You are on page 1of 74

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (HAKK 601)

PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUAN GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) PT.H3I BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Obyek Khusus :

PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN BALOK LANTAI SATU

OLEH : TOPAN PRADIGJA MUHAMMAD ADHIYATNA H1B114218 H1B114219
OLEH :
TOPAN PRADIGJA
MUHAMMAD ADHIYATNA
H1B114218
H1B114219

Dosen Pembimbing :

PAKHRI ANHAR, MT

PROGRAM STUDI S1 ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2018

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik

laporan Praktek Kerja Lapangan ini dengan judul “ Pelaksanaan Pengerjaan Plat Lantai

lantai satu dalam bangunan dan Balok lantai lantai satu Pada Proyek Pembangunan Gedung MSC (MAIN STATION CONTROL) PT.H3I Banjarmasin, Provinsi

Kalimantan Selatan”. Serta tidak lupa shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW yang

telah menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk tugas mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (HAKK 601) dan bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan praktek kerja lapangan selama 60 hari kalender kerja dengan objek khusus Pengerjaan Plat Lantai lantai satu dalam bangunan dan pengerjaan Balok Lantai lantai satu yang terhitung dari tanggal 9 Maret 2017 (2 bulan) dihitung sesuai dengan daftar hadir di proyek.

Dengan melaksanakan praktek kerja lapangan ini, mahasiswa mendapat serangkaian kemampuan yang berkenaan dengan aktivitas nyata pada dunia kerja lapangan atau dunia usaha selain teori yang didapat di perkuliahan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  • 1. Bapak Nurfansyah, MT selaku Ketua Jurusan S1 Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

  • 2. Bapak DR. Bani Noor Muchammad selaku dosen koordinator mata kuliah Praktek Kerja Lapangan.

  • 3. Bapak Pakhri Anhar, MT. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan banyak arahan dalam proses penyusunan laporan ini.

  • 4. PT. MANDIRI KARYA UTAMA RIZKY (Persero) selaku kontraktor yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan data/dokumen proyek Pembangunan Gedung Main Service Control (MSC) PT.H3I Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • 5. Bapak AULIA RAHMAT dan Bapak HENDRA selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan banyak arahan selama di lapangan.

6.

Seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek Pembangunan gedung MSC (MAIN STATION CONTROL) PT.H3I Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, Amin.

Banjarbaru,

Maret 2018

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

: PELAKSANAAN PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN BALOK LANTAI DALAM BANGUNAN

PADA

: PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) PT.H3I BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN TAHUN ANGGARAN 2016/2017 OBJEK KHUSUS PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN BALOK LANTAI DALAM BANGUNAN

PENYUSUN

:

  • 1. TOPAN PRADIGJA

H1B114218

  • 2. MUHAMMAD ADHIYATNA

H1B114219

Banjarbaru,

Maret 2018

Pembimbing Praktek Kerja Lapangan,

Koordinator Praktek Kerja Lapangan,

Pakhri Anhar, MT

Dr. Bani Noor Muchammad

  • 196004081988031004 NIP. 197204301997031003

Ketua Program Studi Arsitektur

Nurfansyah, MT NIP. 197312222005011002

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

iv

DAFTAR ISI

v

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR TABEL

ix

BAB I

1

PENDAHULUAN

1

  • 1.1 Latar Belakang

1

  • 1.2 Tujuan Dan Sasaran

1

  • 1.3 Waktu Pelaksanaan

2

  • 1.4 Lingkup Kerja Praktik

2

  • 1.5 Sistematika Penulisan

3

BAB II

5

TINJAUAN PROYEK ......................................................................................................

5

  • 2.1 Data Umum Proyek .............................................................................................

5

  • 2.2 Lingkup Pekerjaan Keseluruhan

........................

Error! Bookmark not defined.

  • 2.3 Hubungan Kerja dan Tanggung Jawab

...............................................................

8

  • 2.4 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

9

  • 2.5 Tinjauan Umum Pekerjaan Proyek

....................

Error! Bookmark not defined.

BAB III

10

TINJAUAN TEORI

10

  • 3.1 Uraian

10

  • 3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

10

  • 3.3 Dasar-Dasar Perencanaan

21

  • 3.4 Teori -Teori

21

3.5

Manajemen Proyek

Error! Bookmark not defined.

BAB IV

30

PEMBAHASAN

30

4.1

Umum

30

4.3

Pengendalian Material

36

4.4

Peralatan

42

4.5

Pengamatan Proses Pelaksanaan/ Pengerjaan

48

4.6

Pekerjaan Balok Dan Pelat Lantai

49

BAB V

61

 

PENUTUP

61

5.1

Kesimpulan Umum

61

5.2

Kesimpulan Khusus

62

DAFTAR PUSTAKA

64

 

LAMPIRAN

65

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Bagan Struktur Organisasi Proyek

9

Gambar 2 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

9

Gambar 3 syarat khusus tangga

24

28

Gambar 5 pondasi batu kali

29

Gambar 6 Tahapan Penyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)Error!

Bookmark

not

defined.

Gambar 7 Network Planning

Error! Bookmark not defined.

Gambar

8

31

Gambar 9 proses pembentukan besi beugel

31

Gambar 10 perakitan besi dan bekisting

32

Gambar 11 perakitan besi plat lantai

32

Gambar 12 pengecekan dan pembersihan

33

 

Gambar 13 pengecoran

33

Gambar 14 tesslamp k-250

34

Gambar

15

34

 

35

Gambar 17 pekerjaan pengecoran lantai dua

35

Gambar 18 perawatan beton pasca pengecoran pada lantai dua

35

Gambar 19 mesin injection

40

Gambar 20 proses pemasukan adonan cor beton kedalam mesin injection

41

Gambar 21 proses pengarahan pipa adonan cor beton kedalam bekisting

41

Gambar

22

42

Gambar 23 pengangkutan corbeton meggunakan gerobak sorong

42

Gambar 24 Gergaji Kayu

43

 

Gambar 25 Water Pass

43

Gambar

26

44

Gambar 27 Jangka Sorong

44

 

Gambar 28 Meteran

45

Gambar 29Potong Besi Duduk

45

Gambar

46

Gambar 31 Pengikat bendrat

46

 

Gambar 32 Vibrator

47

Gambar 33 Kasutan

47

Gambar 34 galam sebagai balok bagian bawah bekisting

................................................

50

Gambar 35 balok kayu kasau 5/7

50

51

Gambar 37 pemasangan bondek pada lantai dua msc

52

Gambar

53

Gambar 39 pemasangan spacer

53

Gambar 40 proses pemasangan tahu beton pada bagian bawah

54

Gambar 41 pembersihan lokasi pengecoran

54

Gambar 42 vibrator

55

55

56

57

57

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tinggi (h) balok non praktekan atau pelat satu arah bila tidak dihitung

22

Tabel 3 Kurva Pekerjaan Pondasi

Error! Bookmark not defined.

 

58

ix

  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Dalam proses pembangunan suatu bangunan ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan serta melibatkan berbagai pihak dengan kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka masing- masing, hingga bangunan tersebut siap untuk digunakan. Mahasiswa juga dipersiapkan untuk dapat berpikir secara kritis dan memiliki daya tanggap yang lebih baik dalam mengikuti segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi guna memahami dan dapat menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan pekerjaan konstruksi sangat menarik untuk diamati karena sedikit banyaknya mencerminkan penampakan visual nilai arsitektural dari suatu bangunan terutama dari penyelesaian detail, baik itu detail struktural maupun detail arsitektural. Kualitas bangunan juga dipengaruhi oleh kecermatan dan ketepatan dalam memilih material yang sesuai, ekonomis, dan efisien. Tingkat kerumitan dari pekerjaan konstruksi menurut waktupun relatif lebih lama dibandingkan dengan pelaksanaan pekerjaan jasajasa lainnya. Untuk mencapai hasil yang sesuai dengan perencanaan, dituntut pelaksanaan pekerjaan yang benar-benar teliti dari segi struktur, konstruksi, estetika serta kualitas yang tercipta. Dengan meminimalkan kesalahan yang terjadi dan memperbaikinya apabila terjadi, untuk mencapai pekerjaan yang efisien dalam waktu, tenaga, maupun biaya, Selain itu, efisiensi ini dimaksudkan untuk mencegah kerugian yang terjadi. Agar semua pekerjaan konstruksi tersebut tepat dan sesuai perencanaan maka penulis selaku praktikan dan mahasiswa teknik arsitektur merasa perlu untuk melaksanakan kerja praktik di lapangan, karena sebagai calon arsitek juga harus mengerti proses pekerjaan pembangunan di lapangan. Dari kerja praktik di lapangan inilah dapat diketahui apakah semua yang telah dipelajari di kampus serta dari literatur-literatur yang ada sesuai dengan yang terjadi selama proses pembangunan di lapangan.

  • 1.2 Tujuan Dan Sasaran

    • 1.2.1 Tujuan Kerja Praktik

Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktik adalah :

  • 1 Sebagai syarat pengajuan untuk mengikuti mata kuliah wajib Kerja Praktik dan menempuh ujian akhir Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.

  • 2 Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswa.

  • 3 Mahasiswa mampu memahami, mengerti dan membandingkan ilmu dalam bentuk teori dan ilmu dilapangan.

  • 4 Menambah pengalaman mahasiswa dalam dunia kerja, khususnya proyek konstruksi.

  • 5 Meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara perguruan tinggi, pemerintah dan perusahaan.

1.2.2

Sasaran

Melalui mata kuliah Praktik Kerja Lapangan ini diharapkan mahasiswa dapat:

  • 1. Membuat laporan Praktik Kerja Lapangan yang baik dan benar sesuai dengan obyek pengamatan.

  • 2. Memahami dalam mengamati pelaksanaan proses kerja pelaksanaan pada suatu proyek pembangunan dan menambah pengetahuan di luar teori-teori yang diajarkan dalam perkuliahan.

  • 3. Administrasi yang semuanya akan dilaporkan dalam bentuk laporan praktik kerja lapangan

1.3 Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan pada Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin adalah dua bulan terhitung sejak tanggal 2 Maret Mei 2017. Pada rentang waktu tersebut merupakan waktu dilaksanakannya pengerjaan dengan sub bidang pengamatan.

  • 1. Pengerjaan plat lantai dalam bangunan

  • 2. Pengerjaan balok lantai dalam bangunan

1.4 Lingkup Kerja Praktik

Batasan-batasan yang dibahas pada penulisan laporan kerja praktik kali ini mencakup pembahasan mengenai lokasi dan perusahaan tempat proyek pembangunan, materi-materi pengamatan, serta waktu pengamatan.

1.4.1

Lingkup Materi Pembahasan

Kerja praktik kali ini dilaksanakan pada proyek pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin yang terletak di jalan A Yani km 5,5 Banjarmasin. Adapun hasil dari pengamatan di lapangan tersebut meliputi beberapa proses pekerjaan seperti pengerjaan plat lantai dan balok lantai.

