You are on page 1of 40

Titrasi Asam Basa

I. JUDUL : TITRASI ASAM BASA


II. TANGGAL PERCOBAAN : Rabu, 18 November 2015
III. SELESAI PERCOBAAN : Rabu, 18 November 2015
IV. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku C2H2O4
menggunakan indikator Phenolptalein
2. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH menggunakan
indikator Phenolptalein
3. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH menggunakan
indikator ekstrak bunga sepatu
V. TINJAUAN PUSTAKA :
Kesetimbangan asam-basa merupakan suatu optik yang sangat penting
dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti
biologi, kedokteran, dan pertanian. Titrasi yang melibatkan asam dan basa
dipergunakan secara luas dalam pengendalian analitik banyak produk komersial
dan penguraian asam-basa mempunyai pengaruh yang penting atas proses
metabolisme dalam sel hidup.
Titrasi adalah pengukuran suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhkan
untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan tertentu lainnya. Titrasi asam
basa adalah reaksi penetralan. Jika larutan bakunya asam disebut asidimetri. Jika
larutan bakunya adalah basa disebut alkalimetri tritrasi bertujuan untuk
menentukan banyaknya suatu larutan dengan sejumlah larutan yang dianalisis
atau ingin diketahui kadar kosentrasinya. Larutan ini disebut sebagai titran
biasanya diletakkan didalam labu erlemenmeyer sedangkan zat yang telah
diketahui kosentrasinya disebut titrat/titer

Titrasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengetahui atau


menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui
kosentrasinya. Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan metode analisis
kimia yang cepat dan akurat serta sering digunakan. Titrasi dilakukan dengan
cara menambahykan sejumlah volume tertentu larutan standar yang sudah
diketahui kosentrasinya yang diperlukan untuk bereaksi secara sempurna dengan
larutan yang belum diketahui kosentrasinya. Untuk mengetahui bahwa reaksi

~1~
Titrasi Asam Basa

berlangsung sempurna, maka digunakan larutan indikator yang ditambahkan


kedalam larutan yang ditrasi.

Titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat dalam proses,


yaitu :

a. Titrasi asam-basa
Prinsip dasar dari metode titrasi ini yaitu reaksi penetralan, yang terdiri
dari H+(asam)dan OH-(basa) kemudian menjadi H2O(netral)
b. Titrasi redoks (oksidimetri)
Prinsip dasar metode titrasi ini adalah reaksi reduksi dan oksidasi yang
terdiri dari O(oksidator) & R(reduktor)
c. Titrasi pengendapan
Prinsip dasar metode titrasi ini adalah pengendapan, yang terdiri dari
kation & anion yang membentuk endapan
d. Titrasi pengompleksan
Prinsip dasar dari metode titrasi ini yaitu reaksi akseptor(donor) . Donor
pasangan yang terdiri dari ion logam dan ligan

Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa:


a. Titrasi Asam Kuat oleh Basa Kuat

~2~
Titrasi Asam Basa

Titik ekivalen titrasi adalah titik dimana titran ditambahkan tepat


bereaksi dengan seluruh zat yang dititrasi tanpa adanya titran yang tersisa.
Dengan kata lain, pada titik ekivalen jumlah mol titran setara dengan jumlah
mol titrat menurut stoikiometri. Pada gambar di atas, awalnya pH naik
sedikit demi sedikit. Hal ini dikarenakan skala naiknya pH bersifat
logaritmik, yang berarti pH 1 mempunyai keasaman 10 kali lipat daripada
pH 2. Ingat bahwa log 10 adalah 1. Dengan demikian, konsentrasi ion
hidronium pada pH 1 adalah 10 kali lipat konsentrasi ion hidronium pada
pH 2. Kemudian naik tajam di dekat titik ekivalen. Pada titik ini, ion
hidronium yang tersisa tinggal sedikit, dan hanya membutuhkan sedikit ion
hidroksida untuk menaikkan pH.

b. Titrasi Asam Kuat oleh Basa Lemah

Kurva titrasi asam kuat dan basa lemah di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Asam kuat mempunyai pH yang rendahi pada awalnya.
2. pH naik perlahan saat permulaan, namun cepat saat mendekati titik
ekivalen.
3. pH titik ekivalen tidak tepat 7.
Titik ekivalen untuk asam kuat dan basa lemah mempunyai pH kurang dari 7.

~3~
Titrasi Asam Basa

c. Titrasi asam lemah oleh basa kuat

Kurva titrasi asam lemah dan basa kuat di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Asam lemah mempunyai pH yang rendah pada awalnya.
2. pH naik lebih cepat pada awalnya, tetapi kurang cepat saat
mendekati titik ekivalen.
3. pH titik ekivalen tidak tepat 7.

pH yang dihasilkan oleh titrasi asam lemah dan basa kuat lebih dari 7.
Pada titrasi asam lemah dan basa kuat, pH akan berubah agak cepat pada
awalnya, naik sedikit demi sedikit sampai mendekati titik ekivalen.
Kenaikan sedikit demi sedikit ini adalah karena larutan buffer
(penyangga) yang dihasilkan oleh penambahan basa kuat. Sifat
penyangga ini mempertahankan pH sampai basa yang ditambahkan
berlebihan. Dan kemudian pH naik lebih cepat saat titik ekivalen.

~4~
Titrasi Asam Basa

d. Titrasi asam lemah oleh basa lemah

Asam lemah dan basa lemah pada gambar di atas tidak


menghasilkan kurva yang tajam, bahkan seperti tidak beraturan. Dalam
kurva titrasi asam lemah dan basa lemah, ada sebuah titik infleksi yang
hampir serupa dengan titik ekivalen.

