You are on page 1of 23

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

(HAKK 601)
PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUAN GEDUNG MSC2
BANJARMASIN
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Obyek Khusus :
PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN BALOK LANTAI SATU

Oleh :
TOPAN PRADIGJA H1B114218
MUHAMMAD ADHIYATNA H1B114219

Dosen Pembimbing :
PAKHRI ANHAR, MT

PROGRAM STUDI S1 ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik laporan
Praktek Kerja Lapangan ini dengan judul “ Pelaksanaan Pengerjaan Plat Lantai lantai
satu dalam bangunan dan Balok lantai lantai satu Pada Proyek Pembangunan Gedung
MSC2 Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan”. Serta tidak lupa shalawat dan salam
kepada Rasulullah SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi kita semua.
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk tugas mata kuliah Praktek Kerja
Lapangan (HAKK 601) dan bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan praktek kerja
lapangan selama 60 hari kalender kerja dengan objek khusus Pengerjaan Plat Lantai
lantai satu dalam bangunan dan pengerjaan Balok Lantai lantai satu yang terhitung dari
tanggal 9 Maret – 2017 (2 bulan) dihitung sesuai dengan daftar hadir di proyek.
Dengan melaksanakan praktek kerja lapangan ini, mahasiswa mendapat serangkaian
kemampuan yang berkenaan dengan aktivitas nyata pada dunia kerja lapangan atau dunia
usaha selain teori yang didapat di perkuliahan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak DR. Bani Noor Muchammad selaku Ketua Jurusan S1 Teknik Arsitektur
Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
2. Bapak Pakhri Anhar, MT. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan
banyak arahan dalam proses penyusunan laporan ini.
3. Ibu Dr. Ira Mentayani selaku Koordinator Praktek Kerja Lapangan.
4. PT. MANDIRI KARYA UTAMA RIZKY (Persero) selaku kontraktor yang telah
memberikan ilmu pengetahuan dan data/dokumen proyek Pembangunan
Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
5. Bapak AULIA RAHMAT DAN Bapak HENDRA selaku pembimbing lapangan
yang telah memberikan banyak arahan selama di lapangan.
6. Seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek Pembangunan gedung
MSC2 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah
SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, Amin.

Banjarbaru, Maret 2017

Penulis

i
LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL : PELAKSANAAN PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN
BALOK LANTAI DALAM BANGUNAN

PADA : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG MSC2 BANJARMASIN,


KALIMANTAN SELATAN TAHUN ANGGARAN 2016/2017
OBJEK KHUSUS PENGERJAAN PLAT LANTAI DAN BALOK
LANTAI DALAM BANGUNAN

PENYUSUN :

1. TOPAN PRADIGJA H1B114218


2. MUHAMMAD ADHIYATNA H1B114219

Banjarbaru, Maret 2017

Pembimbing Praktek Kerja Lapangan, Koordinator Praktek Kerja Lapangan,

Pakhri Anhar, MT Dr. Ira Mentayani NIP.


196004081988031004 NIP. 19740801 199803 2 001

Ketua Program Studi Arsitektur

Dr. Bani Noor Muchammad


NIP. 197204301997031003

ii
DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam proses pembangunan suatu bangunan ada beberapa tahapan yang harus
dilaksanakan serta melibatkan berbagai pihak dengan kewajiban yang menjadi
tanggung jawab mereka masing-masing, hingga bangunan tersebut siap untuk
digunakan. Mahasiswa juga dipersiapkan untuk dapat berpikir secara kritis dan
memiliki daya tanggap yang lebih baik dalam mengikuti segala perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi guna memahami dan dapat menyelesaikan segala
permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan pekerjaan
konstruksi sangat menarik untuk diamati karena sedikit banyaknya mencerminkan
penampakan visual nilai arsitektural dari suatu bangunan terutama dari penyelesaian
detail, baik itu detail struktural maupun detail arsitektural. Kualitas bangunan juga
dipengaruhi oleh kecermatan dan ketepatan dalam memilih material yang sesuai,
ekonomis, dan efisien. Tingkat kerumitan dari pekerjaan konstruksi menurut
waktupun relatif lebih lama dibandingkan dengan pelaksanaan pekerjaan jasajasa
lainnya.
Untuk mencapai hasil yang sesuai dengan perencanaan, dituntut pelaksanaan
pekerjaan yang benar-benar teliti dari segi struktur, konstruksi, estetika serta kualitas
yang tercipta. Dengan meminimalkan kesalahan yang terjadi dan memperbaikinya
apabila terjadi, untuk mencapai pekerjaan yang efisien dalam waktu, tenaga, maupun
biaya, Selain itu, efisiensi ini dimaksudkan untuk mencegah kerugian yang terjadi.
Agar semua pekerjaan konstruksi tersebut tepat dan sesuai perencanaan maka penulis
selaku praktikan dan mahasiswa teknik arsitektur merasa perlu untuk melaksanakan
kerja praktik di lapangan, karena sebagai calon arsitek juga harus mengerti proses
pekerjaan pembangunan di lapangan. Dari kerja praktik di lapangan inilah dapat
diketahui apakah semua yang telah dipelajari di kampus serta dari literatur-literatur
yang ada sesuai dengan yang terjadi selama proses pembangunan di lapangan.

