You are on page 1of 14

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN SISTEM ELEKTRONIK ECM (Elektronik Control Modul)

ECM (elektronik control modul) adalah unit computer yang terdapat pada kendaraan
yang dapat mengontrol kerja dari setiap system seperti system pengapian, system bahan bakar ,
system pendingin, ECM (elektronik control modul) mengolah data dari sebuah sensor dimana
sesnsor tersebut bertugas mengambil data input dari suatu teknologi untuk di olah lalu diteruskan
di actuator (output) yang dikehendaki .

System elektronik ada yang mengatur jalan kerjanya adalah ECM (elektronik control
modul ) system ini mengkoordinir tugas diantaranya rangakaian sensor yang membaca data
sedangkan actuator adalah system yang bekerja untuk meneruskan tugas dari sensor yang diolah
datanya oleh ECM. Setelah ECM mendapat data dari sensor lalu diolah untuk mengselaraskan
dengan data yang akan diterima oleh actuator selanjutya actuator meneruskan data tersebut.

System elektronik tersebut ada kemudahan dan kerugian dalam pengaplikasiannya Self
ignition adalah cara manual untuk memeriksa apakah ada kerusakan atau troubel pada mesin efi
(electronic fuel injection ) dengan membaca kedipan lampu indicator yang teratur dengan jarak
dan durasi yang sudah ada di petunjuk buku pedoman sehingga kita bisa menentukan tanpa
mengguanakn scantools

Dalam perkembangannya ECM mengatur berbagai system system pada mesin, bahkan
seluruh system pada kendaran telah dikontrol oleh ECM. Adapun system yang dikontrol oleh
ECU adalah system EFI (elektronik fuel injector), ABS (anti lock brake sistem), EPS (elektronik
stabilizer sistem) dll.

Salah satu kelebihan dari ECM adalah dapat menerima dan mengolah data yang
sedemikian banyak secara cepat dan akurat sehingga membuat ECM dapat mengontrol banyak
fungsi dan kerja, termasuk mengontrol banyak system yang terdapat pada kendaraan.
2.2 CARA KERJA DAN KOMUNIKASI ECM (Elektronik Control Modul)

Computer menggunakan tegangan untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan


perangkat input output maupun dengan computer lainnya. ECM seperti halnya dengan computer
yang lain terhubung terhubung dan berkomniksi dengan komponen di luarnya. Misalnya untuk
mendapatkan informasi dari sensor-sensor tentang kondisi kerja mesin, mengontrol komponen-
komponen untuk memperbaiki kerja dan memberikan data diagnosis perbaikan untuk teknisi.

Ada dua tipe dasar sinyal yang digunakan yaitu tegangan analog dan tegangan digital.
Tegangan dari signyal ini berubah lambat atau cepat tergantung dari sensornya dan apa yang di
monitor. Jika sinyal tersebut dilihat dengan menggunakan osciliscope,sedangkan sinyal digital
memiliki peningkatan dan penurunan secara vertical dan garis lurus dengan sudut yang tajam.
Garis horizontal bagian atas menunjukkan tegangan tinggi atau ON, sementara garis horizontal
bagian bahwa menunjukkan tegangan rendah atau OFF.

Ketika mengukur sinyal analog ataupun digital yang berubah sangat cpat menggunakan
voltmeter, contoh nya sensor kecepatan (speed sensor) ataupun sinyal putaran mesin (RPM
Sinyal), sangat penting bagi kita untuk mengetahui bahwa pembacaan tegangan yang
ditunjukkan oleh volt meter tidaklah menunjukkan nilai yang sebenarnya. Volt meter disini
hanya menunjukkan pembacaan rata-rata tegangan dari sinyal

Jika kita memperkirakan atau mencurigai letak sirkuit yang bermasalah secara pasti, yang
mana tidak bisa dilakukan dengan voltmeter, maka harus menggunakan oscilloscope untuk
pembacaan yang lebih akurat. Sinyal analog juga memiliki keterbatasan pada input ECM yang
tidak dapat digunakan oleh ECM sampai sinyal analog ini diterjemahkan kedalam sinyal digital.

