You are on page 1of 18

MAKALAH

Paradigma Penyusunan Teori Dalam Penelitian Kualitatif

Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian

oleh Ibu Edriana Pangestuti, SE,.M.Si

Disusun oleh:

Bella Areta 155030400111013

Bobbi Wirawan 1350407111002

Naufaldy Riansjah Nansati 155030407111059

Ricky Yohanes 155030401111009

Prodi Perpajakan

Fakultas Ilmu Administrasi

Universitas Brawijaya

Malang

2018

0
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang mana berkat rahmatNya
kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Paradigma Penyusunan Teori Dalam Penelitian
Kualitaif”. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran
demi perbaikan makalah yang telah kami buat. Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapun
yang membacanya. Aamiin.

Malang, 28 Februari 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ 1

DAFTAR ISI........................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 3


1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 5
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................... 4
2.1 Konsep Dasar Paradigma .................................................................................... 4
2.2 Konsep Dasar Teori .............................................................................................. 4
2.3 Pengertian Penelitian Kualitatif ………………………………………………….5
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................................... 7
3.1 Paradigma Penelitian Kualitatif ........................................................................... 7
3.2 Penyusunan teori dan persoalan generalisasi ……………………………………10
BAB V PENUTUP................................................................................................................ 15
4.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 15
4.2 Saran ..................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................17

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Disadari betapa rumitnya memahami dan mengerti, apabila mengaplikasikan meode
penelitian ilmiah. Karena dalam mengaplikasikannya memerlukan pengetahuan secara
menyeluruh dari awal perencanaan hingga penyusunan laporan akhir hasil penelitian tersebut.
Maka dari itu penyusun mencoba untuk menulis tentang dasar penelitian berupa paradigma
dan teori penelitian.
Dalam penelitian kualitatif yang bersifat naturalistik, fungsi paradigma dan teori bukan
dalam rangka membentuk fakta, melakukan prediksi, dan menunjukan hubungan dua variable
sebagaimana dalam penelitian kuantitatif, melainkan lebih banyak untuk mengembangkan
konsep dan pemahaman serta kepekaan peneliti.
Gambaran secara umum, paradigma dipandang sebagai suatu pandangan hidup (word
view) yang dimiliki seorang peneliti yang dengan itu ia memiliki kerangka berfikir, asumsi,
teori, proposisi dan konsep terhadap suatu permasalahan penelitian yang dikaji. Sedangkan
teori ialah seperangkat pernyataan yang secara sistematis saling berkaitan. Untuk lebih
jelasnya bisa dilihat dalam makalah kami berikut ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Paradigma penelitian kualitatif ?
2. Bagaimana Penyusunan teori dan persoalan generalisasi ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui Paradigma penelitian kualitatif
2. Untuk mengetahui Penyusunan teori dan persoalan generalisasi

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Paradigma

Istilah paradigma pertama kali dikemukakan oleh Thomas S. Kuhn dalam The Structure of
Scientific Revolutions yang diterbitkan tahun 1970 pada edisi kedua. Menurutnya, paradigma
merupakan pandangan hidup (world view) yang dimiliki oleh para ilmuwan dalam suatu disiplin
ilmu tertentu. Sedangkan pada tahun yang sama Robert A. Friedrichs dalam bukunya Sociology
of Sociology mengatakan bahwa paradigma sebagai suatu gambaran yang mendasar mengenai
pokok permasalahan yang dipelajari dalam suatu disiplin. Pada tahun 1982, Bogdan dan Biklen
dalam Qualitative Research for Education; An Introduction to Theory and Methods, memaknai
paradigm sebagai kumpulan lepas dari asumsi, konsep, atau proposisi yang disatukan secara logis
yang mengarahkan pikiran dan jalannya penelitian.
Dari pendapat beberapa ahli tersebut, dapat kita pahami bahwa paradigma diartikan sebagai
pandangan dunia yang dimiliki seorang peneliti yang dengan itu dia memiliki kerangka berpikir,
asumsi, teori, atau proposisi dan konsep terhadap suatu permasalahan penelitian yang dikaji.