1
1.2 Tujuan dan sasaran

1.2.1 Tujuan Kerja Praktik

Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktik adalah :

1. Sebagai syarat pengajuan untuk mengikuti mata kuliah wajib Kerja Praktik dan
menempuh ujian akhir Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Lambung Mangkurat.

2. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswa.

3. Mahasiswa mampu memahami, mengerti dan membandingkan ilmu dalam bentuk teori
dan ilmu dilapangan.

4. Menambah pengalaman mahasiswa dalam dunia kerja, khususnya proyek konstruksi.

5. Meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara perguruan tinggi, pemerintah dan
perusahaan.

1.2.2 Sasaran
Melalui mata kuliah Praktik Kerja Lapangan ini diharapkan mahasiswa dapat:

1. Membuat laporan Praktik Kerja Lapangan yang baik dan benar sesuai dengan obyek
pengamatan.
2. Memahami dalam mengamati pelaksanaan proses kerja pelaksanaan pada suatu
proyek pembangunan dan menambah pengetahuan di luar teori-teori yang diajarkan
dalam perkuliahan.
3. Administrasi yang semuanya akan dilaporkan dalam bentuk laporan praktik kerja
lapangan.

2
1.3 Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan pada Proyek Pembangunan


Gedung MSC Banjarmasin adalah dua bulan terhitung sejak tanggal 2 Maret – Mei
2017. Pada rentang waktu tersebut merupakan waktu dilaksanakannya pengerjaan
dengan sub bidang pengamatan.
1. Pengerjaan plat lantai dalam bangunan
2. Pengerjaan balok lantai dalam bangunan

1.4 Lingkup Kerja Praktik

Batasan-batasan yang dibahas pada penulisan laporan kerja praktik kali ini mencakup
pembahasan mengenai lokasi dan perusahaan tempat proyek pembangunan, materi-
materi pengamatan, serta waktu pengamatan.

1.4.1 Lingkup Materi Pembahasan

Kerja praktik kali ini dilaksanakan pada proyek pembangunan gedung MSC
Banjarmasin yang terletak di jalan A Yani km 5,5 Banjarmasin. Adapun hasil dari
pengamatan di lapangan tersebut meliputi beberapa proses pekerjaan seperti
pengerjaan plat lantai dan balok lantai.

1.2.3 Batasan Kerja Praktik

Praktik Kerja Lapangan merupakan salah satu mata kuliah wajib yang
kegiatannya dilaksanakan maksimal 2 (dua) orang mahasiswa dalam satu kelompok
dengan satu pokok bahasan/judul, dan telah memnuhi syarat yang telah ditentukan
dalam Pedoman Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan. Kegiatan Praktik Kerja
Lapangan ini dilaksanakan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kerja,
dinyatakan dalam daftar hadir yang disetujui oleh site manager dan diketahui oleh
Piminan Perusahaan yang bersangkutan. Tempat pelaksanaan Kerja Praktik ini
ialah pada Proyek Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin di jalan A.Yani Km.
5,5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan PT. MANDIRI KARYA UTAMA
RIZKY selaku Civil Work dari Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin

3
ini.adapun batasan obyek pengamatan ialah pada Pengerjaan Plat Dan Balok Lantai
pada Bangunan.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada Laporan Praktik Kerja Lapangan ini adalah


sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang pemilihan objek Praktek Kerja