SENSOR SELF LAMP INDIKATOR


DDIAGNOSIS

Gambar , Tabel control electronic pada self diagnosis.


Diagnostic on Board sangat dibutuhkan ketika mobil kita tiba-tiba mati total padahal
sebelumnya masih baik-baik saja (hal ini sangat sering terjadi).Peralatan yang dibutuhkan untuk
melakukan Diagnostic on Board cukup simple yaitu hanya kabel pendek dengan terminal yang
dimodifikasi seperti berikut :

2.3 KOMPONEN DALAM SYSTEM ECM

A, Microprosesor

Microposesor atau yang disebut dengan CPU (Central Possesing Unit). CPU bekerja
dengan ratusan operasi sedehana dengan kecepatan yang luar biasa. Untuk menjaga agar
semua operasi kerja CPU tidak kacau, CPU menjalankan kerja operasi sesuai perintah yang
dijalankan oleh clock.

CPU (Central Prossesing Unit) unit dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; control
section, arithmetic and logic section, dan regrister section.

Control section bertugas mengontrol dasar operasi kerja dalam computer. Dasar kerja
operasi computer dipogram dengan perintah dari memori untuk menangani operasi:
1. pengiriman data dari part computer ke part yang lain.
2. data input dan data output dari arithmetic kalkulation computer.
3. penghentian operasi computer.
4. perpindahan keperintah yang lain selama program berjalan.

Arichmatic and logic section mengeluarkan data actual yang telah diproses dan yang
berisi operasi arichmatic dan bilangan logika. Sementara regristasi section menyimpan data
sementara samapai data diterkirim kebagian aritmatik dan logika ataupun kebagian control.

B. Memori Computer

memori computer adalah sebuah sirkuit internal dimana program program dan data
disimpan. Computer memiliki beberapa memori yang berbeda dan yang kesemuanya bekerja
secara bersama-sama untuk memungkinkan computer bekerja untuk menghasilkan fungsi
spesifi, mulai dari memori yang deprogram secara permanen dan dapat berubah tergantung
dari berbagai kondisi yang berbeda.

Beberapa yang umum dipakai adalah sebagai berikut:

1. Random Acses Memori

Ram adalah memori yang menyimpan data sementara. Dengan RAM,ECM dapat
bekerja “membaca dari (red from) dan menulis ke (write to)”. Disisi data dari input
diterima dan disimpan. Data akan hilang jika power supply di putus. Secara umum RAM
dibagi menjadi dua bagian, Bagian pertama menerima power supply dari kunci kontak ,
disini data tentang kondisi operasi disimpan; seperti putaran mesin, tempertur, dll. Bagian
lainya disebut dengan dengan “keep alive memori”.yaitu memmori yang harus selalu
dialiri power supply,yang didapat langsung dari baterai. Informasi mengenai kode
diagnose (DTC) disimpan disini, sehingga data tidak akan hilang meskipun kunci kontak
di OFF kan. Dan hal ini menjadi sebab harus melepas sekring atau baterai untuk
menghapus DTC.

2. Read Only Memori

ROM sebenarnya juga memiliki fitur seperihal RAM, kecuali ada dua hal: data
hanya dibaca dan data yang telah dihapus. Disinilah dasar operasi perintah computer
diletakkan. Computer hanya bisa membaca informasi pada ROM dan tidak dapat menulis
(write to) atau menyimpan data.

3. Programmable Read Only Memory (PROM)

PROM memiliki kemampuan untuk dapat diprogram atau memilki informasi yang
ditulis kedalamnya sewaktu-waktu. Komputer hanya bisa membaca data pada PROM.
PROM berisi program perintah spesifik untuk komputer seperti Basic injecttion timing,
data untuk mesin injeksi, timing advance curve, atau titik perpindahan gigi untuk trasmisi
otomatis dan lain-lain. Tipe PROM yaitu: erasable programable read only memory
(EPROM) yang bisa dipogram ulang dan informasi/data bisa dihapus dengan sinar ultra
violet. Dan electronik erassable programable read only memory (EEPROM) yang bisa di
pogram ulang in informasi data bisa dihapus secara elektronik.

