You are on page 1of 26

DASAR-DASAR PROSES PEMBELAJARAN KIMIA

PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR(konstrutivistik,humanistik)

Dosen Pengampu : Dra.M.Dwi Wiwik Ernawati M,Kes.

Drs.Fuldiaratman.M,Pd

Di susun oleh :

Kelompok : Lima Belas (15)

Heni Oktaviana RSA1C116010

Wahyu Akbar Irawan RSA1C116015

PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. Teori Belajar Konstrutivistik


Menurut kaum konstrutivisme,seperti yang diungkapkan Suparno (1997:61)belajar dalam
pengertian ini merupakan proses aktif proses aktif pelajar mengonstruksi
teks,dialog,pengalaman fisis,dan lain-lain.Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan
dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah
dipelajari seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan.
Kaitannya dengan pembelajaran,menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar
behwa peserta didik memperoleh pengetahuan karena keaktifan peserta didik peserta didik itu
sendiri.Teori ini merupakan peningkatan teori Piaget,Vigotsky,dan Brunner.Konsep
pembelajaran dari teori suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk
melakukan proses aktif membangun konsep,pengertian,dan pengetahuan baru berdasarkan
data.Oleh karena itu,pembelajaran harus dirancanag dan dikelola sedemikian rupasehingga
mampu mendorong peserta didikmengorganisasi pengalaman nya sendiri menjadi
pengetahuan yang bermakna “know”.
Teori konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan memiliki sifat-
sifat:nonobjektif,temporer,selalu berubah.Sementara itu belajar merupakan pemaknaan suatu
pengetahuan.Pemaknaan suatu pengetahuan tersebut terjadi secara individual pada diri
masing-masing orang.Oleh karena itu pembelajar dapat memiliki pemahaman yang berada
terhadap pengetahuan yang dipelajari.
Beberapa konsep penting yang disampaikan Piaget,yaitu sebagai berikut:
1. asimilasi,yaitu proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan
persepsi,konsep,atau pengalaman baru kedalam pola atau skema yang sudah ada
dalam pikirannya.
2. Akomodasi,yaitu proses kognitif dimana seseorang membentuk skema yang baru
atau mengubah skema yang yang lama yang disebabkan oleh perbedangan rangsangan
atau pengalaman baru kedalam skema yang dimiliki.
3. Skema,yaitu struktur mental seseorang dimana secara intelektual beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya,skema akan beradaptasi dan beerubah selama perkembagan
kognitif seseorang.
Piaget percaya bahwa semua manusia akan melalui perkembangan kognitif secara
Gradual(Sensori-Motorik,propersional,operasional konkret,dan operasional formal).Awalnya
Piaget meneliti bahwa proses kognitif anak-anak kecil pada dasarnya berbeda dengan orang
dewasa.Akhirnya Piaget menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi
umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya.Piaget membagi tahapan
perkembangan kognitif,yaitu sensori-motorik (0-2 tahun), praoperasional(2-7
tahun),operasional konkret(7-11 tahun),dan operasional formal(11-15 tahun).
Berikut tokoh-tokoh yang mengemukakan teori ta=entang teori konstrutivistik adalah
sebagai berikut:
1) Jean Piaget
Menurut Piaget proses belajar sebenarnya terdri atas tiga tahapan,yaitu:
1) Asimilasi :proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada.
2) Akomodasi:proses penyesuaian sturuktur kognitif ke dala situasi baru.
3) Equilibrasi:penyesuain yang berkesinambungan antara asimilasi sdan akomodasi.

Menurut Piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan tahap
kognitif yang dilalui siswa.proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap
satu dengan lainnya.yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka
semakin teratur dan juga semakin abstran cara berpikirnya.Oleh karena itu,guru seharusnya
memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan
isi,metode,media pembelajaran yang sesuai dengan tahapan nya.

Dalam hal ini dua orang yang mempunyai jumlah informasi yang sama otaknya
mungkin mempunyai kemampuan equilibrasi yang yang berbeda.Seseorang dengan
kemampuan equilibrasi berbeda.seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan
mampu “menata” berbagai informasi ini dalam urutan yang baik,jernih dan logis.Sedangkan
rekan nya ynag tidak memiliki keamampuan equilibrasi sebaik itu,akan cenderung
menimpan semua i9nformasi yang ada secar kurang tidur,karena itu orang ini juga
cenderung mempunyai alur berpikir yang ruwet,tidak logis dan bberbelit-belit.

Menurut Piaget,proses belajar harus sama dengan tahap perkembangan kognitif yang
dilalui siswa,yang dalam hal ini Piaget membaginya menjadi empat tahap yaitu: Tahap
Sensori-Motor (ketika anak berusia 1,5 tahun-2 tahun),Tahap pra-operasional (2/3 tahun-7/8
tahun),tahap operasional konkret (7/8-12/14 tahun),dan tahap operasional formal (14 tahun
atau lebih).
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sesnsori motor tentu lain dengan
yang dialami anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional) dan lain lagi bagi
siswa lainyang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional
formal).Guru yang mengajar,tetapi tidak menghiraukan tahap-tahap ini akan cenderung
akan menyulitkan siswa-siswanya.