2.2 Konsep Dasar Teori

Teori adalah konsep-konsep dan geeralisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan
sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Subryabra, 1990). Adanya
landasan teoritis ini merupakan cirri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk
mendapatan data.
Neumen dalam, (Sugiyono, 2013), “Researchers use theory differently ini various type of
research, but some type of theory is present in most social research”
Kerlinger 1978 dalam, (Sugiyono, 2013), mengemukakan bahwa“Theory is a set of
interrelated construct (concepts), definitions and proposition that present a systematic view of
phenomena by specifiying relations among variables with purpose of explaining and predicting
the phenomena.”. Teori adalah seperagkat konstruk (kosep), denfinisi dan proposisi yang
berfungsi untuk melihat fenomena secara ssitematik, melalui spesifikasi hubungan nantara
variabel, sehingga dapat berguna untuk menjeaskan dan meramalkan fenomena.

4
Snelbecker 1974:31 dalam Lexi Moleong (1988) mendefinisikan teori sebagai seperangkat
proposisi yang berinteraksi secara sintaksi (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat
dihubungkan secara logis dengan lainnya dengandata atas dasar yang diamati) dan fungsinya
sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.
Marx dan Goodson 1976:235 dalam Lexi Moleong (1988) menyatakan bahwa teori adalah
peraturan yang menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa
fenomena alamiah yang terdiri atas representasi simbolik dari (1) hubungan-hubungan yang dapat
diamati diantara kejadian-kejadian yang dapat diukur. (2) mekanisme atau struktur yang diduga
mendasari hubungan-hubungan demikian, dan (3) hubugan-hubungan yang disimpulkan serta
manifestasi hubungan empiris apapun secara langsung.
Glaser dan Stratuss 1967:1,3,35 dalam Lexi Moleong (1988) membobolkan konsep dasar teori
klasik dengan menyodorkan rumusan teori dari dasar, yaitu teori yang berasal dari data dan yang
diperoleh secara analitis dan sistematis melalui metode komparatif.
Wiliam Wiersama 1986 dalam, (Sugiyono, 2013), mengemukakan teori adalah generalisasi
atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara
sistemetis.
Copper dan Schindler 2003, dalam (Sugiyono,2013), mengemukakan teori adalah seperangkat
konsep, definisi dan proposisi yang tersususn secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk
menjelaskan dan meraalkan fenomena.
Sitirahayu Haditono 1999, dalam (Sugiyono, 2013), menyataan bahwa suatu teori akan
memperoleh arti yang penting ,bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan
meramalkan gejala yang ada.

2.3 Pengertian Penelitian Kualitatif

Secara teoritis format penelitian kualitatif berbeda dengan format penelitian kuantitatif. Perbedaan
tersebut terletak pada kesulitan dalam membuat desain penelitian kualitatif, karena pada umumnya
penelitian kualitatif yang tidak berpola.Menurut Bogdan dan Taylor (1975) yang dikutip oleh
Moleong (2007:4) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati. Selanjutnya dijelaskan oleh David Williams (1995) seperti yang dikutip
Moleong (2007:5) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada
5
suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti
yang tertarik secara alamiah.

Penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal


menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi,
pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka.

6
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Paradigma penelitian kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang dikembangkan berdasarkan hasil
penelitian di lapangan, secara langsung peneliti melakukan penelitian kepada sumber
data/responden. Hasil yang diperoleh dalam metode penelitian kualitatif ini akan berupa dokumen-
dokumen, baik dokumen pribadi peneliti, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dll.
Analisis dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian
Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagaimana dan
hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang didalamnya ada konteks
khusus atau dimensi waktu). Menurut Kuhn (dalam Moleong, 2014: 49), mendefinisikan
‘paradigma ilmiah’ sebagai ‘contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-
contoh termasuk hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi secara bersama-sama yang
menyediakan model yang darinya muncul tradisi yang koheren dari penelitian ilmiah. Penelitian
yang pelaksanaannya didasarkan pada paradigm bersama berkomitmen untuk menggunakan
aturan dan standar praktek ilmiah yang sama. Menurut Capra (dalam Moleong, 2014: 49),
mendefinisikan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami
bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara
mengorganisasikan dirinya.

Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin mengkonstruksi realitas. Pertama,
ada realitas objektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas subjektif tentang pengertian-
pengertian kita. Untuk memberikan gambaran tentang hal itu. Kedua, paradigma sebagai
pandangan dunia seseorang tersebut, membangun realitas yang dipersepsikan tentang realitas,
memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas objektif dan membimbing
interpretasi seseorang pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada kedua realitas yang tanpak
maupun yang tidak tanpak.
Riwayat singkat kedua paradigma tersebut dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1975: 2)
yang dapat diikuti dalam uraian berikut. Positivisme berakar pada pandangan teoritisi August
Comte dan Emile Durkheim pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Para positivis mencari fakta

7
dan penyebab fenomena social, dan kurang mempertimbangkan keadaan subjektif individu.
Durkheim menyarankan kepada para ahli ilmu pengetahuan sosial untuk mempertimbangkan fakta
sosial atau fenomena sosial sebagai sesuatu yang memberikan pengaruh dari luar atau
memaksanan pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.
Tabel 1
Perbedaan Aksioma Paradigma Ilmiah (Positivisme) dan Naturalistik (alamiah)
(Menurut Lincoln dan Guba, 1985: 37)

Aksioma tentang Paradigma Ilmiah Paradigma Alamiah


Hakikat kenyataan. Kenyataan adalah tunggal, Kenyataan adalah jamak,
nyata dan fragmentaris. dibentuk, dan merupakan
keutuhan.
Pencari tahu dan yang tahu
Hubungan pencari tahu adalah bebas, jadi ada Pencari tahu dan yang tahu
dengan yang tahu dualisme. aktif bersama, jadi tidak
dapat dipisahkan.
Generalisasi atas dasar
Kemungkinan generalisasi bebas-waktu dan bebas- Hanya waktu dan konteks
konteks dimungkinkan yang mengikat hipotesis
(pernyataan nomotetik). kerja (pernyataan
idiografis) yang
dimungkinkan.
Kemungkinan hubungan Terdapat penyebab
sebab-akibat sebenarnya yang secara Setiap keutuhan berada
temporer terhadap, atau dalam keadaan
secara simultan terhadap mempengaruhi secara
akibatnya. bersama-sama sehingga
sukar membedakan nama
sebab dan mana akibat.

Peranan nilai Inkuirinya bebas-nilai Inkuirinya terikat nilai.

Paradigma alamiah bersumber mula-mula dari pandangan Max Weber yang diteruskan oleh
Irwin Deutcher, dan yang lebih dikenal dengan pandangan fenomenologis. Fenomenologi
berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak orang-orang
itu yang dibayangkan atau dipikirkan oleh orang-orang itu sendiri.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap ada baiknya dikemukakan lima aksioma
dari Lincoln dan Guba (1985: 36-38) yang mempertentangkan kedua paradigma tersebut. Ikhtiar
aksioma tersebut dikemukakan pada tabel di atas.

8
Tabel 2
Perbedaan Paradigma Penelitian Kualitatif (ilmiah) dan Kualitatif (alamiah)

Modus Kuantitatif (ilmiah) Modus kualitatif (alamiah)


ASUMSI ASUMSI
- Fakta sosial memiliki kenyataan objektif.- Kenyataan dibangun secara sosial.
- Mengutamakan metode. - Mengutamakan bidang penelitian.
- Variabel dapat diidentifikasikan dan - Variabel kompleks, terkait satu dengan
hubungan-hubungannya diukur. lainnya dan sukar diukur.
- Etik (pandangan dari luar) - Emik (pandangan dari dalam).

