You are on page 1of 9

Jurnal Pena Sains Vol. 4, No.

2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311


e-ISSN: 2527-7634
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA
MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Sulton Nawawi1, Amilda2, dan Maya Puspita Sari3
1Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Palembang
Palembang, Sumatera Selatan 30263, Indonesia.
sulton_nawawi@um-palembang.ac.id
2Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah
Palembang
Palembang 30126, Indonesia.
amildagandi@yahoo.co.id
3Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah
Palembang
Palembang 30126, Indonesia.
mayapuspitasarimh@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
terhadap Keterampilan Proses Sains pada Materi Pengelolaan Lingkungan. Desain penelitian ini
menggunakan posttest-only control design dengan metode Eksperimen Semu (quasi eksperiment).
Sampel penelitian berjumlah 35 siswa. Berdasarkan hasil analisis keterampilan proses sains siswa
menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek
lebih baik dari pada model pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari perhitungan uji-t
keterampilan proses sains menunjukkan sebesar sig thitung 0,000 < 0,05, maka Ha diterima dan H0
ditolak. Hasil analisis skor rata-rata ketuntasan indikator keterampilan proses sains kelas eksperimen
mencapai 2,87 berkriteria baik sedangkan keterampilan proses sains siswa di kelas kontrol 1,73
berkriteria cukup artinya keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada
keterampilan proses sains kelas kontrol. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa model Pembelajaran
Berbasis Proyek berpengaruh terhadap Keterampilan Proses Sains pada Materi Pengelolaan
Lingkungan.

Kata Kunci: model pembelajaran berbasis proyek; keterampilan proses sains.

Abstract
This study aims to determine the effect of application of Project Based Learning Model to Skill of
Science Process on Environmental Management Material. This research design uses posttest-only
control design with Quasi Experimental method (quasi experiment). The sample of this research is
35 students. Based on the results of the analysis of students' science process skills show that the
implementation of learning using the model of Project Based Learning is better than the conventional
learning model. This can be seen from the calculation of the test-t skills of the science process shows
for sig titung 0.000 <0,05, then Ha accepted and H0 rejected. The result of analysis of the average
score of mastery of experimental science process skill class achieves 2.87 with good criteria while
the students 'science process skill in control class 1.73 is sufficient to mean that the students'
experimental class science process skill is higher than the control class science process skill. Thus, it
can be concluded that the model of Project Based Learning affect the Skills of Science Process on
Environmental Management Material.

Keywords: project based learning model; skills of science process.


