You are on page 1of 24

1.

Definisi
Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara
dancairan di dalam rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan
paru.Cairan ini bisa juga disertai dengan nanah (empiema) dan hal ini
dinamakan dengan piopneumotoraks. Sedangkan pneumotoraks itu sendiri
ialah suatukeadaan, di mana hanya terdapat udara di dalam rongga pleura
yang juga mengakibatkan kolaps jaringan paru. (Alsagaff & Hood, 2010).
Hidropneumothorax merupakan suatu kondisi dimana terdapat
udara pada kavum pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi
udara sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga
dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkanoleh :
1) Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal
dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumothorax jenis ini
disebut sebagai closed pneumothorax. Apabila kebocoran pleura
visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat
inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi.
Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong
mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension
pneumothorax.
2) Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat
hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang
yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara
cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding
traktusrespiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan
dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum
pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru
ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya
udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini
disebut sebagai open pneumothorax (British Thoracic Society, 2003).
Menurut Hudak & Gallo, (2006) hidropneumotoraks dapat dibagi
berdasarkan atas beberapa hal, yaitu :
a. Berdasarkan kejadian
1) Pneumotoraks spontan primer
Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang sebelumnya
tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Umumnya disebabkan oleh
pecahnya suatu bleb sub pleura yang biasanya terdapat di daerah
apeks paru. Factor resiko utama adalah merokok. Pada beberapa
kasus faktor herediter juga memegang peranan, umumnya
penderita berpostur tinggi dan kurus
2) Pneumotoraks spontan sekunder
Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang sebelumnya
telah menderita penyakit, mungkin merupakan komplikasi dari
pneumonia, abses paru, tuberkulosis paru, asma kistafibrosis dan
karsinoma bronkus. Terjadi sebagai komplikasi penyakit paru
dasarnya (underlying lung disease). Beberapa penyakit yang sering
menjadi penyebab pneumothoraks antara lain PPOK tipe emfisema
dan tuberkulosis paru
3) Pneumotoraks traumatika
Pneumotoraks yang timbul disebabkan robeknya pleura viseralis
maupunpleura parietalis sebagai akibat dari trauma.
4) Pneumotoraks artifisialis
Pneumotoraks yang sengaja dibuat dengan memasukkan udara ke
dalamrongga pleura, dengan demikian jaringan paru menjadi
kolaps sehingga dapat beristirahat. Pada zaman dulu pneumotoraks
artifisialis sering dikerjakan untuk terapi tuberkulosis paru.

b. Berdasarkan tingkat kolapsnya jaringan paru


1) Pneumotoraks totalis, apabila seluruh jaringan paru dari satu
hemitoraks mengalami kolaps.
2) Pneumotoraks parsialis, apabila jaringan paru yang kolaps hanya
sebagian. Derajat kolaps paru pada pneumothorak totalis dapat
dinyatakan dalam persen dengan rumus sebagai berikut
Rumus mengukur volumenya : (A x B) – (a x b) X 100%
(A x B)
c. Berdasarkan jenis fistel
1) Pneumotoraks ventil. Di mana fistelnya berfungsi sebagai ventilasi
sehingga udara dapat masuk kedalam rongga pleura tetapi tidak
dapat ke luar kembali. Akibatnya tekanan udara di dalam rongga
pleura makin lama makin tinggi dan dapat mendorong
mediastinum kearah kontra lateral.
2) Pneumotoraks terbuka. Di mana fistelnya terbuka sehingga rongga
pleura mempunyai hubungan terbuka dengan bronkus atau dengan
dunia luar; tekanan di dalam rongga pleura sama dengan tekanan di
udara bebas.
3) Pneumotoraks tertutup. Di mana fistelnya tertutup udara di dalam
rongga pleura, terkurung, dan biasanya akan diresobsi
spontan.Pembagian pneumotoraks berdasarkan jenis fistelnya ini
sewaktu-waktu dapatberubah. Pneumotoraks tertutup sewaktu-
waktu dapat berubah menjadi pneumotoraks terbuka, dan dapat
pula berubah menjadi pneumotoraks ventil.