MAKSUD MAKSUD
- Generalisasi - Kontekstualisasi
- Prediksi - Interpretasi
- Penjelasan kausal. - Memahami perspektif ‘subjek’.
PENDEKATAN
PENDEKATAN - Berakhir dengan hipotesis dan teori
- Mulai dengan hipotesis dan teori grounded.
- Manipulasi dan control - Muncul dan dapat digambarkan.
- Eksperimentasi - Peneliti sebagai instrumen.
- Deduktif - Mencari pola-pola.
- Analisis komponen - Mencari pluralisme, kompleksitas.
- Mencari consensus, nilai - Hanya sedikit memanfaatkan indicator
- Mereduksi data dengan jalan indicator numerical.
numerikal. - Penulisan laporan secara deskriptif.

PERANAN PENELITI PERANAN PENELITI


- Tidak terikat dan tidak harus
- Keterlibatan secara pribadi.
memperkenalkan diri. - Pengertian empatik.
- Gambaran objektif.

Dengan mengemukakan ulasan tentang paradigma tersebut di atas kiranya pembaca


memperoleh gambaran yang jelas tentang perbedaan paradigma penelitian kuantitatif dengan
penelitian kualitatif. Sebagai peneliti seseorang hendaknya menyatakan baik secara eksplisit
maupun secara implicit pendirian teoretis atau paradigmanya terlebih dahulu. Hal itu perlu
dinyatakan demikian karena implikasinya sangat penting dalam keseluruhan langkah penelitian
kualitatifnya.

9
3.2 Penyusunan teori dan persoalan generalisasi

Snelbecker 1974:31 dalam Lexi Moleong (1988) mendefinisikan teori sebagai seperangkat
proposisi yang berinteraksi secara sintaksi (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat
dihubungkan secara logis dengan lainnya dengandata atas dasar yang diamati) dan fungsinya
sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.
Marx dan Goodson 1976:235 dalam Lexi Moleong (1988) menyatakan bahwa teori adalah
peraturan yang menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa
fenomena alamiah yang terdiri atas representasi simbolik dari (1) hubungan-hubungan yang dapat
diamati diantara kejadian-kejadian yang dapat diukur. (2) mekanisme atau struktur yang diduga
mendasari hubungan-hubungan demikian, dan (3) hubugan-hubungan yang disimpulkan serta
manifestasi hubungan empiris apapun secara langsung.
Penelitian kualitatif berakar dari data, maka pengertian teorinya tidak lain daripada aturan
menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena
alamiah.
Menurut Kasiram, 2010:327, unsur pokok suatu teori yaitu proposisi, klasifikasi, konsep,
dan variabel. Proposisi merupakan pola hubungan antarkonsep atau antarklasifikasi atau
antarvariabel, seperti hubungan antarpenjual dan pembeli. Proposisi biasanya berbentuk hipotesis
atau tesis. Konsep merupakan nama yang diberikan pada sebuah gejala atau benda dengan ciri-ciri
tertentu, seperti pendidik, alat pendidikan, produsen, konsumen, sikap, minat, dst. Klasifikasi yaitu
pengelompokan aspek atau bagian atau unsur dari teori, seperti intra-ekstra kurikuler, pedagang-
produsen, benda padat-cair, gas, dst. Variabel yaitu fariasi dari suatu konsep, klasifikasi, proposisi,
atau gejala yang di dalamnya terdiri dari beberapa ragam fariasi atau jenis, seperti variabel guru
tetap dan guru tidak tetap, dsb.
Berdasarkan uraian di atas, unsur-unsur teori dapat disederhanakan menjadi (1) kategori
konseptual dan kawasan konseptual dan (2) hipotesis atau hubungan generasi di antara kategori
dan kawasannya serta integrasi. Aspek merupakan unsur suatu kategori, sedangkan kategori adalah
unsur konseptual suatu teori. Hipotesis dicapai melalui analisis perbandingan antarkelompok.
Sedangkan analisis perbandingan antarkelompok menghasilkan kategori dan mempercepat adanya
hubungan antarkelompok. Unsur teori ke tiga yaitu integrasi. Instegrasi merupakan gabungan

