You are on page 1of 2

Artinya : Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-

sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan
malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan.

Artinya : Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur,
tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air
yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berfikir(Ar-Rodu’ : 4).
Ayat-ayat Al-Quran di atas cukup mengisyaratkan kepada kita manusia tentang kedudukan akal yang
menghasilkan pendapat dan pemikiran. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia selalu
berusaha untuk mendapatkan penjelasan dan ketetapan hukum peristiwa tertentu ysng tidak
disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah SAW. hadits yang
menerangkan dialog Nabi dengan Mu’adz bin Jabal cukup memperkuat mengenai kedudukan akal itu.
Perkembangan ijtihad di kalangan umat Islam mengalami pasang surut, bahkan menurut Tohir Luth
kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, dimana para ilmuwan muslim tidak banyak yang peduli
terhadap perkembangan ilmu, khususnya untuk menjawab tantangan zaman yang semakin mengglobal.
Padahal masalah-masalah yang harus segera dijawab sudah menumpuk dan semakin menggudang. Yang
lebih memprihatikan, mereka hanya berdebat di sekitar bahasan khilafiah yang tidak pernah berujung.
Salah satu sebabnya, menurut Haidar Bagir (1988 : 18), tidak semua orang bersepakat dalam
menetapkan penggolongan sumber hukum Islam kepada qat’iy dan dzanny, bahkan ada yang
berpendapat bahwa yang qat’iy pun masih mungkin diubah mengingat maqosidu syar’iy atau maqosid
at-tasyri’y (maksud-maksud hukum).
B. RUMUSAN MASALAH
Secara umum permasalahan yang dibahas dalam makalah ini berkaitan dengan ijtihad yang merupakan
salah satu upaya untuk memperoleh petunjuk dari Allah agar masyarakat yang menyimpang dari ajaran
yang benar dapat diluruskan menjadi berpedoman kepada ajaran yang diridhai oleh Allah yaitu
berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah.
Adapun permsalahan ini dapat dijabarkan dalam bentuk pertanyaan.
1. Apa yang dimaksud dengan ijtihad?
2. Bagaimana kedudukan Ijtihad
3. Syarat apa saja yang harus dimiliki seorang Mujtahid?
4. Apa saja tingkatan yang ada dalam Ijtihad?

C. TUJUAN
Sama dengan adanya rumuan masalah ijtihad ini adalah untuk dapat mengetahui :
1. Pengertian jtihad.
2. Untuk memahami kedudukan ijtihad.
3. Syarat-syarat mujtahid.
4. Tingkatan mujtahid.

D. MANFAAT
Manfaat dari makalah ini menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
ijtihad, sehingga dapat menggugah generasi muslim untuk memenuhi kriteria sebagai mujtahid. Pada sisi
lain, dengan pembahasan ini juga diharapkan bermanfaat untuk menunjukkan syi’ar Islam dan
peranannya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hukum Islam, membangkitkan semangat juang
menegakkan ajaran Islam dengan mengacu kepada sumber asalnya, karena sekalipun ijtihad merupakan
salah satu persoalan yang sudah lama ada, namun tetap urgen untuk dibahas dan dapat menyelesaikan
masalah aktual secara objektif dan ilmiah.

BAB II
IJTIHAD

Hukum Islam senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman atau waktu. Dengan
demikian Hukum Islam tidak bersifat statis dan tidak kaku, akan tetapi senantiasa diterapkan dalam
segala keadaan dan kondisi masyarakat, kapanpun dan dimanapun mereka berada.
Para Ulama sejak dahulu selalu berusaha mendalami hukum hukum yang terkandung dalam Al-Quran
dan As-Sunah yang kadang-kadang di antara mereka terdapat perbedaan paham dan pendapat dalam
menetapkan hukum yang mereka istimbatkan dari Al-Quran d