Lapangan, lingkup dan batasan Praktek Kerja Lapangan, tujuan
dan sasaran Praktek Kerja Lapangan, serta sistematika penulisan
Laporan Praktek Kerja Lapangan.
BAB 2 TINJAUAN PROYEK

Mendeskripsikan tentang perusahaan tempat praktikan


melaksanakan pengamatan, proyek yang dimaksud, lingkup
pekerjaan maupun perjanjian-perjanjian pekerjaan, struktur
organisasi proyek, serta tinjauan tentang dasar-dasar atau landasan
teoritis tentang pekerjaan arsitektur yang berkaitan dengan
pekerjaan struktur konstruksi.
BAB 3 TINJAUAN TEORI

Bab ini berisi kajian pustaka berupa teori - teori dan metode -
metode dari literatur - literatur tentang supervisi lapangan,
adminsitrasi lapangan, dan metode pelaksanaan pengamatan
pelaksanan Pengerjaan Plat Lantai dan Balok Lantai dalam
bangunan.

BAB 4 PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang metode dan teknik pelaksanaan, proses


pelaksanaan (administrasi dan teknis) serta hasil pengamatan

4
mengenai pelaksanaan Pengerjaan Plat Lantai dan Balok Lantai
dalam bangunan.
BAB 5 PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan setelah melakukan pembandingan dan


saran yang dapat diajukan bagi pihak - pihak yang terkait.

5
BAB 2

TINJAUAN PROYEK

2.1 Data Umum Proyek

Data umum proyek pembanguna gedung MSC Banjarmasin.

Nama Proyek : Pembangunan MSC (Main Station Control) PT.H3I


Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Alamat : Jalan Ahmad Yani km 5,5 Banjarmasin

Titik Koordinat : 3.34395ºLS, 114.623ºBT,55 mdpl

Pemilik/Owner : PT. H3I Banjarmasin

Pemberi Tugas : PT. Hutchison 3 Indonesia + PT. Huawei Tech


Investment
Konsultan Perencana : PT. Whidia Bharaya

Konsultan MK : PT. Handasa Konsultan

Kontraktor : PT. Mandiri Karya Utama Rizky (Civil Works)

Luas Bangunan : ± 600 m²

Luas Area : ± 804 m²

Tgl. Kontrak : 05 Desember 2016

No. Kontrak : 1091204084_2

Nilai Kontrak : Rp. 5.257.685.526 (Lima Miliyar Dua Ratus Lima


Puluh Tujuh Juta Enam Ratus Delapan Puluh Lima
Ribu Lima Ratus Dua Puluh Enam Rupiah)

Waktu Pelaksana : 180 Hari

Masa Pemeliharaan : 360 Hari

6
2.2 Pemilik Proyek

Pemilik proyek (owner) adalah seorang atau intuisi pemilik sebuah proyek dimana
memberikan pekerjaan bangunan dan membayar biaya pekerjaan bangunan.
Pemilik proyek mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
a. Menunjuk MK pemenang tender untuk mengawasi proyek tersebut.
b. Menunjuk kontraktor pemenang tender untuk melaksanakan proyek tersebut.
c. Menyediakan dana yang diperlukan untuk merealisasikan proyek.
d. Membuat surat perintah kerja ( SPK ).
e. Memberikan tugas kepada kontraktor atau melaksanakan pekerjaan proyek dan MK
untuk megawasi proyek.
f. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan.
g. Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas atau manajemen
konstruksi ( MK ).
h. Menerima hasil pekerjaan dari pelaksanaan proyek atau kontraktor dan pengawas
atau MK.

2.3 Kontraktor Pelaksana

Kontraktor Pelaksana adalah pihak yang ditunjuk oleh pemilik proyek


(owner ) untuk melaksanakan pekerjaan proyek. kontraktor pelaksana dapat berupa
badan usaha atau perorangan. perlu sumber daya manusia yang ahli dibidangnya
masing-masing seperti teknik sipil, arsitektur, mekanikal elektrikal, listrik dan
lainlain sehingga sebuah bangunan dapat dibangun dengan baik dalam waktu cepat
dan efisien.
Pada Proyek Pembangunan gedung MSC Banjarmasin, Kalimantan Selatan
ini yang bertindak sebagai Kontraktor pelaksana adalah PT. MANDIRI KARYA
UTAMA RIZKY