  • 1.4.2 Batasan Kerja Praktik

Praktik Kerja Lapangan merupakan salah satu mata kuliah wajib yang kegiatannya dilaksanakan maksimal 2 (dua) orang mahasiswa dalam satu kelompok dengan satu pokok bahasan/judul, dan telah memnuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pedoman Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan. Kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kerja, dinyatakan dalam daftar hadir yang disetujui oleh site manager dan diketahui oleh Piminan Perusahaan yang bersangkutan. Tempat pelaksanaan Kerja Praktik ini ialah pada Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin di jalan A.Yani Km. 5,5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan PT. MANDIRI KARYA UTAMA RIZKY selaku Civil Work dari Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin ini.adapun batasan obyek pengamatan ialah pada Pengerjaan Plat Dan Balok Lantai pada Bangunan.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada Laporan Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut :

BAB 1

PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang pemilihan objek Praktek Kerja Lapangan, lingkup dan batasan Praktek Kerja Lapangan, tujuan dan sasaran Praktek Kerja Lapangan, serta sistematika penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan.

BAB 2

TINJAUAN PROYEK

Mendeskripsikan tentang perusahaan tempat praktikan melaksanakan pengamatan, proyek yang dimaksud, lingkup pekerjaan maupun perjanjian-perjanjian pekerjaan, struktur organisasi proyek, serta tinjauan tentang dasar-dasar atau landasan teoritis tentang pekerjaan arsitektur yang berkaitan dengan pekerjaan struktur konstruksi.

BAB 3

TINJAUAN TEORI

Bab ini berisi kajian pustaka berupa teori - teori dan metode - metode dari literatur - literatur tentang supervisi lapangan, adminsitrasi lapangan, dan metode pelaksanaan pengamatan pelaksanan Pengerjaan Plat Lantai dan Balok Lantai dalam bangunan.

BAB 4

PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang metode dan teknik pelaksanaan, proses pelaksanaan (administrasi dan teknis) serta hasil pengamatan mengenai pelaksanaan Pengerjaan Plat Lantai dan Balok Lantai dalam bangunan.

BAB 5

PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan setelah melakukan pembandingan dan saran yang dapat diajukan bagi pihak - pihak yang terkait

BAB II TINJAUAN PROYEK

  • 2.1 Data Umum Proyek

Data umum proyek pembanguna gedung MSC Banjarmasin.

Nama Proyek

Alamat

:

Pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin, Kalimantan Selatan

: Jalan Ahmad Yani km 5,5 Banjarmasin

Titik Koordinat

: 3.34395ºLS, 114.623ºBT,55 mdpl

Pemilik/Owner

: PT. Hutchison 3 Indonesia + PT. Huawei Tech Investment

Pemberi Tugas

Konsultan Pengawas

:

PT.

Hutchison

3

Indonesia

+

PT.

Huawei

Tech

Investment

 

: PT. Handasa

Kontraktor

: PT. Mandiri Karya Utama Rizky

Luas Bangunan

: ± 600 m²

Luas Area

: ± 804 m²

Tgl. Kontrak

: 05 Desember 2016

No. Kontrak

: 1091204084_2

Nilai Kontrak

:

Rp. 5.257.685.526 (Lima Miliyar Dua Ratus Lima Puluh Tujuh Juta Enam Ratus Delapan Puluh Lima Ribu Lima Ratus Dua Puluh Enam Rupiah)

Waktu Pelaksana

Masa Pemeliharaan

: 180 Hari

: 360 Hari

  • 2.1.1 Pemilik Proyek

Pemilik proyek atau pemberi tugas adalah orang atau badan yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut. Pemberi tugas dalamsurat perjanjian pemborongan adalah sebagai pihak pertama dan dapat mengambil keputusan sepihak untuk mengambil keputusan sepihak untuk mengambil alih pekerjaan yang dilakukan, dengan cara menulis surat kepada kontraktor apabila terjadi hal-hal diluar kontrak yang ditetapkan dalam undang-undang didalam surat perjanjian kerja (SPK). Pemberi tugas juga berwwenang untuk memberitahukan hasil lelang secara tertulis kepada kontraktor.

Tugas dan wewenang pemilik proyek adalah :

  • 1. Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontraktor).

  • 2. Meminta laporan secara periodik mengenai pelaksanaan pekerjaan yang telah di lakukan oleh penyedia jasa.

  • 3. Memberikan fasilitas baik secara sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh pihak penyedia jasa untuk kelancaran pekerjaan.

  • 4. Menyediakan lahan untuk tempat pelaksanaan pekerjaan.

5.

Menyediakan dana dan kemudian membayar kepada pihak penyedia jasa sejumlah biaya yang

diperlukan untuk mewujudkan sebuah bangunan.

  • 6. Ikut mengawasi jalannya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan cara menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang untuk bertindak atas nama pemilik.

  • 7. Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan oleh penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan apa yang dikehendaki.

  • 8. Memberikan hasil lelang secara tertulis kepada masing-masing penyedia jasa.

  • 9. Dapat mengambil alih pekerjaan secara sepihak dengan cara memberitahukan secara tertulis kepada kontraktor jika telah terjadi hal-hal diluar kontrak yang ditetapkan.

  • 2.1.2 Kontaktor Pelaksana

Kontraktor Pelaksana adalah pihak yang ditunjuk oleh pemilik proyek (owner ) untuk melaksanakan pekerjaan proyek. kontraktor pelaksana dapat berupa badan usaha atau perorangan. perlu sumber daya manusia yang ahli dibidangnya masing-masing seperti teknik sipil, arsitektur, mekanikal elektrikal, listrik dan lainlain sehingga sebuah bangunan dapat dibangun dengan baik dalam waktu cepat dan efisien.

Pada Proyek Pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini yang bertindak sebagai Kontraktor pelaksana adalah PT. MANDIRI KARYA UTAMA RIZKY

  • 2.1.3 Nilai Proyek

Nilai Proyek merupakan besarnya dana yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu bangunan proyek dari awal hingga selesai, termasuk segala pengeluaran kontraktor beserta pajak pajak dan biaya lainnya. Nilai Proyek Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin, Kalimantan Selatan berdasarkan nilai kontrak adalah sebesar Rp. 5.257.685.526

  • 2.1.4 Luas Bangunan Yang Diamati

Pada proyek pembangunan Gedung MSC Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Akan dibangun MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin dengan 3 bangunan pendukung dan bangunan utamanya memiliki 2 lantai, dengan rincian seperti berikut :

Lantai 1

: Direncanakan untuk tempat MCS Room (Lantai 1 & Power Room

Lantai 2

: Direncanakan sebagai MSC Office Room

  • 2.1.5 Jangka Pelaksanaan Konstruksi Untuk jangka pelaksanaan konstruksi Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station

Control) di jalan Ahmad Yani km 5,5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan berdasarkan kontrak kerja

adalah 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender dan waktu pemeliharaan adalah 360 (Tiga Ratus Enam Puluh) hari kalender.

  • 2.2 Hubungan Kerja dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah proyek perlu dijalin hubungan kerja yang baik. Hubungan kerja adalah hubungan antara pihak-pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pelaksanaan dan wewenang untuk menjamin kelancaran jalannya proyek, sehingga proyek dapat selesai tepat pada waktunya. Pengerjaan suatu pembangunan diharuskan untuk berpedoman pada suatu ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang telah dibuat berasarkan peraturan pemerintah. Secara garis besar pola hubungan kerja, diatur sebagai berikut :

  • a. Hubungan kerja pemberi tugas dengan konsultan perencana,

    • 1. Ikatan : kontrak

    • 2. Perencana menyerahkan jasa/karya perencanaan kepada pemberi tugas

    • 3. Pemberi tugas memberikan biaya perencanaan kepada perencana

      • b. Hubungan kerja pemberi tugas dengan kontraktor,

        • 1. Ikatan : kontrak

        • 2. Kontraktor menyerahkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas

        • 3. Pemberi tugas menyerahkan biaya pelaksanaan pekerjaan kepada kontraktor

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) BANJARMASIN

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PROYEK GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) BANJARMASIN Gambar 1 Bagan Struktur Organisasi Proyek

Gambar 1 Bagan Struktur Organisasi Proyek (Sumber: Data Proyek, 2017)

  • 2.3 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai Struktur Organisasi Pelaksanaan untuk Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) Banjarmasin, Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PROYEK GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) BANJARMASIN Gambar 1 Bagan Struktur Organisasi Proyek

Gambar 2 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

Sumber : (PT. MKUR, 2017)

  • 3.1 Uraian Umum

BAB III

TINJAUAN TEORI

Konstruksi suatu bangunan adalah suatu kesatuan dan rangkaian dari beberapa elemen yang direncanakan agar mampu menerima beban dari luar maupun berat sendiri tanpa mengalami perubahan bentuk yang melampaui batas persyaratan. Pada perencanaan suatu konstruksi bangunan gedung diperlukan beberapa landasan teori berupa analisa struktur, ilmu tentang kekuatan bahan serta hal lain yang berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia. Ilmu teoritis di atas tidaklah cukup karena analisa secara teoritis tersebut hanya berlaku pada kondisi struktur ideal sedangkan gaya- gaya yang dihitung hanya merupakan pendekatan dari keadaan yang sebenarnya atau yang diharapkan terjadi. Perencanaan dari konstruksi bangunan juga harus memenuhi berbagai syarat konstruksi yang telah ditentukan yaitu kuat, kaku, bentuk yang serasi dan dapat dilaksanakan dengan biaya yang ekonomis tapi tidak mengurangi mutu bangunan tersebut, sehingga dapat digunakan sesuai dengan fungsi utama yang diinginkan oleh perencana.

  • 3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan Balok dan Plat Lantai

Pekerjaan balok dan plat lantai dilakukan pengukuran di lapangan bersamaan dengan persiapan bekisting dan persiapan tulangan dan dilakukan pabrikasi, kemudian hasil pengukuran dilapangan di cek dengan gambar apakah sudah sesuai apabila tidak sesuai dilakukan kembali pengukuran dan apabila telah sesuai dilakukan pemasang bekisting dan kembali di cek apakah bekisiting tersebut telah sesuai atau belum, apabila belum sesuai dilakukan perbaikan pada

bekisting dan apabila telah sesuai dengan rencana dilanjutkan dengan pemasangan besi tulangan dan di setelah di pasang pembesian di lakukan pengecekan pada tulangan apakah sudah sesuai dengan rencana atau tidak, apabila tidak sesuai besi dilakukan perbaikan dan apabila sudah sesuai dengan rencana dilanjutkan dengan pekerjaan pembersihan, dan setelah bersih dilakukan pengecoran, dan dilanjutkan dengan pekerjaan curing, setelah umur mencukupi bekisting di bongkar. Rangkaian pekerjaan balok dan plat lantai dapat dilihat pada diagram alur pada Gambar

3.

gambar 3 Flowchart Pekerjaan Balok dan Plat Lantai Sumber: Dokumen PT.MKUR Pekerjaan plat merupakan pekerjaan beton

gambar 3 Flowchart Pekerjaan Balok dan Plat Lantai

Sumber: Dokumen PT.MKUR

Pekerjaan plat merupakan pekerjaan beton bertulang dengan bidang arah horizontal dengan beban yang bekerja tegak lurus pada struktur tersebut. Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, merupakan lantai tingkat pembatas antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain.