88
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
mahasiswa masih dinilai kurang karena
saat praktikum hanya 30% dari mahasiswa
Pendahuluan yang mampu melakukan percobaan dan
Pesatnya pembangunan yang memahami apa yang sedang dilakukan.
disertai dengan perkembangan ilmu Berdasarkan hasil observasi
pengetahuan dan teknologi dewasa ini keterampilan proses sains untuk analisis
perlu direspon oleh kinerja dunia kebutuhan di MTs Aulia Cendekia
pendidikan yang profesional. Palembang menggunakan sembilan
Pembangunan di suatu negara tidak bisa indikator keterampilan proses sains
mengabaikan kegiatan pendidikan. Rustaman dkk (2007) yaitu keterampilan
Memasuki abad ke-21, sistem observasi, klasifikasi, interpretasi,
pendidikan nasional menghadapi prediksi, berkomunikasi, berhipotesis,
tantangan yang sangat kompleks dalam merencanakan percobaan, menerapkan
menyiapkan kualitas sumber daya manusia konsep dan mengajukkan pertanyaan.
(SDM) yang mampu bersaing di era Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 6
global. Upaya yang tepat untuk indikator yang muncul dalam proses
menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pembelajaran yang meliputi nilai rata-rata
yang berkualitas dan satu-satunya wadah keterampilan observasi siswa hanya 2,
yang dapat berfungsi sebagai alat untuk nilai rata-rata keterampilan klasifikasi
membangun SDM yang bermutu tinggi 0,71, nilai rata-rata keterampilan
adalah pendidikan (Tabany, 2014). interpretasi siswa 1,21, nilai rata-rata
Tantangan pertama dunia berkomunikasi 2,60, nilai rata-rata
pendidikan di abad 21 adalah bagaimana menerapkan konsep 1,52 dan nilai rata-rata
penyelenggaraan pendidikan yang tanggap keterampilan mengajukkan pertanyaan
terhadap tantangan era globalisasi, 2,08. Persentase ketuntasan keterampilan
tantangan persaingan, dan kerja sama sebesar 35%. Hal ini menunjukkan bahwa
global. Untuk bisa bersaing secara fair keterampilan proses sains di MTS Aulia
melawan bangsa-bangsa lain dan bekerja Cendekia masih perlu ditingkatkan.
sama dengan mereka, peserta didik perlu Berdasarkan permasalahan tersebut
dibekali dengan pengetahuan, bahwa dalam proses pembelajaran ilmu
keterampilan dan sikap serta sistem nilai. pengetahuan alam untuk mampu
Kehidupan global dalam dunia terbuka menumbuhkan keterampilan proses dalam
memerlukan manusia-manusia yang diri peserta didik, dibutuhkan model
berkualitas, yaitu manusia yang mampu pembelajaran yang menarik tidak
berkompetisi dalam arti positif membosankan dan mampu memberikan
(Mukminan, 2014). pengalaman langsung pada siswa sesuai
Pada saat ini masih banyak guru tuntunan abad 21 seperti model
yang belum melaksanakan proses belajar pembelajaran berbasis proyek.
mengajar dengan mengembangkan Project Based Learning merupakan
keterampilan proses. Hal ini karena adanya suatu model pembelajaran yang
pendapat bahwa dengan menguasai menyangkut pemusatan pertanyaan dan
konsep-konsep IPA, semua selesai masalah yang bermakna, pemecahan
(Rustaman dkk., 2007). Penelitian Ratna & masalah, pengambilan keputusan, proses
Sahyar (2016), pencapaian keterampilan pencarian berbagai sumber, pemberian
proses sains mahasiswa pada ranah kesempatan kepada anggota untuk bekerja
kognitif sangat baik, akan tetapi, pada secara kolaborasi, dan menutup dengan
ranah psikomotor pencapaian kompetensi presentasi produk nyata (Thomas, 2000).

89
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
Model pembelajaran berbasis Pembelajaran ilmu pengetahuan alam
proyek memiliki potensi untuk membantu (IPA), materi pengelolaan lingkungan,
siswa dalam proses pembelajaran serta sangat penting untuk dipelajari agar kita
mengembangkan kemampuan siswa dalam mampu menjaga dan mempertahankan
berbagai aspek termasuk keterampilan kelestarikan lingkungan bukan merusak
proses sains. Project based learning secara lingkungan.
umum dapat membuat siswa mengalami
proses pembelajaran yang bermakna,
siswa membangun pengetahuannya di Metode Penelitian
dalam konteks pengalamannya sendiri, dan Penelitian ini dilaksanakan di
dengan pengalaman belajar secara Madrasah Tsanawiyah (MTs) Aulia
langsung, dapat mendukung untuk Cendekia Palembang. Peneltian ini
mengembangkan keterampilan (Wena, merupakan penelitian eksperimental semu.
2009). Hal ini didukung penelitian Ratna
Desain penelitian yang digunakan ialah
& Sahyar (2016) bahwa model
pembelajaran berbasis proyek terbukti
posttest-only control design. Kelas
eksperimen (kelas 7A) diberi perlakuan
efektif dalam meningkatkan sikap,
dengan model Project Based Learning,
memberdayakan sikap terhadap
sementara kelas kontrol (kelas 7B) diberi
lingkungan, interaksi dalam kelompok,
perlakuan pembelajaran menggunakan
dan keterampilan proses sains.
metode diskusi tim.
Model pembelajaran berbasis
Waktu pelaksanan ini pada bulan
proyek akan membutuhkan keterampilan
Mei-Juni 2017. Teknik yang digunakan
siswa dalam proses pembelajaran mulai
untuk pengambilan dan pengumpulan data
merencanakan proyek hingga
dalam penelitian ini berupa non tes
terbentuknya suatu produk (proyek), maka
(lembar observasi dan unjuk kerja) dan tes
akan memenuhi ketercapaian indikator
(posttest). Pengumpulan data dalam
keterampilan dalam proses sains mulai dari
penelitian ini menggunakan lembar
peserta didik melakukan keterampilan
observasi sebagai data keterampilan proses
mengamati, klasifikasi, interpretasi,
sains, dengan observasi berperan serta
prediksi, berkomunikasi, berhipotesis,
(Participant observation) dengan lembar
merencanakan percobaan, menerapkan
observasi terstruktur. Postest untuk
konsep hingga mengajukkan pertanyaan.
membandingkan perbedaan keterampilan
Hal ini senada Menurut Setyandari (2015),
proses siswa pada kedua kelas.
disebutkan bahwa keterampilan proses
sains siswa dapat dilakukan pada ranah
kognitif dan psikomotorik peserta didik, Hasil Penelitian dan Pembahasan
karena keterampilan proses sains siswa
merupakan keterampilan dasar untuk Keterampilan Proses Sains (KPS)
meningkatkan nilai sikap serta siswa yang dikaji pada penelitian ini
keterampilan siswa. Oleh karena itu fokus meliputi beberapa indikator: 1) melakukan
penelitian ini mengukur psikomotorik pengamatan; 2) menafsirkan pengamatan;
(keterampilan). 3) mengelompokkan; 4) meramalkan; 6)
Salah satu materi IPA kelas VII berkomunikasi, 7) berhipotesis, 8)
yang berkaitan langsung dengan merencanakan percobaan 9) mengajukkan
kehidupan sehari-hari ialah materi pertanyaan (Rustaman dkk., 2007).
pengelolahan lingkungan, yang Penelitian ini menggunakan dua kelas
diharapkan cocok jika menggunakan yakni kelas eksperimen yang diberi
model pembelajaran berbasis proyek. perlakuan dengan menggunakan model