2.4 Nilai Proyek

Nilai Proyek merupakan besarnya dana yang diperlukan untuk


menyelesaikan suatu bangunan proyek dari awal hingga selesai, termasuk segala
pengeluaran kontraktor beserta pajak – pajak dan biaya lainnya. Nilai Proyek

7
Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin, Kalimantan Selatan berdasarkan nilai
kontrak adalah sebesar Rp. 5.257.685.526

2.5 Luas Bangunan yang Diamati

Pada proyek Pembangunan Gedung MSC Banjarmasin, Kalimantan


Selatan. Akan dibangun MSC (Main Station Control) Banjarmasin dengan 3
bangunan pendukung dan bangunan utamanya memiliki 2 lantai, dengan rincian
seperti berikut :
Lantai 1 : Direncanakan untuk tempat MCS Room
(Lantai 1 & Power Room

Lantai 2 : Direncanakan sebagai MSC Office Room


.

2.6 Jangka Waktu Konstruksi

Untuk jangka waktu konstruksi Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main Station
Control) di jalan Ahmad Yani km 5,5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan berdasarkan
kontrak kerja adalah 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender dan waktu
pemeliharaan adalah 360 (Tiga Ratus Enam Puluh) hari kalender.

2.7 Proses Pelaksanaan Pekerjaan

Dalam sebuah proyek pembangunan terdapat kegiatan pra kontruksi yaitu


berupa proses tender atau pelelangan guna mendapatkan pelaksana yang handal
dengan dasar biaya yang logis.
Secara garis besar rangkaian kegiatan meliputi :
a. Persiapan Lelang untuk membentuk panitia dan dokumen - dokumen yang
diperlukan saat proses lelang.
b. Pelaksanaan Lelang meliputi pengumuman lelang, pendaftaran peserta lelang
dan pengambilan dokumen dan pelaksanakan kualifikasi, pengambilan
undangan dan dokumen, pemberian penjelasan dokumen lelang, pemasukkan
dokumen lelang dan pembukaan penawaran, evaluasi dan pembuatan berita
acara hasil lelang dan pengumuman pemenang lelang.
c. Penyusunan Kontrak dibuat setelah adanya pemenang lelang di proyek yang
ditenderkan. kontrak adalah surat perjanjian pelaksanaan secara tertulis antra
dua pihak yaitu antara pemilik dan pemenang lelang.

8
Proses Penetapan kontraktor adalah serangkaian kegiatan mulai dari
mengidentifikasi keperluan jasa kontraktor oleh pemilik/pemberi tugas,
mempersiapkan lelang, melakukan lelang, sampai medatangani kontrak untuk
menangani implementasi fisik proyek. Mengingat besarnya sumber daya yang
terlibat, serta resiko yang dihadapi, maka untuk maksud tersebut dikenal beberapa
prosedur, salah satu di antaranya adalah mengadakan lelang terbuka yang dimaksud
dengan proses tender di sini adalah dimulainya pekerjaan dari persiapan dokumen
tender sampai dikeluarkannya surat pelulusan pemenang.
a. Pembentukan Panitia Lelang
b. Mengundang Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi (Pemborong).
Setelah Panitia Lelang terbentuk maka langkah selanjutnya adalah
mengundang Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi (Pemborong) yang memenuhi
persyaratan.
c. Setelah diadakan rapat seleksi Kontraktor oleh Panitia Lelang maka diputuskan
nama-nama kontraktor yang dapat ikut serta dalam kegiatan lelang.
d. Rapat Penjelasan Umum (Aanwijzing)
Membuat Berita Acara Pemberian Penjelasan (BAPP) yang berisi tanya
jawab dan perubahan - perubahan dokumen pemilihan jika ada. Membuat
perubahan dokumen pemilihan dituangkan dalam addendum dokumen pemilihan.
Memberitahukan kepada semua peserta untuk mengambil salinan addendum dan
mengupload di website. Perubahan rancangan kontrak, ruang lingkup, dan HPS
harus mendapat persetujuan dari PPK sebelum dituangkan dalam addendum
dokumen pemilihan. Ketidak hadiran calon penyedia tidak menggugurkan haknya
untuk mengikuti proses selanjutnya.

e. Dokumen Penawaran
Dokumen penawaran ialah adalah dokumen yang ditunjukan kepada panitia
lelang dengan mencantumkan masa berlaku penawaran, harga penawaran, dan
jangka waktu pelaksanaan pekerjaan serta list lampiran persyaratan yang tercantum
di dalam dokumen penawaran yang terdiri dari 3 jenis dokumen, yaitu :
1. Dokumen administrasi Dokumen administrasi tediri dari :