C. Bused Electrical Center (Bec)/ Juntion Box (J/B)

Kebanyakan kendaraan sekarang ini dilengkapi dengan BEC atau J/B untuk distributor
power dan grounding. BEC atau J/B terdiri dari rumah sekring, circuit breaker dan relay. BEC
dan J/B terdiri dari rumah sekring, cirkuit breaker dan relay. BEC atau J/B juga terdiri atas
terminal dan rangkaian kelistrikan dalam lapisan yang di insulasi, dan lapisan ini direkatkan
secara permanen antara rumah bagian atas dan bawah. Dengan demikian keunitan dan
banyaknya wire herness bisa di kurangi.

D. Paratic Load

Paractik load adalah besarnya arus yang mengalir ke komponen kelistrikan saat kunci
kontak dalam posisi OFF. Salah satu contoh misalkan dibutuhkan sedikit arus untuk menjaga
agar memori komputer tetap hidup untuk tetap bekerja. Hal ini mengakibatkan berkurangnya
arus pada baterai.

Umumnya spesifikasi arus yang diperbolehkan mengalir adalah 300 mA semakin banyak
kebutuhan arus listrik saat kunci kontak OFF, berarti paracitic load akan semakin besar dan
dapat menyebabkan berkurangnya arus baterai atau mungkin akan habis sama sekali.

E. Data Link Conector (Dlc)

Data link connector disediakan pada kendaraan untuk memungkinkan ECM berhubungan
dengan scan tool. Hal ini untuk memudahkan teknisi untuk melihat Diagnosis Throuble Code
(DTC) dan mengecek status sistem berbagi komponen yang digunakan pada sistem kontrol
elektronik.

F. ECM power distribution

ECM bekerja untuk mengontrol kerja sistem pada kendaraan. ECM membutuhkan power
supply untuk memproses dan mengontrol kerja sistem. Saat kunci kontak pada posisi ON,
listrik akan disuply ke ECM. Tegangan regulasi yang umumnya digunakan adalah 5 atau 12
volt untuk berbagai macam fungsi di dalam dan di luar ECM. Jika tegangan dari kunci kontak
jatuh sampai di bawah 6 volt, ECM tidak akan bekerja.

ECM juga membutuhkan tegangan meskipun kunci kontak dalam posisi OFF, untuk
menahan memori tentang parameter kendaraan yang tepat dan kode diagnosis. Dengan
demikian tegangan baterai terus menerus akan dialirkan. Memutuskan aliran ini akan
menyebabkan terhapusnya memori pada ECM tentang pembacaan idle kontrol parameter,

2.4 PRINSIP DASAR INPUT DAN OUTPUT ECM

Komputer mengontrol kerja sistem-sistem pada bagian-bagian kendaraan dengan


memonitor kondisi kerja secara terus menerus. Melalui sensor-sensor, komputer menerima
informasi vital mengenai nilai-nilai dari kondisi kerja yang dimonitor, sehingga memungkinkan
sekecil-kecilnya perubahan pada tempat yang jauh dapat dikirim dengan cepat dan akurat
dibandingkan dengan sistem mekanis. Sensor-sensor menkorvensikan
temperatur,tekanan,kecepatan, posisi ataupun data lainnya ke dalam sinyal analog maupun
digital.

Dari diagram input/output ECM di berikut, dapat kita lihat bahwa terdapat 4 bagian utama dari
sistem kontrol elektronik pada mesin yaitu :

1. power supply; yang berfungsi untuk memberikan sumber tegangan bagi sistem.
2. input ; berupa sensor-sensor yang berfungsi untuk memonitor kerja sistem pada mesin
dan mengirimkannya ke ECM

3. prossesor; berupa ECM yang berfungsi untuk mengontrol kerja sistem berdasarkan
informasi inputan dan program bekerja menghasilkan perintah kerja khusus yang
dikirimkan ke actuator.

4. output; berupa aktuator-aktuator yang bekerja dibawah kontrol dan perintah ECM
untuk menetukan kerja sistem agar bekerja sesuai ketentuan.