Teori jean piaget menitik beratkan pada aspek-aspek perkembangan pikiran secara
alami dari lahir hingga dewasa.Ada tiga aspek perkembangan intelektual yang yang diteliti
oleh jean piaget yaitu:

a) Struktur,yaitu ada hubungan fungsional antara tindakan mental,dan berpikiran logis


anak.Tindakan-tindakan (actions) menuju pada perkembangan operasi-operasi dan
selanjutnya operasi-operasi menuju perkembangan struktur-struktur.operasi-operasi
mempunyai empat ciri yaitu;1)merupakan tindakan terinternalisasi,baik tindakan
mental maupun tindakan fisik tanpa ada garis pemisah diantarannya ;2)bersifat
reversible;3)selalu tetap,walaupun selalu terjadi transformasi atau perubahan;dan
4)tidak ada operasi yang berdiri sendiri,suatu operasi selalu berhubungan denagn
struktur atau operasi lainnya.Struktur untelektual terbentuk pada individu waktu ia
berinteraksi pada lingkungannya.Struktur yang terbentuk lebh mudah memudahkan
individuuntuk mengahadapi tuntutan yang makin meningkat dari lingkungannya yang
berarti telah terjadi suatu perubahan dalam perkembangan intelektual anak.
b) Isi,yaitu pola prilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya
terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.antara tahun 1920 dan 1930n
perhatian piaget dalam penelitiannya tertuju pada isi pikiran anak,misalnya
kemampuan dalam penalarann semenjak kecil hingga besar,konsepsi anak tentang
beberapa peristiwa alam.Sesudah tahun 1930-perhatian penelitian piaget lebih
dalam,dari deskripsi pikiran anak ia beralih pada analisis proses-proses dasar yang
mendasari dan menentukan isi itu.
c) Fungsi,yaitu cara yang digunakan organisme untuk membuat suatu kemajuan
intelektual,menurut piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi,yaitu
organisasi dan adaptasi.Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk
mensistematikkan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau proses-proses
psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur fan berhubungan atau struktur-
struktur.dalam lingkungan fisik.Koordinasi secara fisik merupakan hasil
kecendrungan oragnisasi.Adaptasi sebagai fungsi kedua melandasi perkembangan
intelektua.semua organisme lahir dengan kecendrungan menyesuaikan diri atau
beradaptasi pada lingkungan.cara adaptasi ini berbeda antara antara organisme yang
satu dengan yang lain.adaptasi dengan lingkungan melalui dua proses yaitu asimilasi
dan akomodasi.dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau
kemampuan yang ada untuk menanggapi masalah yang dihadapi dalm
lingkungannya.Dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur
mental yang ada dalam mengadakan respons tantangan lingkungannya.Bagi piaget
adaptasi merupakan suatu kesetimbangannyaantara asimilasi dan
akomodasi.Andaikata dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan
adaptasi dengan lingkungannya,terjadilah kesetimbangan(disequiliberium).Akibat
kesetimbangan ini,maka terjadilah akomodasi ndan struktur yang ada mengalami
perubahan atau struktur baru timbul.Perubahan intelektual merupakan proses terus
menerus tentang keadaan kesetimbangan (disequilibirium-equilibirium).Tetapi,bila
terjadi kesetimbangan,maka individu itu berada di tingkat intelektual yang lebih tinggi
daripada sebelumnya.
Interaksi dengan lingkungan akan semakin mengembangkan fungsi intelktual dilihat
dari perkembangan usia melalui tahap-tahap:
a) Sensori motor (0.0-2.0 tahun) yaitu anak mengenal lingkungan kemampuan sensori
dengan penglihatan,penciuman,pendengaran,perabaan,dan mengerakkangerakannya
tingkat sensori motor menempati dua tahun pertama dalam kehidupan,selam periode
ini akan mengatur alamnya dengan indera-inderanya(sensori) dan tindakan-tindakan
nya (motor).Selama periode ini bayi mempunyai konsepsi “Object permanence”.
b) Praoperasional (2.0-7.0 tahun) yaitu anak mengandalkan diri pada persepsi tentang

realitas, ia telah menggunakan simbol,bahasa,konsep


sederhana,berpartisipasi,membuat gambar,dan menggolongka-golongka.periode ini
disebut praoperasional.

c) Operasional konkret (7.0-11.0 tahun)yaitu dapat mengembangkan pikiran logis,anak


itu dapat mengikuti penalaran logis walau kadang-kadang memecahkan masalah
secara “trial and error”.Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional berarti
anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-
masalah konkret.
d) Operasional formal (11.0-keatas),yaitu anak dapat berpikir dapat berpikir abstrak
seperti pada orang dewasa.Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi
konkret nya,untuk operasi-opearsi yang lebih kompleks.
Kecerdasan juga membentuk struyktur kognitif yang diperlukan dengan melakukan
penyesuain dengan lingkungan.untuk mengetahui interaksi denagn lingkungan tersebut,ada
dua macam studi yang dilakukan Piaget mengenai perkembangan anak dan remaja,yaitu:
a) Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyai
mereka tentang aturan yang mereka ikuti.
b) Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan perbuatan
salah dan benar yang dilakukan anak-anak,lalu meminta responden.
Menurut piaget ada tiga bentuk pengetahuan yaitu:
 Pengetahuan fisik merupakan pengetahuan tentang benda-benda yang ada diluar dan
diamati dalam kenyataan eksternal.sumber pengetahuan fisik terutama terdapat dalam
benda itu sendiri,yaitu dalam cara benda itu memberikan pada subjek kesempatan-
kesempatan untuk pengamatan.
 Pengetahuan logika-matematik terdiri atas hubungan-hubungan yang diciptakan
subjek dan diintroduksikan pada objek-objek; dan
 Pengetahuan sosial.

