You are on page 1of 6

SUNGGUH, AL-QURAN ADALAH KALAMULLAH

Membuktikan Al Quran Sebagai Kalamullah saja ada yang mengungkapkan seperti itu. Namun, ungkapan demikian tidak sesuai
dengan realitas saat itu yang memustahilkan adanya kemungkinan tersebut. Dengan
AI-Quran telah diturunkan pada 14 abad yang Silam. Sekarang, al Qur’an
demikian, kemungkinan sumber asal al-Quran hanya ada 3 altematif tadi.
berada di hadapan manusia sudah dalam bentuk buku yang tersusun dari awal hingga
akhir. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa realitas yang tak dapat dipungkiri. Kemungkinan pertama tidak dapat diterima. Sebab, faktanya bangsa Arab tak
Pertama, semua manusia baik kafir ataupun muslim mengakui bahwa al-Quran yang pernah mampu membuktikan membuat karangan yang semisal al-Quran baik dan
ada di hadapan kita itu dibawa oleh orang yang bemama Muhammad. Bedanya, segi gaya bahasa, ketepatan pemilihan kata, ataupun isinya. Mereka tidak dapat
orang-orang kafir meyakini bahwa al-Quran itu dibawa sekaligus merupakan ajaran memenuhi tantangan al-Quran:
Muhammad sehingga mereka menyebut Islam sebagal Mohammadanisme (paham
Muhammad). Sebaliknya, kaum mukminin meyakini bahwa al qur’an berasal dari
)13( َ‫َّللاِ إِ ْن ُك ْنت ُ ْم صَا ِدقِين‬
‫ُون ه‬ِ ‫ست َ َط ْعت ُ ْم مِ ْن د‬
ْ ‫ت َوا ْدعُوا َم ِن ا‬ ُ ‫قُ ْل َفأْت ُوا بِعَش ِْر‬
ٍ ‫س َو ٍر مِ ثْ ِل ِه ُم ْفت ََريَا‬
Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sekalipun berbeda ‘... Katakanlah : (kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-
keyakinan tentang asal muasal al-Quran antara orang kafir dengan kaum mukminmn, buat yang menyarnainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup
namun semuanya mengakui bahwa al quran itu dibawa dan disampaikan oleh (mernanggilnya) selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS.
Muhammad. Kedua, siapapun mengetahui bahwa bahasa yang digunakan di dalam Hud [11]: 13)
al-Quran adalah bahasa Arab asli (fushah). Tak ada secuil pun fakta yang
menunjukkan bahwa bahasa Al-Quran itu bukan Arab. Sebab, realitasnya memang al
Qur’an yang ada di hadapan manusia sampai sekarang ini berbahasa Arab. Sekalipun Demikian pula, mereka tak mampu memenuhi tantangan Allah
ada beberapa kata untuk nama benda yang berasal dari luar bahasa Arab dalam al-
Quran, namun struktur dan bentuknya oleh al Quran telah disesuaikan dengan ‫َّللاِ إِ ْن ُك ْنت ُ ْم‬
‫ُون ه‬ ُ ‫ور ٍة مِ ْن مِ ثْ ِل ِه َوا ْدعُوا‬
ِ ‫ش َهدَا َء ُك ْم مِ ْن د‬ َ ‫س‬ُ ِ‫ع ْب ِدنَا فَأْت ُوا ب‬ َ ‫ب مِ هما نَزه ْلنَا‬
َ ‫علَى‬ ٍ ‫َوإِ ْن ُك ْنت ُ ْم فِي َر ْي‬
gramatika bahasa Arab sehingga telah menjadi bagian integral dan bahasa Arab )23( َ‫صَا ِدقِين‬
tersebut. Ketiga, realitasnya sarana transportasi dan komunikasi pada saat al-Quran “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan
diturunkan sangatlah terbatas. Hubungan antara satu daerah dengan daerah lain pun kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisaI dengan
sangat amat sulit dan lambat. Termasuk, interaksi antara orang-orang berbahasa Arab al-Quran ltu dan ajakiah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-
dengan non Arab pun sangatlah amat jarang terjadi. Jadi, tidaklah mengherankan bila orang yang benar.” (QS. Al Baqarah [2]: 23)
sampal Rasulullah saw wafat, kekuasaan Islam belum sampaii menjangkau luar
jazirah Arab. Berdasarkan hal ini, kemungkinan adanya seseorang non Arab yang Itulah tantangan al-Quran kepada bangsa Arab. Dan mereka tidak mampu