2. Etiologi
Hidropneumotoraks spontan terjadi oleh karena pecahnya bleb atau
kista kecil yang diameternya tidak lebih dari 1-2 cm yang berada di bawah
permukaan pleura viseralis, dan sering ditemukan di daerah apeks lobus
superior dan inferior. Terbentuknya bleb ini oleh karena adanya
perembesan udara dari alveoli yang dindingnya ruptur melalui jaringan
intersisial ke lapisan jaringan ikat yang berada di bawah pleura viseralis.
Sebab pecahnya dinding alveolus ini belum diketahui dengan pasti, tetapi
diduga ada dua faktor sebagai penyebabnya.
a. Faktor infeksi atau radang paru. Infeksi atau radang paru walaupun
minimal akan membentuk jaringan parut pada dinding alveoli yang
akan menjadi titik lemah.
b. Tekanan intra alveolar yang tinggi akibat batuk atau mengejan.
Mekanisme ini tidak dapat menerangkan kenapa hidropneumotoraks
spontan sering terjadi pada waktu penderita sedang istirahat. Dengan
pecahnya bleb yang terdapat di bawah pleura viseralis, maka udara
akan masuk ke dalam rongga pleura dan terbentuklah fistula
bronkopleura. Fistula ini dapat terbuka terus, dapat tertutup, dan dapat
berfungsi sebagai ventil
c. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal
dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Hidropneumothorax jenis
ini disebut sebagai closed hidropneumothorax. Apabila kebocoran
pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat
inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi.
Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong
mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension
hidropneumothorax.
d. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat
hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang
yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara
cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding traktus
respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan dalam
rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura
lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat
ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum
pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai
open hidropneumothorax (Darmanto, Djojodibroto, 2009)
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbul pada Pneumotoraks tergantung pada
besarnya kerusakan yang terjadi pada sub pleura dan ada tidaknya
komplikasi penyakit paru. Gejala yang utama adalah berupa rasa sakit
yang tiba - tiba bersifat unilateral diikuti sesak napas. Gejala ini lebih
mudah ditemukan bila penderita melakukan aktivitas berat. Tapi pada
sebagian kasus gejala – gejala masih dapat ditemukan pada aktivitas biasa
atau waktu istirahat. Selain itu terdapat gejala klinis yang lain yaitu suara
melemah, nyeri menusuk pada dada waktu inspirasi, kelemahan fisik. Pada
tahap yang lebih berat gejala semakin lama akan semakin memberat,
penderita gelisah sekali, trakea dan mediastinum dapat mendorong kesisi
kontralateral. Gerakan pernafasan tertinggi pada sisi yang sakit fungsi
respirasi menurun, sianosis disertai syok oleh karena aliran darah yang
terganggu akibat penekanan oleh udara, dan curah jantung menurun
a. Biasanya akan ditemukan adanya nyeri dada yang terjadi secara tiba-
tiba, nyerinya tajam dan dapat menimbulkan rasa kencang di dada.
b. Nafas yang pendek
c. Nafas yang cepat
d. Batuk
e. Lemas
f. Pada kulit bisa ada keluhan sianosis

Manifestasi Klinis (Barbara Engram, 1997)


1. Pneumotoraks tertutup :
- Nyeri tajam pada sisi yang sakit sewaktu bernafas
- Disnea dan takipnea
- Penggunaan otot asesori pernafasan
- Takikardi
- Diaforesis
- Gelisah dan agitasi
- Bunyi hipertimpani diatas daerah yang sakit
- Luka memar pada dada
- Tidakadanya bunyi nafas seirama dengan gerakan dinding dada
2. Pneumotoraks tension :
- Distensi vena leher
- Kemungkinan emfisesma subkutan
- Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup
3. Pneumotoraks terbuka
- Observasi luka dada terbuka terhadap bunyi seperti hisapan
- Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup
4. Hemotoraks
- Pekak dengan perkusi di atas sisi yang sakit
- Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup

4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto Rontgen Gambaran radiologis yang tampak pada foto rontgen
kasus hidropneumotoraks antara lain:
1) Bagian hidropneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang
kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-
kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi
berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.
2) Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa
radioopaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini
menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak
selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
3) Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium
intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah.
Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang
sehat, kemungkinan besar telah terjadi hidropneumotoraks ventil
dengan tekanan intra pleura yang tinggi.
4) Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi
keadaan sebagai berikut
a) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi
jantung, mulai dari basis sampai keapeks. Hal ini terjadi
apabila pecahnya fistel mengarah mendekati hilus, sehingga
udara yang dihasilkan akan terjebak di mediastinum.
b) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam
dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari
pneumomediastinum. Udara yang tadinya terjebak di
mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah yang
lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher terdapat banyak
jaringan ikat yang mudah ditembus oleh udara, sehingga bila
jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat
mendesak jaringan ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada
depan dan belakang.
c) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan
tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma
Foto Rontegen hidropneumotoraks (PA), bagian yang
ditunjukkan dengan anak panahmerupakan bagian paru yang
kolaps

b. Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi


meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada
pasien dengan gagal napas yang berat secara signifikan meningkatkan
mortalitas sebesar 10%.
c. CT-scan thorax. CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan
antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara
dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara
pneumotoraks spontan primer dan sekunder. Komplikasi dapat berupa
hemopneumotorak, pneumomediastinum dan emfisemakutis, fistel
bronkopleural dan empiema (Sjahriar Rasad, 2009).
5. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara


umum (primary survey - secondary survey). Tidak dibenarkan melakukan
langkah-langkah: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik,
penegakan diagnosis dan terapi secara konsekutif (berturutan). Standar
pemeriksaan diagnostik (yang hanya bisa dilakukan bila pasien stabil), adalah
: portable x-ray, portable blood examination, portable bronchoscope. Tidak
dibenarkan melakukan pemeriksaan dengan memindahkan pasien dari ruang
emergency.

Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi


terutama untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan melakukan
tindakan penyelamatan nyawa. Pengambilan anamnesis (riwayat) dan
pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan atau setelah melakukan prosedur
penanganan trauma.

WATER SEALED DRAINAGE ( WSD )

Merupakan tindakan invasif yang dialakukan untuk mengeluarkan udara,


cairan (darah, pus) dari rongga pleura, rongga thoraks, dan mediastinum
dengan menggunakan pipa penghubung.

Indikasi dan tujuan pemasangan WSD

Indikasi :

 Pneumotoraks, hemotoraks, empyema

 Bedah paru :

- karena ruptur pleura udara dapat masuk ke dalam rongga pleura

- reseksi segmental msalnya pada tumor, TBC


- lobectomy, misal pada tumor, abses, TBC

Tujuan pemasangan WSD

 Memungkinkan cairan ( darah, pus, efusi pleura ) keluar dari rongga pleura

 Memungkinkan udara keluar dari rongga pleura

 Mencegah udara masuk kembali ke rongga pleura yang dapat


menyebabkan pneumotoraks

 Mempertahankan agar paru tetap mengembang dengan jalan


mempertahankan tekanan negatif pada intra pleura.

Prinsip kerja WSD

1. Gravitasi : Udara dan cairan mengalir dari tekanan yang tinggi ke


tekanan yang rendah.

2. Tekanan positif : Udara dan cairan dalam kavum pleura ( + 763 mmHg
atau lebih ). Akhir pipa WSD menghasilkan tekanan WSD sedikit ( + 761
mmHg )

3. Suction

Jenis WSD

1. Satu botol

Sistem ini terdiri dari satu botol dengan penutup segel. Penutup
mempunyai dua lobang, satu untuk ventilasi udara dan lainnya
memungkinkan selang masuk hampir ke dasar botol. Keuntungannya adalah :

- Penyusunannya sederhana
- Mudah untuk pasien yang berjalan

Kerugiannya adalah :

- Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan yang diperlukan

- Untuk terjadinya aliran tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan
botol

- Campuran darah dan drainase menimbulkan busa dalam botol yang


membatasi garis pengukuran drainase

2. Dua botol

Pada sistem dua botol, botol pertama adalah sebagai botol penampung dan
yang kedua bekerja sebagai water seal. Pada sistem dua botol, penghisapan
dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya ke
ventilasi udara.