Pada gambar di atas menunjukkan diagram input/output pada EMS terdiri dari berbagai
inputan yang berfungsi untuk mendeteksi berbagai kondisi kerja mesin dan melaporkan ke ECM

Berdasarkan sinyal dari berbagai inputan tersebut, ECM mengotrol kerja mesin dengan
membandingkan data tersebut dengan data standart target data yang sudah di pogram di dalam
ECM dan terus menerus mempertahankan agar data input selalu sama/mendekati data target
dengan mengontrol kerja aktuator

1. ECM Input (Sensor-Sensor)

Ada banak jenis sensor yang digunakan pada mesin. dari sedemikian banyaknya jenis
sensor yang digunakan, jika dilihat dari bahan dan karakteristik kerjanya, kesemuanya sensor
itu dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

A. resistansi

Sensor ini mengubah kondisi kondisi mekanis menjadi nilai hambatan pada sensor
tersebut. ECM mensuplai tegangan yang telah diregulasi yang disebut dengan tegangan
referensi menuju ke sensor. ECM kemudian mengukur tegangan jatuh yang melewati sensor
akibat dari adanya nilai hambatan untuk menunjukkan data dari part yang ada di monitor.
Kelompok sensor ini dibagi menjadi sensor tipe potensiometer, thermistor, dan piezo-resitive.

Sensor Potensiometer diantaranya: measuring air flow meter (MAF sensor tipe plat ukur),
measuring core air flow meter (MAF sensor tipe inti ukur), throttle position sensor (TPS) ,
dan fuel level sensor. Sensor tipe trenmistor diantaranya: engine coolant temperature ECT
sensor dan intake air temperature IAT sensor. Sensor tipe piezo resistive diantaranya:
manifold absolute pressure MAP sensor. Hot wire sensor digunakan pada MAF sensor.

B. voltage generating sensor

Sensor jenis ini menghasilkan sinyal tegangan yang berhubungan dengan komponen
mekanis yang dimonitor. Sinyal tegangan ini dikirim ke ECM sebagai data tentang kondisi
kerja part mekanis yang diminitor.

C. switch sensor

Sensor tipe ini bekerja memutus dan menghubungkan tegangan dari atau ke ECM
sehingga didapatkan sinyal tegangan ON atau OFF. Sinyal tegangan ON atau OFF ini dikirim
ke ECM sebagai data tentang kondisi part yang dimonitor.

D. digital output sensor

Sensor ini mengubah kondisi kondisi mekanis mejadi sinyal digital yang dikirim ke ECM
sebagai data tentang kondisi part yang di monitor. Umumnya sensor model ini membutuhkan
sumber tegangan listrik yang disuplay ke ECM.

2.5 SISTEM SELF DIAGNOSIS

ECM meiliki sebuah system self diagnosis terpadu dimana trouble yang terjadi melalui
jarinagn engine signyal, dan menjalankan lampuy peringatan “CHECK” engine tang terdapat di
combination meter.

Dengan menganalisis berbagai signyal seperti yang terdapat di dalam ECM. ECM
mendeteksi system yang mengalami malafungsi yang berhubungan dengan sensor dan actuator.
System self diaknosis memiliki dua mode,yaitu mode normal dan mode test. Bila ada malfungsi
yang terdeteksi dalam mode normal, maka ECU akan menyalakan lampu peringatan “CHECK”
engine.

Untuk memberitahukan pengemudi tentang telah terjadinya suatu malafungsi (Ada


beberapa kode dimana lampu tidak menyala). Lampu peringatan akan padam secara otomatis,
bila malafungsi yang terjadi setelah diperbaiki, akan tetapi diagnosis code akan tetap tersimpan
di dalam memori ECM (kecuali kode no. 16) ECM akan menyimpan code sampai dilakukan
penghapusan, yaitu denga melepas fuse EFI dengan ignition switch OFF.

ECM akan menyimpan kode sebagai diagnosis code dapat dibaca yaitu dengan jumlah
kedipan lampu peringatan “CHECK” engine bila terminal TE!,dan E1 pada check konector
dihubungkan. Bila ada 2 atau kode yang ditunjukkan, maka jumlah kedipan (kode) yang paling
kecil akan terjadi terlebih dahulu.