Plat lantai didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan. Ketebalan plat lantai ditentukan oleh:

Besar lendutan yang diinginkan

Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung

Bahan konstruksi dan plat lantai

Beban yang bekerja diperhitungkan terhadap beban mati maupun beban hidup yang mengakibatkan terjadinya momen lentur. Ketebalan pada pekerjaan plat lantai gedung akademik 1 sebesar 150 mm.

Pekerjaan balok merupakan pekerjaan beton bertulang yang direncanakan untuk menahan tegangan tekan dan tegangan tarik yang diakibatkan oleh beban lentur. Balok merupakan bagian

struktur bangunan yang kaku dan dirancang untuk menanggung dan mentransfer beban menuju elemen-elemen kolom penopang. Dimensi ukuran balok pada pembangunan gedung akademik 1 sangat beragam, disesuaikan dengan keperluan. Pekerjaan balok dan plat pada pembangunan gedung akademik 1 dilaksanakan secara bersamaan.

Pekerjaan plat lantai dan balok meliputi bekisting, pekerjaan pemasangan tulangan, pekerjaan pengecoran dan pekerjaan pembongkaran bekisting.

3.2.1 Pekerjaan Bekisting

Pekerjaan bekisting dilaksanakan setelah pekerjaan marking selesai. Tahapan pada pekerjaan marking ini telah dilaksanakan sebelum praktek kerja lapangan. Pekerjaan bekisting merupakan tahapan pekerjaan sebelum pekerjaan pengecoran. Bekisting sendiri berfungsi sebagai wadah atau cetakan untuk beton. Pekerjaan bekisting pada plat dan balok menggunakan sistem semi modern. Sistem semi modern ini terlihat dengan adanya pemakaian plywood dan scaffolding. Pekerjaan bekisting dibagi kedalam dua kategori, diantaranya:

Acuan

Acuan pada pembangunan gedung akademik 1 menggunakan plywood dengan ukuran dan

ketebalan yaitu 12 mm. Plywood yang digunakan memiliki penggunaan berkisar 8-9 kali

pemakaian untuk bekisiting.

Perancah

Perancah atau pendukung acuan pada bekisting plat dan balok menggunakan scaffolding.

Scaffolding merupakan rangkaian dari besi yang kokoh menahan beban sendiri, beban

bekisting, beban tulangan, beban beton dan beban hidup lain diatasnya.

Tahapan pekerjaan bekisting untuk plat dan balok ialah:

  • a. Memasang jack base yang berfungsi sebagai penyangga utama untuk tetap menjaga

mainframe berdiri dengan kokoh menahan beban yang dipikul. Penggunaan jack base

sebagai pengatur ketinggian/ elevasi scaffolding sesuai ketinggian yang telah

direncanakan.

  • b. Memasang mainframe sebagai struktur utama dari scaffolding itu sendiri.

  • c. Memasang cross brace sebagai pengaku dan pengikat antar mainframe untuk

menjaga struktur scaffolding tetap kokoh dan berdiri tegak.

d. Memasang u-head jack sebagai penyangga balok suri-suri. Selain itu u-head juga

berfungsi untuk mengatur ketinggian struktur balok yang akan direncanakan.

e. Pasang balok suri-suri dan pasang hollow diatas balok suri.

f. Memasang plywood sebagai cetakan untuk beton segar.

Tahapan pekerjaan beksiting ini sangat perlu diperhatikan karena berdampak lansung pada pekerjaan-pekerjaan lainnya. Persyaratan pekerjaan beksiting menurut Dinas Pekerjaan Umum yang harus dipenuhi ialah:

Syarat Kekuatan, yaitu bagaimana material bekisting seperti balok kayu tidak patah ketika menerima beban yang bekerja. Syarat Kekakuan, yaitu bagaimana meterial bekisting tidak mengalami perubahan bentuk/deformasi yang berarti, sehingga tidak membuat struktur sia-sia. Syarat Stabilitas, yang berarti bahwa balok bekisting dan tiang/perancah tidak runtuh tiba- tiba akibat gaya yang bekerja.

Selain itu, perencanaan dan desain bekisting harus memenuhi aspek bisnis dan teknologi sehingga pertimbangan-pertimbangan di bawah ini setidaknya harus terpenuhi:

Ekonomis,

Kemudahan dalam pemasangan dan bongkar,

Tidak bocor.

3.2.2 Pekerjaan Tulangan

Pekerjaan tulangan merupakan pekerjaan yang meliputi pekerjaan pemotongan, hingga pekerjaan perakitan baik itu pekerjaan tulangan yang dirakit ditempat lansung maupun ditempat lain. Tulangan merupakan salah satu bahan beton bertulang yang berfungsi sebagai penahan gaya tarik pada struktur balok maupun plat. Pekerjaan tulangan plat lantai dan balok menggunakan sistem perakitan di tempat los besi, dan selanjutnya diangkut ketempat proyek. Untuk pekerjaan plat lantai menggunakan tulangan wire mesh tipe M7 Sedangkan untuk tulangan balok dapat terliahat pada Tabel

1.

Tabel 1 Jenis-jenis Tulangan pada Plat dan Balok

No

Jenis Balok

Tulangan Utama

Sengkang

Tumpuan

Lapangan

Tumpuan

Lapangan

  • 1. B1

(350x500)

6d19

3d19

ɵ10-100

ɵ10-150

  • 2. B2

(300x550)

6d19

2d19

ɵ10-100

ɵ10-150

  • 3. B3

(250x500)

5d16

3d16

ɵ10-100

ɵ10-150

Berikut alat dan bahan yang digunakan untuk pekerjaan penulangan balok dan plat:

Tabel 2 alat dan bahan yang digunakan untuk pekerjaan penulangan balok dan plat

Gambar

Alat

Fungsi

Baja Tulangan Ulir Sebagai penahan gaya tarik pada konstruksi beton bertulang pada balok

Baja Tulangan Ulir

Sebagai penahan gaya tarik pada konstruksi beton bertulang pada balok

Tulangan Wiremesh Sebagai penahan gaya tarik pada konstruksi beton bertulang pada plat lantai

Tulangan Wiremesh

Sebagai penahan gaya tarik pada konstruksi beton bertulang pada plat lantai

Kawat Bendrat Sebagai pengikat antar tulangan

Kawat Bendrat

Sebagai pengikat antar tulangan

Tang besi Sebagai pengikat

Tang besi

Sebagai

pengikat

untuk

pemasangan kawat bendrat

Mesin pemotong Mesin untuk

Mesin

pemotong

Mesin

untuk

tulangan

memotong tulangan

Meteran Untuk melakukan

Meteran

Untuk

melakukan

pengukuran

pada

pekerjaan tulangan

Kapur Sebagai penanda

Kapur

Sebagai

penanda

untuk

pemotongan

baja tulangan

Tulangan cakar ayam Terbuat dari baja

Tulangan cakar ayam

Terbuat dari

baja

tulangan ulir

yang

berfungsi

menjada

ketinggian dan elevasi plat

Beton decking Sebagai penanda

Beton decking

Sebagai

penanda

untuk

selimut

beton

pada plat

Gunting pemotong Untuk memotong

Gunting

pemotong

Untuk

memotong

tulangan

tulangan

secara

manual

Pada pelat lantai dengan tulangan wire mash dipasang 2 lapis, tulangan cakar ayam dipasang untuk menjaga ketinggian atau elevasi plat lantai. Pada bagian bawah plat dipasang beton decking untuk patokan selimut beton pada plat lantai, seperti terlihat pada Gambar 4.

gambar 4 Tahu beton/Decking sumber : Dokumentasi pribadi Sedangkan pada balok menggunakan sistem penulangan tumpuan dan

gambar 4 Tahu beton/Decking

sumber : Dokumentasi pribadi

Sedangkan pada balok menggunakan sistem penulangan tumpuan dan lapangan. Panjang tulangan pada tumpuan yaitu sebesar ¼ panjang bentang. Tahapan pekerjaan pemasangan tulangan balok meliputi:

  • a. Persiapan bahan dan pemotongan tulangan sesuai gambar kerja yang diperoleh di los besi

  • b. Pembengkokan tulangan berdasarkan data bbs dan panjang yang telah ditentukan

  • c. Perakitan tulangan berdasarkan dimensi untuk pemasangan tulangan balok

  • d. Pengangkutan tulangan balok ke lokasi proyek

  • e. Penempatan tulangan dari lokasi proyek ke daerah pekerjaan

  • f. Pengecekan tulangan dan ikatan yang saling berhubungan.

Tahapan pekerjaan pemasangan tulangan plat meliputi:

  • a. Persiapan bahan dan pengangkutan tulangan wire mesh kelokasi proyek.

  • b. Penempatan tulangan dan pemotongan tulangan berdasarkan dimensi plat lantai dilapangan

.

  • c. Pemasangan tulangan cakar ayam pada plat lantai.

  • d. Pemasangan beton decking untuk menentukan selimut beton pada plat lantai.

3.2.3 Pekerjaan Pengecoran

Pekerjaan pengecoran merupakan pekerjaan penuangan beton segar kearea yang telah bekisting yang telah diberi tulangan. Pengecoran pada plat lantai dan balok menggunakan beton ready mix dengan perusahaan adhimix dan pionir. Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan untuk pekerjaan pengecoran pada plat lantai dan balok:

Tabel 3adalah alat dan bahan yang digunakan untuk pekerjaan pengecoran pada plat lantai dan balok

Gambar

 

Alat

 

Fungsi

Beton segar ready mix K-250 Sebagai bahan utama untuk struktur beton bertulang pada plat dan balok

Beton segar ready mix K-250

Sebagai bahan utama untuk struktur beton bertulang pada plat dan balok

Ruskam kayu / Untuk meratakan

Ruskam

kayu

/

Untuk

meratakan

plastik

permukaan plat

Penyapu kayu Sebagai penyapu

Penyapu kayu

 

Sebagai

penyapu

 

beton

untuk

masuk

kedalam tulangan

Mesin vibrator Untuk memadatkan

Mesin

vibrator

Untuk

memadatkan

beton

beton segar

Waterpass Untuk mengecek

Waterpass

Untuk

mengecek

kerataan permukaan plat

Mesin air Untuk

Mesin

air

Untuk

compressor

membersihkan area cor dari berbagai sampah organik dan kotoran lainnya

Sebelum melakukan pekerjaan beton, langkah teknis yang harus dipersiapkan yaitu:

  • a. Pengecekan tulangan dan kondisi bekisting yang sudah siap. Hal ini dilakukan oleh seorang

QC (Quality Control)

  • b. Jika sudah dilakukan pengecekan maka langkah selanjutnya ialah mengisi surat ijin cor.

  • c. Setelah pengecekan selesai dilakukan, selanjutnya menyerahkan surat ijin cor kepada

pengawas MK.