Keuntungan :

- Mempertahankan water seal pada tingkat konstan

- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainage yang lebih baik

Kerugian :

- Menambah areal mati pada sistem drainage yang potensial untuk masuk
ke dalam area pleura.

- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan
botol.

- Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada kebocoran udara.


3. Tiga botol

Pada sistem tiga botol, botol kontrol penghisap ditambahkan ke


sistem dua botol. Botol ketiga disusun mirip dengan botol segel dalam air.
Pada sistem ini yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air
pada botol ketiga dan bukan jumlah penghisap di dinding yang
menentukan jumlah penghisapan yang diberikan pada selang dada. Jumlah
penghisap di dinding yang diberikan pada botol ketiga harus cukup unutk
menciptakan putaran-putaran lembut gelembung dalam botol. Gelembung
kasar menyebabkan kehilangan air, mengubah tekanan penghisap dan
meningkatkan tingkat kebisingan dalam unit pasien. Untuk memeriksa
patensi selang dada dan fluktuasi siklus pernafasan, penghisap harus
dilepaskan saat itu juga.

Keuntungan :

- sistem paling aman untuk mengatur pengisapan.

Kerugian :

- Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan


dalam perakitan dan pemeliharaan.

- Sulit dan kaku untuk bergerak / ambulansi

4. Unit drainage sekali pakai

 Pompa penghisap Pleural Emerson

Merupakan pompa penghisap yang umum digunakan sebagai pengganti


penghisap di dinding. Pompa Penghisap Emerson ini dapat dirangkai
menggunakan sistem dua atau tiga botol.
Keuntungan :

- Plastik dan tidak mudah pecah

Kerugian :

- Mahal

- Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainage bila unit


terbalik.

 Fluther valve

Keuntungan :

- Ideal untuk transport karena segel air dipertahankan bila unit terbalik

- Kurang satu ruang untuk mengisi

- Tidak ada masalah dengan penguapan air

- Penurunan kadar kebisingan

Kerugian :

- Mahal

- Katup berkipas tidak memberikan informasi visual pada tekanan intra


pleural karena tidak adanya fluktuasi air pada ruang water seal.

 Calibrated spring mechanism

Keuntungan :

- Mampu mengatasi volume yang besar


Kerugian

- Mahal

Tempat pemasangan WSD

1. Bagian apeks paru ( apikal )

2. Anterolateral interkosta ke 1- 2 untuk mengeluarkan udara bagian basal

3. Posterolateral interkosta ke 8 – 9 untuk mengeluarkan cairan ( darah, pus ).

Persiapan pemasangan WSD

 Perawatan pra bedah

1. Menentukan pengetahuan pasien mengenai prosedur.

2. Menerangkan tindakan-tindakan pasca bedah termasuk letak incisi,


oksigen dan pipa dada, posisi tubuh pada saat tindakan dan selama
terpasangnya WSD, posisi jangan sampai selang tertarik oleh pasien
dengan catatan jangan sampai rata/ miring yang akan mempengaruhi
tekanan.

3. Memberikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya atau mengemukakan


keprihatinannya mengenai diagnosa dan hasil pembedahan.

4. Mengajari pasien bagaimana cara batuk dan menerangkan batuk serta


pernafasan dalam yang rutin pasca bedah.