2) Carl R. Rogers
Menurut pandangan Carl R.Rogers (ahli psikoterapi) praktek pendidikan
menitikberatkan pada segi pengajaran,bukan pada siswa yang belajar.Praktek tersebut
ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa dan hanya menghafalkan
pelajaran.Alasan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran
adalah :
 Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar,siswa tidak perlu
belajar yang tidak ada artinya.
 Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
 Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru,sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
 Belajar yang bermakna bagi masyarakat modern berarti belajar tentang proses-
proses belajar,keterbukaan belajar mengalami sesuatu,bekerjasama dengan
melakukan pengubahan diri terus menerus.
 Belajar yang optimal akan terjadi bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab
dalam proses belajar.
 Belajar mengalami (experiental learning) dapat terjadi,bila siswa mengevaluasi
dirinya sendiri.
 Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
Dalam psiko terapinya Carl R.Rogers memberi kebebasan pada kliennya untuk
mengeluarkan segala isi hatinya sepuas-puasnya,yang baik maupun yang buruk dengan
metode “non directive counseling”.Rogers mencoba memahami dan merasakan jiwa
kliennya keudian menjauhi diri dari penilaian normatif tentang ucapan,pikiran,perasaan,atau
perbuatan klien itu.
Rogers selanjutnya mengatakan pengajaran yang berpusat pada murid memberi
kebebasan agar murid dapat memilih kegiatan yang dirasanya perlu atas tanggung jawab
sendiri.Belajar bebas berbeda sama sekali dengan belajar yang terikat oleh peraturan dan
pengawasan yang ketat.Belajar terikat jauh lebih mudah dilaksanakan dan dapat dilakukan
oleh setiap guru,karena banyak sedikit dapat dilaksanakan secara maksimal.Sebaliknya
belajar bebas hanya dapat dilakukan bila syarat-syarat tertentu dapat dipenuhi seperti
adanya masalah,kepercayaan atau kesanggupan manusia,keterbukaan guru dan kesanggupan
guru menghadapi murid menurut pribadi masing-masingdan dapat menghargai sifat-sifat
mereka.Pendidikan akhirnya bertujuan untuk membimbing anak kearah kebebasan dan
kemerdekaan,mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk,dapat melakukan pilihan
tentang apa yang dilakukan nya dengan penuh tanggung jawab sebagai hasil
belajar.kebebasan itu hanya dapat dipelajari dengan memberi anak didik kebebasan sejak
mulanya sejauh ini dapat memikulnya sendiri,hal ini dilakukan dalam konteks belajar.
Untuk mengembangkan kebebasan ini kepada anak didik menurut Carl R.Rogers
perlu diperhatikan hal sebagai berikut:
 Pendidik harus berkelakuan wajar dan benar menurut apa yang terkandung dalam
dirinya.Berbuat jujur sesuai atau kongruenb dengan pribadi yang sebenarnya tidaklah
mudah,karena kita sering menyembunyikan kelemahan dan kekurangan kita untuk
menimbulkan kesan yang baik tentang diri kita sendiri.
 Pendidik harus menerima anak didik dengan segala aspek-aspek pribadinya.pendidik
harus selalu menghargai anak didik tanpa syarat,meskipun kelakuan anak itu tidak
menyenangkan hatinya.
 Pendidik harus memiliki harus memiliki empati yaitu mampu melihat dan merasakan
sesuatu seperti dilihat atau dirasakan oleh anak didiknya.Memandang atau
merasakankan dunia sekitar seperti dipandang atau dialami oleh orang lain,bukan
sesuatu yang mudah karena kita terikat oleh pandangan kita sendiri selama hidup
kita.Namun pendidik yang ingin membebaskan anak didiknya harus belajar memupuk
empati itu.
Ketiga hal yang perlu menjadi perhatian pendidik tersebut memberi makna bahwa
pendidik harus memiliki sikap yang sabar yang tinggi,mengenal prilaku anak dari sudut
psikologis,dan menjaga etika sebagai etika sebagai pendidik denagn mengembangkan sikap
jujur dan prilaku wajar.Prilaku wajar dan bersahaja ini menjadikan guru sebagai profil yang
sederhana serat dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman.Muncul satu gerakan teori
belajar yang menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar ia sanggup mencapai
perwujudan dirinya (self realization) sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan
(uniquness) yang dimilikinya.Gerakan ini pada dasarnya bertolak dari prinsip-prinsip dasar
teori kepribadian oleh Carl Rogers.cara pendekatan nya sebenarnay bersifat “equiry
discovery based approaceh”
Kebebasan dan kemerdekaan menurut Rogers mengandung nilai yang tanggung jawab
yang penuh.Belajar bebas berbeda sama sekali dengan belajar yang terikat oleh pengaturan
yang ketat.Belajar yang terikat jauh lebih mudah dilaksanakan dan dapat dilakukan oleh
setiap guru karena sedikit banyak dapat dijalankan secara maksimal.

3) Benjamin Bloom (1956)


Keseluruhan tujuan pendidikan atas hierarki atau taksonomi menurut Benjamin
Bloom menjadi 3 kawasan (domain) yaitu:
 Domain kognitif mencakup kemampuan intelektual mengenal lingkungan yang
terdiri atas enam macam kemampuan yang disusun secara hierarkis,dari yang paling
sederhana sampai yang paling kompleks yaitu pengetahuan(kemampuan mengingat
kembali hal-hal yang telah terjadi),anlisys (kemampuan menjabar sesuatu menjadi
bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami),sintesis(kemampuan
memadukan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang berarti),dan penilaian
(kemampuan memberikan harga sesuatu hal berdasarkan kriteria
intern,kelompok,ekstern,atau yang telah diterapkan terlebih dahulu).
 Domain afektif mencakup kemampuan-kemampuan emosional dam memahami dan
mengahayati sesuatu hal yang meliputi lima macam kemampuan emosional disusun
secara hierarkis yaitu: kesadaran (kemampuan untuk ingin memperhatikan sesuatu
hal),partisipasi (kemampuan untuk turut serta atau terlibat dalam sesuatu
hal),penghayatan nilai (kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya),dan
karaterisasi diri (kemampuan untuk memiliki pola hidup dimana sistem nilai yang
terbentuk dalam dirinya mampu mengawasi tingkah lakunya); dan
 Domanin psikomotor yaitu kemampuan-kemampuan motorik menggiatkan dan
mengkoordinasikan gerakan terdiri dari gerakan refleks (kemampuan melakukan
tindakan-tindakan yang terjadi secara tak sengaja dalam menjawab sesuatu
perangsang),gerakan dasar (kemampuan melakukan pola-pola gerakan yang bersifat
pembawaan dan terbentuk darei kombinasi gerakan-gerakan refleks),kemampuan
perseptual (kemampuan menterjemahkan perangsangyang diterima oleh alat indera
menjadi gerakan-gerakan yang tepat),kemampuan jasmani (kemampuan gerakan-
gerakan dasar merupakan inti untuk memperkembangkan gerakan-gerakan canggih
dan rumit dengan tingkat esensi tertentu),dan komunikasi nondiskursif (kemampuan
melakukan komunikasi dengan isyarat gerakan badan).
Taksonomi tujuan-tujuan dari bloom ini disebut dengan “Taksonomi Bloom” dapat
menjelaskan tentang kualitas hasil pendidikan.Tujuan langsung pendidikan adalah
perubahan kualitas kemampuan kognitifdan psikomotorik.Peningkatan ini tidak
sekedar meningkatkan belaka,tetapi peningkatan yang hasilnya dapat dipergunakan
meningkatkan taraf hidupnya sebagai pribadi,kerja,profesional,warga
masyarakat,warga negara,dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Es.Hasil
pendidikan diberikan kepada lingkungan dan diterima oleh lingkungan,sebagai
masukan yang digunakan sesuai kepentingannya.Dapat ditegaskan bahwa belajar
adalah perubahan kualitas kemampuan kognitif,afektif,dan psikomotori untuk
meningkatkan taraf hidupnya sebagai pribadi,sebagai masyarakt,maupun sebgai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