Prinsip titrasi asam basa

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai ataupun


titran. Titran ditambah titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan
ekuivalen yang artinya secara stoikiometri titran dari titer tepat habis
bereaksi, dalam hal ini biasanya ditandai dengan berubahnya warna
indikator keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”, yaitu dimana
konsentrasi asam sama dengan kosentrasi basa atau titik dimana jumlah
asam sama dengan jkumlah basa. Sehingga kita dapat memperoleh
perbandingan sebagai berikut :

Mol titran = mol liter

Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat


perubahan warna indikator disebut “titik akhir titrasi” titik akhir titrasi ini

~5~
Titrasi Asam Basa

mendekati titik ekuivalen, tetapi biasanya titik akhir titik melewati titik
ekuivalennya, dalam titrasi biasanya titran telah dapat diketahui. Dan untuk
menghitung konsentrasi titer dapat dihitung dengan persamaan berikut :

na.Ma.Va = nb.Mb.Vb

na = Koefisien asam (valensi)

Ma = Molaritas asam

Va = Volume asam

nb = Koefisien basa (valensi)

Mb = Molaritas basa

Vb = Volume basa

Titik Akhir Titrasi

Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan


dengan sempurna yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui
perubahan warna indikator. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa
adalah asam lemah atau basa lemah. Asam lemah dan basa lemah ini
umumnya senyawa organik yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi
yang mengkontribusi perubahan warna pada indikator tersebut. Jumlah
indikator yang ditambahkan kedalam larutan yang akan dititrasi harus
sesedikit mungkin, sehingga indikator tidak mempengaruhi pH larutan
dengan demikian jumlah titran yang diperlukan untuk terjadi perubahan
warna juga seminimal mungkin. Umumnya dua atau tiga tetes larutan
indikator 0.1%(b/v) diperlukan untuk keperluan titrasi.

Titik ekivalen

Titik ekivalen titrasi adalah titik dimana titran ditambahkan tepat


bereaksi dengan seluruh zat yang dititrasi tanpa adanya titran yang tersisa.
Dengan kata lain, pada titik ekivalen jumlah mol titran setara dengan
jumlah mol titrat menurut stoikiometri.

~6~
Titrasi Asam Basa

Ada dua macam cara untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi
asam basa yaitu :

a. Memakai PH meter untuk memonitor perubahan PH selama titrasi


dilakukan. Kemudian membuatplot antara PH dengan volum titran
untuk memperoleh kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”
b. Memakai indikator asam dan basa indikator ditambahkan pada titran
sebelum proses titrasi dilakukan indikator ini akan berubah warna ketika
titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan.
c. Memakai indikator Alami

Senyawa alam banyak yang digunakan sebagai indikator asam basa


alami. Beberapa tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai bahan
pembuatan indikator asam basa alami antara lain adalah kubis ungu,
sirih, kunyit, dan bunga yang mempunyai warna (anggrek, kamboja
jepang, bunga sepatu, asoka, bunga kertas). Cara membuat indikator
asam basa alami adalah:

A. Menumbuk bagian bunga yang berwarna pada mortar.


B. Menambahkan sedikit akuades pada hasil tumbukan
sehingga didapatkan ekstrak cair.
C. Ekstrak diambil dengan pipet tetes dan diteteskan dalam
keramik.
D. Menguji dengan meneteskan larutan asam dan basa pada
ekstrak, sehingga ekstrak dapat berubah warna

Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan


pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang
perubahan warnanya dipengaruhi oleh PH. Indikator ini harus berubah
warna pada saat titik ekuvalen tercapai. Indikator asam basa adalah
petunjuk tentang perubahan PH dari suatu larutan asam atau basa.
Indikator bekerja berdasarkan perubahan warna indikator pada
perubahan rentang PH tertentu. Terdapat beberapa indikator yang

~7~
Titrasi Asam Basa

memiliki trayek perubahan warna cukup akurat akibat PH larutan


berubah, seperti indikator metil jingga, metil merah, fenolflalein, dan
bromtimol biru. Sebagai contoh fenolflalein memiliki trayek PH
rentang 8,0 - 9,6, sehingga memiliki warna antara tidak berwarna –
warna merah.

Uji Coba Ekstrak Mahkota Bunga Sepatu Sebagai Indikator


a. Titrasi basa kuat dengan asam kuat.
Diukur sebanyak 45 mL larutan NaOH yang sudah distandarisasi,
lalu dimasukkan dalam erlenmeyer, kemudian ditambah beberapa tetes
indikator ekstrak mahkota bunga sepatu sampai larutan berwarna hijau
muda, selanjutnya dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N sampai terjadi
perubahan warna. Titrasi dilakukan 3 kali dan dicatat volume larutan
HCl 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi. Indikator fenolftalein
merupakan indikator titrasi asam-basa memiliki jangkauan pH 8,0-9,6
(Day dan Underwood, 1998), indikator ini digunakan sebagai
pembanding. Dilakukan penelitian yang sama dengan menggantikan
indikator ekstrak bunga sepatu dengan indikator pembanding
fenolftalein.
b. Titrasi basa lemah dengan asam kuat.
Diukur sebanyak 45 mL NaHCO3, dimasukkan dalam erlenmeyer
kemudian ditambah beberapa tetes indikator dari ekstrak mahkota
bunga sepatu sampai larutan berwarna hijau muda, kemudian dititrasi
dengan larutan HCl 0,1 N yang sudah distandarisasi. Penambahan HCl
0,1 N sampai terjadi perubahan warna.Titrasi dilakukan 3 kali dan
dicatat volume larutan HCl 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi.
Menurut Day dan Underwood (1998) indikator metil oranye
mempunyai jangkauan pH 3,1-4,4 merupakan indikator titrasi basa
lemah-asam kuat, sehingga indikator tersebut dipakai sebagai
pembanding. Dalam penelitian ini dikerjakan titrasi yang sama dengan
menggunakan indikator metil oranye sebagai pembanding.

~8~
Titrasi Asam Basa

c. Titrasi asam lemah dengan basa kuat.