90
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
pembelajaran berbasis proyek (PJBL) dan dan kelas kontrol. Seperti terlihat pada
kelas kontrol tanpa perlakuan. Hasil tabel 2.
penelitian diperoleh dari lembar observasi
KPS selama pembelajaran, dan posttest Tabel 2. Skor Rata-Rata Lembar Observasi
pada akhir pembelajaran. Hasil penelitian Kelas Eksperimen dan Kontrol
disajikan sebagai berikut.
No. Kelas Skor Rata- Kriteria
Selama kegiatan pembelajaran Rata
dilakukan pengambilan data keterampilan 1. Kelas 2,87 Baik
proses sains peserta didik dengan lembar Eksperimen
observasi yang di isi oleh masing-masing 2. Kelas Kontrol 1,73 Cukup
observer, tujuan penilaian lembar
observasi ini untuk mengetahui perbedaan
persentase masing-masing indikator KPS Penilaian Penilaian unjuk kerja
di kelas eksperimen dan kelas kontrol. dilakukan untuk melihat keterlaksanaan
Data yang diperoleh melalui lembar model pembelajaran berbasis proyek pada
observasi dengan menggunakan 9 kelas eksperimen. Penilaian unjuk kerja di
indikator keterampilan proses sains selama dengan meliputi tiga tahapan yaitu tahapan
pembelajaran berlangsung, selanjutnya perencanaan, pelaksanaan dan hasil
diubah menjadi nilai persentase produk. Seperti terlihat pada tabel 3.
menggunakan rumus yang ada. Hasil Tes akhir (Posttest) dilakukan
persentase lembar observasi kelas sebagai evaluasi ketercapaian materi
eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pengelolaan lingkungan dengan indikator
pada tabel 1. keterampilan proses sains. Hasil postest
kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat
Tabel 1. Hasil Lembar Observasi Persentase pada tabel 4 dan gambar 1.
Ketuntasan (%) Kelas Eksperimen dan Kelas Berdasarkan hasil data yang diperoleh
Kontrol melalui lembar observasi keterampilan
NO Indikator KPS Persentase Ketuntasan proses sains selama tiga kali pertemuan,
(%)
dan posttest menunjukkan bahwa adanya
Kelas Kelas
Eksperimen Kontrol perbedaan antara kelas eksperimen yang
1. Observasi 22% 18% menggunakan model pembelajaran
2. Klasifikasi 22% 25% berbasis proyek dengan kelas kontrol.
3. Interpretasi 29% 17% Skor total rata-rata lembar
4. Prediksi 22% 0 observasi diperoleh bahwa pada kelas
5. Berkomunikasi 29% 28% eksperimen skor rata-rata sebesar 2,87
6. Berhipotesis 25% 0 yang berkriteria baik sedangkan pada kelas
7. Merencanakan 26% 0 kontrol skor rata-rata sebesar 1,73 yang
Percobaan berkriteria cukup. Hal ini menunjukkan
8. Menerapkan 26% 24%
Konsep
bahwa kelas eksperimen dengan
9. Mengajukkan 24% 26% menggunakan model pembelajaran
Pertanyaan berbasis proyek, keterampilan proses
sainsnya lebih baik dibandingkan dengan
Pedoman Pedoman lembar kelas kontrol yang menggunakan
observasi skor menggunakan skala 1 pembelajaran kovensional.
sampai 4. Setelah di hitung terdapat
perbedaan skor rata-rata kelas eksperimen

