You are on page 1of 4

PERAN GURU & SISWA DALAM BELAJAR TUNTAS (MASTERY

LEARNING) KAITANNYA KURIKULUM 2013

Kurnia .A.P, Nurul .A.H, Dwi .S.B, NP. Sri Ramadani .A, Resky .A.S, Nurhasanah
Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Makassar

I. PENDAHULUAN
Dalam mengimplementasikan kurikulum di kegiatan pembelajaran, guru
harus memahami dan menguasai isi yang tertuang dalam kurikulum tersebut, untuk
itu guru harus mempersiapkan diri terhadap perubahan kurikulum pembelajaran(1).
Menurut Mulyas (2008) dalam (Febrita dkk, 2017), guru sebagai perancang
pembelajaran, guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, dan guru sebagai
evaluator.
Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia
yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin
dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik Sekolah
Menengah Atas (SMA). Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam
pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih
banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik.
Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang
bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level)
terhadap kompetensi tertentu(3).
Mastery learning merupakan pendekatan/strategi pembelajaran yang dapat
dilaksanakan di dalam kelas, dengan tujuan agar sebagian besar siswa dapat
menguasai tujuan pembelajaran (kompetensi) secara tuntas(2).

II. ISI
Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai
salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis
kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami
dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah. Untuk itu
perlu diketahuinya peran guru dan siswa tentang bagaimana pembelajaran tuntas
seharusnya dilaksanakan(3).
PERAN GURU
Menurut Kunandar dalam (Ilmi, 2016), strategi pembelajaran tuntas
(mastery learning) menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam
mendorong keberhasilan siswa secara individual. Pendekatan yang digunakan
mendekati model Personalized System Of Instruction (PSI) seperti dikembangkan
oleh Keller, yang lebih menekankan pada interaksi siswa dengan materi/objek
belajar. Karena itu, peran guru dalam pelaksanaan mastery learning dalam
pembelajaran lebih diintensifkan dalam hal-hal berikut: (a)
menjabarkan/memecahkan Kompetensi Dasar ke dalam satuan-satuan yang lebih
kecil (cremental units) dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya, (b)
mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD, (c) menyajikan materi
pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi, (d) memonitor seluruh pekerjaan
siswa, (e) menilai perkembangan siswa dalam pencapaian kompetensi, (f)
menggunakan teknik diagnostik, dan (g) menyediakan sejumlah alternatif strategi
pembelajaran bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar (disability to learn)(4).
PERAN SISWA
Menurut Kunandar dalam (Ilmi, 2016), Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang berorientasi pada kompetensi sangat menjunjung tinggi
dan menempatkan peran siswa sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran
bukan pada “guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada “siswa dan yang
akan dikerjakannya”. Oleh sebab itu, pembelajaran tuntas (mastery learning)
memungkinkan siswa lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang
diperlukan. Artinya, siswa diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan
pencapaian kompetensinya. Kemajuan siswa sangat bertumpu pada usaha serta
ketekunannya secara individual dalam mengikuti pembelajaran(4).

III. PENUTUP
Keberhasilan suatu kurikulum yang diterapkan pada pembelajaran tidak
terlepas dari peran seorang guru didalamnya. Dalam pembelajaran tuntas, guru
merupakan figur utama dalam pelaksanaaan pembelajaran. Pembelajaran tuntas
(mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah
pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara
tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu.
Peranan guru disini hanya memberikan hanya memberikan pengarahan kepada siswa
mengenai teknis pelaksanaannya serta memberikan penjelasan apabila ada siswa yang tidak
memahami tujuan kompetensi. Sedangkan, siswa diberikan kebebasan dalam menetapkan
kecepatan pencapaian kompetensinya(5).

DAFTAR PUSTAKA
(1)
Ardianingsih, Febrita., Siti Mahmudah dan Edy Rianto. 2017. PERAN GURU
DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN
KHUSUS PADA SEKOLAH LUAR BIASA DI SIDOARJO. Jurnal
Pendidikan, Vol. 2, No. 1, Hlm 14-20, e-ISSN: 2527-6891. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.
(2)
Bustami., Yusrizal dan Adlim. 2016. PENGEMBANGAN PENDEKATAN
BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING) DENGAN POLA
KELOMPOK REMEDIAL UNTUK MENINGKATKAN
KETUNTASAN DAN MOTIVASI BELAJAR FISIKA PADA SISWA
SMPN 2 SAKTI KABUPATEN PIDIE. Jurnal Pendidikan Sains
Indonesia, Vol. 04, No.02, Hlm 1-5. Aceh: jurnal.unsyiah.ac.id.
(3)
Rinata, Pandu. 2016. Artikel Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning).
http://sditattaqwim.sch.id/index.php?id=artikel&kode=43, diakses pada
tanggal 3 Maret 2018.
(4)
Suciana, Ilmi. 2016. PENERAPAN STRATEGI BELAJAR TUNTAS
(MASTERY LEARNING) UNTUK PENCAPAIAN STANDAR
KOMPETENSI DALAM PELAJARAN EKONOMI DI SMA IT
YAPIRA MEDANG KABUPATEN BOGOR. SKRIPSI. Jakarta:
Universitas Islam Negeri (UIN).
(5)
Sudin, Ali. 2014. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: UPI PRESS.
Disusun oleh Kelompok 3:
1. Kurnia Adiati Putri (1414440003)
2. Nurul Annisa Husain (1414441008)
3. Dwi Septiani Baharsyah (1514440006)
4. NP. Sri Ramadani Alam (1514040007)
5. Resky Amaliah Sapa (1514040011)
6. Nurhasanah (1514042013)