Diukur sebanyak 45 mL larutan asam asetat (CH3COOH),
dimasukkan dalam erlenmeyer kemudian ditambah beberapa tetes
indikator ekstrak bunga sepatu sampai larutan berwarna merah muda,
lalu dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N yang sudah distandarisasi.
Penambahan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna. Titrasi
dilakukan 3 kali dan dicatat volume larutan HCl 0,1 N yang diperlukan
untuk titrasi. Dalam penelitian ini dikerjakan titrasi yang sama dengan
menggunakan indikator fenolftalen sebagai pembanding.

Selain indikator, didalam proses titrasi kita juga menyebut istilah larutan
baku. Larutan baku adalah larutan yang suatu zat terlarutnya telah diketahui
kosentrasinya. Terdapat 3 macam larutan baku yaitu :

- Larutan baku primer adalah larutan yang telah diketahui secara tepat
kosentrasinya melalui metode gravimetrik atau melalui perhitungan.
- Larutan baku sekunder adalah larutan yang kosentrasinya diperoleh
dengan cara melakukan titrasi dengan larutan baku primer.
- Larutan baku tersier adalah larutan yang kosentrasinya diperoleh
dengan cara melakukan titrasi dengan larutan baku sekunder.

Pembuatan atau penyediaan pereaksi atau larutan baku berkaitan dengan


titimetrik. Titimetri diterapkan untuk memperoleh pereaksi atau larutan
yang kosentrasinya tidak dapat dipastikan secara langsung dari zat padatnya
atau dengan kata lain dapat diketahui melalui proses pembatuan.

~9~
Titrasi Asam Basa

Beberapa indikator asam-basa

Indikator asam basa akan memiliki warna yang berbeda dalam


keadaan tak terionisasi dengan keadaan terionisasi. Sebagai contoh untuk
indikator phenolphthalein (pp) seperti diatas dalam keadaan tidak terionisasi
(dalam larutan asam) tidak akan berwarna (colorless) dan akan berwarna
merah keunguan dalam keadaan terionisasi ( dalam larutan basa).

VI. ALAT DAN BAHAN :


A. Alat :
1. Statif dan klem 1 set
2. Buret 100 ml 1 buah
3. Labu Erlenmeyer 3 buah
4. Pipet gondok 250 ml semprot 1 buah
5. Pipet tetes 2 buah
6. Lumpang dan alu 1 set
7. Pisau ` 1 buah
8. Gelas ukur 1 buah
9. Gelas kimia 2 buah
10. Corong 1 buah

~ 10 ~
Titrasi Asam Basa

B. Bahan :
1. NaOH
2. C2H2O4 0,05 M
3. HCl
4. Phenolptalein
5. Aquades
6. Ekstrak tumbuhan Bunga Sepatu
7. Etanol

~ 11 ~
Titrasi Asam Basa

VII. ALUR KERJA :


1. Percobaan 1 :
Menentukan M larutan NaOH dengan larutan C2H2O4 0,1M (indikator
Phenolptalein )

Larutan NaOH 10 ml larutan


C2H2O4 0,05 M

Dimasukkan ke dalam buret Diambil 10ml


sampai tepat skala nol. dengan pipet gondok

Dibersihkan sisa larutan yang Dimasukkan ke labu


menempel pada buret. erlenmeyar

Dicatat keadaan skala awal Ditambah 4 tetes


pada buret indikator PP

Larutan NaOH Ditetesi sedikit demi sedikit 10 ml larutan C2H2O4 0,05 M

Larutan berubah warna menjadi


merah muda

~ 12 ~
Titrasi Asam Basa

2. Percobaan 2 :
Menentukan M larutan HCl dengan larutan NaOH (Indikator phenolptalein )

Larutan NaOH 10 ml larutan HCl

Dimasukkan ke dalam buret Diambil 10ml


sampai tepat skala nol. dengan pipet gondok

Dibersihkan sisa larutan yang Dimasukkan ke labu


menempel pada buret. erlenmeyar

Dicatat keadaan skala awal Ditambah 4 tetes


pada buret indikator PP
Ditetesi sedikit demi sedikit
Larutan NaOH 10 ml larutan HCl

Larutan berubah warna menjadi


merah muda

3. Percobaan 3 :
Menentukan M larutan HCl dengan larutan NaOH
(Indikator ekstrak bunga sepatu )

Larutan NaOH 10 ml larutan HCl

Dimasukkan ke dalam buret Diambil 10ml


sampai tepat skala nol. dengan pipet gondok

Dibersihkan sisa larutan yang Dimasukkan ke labu


menempel pada buret. erlenmeyar

Dicatat keadaan skala awal Ditambah 4 tetes


indikator ekstrak
pada buret
bunga sepatu

Larutan NaOH Ditetesi sedikit demi sedikit 10 ml larutan HCl

Larutan berubah warna menjadi


hijau muda

~ 13 ~
Titrasi Asam Basa

NO.Perc. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan


1. Menentukan M larutan NaOH dengan larutan C2H2O4 Sebelum: 1) Perubahan Didapatkan
0,05M (indikator Phenolptalein )  Larutan NaOH tidak warna larutan konsentrasi NaOH
berwarna berubah yaitu sebesar 0,135 M,
Larutan 10 ml larutan C2H2O4
NaOH 0,05 M  Larutan C2 H2 O4 dari tidak larutan yang pada
tidak berwarna berwarna awalnya tidak
Dimasukkan ke dalam Diambil 10ml
buret sampai tepat skala dengan pipet menjadi merah berwarna berubah
nol. gondok
Sesudah: muda. menjadi merah
Dibersihkan sisa larutan yang Dimasukkan ke
labu erlenmeyar  Pengulangan 1 muda pudar.
menempel pada buret.
V NaOH = 7,5 ml Reaksi :
Dicatat keadaan skala Ditambah 4 tetes Larutan berwarna merah 2NaOH(aq) +
awal pada buret indikator PP
muda (++) C2 H2 O4(aq)
Larutan Ditetesi sedikit
10 ml larutan C2H2O4  Pengulangan 2 → Na2C2O4(aq)
NaOH demi sedikit 0,05 M
V NaOH = 7,5 ml + 2H2O(l)
Larutan berwarna merah
Larutan berubah warna
menjadi merah muda muda (+)