  • d. Melakukan pengecekan ulang bersama pengawas MK

  • e. Jika hasil lapangan telah memenuhi menurut pengawas MK, selanjutnya penandatanganan

surat ijin cor dan area siap dilakukan pengecoran

Selanjutnya untuk tahapan pekerjaan pengecoran plat lantai dan balok meliputi:

  • a. Pastikan semua tulangan dan bekisting telah dicek

  • b. Menentukan volume area siap cor. Untuk pekerjaan plat dan balok, penentuan batas stop cor

atau volume cor dilihat dari kondisi bekisting dilapangan. Jika bekisting sudah siap pada jarak

bentang tertentu, maka volume cor yang diambil adalah ¼ atau ¾ jarak bentang area bekisting

yang telah mampu menahan berat beton segar (diambil pada perhitungan mekanika rekayasa,

jarak yang diambil merupakan jarak dimana besarnya momen sama dengan nol).

  • c. Pembersihan area yang akan dicor menggunakan mesin air compressor.

  • d. Pengujian test slump. Pengujian test slump bertujuan untuk mengetahui nilai kelecakan suatu

beton segar. Pada pekerjaan pengecoran plat dan balok tahap ini tidak dilaksanakan.

  • f. Tuang beton segar kedalam area siap cor.

  • g. Beton yang telah dituang kemudian dipadatkan dengan mesin vibrator .

  • h. Pada saat pengecoran, setelah beton segar dituangkan dan dipadatkan dilakukan pekerjaan

perataan permukaan beton sesuai dengan ketebalan yang telah direncanakan. Perataan ini masih

menggunakan sistem manual memakai ruskam kayu. Perataan ini bertujuan agar permukaan

plat rata dan memastikan tidak ada udara yang terjebak didalam campuran beton .

  • i. Selanjutnya dilakukan pengukuran ketebalan plat sekaligus pengecekannya menggunakan

pesawat waterpass dan batang kayu yang telah diberi tanda.

  • j. Untuk perawatannya, basahi permukaan plat dan dengan air setiap 2 kali sehari selama satu

minggu.

3.2.4 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting

Pekerjaan pembongkaran bekisting plat dan balok dilakukan apabila beton telah cukup umur yakni selama 7 - 14 hari. Beton yang cukup umur ialah beton yang dapat menahan berat sendiri dan

beban dari luar. Bekisting yang telah dibongkar dibersihkan dari sisa-sisa beton yang melekat dan disimpan pada tempat yang terlindung untuk menjaga bekisting untuk pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan pembongkaran bekisting plat dan balok dilakukan dengan tidak mengurangi keamanan dan kemampuan struktur.

Berikut adalah tahapan pembongkaran bekisting:

  • a. Siapkan perlatan yang digunakan untuk pembongkaran

  • b. Bongkar plywood secara hati-hati untuk bagian pinggir area yang beton yang telah cukup

umur

  • c. Longgarkan u-head dan bongkar plywood bagian tengah secara hati-hati

  • d. Buka balok suri-suri kemudian hallow dan bongkar scaffolding

  • e. Setelah proses pembongkaran bekisting, maka selanjutnya pengecekan hasil cor yang

dilakukan oleh QC. Jika ditemui hasil cor yang kurang bagus, maka selanjutnya dilakukan

perbaikan sesuai dengan instruksi yang QC berikan.

  • 3.3 Dasar-Dasar Perencanaan

Perhitungan struktur bangunan Gedung ini berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia, diantaranya :

  • 1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-1991- 03).

  • 2. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (SKBI 1,3,53. 1987).

  • 3. SNI-1726-2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung.

  • 3.4 Teori -Teori

3.4.1 Pelat

Pelat beton bertulang dalam suatu struktur bangunan dipakai pada lantai dan atap. Pada pelat yang ditumpu balok pada keempat sisinya, terbagi dua berdasarkan geometrinya, yaitu :

  • 1. Pelat dianggap sebagai pelat satu arah.

  • 2. Pelat dianggap sebagai pelat dua arah.

a. Menentukan Tebal Minimum Pelat (b)

Tebal minimal (h) (Pasal 11.5.SNI 03-2847-2002) Untuk pelat satu arah (Pasal 11.5.2.3 SNI 03-2847-2002), tebal minimal pelat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4 Tinggi (h) balok non praktekan atau pelat satu arah bila tidak dihitung

   

Tinggi minimal, h

 

Komponen

   

Kedua

 

struktur

Dua

tumpuan

Satu ujung

menerus

ujung

Kantilever

menerus

Komponen yang tidak menahan atau tidak disatukan dengan partisi atau konstruksi lain yang akan rusak karena lendutan yang besar

Pelat solid satu arah

L/20

L/24

L/28

L/10

Balok atau pelat jalur satu arah

L/16

L/18,5

L/21

L/8

CATATAN :

Panjang bentang dalam mm. Nilai yang diberikan harus digunakan langsung untuk komponen struktur dengan beton normal (Wc = 2400 kg/m 3 ) dan tulangan BJTD 40. Untuk kondisi lain, nilai diatas harus dimodifikasi sebagai berikut :

  • (a) Untuk struktur beton ringan dengan berat jenis di antara 1500 kg/m 3 sampai 2.000kg/m 3 , nilai tadi harus dikalikan dengan (1,65-(0.0003)wc)tetapi tidak kurang dari 1,09, dimana wc adalah berat jenis dalam kg/m 3 .

  • (b) Untuk fy selain 400 MPA, nilainya harus dikalikan dengan (0,4+fy/700).

1. Pelat Satu Arah (One Way Slab)

Pelat satu arah yaitu suatu lantai beton yang sistem pendukungnya (berupa balok) berada di sisi kiri dan kanan pelat.

Ciri-cirinya adalah :

  • - Pelat ditumpu pada sisi yang saling berhadapan

  • - Pelat persegi yang mempunyai balok pendukung pada keempat sisinya dengan perbandingan antar sisi panjang pelat atau bentang panjang

(ly) dan sisi lebar pelat atau bentang pendek (lx) > 2,0.

Tabel 4 Tinggi (h) balok non praktekan atau pelat satu arah bila tidak dihitung Tinggi minimal,
   
 
Tabel 4 Tinggi (h) balok non praktekan atau pelat satu arah bila tidak dihitung Tinggi minimal,

Desain pelat satu arah sama seperti perencanaan penulangan untuk balok, hanya saja pada

pelat tidak diizinkan diberi penulangan geser.

Penulangan melintang (tegak lurus terhadap tulangan utama) harus diberikan untuk menahan

susut dan akibat perubahan temperatur.

3.4.2 Tangga

Tangga adalah suatu konstruksi yang menghubungkan antara tempat satu ketempat yang lainnya

yang mempunyai ketinggian yang berbeda. Tangga terdiri dari anak tangga dan pelat tangga.

Bagian-bagian dari tangga :

  • 1. Antrede

Antrede yaitu bagian anak tangga bidang horizontal yang merupakan bidang pijak telapak kaki.

  • 2. Optrede

Optrede yaitu bagian anak tangga vertikal yang merupakan selisih tinggi antara dua anak tangga

yang berurut.

a. Syarat-syarat umum tangga :

  • - Mudah dilewati

  • - Kuat dan kaku

  • - Ukuran tangga harus sesuai dengan sifat dan fungsinya

  • - Material yang digunakan harus baik

  • - Letak tangga harus strategis

  • - Sudut kemiringan tidak lebih dari 45°.

b. Syarat-syarat khusus tangga :

Untuk bangunan rumah tinggal

  • - Antrede (a) = 25 cm (minimum)

  • - Optrede (o) = 20 cm (minimum)

  • - Lebar tangga = 80-100 cm

Untuk perkantoran dan lain-lain

  • - Antrede (a) = 25 cm (minimum)

  • - Optrede (o) = 17 cm (minimum)

  • - Lebar tangga = 120-200 cm

Untuk perkantoran dan lain-lain - Antrede (a) = 25 cm (minimum) - Optrede (o) = 17

Gambar 5 syarat khusus tangga

  • c. Syarat langkah

2 Optrede (o) + 1 Antrede (a) = 58-64 cm

  • d. Sudut kemiringan

Maximum = 45º Minimum = 25º

  • e. Tinggi bebas diatas anak tangga 2,00 m

3.4.3 Portal

Portal adalah suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian struktur yang saling berhubungan dan fungsinya menahan beban sebagai satu kesatuan yang lengkap.

3.4.3.1

Portal Akibat Beban Mati

Portal ini ditinjau pada arah melintang dan memanjang. Pembebanan pada portal akibat beban mati, yaitu :

  • - Berat sendiri pelat

  • - Berat plafond + penggantung

  • - Berat penutup lantai

  • - Berat adukan

  • - Berat dari pasangan dinding bata

  • 3.4.3.2 Portal akibat beban hidup Portal

yang

ditinjau

pada

arah

melintang

dan

memanjang.

Perhitungan

portal

menggunakan cara yang sama dengan perhitungan portal akibat beban mati.

Pembebanan pada portal akibat beban hidup, yaitu :

  • a. Beban hidup untuk pelat lantai diambil sebesar 250 kg/m2

  • b. Beban hidup pada atap diambil sebesar 100 kg/m

3.4.4 Balok

Balok merupakan merupakan batang horizontal dari rangka struktur yang meyang memikul beban tegak lurus lurus sepanjang batang tersebut biasanya terdiri dari dari dinding, pelat atau atap, dadan menyalurkan pada tumpuan atau struktur bawahnya.ur bawahnya.

Perencanaan Perencanaan balok ini dilakukan untuk menentukan balok balok anak dan balok induk yang yang akan digunakan dalam suatu struktur gedung. gedung. Sitem struktur yang menggunakang me nggunakan balok anak dan balok induk ini bertujuan bertujuan untuk memperoleh bentangan bentangan sepanjang mungkin dengan beban mati mati sekecil mungkin untuk pelat pelat atap maupun lantai, dimana pelat akan bertumpu bertumpu pada balok induk serta induk serta kolom sebagai penopang struktur keseluruhan.

3.4.5

Kolom

Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertical dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Sedangkan komponen struktur yang menahan beban aksial vertical dengan rasio bagian tinggi dengan dimensi lateral terkecil kurang dari tiga dinamakan pedestal.

  • 3.4.6 Sloof

Sloof merupakan salah satu struktur bawah suatu bangunan yang menghubungkan pondasi dan berfungsi sebagai penerima beban dinding diatasnya. Sloof merupakan salah satu struktur bawah suatu bangunan yang menghubungkan pondasi dan berfungsi sebagai penerima beban dinding diatasnya.

  • 3.4.7 Pondasi

Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ketanah.

Fungsi pondasi antara lain sebagai berikut:

  • - Untuk menyebarkan atau menyalurkan beban bangunan ketanah

  • - Mencegah terjadinya penurunan pada bangunan yang berlebihan

  • - Memberikan kestabilan pada bangunan di atasnya.

Berdasarkan kedalaman pondasi ada dua macam:

  • 3.4.7 .1 Pondasi Dangkal (Shallow Footing)

Bila letak lapisan tanah keras dekat dengan permukaan tanah, maka dasar pondasi dapat langsung diletakkan diatas lapisan tanah keras tersebut, pondasi seperti ini disebut dengan pondasi dangkal.

Pondasi Dangkal mempunyai beberapa jenis, yaitu :

a. Pondasi Tapak Tunggal

Digunakan untuk memikul beban bangunan yang bersifat beban terpusat atau beban titik, misal beban tower kolom pada bangunan gdung bertingkat, beban pada menara (), beban pilar pada jembatan.