5. Mengajari pasien latihan lengan dan menerangkan hasil yang diharapkan


pada pasca bedah setelah melakukan latihan lengan.
 Persiapan alat

1. Sistem drainase tertutup

2. Motor suction

3. Selang penghubung steril

4. Cairan steril : NaCl, Aquades

5. Botol berwarna bening dengan kapasitas 2 liter

6. Kassa steril

7. Pisau jaringan

8. Trocart

9. Benang catgut dan jarumnya

10. Sarung tangan

11. Duk bolong

12. Spuit 10 cc dan 50 cc

13. Obat anestesi : lidocain, xylocain

14. Masker

 Perawatan pasca bedah

Perawatan setelah prosedur pemasangan WSD antara lain :

1. Perhatikan undulasi pada selang WSD


2. Observasi tanda-tanda vital : pernafasan, nadi, setiap 15 menit pada 1 jam
pertama

3. Monitor pendarahan atau empisema subkutan pada luka operasi

4. Anjurkan pasien untuk memilih posisi yang nyaman dengan


memperhatikan jangan sampai selang terlipat

5. Anjurkan pasien untuk memegang selang apabila akan mengubah posisi

6. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu

7. Ganti botol WSD setiap tiga hari dan bila sudah penuh, catat jumlah cairan
yang dibuang

8. Lakukan pemijatan pada selang untuk melancarkan aliran

9. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, cynosis, empisema.

10. Anjurkan pasien menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk yang efektif

11. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh

Bila undulasi tidak ada, ini mempunyai makna yang sangat penting karena
beberapa kondisi dapat terjadi antara lain :

1. Motor suction tidak jalan

2. Selang tersumbat atau terlipat

3. Paru-paru telah mengembang

Oleh karena itu harus yakin apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi
sistem drainase, amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
Cara mengganti botol WSD

1. Siapkan set yang baru. Botol yang berisi aguades ditambah desinfektan.

2. Selang WSD diklem dulu

3. Ganti botol WSD dan lepas kembali klem

4. Amati undulasi dalam selang WSD.

Indikasi pengangkatan WSD

1. Paru-paru sudah reekspansi yang ditandai dengan :

- Tidak ada undulasi

- Tidak ada cairan yang keluar

- Tidak ada gelembung udara yang keluar

- Tidak ada kesulitan bernafas

- Dari rontgen foto tidak ada cairan atau udara


Gambar pemasangan WSD

6. KOMPLIKASI

1. Infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan pleuritis, empiema ,


hidropneumotoraks.

2. Gangguan hemodinamika. Pada pneumotoraks yang hebat, seluruh


mediastinum dan jantung dapat tergeser ke arah yang sehat dan
mengakibatkan penurunan kardiak "output", sehingga dengan demikian
dapat menimbulkan syok kardiogenik.

3. Emfisema; dapat berupa emfisema kutis atau emfisema mediastinalis


7. WOC
Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
 Nama
 No RM
 Usia
 Jenis Kelamin
 Diagnosa
 Hari rawat
 Tanggal masuk rumah sakit
2. Pengkajian
 Keluhan masuk
Penyebab pasien dibawa ke rumah sakit apakah pasien mengalami
sesak nafas, batuk dengan dahak, demam atau nyeri pada kepala atau
bagian tubuh lain
 Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu
tubuh meningkat dapat melebihi 40°C, batuk dengan dahak mukoid atau
purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.
 Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Riwayat penyakit pasien dahulu, Perlu ditanyakan apakah pasien
sebelumnya pernah mengalami penyakit pada paru-paru atau penyakit
menular yang lain.
 Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat penyakit yang sama pada keluarga, perlu ditanyakan pada
keluarga apakah salah satu anggota keluraga ada yang pernah mengalami
sakit yang sama dengan pasien atau penyakit yang lain yang ada di dalam
keluarga.
3. Pemeriksaan fungsional Gordon
1. Persepsi terhadap kesehatan
Adanya tindakan penatalaksanaan kesehatan di RS akan
menimbulkan perubahan terhadap pemeliharaan kesehatan
2. Pola aktivitas dan latihan
Pola aktivitas perlu dikaji karena pada klien dengan
hidropneumotoraks mengalami keletihan, dan kelemahan dalam
melakukan aktivitas gangguan karena adanya dispnea yang dialami.
3. Pola istirahat dan tidur
Gangguan yang terjadi pada pasien dengan hidropneumotoraks salah
satunya adalah gangguan pola tidur, pasien diharuskan tidur dalam
posisi semi fowler. Sedangkan pada pola istirahat pasien diharuskan
untuk istirahat karena untuk mengurangi adanya sesak yang
disebabkan oleh aktivitas yang berlebih.
4. Pola nutrisi-metabolik
Adanya penurunan nafsu makan yang disertai adanya mual muntah
pada pasien dengan hidropneumotoraks akan mempengaruhi asupan
nutrisi pada tubuh yang berakibat adanya penurunan BB dan
penurunan massa otot.
5. Pola eliminasi
Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya perubahan ataupun gangguan
pada kebiasaan BAB dan BAK.
6. Pola neurosensori
Apakah muncul nyeri atau sakit kepala pada psien, dan biasanya
pasien mealami kelemahan pada ekstremitas karena sesak nafas yang
dialaminya
7. Pola hubungan dengan orang lain
Akibat dari proses inflamasi tersebut secara langsung akan
mempengaruhi hubungan baik intrapersonal maupun interpersonal.
8. Pola persepsi dan konsep diri
Akan terjadi perubahan jika pasien tidak memahami cara yang efektif
untuk mengatasi masalah kesehatannya dan konsep diri yang meliputi
(Body Image, identitas diri, Peran diri, ideal diri, dan harga diri).
9. Pola reproduksi dan seksual
Pada pola reproduksi dan seksual pada pasien yang sudah menikah
akan mengalami perubahan.
10. Pola mekanisme koping
Masalah timbul jika pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
kesehatannya, termasuk dalam memutuskan untuk menjalani
pengobatan yang intensif.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Adanya kecemasan dalam sisi spiritual akan menyebabkan masalah
yang baru yang ditimbulkan akibat dari ketakutan akan kematian dan
akan mengganggu kebiasaan ibadahnya