menguasaii seluk-beluk dan kemampuan berbahasa Arab jauh melampaui memenuhinya, baik sepuluh surat maupun satu suratt pun ! Dan Nabi Muhammad
kepiawaian orang Arab sendiri sangatlah kecil sekali. Bahkan, dapat dikatakan saw disuruh menantang bangsa Arab dengan tantangan yang lebih besar dan tegas,
mendekati kemustahilan. Ini semua adalah realitas berkaitan dengan fakta al-qur’an yakni agar mereka mengumpulkan seluruh bangsa jin dan manusia untuk membantu
yang tak dapat dipungkiri siapapun. mereka menghadapi tantangan al-Quran:

Melihat beberapa kenyataan tadi, kita dapat menyatakan bahwa jawaban ً ‫ْض َظ ِه‬
)88(‫يرا‬ ُ ‫ان ََل يَأْت ُونَ ِبمِ ثْ ِل ِه َولَ ْو كَانَ بَ ْع‬
ٍ ‫ض ُه ْم ِلبَع‬ ِ ‫علَى أ َ ْن يَأْت ُوا ِبمِ ثْ ِل َهذَا ا ْلقُ ْر َء‬
َ ُّ‫س َوا ْل ِجن‬
ُ ‫اْل ْن‬
ِْ ‫ت‬ِ َ‫قُ ْل لَئ ِِن اجْ ت َ َمع‬
terhadap pertanyaan ‘Darimana al-Quran itu berasal’ hanya dan hanya terdapat 3 ‘katakanlah: sesungguhnya jika manusla dan jin berkumpul untuk membuat yang
altematif kemungkinan jawaban. Kemungkinan pertama al-Quran berasal dan orang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa
Arab. Kemungkinan kedua Al Quran berasal dari Muhammad. Sedangkan dengannya, sekaIipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang
kemungkinan ketiga al Quran berasal dan Allah swt. Tidak ada kemungkinan lain.”’ (QS. al-Isra’ [17] 88)
jawaban lain! Mengapa? Sebab, realitas-realitas yang disebutkan terdahulu tidak
memungkinkan adanya altematif jawaban lain. Boleh jadi ada yang mengatakan Jelas, orang-orang Arab tidak mampu membuat satu surat pun semisal al-
bahwa mungkin saja al-Quran ditulis oleh orang genius non Arab. Memang, mungkin Quran Padahal, puncak keemasan sastra Arab terjadi pada jaman jahiliyah saat al-
Quran diturunkan. Kenyataan ini pun jelas tergambar sampaii sekarang. Bila bersandiwara dan membuat-buat dua gaya bahasa dalam bicaranya. Tetapi, bila
mukjizat para nabi dan rasul selain Muhammad saw berupa perkara-perkara fisik frekuensinya sering dipadu dengan intensitasnya yang tinggi seperti apa yang
namun mukjizat terbesar nabi Muhammad saw justru al-Quran yang sekalipun dilakukan oleh Rasulullah mustahil dapat membuat-buat dua jenis gaya bahasa itu.
kandungannya bukanlah karya sastra melainkan berupa sistem kehidupan, namun Kalaupun ada yang berupaya sekuat tenaga melakukannya, kemiripan diantara dua
untaian kalimat demi kalimat, kata demi kata, dan huruf demi hurufnya penuh dengan gaya bahasa tersebut akan kerap kali terjadi. Sedangkan, gaya bahasa al-Quran dan
keindahan sastra. Hal ini diakui para ahli sejarah bahwa memang jaman itulah puncak hadits Sungguh sangat berbeda. ini secara gamblang menunjukkan bahwa al-Quran
sastra Arab. Bahkan, sampai sekarang, mahasiswa yang belajar sastra Arab di bukanlah perkataan (kalam) Muhammad sendiri.
perguruan-perguruan tinggi termasuk di Indonesia mesti mempelajari sastra Arab
Bahkan saking bedanya antara kedua gaya bahasa al-Quran dengan hadits
jahili untuk mengetahul arti kata ataupun sastranya. Realitas ini semua berarti bahwa
tersebut, orang-orang Arab saat itu melontarkan tudunan bahwa al-Quran memang
ketidakmampuan tokoh-tokoh sastra Arab pada masa puncak keemasan sastra Arab
bukan berasal dan Muhammad melainkan dan seorang pemuda Nashrani bernama
dalam memenuhi tantangan al-Quran untuk membuat tulisan yang cukup dapat
Jabr yang mengajari beliau. Namun, dengan tangkas al-Quran menyangkal hal ini.