~ 14 ~
Titrasi Asam Basa

 Pengulangan 3
V NaOH = 7,5 ml
Larutan berwarna
merah muda (+)
2 Menentukan M larutan HCl dengan larutan NaOH Sebelum: 2.) Perubahan Didapatkan hasil
(Indikator phenolptalein )  Larutan NaOH tidak warna larutan data konsentrasi
Larutan 10 ml larutan
berwarna berubah yaitu dari HCl sebesar
NaOH HCl  Larutan HCl tidak tidak berwarna 0,048M.
berwarna menjadi warna Kesimpulan
Dimasukkan ke dalam Diambil 10ml
buret sampai tepat skala dengan pipet merah muda selanjutnya
nol. gondok
Sesudah: didapatkan
Dibersihkan sisa
larutan yang menempel
Dimasukkan ke  Pengulangan 1 Reaksi : perubahan dari
labu erlenmeyar
pada buret. V NaOH = 3,6 ml HCl(aq) + tidak berwarna
Dicatat keadaan skala Ditambah 4 Larutan berwarna merah NaOH(aq) → menjadi warna
awal pada buret tetes indikator
PP
muda (+) NaCl + H2O(l) merah muda
 Pengulangan 2 pudar.
Larutan 10 ml larutan HCl
NaOH V NaOH = 3,4 ml

Larutan berubah warna menjadi merah Larutan berwarna merah


muda muda (++)

~ 15 ~
Titrasi Asam Basa

 Pengulangan 3
V NaOH = 3,7 ml
Larutan berwarna merah
muda (+)

3. Menentukan M larutan HCl dengan larutan NaOH Sebelum: 3.) Perubahan Didapatkan hasil
(Indikator ekstrak bunga sepatu  Larutan NaOH tidak warna larutan data konsentrasi
Larutan 10 ml larutan berwarna HCl setelah HCl sebesar
NaOH HCl
 Larutan HCl tidak dititrasi berubah 0,048M dan

Dimasukkan ke dalam Diambil 10ml berwarna yaitu dari tidak larutan HCl
buret sampai tepat dengan pipet  Indikator ekstrak berwarna menjadi setelah titrasi
skala nol. gondok
bunga sepatu warna hijau berubah warna
Dibersihkan sisa larutan yang Dimasukkan ke
menempel pada buret. labu erlenmeyar berwarna jingga muda. menjadi hijau
muda pudar.
Dicatat keadaan skala Ditambah 4
tetes indikator
Sesudah: Reaksi :
awal pada buret
ekstrak bunga Larutan HCl yang semula HCl(aq) +
sepatu
tidak berwarna setelah NaOH(aq) →
Larutan
10 ml larutan HCl
NaOH ditetesi indikator ekstrak NaCl + H2O(l)
Larutan berubah warna menjadi hijau muda bunga sepatu menjadi
warna jingga

~ 16 ~
Titrasi Asam Basa

Hasil Setelah Titrasi :


 Pengulangan 1
V NaOH = 3,6 ml
Larutan berwarna hijau
muda pudar (++)
 Pengulangan 2
V NaOH = 3,5 ml
Larutan berwarna hijau
muda pudar (+)
 Pengulangan 3
V NaOH = 3,6 ml
Larutan berwarna hijau
muda pudar (+)

VIII. HASIL PENGAMATAN:

~ 17 ~
Titrasi Asam Basa

IX. ANALISIS DATA

Pada percobaan pertama bertujuan untuk konsentrasi larutan NaOH dengan


larutan baku C2H2O4 menggunakan indikator Phenolptalein. Pertama-tama
menyiapkan larutan NaOH yang kemudian dimasukkan ke dalam buret hingga tepat
pada skala nol, kemudian siapkan larutan C2H2O4 sebanyak 10 ml 0,05 M diambil
dengan menggunakan pipet gondok yang kemudian dituangkan kedalam labu
erlenmeyer. Kemudian 10 ml larutan C2H2O4 yang sudah dimasukkan dalam labu
Erlenmeyer ditambahkan 4 tetes indikator PP. Langkah selanjutnya lalu dilakukan
proses titrasi dengan cara ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah disediakan
dalam buret setetes demi setetes sampai mencapai titik akhir titrasi yaitu titik
dimana sudah terjadi perubahan warna menjadi merah muda dan proses titrasi
dihentikan. Percobaan pertama dilakukan hingga tiga kali pengulangan, kemudian
didapatkan hasil percobaan:
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna merah muda pudar (++), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
7,5 ml.
 Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna merah pudar (+)
dan volume NaOH yang digunakan sebesar 7,4 ml.
 Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi
merah muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 7,3 ml.

Sehingga dari masing-masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau


molaritas dari larutan NaOH melaui perhitungan dibawah ini:

a) Pengulangan pertama
V NaOH = 7,5 ml
MNaOH x VNaOH x a = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
MNaOH = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
VNaOH x a
MNaOH = 0,05 x 10 x 2
7,5 x 1
MNaOH = 0,133 M

~ 18 ~
Titrasi Asam Basa

b) Pengulangan kedua
V NaOH = 7,4 ml
MNaOH x VNaOH x a = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
MNaOH = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
VNaOH x a
MNaOH = 0,05 x 10 x 2
7,4 x 1
MNaOH = 0,135 M
c) Pengulangan ketiga
V NaOH = 7,3 ml
MNaOH x VNaOH x a = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
MNaOH = MC2H2O4 x VC2H2O4 x b
VNaOH x a
MNaOH = 0,05 x 10 x 2
7,3 x 1
MNaOH = 0,136 M