4. Pemeriksaan Fisik
 Kesadaran umum/ kesadaran : : Keadaan umum ini dapat meliputi kesan
keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi pasien, kesadaran yang
dapat meliputi penilaian secara kualitatif seperti compos mentis, apathis,
somnolent, sopor, koma dan delirium.

 Tanda- tanda Vital (TTV)


Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan
 Pemeriksaan head to toe
a. Kepala : Dapat dinilai dari bentuk dan ukuran
kepala, rambut dan kulit kepala, ubun-ubun (fontanel), wajahnya
asimetris atau ada/tidaknya pembengkakan.
b. Mata :konjungtiva anemis (+), sclera Ikterik (+)
c. Hidung : sekret(+)
d. Telinga : nyeri tekan, kesimetrisan
e. Mulut : mukosa mulut kering(-),
f. Kulit : turgor kulit jelek(-)
g. Paru-paru
I Simetris atau tidak, terlihat bagian yang sakit
tertinggal waktu bernapas, nafas sesak,
adanya penggunaan otot bantu nafas, batuk-
batuk
Pa mungkin dijumpai spatium interkostalis yang
melebar Stemfremitus melemah, trakea
tergeser ke arah yang sehat dan iktus kordis
tidak teraba atau tergeser ke arah yang sehat.

Pe hipersonor atau timpany, apabils udara di


paru-paru bertambah, redup atau pekak
A adanya bunyi nafas tambahan seperti ronki
atau bunyi nafas tambahan lain, mungkin
dijumpai suara nafas yang melemah, sampai
menghilang.

h. Jantung I Iktus terlihat atau tidak


P Iktus teraba atau tidak
P Batas jantung
A Irama jantung

i. Abdomen :
Data yang dikumpulkan adalah data pemeriksaan tentang ukuran
atau bentuk perut, dinding perut, bising usus, adanya ketegangan
dinding perut atau adanya nyeri tekan serta dilakukan palpasi pada
organ hati, limpa, ginjal, kandung kencing yang ditentukan ada
tidaknya dan pembesaran pada organ tersebut, kemudian
pemeriksaan pada daerah anus, rektum serta genetalianya
j. Ekstremitas :
Diperiksa adanya rentang gerak, keseimbangan dan gaya berjalan,
genggaman tangan, otot kaki, dan lain-lain.

5. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d bronkospasme, peningkatan
produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental, penurunan
energi/kelemahan
b. Gangguan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan
nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara) dan kerusakan
alveoli
c. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen