You are on page 1of 15

BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori pemprosesan informasi


Pemrosesan informasi merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan dengan
teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan
ilmu informasi. Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar
sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar
penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri
adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar.
Penjelasan lebih lanjut dari Bambang Warsita, bahwa berdasarkan kondisi internal dan
eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar
yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai
berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses
sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat
diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan
terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan
faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif
dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun
teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa
adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan
bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang
dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang
mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan
Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada
bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human
disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable
to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of
intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of
modern learning theory, a cognitive strategy is a control process. An internal process by
means of which thinking.Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar.
Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau
guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang
telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari
suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap
untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek
ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara
konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar
konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus
mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi
sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka
yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya
proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral
bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa
yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh
behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1)
hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan
disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu
semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang
lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang
terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori
manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan
mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek
dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori
ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang
tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat
mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya
mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.

B. Komponen-Komponen Dalam Teori Pemrosesan Informasi


Komponen pemrosesan informasi dipilah menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi,
kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah;
1) sensory receptor, 2) working memory, dan 3) long term memory.

a. Sensory Receptor (SR)

Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di
dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam
waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti.

b. Working Memory (WM)

Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian
(attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi.
Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots.
Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya
pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari
stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan
asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan
dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping
melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual,
ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar
mengendalikannya.

c. Long Term Memory (LTM)

Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki
oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan
di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Persoalan “lupa” pada tahapan ini
disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi
yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses
penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh Howard
(1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe, yaitu suatu struktur
representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang berfungsi sebagai kerangka untuk
mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989) mengemukakan
bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru
pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan
(knowledge base) (Lusiana, 1992).

C. Cara Kerja Atau Sistem Dalam Teori Pemrosesan Informasi


a. Konsep Sensasi
Sensasi merupakan tahap pertama stimulus mengenai indera. Sensasi merupakan
pengalaman elementer yang tidak memerlukan penguraian verbal. Sensasi adalah proses
manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui
penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang
bermakna. Fungsi alat indera dalam menerima informasi sangat penting, melalui alat indera,
manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya, memperoleh pengetahuan dan
kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Ketajaman sensasi dipengaruhi oleh faktor
personal, perbedaan sensasi dapat disebabkan perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya
disamping kapasitas alat indera yang berbeda.
b. Konsep Perhatian (Attention)

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi
menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen). Faktor
eksternal yang mempengaruhi perhatian dimana hal ini ditentukan oleh faktor-faktor
situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perharian yang
bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol,
seperti :

 Gerakan (Movement) secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.


 Intensitas Stimuli (Stimulus Intensity), kita akan memerharikan stimuli yang
menonjol dari stimuli yang lain
 Kebaruan (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik
perhatian.
 Perulangan (Repeatation), hal-hal yang disajikan berkali-kali bila deisertai sedikit
variasi akan menarik perhatian.

c. Konsep Persepsi

Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi & menafsirkan
pesan. Persepsi memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Menafsirkan
makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, persepsi tetapi juga atensi,
ekspektasi, motivasi dan memori ( Desiderato, 1976).
Contoh : Anda melihat kawan anda melihat etalase di toko. Anda menyergapnya dari
belakang, “udah lupa sama aku ya..”, orang tersebut memablik dan anda terkejut ternyata ia
bukan kawan anda tetapi orang yang tidak anda kenal.

d. Konsep Memori

Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan penting dalm


memperngaruhi persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat berstruktur
yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan
pengetahuannya untuk membimbing perilakunya ( Schlessinger dan Groves, 1976). Setiap
stimuli menenai indera kita, setiap saat pula stimuli itu direkam secara sadar atau tidak sadar.

Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding),
diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali
informas-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrival). Teori belajar pemerosesan
informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup
beberapa tahapan.

Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf


menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini
representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap
disimpan.
Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian
diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak
semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam
penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk
mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrieval adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi
yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia
tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan tersedia
tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.

D. Sistem Memori
a. Pengertian Sistem Memori
Memori atau ingatan (memory) adalah penyimpanan informasi di setiap waktu.
Informasi pada awalnya ditempatkan atau dikodekan menjadi ingatan, bagaimana informasi
disimpan setelah dikodekan, dan bagaimana informasi ditemukan atau dipanggil kembali
untuk tujuan tertentu diwaktu yang akan datang. Menurut Schacter, tanpa memori anda tidak
akan bisa menghubungkan apa yang terjadi kemarin dengan apa yang terjadi dalam hidup
anda hari ini. Sekarang, para pakar pendidikan menekankan bahwa penting untuk tidak
memandang memori dalam hal bagaimana anak-anak menambahkan sesuatu kedalamnya,
tetapi lebih untuk menegaskan bagaimana anak-anak secara aktif menyusun memori mereka.
Pribadi manusia beserta aktivitas-aktivitasnya tidak semata-mata oleh pengaruh dan
proses-proses yang berlangsung waktu kini, tetapi juga oleh pengaruh-pengaruh dan proses-
proses di masa yang lampau. Pribadi berkembang di dalam suatu sejarah di mana hal yang
lampau dalam cara tertentu selalu ada dan dapat diaktifkan kembali.

Secara teori dapat dibedakan adanya tiga aspek dalam berfungsinya memori itu, yaitu;
a. Mencamkan (menghafal), yaitu menerima kesan-kesan,
b. Menyimpan kesan-kesan, dan
c. Memproduksikan kesan-kesan.

Ingatan cepat artinya mudah dalam menghafal sesuatu tanpa menjumpai kesukaran.
Ingatan setia artinya apa yang telah diterima itu akan disimpan sebaik-baik mungkin, tidak
akan berubah-ubah, ingatan teguh artinya dapat menyimpan waktu yang lama, dan tidak
mudah lupa. Aktivitas mencamkan dengan sengaja biasanya kita sebut menghafal.
Penenlitian-penelitian dalam lapangan telah berhasil merumuskan hal-hal yang dapat
membantu menghafal atau mencamkan itu. sementara dari hasil-hasil tersebut yaitu;
menyuarakan menambah penghafalan tidak saja membaca tapi menyuarakan dan diulang-
ulang, pembagian waktu, menggunakan metode belajar dengan mengulang-ulang keseluruhan
dan berurutan.

b. Proses-Proses Memori

1. Encoding (Memasukkan)
Proses encoding (pengkodean terhadap apa yang dipersepsi dengan cara mengubah
menjadi simbol-simbol atau gelombang- gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan
peringkat yang ada pada organisme). Jadi encoding merupakan suatu proses mengubah sifat
suatu informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat memori organisme. Proses ini
sangat mempengaruhi lamanya suatu informasi disimpan dalam memori.

Proses pengubahan informasi ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu:
a) Tidak Sengaja, yaitu apabila hal-hal yang diterima oleh inderanya dimasukkan dengan
tidak sengaja ke dalam ingatannya. Contoh konkritnya dapat kita lihat pada anak-anak yang
umumnya menyimpan pengalaman yang tidak di sengaja, misalnya bahwa ia akan mendapat
apa yang diinginkan bila ia menangis keras-keras sambil berguling-guling.
b) Sengaja, yaitu bila individu dengan sengaja memasukkan pengalaman dan pengetahuan ke
dalam ingatannya. Contohnya orang yang bersekolah dimana ia memasukkan segaja hal yang
dipelajarinya di bangku sekolah dengan sengaja.
Berdasarkan beberapa penelitian, ternyata ada perbedaan kemampuan pada individu
yang satu dengan individu yang lain dalam memasukkan informasi yang diterimanya. Hal ini
berkaitan dengan memory span dari masing-masing individu (kemampuan memori).

2. Storing (Menyimpan)
Proses storage. (penyimpanan terhadap apa yang telah diproses dalam encoding).
Proses storage ini disebut juga dengan retensi yaitu proses mengendapkan informasi yang
diterimanya dalam suatu tempat tertentu. Penyimpanan ini sudah sekaligus mencakup
kategorisasi informasi sehingga tempat informasi disimpan sesuai dengan kategorinya.

Penyimpanan informasi merupakan mekanisme penting dalam memori. Sistem


penyimpanan ini sangat mempengaruhi jenis memori (sensori memori, memori jangka
pendek, atau memori jangka panjang yang akan diperagakan oleh organisme.

Setiap proses belajar akan meninggalkan jejak-jejak (traces) dalam diri seseorang dan
jejak ini akan disimpan semen tara dalam ingatannya yang pada suatu waktu dapat
ditimbulkan kembali. Jejak-jejak ingatan itu disebut memory traces.

Meskipun jejak ingatan tersebut memungkinkan seseorang untuk mengingat apa yang
pernah dipelajarinya, namun tidak semua jejak memori akan tinggal dengan baik sehingga
jejak tersebut dapat hilang dan orang dapat mengalami kelupaan. Sehubungan dengan
masalah retensi dan kelupaan, ada satu hal penting yang dapat dicatat, yaitu mengenal
interval atau jarak waktu antara memasukkan dan menimbulkan kembali.

Masalah interval dapat dibedakan atas lama interval dan isi interval
a) Lama Interval, menunjukkan tentang lamanya waktu an tara pemasukan bahan (act of
learning) sampai ditimbulkannya kembali bahan itu. Lama interval berkaitan dengan
kekuatan retensi. Makin lama interval, makin kurang kuat retensinya, atau dengan kata lain
kekuatan retensinya menurun.
b) lsi Interval, yaitu aktivitas-aktivitas yang terdapat atau yang mengisi interval. Aktivitas-
aktivitas yang mengisi interval akan merusakkan atau menganggu jejak ingatan sehingga
kemungkinan individu akan mengalami kelupaan.2

3. Retrieving (Menimbulkan Kembali)


Proses retrieval (pemulihan kembali atau mengingat kembali apa yang telah disimpan
sebelumnya). Proses mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan
informasi yang disimpan dalam memori untuk digunakan kembali bila dibutuhkan.
Mekanisme dalam proses mengingat sangat membantu organisme dalam menghadapi
berbagai persoalan sehari-hari. Seseorang dikatakan "belajar dari pengalarnan" karena ia
mampu menggunakan berbagai informasi yang telah diterimaanya di masa lalu untuk
memecahan berbagai masalah yang dihadapinya saat ini. Hilgard (1975) menyebutkan tiga
jenis proses mengingat, yaitu :

a. Recall, yaitu proses mengingat kembali informasi yang dipelajari di masa lalu tanpa
petunjuk yang dihadapkan pada organisme. Contohnya mengingat nama seseorang tanpa
kehadiran orang yang bersangkutan.

b. Recognition, yaitu proses mengenal kembali informasi yang sudah dipelajari melalui suatu
petunjuk yang dihadapkan pada organisme. Contohnya mengingat nama seseorang saat ia
berjumpa dengan orang yang bersangkutan.2

c. Redintegrative, yaitu proses mengingat dengan menghubungkan berbagai informasi


menjadi suatu konsep atau cerita yang cukup kompleks. Bila dalam recall kita bisa mengingat
seluruh kata-kata dalam lagu Indonesia Raya, tetapi mungkin kita sudah tidak ingat lagi
kapan kita mempelajarinya, dalam siatuasi seperti apa, dan lain lain. Proses mengingat
reintegrative terjadi bila anda ditanya sebuah nama, misalnya Siti Nurbaya (tokoh sinetron),
maka akan teringat banyak hal dari tokoh tersebut karena anda telah menonton sinetronnya
berkali-kali. Anda akan ingat bagaimana ia sedih karena dipinang Datuk Maringgih padahal
ia membencinya, bagaimana penderitaannya dan tragis akhir hidupnya karena dibunuh.

Perbedaan antara recall dan recognition menunjukkan adanya peranan petunjuk


mengingat (retrieval cues) dalam recognition. Petunjuk ini membantu organisme mengenali
informasi yang mau diingat khususnya untuk memori jangka panjang. Proses mengingat erat
hubungannya dengan memori jangka pendek dan panjang karena dalam memori inilah
informasi disimpan.

Contoh konkrit dari proses encoding, storage, dan retrieval ini dapat kita lihat dalam
peristiwa sehari-hari, misalnya saat hendak berangkat ke kampus anda melihat seorang nenek
yang sedang menyeberang jalan ditabrak sebuah bis. Melihat peristiwa tersebut (diterima oleh
persepsi dan dibuat kode, dalam hal ini terjadi proses encoding), kemudian anda
menyimpannya dalam otak (jenis bis, arah bis, darimana nenek berjalan, dan sebagainya.
Dalam hal ini berlangsung proses storage). Sebagai saksi mata akhirnya anda dimintai
keterangan di kantor polisi, kemudian anda menceriakan apa yang terjadi sesuai dengan apa
yang telah disimpan dalam otak (proses retrieval).

Berdasarkan contoh diatas, maka teori tentang memori yang melibatkan proses
encoding, storage, dan retrieval ini paling banyak disetujui oleh para ahli. Teori yang umum
digunakan adalah Teori Information-Processing. Analogi teori ini dapat kita lihat dari proses
input dan output komputer. Teori ini dikembangkan oleh Richard Atkinson dan Richard
Shiffrin (1968). Menurut teori mereka, memori juga melalui proses encoding, storage, dan
retrieval.

c. Jenis-Jenis Memori

Ada tiga jenis memori yang terlibat dalam Proses Memori, yaitu memori sensoris,
memori jangka pendek (short-term memory), dan memori jangka panjang (long-term
memory). Informasi akan selalu diterima oleh memori sensoris, kemudian sejumlah tertentu
akan diteruskan ke dalam memori jangka pendek dan yang lain hilang. Dari memori jangka-
pendek ada proses seleksi untuk diteruskan ke memori jangka panjang, sedangkan yang tidak
diteruskan akan dilupakan2

1. Memori Sensoris (sensory memory)


Memori sensorik berkaitan dengan penyimpanan informasi sementara yang dibawa oleh
pancaindera kita. Setiap pancaindera memiliki satu macam memori-sensorik. Jadi dalam diri
manusia terdapat lebih dari satu macam sensori-motorik, antara lain sensori- motorik visual,
sensori motorik audio, dan sebagainya.

Proses memori sensoris dapat dikatakan sebagai proses penyimpanan memori melalui jalur
syaraf-syaraf sensoris yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek. Contoh
proses dari sensori motorik ini dapat kita lakukan dalam peristiwa sehari-hari, yaitu apabila
anda melihat sekilas deretan nama dalam absen kelas anda, tiba-tiba anda melihat satu nama
yang asing maka anda cenderung untuk memperhatikannya kembali. Proses melihat sekilas
kemudian ternyata ada yang berbeda dan memperhatikannya kembali, menunjukkan proses
memori-sensorik.

a. Encoding dalam memori-sensoris


Pada saat mata kita melihat sesuatu, atau telinga mendengar sesuatu, informasi dari indera-
indera itu akan diubah dalam bentuk impuls- impuls neural dan dihantar ke bagian-bagian
tertentu dari otak. Proses ini berlangsung dalam sepersekian detik. Sinar yang mengenai
retina diterima oleh reseptor-reseptor yang ada, kemudian sinar tersebut ditransformasikan
bentuknya ke dalam impuls-impuls neural dan dikirim ke otak.2

b. Storage dalam memori-sensoris


Memori sensoris ternyata mempunyai kapasitas penyimpanan informasi yang amat besar,
tetapi informasi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa informasi yang disimpan dalam memori sensoris akan mulai
menghilang setelah sepersepuluh detik dan hilang sarna sekali setelah satu detik. Mekanisme
semacam ini penting sekali artinya dalam hidup manusia karena hanya dengan memori
seperti inilah kita bisa menaruh perhatian pada sejumlah kecil informasi yang relevan atau
berguna untuk hidup kita.