menyamai al-Quran merupakan bukti bahwa al-Quran bukanlah berasal dan kalangan
bangsa Arab. Selain itu, tidak dapatnya mereka membuat semisal Al Quran — َ ‫سانُ ا هلذِي يُ ْلحِ دُونَ ِإلَ ْي ِه أ َ ْعجَمِ ٌّي َو َهذَا ِل‬
)103( ٌ‫سانٌ ع ََر ِب ٌّي ُم ِبين‬ َ ‫َولَ َق ْد نَ ْعلَ ُم أَنه ُه ْم َيقُولُونَ ِإنه َما يُ َع ِل ُمهُ َبش ٌَر ِل‬
padahal saat itulah puncak sastra Arab dan mereka adalah bengawan sastranya--
“Dan sesungguhnya Kami mengetahul mereka berkata bahwasanya alQuran ltu
merupakan realitas yang menunjukkan ketakmampuan manusia membuat semisal al-
Quran. Bagaimana tidak, bengawan sastranya saja tidak mampu, apalagi orang yang diajarkan oleh seorang manusla kepadanya (Muhammad). padahal bahasa orang
hidup bukan pada masa puncak sastra Arab. yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa
ajami (non Arab), sedangkan Al Quran ltu dalam bahasa Arab yang je/as,” (QS. an-
Andaikan saja, pada masa sekarang ini ada yang mencoba membuat semisal NahI [16]: 103)
al-Quran dan andaikan pula tidak ada orang lain yang dapat menunjukkan
Jelaslah bahwa kemungkinan al-Quran merupakan buatan Muhammad tidak
kelemahannya tidak berarti bahwa ia mampu memenuhi tantangan Allah. Sebab, hal
dapat ditenima akal dan pikiran jemih. Kemungkinan ketiga, adalah kemungkinan
ini bukan disebabkan kemampuannya menyerupai al-Quran melainkan lebih
disebabkan karena tak adanya bengawan sastra setaraf bengawan sastra pada masa yang benar. Sebab, jika kemungkinan pertama (bahwa al-Quran buatan bangsa Arab)
puncak keemasan sastra Arab yang dapat menunjukkan ketaksesuaian tersebut. Jadi, dan kedua (bahwa al-Quran buatan Muhammad) tidak terbukti, sementara tidak ada
kernungkinan lain selain kemungkinan ketiga maka kemungkinan ketiga itulah yang
orang yang berupaya membuat semisal al-Quran dalam pengandaian tadi berada pada
benar, yakni kenyataan bahwa al-Quran berasal dan Allah. Dengan kata lain, al-
posisi di bawah tokoh-tokoh sastra Arab jaman jahilly. padahal, sejarah menunjukkan
Quran merupakan firman (kalam) Allah. Patut dicamkam bahwa seorang tokoh
bahwa para tokoh sastra jaman jahilly itu tidak mampu membuat semisal al-Quran.
Jelaslah, ketidakmampuan orang-orang Arab jaman Nabi memenuhi tantangan Allah sastrawan Arab bernama Walid bin Mughirah pernah mengeluarkan statemen : “Aku
tersebut merupakan bukti tentang kemustahilan al-Quran berasal dari orang Arab, adalah orang yang paling tahu tentang syair Arab. Tak ada yang lebih pandai
tentang hal ini daripada aku. Sungguh apa yang dibaca Muhammad bukanlah
bahkan manusia. Kemungkinan kedua tidak dapat diterima. Ada dua penyebabnya.
ucapan manusia, tak ada yang leblh tlnggi darinya”. Dengan demikian, secara ‘aqly
Pertama, Muhammad adalah salah seorang bangsa Arab. Kalau seluruh bangsa Arab
al-Quran itu merupakan firman Allah (kalamullah) dan mustahil berasal dari selain-
telah ditantang al-Quran dan mereka tidak mampu membuat satu surat pun yang
Nya.
semisal al-Quran, maka beliaupun juga tidak mungkin mampu membuatnya. Hal mi
dikarenakan beliau adalah salah seorang Arab juga. Kedua, gaya bahasa dalam tutur Beberapa Penjelasan al-Quran Tentang Realitas
kata beliau sebagaimana yang terekam dalam hadits-hadits perkataan (qauIiyyah)
temyata sangat berbeda dengan gaya bahasa al-Quran. Pada saat yang bersamaan Selain itu, banyak sekali penjelasan di dalam al-Quran tentang realitas-realitas
Rasulullah membacakan al-Quran dan menjelaskannya dengan hadits. Jadi, pada yang terbukti belakangan memang benar penjelasan itu sesuai dengan realitas
waktu yang sama dan mulut yang sama keluar suara yang sama namun dengan dua sebenarnya. Misalnya, cara-cara pembentukan manusia di dalam rahim ibunya dalam
gaya bahasa yang berbeda. AI-Quran memiliki gaya bahasa sendiri, dan hadits pun tiga kegelapan, tahap-tahap perubahannya, pembentuknya dari satu penciptaan ke
punya gaya bahasanya tersendiri pula. Padahal, tidak mungkin seseorang memiliki perciptaan yang lain, dan waktu peniupan ruh ke dalamnya. Sesungguhnya semua ini
dua gaya bahasa berbeda pada saat yang bersamaan. Boleh jadi Seseorang belum diketahui kecualii baru dewasa ini. Hal ini menunjukkan bahwa alQuran
berasal dan Dzat Pencipta manusia yang mengetahui proses pembentukannya, bukan di buklt-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di ternpat-tempat yang dibikin manusia.