  • - Pondasi Tapak Menerus

Digunakan untuk memikul beban bangunan yang memanjang, seperti bangunan dinding (tembok), konstruksi dinding penahan tanah.

  • - Pondasi Tapak Gabungan

Digunakan untuk memikul beban bangunan yang relatif berat namun kondisi tanah dasarnya terdiri dari tanah lunak.

2. Pondasi Dalam (Deep Footing)

Bila letak lapisan tanah keras jauh dari permukaan tanah, maka diperlukan pondasi yang dapat menyalurkan beban bangunan kelapisan tanah keras tersebut, pondasi seperti ini disebut dengan pondasi dalam, contohnya pondasi tiang dan pondasi sumuran.

- Pondasi tiang pancang

Pondasi tiang pancang dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa, dengan kondisi daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah tinggi dan tanah keras pada posisi sangat dalam.

Pondasi tiang pancang sendiri mempunyai beberapa jenis :

  • a. Pondasi Tiang Pancang Kayu Pondasi tiang pancang kayu di Indonesia, dipergunakan pada rumah-rumah panggung di daerah Kalimantan, di Sumatera, di Nusa Tenggara, dan pada rumah-rumah nelayan di tepi pantai.

  • b. Pondasi Tiang Pancang Beton

Pondasi tiang beton dipergunakan untuk bangunanbangunan tinggi (high rise building). Pondasi tiang pancang beton, proses pelaksanaannya dilakukan sebagai berikut :

  • - Melakukan test “boring” untuk menentukan kedalaman tanah keras dan klasifikasi panjang tiang pancang, sesuai pembebanan yang telah diperhitungkan.

  • - Melakukan pengeboran tanah dengan mesin pengeboran tiang pancang.

  • - Melakukan pemancangan pondasi dengan mesin pondasi tiang pancang.

Gambar 6 pondasi tiang pancang beton Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jenis pondasi : 1)

Gambar 6 pondasi tiang pancang beton

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jenis pondasi :

1) Keadaan tanah pondasi

2) Jenis konstruksi bangunan

3) Kondisi bangunan disekitar pondasi

4) Waktu dan biaya pengerjaan

Secara umum dalam perencanaan pondasi harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut :

a) Tegangan kontak pada tanah tak melebihi daya dukung tanah yang diizinkan.

b) Settlement (penurunan) dari struktur masih termasuk dalam batas yang diijinkan, jika ada kemungkinan yang melebihi dari perhitungan awal, maka ukuran pondasi dapat dibuat berbada dan dihitung secara sendirisendiri sehingga penurunan yang terjadi menjadi persamaan.

Pemilihan bentuk pondasi yang didasarkan pada daya dukung tanah, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  • 1. Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah permukaan tanah,

maka pondasi yang dipilih sebaiknya jenis pondasi dangkal (pondasi jalur atau pondasi tapak)

dan pondasi strouspile.

  • 2. Bila tanah keras terletak pada kedalaman hingga 10 meter atau lebih di bawah permukaan

tanah maka jenis pondasi yang biasanya dipakai adalah pondasi tiang minipile dan pondasi

sumuran atau borpile.

  • 3. Bila tanah keras terletak pada kedalaman hingga 20 meter atau lebih di bawah permukaan

tanah maka jenis pondasi yang biasanya dipakai adalah pondasi tiang pancang atau pondasi

borpile.

Pemilihan bentuk pondasi yang didasarkan pada daya dukung tanah, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1.

Gambar 7 pondasi batu kali

4.1 Umum

BAB IV

PEMBAHASAN

Pembahasan pada bab 4 mengenai tentang objek pelaksanaan pada pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin yang meliputi kualitas dan kuantitas pada pekerjaan lantai dan balok lantai. Pengamatan aspek kuantitas berkaitan dengan waktu dan biaya, sedangkan aspek kualitas berkaitan dengan material dan proses pelaksanaan/pengerjaan.

Metode pelaksanaan konstruksi pada proyek adalah bagian yang sangat penting dalam mencapai sasaran pelaksanaan kostruksi proyek. Sasaran proyek dalam pencapaiannya meliputi biaya, kualitas, dan waktu yang efektif dan efisien. Diperlukan metode untuk setiap item pekerjaan sehingga dapat terlaksananya pekerjaan yang sesuai prosedur, pada setiap kendala yang terdapat dalam proyek diselesaikan dengan cara berbeda.

Pekerjaan Struktur Atas (upper structure) merupakan bagian struktur yang berfungsi sebagai penerima beban mati, beban hidup, beban sendiri. Menjadikan bagian yang mampu menjamin dari segi pengamanan dan kenyamanan. Oleh karena itu, material yang digunakan meiliki kriteria sebagai berikut:

  • a. Kuat

  • b. Tahan api

  • c. Awet dalam jangka lama

  • d. Mudah didapat dan dibentuk

  • e. Ekonomis

Pekerjaan struktur atas meliputi pekerjaan balok dan pelat lantai pada Pekerjaan pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin dengan menggunakan struktur beton bertulang.

Pengerjaan perancah bagian bawah pada lantai satu menggunakan galam sebagai tiang penyokong bekisting.

Pengerjaan perancah bagian bawah pada lantai satu menggunakan galam sebagai tiang penyokong bekisting. Gambar 8 perancah

Gambar 8 perancah bawah

sumber : dokumentasi pribadi, 2017

Proses pembentukan besi beugel dengan tulangan diameter 10 milimeter.

Pengerjaan perancah bagian bawah pada lantai satu menggunakan galam sebagai tiang penyokong bekisting. Gambar 8 perancah

Gambar 9 proses pembentukan besi beugel

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Perakitan besi balok lantai 1 dan pemasangan bekisting, pekerjaan ini dilakukan secara bersusulan.

Gambar 10 perakitan besi dan bekisting sumber : dokumentasi pribadi, 2017 Perakitan besi plat pada lantai

Gambar 10 perakitan besi dan bekisting

sumber : dokumentasi pribadi, 2017

Perakitan besi plat pada lantai satu dengan menggunakanmaterial besi diameter 12.

Gambar 10 perakitan besi dan bekisting sumber : dokumentasi pribadi, 2017 Perakitan besi plat pada lantai

Gambar 11 perakitan besi plat lantai

sumber : dokumentasi pribadi, 201

Proses pengecekan dan pembersihan lokasi yang ingin di cor menggunakan readymix.

Gambar 12 pengecekan dan pembersihan sumber : dokumentasi pribadi, 2017 Proses pengecoran pada lantai satu dengan

Gambar 12 pengecekan dan pembersihan

sumber : dokumentasi pribadi, 2017

Proses pengecoran pada lantai satu dengan mengunakan pemadat vibrator.

Gambar 12 pengecekan dan pembersihan sumber : dokumentasi pribadi, 2017 Proses pengecoran pada lantai satu dengan

Gambar 13 pengecoran

sumber : dokumentasi pribadi, 2017

Proses teslamp pada lantai satu dengan mutu k-250.

Proses teslamp pada lantai satu dengan mutu k-250. Gambar 14 tesslamp k-250 sumber : dokumentasi pengawas

Gambar 14 tesslamp k-250

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Proses pemasangan skafolding sebagai tiang penyokong pada plat lantai dua.

Proses teslamp pada lantai satu dengan mutu k-250. Gambar 14 tesslamp k-250 sumber : dokumentasi pengawas

Gambar 15 perakitan skafolding

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Perakitan balok bekisting, penyetelan besi balok lantai dan pemasangan plat bondek pada lantai dua.

Gambar 16 perakitan balok bekisting, besi balok lantai dua dan perakitan plat bondek sumber : dokumentasi

Gambar 16 perakitan balok bekisting, besi balok lantai dua dan perakitan plat bondek

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Proses pengecoran pada lantai dua menggunakan cor beton readymix dengan mutu 250.

Gambar 16 perakitan balok bekisting, besi balok lantai dua dan perakitan plat bondek sumber : dokumentasi

Gambar 17 pekerjaan pengecoran lantai dua

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Perawatan beton pada lantai dua pascapengecoran dengan ditutupi plastic cor beton.

Gambar 16 perakitan balok bekisting, besi balok lantai dua dan perakitan plat bondek sumber : dokumentasi

Gambar 18 perawatan beton pasca pengecoran pada lantai dua

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

4.2

Pelaksanaan Persiapan

Pekerjaan persiapan pelaksanaan balok dan pelat lantai pada gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin, yang pertama di lakukan adalah pengukuran luasan yang dirancang pada lokasi site. Luasan yang sudah didapat akan diberikan patok agar presisi dalam pelaksanaan pekerjaan.

Material bangunan yang diinginkan dalam pekerjaan ini mempunyai kualitas tinggi agar memenuhi syarat kekuatan, ketahanan, kekakuan, dan kestabilan. Material yang disuplai dalam site akan sangat berpengaruh kelancarannya,hal yang mempengaruhi adalah:

Kondisi lokasi proyek

Lingkungann sekitar kondisi proyek

Jalur akses kelokasi proyek

Volume pekerjaan

Ketersediaan material bangunan

Persediaan peralatan dan alat pendukung lainnya

Ketersediaan sumberdaya manusia

Tingkat kualitas yang dibutuhkan

Jadwal pelaksanaan proyek kontruksi

Pelaksanaan proyek kontruksi

  • 4.3 Pengendalian Material

1. Prosedur Pengadaan Material

Prosedur pengadaan material merupakan salah satu bagian dari sistem logistik yang ditujukan untuk pelaksanaan proyek pengadaan material sesuai rencana kebutuhan. Prosedur pengadaan material pada proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin memiliki langkah sebagai berikut:

  • a. breefing pengadaan material yang digunakan.

  • b. penentuan jenis material yang dibeli

  • c. menentukan jumlah material

  • d. pemilihan dan penentuan kualitas produk

  • e. mengetahui dimensi produk/ volume

  • f. estimasi biaya yang dikeluarkan

  • g. administrasi material

  • h. estimasi waktu material sampai di lokasi

  • i. pengangkutan material

  • j. penurunan material di lokasi

  • k. pengecekan material dari segi administrasi maupun kesesuaian pesanan, apakah sesuai atau terdapat kerusakan dari distributor.

Menurut pengamatan kami prosedur yang ada sudah sesuai, penanganan tentang pengadaan material sudah efektif sehingga material sampai di lokasi dengan tepat waktu dan tidak menyebabkan pekerjaan menjadi terganggu.

Dalam prosedur pengadaan material di proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin pada proses pengadaan material ini tidak selalu berjalan lancar, ada kalanya pada proses pengadaan barang yang ada disuplier itu kehabisan stok, dan dari yang kami amati, staff logitik mencari lagi suplier lain sehingga material tetap bisa diadakan dan tidak menghambat proses pengerjaan item tertentu.

Jenis material yang diadakan dalam topik pengendalian material berupa semen, pasir, besi ulir dan polos, kawat pengikat (bendrat), paku, galam kecil, kayu balok (kasau), multiplek, plastic cor beton dan cor beton readymix dalam jumlah volume besar.