Contohnya saat kita melihat piring yang bergeser dan hendak jatuh. Mungkin saat piring
bergerak kita belum tentu dengan reflek menangkapnya,, tetapi kesan tersebut disimpan dan
langsung ditimbulkan kembali dalam gerakan menangkap piring yang hendak jatuh tadi.2

2. Memori Jangka Pendek


Memori jangka pendek atau sering juga disebut dengan short-term memory atau working
memoryadalah suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang
disimpan hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan.2

a. Encoding dalam memori jangka pendek


Mula-mula akan berlangsung proses encoding seperti dalam memori sensoris, yaitu rangsang
diterima oleh indera, diu bah bentuknya menjadi impuls-impuls neural dan dikirim ke otak.
Akan tetapi informasi yang telah diterima oleh otak kemudian dikenai oleh suatu proses yang
disebut control processes, yaitu suatu proses yang mengatur laju dan mengalirnya informasi.

Informasi yang masuk melalui indera dan disimpan dalam memori sensoris dapat dianggap
sebagai bah an mentah yang jumlahnya banyak sekali. Kernudian jurnlah yang banyak itu
akan diseleksi menurut beberapa cara dalam control processes. Pertama, informasi yang
masuk, entah itu bentuk, warna, bau, atau nada, akan dirujukkan ke gudang informasi dalam
memori jangka panjang. Di sana pola-pola informasi itu dibanding-bandingkan dengan pola-
pola yang sudah ada. Dengan demikian akan terpilih informasi yang sudah dikenal, atau yang
punya arti. Proses encoding seperti ini disebut pattern recogrutron. Mekanisme lain yang
digunakan untuk menyeleksi informasi ini adalah attention (atensi atau perhatian).

Perhatian ini menyaring informasi yang masuk ke dalam memori jangka pendek sehingga
hanya sebagian kecil yang boleh lewat.

b. Storage dalam memori jangka pendek (short term memory)


Kapasitas dalam memori jangka pendek sangat terbatas untuk menyimpan sejumlah informasi
dalam jangka waktu tertentu. Kapasitas itu bisa dilihat dengan percobaan yang disebut
memory span task, seperti berikut:

Coba bacalah deretan angka di bawah ini satu persatu dengan selang waktu kurang lebih satu
detik, lalu mendongaklah dan ulangi deretan angka tersebut :
5791463

lalu coba dengan deret berikut ini

3 5 146 2 9 6 7

kecuali ingatan anda sudah terlatih, anda mungkin tidak mampu mereproduksi deretan angka
yang kedua. Sekarang coba baca abjad abjad berikut dan ulangi tanpa melihat deretan abjad-
abjad tersebut

DI KT IHA NK AMD EP DA G RI

Kemungkinan besar Anda tidak berhasil. tetapi bila yang disajikan adalah berikut ini, tentu
hasilnya akan berbeda:

DIKTI HANKAM DEPDAGRI

Mengapa sekarang anda bisa menghafal semua abjad yang disajikan? Anda sudah kenai
kesatuan- kesatuan abjad tadi. Satu kesatuan abjad seperti HANKAM disebut satu kesatuan
informasi atau disebut juga chunk, yaitu sepotong informasi yang disajikan sebagai satu
kesatuan arti (Pertahanan Keamanan).

Kesatuan ini membantu kita mengatasi keterbatasan kapasitas memori jangka pendek.
Startegi lain yang sering dilakukan adalah yang biasa disebut jembatan keledai. Contohnya :
LUBER (Iangsung, urnum, bebas, dan rahasia), Mernori jangka pendek juga dapat dibantu
melalui pengulangan-pengulangan informas·i. Ini yang disebut main tenance. Tanpa
pengulangan ini, kebanyakan memori jangka pendek tidak bertahan lebih dari 20 detik.2

c. Retrieval dalam memori jangka pendek

Kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas. Oleh karena itu proses mengingat dalam
memori jangka pendek tidak mernbutuhkan waktu yang lama. Ada dua cara mengingat dalam
memori jangka pendek, yaitu :