10
hipotesis dan kategori konseptual sehingga diperoleh hipotesis yang lebih khusus (Moleong,
2002:38).
Dalam menjelaskan teori ada dua pengertian yang mengemukakan mengenai teori dengan
masih adanya paradigma positivistic dan didilanjutkan kemudian oleh glaser & strauss. Nah mari
kita simak pengertian yang diambil oleh mereka dalam memahami sebuah teori. Teori menurut
snelbecker dianggap sebagai sebuah seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sinteksis.
Sederhananya bahwa teori terdiri dari susunan kata atau bahasa yang difungsikan sebagai proposisi
sehingga menjadi logis pernyataan tersebut didasari data yang diamati. Dalam fungsinya
Snelbecker melanjutkan sebagai wahana meramalkan atau menjelaskan fenomena yang diamati.
Sementara Marx dan Goodson menyimak teori sebagai aturan yang menjelaskan proposisi yang
berkaitan dengan fenomena alamiah.yang didalamnya terdapat representasi simbolik dari :

1. hubungan yang diamati diantara kejadian yang diukur


2. mekanisme yang mendasari hubungan tersebut
3. mekanisme yang berhubungan diamati tanpa adanya manifestasi hubungan empiris secara
langsung.

Beberapa tokoh tersebut dalam mendefinisikan tersebut masih belum bisa terlepas dari
paradigma Positivitik (keterukuran). Berbeda Glaser & Strauss dalam mendefinisikan teori
mengambil dari grounded theory yang dikomparatifkan. Dalam bentuk formulasi teori yang
mengambil kajian dari glaser dan strauss (grounded theory) ada dua bentuk penyajiannya yaitu :
a).penyajian dalam seperangkat proposisi artian pengambilan frame awal ketika hendak meneliti
menggunakan perspektif atau pandangan tunggal b).dalam bentuk diskusi, artian terjadinya
pengertian ganda atau bertentangan didalam hendak menggunakan sebuah perspektif.
Kemudian kualitatif juga disusun dalam dua bentuk penggunaan pertama, teori substantive (yang
bersifat tampak) diuji dalam satu situasi teori yang dikembangkan untuk keperluan substantive
atau empiris dalam inkuiri suatu ilmu pengetahuan dan kedua teori formal (bersifat middle range
theory filosofis) yaitu untuk keperluan formal yang disusun secara konseptual dalam bidang inkuiri
suatu ilmu pengetahuan mudahnya Diuji dalam Beberapa situasi ringkasnya menurut strauss &
corbin bukanlah tingkatan kondisi yang menimbulkan perbedaaan antara substantive dan formal,
melainkan keragaman situasi yang diteliti(lebih lanjut baca buku A. chaedar alwasilah hlm.137).

Dalam unsur teori dibentuk analisis perbandingan melalui ada cakupannya yaitu : kategori
konseptual dan kawasan konseptual kemudian hipotesis atau hubungan generalisasi. Menilik
permasalahandalam penyusunan teori formal yang tidak langsung. Dalam kualitatif, objek
penelitiannya mempunyai sifat dinamis sehingga itu berpengaruh terhadap adanya verifikasi teori.
Objek penelitian tersebut ada dalam satu objek namun dikarenakan adanya perubahan dari kondisi
dalam wilayah tersebut. Maka sifatnya lebih kepada kontekstual (realita) dan itu diupayakan akan
adanya sebuah verifikasi (perubahan) teori. Beberapa persoalan yang berkatian dengan
penyusunan teori, lexi menyebutkan dengan tiga persoalan :