Jika dilihat dari penggunaan pada mesin, sensor-sensor tersebut dapat kita kelompokkan
lagi menjadi :

1. sensor temperature : IAT sensor dan ECT sensor

2. sensor udara masuk :MAF sensor dan MAP sensor

3. sensor posisi throttle :TP sensor

4. sensor putaran : Ne dan G1 sinyal, CKP sensor, CMP sensor dan VSS

5. sensor knoking : knok sensor

6. sensor gas buang : O2 sensor dan A/F sensor

1. Pemeriksaan Kerusakan Dengan Cara Self Diagnosis

Dalam pemeriksaan sendiri ini cukup mengguanakan avometer dan kabel jemper
sebagai alat bantu untuk mendeteksi aliran arus maupun tegangan yang dilewati jalur
tersebut untuk melihat apasaja yang mengalami kerusakan tanpa mengguanakan
scantools.
Komponen yang ada di atur dalam system elektronik control unit di mesin toyota
tipe k3

A, INPUT

Input meliputi

1.Diagnosis Normal Mode (DNM) Pemeriksaan lampu indikator :

Siapkan kabel jemper yang berguna untuk menghubungkan lubang satu ke lainnya Pada
Diagnostic Normal Mode, yg dibutuhkan hanyalah menjumper diagnostic box dengan
melihat stiker yg tertempel dibalik diagnostic box. Pasanglah kabel tersebut, pada kode
TE1 + E1.

Gambar , kolom TE1 dihubungkan dengan E1

Catatan : Kondisi mesin mobil hanya ignition ON saja (posisi kunci kontak ON, tp mesin
tidak dinyalakan/start ).
Gambar , kunci pada posisi ON

2. Pemerisaan pada sirkuit starter signal : A/C signal dan neutral start switch signal.

Dalam diagnosis ini dibutuhkan hanyalah menjumper diagnostic box dengan melihat
stiker yg tertempel dibalik diagnostic box. Pasanglah kabel tersebut, pada kode TE2 +
E1.

Catatan : untuk mendapatkan output dari diagnosis code, ikuti prosedur berikut ini:

1. Kondisi tegangan baterai harus 11 volt atau lebih


2. Transmisi pada posisi N (neutral)
3. Aksesoris pada posisi OFF
4. Mesin telah mencapai temperature kerja normal
5. Pasang kabel jemper ke kode TE2 + E1
6. Putar kunci kontak pada posisi ON
Petunjuk untuk memastikan bahwa test mode telah bekerja, cek apakah peringatan lamp
berkedip .
7. Start mesin dan jalankan kendaraan dengan kecepatan 10km/jam (kecuali pada posisi
diam tidak bekerja, kalau sudah menyala tidak perlu dilakukan )
Gambar , TE2 dihubungkan dengan E1

Diagnostic akan mendeteksi kerusakan melalui kedipan lampu pada lampu check engine
speedometer kita. Diagnostic Normal Mode ini akan memonitor 15 items dalam mobil
Toyota kita.

2.Diagnosis Test Code (DTC) :

Biasanya dalam Diagnosis Normal Mode banyak item penyebab mobil mogok
total tidak terdeteksi, sehingga kita beralih untuk mengecek mobil dengan cara diagnosis
test code Karena dalam keadaan mati, diagnosis test code ini mencangkup 3 kode penting
yang akan dicek secara langsung :

 Kode 22 : Temperatur Engine coolant tetap pada suhu 80 derajat celcius (apakah mobil
overheating atau tidak?)

 Kode 31 : Waktu pengapian tetap pada 50 sebelum TMA dan tekanan absolut manifold
tetap pada 46,7 kPa. (Apakah pengapian mobil normal ?)

 Kode 41 : Throttle position tetap pada 0 (apakah sensor-sensor yang di Throttle Body
dalam keadaan normal yang biasanya berguna untuk pengaturan udara masuk)
Jika salah satu dari kode ini terdeteksi ketika kita melakukan Diagnostic on Board maka
secara otomatis ECU akan mengubah mobil ke mode fail safe.Dan sama seperti komputer yang
dapat dijalankan melalui safe mode, mobil tetap dapat dijalankan melalui safe mode untuk
melihat lebih dalam kerusakan apakah yang terjadi.

Pastikan sebelum DTC dimulai, Throttle Valve tertutup, Seluruh switch aksesoris mobil
dalam kondisi OFF, dan transmisi pada posisi parker / netral.