berasal dan Muhammad yang tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis. Allah Kemudian makanlah (kuli) darl tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah
berfirman: (fasluki) jalan jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). ‘Dari perut lebah itu
keluar minuman (madu) yang bermacam-macam wamanya, di dalamnya terdapat zat
ٍ ‫ت ث َ ََل‬
‫ث‬ ٍ ‫ون أ ُ همهَاتِ ُك ْم َخ ْل ًقا مِ ْن بَ ْع ِد َخ ْل‬
ٍ ‫ق فِي ُظلُ َما‬ ِ ‫يَ ْخلُقُ ُك ْم فِي بُ ُط‬ yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
menjadikan kamu dalam perut lbumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagl orang-orang yang memiklrkan.” (QS.
(QS. az-Zumar [39] : 6) an-NahI (16]: 68—69)
Firman-Nya juga: Allah menujukan seruan pertama kali kepada lebah dalam bentuk umum,
kemudian mengkhususkan seruan kepada lebah betina dan menjelaskan bahwa Dia
‫علَ َقةً فَ َخلَ ْق َنا‬
َ َ‫)ث ُ هم َخلَ ْقنَا النُّ ْط َفة‬13(‫ِين‬ ٍ ‫)ث ُ هم َجعَ ْلنَاهُ نُ ْط َفةً فِي قَ َر ٍار َمك‬12(‫ين‬ ٍ ِ‫س ََل َل ٍة مِ ْن ط‬
ُ ‫سانَ مِ ْن‬ ِ ْ ‫َولَ َق ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اْل ْن‬ mengilhamkan kepada mereka (lebah betina) untuk mendirikan sarang-sarang Iebah,
)14( َ‫سنُ ال َخا ِل ِقين‬ْ َ ‫اركَ ه‬
َ ْ‫َّللاُ أح‬ َ َ ‫ضغَةَ ِع َظا ًما فَ َك‬
َ َ‫س ْونَا ا ْل ِع َظا َم َلحْ ًما ث ُ هم أ َ ْنشَأْنَاهُ َخ ْلقًا َءا َخ َر فت َب‬ ْ ‫ض َغةً َف َخلَ ْقنَا ا ْل ُم‬
ْ ‫ا ْلعَلَ َقةَ ُم‬
mengumpulkan sari bunga-bungaan dalam pohon dan memproduksi madu. Perintah
“Dan Sesungguhnya KamI telah menciptakan manusia dan suatu saripati (berasal) ittakhidzi, kuli, dan fasluki merupakan perintah untuk muannats (manusia perempuan
dan tanah. Kemudian Kami jadikan saripatl ltu air mani, (yang disimpan,) dalam atau hewan betina). Jadi, betina-betina itulah yang melakukan semua itu. Ilmu cara
tempat yang kokch (rahim). Kemudian air mani Itu Kami jadikan segumpal darah, membedakan lebah jantan dan betina, struktur sosiall lebah, kepemimpinan dalam
lalu segumpal darah itu KamI jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Iebah, perilaku dan kebiasaan lebah baru terungkap belakangan ini seiring dengan
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. berkembangnya penelitian tentang itu.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk,) lain. Maka maha Suci.Allah, Semua itu pada masa Rasulullah masih hidup belum diketahui, kecuali pada
Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mu’minun [23] : 12-14)
abad sekarang. I-lal ini diantara yang menunjukkan bahwa al-Quran berasal dari Sang
Ayat-ayat ini menjelaskan sifat rinci tentang proses pembentukan janin dalam Pencipta (Al Khaliq) dan bukannya berasal dari manusia sebab manusia tidak
rahim ibunya, proses perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain, realitas bahwa mengetahui perkara-Perkara ini.
manusia asalnya diciptakan dan tanah dan karenanya manusia mengandung unsur-
Demikian pula apa yang terdapat di dalam al-Quran tentang semut dan bahwa
unsur yang terdapat di dalam tanah. Semua itu tidak diketahui kecuali pada zaman ratu semutlah yang memerintah dan melarang, bukannya yang jantan. Allah Yang
sekarang ini. Hal itu tidak diketahui oleh Rasulullah yang ummi itu; juga, tidak Maha Agung berfirman:
diketahul oleh bangsanya, dan bangsa-bangsa lainnya. Bahkan penelitian tentang
ilmu kandungan dan kebidanan baru saat al-Quran diturunkan belum terjamah sama ‫سلَ ْي َمانُ َو ُجنُو ُدهُ َو ُه ْم ََل‬ َ ‫علَى َوا ِد ال هن ْم ِل َقالَتْ نَ ْم َلةٌ يَاأَيُّهَا ال هن ْم ُل ا ْد ُخلُوا َم‬
ُ ‫سا ِكنَ ُك ْم ََل يَحْ طِ َمنه ُك ْم‬ َ ‫َحت هى إِذَا أَت َْوا‬
sekali. Hal mi merupakan satu perkara dan banyak perkara yang menunjukkan bahwa )18( َ‫شعُ ُرون‬ ْ َ‫ي‬
penjelasan tentang realitas tersebut tidak mungkin bersumber kecuali dan Dzat Maha
“Hingga apablla meraka sampai dl Iembah semut berkatalah seekor semut (betina):
Mengetahul lagi Maha Menyingkap (a/-Alim al-Khabir) yang telah menciptakan
Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar karnu tidak diinjak
manusia. Hal ini diantaranya yang menetapkan bahwa al-Quran itu benasal dan Allah
oleh sulairnan dan tentara-tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’” (QS.
dan Dialah yang menurunkannya kepada Rasul-Nya, Muhammad.
an-Naml [27]: 18)
Demikian pula berkaitan dengan apa yang terdapat di dalam al Quran tentang
Di sini Allah menjelaskan bahwa yang mengeluarkan penintah bagi semut-
lebah bahwa ratu betina dan lebahlah yang membuat sarang, ratu itulah yang
semut untuk masuk ke tempat-tempat mereka adalah namlatun, yaitu semut betina.
mengumpulkan sari-sari dari bunga, dan dia pulalah yang menghasilkan madu. Hal
Dan tidak pemah diketahui pada masa yang lalu bahwa semut-semut betina itulah
ini jelas terdapat di dalam firman Allah :
yang memerintah dan melarang. Bahkan mana semut Jantan dan mana semut betina
‫ت‬ِ ‫)ث ُ هم ُكلِي مِ ْن ك ُِل الث ه َم َرا‬68( َ‫شج َِر َومِ هما يَع ِْرشُون‬ ‫َوأ َ ْوحَى َربُّكَ إِ َلى النهحْ ِل أ َ ِن اتهخِ ذِي مِ نَ ا ْل ِجبَا ِل بُيُوت ًا َومِ نَ ال ه‬ masih sulit dibedakan. Hal ini pun tidak diketahui kecuali pada jaman sekarang. Dan
َ ً َ
‫اس إِنه فِي ذ ِلكَ ََليَة ِلق ْو ٍم‬ ‫ه‬ َ
ِ ‫شفا ٌء لِلن‬ ُ ْ َ
ِ ‫ِف أل َوانهُ فِي ِه‬ ٌ ‫اب ُم ْختَل‬ٌ ‫ج مِ ْن بُ ُطونِهَا ش ََر‬ ُ ‫سبُ َل َربِكِ ذُلُ ًَل َي ْخ ُر‬
ُ ‫سلُكِي‬ْ ‫فَا‬ sulit diterima pikiran jemih bila dikatakan bahwa semua itu berasal dari seorang
)69( ‫يَتَفَك ُهر‬
َ‫ون‬ manusia, sebab kenyataan menunjukkan bahwa realitas-realitas tadi baru diketahui
oleh manusia jauh belasan abad setelah Al-Quran diturunkan. Kenyataan inipun
“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah (betina) Buatlah (ittakidzi) sarang-sarang
merupakan salah. satu bukti yang menunjukkan bahwa pemyataan tadi tidak begini, mengapa terhadap Allah tidak demikian?! Bahkan, bukankah Allah harus
bersumber kecuali dari Dzat Yang Maha Tahu terhadap makhluk-makhluk dan hanya ditempatkan di atas segalanya?! Kalau memang begitu, benarkah kita rindu kepada
mungkin berasal dan Dzat yang telah menciptakan makhluk-makhluk itu, yakni Allah? Benar-benar ingin bertemu dalam keadaan ridla dan diridlai oleh-Nya?
berasal dari Allah. Jangan-jangan cinta kita kepada Allah hanyalah aku-akuan semata. Sekedar penghias
bibir belaka. Bila memang kita sungguh-sungguh cinta dan rindu kepada Allah
Masih banyak penjelasan-penjelasan dan Allah Dzat Maha Tahu tentang
mengapa al-Quran yang merupakan firman-Nya itu dibiarkan teronggok di rak?