2. Penanganan Material

Penanganan material yaitu sebuah proses yang mempengaruhi tempat penyimpanan material, perlindungan, penerimaan, dan penyaluran material, sehingga material dapat ditangani dengan baik dan tidak mengganggu pengerjaan item yang memerlukan material tersebut.

a. Material

Pada proyek Pembangunan Gedung MSC di Banjarmasin, jenis material yang di gunakan pada balok dan plat lantai berupa ;

  • - Semen tipe 1 jenis pc (Portland Cement) merek tonasa untuk penambahan volume jika terjadi kekurangan pengecoran dengan volume yang sedikit.

  • - Pasir kasar

  • - Split 2-3 cm

  • - Kayu balok 5/7 kasau

  • - Multiplek 6 milimeter

  • - Galam diameter 4 cm

  • - Plastik cor beton

  • - Besi diameter 10 milimeter, D 13 dan D 16

  • - Zat addictive (pengering beton)

  • - Bondek

  • - Bendrat (kawat pengikat).

b. Penyimpanan dan Perlindungan Material

Pada proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin ini material disimpan di dalam gudang yang dapat melindungi material dari hujan dan panas. Material penutup lantai disimpan rapi di dalam ruangan dan baru dikeluarkan ketika hendak dipasang terkecuali besi,pasir dan koral, sehingga kualitas material tetap terjaga, begitu pula dengan material semen,kawat pengikat dan alat kerja, masih tersimpan rapi di tempatnya sampai sebelum proses pengerjaan dilakukan. Namun untuk material pasir dan koral tidak disimpan di gudang melainkan di tempatkan dekat bangunan bertujuan untuk efisiensi kerja. Banyak Pekerjaan pengecoran menggunakan readymix dengan mutu yang sudah di tetapkan.

Pada proyek pembangunan Gedung MSC material dapat perlakuan tepat, material disimpan ditempat yang terhindar dari cuaca hujan dan panas untuk material yang bersifat memberikan reaksi terhadap air atau panas.

Penyimpanan sangat terbatas dilahan yang terhimpit, sehingga material yang disimpan sangat terbatas. Berkaitan dengan stok semen hanya beberapa yang bisa disimpan selebihnya untuk pengecoran dengan volume besar menggunakan readymix dilain sisi juga menghemat waktu pengerjaan.

c. Penyaluran Material

Penyaluran material meliputi memindahkan material dari tempat penyimpanan ke lokasi kerja material yang dibutuhkan. Adapun pada proyek ini penyaluran material sudah sesuai dengan prosedur yang seharusnya yaitu sebagai berikut:

Proses penyampaian informasi

Pengambilan material

Proses pengeluaran

  • - Melalui proses perakitan (besi)

  • - Suplai langsung material

Proses pengangkutan

  • - Menggunakan alat sederhana

  • - Menggunakan tenaga bersama-sama

Proses pengendalian material

  • - pengecekan material

  • - perakitan ditempat

  • - pelaksanaan aplikasi

  • - kordinasi pelaksana

  • - perawatan material terpasang

Proses material siap pakai juga kami amati berupa cor beton untuk di aplikasikan di lapangan, proses ini menliputi:

Proses perhitungan luasan objek

Proses sample beton

Proses administrasi

Proses mobilisasi

Proses pengendalian material

Proses tes slamp

Cor berton siap pakai mempunyai komposisi yaitu pasir,semen dan split (batu kecil 2/3), material disuplai dengan cara dimasukan kedalam mobil molen (readymix) kemudian ditujukan keproyek. muatan satu readymix berkapasitas 6m 3 , sebelum datang di Lokasi pihak proyek harus menyediakan tempat untuk akses material.

Proses persiapan mesin injection pada site, mesin ini berfungsi sebagai penyalur ke dalam cetakan bekisting dengan metode dorongan mesin.



Gambar 19 mesin injection

sumber : dokumentasi peribadi, 2017

Proses memasukan adonan cor beton kedalam mesin injection, proses ini memerlukan operator agar adonan tidak terbuang. Oprator ini terbagi dua lokasi, yaitu pada readymix dan pada lokasi bekisting.

Gambar 20 proses pemasukan adonan cor beton kedalam mesin injection sumber : dokumentasi peribadi, 2017 Proses

Gambar 20 proses pemasukan adonan cor beton kedalam mesin injection

sumber : dokumentasi peribadi, 2017

Proses pengarahan pipa dari mesin injection kedalam cetakan beton dan pelat lantai satu.

Gambar 20 proses pemasukan adonan cor beton kedalam mesin injection sumber : dokumentasi peribadi, 2017 Proses

Gambar 21 proses pengarahan pipa adonan cor beton kedalam bekisting

sumber : dokumentasi peribadi, 2017

Gambar 22 tes slamp sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017  Gambar 23 pengangkutan corbeton meggunakanotot, namun ada juga gergaji mesin yang digerakkan dengan motor seperti yang biasa digunakan menggergaji pohon. 42 " id="pdf-obj-50-2" src="pdf-obj-50-2.jpg">

Gambar 22 tes slamp

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017



Gambar 23 pengangkutan corbeton meggunakan gerobak sorong

sumber : dokumentasi peribadi, 2017

4.4 Peralatan

Alat-alat yang digunakan dalam proses pengerjaan pelapis lantai dalam bangunan antara lain :

Gergaji adalah perkakas berupa besi tipis bergigi tajam yang digunakan untuk memotong atau pembelah kayu atau benda lainnya. Ada banyak jenis gergaji. Beberapa merupakan peralatan tangan yang bekerja dengan kekuatan otot, namun ada juga gergaji mesin yang digerakkan dengan motor seperti yang biasa digunakan menggergaji pohon.

Gambar 24 Gergaji Kayu sumber : <a href=( www.bhineka.com ) Waterpass (penyipat datar) adalah suatu alat ukur yang dipergunakan untuk mengukur beda tinggi antara titik-titik saling berdekatan. Beda tinggi tersebut ditentukan dengan garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukan ke rambu-rambu ukur yang vertical. Gambar 25 Water Pass sumber : ( www.bhineka.com ) Palu atau Martil adalah alat yang digunakan untuk memberikan tumbukan kepada benda. Palu umum digunakan untuk memaku, memperbaiki suatu benda, penempaan logam dan menghancurkan suatu objek. Palu dirancang untuk tujuan tertentu dengan variasi dalam bentuk dan struktur. Bentuk umum palu terdiri dari gagang palu dan kepala palu, dengan sebagian besar berat berada di kepala palu. 43 " id="pdf-obj-51-2" src="pdf-obj-51-2.jpg">

Gambar 24 Gergaji Kayu

Waterpass (penyipat datar) adalah suatu alat ukur yang dipergunakan untuk mengukur beda tinggi antara titik-titik saling berdekatan. Beda tinggi tersebut ditentukan dengan garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukan ke rambu-rambu ukur yang vertical.

Gambar 24 Gergaji Kayu sumber : <a href=( www.bhineka.com ) Waterpass (penyipat datar) adalah suatu alat ukur yang dipergunakan untuk mengukur beda tinggi antara titik-titik saling berdekatan. Beda tinggi tersebut ditentukan dengan garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukan ke rambu-rambu ukur yang vertical. Gambar 25 Water Pass sumber : ( www.bhineka.com ) Palu atau Martil adalah alat yang digunakan untuk memberikan tumbukan kepada benda. Palu umum digunakan untuk memaku, memperbaiki suatu benda, penempaan logam dan menghancurkan suatu objek. Palu dirancang untuk tujuan tertentu dengan variasi dalam bentuk dan struktur. Bentuk umum palu terdiri dari gagang palu dan kepala palu, dengan sebagian besar berat berada di kepala palu. 43 " id="pdf-obj-51-13" src="pdf-obj-51-13.jpg">

Gambar 25 Water Pass

Palu atau Martil adalah alat yang digunakan untuk memberikan tumbukan kepada benda. Palu umum digunakan untuk memaku, memperbaiki suatu benda, penempaan logam dan menghancurkan suatu objek. Palu dirancang untuk tujuan tertentu dengan variasi dalam bentuk dan struktur. Bentuk umum palu terdiri dari gagang palu dan kepala palu, dengan sebagian besar berat berada di kepala palu.

Gambar 26 palu sumber : <a href=( www.bhineka.com ) Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Jangka sorong ini digunakan sebagai mengukur diameter besi pada lokasi site. Gambar 27 Jangka Sorong sumber : ( www.bhineka.com ) 44 " id="pdf-obj-52-2" src="pdf-obj-52-2.jpg">

Gambar 26 palu

Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Jangka sorong ini digunakan sebagai mengukur diameter besi pada lokasi site.

Gambar 26 palu sumber : <a href=( www.bhineka.com ) Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Jangka sorong ini digunakan sebagai mengukur diameter besi pada lokasi site. Gambar 27 Jangka Sorong sumber : ( www.bhineka.com ) 44 " id="pdf-obj-52-17" src="pdf-obj-52-17.jpg">

Gambar 27 Jangka Sorong

meteran ini tersedia dalam inci dan centimeter, penggunaan meteran ini pada umumnya meliputi perencanaan, pengawasan, kontraktor sampai dengan tukang. Digunakan dalam medan yang saedikit, rata-rata dibawah 10 meter.

meteran ini tersedia dalam inci dan centimeter, penggunaan meteran ini pada umumnya meliputi perencanaan, pengawasan, kontraktor( www.bhineka.com ) alat potong besi duduk banyak ditemui pada proyek-proyek karena penggunaannya yang mudah dan tidak memelurkan daya untuk memotong besi, keunggulan menggunakanan alat ini pengerjaan bisa lebih cepat namun besi yang di potong tidak bisa terlalu besar sehingga memerlukan mesin potong elektrik. Gambar 29Potong Besi Duduk 45 " id="pdf-obj-53-4" src="pdf-obj-53-4.jpg">

Gambar 28 Meteran

alat potong besi duduk banyak ditemui pada proyek-proyek karena penggunaannya yang mudah dan tidak memelurkan daya untuk memotong besi, keunggulan menggunakanan alat ini pengerjaan bisa lebih cepat namun besi yang di potong tidak bisa terlalu besar sehingga memerlukan mesin potong elektrik.

meteran ini tersedia dalam inci dan centimeter, penggunaan meteran ini pada umumnya meliputi perencanaan, pengawasan, kontraktor( www.bhineka.com ) alat potong besi duduk banyak ditemui pada proyek-proyek karena penggunaannya yang mudah dan tidak memelurkan daya untuk memotong besi, keunggulan menggunakanan alat ini pengerjaan bisa lebih cepat namun besi yang di potong tidak bisa terlalu besar sehingga memerlukan mesin potong elektrik. Gambar 29Potong Besi Duduk 45 " id="pdf-obj-53-15" src="pdf-obj-53-15.jpg">

Gambar 29Potong Besi Duduk

pemotong manual ini juga sama fungsinya seperti yang diatas hanya saja dapat memotong besi berukuran maksimal diameter 10cm. namun alat potong besi portable ini sangat mudah dibawa kemana saja.

