You are on page 1of 6

Misalkan ada suatu invetasi yang dibelanjai dengan 100% modal sendiri senilai Rp 150 juta.

Umur ekonomisnya 3 tahun, tidak mempunyai nilai sisa. Kalau penyusutan dilakukan dengan
metode garis lurus, maka penyusutan per tahunnya adalah Rp 50 juta. Taksiran laba rugi per
tahun adalah sebagai berikut :

Penghasilan Rp 200 juta


Biaya-biaya
Tunai Rp 80 juta
Penyusutan Rp 50 juta
Total biaya Rp 130 juta
Laba sebelum pajak Rp 70 juta
Pajak (50%) Rp 35 juta
Laba setelah pajak Rp 35 juta
Aliran Kas bersih/proceeds =
Rp 85 juta
(Rp 35 juta + 50 juta)
Perhitungan di atas adalah benar apabila pengakuan terhadap biaya dan penghasilan menurut
akuntansi tidak banyak berbeda dengan terjadinya pengeluaran dan penerimaan kas.

Sekarang kalau misalkan proyek tersebut dibelanjai dengan 100% pinjaman (contoh ini hanya
untuk menyederhanakan saja, karena mungkin tidak pernah ada proyek yang dibelanjai dengan
100% pinjaman). Katakana bahwa bunga pinjaman adalah 20% per tahun. Taksiran laba rugi
menjadi sebagai berikut :

Penghasilan Rp 200 juta


Biaya-biaya
Tunai Rp 80 juta
Penyusutan Rp 50 juta
Rp 130 juta
Laba sebelum bunga dan pajak Rp 70 juta
Bunga Rp 30 juta
Laba sebelum pajak Rp 40 juta
Pajak (50%) Rp 20 juta
Laba setelah pajak Rp 20 juta
Proceeds = laba setelah pajak + penyusutan

= Rp 20 juta + 50 juta

= Rp 70 juta
Dengan memperhatikan rumus tersebut maka :

Proceeds = Rp 15 juta + Rp 50 juta + 40 juta (1 – 0,50)

= Rp 85 juta

Perhatikan bahwa hasil perhitungan tersebut, yaitu Rp 85 juta, adalah sama dengan hasil
yang diperoleh kalau menganggap investasi tersebut dibelanjakan dengan modal sendiri. Kalau
misalnya investasi tersebut dibelanjai dengan 50% hutang dan 50% utang sendiri, maka kalau
digunakan cara tersebut diatas, aliran kas masuk bersihnya juga tetap Rp 85 juta.

Penaksiran aliran kas bersih semacam ini terutama penting, kalau investasi nantinya
dihubungkan dengan biaya modal (cost of capital). Kalau biaya bunga dikurangkan terlebih
dahulu dalam menghitung aliran kas, dan kemudian dipergunakan biaya modal dalam
perhitungan layak tidaknya suatu usulan investasi, maka akan terjadi perhitungan ganda (double
accounting). Pertama waktu mengurangkan bunga pada laba, kedua pada waktu menggunakan
tingkat bunga sebagai biaya modal untuk menilai layak tidaknya suatu investasi.

Contoh Kasus 1

Suatu proyek memerlukan investasi sebesar Rp 2.000 juta, dan ditaksir memberikan kas
masuk bersih sebesar Rp 400 juta setiap tahun. Investasi sebesar Rp 2.000 juta tersebut terdiri
dari aktiva tetap yang ditaksir berusia ekonomis 8 tahun sebesar Rp 1.600 juta, dan modal kerja
sebesar Rp 250 juta. Misalkan aktiva-aktiva tetap tersebut ditaksir mempunyai nilai sisa Rp 80
juta pada akhir tahun ke 8. Akan tetapi, dengan adanya proyek tersebut mengakibatkan
berkurangnya penjualan dari produk lama sehingga menyebabkan penurunan aliran kas produk
lama sebesar Rp 60 juta per tahun. Dengan demikian taksiran aliran kas adalah sebagai berikut :

Dalam juta rupiah

Initial cash flow Rp 2,000


Operational cash flow (tahun ke-1 s/d
ke-8) per tahun (Rp 400 juta - Rp 60 juta) Rp 340
Terminal cash flow
Modal kerja Rp 250
Nilai sisa Rp 80
Rp 330

Contoh 2

Misalkan suatu perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengganti mesin lama dengan
mesin baru yang lebih efisien. Nilai buku mesin lama adalah Rp 100 juta dan masih bisa
dipergunakan dalam 5 tahun lagi, tanpa nilai sisa. Mesin baru harganya Rp 140 juta dengan umur
ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. Anggap perusahaan menggunakan penyusutan dengan metode
garis lurus. Kalau mesin baru dipakai perusahaan bisa menghemat biaya operasi tunai per tahun
sebesar Rp 30 juta. Misalkan mesin lama kalau dijual saat ini masih laku Rp 100 juta, tariff pajak
yang dkenakan, baik untuk laba operasional maupun capital gains, sebesar 25%. Bagaimana
penaksiran aliran kasnya ?