11
Generalisasi

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan
umum.
Contoh:
Andika Pratama adalah bintang film, dan ia berwajah tamapan.
Raffi Ahmad adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan. Pernyataan “semua bintang film berwajah
tampan” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi tidak berwajah tampan.
Macam-macam generalisasi :
1. Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan diselidiki. Contoh : sensus penduduk
2. Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian
fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum
diselidiki.Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana
pantaloon.
Dalam fungsinya generalisasi mempertahankan nilai-nilai yang bebas konteks dan nilai-nilai
tersebut terletak kepada kemampuan mengatur usaha meramalkan dan mengontrol. Namun adanya
kelemahan terhadap konsep generalisasi klasik : a. bergantung pada determinisme. b. bergantung
pada logika induktif. c. bergantung kepada asumsi bebas dari waktu dan konteks. d. terjerat dalam
dilemma nomotetik-ideografik. e. terjerat dalam kekeliruan reduksionis. Sedangkan dalam
generalisasi alamiah ada dua jenis yaitu pertama rasionalstik secara proporsional dalam bentuk
hokum,kedua yang lebih intuitif dan empiris

Kausalitas
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal
(kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa
setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya
dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima
tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan
bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat.
Contoh:Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban
kecelakaan.
Dalam proses kausalitas (sebab-akibat) bila dikaitkan dalam kualitatif ada kelemahan dari
kausalitas yang diartikan sebagai hubungan antara sebab dan akibat itu dipengaruhi oleh adanya
reaksi yang direspon pasif pada akibat tersebut namun dalam kualitatif nilai dari kausalitas saling
berpengaruh atau terjadi hubungan timbal balik antara sebab akibat (aksi dan reaksi yang saling

12
mempengaruhi). Sebab gejala atau penomena dipengaruhi oleh sebuah system (hubungan saling
kait mengkait).

Persoalan emik-etik
Emik dan etik dalam etnografi,Emik dan Etik adalah dua macam sudut pandang dalam
etnografi yang cukup mengundang perdebatan. Emik (native point of view) misalnya, mencoba
menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang masyarakat itu sendiri.
Sebaliknya, etik merupakan penggunaan sudut pandang orang luar yang berjarak (dalam hal ini
peneliti) untuk menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat.
Dalam etnografi, peneliti memang diharuskan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat
yang menjadi objeknya untuk periode yang cukup lama. Di sana dia akan mengamati apa yang
terjadi, mendengar apa yang dikatakan orang-orang, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data
apa pun yang tersedia dan menjelaskan masalah yang menjadi perhatiannya.
Dari definisi di atas, wajar bila terjadi kesulitan untuk menentukan point of view mana yang
harus digunakan. Karena memang keduanya tak dapat dipisahkan secara murni satu sama lainnya.
Akan tetapi merujuk pada Boas, bahwa “Sekiranya kita benar-benar bertujuan untuk memahami
pemikiran manusia, maka seluruh analisa pengalaman mestilah diasaskan pada konsep mereka dan
bukannya konsep kita.” James Lull juga menegaskan bahwa salah satu tanggungjawab dari peneliti
etnografi adalah melakukan semua risetnya dalam setting yang alamiah (natural), dimana tempat
perilaku itu berlangsung. Dari berbagai pertimbangan itulah, sebagian besar antropolog sangat
menyarankan peneliti untuk menggunakan pendekatan ’emik’ ketimbang ‘etik’. Artinya, peneliti
tetaplah include dalam kehidupan masyarakat obyeknya, namun dia harus meminimalisir sebanyak
mungkin pandangan etiknya terhadap masyarakat tersebut.
Pendekatan emik dalam hal ini memang menawarkan sesuatu yang lebih obyektif. Karena
tingkah laku kebudayaan memang sebaiknya dikaji dan dikategorikan menurut pandangan orang
yang dikaji itu sendiri, berupa definisi yang diberikan oleh masyarakat yang mengalami peristiwa
itu sendiri. Bahwa pengkonsepan seperti itu perlu dilakukan dan ditemukan dengan cara
menganalisis proses kognitif masyarakat yang dikaji dan bukan dipaksakan secara etnosentrik,
menurut pandangan peneliti.

Contoh kasus:

Pada sebuah fenomena masyarakat seperti pengemis. Bila perilaku pengemis disebut sebagai
sebuah fakta sosial, atau sebuah keniscayaan. Maka berlaku sebutan: pengemis adalah sampah
masyarakat, manusia tertindas, manusia yang perlu dikasihani, manusia kalah, manusia korban
kemiskinan struktural, dsb. Anggapan ini bukan sebuah kesalahan berpikir, melainkan sebuah
sudut pandang etik orang di luar pengemis untuk menunjukkan fakta yang semestinya berlaku
seperti itu, bukan pandangan emik, bagaimana pengemis melihat dirinya sendiri.