91
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
Tabel 3. Hasil Penilaian Unjuk Kerja Proses dan Produk
No Kelompok Tahapan Penilaian Model Pembelajaran Berbasis Total Kriteria
ke- Proyek nilai
Perencanan Pelaksanaan Hasil/Produk
1. Kelompok 1 16 14 18 92,3 Sangat baik
2. Kelompok 2 16 16 13 86,53 Sangat baik
3. Kelompok 3 16 13 13 80,76 Baik
4. Kelompok 4 16 15 13 84,76 Baik
5. Kelompok 5 16 12 14 80,76 Baik
6. Kelompok 6 15 13 10 73,07 Baik

Tabel 4. Hasil Persentase ketuntasan (%) setiap indikator KPS pada posttest kelas
eksperimen dan kelas kontrol
No Indikator KPS Persentase Ketuntasan (%)
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
1. Observasi 97,5 % 82,5%
2. Klasifikasi 87,5% 72,5%
3. Interpretasi 72,5% 25%
4. Prediksi 70% 60%
5. Berkomunikasi 87,5% 85%
6. Berhipotesis 38,2% 58,2%
7. Merencanakan 76,3% 50%
Percobaan
8. Menerapkan 75,2% 54,74%
Konsep
9. Mengajukkan 81,25% 77%
Pertanyaan

Nilai Rata-Rata Posttest


100
80
60
40 78,4 1. Kelas Eksperimen
64,4
20 2. Kelas Kontrol
0
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
1. 2.