sumber : <a href=( www.bhineka.com ) pemotong manual ini juga sama fungsinya seperti yang diatas hanya saja dapat memotong besi berukuran maksimal diameter 10cm. namun alat potong besi portable ini sangat mudah dibawa kemana saja. Gambar 30 Potong Besi Portable sumber : ( www.bhineka.com ) pengikat bendrat ini sangat umum digunakan untuk mengencangkan ikatan pada besi yang direkatkan agar menjadi presisi tanpa harus dilas. Cara menggunakannya sangat mudah dan ringan, hanya perlu menjepit didua sisi kawat dan diputar hingga keras dan putus. Gambar 31 Pengikat bendrat sumber : ( www.bhineka.com ) 46 " id="pdf-obj-54-9" src="pdf-obj-54-9.jpg">

Gambar 30 Potong Besi Portable

pengikat bendrat ini sangat umum digunakan untuk mengencangkan ikatan pada besi yang direkatkan agar menjadi presisi tanpa harus dilas. Cara menggunakannya sangat mudah dan ringan, hanya perlu menjepit didua sisi kawat dan diputar hingga keras dan putus.

sumber : <a href=( www.bhineka.com ) pemotong manual ini juga sama fungsinya seperti yang diatas hanya saja dapat memotong besi berukuran maksimal diameter 10cm. namun alat potong besi portable ini sangat mudah dibawa kemana saja. Gambar 30 Potong Besi Portable sumber : ( www.bhineka.com ) pengikat bendrat ini sangat umum digunakan untuk mengencangkan ikatan pada besi yang direkatkan agar menjadi presisi tanpa harus dilas. Cara menggunakannya sangat mudah dan ringan, hanya perlu menjepit didua sisi kawat dan diputar hingga keras dan putus. Gambar 31 Pengikat bendrat sumber : ( www.bhineka.com ) 46 " id="pdf-obj-54-20" src="pdf-obj-54-20.jpg">

Gambar 31 Pengikat bendrat

Proyek yang memperhatikan kualitas tak jarang menggunakan alat vibrator sebagai pemadat cor beton ketika pengecoran. Hal ini bertujuan agar beton tidak mudah rapuh, menyisakan rongga dan terjadi retakan.

Proyek yang memperhatikan kualitas tak jarang menggunakan alat vibrator sebagai pemadat cor beton ketika pengecoran. Hal( www.bhineka.com ) 47 " id="pdf-obj-55-6" src="pdf-obj-55-6.jpg">

Gambar 32 Vibrator

alat sederhana yang sering dipakai oleh tukang batu untuk meratakan hasil plester, cord an acian. Dengan cara menggosokan perlahan pada permukaan objek yang dihaluskan.

Proyek yang memperhatikan kualitas tak jarang menggunakan alat vibrator sebagai pemadat cor beton ketika pengecoran. Hal( www.bhineka.com ) 47 " id="pdf-obj-55-12" src="pdf-obj-55-12.jpg">

Gambar 33 Kasutan

1.5 Pengamatan Proses Pelaksanaan/ Pengerjaan

1. Objek Pengamatan

Pada Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin Pengamatan pelaksanaan dilaksanakan selama enam puluh hari kerja, terhitung dari 4 April 2017 sampai dengan 23 juni 2017, sesuai dengan absensi. Objek yang diamati adalah pekerjaan balok lantai dan plat lantai pada bangunan.

  • a. Waktu Pengerjaan Balok dan Pelat Lantai

Pelaksanaan pekerjaan balok lantai dan plat lantai pada Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin pada tanggal 4 April 2017 adalah perakitan besi dan pembuatan bekisting balok lantai, pemasangan perancah bekisting balok lantai dan plat lantai di mulai dari bagian belakang bangunan MSC dan di lanjutkan ke arah depan, kemudian dilanjutkan perakitan besi balok lantai berdiameter variatif pada tanggal 14 April 2017, tanggal 18 April 2017 mulai perakitan besi pada plat lantai dengan metode dimulai dari bagian belakang bangunan, tanggal 22 April pembersihan dan pengecoran plat lantai 1, dilanjtkan tanggal 9 Mei 2017 perakitan bekisting lantai 2, 14 Mei 2017 perakitan besi balok lantai dan plat lantai 2, 21 Mei 2017 pekerjaan pengecoran lantai 2 dan berakhir pada tanggal 22 Juni 2017. Pengerjaan sangat di menejemen oleh kontraktor dan pihak terkait bertujuan mengejar waktu yang tertinggal.

2.Proses Pengamatan

Proses pengamatan yang dilakukan pada pengerjaan balok lantai dan pelat lantai pada proyek pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin terbagi dalam dua proses, yaitu :

Pengamatan secara administratif

Pengamatan secara teknis

Proses pengamatan secara administratif dilaksanakan dengan melakukan pencatatan materi yang digunakan sebagai data penunjang laporan, data yang dicatat yaitu :

Jumlah tenaga kerja yang dikerahkan setiap hari kerja

Bahan-bahan yang didatangkan

Peralatan yang dipakai

Pekerjaan yang dilaksanakan setiap harinya

Kendala-kendala yang menghambat pelaksanaan pekerjaan.

Semua hal tersebut dimasukkan ke dalam laporan harian dan dikumpulkan menjadi laporan mingguan. Laporan mingguan ini dikumpulkan lagi menjadi laporan bulanan yang dilengkapi dengan laporan kemajuan fisik.

Sedangkan proses pengamatan secara teknis dilaksanakan dengan melakukan pengamatan secara seksama terhadap setiap pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksaan pembangunan fisik pada proyek Pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I Banjarmasin, seperti :

Meneliti serta mengamati cara kerja pelaksaan yang dilaksanakan di lapangan.

Mengamati peralatan serta bahan-bahan yang digunakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dalam RKS.

Mengamati pemakaian material dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi di lapangan.

Mengamati segala bentuk proses kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Kegiatan di atas dimasukkan ke dalam laporan harian, sehingga apabila terjadi kekeliruan pengerjaan konstruksi dapat ditindak lanjuti.

4.6 Pekerjaan Balok Dan Pelat Lantai

1. Pekerjaan Bekisting Balok Dan Pelat Lantai

Pekerjaan ini meliputi pemasangan tiang penyangga dan pengunci lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan pengaplikasian bekisting pada lahan antara lain:

  • a. Lantai Satu

Pemasangan material galam berdiameter 5 centimeter pada lokasi yang sudah diukur

luasannya, galam pertama sebagai balok bawah, galam kedua sebagai tiang penyangga,

galam ketiga sebagai balok pengunci.

Gambar 34 galam sebagai balok bagian bawah bekisting sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017  Cara

Gambar 34 galam sebagai balok bagian bawah bekisting

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

Cara pemasangan: pada pertemuan sambungan menggunakan metode paku 2” pada

setiap perekatan material satu dan lainnya.

Pemasangan material balok kayu kasau sebagai bagian dari balokan bekisting, Pada

balok kayu 5/7 digunakan sebagai balok penahanbagian bawah lapik.

 Cara pemasangan: pada pertemuan sambungan menggunakan metode paku 2” pada setiap perekatan material satu dan

Gambar 35 balok kayu kasau 5/7

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

Cara pemasangan: menggunakan paku 1½” sebagai perekat, dan dari pinggir papan di

beri jarak 1 centimeter agar kayu tidak pecah.

Material multiplek sebagai penutup atau media lantai bekisting, pada proyek ini

menggunakan multiplek dengan ketebalan 9 milimeter.

Cara pemasangan: menggunakan paku 1” sebagai perekat antara bekisting lantai dan

balok bekisting.

  • b. Lantai Dua

Pemasangan skafoding sebagai tiang penyangga untuk lantai dua dengan langkah

sebagai berikut:

-

skafolding dirakit pada lokasi yang sudah disesuaikan kondisinya.

-

pada bagian kaki skafolding di seting dengan menyesuaikan ketinggian.

-

pengunci skafolding berupa bracing yang dikaitkan satu dan lainnya.

-

bagian penyambungan atas menggunakan shok sebagai pengikat dengan bagian bawah.

-

penyambungan atas berupa ulir untuk penyokong balok yang bisa diatur tinggi

rendahnya.

b. Lantai Dua  Pemasangan skafoding sebagai tiang penyangga untuk lantai dua dengan langkah sebagai berikut:

Gambar 36 skafolding pada bangunan msc

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

Pemasangan balok bekisting lantai 5/7 diletakan diatas tiang skafolding dengan cara

diberi pengikat tali dari bahan besi (Bendrat)

Pemasangan lantai bekisting dengan material bondek dengan ketebalan 0,8

milimeter pada lantai dua.

Gambar 37 pemasangan bondek pada lantai dua msc sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017 2. Pekerjaan

Gambar 37 pemasangan bondek pada lantai dua msc

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

2. Pekerjaan Besi Balok Dan Pelat Lantai

  • l. pekerjaan besi balok

Pekerjaan balok pada pembangunan gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin terbagi dua jenis pembebanan yaitu tumpuan dan lapangan.

material besi yang digunakan berkualitas baik dengan merek ks (Krakatau steel), pada balok menggunakan besi berdiameter D13 mm

  • m. pekerjaan besi pelat lantai

Besi pelat lantai ini menggunakan besi D12 dengan jarak 20cm, metode perakitan sebagai berikut:

  • - Besi di potong sesuai dengan ukuran yang digunakan dengan alat potong manual.

  • - Besi di pola sesuai pada konsisi site.

  • - Diberikan lengkungan di setiap ujung bagian besi bertujuan mengikat beton.

  • - Besi diangkut kedalam bekisting untuk dirakit.

  • - Besi disatukan dengan kawat besi (bendrat).

Gambar 38 bendrat sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017 - Besi di beri spacer agar tidak

Gambar 38 bendrat

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • - Besi di beri spacer agar tidak melendut pada bagian tengah.

Gambar 38 bendrat sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017 - Besi di beri spacer agar tidak

Gambar 39 pemasangan spacer

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • - Diberikan pengganjal pada bagian bawah besi bertujuan agar memiliki jarak dari lantai bekisting.

Gambar 40 proses pemasangan tahu beton pada bagian bawah tulangan. sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Gambar 40 proses pemasangan tahu beton pada bagian bawah tulangan.

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • - Setiap sambungan diberi satu meter untuk stek

3. Pekerjaan Pengecoran Balok Dan Pelat Lantai

Proses pengecoran merupakan hal utama yang dilakukan pada malam atau siang hari dicuaca cerah, pengecoran ini memiliki langkah sebelum beton dituang dalam cetakan:

  • - Pada bekisting harus bersih dari kotoran sisa-sisa potongan kawat, tanah, dan debu agar hasil yang dicapai maksimal.

Gambar 40 proses pemasangan tahu beton pada bagian bawah tulangan. sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Gambar 41 pembersihan lokasi pengecoran

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • - Sebelum pengecoran meminta sampel untuk dites.

  • - Saat pengecoran alat yang digunakan adalah vibrator untuk memadatkan cor beton kesela terkecil

- Sebelum pengecoran meminta sampel untuk dites. - Saat pengecoran alat yang digunakan adalah vibrator untuk

Gambar 42 vibrator

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

Pengecoran menggunakan mutu K-250 pada balok dan pelat lantai satu dan dua. Sebelum cor beton dituang dalam bekisting diberikan campuran untuk mempercepat pengeringan pada beton, sehingga beton dapat lebih cepat kering dan kuat dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan semula, dalam satu readymix dapat bermuatan enam kubik dan memerlukan satu kaleng pengering beton, pengering ini berwarna hitam pekat dan kental seperti oli bekas dengan ukuran kaleng satu liter.