4) Jerome S.Brunner
Jerome S.Bronner (1960) ahli psikolgi perkembangan dan ahli psikologi belajar
kognitif.Brunnere tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis,yang penting
baginya adalah cara-cara bagaimana orang memilih,mempertahankan,dan mentransformasi
informasi secara efektif,inilah menurut Brunner inti dari belajar.Menurut brunner
(1960)dalam proses belajar dibedakan 3 fase yaitu:
a) Informasi,dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi,ada yang
menambah pengetahuan yang telah kita miliki,ada yang memperhalus dan
memperdalamnya,ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita
ketahui sebelumnya,misalnya bahwa tidak energi yang lelap.
b) Transformasi,informasi ini dianalisis,diubah atau ditransformasikan kedalam
bentuk yang abstrak,atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih
halus dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan,
c) Evaluasi,kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan
transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan.Hal ini perlu sebab
dengan struktur pengetahuan,kita menolong para siswa yang melihat,bagaimana fakta-fakta
yang kelihatannya tidak ada hubungan,dapat dihubungkan satu dengan yang lain,dan pada
informasi yang telah mereka miliki.Brunner beranggapan bahwa belajar merupakan
pengembangan kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean
(coding).Berbagai kategori-kategori saling berkaitan sedemikian rupa.hingga setiap individu
mempunyai model yang yang unik tentang alam.Dalam model ini,belajar baru dapat terjadi
dengan model itu.Hal ini terjadi melalui pengubahan kategori-kategori dengan suatu cara
baru,atau dengan menambahkan kategori-kategori baru.Anak sebagai sosok yang mampu
memecahkan masalah sendara secara aktif (active problem silver),yang memiliki cara
sendiri untuk memahami dunia.Jika anak didik memahami langkah-langkah penting dalam
suatu mata pelajaran,ia dapat terus berpikir secara produktif tentang masalah-masalah
besar,mengetahui bagaimana sesuatu terjadi sama pentingnya dengan ribuan fakta tentang
sesuatu tersebut.
Brunner menegakkan hipotesis bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan
secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak dalam tahap perkembangan
manapun.Ia meyakini bahwa anak kecilpun dapat mengatasi masalh yang sulit,maka
kurikulum harus berisi tema-tema hidup dikonseptualisasi menjawab tiga pertanyaan,yaitu:
 Apa yang menjadi ciri khas manusia
 Bagaimana manusia mendapatkan ciri khas itu
 Bagaimana ciri khas manusia itu dibentuk.
Brunner menyimpulkan bahwa pendidikan bukan sekedar persoalan tekhnik pengelolaan
informasi,bahkan penerapan “teori belajar” dikelas atau menggunakan hasil “ujian prestasi”
yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered “acchivement testing”).Pendidikan
merupakan usaha yang kompleks yang menyesuaikan kebudayaan dengan kebutuhan
anggotanya,dan menyesuaikan anggotanya dengan cara mereka mengetahui kebutuhan
kebudayaan.

B. Teori Belajar Humanistik


Selama akhir tahun 1940 abad dua puluh ini,muncul suatu perspektif psikolgis
baru.gerakan yang timbul dari perspektifini dikenal dengan sebutan:psikologi
humanistis,psikologi eksistensial,psikologi perseptual atau psikolgi fenomenologis.Grakan ini
berusa memahami prilaku dari sudut pandang pelakunya,bukan dari sudut pandang
pengamat.tokohnya antara lain yaitu Arthur Combs,Abraham H.Maslow,dan carl Rogers.
Aplikasi teori pendidikan humanistik antara lain dengan jalan sebagai berikut:
1) Confluen education,yaitu proses pendidikan yang memadukan pengalaman-
pengalaman efektif dengan belajar kognitif dalam kelas.Hal ini merupakan jalan yang baik
sekali untuk melibatkan murid secara pribadi didalam bahan pelajaran.
2) Open education,yaitu proses pendidikan terbuka dengan kriteria: kemudahan belajar
tersedia,penuh.kasih,sayang mendiagnosisperistiwa belajar,pengajaran,penelitian,mencari
kesempatan untuk perumbuhan profesional,persepsi guru sendiri,asumsi tentang para murid
dan proses belajar.
3) Cooperative learningatau belajar kooperative,yang karateristiknya antara lain murid
bekerja dalam tim tim belajar yang kecil.

Bagi penganut teori ini,proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu
sendiri.Dari keempat teori belajar,teori humanistik inilah yang paling abstrak,yang paling
mendekati dunia filsafat dari pendidikan.Meskipun teori ini sangat menekankan pada
“isi”dari proses belajar,dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan
dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa
adanya,seperti apa yang kita amati dalam dunia keseharian.Wajar jika teori ini sangat bersifat
eklektik.Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia”.