Dalam pandangan emik yang bersifat interpretif atau fenomenologis, pengemis adalah
subjek. Mereka adalah aktor kehidupan yang memiliki hasrat dan kehidupan sendiri yang unik.

13
Pandangan subjektif seperti ini diperlukan untuk mengimbangi pandangan obyektif yang
seringkali justru memojokkan mereka, melihat mereka sebagai korban kehidupan, kesenjangan
ekonomi, atau ketidakadilan sosial, bukan sebagai entitas masyarakat yang memiliki pemikiran
dan pengalaman hidup yang mereka rasakan dan alami sendiri.

Dalam pendekatan etik terhadap data maka ia melakukan generalisasi pernyataan tentang
data bahwa ia: a. mengelompokkan secara sistematis seluruh data yang dapat diperbandingkan
kedalam sistem tunggal b. menyediakan seperangkat criteria untuk mengklaisifikasi unsure data c.
mengorganisasi data yang telah dikasifikasi kedalam tipe-tipe d. mempelajari ,menemukan dan
menguraikan setiap data yang baru kedalam kerangka yang dibuatnya . Pendekatan emik
merupakan essensi yang sahih untuk satu bahasa atau satu kebudayaan pada waktu tertentu.
(kontekstualitas).

14
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang dikembangkan berdasarkan hasil
penelitian di lapangan, secara langsung peneliti melakukan penelitian kepada sumber
data/responden. Hasil yang diperoleh dalam metode penelitian kualitatif ini akan berupa dokumen-
dokumen, baik dokumen pribadi peneliti, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dll.
Analisis dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian

Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagaimana dan
hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang didalamnya ada konteks
khusus atau dimensi waktu).

Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin mengkonstruksi realitas.


Pertama, ada realitas objektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas subjektif tentang
pengertian-pengertian kita. Untuk memberikan gambaran tentang hal itu. Kedua, paradigma
sebagai pandangan dunia seseorang tersebut, membangun realitas yang dipersepsikan tentang
realitas, memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas objektif dan membimbing
interpretasi seseorang pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada kedua realitas yang tanpak
maupun yang tidak tanpak.
Dalam unsur teori dibentuk analisis perbandingan melalui ada cakupannya yaitu : kategori
konseptual dan kawasan konseptual kemudian hipotesis atau hubungan generalisasi. Menilik
permasalahandalam penyusunan teori formal yang tidak langsung. Dalam kualitatif, objek
penelitiannya mempunyai sifat dinamis sehingga itu berpengaruh terhadap adanya verifikasi teori.
Objek penelitian tersebut ada dalam satu objek namun dikarenakan adanya perubahan dari kondisi
dalam wilayah tersebut. Maka sifatnya lebih kepada kontekstual (realita) dan itu diupayakan akan
adanya sebuah verifikasi (perubahan) teori. Beberapa persoalan yang berkatian dengan
penyusunan teori, lexi menyebutkan dengan tiga persoalan :

1. Generalisasi
2. Kausalitas
3. Pendekatan Emik etik

15
5.2 Saran

Dengan hadirnya makalah ini sekiranya dapat berguna untuk kedepanya untuk lebih
memahami lagi bagaimana Paradigma Penyusunan Teori Dalam Penelitian Kualitatif. Saran yang
dapat penulis sampaikan adalah semoga buku ini dapat diterima di kalangan mahasiswa karena
makalah ini dibuat berdasarkan referensi yang ada di buku sehingga dapat dimuat di materi
perkuliahan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta


Imam Suprayogo & Tobroni. 2003. Metodologi penelitian sosial-agama. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT
RajaGrafindo Perkasa.
Lexy Moleong. 2014. Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT remaja posdakarya.
Lexy Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu-ilmu Sosial Humaniora
Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

17