9
a. Surat Pernyataan Tunduk atas keputusan Panitia/Pemberi Tugas dalam
menentukan pemenang.
b. Akta Pendirian Perusahaan.
c. Surat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
d. Surat Pengukuhan Sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
e. Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang masih berlaku.
f. Surat Sertifikasi Badan Usaha Jasa Konstruksi
g. Surat Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang masih berlaku.
h. Neraca dan Laba/Rugi Perusahaan tahun terakhir.
i. Satu helai surat jaminan penawaran (tender bond)
j. Referensi Bank.
k. Surat Anggota KADIN, AKI atau AKLI yang masih berlaku
l. Surat pernyataan sanggup mengasuransikan tenaga kerja untuk proyek
ini (Astek).
m. Surat Kuasa Direktur (apabila dikuasakan)
n. Rekening Koran 3 (tiga) bulan terakhir.
o. Pengalaman perusahaan 3 tahun terakhir, dan melampirkan bukti
penyetoran PPN.Dokumen teknis

2. Dokumen teknis
Dokumen teknis terdiri dari : a.
Time schedule
b. Daftar personal inti pelaksana lapangan
c. Daftar peralatan utama
d. Metode dan teknis pelaksanaan pekerjaan
e. Struktur organisasi proyek

3. Dokumen biaya
Dokumen biaya terdiri dari : a.
Surat penawaran biaya
b. Rincian rencana anggaran biaya
c. Analisis RAB

10
d. Harga satuan material dan upah

f. Surat Perjanjian
Sebelum melakukan pelaksanaan proses konstruksi, didalam dokumen
kontrak terdapat dokumen berupa surat perjanjian. Isi dari surat perjanjian, antara
lain :
a. Kuasa pengguna anggaran meminta untuk menyediakan pekerjaan
Konstruksi sebagaimana diterangkan dalam syarat-syarat umum
kontrak yang terlampir dalam kontrak ini selanjutnya disebut
"Pekerjaan Konstruksi".
b. Penyediaan yang dinyatakan kepada KPA, memiliki keahlian
pekerjaan konstruksi sesuai dengan persyaratan dan ketentuan
dalam kontrak.
c. KPA dan penyedia jasa menyatakan memiliki kewenangan untuk
menandatangani kontrak dan mengikat pihak yang diwakili.
d. KPA dan penyedia mengakui dan menyatakan bahwa sehubungan
dengan penandatanganan kontrak ini sehingga masing-masing
pihak : (1) telah dan senantiasa diberikan kesempatan untuk
didampingi oleh advokat; (2) menandatangani kontrak setelah
meneliti secara patut; (3) telah membaca dan memahami secara
penuh ketentuan kontrak; (4) telah mendapatkan kesempatan yang
memadai untuk memeriksa dan mengkonfirmasikan semua
ketentuan dalam kontrak ini beserta semua fakta dan kondisi yang
terkait.
Penetapan kontraktor pelaksana Proyek Pembangunan Gedung MSC (Main
Station Control) Banjarmasin ini melalui sistem lelang. Owner (pemilik) dalam hal
ini adalah PT. H3I Banjarmasin melakukan lelang lewat layanan pengadaan secara
elektronik dan terpilih PT. MANDIRI KARYA UTAMA RIZKY sebagai
Kontraktor pelaksana Konstruksi.

11
2.8 Hubungan Kerja dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah proyek perlu dijalin hubungan kerja yang baik. Hubungan kerja
adalah hubungan antara pihak-pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap
pelaksanaan dan wewenang untuk menjamin kelancaran jalannya proyek, sehingga
proyek dapat selesai tepat pada waktunya. Pengerjaan suatu pembangunan diharuskan
untuk berpedoman pada suatu ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang
telah dibuat berasarkan peraturan pemerintah. Secara garis besar pola hubungan kerja,
diatur sebagai berikut :
a. Hubungan kerja pemberi tugas dengan konsultan perencana,
1. Ikatan : kontrak
2. Perencana menyerahkan jasa/karya perencanaan kepada pemberi tugas
3. Pemberi tugas memberikan biaya perencanaan kepada perencana
b. Hubungan kerja pemberi tugas dengan kontraktor, 1. Ikatan : kontrak
2. Kontraktor menyerahkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas
3. Pemberi tugas menyerahkan biaya pelaksanaan pekerjaan kepada kontraktor

c. Hubungan kerja perencana dengan kontraktor


1. Ikatan : peraturan pelaksanaan
2. Pengawas mengawasi pelaksanaan peryaratan kepada kontraktor
3. Kontrator merealisasikan peraturan pelaksanaan kepada pengawas