realitas-realitas hidup dan kehidupan yang pada masa turunnya al-Quran belum
Jarang tersentuh? Mengapa al-Quran hanya dimiliki dan dilirik tanpa rutin dibaca?
terjamah oleh penelitian manusia. Satu benang merah yang dapat diambil bahwa
semua ini memperkuat bukti tentang kenyataan bahwa al-Quran mustahil berasal dari Selain dorongan kuat yang lahir dari keimanannya seperti tadi, seorang
selain Allah. Sebaliknya, al-Quran merupakan Kalamullah yang berasal dan Allah. muslim meyakini pula bahwa Rasulullah seringkali memerintahkan hal tersebut. AI-
Berdasarkan semua ini jelaslah bahwa al-Quran sebagal kalamullah merupakan Quran akan menjadi penolong bagi siapa saja yang membacanya. Imam Muslim
realita. meriwayatkan bahwa Abu Umarnah Ra. menyatakan bahwa ia pernah mendengar
Rasulullah bersabda :
Lantas, setelah seseorang mengimani bahwa Al-Quran merupakan kalamullah
cukupkah berhenti sampai di sini? Tentu saja, tidak. Orang yang beriman kepada al- “Bacalah al-Quran karena sesungguhnya al-Quran itu nantl pada harI klamat akan
Quran niscaya ia akan mengimani seluruh isi kandungan al-Quran. Dan bukti datang untuk memberl syafaat kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
keimanannya ini adalah ditegakkannya hukum al-Quran dalam kehidupannya. Bila
Bahkan,
tidak, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, keimanan orang itu hanya sebuah
kepura-puraan dan pengaku-akuan, atau kedua, orang tensebut berbuat zhalim “Orang yang membaca aI-Quran dan ia mahir maka nantl akan bersama-sama
terhadap dirinya ataupun orang lain. dengan para malaikat yang mulia lagi taat,”
Orang yang benar-benar beriman kepada al-Quran la akan selalu meyakini kata Nabi. Sementara itu, lanjutnya,
seluruh isi al-Quran, berupaya mengamalkannya, dan terus menerus
‘Orang yang membaca al-Qur’an dan Ia merasa susah dl dalam mernbacanya tetapi
memperjuangkan ketegakkannya di muka bumi.
ia selalu berusaha maka Ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
AKTIVITAS MENDAPATKAN PETUNJUK DALAM AL-QURAN
Balasannya pun akan berlipat ganda. Rasulullah bersabda:
Tidak berhenti sampai di sini. Setelah mengimani al-Quran sebagai
“Barang siapa membaca satu huruf dari KitabuIlah (al-Quran) maka Ia mendapat
kalamulIah, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan hal-hal sebagai
Satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dlbalas dengan sepuluh kali lipat lipat.. Aku tldak
berikut:
mengatakan Alif Lam mim satu huruf tetapi alif satu huruf lam satu huruf dan rnirn
1. Membaca al-Quran satu huruf” (HR. At-Turmudzi)
Seorang muslim akan berupaya sekuat tenaga membaca al-Quran secara rutin. Bila sudah nyata demikian, maka akan merugilah orang-orang yang tetap tidak
Ia merasa ada kekurangan dalam dirinya bila dalam satu hari saja tidak membaca al- mau membiasakan membaca al-Quran. Buanglah sikap demikian itu Mulailah
Quran. Bagaimana tidak, al-Quran merupakan firman Allah yang berisi surat-surat kebiasaan baru, yaitu rutin membaca al-Quran setiap hari. Sekalipun sehari hanya
dari-Nya. Berisi petunjuk dari-Nya. Karenanya, ia senang membacanya. Ia senantiasa seperempat juz, kira-kira dua lembar setengah, misalnya, tidak masalah. Mulai di
terdorong untuk melantunkannya. sini dan sekarang juga! Bukan besok apalagi lusa !