1) Parallel Search, informasi yang disimpan dalam memori ditelusuri sekaligus. Misalnya
mengingat paras muka seseorang dilanjutkan dengan mengingat namanya.
2) Serial Search, penelusuran informasi dilakukan pada satu kesatuan informasi (chunk) satu
persatu. Contohnya bila anda mempunyai daftar nama orang yang akan dikirimi undangan,
kemudian anda di tanya Pak Suryo sudah dicatat belum? Maka secara otomatis ada akan
mengingat daftar nama orang yang akan diundang sau persatu. Semakin panjang daftarnya,
semakin lama waktu yang digunakan untuk mengingatnya.

3. Memori Jangka Panjang (long term memory)

Memori jangka panjang atau sering juga disebut dengan long-term memory adalah suatu
proses penyimpanan informasi yang relatif permanen.

a. Encoding dalam memori jangka panjang


Prosesnya tetap berawaI pada memori sensoris yang mengubah informasi menjadi impuIs-
impuls dan mengirimkannya ke otak. Dalam memori jangka-pendek informasi tersebut sudah
diseleksi berdasarkan control processes. Untuk dapat masuk ke dalam memori jangka
panjang, perlu dilakukan proses selanjutnya, yaitu semantic atau imagery coding. Dalam
proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Bila kita mendengar seseorang berkata,
"Budi dipukul Ali sampai pingsan", maka kita tidak hanya mengerti arti masing masing kata
dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari
keseluruhan kalimat tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata- kata lain yang unsurnya
sarna, seperti "Ali dipukul Budi sampai pingsan", maka kita tahu bahwa yang terjadi sekarang
berbeda dari yang pertama.

Dalam kedua kalimat terse but kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam keseluruhan
kalimat itu, maka kita melakukan "se mantic coding"; tetapi kalau kita membayangkan reaksi
dari Ali atau Budi dalam peristiwa itu, maka kita melakukan imagery coding.

b. Storage dalam memoti jangka panjang


Proses encoding dalam memori jangka panjang dilakukan dengan penyaringan berdasarkan
arti dari informasi itu bagi organisme, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat
berlangsung secara permanen.

Selain daripada itu, kapasitas memori jangka panjang ternyata juga amat besar. Ini
memungkinkan penyimpanan informasi yang luar bias a banyaknya yang diperoleh sepanjang
hidup organisme. Meskipun demikian, memori masih bekerja sangat efisien yaitu dengan
jalan me- reorganisasi informasi yang diterima dari memori jangka pendek. Reorganisasi ini
erat hubungannya dengan proses retrieval atau mengingat kembali informasi yang telah
disimpan.
c. Retrieval dalam memori jangka panjang
Dijelaskan di atas bahwa penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang sangat
terorganisir. Bila tidak terorganisir, maka proses mengingat satu informasi sederhana saja
seperti "Umur berapa anda mulai belajar menulis?", sangat sulit untuk dijawab walaupun
sudah diberi petunjuk yang cukup jelas.

Informasi yang tersimpan itu sifatnya terorganisasi, maka bila diberi petunjuk (retrieval
cues), maka proses mengingat itu hanya akan berlangsung beberapa detik saja. Retrieval cues
juga dipengaruhi oleh internal state (kondisi internal seseorang). Bila terjadi kondisi internal
yang sarna at au sejenis, maka hal yang menyebabkan kesamaan kondisi internal itu dapat
menjadi retrieval cues yang berguna dalam proses mengingat kembali.

