebagailembaga yang mengelolauangnasabah,
diharapkanolehnasabahitu pula bahwa bank dapatmengelolauang yang
disimpansecarabaikdanhati – hati.Ketikahalinidapatdilakukandenganbaikolehpihak
bank, makabukantidakmungkinakandapatmeningkatkankepercayaannasabahterhadap
bank yang digunakanuntukmenyimpanuangnyatersebut.

D. Jenis-jenis Bank menurut UU No. 10 Tahun 1998


9|Hukum Perbankan
Sejak diberlakukannya Undang-Undang nomor 10 tahun 1998, jenis bank dapat
dibedakan menjadi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.
1. Bank Umum ( Pasal 6-12 )
Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah
umum. Bank Umum sering juga disebut Bank Komersial. Usaha-usaha bank umum
yang utama antara lain:6
a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito, sertifikat
deposito, tabungan;
b. memberikan kredit;
c. menerbitkan surat pengakuan hutang;
d. memindahkan uang;
e. menempatkan dana pada atau meminjamkan dana dari bank lain;
f. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga;
g. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.

Bank umum di Indonesia dilihat dari kepemilikannya terdiri atas:


a. Bank Pemerintah, seperti BRI, BNI, BTN.
b. Bank Pembangunan Daerah (BPD), seperti BPD DKI Jakarta.
c. Bank Swasta Nasional Devisa, seperti BCA, NISP, Bank Danamon.
d. Bank Swasta Nasional Bukan Devisa.
e. Bank Campuran, contoh Sumitomo Niaga Bank.
f. Bank Asing, seperti Bank of America, Bank of Tokyo.

Bank umum ada yang disebut Bank Devisa dan Bank Non Devisa:
1. Bank Umum Devisa artinya yang ruang lingkup gerak operasionalnya sampai
ke luarnegeri. Seperti bank tersebut dapat membuka letter of credit (LC),
layanan transfer ke luar negeri, membuka tabungan dalam mata uang asing, dan
lain-lain.

6
uu no. 10 tahun 1998 pasal 6-12,

10 | H u k u m P e r b a n k a n
2. Bank Umum Non Devisa artinya ruang lingkup gerak operasionalnya di dalam
negeri saja.

2. Bank Perkreditan Rakyat ( Pasal 13-15 )


Menurut Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud
BankPerkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk
deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Usaha-usaha Bank Perkreditan Rakyat, diantaranya:7
a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito
berjangka, dan tabungan;
b. memberi kredit;
c. menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai
dengan yang ditetapkan pemerintah; dan
d. menempatkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Pembagian bank selain didasarkan Undang-Undang Perbankan dapat juga dibagi
menurut kemampuan bank menciptakan alat pembayaran, yang meliputi:
1. Bank Primer yaitu bank yang dapat menciptakan alat pembayaran baik berupa
uang kartal maupun uang giral. Bank yang termasuk kelompok ini adalah:
2. Bank Sentral atau Bank Indonesia sebagai pencipta uang kartal. Selain itu tugas
Bank Sentral diantaranya:
 menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
 mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan
 mengatur dan mengawasi bank.
3. Bank Umum sebagai pencipta uang giral (uang yang hanya berlaku secara khusus
dan tidak berlaku secara umum).
4. Bank Sekunder yaitu bank yang tidak dapat menciptakan alat pembayaran dan
hanya berperan sebagai perantara dalam perkreditan yang tergolong dalam bank
ini adalah Bank Perkreditan Rakyat

7
uu no. 10 tahun 1998 pasal 13-16,

11 | H u k u m P e r b a n k a n
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hukum yang mengaturmasalahperbankandisebuthukumperbankan (Banking
Law)
yaknimerupakanseperangkatkaedahhukumdalambentukperaturanperundangundangan,
yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumberhukum yang mengaturmasalah-
masalahperbankansebagailembaga, danaspekkegiatannyasehari-hari, rambu-rambu
yang harusdipenuhiolehsuatu bank, perilakupetugas-petugasnya, hak, kewajiban,
tugasdantanggungjawab, parapihak yang tersangkutdenganbisnisperbankan, apa yang
bolehdantidakbolehdilakukanoleh bank, eksistensi bank, dan lain-lain yang
berkenaandenganduniaperbankantersebut.
Sumberhukumdalamarti material
barudiperhatikanjikadianggapperludiketahuiakanasalusulhukum.
Sumberhukumdalamarti formal
adalahtempatditemukannyaketentuanhukumdanperundang-undangan, baik yang
tertulismaupuntidaktertulis.Sumberhukumperbankanadalahtempatditemukannyaketent
uanhukumdanperundang-undanganperbankan yang dimaksudadalahhukumpositif,
yaituketentuanperbankan yang sedangberlakupadasaatini.

B. Saran

12 | H u k u m P e r b a n k a n
Dalammelaksanakankemitraanantara bank dengannasabahnya,
untukterciptanyasistemperbankan yang sehat,
kegiatanperbankanperludilandasidenganbeberapaasashukum (khusus) yaitu :
1. AsasDemokrasiEkonomi
2. AsasKepercayaan
3. AsasKerahasiaan
4. AsasKehati-hatian(Prudential Principle)

DAFTAR PUSTAKA

http://id.scribd.com/doc/48151293/hukum-perbankan tanggal 19 September 2013 pukul 22.23

UU No. 10 Tahun 1998

13 | H u k u m P e r b a n k a n