1) Bloom dan Krathwohl


Dalam hal ini,bloom dan krathwhol menunjukkan apa yang mungkin dilakukan oleh
siswa.
a. Kognitif
Kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu:
 Pengetahuan (mengingat,menghafal)
 Pemahaman (menginterpretasikan)
 Aplikasi (mengguankan konsep untuk memecahkan masalah)
 Analisis (menjabarkan suatu konsep)
 Sintesis (menggabungkan bagian-bagiankonsep menjadi suatu konsep utuh)
 Evaluasi (membandingkan nilai,ide,metode,dan sebagainya).
b. Psikomotorik
Psikomotorik terdiri dari lima tingkatan,yaitu:
 Peniruan (menirukan gerak)
 Penggunaan(mengguanakn konsep untuk melakukan gerak);
 Ketepatan (melakukan gerak dengan benar);
 Perangkaian (melakukan beberapa gerkan sekaligus dengan benar)
 Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).
c. Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan yaitu:
 Pengenalan (ingin menerima,sadar akan sesuatu)
 Merespons (aktif berpartisipasi)
 Penghargaan (menerima nilai-nilai,setia kepada nilai-nilai tertentu)
 Pengorganisasian ( menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
 Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Taksonomi bloom ini,seperti yang telah kita ketahui berhasil memberi kita
informasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori belajar dan
pembelajaran.Pada tingkatan yang lebih praktis,taksonomi ini lebih banyak membantu
praktisi pendidikn untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah
diopahami,operasional,serta dapat diukur.Dari beberapa taksonomi belajar,mungkin
taksonomi bloom inilah yang paling terkenal.
2) Kolb
Sementara itu,seorang ahli lain yang bernama kolb membagi tahapan belajar menjadi
empat tahap yaitu:
 Pengalaman konkret;
 Pengalaman aktif dan reflektif;
 Konseptualisasi;
 Eksperimentasi aktif.
Pada tahap paling dini dalam proses belajar,seorang siswa hanya mampu sekadar ikut
mengalami suatu kejadian.Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian
tersebut.Dia pun belum mengerti bagaimna dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti
itu.inilah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar.
Pada tahap kedua,siswa tersebut llambat laun dapatmengadkan observasi aktif
terhadapa kejadian itu,serta mulai berisaha memikirkan dan memahaminya.Inilah yang
kurang kebih terjadi pada pengamatan aktif dan reflektif.
Pada tahap ketiga,siswa sudah mulai beljara membuat abstraksi atau “teori” tentang
sesuatu hal yang pernah diamatinya.Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu
membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun
tampak berbeda-beda,tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
Pada tahap akhir (eksperimentasi aktif),siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu
aturan umum ke situasi yang baru.Dalam dunia matematika misalnya,siswa tidah hanya
mampu memahami ‘asal usul” sebuah rumus,tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut
untuk memecahkan suatu masalah yang pernah ia temuui sebelumnya.
Menurut Kolb,siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan,namun
dalam praktik pengalihan dari satu tahap ketahap lainnya itu seringkali terjadi begitu
saja,sulit kita tentukan peralihannya.
3) Honey dan Mumford
Berdasarkan teori kolb ini,Honey dan Mumford membuat penggolongan
siswa.menurut mereka ada empat macam atau tipe siswa itu.
 Aktivis;
 Reflektor
 Teoris
 Pragmatis.
Ciri dari siswa yang beripe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada
pengalaman-pengalaman baru.mereka cenderung berpikir tebuka dan mudah diajak
berdialog.Namun siswa semacam ini biasanya bersikap skeptis terdap sesuatu terhadap
sesuatu.ini kadang kala identik dengan sifat mudah dipercaya.Dalam proses belajar,mereka
kadang kala identik dengan sifat mudah dipercaya.Dalam proses belajar,mereka menyukai
metode yang mampu mendorong siswa menemukan hal-hal baru,seperti brointorming atau
problem solving.akan tetapi,mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang memerlukan
waktu lama dalam implementasi.
Untuk siswa yang bertipe reflektor sebaliknya cenderung sangat berhati-hati untuk
menagmbil langkah.Dalam proses pengambilan keputusan,siswa tipe ini cenderung
“konservatif”,dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruk
suatu keadaan.Sedangkan siswa yang bersikap teoritis biasanya sangat kritis,senang
menganalisis,dan tidak menyukai padatan atau penilaian yang sifat nya subjektif.Bagi
mereka,berpikir seacara rasional adalah sesautu yang sangat penting.Mereka juga biasanya
bersikap skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.Untuk siswa tipe
pragmatis biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal.Bagi
mereka,sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktikkan.
4) Habermas
Ahli psikologi lain adalah Habermas yang dalam pandangan nya bahwa belajar
sangatipengaruhi oleh interaksi,baik dengan lingkungan maupun dengan sesama
manusia.oleh interaksi,baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia.Dengan
asumsi ini,Habermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian:
 Belajar tekhnis (technical meeting);
 Belajar praktis (practical learning);
 Belajar emansipatoris (emancipatory learning.
Dalam belajar teknis,siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sedangkan
dalam belajar praktis,siswa juga belajar berinterkasi,tetapi pada tahap ini yang lebih
dipentingkan adalah interaksi antara dia dengan orang-orang disekelilingnya.Pada tahap ini
pandanga siswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu pemahaman yang kering dan
terlepas kaitannya dengan manusia.Akan tetapi pemahaman terhadap alam itu justru relevan
jika dan hanya jika berkaitan dengan kepentingan manusia.
Sedangkan dealam belajar emansipatoris,siswa berusaha mencapai pemahaman dan
kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahna (transformasi) kultural dari segi
lingkungan.Bagi Hebermes,pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural inilah
yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.
5) Combs