Bagan hubungan kerja proyek pembangunan gedung Pembangunan MSC (Main


Station Control) Banjarmasin dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.1 Hubungan Kerja Antara Owner dengan MK,Kontraktor dan Konsultan Perencana
(Sumber : Data Proyek tahun 2015)

12
Sebuah proyek diperlukan adanya struktur organisasi dalam pelaksanaannya. Proyek
pembangunan gedung Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control)
Banjarmasin ini terdapat TIM MK PT.MANDIRI KARYA UTAMA RIKY selaku
menejemen proyek konstruksi sekaligus konsultan pengawas; PT. HANDASA
KONSULTAN selaku konsultan perencana. Berikut ini adalah struktur organisasi dari
proyek pembangunan gedung MSC (Main Station Control) Banjarmasin.

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PROYEK


GEDUNG MSC (MAIN STATION CONTROL) BANJARMASIN

Gambar 2.2 Bagan Struktur Organisasi Proyek


Sumber: Data Proyek, 2017

2.4 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai Struktur Organisasi Pelaksanaan


untuk Pembangunan Gedung MSC (Main Station Control) Banjarmasin,
Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:

13
Tabel 2.
Struktur

organisasi kontraktor pelaksana

Sumber : (PT. Nindya Karya (Persero), 2016)

2.5 Tinjauan Umum Pekerjaan Proyek


Dalam sebuah proyek pembangunan, Manajemen Konstruksi sangat diperlukan.
Dalam sudut pandang Manajemen Konstruksi terdapat beberapa pekerjaan yang menjadi
tanggung jawab MK sebagai pengawas. Pekerjaan-pekerjaan proyek yang menjadi
tanggung jawab MK sebagai pengawas adalah :

2.5.1 Pekerjaan Proyek

1. Pekerjaan Bekisting
Pekerjaan Bekisting adalah pekerjaan yang sangat penting dalam proyek
konstruksi. Pekerjaan bekisting dilaksanakan oleh kontraktor yang nantinya akan
diawasi oleh MK (pengawas).

2. Pekerjaan Pembesian
Pekerjaan pembesian dilakukan setelah pekerjaan bekisting selesai.
Pekerjaan pembesian sangat penting karena akan mempengaruhi kekuatan dari
bangunan itu sendiri. Pekerjaan pembesian dilaksanakan oleh kontraktor yang
nantinya akan diawasi oleh MK (pengawas).

3. Pekerjaan Pengecoran
Pekerjaan pengecoran dilakukan setelah pekerjaan bekisting dan pembesian
selesai. Sebelum dilakukan pengecoran pihak MK (pengawas) akan mengecek hasil
pekerjaan dari kontraktor sebagaimana mestinya.

14
2.5.2 Tahapan Pekerjaan Proyek

Dalam setiap pekerjaan proyek konstruksi pasti memiliki tahapan-tahapan


dalam melaksanakannya. Tahapan-tahapan tiap pekerjaan proyek konstruksi
secara garis besar adalah sama. Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam
pekerjaan proyek konstruksi :
1. Tahapan Pengukuruan (Survey)
2. Tahapan Perencanaan dan Perancangan
3. Tahapan Pelaksanaan
4. Tahapan Pengendalian (pemeliharaan dan pengecekan)

2.5.3 Pengelolaan Pekerjaan Proyek


Pengelolaan pekerjaan yang baik dalam proyek pembangunan akan
menghasilkan sesuatu yang baik pula. Pengelolaan pekerjaan salah satunya
menjadi tanggung jawab MK sebagai Manajemen Konstruksi (Pengawas). Dalam
tiap pekerjaan proyek konstruksi dikelola oleh kontraktor dengan pengawasan
MK.
1. Pekerjaan Pengukuran Dikelola oleh Surveyor
2. Pekerjaan Bekisting Dikelola oleh Pelaksana Bekisting
3. Pekerjaan Pembesian Dikelola oleh Pelaksana Bekisting
4. Pekerjaan Pengecoran Dikelola oleh Pelaksana Cor