Contohnya apabila anda merasa senang (kondisi internal) karena belajar psikologi faal untuk
VAS dengan pacar anda. Bila saat ujian VAS anda duduk bersebelahan dengan pacar anda,
maka kondisi internal yang terjadi cenderung sama dengan saat anda belajar. Hal terse but
dapat menjadi retrieval cues untuk menimbulkan ingatan ingatan yang disimpan saat belajar.
Sebaliknya, apabila saat VAS psikologi faal anda duduk bersebelahan dengan orang yang
anda benci (misalnya, saingan anda), maka kondisi internalnyajauh berbeda dengan saat anda
belajar, maka kondisi internal terse but tidak membantu munculnya retrieval cues. Proses
mengingat dalam memori jangka panjang ini sangat penting, oleh sebab itu banyak dilakukan
penelitian untuk meningkatkannya.
e. Tahap-tahap ingatan (memory)

Sebelum seseorang mengingat suatu informasi dimasa lalu, ternyata ada beberapa
tahapan yang harus dilalui ingatan tersebut untuk dapat muncul kembali. Atkinson (1983)
berpendapat bahwa, para ahli psikologi membagi tiga tahapan ingatan, yaitu: a.
memasukan pesan dalam ingatan (encoding). b. penyimpanan ingatan (storage). c.
mengingat kembali(retrieval). Hampir senada pendapat yang dikemukakan oleh Walgito
(2004), bahwa ada tiga tahapan dalam mengingat, yaitu: “mulai dari memasukkan
informasi (learning), menyimpan (retention), menimbulkan kembali (remembering)”.
Tahapan-tahapan memory inilah yang biasanya terjadi dan dibutuhkan dalam proses
pembelajaran gerak. Dari pendapat ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga
tahap mengingat, yaitu tahap pemasukan informasi dan pesan-pesan kedalam ingatan,
tahap penyimpanan ingatan dan tahap mengingat kembali.

a. Memasukkan (learning)
Cara memperoleh ingatan pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu: 1). secara sengaja dan
2). secara tidak disengaja. Bahwa seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja
memasukkan informasi, pengetahuan, pengalaman-pengalamanya kedalam ingatannya.
Misalnya: jika gelas kaca terjatuh maka akan pecah. Informasi ini disimpan sebagai
pengertian-pengertian.

b. Menyimpan
Tahapan kedua dari ingatan adalah penyimpanan atau (retention) apa yang telah dipelajari.
Apa yang telah dipelajari biasanya akan tersimpan dalam bentuk traces dan bisa
ditimbulkan kembali. Walaupun disimpan namun jika tidak sering digunakan maka
memory traces tersebut bisa sulit untuk ditimbulkan kembali bahkan juga hilang, dan ini
yang disebut dengan kelupaan.

c. Menimbulkan kembali
Menimbulkan kembali ingatan yang sudash disimpan dapat ditempuh dengan mengingat
kembali (to recall) dan mengenal kembali (to recognize).

E. Faktor yang memperluas memori

Proses mengingat atau memori banyak dipengaruhi oleh berberapa faktor, yaitu :

a) Faktor Individu

Proses mengingat akan lebih efektif apabila individu memiliki minat yang besar, motivasi
yang kuat, memiliki metode tertentu dalam pengamatan dan pembelajaran memiliki kondisi
Fisik dan kesehatan yang baik.

b) Faktor Sesuatu yang Harus di Ingat adalah sesuatu yang memiliki organisasi dan
struktur yang jelas, mempunyai arti, mempunyai keterkaitan dengan individu, mempunyai
intensitas rangsangan yang cukup kuat.

c) Faktor Lingkungan proses mengingat akan lebih efektif apabila ada lingkungan yang
menunjang dan terhindar dari adanya gangguan-gangguan
DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran, cet.1 Jakarta: Rineka Cipta

C. Asri Budiningsih. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : FIP UNY ..


Gagne, M. Robert. 1970. The Conditions of Learning, United States of America.

Muhtar, Zulkifli.”Teori Pemrosesan Informasi”.03 Maret 2018.


https://blogzulkifli.wordpress.com/2011/06/08/teori-pemrosesan-informasi/
Ryoma, Artizen.” sistem memori dan pemrosesan informasi”.03 Maret 2018.
http://artizenryoma.blogspot.co.id/2016/05/sistem-memori-dan-pemrosesan-
informasi.html.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta : Raja Grapindo Persada.
Suciati. 2001. Teori Belajar dan Motivasi.Jakarta : Unversitas Terbuka (PAU-PPAI-UT).