Pandangan umum Combs tentang prilaku adalah jika ingin memahami perilaku
orang,pahamilah terlebih dahulu tentang dunia persepsi orang tersebut.Selanjutnya,menurut
combs “jika ingin mengubah prilaku orang maka berusalah mengubah keyakinan atau
pandangan orang tersebut”.Jika dikaitkan dengan prilaku belajar,berarti prilaku belajar
peserta didik dapatdirubah sesuai dengan harapan guru atau orang tua dengan mengubah
keyakinan atau pandangan si peserta didik.
Berkaitan dengan belajar atau pembelajaran,combs menyatakan bahwa terdapat dua
bagian pada learning,yaitu:
 Pemerolehan informasi baru;
 Personaliusasi ini pada setiap individu.
Dengan demikian,dalam pembelajaran,peserta didik membutuhkan suatu informasi
baru.informasi baru tersebut dapat diperoleh peserta didik melalui usahanya sendiri atau
melali fasilitas gurunya.Informasi tersebut dikelola sedemikian rupa oleh guru (pendidik)
sehingga mendukung terjadinya personalisasi informasi tersebut oleh masing-masing
peserta didik.
Hal yang juga penting menurut pendapat Cobs adalah banyak guru membuat
kesalahan denagn berasumsi bahwa peserta didik mau belajar jika subject matter-nya
disusun dan disajikan sebagaimana mestinya,tetapi jusrtu individulah yang seharusnya
memberikan arti pada subject matter tersebut.
6) A.Maslow
Terkait dengan adanya perilaku individu,menurut Maslow bahwa prilaku (termasuk
didalam prilaku belajar) didasarkan atas asumsi bahwa didalam diri ada dua hal,Pertama
suatu usaha yang posirif berkembang.dan kekuatan untuk menhan dan menolak
perkembangan.Dengan demikian,denagn prilaku belajar setiap individu terdapat dua hal
yang sangat bertentangan,yakni prilaku atau usaha yang mendorong kegiatan belajarnya,dan
sebaliknya juga memilki kekuatan yang menghambat adanya kegiatan belajar individu yang
bersangkutan.kedua kekuatan tersebut dapat muncul secara simulatan.Namun prilaku
individu tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan dominan,diaman setiap individu
memilki kadar yang berbeda-beda dari masing-masing kekuatan tersebut.
Pandangan Maslow yang menurut penulis sangat humanis adalah belajar yang
sesungguhnya harus melibatkan dan meliputi keseluruhan pribadi manusia bukan hanya
sekedar mempersiapkan dengan fakta-fakta untuk diingat.Implikasi pandangan dari
A.maslow tersebut bahwa dalam pembelajaran,guru bukan “meloloh”suatu materi kepada
peserta didiknya,tetapi mempersiapkan dan menciptakan kondisi pembelajarn sehingga
peserta didik merasa senang karena terlibat secara emosional dan pribadinya,aktif dalam
belajar,dan belajar tersebutu bermakna baginya.
Pandangan teori A.Moslow lainnya yang sangat terkenal adalah teori
kebutuhan.Menurut A.Malow,bahwa kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia ada 5,yang
terpenuhi secara hierarki,artinya kebutuhan paling mendasar paling harus dipenuhi terlebih
dahulu untuk memenuhi kebutuhan diatasnya.Manusia memunculkan suatu prilaku
didasarkan pada kebutuhan yang ada.
Maslow berargumen bahwa seseorang tidaka akan mencapai tingkat kebutuhan yang
paling tinggi sebelum tercapai kebutuhan yang dibawahnya.Misalnya,perhatian dan
motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan aktualisasi diri.Namun,dalam
penelitian selanjutnya ternyata ada individu yang tidak begitu saja membutuhkan kebutuhan
dibawahnya sebelum meraih kebutuhan yang diatasnya.kajian tentang peak-experiane
terhadap orang-orang yang memiliki pengalaman spiritual terhadap toko-toko ternama
seperti Mahatma Gandhi,Bunda Theresa,dapat menfalsifikan teori tersebut.
7) C.Rogers
Pandangan C.Rogers tenyata tidak jauh berbeda dengan pandangan
A.Maslow.menurut C.rogers bahwa pengalaman yang paling utama adalah pengalaman
berdasarkan afektif,yakni keterlibatan keseluruhan emosional dalam belajar.Pembelajaran
diimplementasikan dengan memberi kebebasan,serta rasa aman dan nyaman kepada peserta
didik.peserta didik diberi kesempatan untuk mewujudkan tanggung jawab nya untuk
mewujudkan tanggung jawabnya melalui kesepakatan-kesepakatan awal selama
pembeljaran berlangsung.Bahkan setiap peserta didik di harapkan memunculkan berbagai
ide dan memunculkan berbagai ide dan mewujudkan potensinya terkait dan selama
pembelajaran berlangsung.Oleh karena itu,guru perlu membantu pesereta didik agar peserta
didik mengalami iklim emosional sehingga menjadi merasa senang dalam setiap proses
pelajaran.
Selain pandangan-pandangan tokoh diatas,trrdapat prinsip-prinsip belajar humanistik
yang penting untuk dipahami atau diinternalisasi oleh guru sebagai berikut:
1. Manusia pada hakikat ya mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.Melalui
kejadian-kejadian atau masalah yang sedang berlangsung manusia memiliki usaha-
usaha agar tetap survice dilingkungannya.
2. Belajar yang signifikan terjadi jika peserta didik merasakan bahwa ada relevansi
antara subject matter dengan maksudnya sendiri,artinya guru perlu mengaitkan
pentingnya isi materi dengan kehidupan peserta didiknya.
3. Belajar yang menyangkut suatu perubahan terhadap persepsi diri (persepsi yang sudah
dimiliki) dianggap mengancam dan cenderung ditolak sehingga perubahan pada hal-
hal yang selama sudah diinternalisasikan oleh peserta didik maka guru perlu
menyampaikan secara hati-hati dan rasional melalui contoh konkret.
4. Belajar yang bermakna diperoleh oleh peserta didik jika peserta didik
melakukannya.Oleh karena itu,pembelajaran perlu diformalisasikan sedemikian rupa
agar peserta didik aktif dan memiliki pengalaman.
5. Belajar akan menjadi lancar jika peserta didik dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggung jawab terhadap proses belajar tersebut,yang berarti sejak awal proses
belajar berlangsung,guru telah melibatkan peserta didinya dalam menyusun
kesepakatan-kesepakatan belajar.
6. Belajar atas inisiatif sendiri akan melibatkan pribadi seutuhnya merupakan cara yang
dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari,yakni guru harus membangun
kondisi emosi pribadi dan pemahaman tentang pentingnya pembelajaran bagi peserta
didik.