Kadang kala memang terjadi keironisan. Sering kali seseorang senang 2. Memahami al-Quran
membaca surat ataupun tulisan dan orang yang sangat ia rindukan, istrinya atau
ibunya misalnya. Surat dari keduanya selalu dinantikan kehadirannya. Andaikan Allah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karenanya,
tidak cukup hanya sekedar dibaca, melainkan juga harus dipelajari untuk dapat
sudah datang, dibacalah berulang ulang. Tidak ada rasa bosan. Rasa rindu kepadanya
dipahami. Bila tidak, seseorang hanya akan menikmati indahnya bacaan tanpa
tersambungkan melalui perantaraan penuturannya. Bila terhadap manusia bersikap
memahami kandungan yang dibaca. Andaikan hal ini terjadi, boleh jadi orang
menyebut kita sebagai beo. Bagaimana tidak, coba perhatikan burung beo. “sirop ... pengetahuan, melainkan merupakan petunjuk hidup. AI-Quran tidak sekedar dibaca
Slrop ... Sirop...! Begitu kicau burung beo. Namun, ketika dia diberi segelas sirop, dan dipahami melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, Nabi
apa yang terjadi? Dia bukannya meminum sirop tersebut melainkan berkicau lagi dalam berbagai haditsnya menegaskan bahwa siapapun yang berpegang pada Al-
“Slrop ... Slrop ... Slrop .... Beo itu mengucapkan sesuatu yang tidak ia pahami. Quran dan As-Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya. Untuk itu, dapat dipahami
Sebab itu, supaya tidak dijuluki orang sebagai beo mau tidak mau kita harus firman Allah:
memahami Al-Quran. Tidak sebatas ini!. Seorang muslim diharuskan
menyampaikan ajaran Islam sekalipun hanya satu ayat. Kata Nabi, sampaikanlah
dariku sekalipun hanya satu ayat, balligu anni walau ayat. Mana mungkin dapat
‫ع ْنهُ فَا ْنت َ ُهوا‬
َ ‫سو ُل فَ ُخذُو ُه َو َما نَ َها ُك ْم‬ ‫َو َما َءاتَا ُك ُم ه‬
ُ ‫الر‬
menyampaikan isi kandungan Al-Quran kalau tidak memahaminya. Nampak jelas, “Dan apa-apa yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah ! Dan apa-apa yang
urgensi mempelajari al-Quran. dl/arang olehnya, tinggalkanlah I” (QS. al-Hasyr [49] : 7)
Tentu saja, seorang muslim mempelajari dan memahami al-Quran bukanlah Jadi, setiap ajaran yang terdapat dalam al-Quran mutlak dilakukan. “Kami
semata didorong oleh perkara seperti itu. Kita sebagai muslim yakin bahwa al-Quran mendengar, dan kami patuh !“ Begitu prinsip yang menjadi pegangan. Alangkah rugi
harus dipahami. Dengan paham akan al-Quran jalan hidup menjadi gamblang. orang yang memahami al-Quran tetapi tidak mengamalkannya. Orang seperti itu
Lebih dari itu, mempelajari al-Quran merupakan perintah dari Allah dan laksana pohon yang tidak berbuah. Bahkan, ilmunya tidaklah bermanfaat. Seseorang
Rasul-Nya. Berkaitan dengan perkara ini Nabi menyatakan: yang durhaka padahal ia tahu lebih merugi dibandingkan orang lain yang juga
durhaka karena ketidatahuannya
“Bila suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dlmana
mereka membaca dan mempelajari Al-Quran maka turunlah ketenangan dl tengah- Ada satu hal yang penting direnungkan. Allah menyatakan
tengah mereka, serta mereka selalu diliputi oleh rahmat, dikerumuni oleh malaikat, ُ‫َّللا‬
‫َّللاِ َو ه‬
‫ت ه‬ ِ ‫ْس َمث َ ُل ا ْلقَ ْو ِم اله ِذينَ َكذهبُوا بِآيَا‬
َ ‫ارا بِئ‬ ْ َ ‫َمث َ ُل ا هل ِذينَ ح ُِملُوا الت ْهو َراةَ ث ُ هم لَ ْم يَحْ مِ لُوهَا َك َمث َ ِل ا ْلحِ َم ِار يَحْ مِ ُل أ‬
ً َ‫سف‬
dan disebut-sebut Allah didepan malaikat yang berada disisi-Nya (HR. Muslim) )5( َ‫ََل يَ ْهدِي ا ْل َق ْو َم ال هظالِمِ ين‬
Subhanallah. Orang yang membaca dan mempelajari al-Quran akan hidup “Perumpamaan Orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat kemudlan
tenang, mendapatkan rahmat Allah, dikerumuni malaikat, dan diPuji-puji oleh Allah mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang
Dzat Maha Terpuji. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Ini janji Allah. Dan Allah membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruknya perumpamaan kaum yang
tidak pernah mengingkari janji-Nya. mendustakan ayat-ayat Allah itu Dan Allah tidak memberl petunjuk kepada kaum
Di samping memberikan harapan baik seperti ini, Allah pun mencela keras yang zhalim” (QS. Al-Jumu’ah [62] 5)
mereka yang tidak mempelajari al-Quran. Sungguh orang-orang dahulu yang diberi Taurat namun tidak menerapkannya
)24(‫ب أَ ْقفَالُهَا‬ َ ‫أَفَ ََل يَت َ َدبه ُرونَ ا ْلقُ ْر َءانَ أ َ ْم‬
ٍ ‫علَى قُلُو‬ disamakan dengan keledai, binatang yang suaranya terjelek Sekallpun ayat ini tegas
tentang Yahudi yang diberi Taurat, tetapi dalam pemyataan ‘Amat buruknya
“Maka apakah mereka tidak mengkaji al-Quran ataukah hati mereka terkuncl?” perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu’ dapat dipahami bahwa
(QS. Muhammad [47]: 24) siapapun yang memikul wahyu tanpa melaksanakannya disebut Iaksana hewan.