Gambar 1. Diagram Hasil Nilai Rata-Rata Postest Kelas Eksperimen dan Kontrol

92
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
Persentase ketuntasan kelas dibagi kelompok dengan sub materi yang
eksperimen dan kelas kontrol pada tabel 1, berbeda pada saat berdiskusi itu dapat
dapat diketahui bahwa indikator terlihat siswa atau kelompok mana yang
keterampilan proses sains yang paling aktif berkomunikasi menyampaikan hasil
tinggi di kelas eksperimen ada pada diskusi mereka. Menurut Andana dkk
indikator keterampilan berkomunikasi dan (2014), bahwa keterlibatan aktif siswa
interpretasi yaitu sebesar 29 %. Sedangkan dipercaya mampu menciptakan rasa ingin
pada kelas kontrol indikator keterampilan tahu sehingga siswa tertarik untuk
proses sains yang paling tinggi ada di mempelajari materi yang akan
indikator keterampilan berkomunikasi disampaikan oleh guru.
yaitu sebesar 28%. Keterampilan proses sains di kelas
Baik pada kelas eksperimen maupun eksperimen meskipun persentasenya
pada kelas kontrol keterampilan masih belum sangat baik, tetapi dengan
berkomunikasi tergolong keterampilan menggunakan model pembelajaran
yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan berbasis proyek sudah mencakup sembilan
pada kelas eksperimen, siswa dituntut indikator keterampilan yang diinginkan,
untuk berlatih berkomunikasi di dalam berbeda halnya dengan kelas kontrol yang
kelas sehingga kemampuan menggunakan pembelajaran kovensional
berkomunikasinya berjalan dengan baik. belum memenuhi seluruh indikator
Menurut Rustaman dkk., (2007), keterampilan proses yang diinginkan. Pada
keterampilan proses sains dapat kelas kontrol ini hanya indikator
melibatkan keterampilan intelektual keterampilan observasi, klasifikasi,
dengan menggunakan pikirannya dalam interpretasi, berkomunikasi, menerapkan
kegiatan proses belajar mengajar. konsep dan mengajukkan pertanyaan yang
Selain itu kemampuan berkomunikasi muncul dalam proses pembelajaran
dipengaruhi oleh tahapan model sedangkan keterampilan prediksi,
pembelajaran berbasis proyek yang berhipotesis dan merencanakan percobaan
dimulai pada tahap pertama penyajian tidak terlihat dalam proses pembelajaran.
masalah, siswa telah dicoba untuk Indikator keterampilan proses sains
berperan aktif dalam menyampaikan pada kelas eksperimen dengan
ide/gagasan mereka mengenai materi menggunakan model pembelajaran
pembelajaran, di dukung juga tahap berbasis proyek nilai ketuntasan
keempat pembuatan proyek, keterampilan persentasenya masih tergolong rendah
komunikasi siswa makin terlihat karena karena disebabkan oleh berbagai faktor
seutuhnya siswa melakukan percobaan. diantaranya kekurangan waktu pada saat
Hal yang sama juga disampaikan oleh siswa ingin menyelesaikan permasalahan
Insyasiska dkk (2015), dalam yang ada, kekurangan biaya untuk
penelitiannya menyatakan bahwa memenuhi peralatan yang disediakan
pembelajaran proyek siswa dituntut untuk sehingga proyek yang dibuat tidak sesuai
dapat memberikan argumentasi terhadap yang diharapkan. Sedangkan pada kelas
pertanyaan-pertanyaan, dan memberikan kontrol faktor yang mempengaruhi tidak
kesimpulan yang bersifat deduktif dan munculnya beberapa indikator
induktif pada suatu masalah yang keterampilan proses sains dalam proses
diberikan. pembelajaran karena dalam pembelajaran
Sedangkan pada kelas kontrol kovensional di kelas tidak ada tahapan
keterampilan berkomunikasi tinggi pembelajaran yang menginstruksikan agar
dibandingkan indikator yang lainnya, siswa mandiri mencari ide untuk
karena pada proses pembelajaran ini siswa memecahkan permasalah, dan tidak
93
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
adanya tahapan merencanakan percobaan. Kelompok kelima dengan nilai 80,7
Berbeda halnya dengan kelas eksperimen mereka membuat kotak pensil dari botol
yang dalam tahapan model plastik bekas, plastik bungkus makanan
pembelajarannya berkaitan dengan dan pipet (membeli). Kelompok keenam
sembilan indikator keterampilan proses dengan nilai 73,0 tisu dari kardus bekas,
sains. lem, kain planel dan bungkus kado
Selain menggunakan lembar (membeli).
observasi juga dilakukan penilaian unjuk Proyek dari daur ulang limbah plastik
kerja pada kelas eksperimen, penilaian ini dan kaleng sebenarnya ada banyak sekali
dilakukan pada pertemuaan kedua, di kreasi dan bahan yang mudah diperoleh,
mana setelah siswa diinstruksikan untuk tetapi kendalanya karena penerapan model
mempersentasikan mengenai hasil ini pada tingkat MTs pemikiran dan
pembuatan proyek mereka, maka para wawasan ilmu mereka masih terbatas
observer diberi lembar penilaian unjuk sehingga wajar mereka hanya mampu
kerja. Pada kelas eksperimen ini siswa membuat proyek yang dihasilkan masih
dibagi kedalam enam kelompok yang sederhana. Manfaat yang dihasilkan dari
masing-masing kelompok memiliki dilakukan pembelajaran dengan
identitas sendiri, siswa mulai dari pembuatan proyek ini mereka akan mudah
penerapan model pembelajaran berbasis memahami konsep pembelajaran karena
proyek telah diinstruksikan untuk mereka seutuhnya melakukan dan mencari