Pendekatan Humanistik (humanistik approach) menekankan pada kualitas-


kualitas seseorang,kapasitas untuk perkembangan positif,dan kebebasan untuk memilih
takdir apapun.Para psikolog Humanistik lebih menekankan bahwa manusia memiliki
kemampuan untuk mengendalikan hidup mereka dan menghindari dimanipulasi oleh
lingkungan.Mereka berteori bahwa daripada dikendalikan oleh dorongan-dorongan
ketidaksadaran (seperti yang ditekankan oleh pendekatan psikodinamika) atau oleh ganjaran
eksternal (seperti yang ditekankan oleh pendekatan behavioristik),manusia dapat memilih
hidupnya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi,seperti altruisme-kepedulian
yang tidak mementingkan diri sendiri demi kesejahtraan orang lain-dan kehendak
bebas.Para Psikolog humanistik juga berpendapat bahwa manusia memiliki potensi yang
luar biasa akan pemahaman diri sendiri dan bahwa cara untuk membantu orang lain untuk
mencapai pemahaman diri sendiri adalah dengan menjadi hangat dan mendukung.Banyak
aspek pendekatan optimis ini muncul dalam penelitian mengenai mkotivasi,emosi,dan
kepribadian,dan dalam banyak cara,pendekatan humanistik memberi dasar bagi psikologi
positif.
PERTANYAAN TENTANG TEORI KONSTRUTIVISTIK DAN HUMANISTIK

BY:KELOMPOK 15

HENI OKTAVIANA (RSA1C116010)

WAHYU AKBAR IRAWAN(RSA1C116015)

PERTANYAAN

1. Mengapa prinsip – prinsip belajar berimplikasi pada siswa dan guru ?


2. Hubungan Teori belajar Konstruktivisme dengan kurikulum?
3. Jelaskan keterkaitan perkembangan intelek dan perkembangan bahasa anak! Beri
contoh!
4. Perkembangan dan pertumbuhan anak akan optimal ketika pendidik mampu
melayani peserta didik sesuai dengan tingkat usianya, padahal kita tau hakekatnya
anak adalah bermain. Bagaimanakah sebaiknya guru mengemas dan
melaksanakan “pembelajaran” bagi mereka?
5. Coba deskripsikan apa yang anda ketahui tentang Pembelajaran yang aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan dan bagaimana implementasinya dalam pemanfaatan
media di persekolahan tingkat Dasar?
JAWABAN

1. Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus menggunakan teori-teori dan
prinsip-prinsip belajar tertentu agar dapat membimbing aktifitas guru dalam
merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Prinsip-prinsip belajar
dapat digunakan untuk mengungkapkan batas-batas kemungkinan dalam
pembelajaran sehingga guru dapat melakukan tindakan yang tepat. Selain itu dengan
teori dan prinsip-prinsip belajar guru juga dapat memiliki dan mengembangkan sikap
yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa. Prinsip-prinsip belajar
yang relatif berlaku umum berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan,
keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan
penguatan, serta perbedaan individual. Jadi bisa dikatakan bahwa siswa sebagai
pelaku utama dalam kegiatan pembelajaran dengan alasan apapun tidak dapat
mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar. Para siswa akan berhasil
dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap
diri mereka. Dan implikasi terhadap guru karena guru pun sebagai orang kedua dalam
kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar. Implikasi
prinsip belajar bagi guru tertampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan
kegiatan pembelajarannya sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran. itulah Jadi
kita dapat menyimpulkan bahwa Prinsip-prinsip belajar berkaitan dengan perhatian
dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan,
tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan indivudual. Prinsip-prinsip belajar
berimplikasi pada guru dan siswa, karena guru dan siswa merupakan subjek dalam
kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses untuk menambah
pengetahuan yang ditransferkan oleh guru kepada siswa, dengan begitu yang menjadi
sasaran dari pembelajaran ialah siswa, sedangkan yang menjadi pemberi atau
pentransfer ilmu adalah guru. Guru dan siswa merupakan penggerak dari adanya
pembelajaran. Bagi guru, prinsip pembelajaran merupakan hal terpenting yang wajib
diketahui oleh guru, sehingga guru dapat memahami secara mendalam dalam
membuat acuan yang tepat dalam pembelajaran. Dengan begitu, pembelajaran yang
dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan yang ingin dicapai.
Selain itu, berguna untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengatasi berbagai
permasalahan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, guru akan
melakukan tindakan yang sesuai dengan prinsip pembelajaran agar pembelajaran yang
dilaksanakan dapat diterima oleh siswa serta tidak melanggar prinsip-prinsip yang
memang sudah ditetapkan. Sedangkan untuk siswa, prinsip belajar dapat
mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
Sikap yang seharusnya dijalankan oleh siswa dalam pembelajaran serta menyandang
status sebagai siswa, dengan tujuan utama belajar untuk mencapai target yang telah
ditentukan. Siswa akan lebih mudah untuk memahami berbagai materi yang
disampaikan oleh guru, karena dengan prinsip belajar, akan mengubah pemahaman
siswa, dari yang awalnya sukar dimengerti, menjadi lebih mudah untuk dimengerti.
Segala aspek pembelajaran dapat diterima dengan baik oleh siswa.
2. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan
pembalajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Maka hubungan kurikulum
dengan teori belajar konstruktivisme ini sangat berhubungan, terutama dari cara yang
digunakan (Tanya jawab, penyelidikan/menemukan, dan komunitas
belajar).Kurikulum dan instruksi yang berdasarkan dengan cara teori kontruktivisme
haruslah dirancang untuk merangsang 5 (lima) bentuk dasar dari
pembelajaran:Menghubungkan (relating), adalah belajar dalam satu konteks sebuah
pengalaman hidup yang nyata atau awal sebelum pengetahuan itu diperoleh siswa.
Guru menggunakan relating ketika mereka mencoba menghubungkan konsep baru
dengan sesuatu yang telah diketahui oleh siswa.Mencoba (experiencing). Pada
experiencing mungkin siswa tidak mempunyai pengalaman langsung , akan tetapi
guru harus dapat memberikan kegiatan yang hands on kepada siswa sehingga dari
kegiatan yang dilakukan siswa tersebut siswa dapat membengun
pengetahuannya.Mengaplikasi (applying). Hal ini sebagai belajar dengan menerapkan
pembelajaran yang telah dipelajari. Guru juga dapat memotivasi dengan memberikan
latihan yang realities dan relevan.Bekerjasama (cooperating). Bekerjasama- belajar
dalam konteks saling berbagi, merespons, dan berkomunikasi dengan pelajar lainnya.
Pengalaman bekerjasama ini tidak hanya menolong untuk mempelajari suatu bahan
pelajaran, hal ini juga secara konsisten berkaitan dengan penitikberatan pada
kehidupan nyata.
3. Bahasa adalah ungkapan dari perasaan dan fikiran seseorang. Meskipun ia masih pada
fase intelektual praoperasional, ternyata ia sudah bisa juga berfikir logis dan berfikir
abstrak, apabila ada bantuan yang khusus sesuai potensi yang ada padanya. Paradigm
di atas memiliki implikasi luar biasa bagi perkembangan bahasa. Artinya anak yang
perkembangan bahasanya cepat, exposed pada “bantuan” yang meskipun tidak
tampak nyata, memperlihatkan hubungan yang kondusif, dalam arti emosional positif.
Setip hambatan dalam perkembangan bahasa tersebut menunjuk pada gangguan
emosional yang mungkin terjadi terkait dengan rasa takut, marah atau kesedihan
tertentu.
Pengalaman emosional mengalir sebagai suatu arus yang terus menerus terjadi,
sehingga hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasanya.
Karena itu, apabila orang tua atau guru hendak membantu anak dalam perkembangan
bahasanya, maka pertama-tama ia harus membelajarkan anak memahami perasaannya
sendiri. Artinya anak harus diajarkan keberanian untuk tidak lari dari kenyataan
berkenaan dengan perasaannya, melainkan mendalami pemahaman perasaannya.
Perkembangan bahasa anak terjadi dengan baik dalam suasana di mana orang yang
penting (significant)bagi anak ingin memiliki pemahaman tentang emosi pada anak
itu, maupun emosinya sendiri.
Dengan demikian, secara timbal balik perkembangan bahasa mempengaruhi
kehidupan intelektual yang tersulut minatnya juga akan menambah perbendaharaan
dan pengertian bahasa anak. Kehidupan intelektual adalah ekspresi dari kemampuan
yang disebut intelegensi, dan intelegensi itu adalah kemampuan umum untuk
meningkatkan kemampuan tersebut (Clark, 1896). Memaksimalkan perkembangan
intelegensi anak, berarti mendetek fase perkembangan intelektualnya dan menyulur
minatnya pada zone of proximal development.
Contoh :
Waktu berusia 4 setengah tahun, Lucienne berkata,” saya belum makan kudapan jadi
itu bukan sore” (1946, h.232). Dia masih belum mengerti bahwa sore hari merupakan
periode umum waktu yang mengandung banyak peristiwa khusus, dimana makan
kudapan hanya salah satu aktivitas.
4. Kita sebagai guru harus mampu menciptakan pengajaran dan pelajaran yang dikemas
secara kreatif, inovatif (menemukan hal yang baru), atraktif (menarik) agar proses
belajar mengajar bisa diikuti oleh anak, metode bermain sambil belajar itulah metode
yang terbaik untuk anak.
Contoh : mengenalkan nama-nama binatang, warna-warna, benda-benda yang ada
disekitar, dan secara tidak langsung kita mengajar mereka nama-namanya pula.
Misalnya yang lebih konkretnya belajar sambil bermainnya diluar kelas agar bisa
berbaur dengan alam supaya proses belajar mengajar tercapai.
5. a. PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan.
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan
suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan
mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si
pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya
menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran
tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran
tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting
dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu
untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru
menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang
menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar
sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu
curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah
cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus
dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran
memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya
aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya
seperti bermain biasa.
Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut:
Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk
menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran
menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih
menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara
belajar kelompok.
Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu
masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam
menciptakan lingkungan sekolahnya.
b. Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1) Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak
kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia
– selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut
merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif.
Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga
subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana
pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan
pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan
percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2) Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan
Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan
pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama,
melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki
kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor
sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat
kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau
berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat
bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan
menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini
memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak
perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya
berkembang.

4) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan


memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan
kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif
untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis
dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri
anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain
dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka.
Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik
daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya
tertutup (jawaban betul hanya satu).
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM.
Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu.
Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk
bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan
dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat
berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya.
Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan
baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan
ketika membahas suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk
bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga
sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar
sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan
lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke
ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-
gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera),
mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan,
dan membuat gambar/diagram.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian
umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara
guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada
kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun.
Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas
belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan
memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa
lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8) Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk
bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa
duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari
PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,
mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-
tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan
tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh
karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang
datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat
bertentangan dengan ‘PAKEMenyenangkan.’
c. Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama
PEMBELAJARAN. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan
kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut
tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru.
DAFTAR PUSTAKA
King, Laura.2013.Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif.Jakarta:Salemba
Humanika.
Sagala,Syaiful.2010.Konsep Dan Makna Pembelajaran.Bandung.Alfabeta
Triwiyanto,Teguh.2007.Pengantar Pendidikan.Semarang.Bumi Aksara.
Uno,Hamzah.2006.Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran.Jakarta.PT Bumi
Aksara.