Kode yg harus dijumper untuk DTC ini adalah TE1 + TE2 + E1 kemudian kunci kontak
diputar pada posisi ON saja (mesin mobil jgn dinyalakan dahulu), seperti pada gambar ini:

Setelah menjumpai trouble code pada saat DTC, kemudian nyalakan mesin dan coba test
jalan sebentar.Saat ini, ECU telah mengoperasikan Fail Safe Mode. Jika kecepatan kendaraan
adalah 5 km/jam (3mph) atau kurang, kode trouble diagnosis 42 (Signal kecepatan kendaraan)
akan dimunculkan, dan ini normal.

Untuk kembali ke normal mode setelah pengetesan silahkan mematikan mesin dan cabut
kabel jumper tersebut.Setelah memperbaiki area permasalahan dari trouble code tersebut, ECU
akan tetap menyimpan kode trouble diagnostic tersebut pada memorinya dan untuk menghapus
kode troublenya, silahkan mencabut sekring EFI pada fuse box atau mencabut kabel negative
accu selama ± 10 detik. ECU akan kembali kepada Normal Mode.

Sedangkan untuk mendeteksi kodenya setelah dijumper seperti gambar diatas, dapat
dilihat pada lampu check engine speedometer, seperti gambar dibawah ini:

Setelah mengetahui cara manual melakukan Diagnosis on Board yang dipersembahkan


oleh rekan-rekan di Toyota Soluna Community , tentu tidak lengkap apabila tidak
diajarkan cara membaca kedipan lampu check engine sehingga ilmu Diagnosis on Board
secara manual menjadi lengkap dan berguna.

Cara Membaca Check Engine Ketika Sedang Melakukan Diagnosis On Board :

1.Setiap kode umumnya terdiri dari 2 digit seperti 12, 14, 16, 22, Dll
2.Maksud dari 14 itu bukan berarti check engine kedap kedip sebanyak 14 kali, apabila seperti
ini bisa kelewatan ketika kita mencoba menghitungnya dan yang ada malah salah hitung terus.

3.Digit pertama biasanya ditandai dengan kedip check engine yang lebih pelan.misalkan digit
pertama adalah 1, maka check engine akan berkedip pelan selama kurang lebih 0,5 detik
sebanyak 1 kali

4.Setelah itu diikuti dengan kedip lampu check engine yang lebih cepat untuk angka di
belakangnya misalkan angka 6 maka check engine akan berkedip secara cepat sebanyak 6x.

5.Dan setelah menunjukkan angka 16 (dalam kasus di atas) atau satu trouble code maka check
engine akan mati selama kurang lebih 1 detik dan akan melakukan pengulangan kedipan
kembali untuk trouble code 16.Tetapi apabila trouble code lebih dari satu maka check engine
akan berkedip menunjukkan trouble code baru.

Misalkan :

Kode 16 : kedipan panjang 1x diikutin dengan kedipan cepat selama 6x,


Check engine akan mati selama 1 detik setelah itu,
Kode 22 : kedipan panjang 2x diikutin dengan kedipan cepat selama 2x,
Check engine akan mati selama 1 detik setelah itu,
Kembali menunjukkan kode 16 dan terus melakukan pengulangan untuk 2 kode diata
Bagaimana bila ada 3 kode atau 4 kode ? maka akan terjadi pengulangan ke awal setiap 3 atau
4 trouble code yang telah ditunjukkan kepada kita.

Berikut Ini Cara Penghapusan Data Troubel Pada Chek Engine Ketika Kita Sudah
Mengetahui Kasalahannya

Setelah melihat hasil dan memperbaikinya dari gangguan yang timbul, diagnosis coke
yang tersimpan yang ada di rekaman engine chek maka harus di hapus apabila tidak dihapus
maka pada chek engine tetap menampilkan hasil trouble maka cara menghapus nya dengan
melepas kabel accu yang ground (-) selama 5-10 detik ada pula dengan cara lain yaitu dengan
melepas EFI Fuse 15volt selama 5-10 detik tergantung temperature udara disekitar apabila
lebih rendah maka akan lama pula