Penyelesaian :

Penaksiran aliran kas yang digunakan adalah dengan menggunakan taksiran selisih
(incremental). Berikut adalah taksiran aliran kasnya :

Dalam juta rupiah

Net cash flow pada awal investasi Rp 40


Tambahan keuntungan karena
penghematan biaya operasional Rp 30
Tambahan penyusutan
Mesin lama Rp 28
Mesin baru Rp 20
Jumlah Rp 8
Tambahan laba sebelum pajak Rp 22
Tambahan pajak Rp 6
Tambahan laba setelah pajak Rp 17
Tambahan kas masuk bersih Rp 25
(Rp 17 juta + 8 juta)

Contoh 3

Suatu perusahaan transportasi akan membuka divisi baru, yaitu divisi taksi. Divisi akan dimulai
dengan 50 buah taksi, dan karena akan dipergunakan untuk usaha taksi, mobil-mobil tersebut
dapat dibeli dengan harga Rp 400 juta per unit. Ditaksir usia ekonomis selama 4 tahun dengan
nilai sisa sebesar Rp 50 juta per unit. Untuk mempermudah analisis dipergunakan metode
penyusutan garis lurus.

Taksi tersebut akan dioperasikan selama 300 hari dalam setahun, setiap hari pengemudi
dikenakan setoran Rp 500.000. Berbagai biaya tunai seperti penggantian ban, kopling, rem,
penggantian oli, biaya perpanjangan STNK, dan sebagainya ditaksir sebesar Rp 4.000.000 per
unit taksi. Perusahaan dikenakan 30%. Tingkat keuntungan yang disyaratkan 15%. Berdasarkan
informasi tersebut apakah pembukaan divisi taksi ini layak ?

Taksiran rugi laba per tahun


Penghasilan : 300 x 50 x Rp 500.000 Rp 7.500,00 juta
Biaya - biaya :
Tunai (50 x Rp 4 juta) Rp 200,00 juta
Penyusutan (50 x Rp 112,5 juta) Rp 5.625,00 juta
Total biaya Rp 5.825,00 juta
Laba operasi Rp 1.675,00 juta
Pajak (30%) Rp 502,50 juta
Laba setelah pajak Rp 1.172,50 juta

Operational cash flow per tahun = Rp 1.172,50 juta + Rp 5.625,00 juta = Rp 6.797,50 juta

Pada tahun ke 4 aliran kas masuk karena nilai sisa sebesar 50 x Rp 50 juta = Rp 2.500 juta
(terminal cash flow)

Dengan demikian aliran kas dari investasi tersebut diperkirakan sebagai berikut :
Tahun Kas keluar Kas masuk
0 Rp 20.000,00 juta -
1 - Rp 6.797,50 juta
2 - Rp 6.797,50 juta
3 - Rp 6.797,50 juta
4 - Rp 6.797,50 juta
Rp 2.500,00 juta

Payback Period

Investasi awal Rp 20.000,00 juta


Proceed tahun 1 Rp 6.797,50 juta
Sisa Investasi tahun 2 Rp 13.202,50 juta
Proceed tahun 2 Rp 6.797,50 juta
Sisa investasi tahun 3 Rp 6.405,00 juta
Karena pada tahun ke 4 kas masuk bersih Rp 6.797,50 juta, maka sisa sebesar Rp 6.405,00 juta
diharapkan akan kembali dalam waktu : (6.405/6.797,5 x 12 bulan) = 11,30 bulan. Dengan
demikian periode payback investasi ini adalah 2 tahun 11,30 bulan.

Net Present Value (NPV)

6.797,50 2.500
NPV = (1+0,15)4 + (1+0,15)4 - 20.000

= 6.797,5 (2,8550) + 2.500 (0,5718) – 20.000

= 20.836,36 – 20.000

= 836,36

Jadi NPV positif sebesar Rp 836,36 juta, maka investasi ini menguntungkan atau dapat
dilaksanakan.

Profitability Index (PI)

20.836,36
PI = = 1,0418
20.000

Karena PI > 1 maka investasi dapat diterima.

Internal Rate of Return (IRR)


Pada tingkat bunga 15%

PV penerimaan positif sebesar Rp 20.836,36

PV penerimaan pada tingkat bunga 17% :

6.797,5 2.500
PV = (1+0,13)4 + (1+0,13)4

= 6.797,5 (2,7432) + 2.500 (0,5337)

= 18.646,90 + 1.334,25

= 19.981,15

836,36
IRR = 15 + 20.836,36−19.981,15 x 17-15

= 15 + 1,95

= 16,95

Karena IRR > dari tingkat keuntungan yang disyaratkan (15%) maka investasi diterima.