- Sebelum pengecoran meminta sampel untuk dites. - Saat pengecoran alat yang digunakan adalah vibrator untuk

Gambar 43 campuran untuk mempercepat pengeringan

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • 4. Pekerjaan Pasca Pengecoran Balok Dan Pelat Lantai

Pekerjaan pasca pengecoran dimana beton berada dalam kondisi basah atau kering yang masih dalam tahap perawatan agar beton tidak cepat haus dan retak. Metode perawatan beton diantaranya menggunakan plastic, karung basah, disiram air bersih dan pada bagian bawah sebelum pengecoran diberi plastic agar air tidak rembes.

4. Pekerjaan Pasca Pengecoran Balok Dan Pelat Lantai Pekerjaan pasca pengecoran dimana beton berada dalam kondisi

Gambar 44 penutup plastic pada cor beton

sumber : dokumentasi pengawas lapangan, 2017

  • 5. Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Balok Dan Pelat Lantai

Pada pembongkaran bekisting ada berapa hal yang dapat di perhatikan, pembongkaran pada balok dan plat lantai dengan langkah sebagai berikut:

  • - Memastikan umur beton mencapai kekuatan batas maksimal atau dalam 21 hari setelah pengecoran.

  • - Melepas skafolding dengan melonggarkan pengencang pada bagian atas, setelah itu melepas bracing pada bagian antar tiang skafolding, pada langkah selanjutnya pelepasan tumpangan tiang dan disimpan dilokasi yang dianggap tidak mengganggu pekerjaan lain.

Gambar 45 pelepasan bekisting dengan cara mencongkel sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017 - Mempersiapkan alat

Gambar 45 pelepasan bekisting dengan cara mencongkel

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

  • - Mempersiapkan alat berupa linggis untuk melepas pengikat papan bekisting dengan balok yang melepas.

  • - Melepas bekisting papan pada cor balok, ini sangat berhati-hati agar papan tidak rusak dan bisa dipakai kembali agar tidak terjadi pembengkakan biaya.

Gambar 45 pelepasan bekisting dengan cara mencongkel sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017 - Mempersiapkan alat

Gambar 46 perakitan bekisting dengan memakai material bekas

sumber : dokumentasi kamera pribadi, 2017

  • - Papan dirakit kembali setelah pelepasan dari cor beton yang sudah kering.

  • A. Perbandingan Pelaksanaan di Lapangan dan Teori

Tabel 5 Perbandingan Pelaksanaan di Lapangan dan Teori

NO

JENIS

TEORI

PRAKTIK

PEKERJAAN

1

Persiapan

Dalam menjalankan pekerjaan persiapan banyak sekali peraturan yang diketetahui dan harus di tentukan, mulai dari penurunan barang bahkan sampai penyimpanan biasanya selalu di batasi dengan waktu.

Di lapangan pekerjaan persiapan tidak terlalu rumit. Hanya pekerjaan yang dasar yang di sebut pekerjaan persiapan, misalnya pemilihan barang hanya di lakukan biasa tanpa melihat waktu yang di batasi.

   

Pekerjaan yang menyangkut keselamatan sebenarnya hal yang harus dilakukan guna keselamatan si pekerja, tetapi tergantung alat yang disediakan. Alat keselamatan biasanya berupa Helm, Webbing, Sepatu boot, dan sepatu lapangan.

Hal pada teori tersebut sesuai dengan kondisi dilapangan,semua pekerja menggunakan APD (Alat Pengaman Diri) guna mencapai kerja profesional dan keselamatan diri stiap individu.

Pekerjaan dimulai dari

Persiapan

tersebut

awal seperti persiapan

sesuai,

seperti

salah

   

barang, bahan dan telah di rencanakan dengan matang. Pekerjaan

satu contoh penyediaan material besi tulangan pada balok lantai dan plat lantai, sehingga

pekerjaan

tidak

pekerjaan disusun dengan tahapan yang tepat guna kelancaran dalam bekerja.

terhambat.

2

Penyimpanan

Penyimpanan barang

Penyimpanan barang

barang

harus sesuai dengan barang dan jenisnya juga harus disusun dan dibedakan tempat

ditempatkan di gudang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang berdekatan

dengan

lokasi

penyimpanannya.

pemasangan.

3

Persiapan barang/bahan yang

Persiapan barang yang

Persiapan

dilakukan

akan digunakan

akan digunakan

berbentuk

perakitan

biasanya telah dibuat

yang

dilakukan

pada

terlebih dahulu,

saat

jam

kerja,tenaga

kerja

dibagi

menjadi

misalnya pembuatan

dua

perakitan

dan

pembesian cincin untuk pengikat balok lantai dan lantai sudah disiapakan.

pemasangan dilokasi.

Persipan material corbeton dilakukan pemesanan beberapa hari sebelum tempo waktu pengecoran siap dilaksanakan.

Pemesanan material cor beton readymix sesuai dengan yang sudah direncanakan tiga hari sebelum pengecoran dilakukan kiranya mendapat jadwal dari pihak suplayer.

4

Proses pekerjaan

Di dalam kajian teori,

Pada kondisi lapangan

proses pekerjaan telah

pekerjaan ini

di

manajemen sedemikian

   

ditentukan. Misalnya hari senin proses yang akan dikerjakan adalah

rupa,terdapat tukang yang bekerja pada dua lapisan,yaitu:

pekerjaan perakitan bekisting.

Pekerjaan bekisting balok dan plat lantai

dimulai

dari

belakang,kemudian ketka bekisting sudah

sampai

tengah

bangunan masuk besi

kelokasi

untuk

pemasangan dan penyetelan. Dan terus bersusulan.

5

Struktural

Struktur yang digunakan dalam proses pekerjaan telah ada dan telah diteliti, maka kajian itu menjadi acuan yang akan dipakai dalam proses pekerjaan di lapangan.

Pada kondisinya dilokasi pengerjaan teori sudah sesuai dengan material yang terpasangan ini karena ada quality control pada pihak yang terkait.

BAB V

PENUTUP

Praktik kerja yang dilakukan mahasiswa selama ± 60 hari kerja memberikan manfaat yang banyak bagi mahasiswa baik itu ilmu, pengalaman serta pengetahuan tentang Manajemen Konstruksi. Selama praktik kerja mahasiswa mampu memahami dan mengerti bagaimana cara membandingkan ilmu dari teori pelajaran maupun ilmu di lapangan dan juga mahasiswa mampu mengetahui lebih banyak tentang Manajemen Konstruksi dalam sebuah proyek. Serta mahasiswa juga mampu memahami dan mengerti permasalahan dan kondisi yang ada di lapangan.

5.1 Kesimpulan Umum

Berdasarkan dari uraian pada bab-bab sebelumnya, mulai dari pengamatan dan Analisa yang dilakukan terhadap pelaksanaan pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) PT.H3I di Banjarmasin, maka secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • 1. Dalam suatu proyek pembangunan harus ada tanggung jawab, system kerja yang baik dan disiplin kerja , karena kriteria tersebut mendukung kelancaran dan keteraturan operasional pembangunan.

  • 2. Ketepatan waktu pekerjaan yang sesuai Time Schedule dapat mempercepat proses pembangunan.

  • 3. Keseriusan, ketelitian dan kecepatan dalam melaksanakan setiap pekerjaan merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas hasil pekerjaan yang optimal dalam batas waktu pelaksanaan yang telah ditentukan.

  • 4. Dengan kualitas finishing yang optimal dan pekerjaan yang benar dan rapih memberikan kepuasan tersendiri bagi para pekerja yang bersangkutan dengan proyek tersebut, terutama klien.

  • 5. Pemilihan bahan bangunan dipengaruhi oleh fungsi bangunan dan berkaitan dengan kualitas ruang yang ingin dicapai.

6.

Kesalahan para pekerja yang terjadi di lapangan dapat mengganggu kelancaran suatu

pekerjaan dan mengurangi kualitas hasil pekerjaan tersebut.

  • 5.2 Kesimpulan Khusus

Kesimpulan khusus adalah kesimpulan dari setiap pelaksanaan tiap-tiap bagian struktur bangunan, yaitu :

  • 1. Plat Lantai

Melakukan slump test terhadap beton yang akan digunakan untuk pengecoran.

Sebelum proses pengecoran, keadaan permukaan yang akan dilakukan pengecoran haruslah

benar benar bersih untuk kekuatan beton.

Pengecoran harus dilakukan saat keadaan cuaca yang cerah untuk memastikan mutu beton

terjaga.

Waktu kering cor harus benar benar sesuai dengan prosedur.

Tutup dengan pelastik sesaat setelah dicor.

Urutan urutan lapisan lantai harus benar.

  • 2. Balok Lantai

Pembuatan balok lantai harus teliti agar bangunan yang dipakai tidak cepat rusak, karena balok

lantai ini akan menahan beban-beban dari material material yang digunakan, perabot

ruangan, maupun aktifitas manusia diatasnya.

Bekisting balok lantai harus benar benar bersih, tidak bocor, dan kuat sebelum dilakukan

pengecoran.

Setelah dicor, bekisting kolom baru dapat dilepas setelah beton benar-benar kering.

  • 5.3 Saran

Saran-saran kepada semua pihak yang terlibat dalam proyek ini :

Perlu ditingkatkan kualitas kerja dari para pekerja mulai dari kepala proyek hingga kuli

bangunan.

Perbaiki dahulu kesalahan dalam suatu pekerjaan sebelum kesalahan tersebut terlanjur banyak

dan sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya agar tidak terlalu parah dan dapat

menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Perbanyak komunikasi kepada pengawas dari pemilik proyek agar tidak terjadi

kesalahpahaman dalam pelaksanaan pekerjaan.

Kerjasama antara pemilik proyek dan tim konsultan sudah dibina dengan baik. Walaupun

proyek pembangunan Gedung MSC (main station control) PT.H3I Banjarmasin pada tahap

ini masih ada yang menyimpang dari time schedule, tetapi etos kerja yang dihasilkan tetap

dijaga dengan baik dan citra kontraktor tetap terjaga sebagaimana baiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Dan, E. K. (2011) ‘Kerja praktik’, (434), pp. 1–18. Diponegoro, J. and Siranda, N. (2016) ‘Proyek Pembangunan Gedung Hotel Ibis Style Candiland’. Ii, B. A. B. and Teori, L. (no date) ‘No Title’, pp. 5–45. Putri, N. O. (2009) ‘Jurusan Sistem Informatika, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia’, (12), pp. 1–20. Selatan, P. K., Rifanie, M. and Pengantar, K. (2017) Laporan praktik kerja lapangan (hakk 601). Tower, R. A. (2012) ‘PEKERJAAN MECHANICAL ELECTRICAL’. ‘UINAM_LAPORAN_KERJA_PRAKTEK_PELAKSANAAN’ (no date).

www.bhineka.com. (n.d.). www.indotrading.com. (n.d.).

LAMPIRAN