Pada percobaan pertama titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai


berikut : C2H2O4(aq) + NaOH(aq) → Na2C2O4(aq) + 2H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan NaOH rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
MNaOH = MNaOHpertama + MNaOHkedua + MNaOHketiga
Jumlah pengulangan

MNaOH = 0,133 M + 0,135 M + 0,136 M


3

MNaOH = 0,135 M

Pada percobaan kedua bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan HCl


dengan larutan NaOH menggunakan indikator Phenolptalein atau PP. Pada tahap
awal larutan HCl diukur sebanyak 10 ml kemudian diletakkan didalam labu
erlenmeyer lalu ditambahkan 4 tetes indikator PP. Langkah selanjutnya adalah
menyiapakan larutan NaOH yang dituangkan pada buret, diukur hingga tepat skala

~ 19 ~
Titrasi Asam Basa

nol. Lalu larutan HCl dalam Erlenmeyer ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah
disediakan dalam buret setetes demi setetes sampai ekuivalen atau habis bereaksi,
kemudian dicatat volume NaOH yang terpakai.
Percobaan kedua dilakukan hingga tiga kali pengulangan, kemudian
didapatkan hasil percobaan :
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna merah muda pudar (+), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
3,6 ml.
 Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna merah pudar (++)
dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,4 ml.
 Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi
merah muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,7 ml.

Sehingga dari masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau molaritas dari
larutan NaOH melaui perhitungan dibawah ini:
a) Pengulangan pertama
V HCl = 3,6 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,6 x 1
10 x 1
MHCl = 0,049 M
b) Pengulangan kedua
V HCl = 3,4 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,4 x 1
10 x 1
MHCl = 0,046 M

~ 20 ~
Titrasi Asam Basa

c) Pengulangan ketiga
V HCl = 3,7 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,7 x 1
10 x 1
MHCl = 0,050 M

Pada percobaan kedua titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai


berikut : NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl (aq) + H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan HCl rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
MHCl = MHClpertama + MHClkedua + MHClketiga
Jumlah pengulangan

MHCl = 0,049 M + 0,046 M + 0,050 M


3

MHCl = 0,048 M

Pada percobaan ketiga bertujuan untuk Menentukan konsentrasi larutan HCl


dengan larutan NaOH menggunakan indikator alami ekstrak tumbuhan bunga
sepatu. Pada tahap awal adalah membuat ekstrak tumbuhan bunga dengan cara
mahkota bunga sepatu bunga sepatu merah digerus dalam lumping atau portal alu,
kemudian ditambah sedikit aquades atau etanol. Selanjutnya ambil ekstrak bunga
sepatu dengan pipet tetes. Pada tahap selanjutnya larutan HCl diukur sebanyak 10
ml kemudian diletakkan didalam labu erlenmeyer lalu ditambahkan 4 tetes
indikator alami ekstrak bunga sepatu. Warna larutan HCl yang semula tidak
berwarna setelah ditetesi indikator berubah menjadi warna jingga. Langkah
selanjutnya adalah menyiapkan larutan NaOH yang dituangkan pada buret, diukur
hingga tepat skala nol. Lalu larutan HCl dalam Erlenmeyer ditetesi dengan larutan
NaOH yang sudah disediakan dalam buret setetes demi setetes sampai ekuivalen
atau habis bereaksi, kemudian dicatat volume NaOH yang terpakai.

~ 21 ~
Titrasi Asam Basa

Percobaan ketiga dilakukan hingga tiga kali pengulangan, kemudian


didapatkan hasil percobaan :
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna hijau muda pudar (++), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
3,6 ml.
 Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna hijau pudar (+)
dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,5 ml.
 Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi
hijau muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,6 ml.

Sehingga dari masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau molaritas dari
larutan NaOH melaui perhitungan dibawah ini:
a) Pengulangan pertama
V HCl = 3,6 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,6 x 1
10 x 1
MHCl = 0,049 M
b) Pengulangan kedua
V HCl = 3,5 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,5 x 1
10 x 1
MHCl = 0,047 M
c) Pengulangan ketiga
V HCl = 3,6 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b

~ 22 ~
Titrasi Asam Basa

MHCl = MNaOH x VNaOH x b


VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,6 x 1
10 x 1
MHCl = 0,049 M

Pada percobaan kedua titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai


berikut : NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl (aq) + H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan HCl rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
MHCl = MHClpertama + MHClkedua + MHClketiga
Jumlah pengulangan

MHCl = 0,049 M + 0,047 M + 0,049 M


3

MHCl = 0,048 M

X. PEMBAHASAN :

Titrasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengetahui atau


menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui
kosentrasinya. Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan metode analisis kimia
yang cepat dan akurat serta sering digunakan. Titrasi dilakukan dengan cara
menambahkan sejumlah volume tertentu larutan standar yang sudah diketahui
kosentrasinya yang diperlukan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan yang
belum diketahui kosentrasinya.
Pada percobaan pertama bertujuan untuk konsentrasi larutan NaOH dengan
larutan baku C2H2O4 menggunakan indikator Phenolptalein. Larutan C2H2O4 pada
saat titrasi belum dilakukan adalah tidak berwarna, Larutan NaOH juga tidak
berwana, dan indikator phenolptalein atau PP memiliki ciri tidak berwarna, ketika
percobaan titrasi dimulai, jika indikator ini dikombinasikan dengan bahan kimia
yang memiliki pH, atau tingkat keasaman, sekitar 8 atau kurang, biasanya laturan
tetap berwarna bening. Jika indikator dicampur dengan zat yang memiliki tingkat

~ 23 ~
Titrasi Asam Basa

keasaman sekitar 8 sampai 10, warna akan berubah menjadi merah muda atau pink.
Jika kadar asam suatu zat melebihi pH 10, larutan fenolftalein akan berubah
menjadi ungu. Larutan NaOH yang dimasukkan kedalam buret diatur hingga tepat
pada skala nol bertujuan untuk memudahkan pengamat dalam mengamati volume
NaOH yang terpakai saat proses titrasi, kemudian larutan C2H2O4 sebanyak 10 ml
0,05 M diambil dengan menggunakan pipet gondok yang kemudian dituangkan
kedalam labu Erlenmeyer ditambahkan 4 tetes indikator PP. Indikator PP diberikan
pada saat titrasi akan dilakukan karena sifat dari indikator PP sendiri adalah volatile
atau zat yang mudah menguap oleh karena itu, larutan HCl ditetesi PP jika sudah
siap untuk dilakukan titrasi. Langkah selanjutnya lalu dilakukan proses titrasi
dengan cara ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah disediakan dalam buret
setetes demi setetes bertujuan agar proses titrasi benar-benar mendapat hasil yang
akurat, karena perubahan warna awal menjadi merah muda pudar itulah titrasi
mencapai titik akhir titrasi yaitu titik dimana sudah terjadi perubahan warna
menjadi merah muda dan proses titrasi dihentikan. Percobaan pertama dilakukan
hingga tiga kali pengulangan, kemudian didapatkan hasil percobaan:
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna merah muda pudar (++), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
7,5 ml.
 Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna merah pudar (+)
dan volume NaOH yang digunakan sebesar 7,4ml.
 Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi
merah muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 7,3 ml.

Sehingga dari masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau molaritas dari
larutan NaOH melalui table hasil perhitungan seperti berikut ini:
Pengulangan Volume Molaritas Volume Molaritas
ke- C2H2O4 C2H2O4 NaOH NaOH
1 7,5 ml 0,133 M
2 10 ml 0,05 M 7,4 ml 0,135 M
3 7,3 ml 0,136 M
Rata -rata 10 ml 0,05 M 7,4 ml 0,135 M

~ 24 ~
Titrasi Asam Basa

Pada percobaan pertama titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai


berikut : C2H2O4(aq) + NaOH(aq) → Na2C2O4(aq) + 2H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan NaOH rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
sebesar 0,135 M.

Pada percobaan kedua bertujuan untuk Menentukan konsentrasi larutan HCl


dengan larutan NaOH menggunakan indikator Phenolptalein. Larutan HCl
merupakan larutan asam kuat dan karakteristik pada saat titrasi belum dilakukan
adalah tidak berwarna, Larutan NaOH merupakan larutan basa kuat dan pada saat
proses titrasi belum dimulai larutan ini tidak berwana, dan indikator phenolptalein
atau PP memiliki ciri tidak berwarna, ketika percobaan titrasi dimulai, jika indikator
ini dikombinasikan dengan bahan kimia yang memiliki pH, atau tingkat keasaman,
sekitar 8,3 atau kurang, biasanya laturan tetap berwarna bening. Jika indikator
dicampur dengan zat yang memiliki tingkat keasaman sekitar 8,3 sampai 10, warna
akan berubah menjadi merah atau pink. Jika kadar asam suatu zat melebihi pH 10,
larutan fenolftalein akan berubah menjadi merah. Pada tahap awal larutan HCl
diukur sebanyak 10 ml kemudian diletakkan didalam labu erlenmeyer lalu
ditambahkan 4 tetes indikator PP. Indikator PP diberikan pada saat titrasi akan
dilakukan karena sifat dari indikator PP sendiri adalah volatile atau zat yang mudah
menguap oleh karena itu, larutan HCl ditetesi PP jika sudah siap untuk dilakukan
titrasi. Langkah selanjutnya adalah menyiapakan larutan NaOH yang dituangkan
pada buret, diukur hingga tepat skala nol bertujuan untuk memudahkan pengamat
dalam mengamati volume NaOH yang terpakai saat proses titrasi dilakukam. Lalu
larutan HCl dalam Erlenmeyer ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah
disediakan dalam buret setetes demi setetes bertujuan agar proses titrasi benar-
benar mendapat hasil yang akurat, karena perubahan warna awal menjadi merah
muda pudar itulah titrasi mencapai titik akhir titrasi yaitu titik dimana sudah terjadi
perubahan warna menjadi merah muda dan proses titrasi dihentikan, kemudian
dicatat volume NaOH yang terpakai. Titik ekuivalen dapat diketahui dengan
bantuan larutan PP ,kisaran warna yaitu tidak berwarna sampai merah muda, yakni
apabila tak berwarna berarti sifatnya asam dan jika berwarna merah muda berarti
basa. Jika larutan sudah ekuivalen maka, larutan akan mengalami perubahan warna

~ 25 ~
Titrasi Asam Basa

paling awal, dan warnanya sangat muda dan cerah saat itulah titrasi dihentikan. Saat
larutan menunjukkan perubahan warna paling awal itulah yang disebut titik akhir
titrasi.
Percobaan kedua dilakukan hingga tiga kali pengulangan, kemudian
didapatkan hasil percobaan :
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna merah muda pudar (+), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
3,6 ml.
 Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna merah pudar (++)
dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,4ml.
 Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi
merah muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,7 ml.

Sehingga dari masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau molaritas dari
larutan NaOH melaui tabel perhitungan dibawah ini:
Pengulangan Volume Molaritas Volume Molaritas
ke- HCl NaOH NaOH HCl
1 3,60 ml 0,049 M
2 10 ml 0,135 M 3,40 ml 0,046 M
3 3,70 ml 0,050 M
Rata -rata 10 ml 0,135 M 3,56 ml 0,048 M
Pada percobaan kedua titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai
berikut : NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl (aq) + H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan HCl rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
sebesar 0,048 M.