melakukan pembuatan proyek dari daur informasi mengenai materi pembelajaran.
ulang limbah plastik dan kaleng. Rubrik Selain itu dengan adanya pembuatan
lembar unjuk kerja menilai mulai dari proyek daur ulang limbah plastik dan
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan kaleng akan memberikan kesadaran
tahapan hasil/produk. kepada siswa untuk tidak membuang
Berdasarkan penilaian keenam sampah limbah melainkan dapat di daur
kelompok diperoleh kelompok yang ulang dibuat dan bentuk menjadi berguna
memperoleh skor tertinggi kelompok satu dalam kehidupan sehari-hari.
yang memiliki nilai rata-rata 92,3 produk Berdasarkan hasil penilaian unjuk
yang mereka hasilkan berupa media kerja proses dan produk dapat diketahui
komponen biotik dan abiotik yang berasal bahwa keberlangsungan penggunakan
dari bahan bekas berupa plastik, batu model pembelajaran berbasis proyek pada
kerikil dan ikan-ikanan yang berasal dari kelas eksperimen telah berkriteria sangat
kardus bekas. Berbeda halnya dengan baik dan baik karena dilihat berdasarkan
kelompok yang lainnya mereka tidak penilaian mulai dari tahapan perencanaan,
seutuhnya menggunakan bahan bekas dari pelaksanaan dan hasil/produk total nilai
plastik dan kaleng seperti kelompok kedua mencapai ≥73,07. Artinya model
nilai rata-rata 86,5 mereka membuat bunga pembelajaran berbasis proyek bisa
dan kupu-kupu, yang berasal dari botol digunakan dalam kegiatan belajar dan
plastik, bungkus makanan, membeli kain mengajar di kelas.
planel dan pipet. Kelompok ketiga mereka Hal ini didukung oleh penelitian
membuat media sistem pernapasan Jagantra dkk (2014), yang menyatakan
sederhana dengan nilai 80,7 mereka bahwa selama mengerjakan proyek, siswa
menggunakan dari bahan yang semuanya dituntut untuk berperan aktif dalam
membeli yaitu pipet, balon dan selotip. berbagai kegiatan. Siswa secara langsung
Kelompok keempat dengan nilai 84, 6 dapat merencanakan kegiatan, pemecahan
membuat kontak pensil dari bahan kardus masalah dan komunikasi hasil kegiatan
bekas, lem dan bungkus kado (membeli). atau produk. Siswa memperoleh berbagai
94
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
pengalaman belajar dan pengembangan observasi menunjukkan skor rata-rata
keterampilan proses. keterampilan proses sains kelas
Menurut Holm (2011), metodologi eksperimen lebih tinggi 2,87 yang
berbasis proyek memberikan manfaat yang berkriteria baik sedangkan kelas kontrol
sangat diinginkan, namun penerapannya 1,73 dengan kriteria cukup. Keterampilan
menimbulkan beberapa kesulitan praktis proses sains dengan nilai paling tinggi
dalam konteks kelas Amerika saat ini. terlihat pada indikator keterampilan
Yang dibutuhkan adalah pendekatan berkomunikasi dan interpretasi yaitu
realistis yang mendorong guru untuk sebesar 29 %. Selain itu hasil posttest nilai
menggabungkan elemen pembelajaran rata-rata kelas eksperimen 78,4 dan kelas
berbasis proyek yang terbukti sukses ke kontrol nilai rata-ratanya 64,4.
dalam praktik kelas. Saran untuk penerapan model
Evaluasi ketercapaian materi pembelajaran berbasis proyek dapat
pengelolaan lingkungan dengan indikator diterapkan oleh guru untuk mengetahui
keterampilan proses sains dengan cara kemampuan keterampilan proses sains
diberikan posttest pada kelas eksperimen siswa, tetapi dalam persiapannya
dan kelas kontrol. Hasilnya nilai rata-rata membutuhkan banyak waktu supaya
kelas eksperimen 78,4 dan kelas kontrol pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
nilai rata-ratanya 64,4. Ini menunjukkan
bahwa pada kelas eksperimen ketuntasan
siswa pada pembelajaran lebih tinggi
dibandingkan kelas kontrol. Menurut Daftar Pustaka
Schneider (2005), hal ini terjadi karena Andana, E, G. Raga, & D. Nyoman, S.
pembelajaran berbasis proyek (2014). Pengaruh Model
mengajarkan siswa untuk kreatif, inovatif, Pembelajaran Berbasis Proyek
mengasah keterampilan dalam membuat Terhadap Hasil Belajar IPA. Jurnal
proyek, dan dapat meningkatkan kinerja Mimbar PGSD Universitas
siswa selama pembelajaran. Pendidikan Ganesha, Volume 2 (1):
Berdasarkan hasil analisis uji t 1-10.
tersebut diketahui bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara rata-rata Holm, M. (2011). Project-Based
Sehingga dapat dinyatakan bahwa rata-rata Instruction: A Review Of The
hasil belajar siswa menggunakan model Literature On Effectiveness In
pembelajaran berbasis proyek lebih tinggi Prekindergarten Through 12th Grade
dibanding dengan menggunakan diskusi Classrooms. River Academic
kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Journal, Volume 7 (2): 1-13.
Purba (2015), pada penelitiannya
menyatakan bahwa ada interaksi antara Insyasiska, D., Siti, Z & Herawati, S.
model pembelajaran dan pemahanaman (2015). Pengaruh Project Based
konsep terhadap keterampilan proses sains Learning Terhadap Motivasi
siswa. Belajar. Jurnal Pendidikan Biologi,
Volume 7 (1): 9-21.
Kesimpulan dan Saran
Jagantra, I., Putu, B. A dan Widiyanti.
Penerapan model pembelajaran (2014). Pengaruh Model
berbasis proyek berpengaruh signifikan Pembelajaran Berbasis Proyek
terhadap keterampilan proses sains. Hasili (Project Based Learning) Terhadap