Nyatalah betapa urgennya mempelajani dan memahami al-Quran. Saking Bayangkan, bila ada orang yang mengatakan kepada kita “Anda ini seperti keledai !“
pentingnya memahami al-Quran, semestinya memahami al-Quran dijadikan sebagai Tidakkah kita tersinggung? Apa yang ada di lubuk hati kita saat itu? Apalagi, yang
kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, lebih dari itu. Makan hanya sekedar menyatakan seperti itu bukanlah manusia, melainkan Allah yang kita harapkan
mengokohkan tubuh. Sedangkan memahami alQuran merupakan petunjuk arah keridlaan-Nya? Apa yang ada dalam perasaan kita pada waktu kita tidak
menuju kebahagiaan hakiki dan abadi! melaksanakan al-Quran, Allah mengumpamakan kita seperti keledai? Tak
meneteskah air mata kita disebut begitu oleh Dzat Yang kita tuju, Dzat Yang kita
3. Mengamalkan al-Quran harapkan ampunan-Nya, Dzat yang kita mintakan pertolongan-Nya, Dzat Yang
Seperti telah dipahami, al-Quran bukanlah merupakan kumpulan menciptakan kita, dan Dzat tempat kembali kita?l Astagfirullahal adzim. Bila
demikian, tidak ada jalan selain berupaya melaksanakan isi al Quran. Perkara yang
dapat dilakukan sekarang, lakukanlah tanpa ditunda.
Adapun perkara yang belum mungkin dilakukan (seperti sistem politik
ekonomi, budaya) mutlak diupayakan untuk suatu saat dapat juga dilaksanakan.
4. Mengajarkan al-Quran
‘Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Quran,”
(HR. Muslim)
Begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadits ini
menggarnbarkan perintah untuk mengajarkan al-Quran. Tentu saja, mengajarkan al-
Quran mencakup mengajarkan cara membacanya termasuk tajwidnya. Namun, tidak
hanya itu. Mengajarkan al-Quran berarti juga mengajarkan isi kandungan al-Quran.
Bagaimana tidak, al Quran itu merupakan wahyu yang diturunkan sebagai petunjuk
bagi manusia, penjelasan dari petunjuk-petunjuk itu, dan pembeda antara haq dan
bathil. Semua perkana ini tidak dapat dicapai dengan pintar membacanya semata.
Sebaliknya, perlu memahami segala yang dikandungnya. Dengan demikian,
mengajarkan al-Quran berarti mengajarkan kandungannya. Dengan kata lain,
mendakwahkan isi alQuran dan as-Sunnah sehingga manusia keluar dari kegelapan
jahiliyyah masuk kepada cahaya Islam, berpindah dari jalan makhluk menuju jalan
Allah.
َ ْ‫ِي أَح‬
ُ‫سن‬ َ ‫سنَ ِة َوجَا ِد ْل ُه ْم بِالهتِي ه‬
َ ‫سبِي ِل َربِكَ بِا ْلحِ ْك َم ِة َوا ْل َم ْو ِع َظ ِة ا ْل َح‬
َ ‫ع إِلَى‬
ُ ‫ا ْد‬
“serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hujjah (hikmah), nasihat yang
baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan debat yang terbaik” (QS. an-NahI
[16]: 125)
Semua ini tidak mungkin dapat dirasakan hasilnya bila hanya terbatas
membaca tulisan ini. Bila demikian, kita baru sampai pada pemberitaan orang bahwa
gula itu manis. Belum merasakan bagaimana manisnya gula tersebut. Agar dapat
merasakannya, mempraktekkan adalah 5atu-satunya jalan. Makanlah gula, niscaya
kita paham betul dan merasakan benar bagaimana manisnya gula. Demikian pula,
hanya dengan membaca, memahami, mengarnalkan, dan mendakwahkan alQuran
kita dapat merasakan betapa agung, luhur, dan tepatnya al quran akan Semakin
banyak dan semakin sering kita membaca al-Qur’an maka kita akan semakin
merasakan kagungan dan keluhuran al-Quran. Semua itu akan dapat semakin
memperkuat dan mempertebal keimanan kita kepada Allah dan kebenaran al-Qur’an
sebagai kalamulllah. Alhamdulillah. [HN]