Pada percobaan ketiga bertujuan untuk Menentukan konsentrasi larutan HCl


dengan larutan NaOH menggunakan indikator ekstrak tumbuhan bunga sepatu.
Larutan HCl merupakan larutan yang bersifat asam kuat dan tidak berwarna,
Larutan NaOH merupakan larutan yang bersifat basa kuat dan tidak berwarna.
Indikator ekstrak tumbuhan bunga sepatu memiliki karakteristik, ketika didalam
larutan asam akan memberikan warna merah, di dalam larutan basa akan

~ 26 ~
Titrasi Asam Basa

memberikan warna hijau dan pada larutan netral tidak berwarna. Pada tahap awal
adalah membuat ekstrak tumbuhan bunga dengan cara mahkota bunga sepatu bunga
sepatu merah digerus dalam lumping atau portal alu, kemudian ditambah sedikit
aquades atau etanol bertujuan untuk memperoleh ekstrak yang akan digunakan
sebagai indikator alami. Selanjutnya ambil ekstrak bunga sepatu dengan pipet tetes.
Cara pengujiannya dengan meneteskan ekstrak bunga sepatu ini ke dalam labu
Erlenmeyer yang sebelumnya sudah diisi dengan larutan HCl sebanyak 10 ml,
indikator alami ini diteteskan sebanyak 4 tetes. Warna larutan HCl yang semula
tidak berwarna setelah ditetesi indikator berubah menjadi warna jingga. Langkah
selanjutnya adalah menyipakan larutan NaOH yang dituangkan pada buret, diukur
hingga tepat skala nol. Lalu larutan HCl dalam Erlenmeyer ditetesi dengan larutan
NaOH yang sudah disediakan dalam buret setetes demi setetes sampai ekuivalen
atau habis bereaksi, kemudian dicatat volume NaOH yang terpakai. Percobaan ini
dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Titik ekuivalen dapat diketahui dengan
bantuan indikator,kisaran warna ketika didalam larutan asam akan memberikan
warna merah, di dalam larutan basa akan memberikan warna hijau dan pada larutan
netral tidak berwarna. Jika larutan sudah ekuivalen maka, larutan akan mengalami
perubahan warna paling awal, dan warnanya sangat muda dan cerah saat itulah
titrasi dihentikan. Saat larutan menunjukkan perubahan warna paling awal itulah
yang disebut titik akhir titrasi.
Percobaan ketiga dilakukan hingga tiga kali pengulangan, kemudian
didapatkan hasil percobaan :
 Pada pengulangan pertama terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi
warna hijau muda pudar (++), volume NaOH yang digunakan yaitu sebanyak
3,6 ml.
Pada Pengulangan kedua larutan juga berubah menjadi warna hijau pudar (+) dan
volume NaOH yang digunakan sebesar 3,5ml.
Dan pada pengulangan ketiga didapatkan perubahan warna larutan menjadi hijau
muda pudar (+) dan volume NaOH yang digunakan sebesar 3,6 ml.

Sehingga dari masing pengulangan dapat diketahui konsentrasi atau molaritas dari
larutan NaOH melaui perhitungan dibawah ini:

~ 27 ~
Titrasi Asam Basa

a) Pengulangan pertama
V HCl = 3,6 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,6 x 1
10 x 1
MHCl = 0,049 M
b) Pengulangan kedua
V HCl = 3,5 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,5 x 1
10 x 1
MHCl = 0,047 M
c) Pengulangan ketiga
V HCl = 3,6 ml
MHCl x VHCl x a = MNaOH x VNaOH x b
MHCl = MNaOH x VNaOH x b
VHCl x a
MHCl = 0,135 x 3,6 x 1
10 x 1
MHCl = 0,049 M

Pengulangan Volume Molaritas Volume Molaritas


ke- HCl NaOH NaOH HCl
1 3,60 ml 0,049 M
2 10 ml 0,135 M 3,40 ml 0,046 M
3 3,60 ml 0,049 M
Rata -rata 10 ml 0,135 M 3,56 ml 0,048 M

~ 28 ~
Titrasi Asam Basa

Pada percobaan ketiga titrasi dapat ditulis bentuk reaksinya sebagai


berikut : NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl (aq) + H2O(l) , dari data perhitungan
didapatkan konsentrasi Larutan HCl rata-rata dari ketiga pengulangan adalah
sebesar 0,048 M.

XI. KESIMPULAN :

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

 Pada percobaan pertama menentukan konsentrasi larutan NaOH yang bersifat


basa kuat dengan menggunakan larutan C2H2O4 yang bersifat asam lemah
dengan menggunakan indikator phenolptalein didapatkan hasil titrasi saat
mencapai titik akhir titrasi terjadi perubahan warna menjadi merah muda pudar
dan konsentrasi rata-rata NaOH dari tiga pengulangan sebesar 0,135 M.
 Pada percobaan kedua menentukan konsentrasi larutan HCl yang bersifat asam
kuat dengan menggunakan larutan NaOH yang bersifat basa kuat dengan
menggunakan indikator phenolptalein didapatkan hasil titrasi saat mencapai
titik akhir titrasi terjadi perubahan warna menjadi merah muda pudar dan
konsentrasi rata-rata HCl dari tiga pengulangan sebesar 0,048 M.
 Pada percobaan ketiga menentukan konsentrasi larutan HCl yang bersifat asam
kuat dengan menggunakan larutan NaOH yang bersifat basa kuat dengan
menggunakan indikator alami dari ekstrak bunga sepatu didapatkan hasil titrasi
saat mencapai titik akhir titrasi terjadi perubahan warna menjadi hijau muda
pudar dan konsentrasi rata-rata HCl dari tiga pengulangan sebesar 0,048 M.
Maka dapat dikatakan bahwa ekstrak bunga sepatu cocok sebagai indikator
asam basa dalam proses titrasi.