95
Jurnal Pena Sains Vol. 4, No. 2, Oktober 2017 p-ISSN: 2407-2311
e-ISSN: 2527-7634
Hasil Belajar Biologi di Tinjau dari Tabany, T.I.B. (2014). Mendesain Model
Gaya Belajar Siswa SMA. e-Jurnal Pembelajaran Inovatif, Progresif
Program Pascasarjana Universitas Dan Konstektual. Jakarta:
Pendidikan Ganesha, Volume 8 (1): Prenadamedia Group.
1-8.
Mukminan. (2014). Strategi Menyiasati Thomas, J. W. & Mergendoller, J.R.
Pendidikan Abad 21 “Makalah (2000). A Review of Reseacrch on
Seminar Nasional Pendidikan Abad Project Based Learning. California:
21 Himpunan Mahasiswa Teknologi The Aoutodesk Foundation 111
Pendidikan Universitas Pendidikan Mclnnis Parkway San Rafael.
Indnesia. Bandung: UPI.
Wena, M. (2009). Strategi Pembelajaran
Purba, F.J. (2015). Pengaruh Model Inovatif Kontemporer. Jakarta:
Problem Based Learning (PBL) Bumi Aksara.
Dengan Pemahaman Konsep Awal
Terhadap Keterampilan Proses
Sains (KPS) Siswa SMA. Jurnal
Pendidikan Fisika, Volume 4 (2).

Ratna, M., Sahyar (2016). Peningkatan


Keterampilan Proses Sains
Mahasiswa Dengan Model Project
Based Learning Berbasis Pelatihan
Dalam Pembelajaran Fisika. Jurnal
Pendidikan Fisika Volume 5 (1): 58-
63.

Rustaman, N. Y, Soendjojo, D, Suroso, A.


D, Yusnani, A, Ruchji, S, Diana, R
dan Mimin, N.K. (2007). Strategi
Belajar Mengajar Biologi.
Bandung: JICA-UPI.

Schneider, D.K. (2005). Project Based


Learning. (Online). http://edutech
wikiunige.ch/en/Project_Based_Le
arning. Diakses Pada hari jumat, 26
Mei 2017 Pukul 19.02 WIB.\

Setyandari, K. (2015). Penerapan Metode


Project Based Learning Berbasis
Chemoentrepreneurship Pada
Materi Koloid Untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains Siswa
Kelas XI. (Skripsi). Semarang:
Universitas Negeri Semarang.

96