2.5.4 Monitoring dan Pengawasan Pekerjaan Proyek

Monitoring dan pengawasan adalah salah satu tanggung jawab dari pekerjaan
MK sebagai pengawas. Monitoring dan pengawasan dilakukan oleh pengawas
setelah pekerjaan dilaksanakan. Monitoring dan pengawasan dari pekerjaan
proyek dilihat dari segi :
1. Dimensi atau ukuran yang tepat
2. Kerapian pekerjaan
3. Kekuatan hasil pekerjaan
4. Kesesuaian metode pekerjaan

2.5.5 Evaluasi Pekerjaan Proyek

Evaluasi adalah hal yang penting dalam proyek konstruksi. Evaluasi dilakukan
oleh MK sebagai pengawas. Evaluasi dilakukan untuk meminimalisir pekerjaan
yang tidak sesuai dengan rencana awal. Evaluasi dalam pekerjaan proyek
konstruksi meliputi :
1. Kualitas pekerjaan
2. Kuantitas pekerjaan
3. Hasil akhir pekerjaan
4. Efisiensi pekerjaan
5. Lamanya pekerjaan

15
BAB 3

TINJAUAN TEORI

3.1 Uraian Umum

Konstruksi suatu bangunan adalah suatu kesatuan dan rangkaian dari


beberapa elemen yang direncanakan agar mampu menerima beban dari luar
maupun berat sendiri tanpa mengalami perubahan bentuk yang melampaui
batas persyaratan. Pada perencanaan suatu konstruksi bangunan gedung
diperlukan beberapa landasan teori berupa analisa struktur, ilmu tentang
kekuatan bahan serta hal lain yang berpedoman pada peraturan-peraturan yang
berlaku di Indonesia. Ilmu teoritis di atas tidaklah cukup karena analisa secara
teoritis tersebut hanya berlaku pada kondisi struktur ideal sedangkan gaya-
gaya yang dihitung hanya merupakan pendekatan dari keadaan yang
sebenarnya atau yang diharapkan terjadi. Perencanaan dari konstruksi
bangunan juga harus memenuhi berbagai syarat konstruksi yang telah
ditentukan yaitu kuat, kaku, bentuk yang serasi dan dapat dilaksanakan dengan
biaya yang ekonomis tapi tidak mengurangi mutu bangunan tersebut, sehingga
dapat digunakan sesuai dengan fungsi utama yang diinginkan oleh perencana.

3.2 Ruang Lingkup Perencanaan

Ruang lingkup perencanaan pada konstruksi bangunan gedung meliputi


beberapa tahapan, antara lain :

3.2.1 Tahap Perencanaan (desingn) Konstruksi

Struktur adalah suatu kesatuan dan rangkaian dari beberapa elemen yang
direncanakan agar mampu menerima beban luar maupun berat sendiri
tanpa mengalami perubahan bentuk yang melampaui batas persyaratan.
Ada dua struktur pendukung bangunan yaitu :

1. Struktur bangunan atas (Upper Structure)

Struktur bangunan atas harus sanggup mewujudkan perencanaan dari


segi arsitektur dan harus mampu menjamin mutu baik dari segi
keamanan maupun kenyamanan bagi penggunanya. Untuk itu, bahan
bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar dari
konstruksi hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tahan Api.
b. Kuat.
c. Mudah diperoleh, dalam arti tidak memerlukan biaya mobilisasi
bahan yang demikian tinggi.
d. Awet untuk jangka waktu pemakaian yang lama.
e. Ekonomis, dengan perawatan yang relatif mudah.

16
Dari kriteria–kriteria yang tersebut diatas, maka sebagai
komposisi struktur utama dari setiap bangunan menggunakan struktur
beton bertulang. Perhitungan untuk bangunan struktur atas ini
meliputi :
a. Pelat Lantai
b. Tangga
c. Portal
d. Balok
e. Balok Anak
f. Kolom

2. Struktur bangunan bawah (Sub Structure)


Struktur bangunan bawah merupakan sistem pendukung
bangunan yang menerima beban struktur atas, untuk diteruskan ke tanah
dibawahnya. Perhitungan perencanaan struktur bagian bawah (Sub Structure)
ini meliputi:
a. Sloof.
b. Pondasi.
Dari kedua struktur tersebut, harus direncanakan kekuatannya
terhadap pembebanan. Adapun jenis pembebanannya antara lain :

a. Beban Mati (Beban Tetap)


Adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat
tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaianpenyelesaian,
mesin-mesin, serta peralatan tetap yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu. (Peraturan
Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983: hal 7 pasal 1 (1)).

b. Beban Hidup (Sementara)


Adalah semua beban yang tidak tetap kecuali beban angin,
beban gempa dan pengaruh-pengaruh khusus (akibat selisih suhu,
pemasangan, penurunan pondasi dan gaya sentrifugal) dan beban
gempa yang diuperkirakan dapat membebani bangunan.
(Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983: hal 7
pasal 1 (2)).

- Beban Hujan
Dalam perhitungan beban hujan diasumsikan sebagai beban
yang bekerja tegak lurus terhadap bidang atap dan koefisien
beban hujan ditetapkan sebesar (40-0,8? ) kg/m2 dan ? sebaai
sudut atap, dengan ketentuan bahwa beban tersebut tidak perlu
diambil lebih besar dari 20 kg/m2 dan tidak perlu ditinjau bila
kemiringan atap lebih besar dari 50°.

- Akibat Beban Pekerja


Dalam perhitungan reng, usuk/kaso, gording/gulunggulung
dan kuda-kuda dan utuk semua atap harus
diperhitungkan satu muatan terpusat sebesar minimum 100
kg (berasal dari berat seorang pekerja atau seorang
pemadam kebakaran dengan peralatannya).

17
c. Beban Gempa
Semua beban statistic ekivalen yang bekerja pada gedung yang
menirukan pengaruh dari gerakan tanah akbiat gempa itu. Dalam
hal ini pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan
berdasarkan sautu analisi dinamik, maka diartikan dengan beban
gempa disini adalah gaya-gaya dalam struktur tersebut yang
terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa tersebut.

3.3 Dasar-Dasar Perencanaan


Perhitungan struktur bangunan Gedung ini berpedoman pada
peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia, diantaranya :
1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK
SNI T-15-1991- 03).
2. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (SKBI
– 1,3,53. 1987).
3. SNI-1726-2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
Struktur Bangunan Gedung.

3.4 Teori -Teori


3.4.1 Pelat
Pelat beton bertulang dalam suatu struktur bangunan dipakai pada
lantai dan atap. Pada pelat yang ditumpu balok pada keempat sisinya,
terbagi dua berdasarkan geometrinya, yaitu :
1. Pelat dianggap sebagai pelat satu arah.
2. Pelat dianggap sebagai pelat dua arah.

1. Pelat Satu Arah (One Way Slab)


Pelat satu arah yaitu suatu lantai beton yang sistem pendukungnya
(berupa balok) berada di sisi kiri dan kanan pelat.
Ciri-cirinya adalah :
- Pelat ditumpu pada sisi yang saling berhadapan
- Pelat persegi yang mempunyai balok pendukung pada keempat sisinya
dengan perbandingan antar sisi panjang pelat atau bentang panjang
(ly) dan sisi lebar pelat atau bentang pendek (lx) > 2,0.

- Desain pelat satu arah sama seperti perencanaan penulangan untuk


balok, hanya saja pada pelat tidak diizinkan diberi penulangan geser.
- Penulangan melintang (tegak lurus terhadap tulangan utama) harus
diberikan untuk menahan susut dan akibat perubahan temperatur.

18
Secara umum, langkah-langkah perhitungan pelat satu arah didasarkan pada
kriteria-kriteria berikut ini :

a) Bentang Teoritis

Batang tarik pelat :


L = Ln + ( 2 x 1/2 b)
jika b > 2h maka,
L = L + 100 mm

Tabel 2.1 Tebal minimum Pelat 1 arah dan Balok Mendukung 1 arah
Fy (Mpa)
Pelat 1 arah 400 240 400 240 400 240 400 240
kondisi 1/20 ä 1/27 ä 1/24 ä 1/32 ä 1/28 ä 1/37 ä 1/10 ä 1/13 ä
perletakan

Balok
mendukung 1/16ä 1/21ä 1/18,5ä 1/24,5ä 1/21ä 1/28ä 1/8ä 1/11ä
1 arah

BAB 4

PEMBAHASAN

19