~ 29 ~
Titrasi Asam Basa

XII. JAWABAN PERTANYAAN :


1. Mengapa pada titrasi larutan NaOH dengan asam oksalat menggunakan
indikator Phenolptalein?
Jawaban :
1.

Struktur molekul dari


indikator Phenolptalein

Phenolphthalein atau biasa disingkat sebagai PP adalah suatu


senyawa organik dengan rumus C20H14O4 dan biasa dipakai sebagai
indikator untuk titrasi asam basa. Tidak bewarna dalam larutan asam dan
berwarna fuksia (pink) bila dalam larutan basa. Fenolftalin tidak akan
berwarna (bening) dalam keadaan zat yang asam atau netral, namun akan
berwarna kemerahan dalam keadaan zat yang basa.Tepatnya pada titik pH
di bawah 8,3 fenolftalin tidak berwarna, namun jika mulai melewati 8,3
maka warna merah muda yang semakin kemerahan akan muncul. Semakin
basa maka warna yang ditimbulkan akan semakin merah keunguan.
Karena NaOH bersifat basa kuat dan asam oksalat merupakan asam
lemah sehingga larutan hasil titrasi yang akan didapat akan menunjukkan
pH diatas tujuh dan bersifat basa maka digunakan indikator PP yang
mempunyai rentang pH 8,3-10 cocol digunakan dalam proses titrasi dan
perubahan warna yang dimati dalam percobaan ini akan menjadi merah
muda.
Perubahan warna ini disebabkan oleh resonansi isomer elektron.
Setiap indikator asam-basa merupakan ion yang memiliki tetapan ionisasi
yang berbeda-beda. Ion ini memiliki sistem yang terkonjugasi yang dapat
menyerap gelombang warna tertentu dan meneruskan gelombang warna
lainnya. Gelombang warna yang diserap adalah bagian dari spektrum warna,

~ 30 ~
Titrasi Asam Basa

sehingga ion tersebut akan terlihat berwarna.Indikator, seperti telah tertulis


merupakan senyawa ion yang biasanya adalah asam lemah dan dapat
teionisasi dan membentuk kesetimbangan menjadi bentuk anionnya.
Warna indikator saat belum terionisasi dan setelah terionisasi akan berbeda.

2. Apa perbedaan titik ekivalen dengan titik akhir?


Jawaban :
Titik ekivalen titrasi adalah titik dimana titran ditambahkan tepat
bereaksi dengan seluruh zat yang dititrasi tanpa adanya titran yang tersisa.
Dengan kata lain, pada titik ekivalen jumlah mol titran setara dengan jumlah
mol titrat menurut stoikiometri.

Titik akhir titrasi adalah adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan
dengan sempurna yang ditandai dengan pengamatan visual melalui
perubahan warna pada indikator dan proses titrasi harus dihentikan.

3. Pada larutan di atas mana yang berfungsi sebagai larutan baku primer,
larutan baku sekunder dan larutan baku tersier?
Jawaban :
Larutan baku primer adalah larutan yang telah diketahui secara tepat
kosentrasinya melalui metode gravimetrik atau melalui perhitungan. Pada
percobaan diatas yang merupaka larutan baku primer adalah C2H2O4 (asam
oksalat).
Larutan baku sekunder adalah larutan yang kosentrasinya diperoleh
dengan cara melakukan titrasi dengan larutan baku primer. Pada percobaan
diatas yang merupakan larutan baku sekunder adalah NaOH.
Larutan baku tersier adalah larutan yang kosentrasinya diperoleh dengan
cara melakukan titrasi dengan larutan baku sekunder.Pada percobaan diatas
yang merupakan larutan baku tersier adalah HCl.

~ 31 ~
Titrasi Asam Basa

XIII. DAFTAR PUSTAKA :

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
Chang, Raymond.1996.Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 2.Diterjemahkan oleh

Suminar Achmadi.Jakarta: Erlangga.

Day, Jr RA. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga
Petrucci, H Ralph dan Suminar. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan
Modern Edisi Keempat Jilid 2. Bogor: Erlangga
Tim Kimia Dasar. 2015. Petunjuk Praktikum Kimia Umum. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya Press

Surabaya, 25 November 2015


Mengetahui
Dosen/ Asisten Pembimbing Praktikan,

(……………………………………………) (………………………………………..)

~ 32 ~
Titrasi Asam Basa

LAMPIRAN

Percobaan Keterangan Foto


Alat dan Bahan
1. Labu Erlenmeyer

2. Rangkaian alat
titrasi

Percobaan 1
Menentukan Konsentrasi
NaOH dengan menggunakan
3. Corong
asam oksalat

6. Pipet Gondok

~ 33 ~
Titrasi Asam Basa

5. Larutan C2H2O4

6. Larutan NaOH

7. Hasil Titrasi
Pengulangan 1

8. Hasil Titrasi
Pengulangan 2

~ 34 ~
Titrasi Asam Basa

9. Hasil Titrasi
Pengulangan 3

Percobaan 2 Menentuka Alat dan Bahan


konsentrasi HCl dengan 1. Labu Erlenmeyer
menggunakna NaOH dengan
indikator PP

2. Rangkaian alat
titrasi

3. Corong

~ 35 ~
Titrasi Asam Basa

6. Pipet Gondok

5. Larutan HCl

6. Larutan NaOH

7. Hasil Titrasi
Pengulangan 1

~ 36 ~
Titrasi Asam Basa

8. Hasil Titrasi
Pengulangan 2

9. Hasil Titrasi
Pengulangan 3

Percobaan 3 Menentuka Alat dan Bahan


konsentrasi HCl dengan 1. Labu Erlenmeyer
menggunakna NaOH dengan
indikator ekstrak bunga
sepatu
2. Rangkaian alat
titrasi

~ 37 ~
Titrasi Asam Basa

3. Corong

6. Pipet Gondok

5. Larutan HCl

6. Larutan NaOH

~ 38 ~
Titrasi Asam Basa

7. Hasil ekstrak bunga


sepatu

8. saat larutan HCL


ditetesi indikator
ekstrak bunga sepatu

9. Hasil setelah proses


titrasi

~ 39 ~
Titrasi Asam Basa

~ 40 ~