You are on page 1of 6

BERITA PERTAMA

Kerusuhan yang terjadi di Kota Sumbawa Besar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
(NTB) Selasa 22 Januari 2013, dinilai karena lemahnya sistem deteksi dini yang
dimiliki aparat setempat. Sehingga, aparat tidak bisa menghalangi atau
mengantisipasi kerusuhan itu.

Ketua Komisi III DPR RI I Gede Pasek menduga aparat keamanan setempat tak
punya ketegasan, sebab saat bentrok itu terjadi bukannya bertindak maka
menonton.

"Malas berkomentar Bang. Deteksi dininya lemah, ketegasan aparat payah, malah
aparat memilih menonton aksi kerusuhan daripada mengatasi kerusuhan," jelas
Gede melalui pesan singkat kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta
Selatan, Rabu (23/1/2013).

Gede juga menyayangkan reaksi aparat keamanan setempat yang tidak melakukan
antisipasi ketika jumlah massa masih sedikit, namun ketika terjadi aksi yang lebih
besar baru bergerak itu pun sebatas penghalauan.

"Lihat saja ketika aksi 200 an orang kan sudah bisa diantisipasi. Malah ketika 500 an
orang beraksi merusak dan menjarah warga minoritas kok tidak ada tindakan dan
menunggu ribuan orang baru hanya menghalau-halau saja," tegasnya.

Semestinya, lanjut Gede, aparat keamanan juga bisa mengantisipasi terjadinya


kerusuhan di wilayah setempat jika mereka mau aktif menelusuri short message
service (sms) yang beredar sebelum bentrok terjadi.

"Pola sms yang beredar kan sudah seperti modus yang berstruktur di beberapa
kejadian kekerasan di berbagai wilayah di Indonesia. Kan aneh nomer yang
menerima hanya mereka-mereka yang ada di daerah tersebut. Kalau atasannya
gamang tentu aparat di bawahnya ragu-ragu," pungkasnya.

Untuk informasi, bentrokan pecah di Sumbawa Besar, kemarin berawal ketika isu
perkosaan di wilayah setempat. Namun kemudian berubah menjadi isu SARA
berbuntut bentrok antara warga Bali dengan Sumbawa. Kerusuhan itu diwarnai
dengan aksi pembakaran, dan penjarahan.
BERITA II

Konflik Sosial, Pemerintah Tingkatkan Pelopor Perdamaian

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Harry


Hikmat. Foto/Dok/Humas Kemensos.
A+ A-

JAKARTA - Masih seringnya konflik sosial dan bencana sosial yang terjadi di
Indonesia mendorong pemerintah terus meningkatkan jumlah Pelopor Perdamaian.
Pembentukan Pelopor Perdamaian juga merupakan amanat Undang-undang Nomor
7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial.

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Harry


Hikmat mengatakan, pihaknya menargetkan ada pertumbuhan relawan Pelopor
Perdamaian secara nasional sebanyak 200 sampai 500 orang setiap tahunnya.
Sampai tahun 2020, kata dia diharapkan telah tersedia 5.000 tenaga Pelopor
Perdamaian.

"Sekarang jumlah mereka sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 sudah
tersedia tenaga Pelopor Perdamaian sebanyak 1.644 orang yang menyebar hampir
di seluruh kabupaten/kota di Indonesia," ujar Harry, Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Dia menambahkan, Kemensos sendiri telah memiliki satuan relawan dan


pendamping sosial yang berfungsi untuk membantu masyarakat dalam mengatasi
bencana alam dan kemiskinan. Dia menyebutkan, antara lain Taruna Siaga Bencana
dan Pendamping Program Keluarga Harapan. Menurutnya sinergitas dan kolaborasi
bahu membahu antara Pelopor Perdamaian 1.600 orang , Tagana 34.000 orang dan
Pendamping PKH 25.000 orang dapat membantu masyarakat dalam menangani
korban bencana alam, korban bencana sosial dan fakir miskin. Termasuk lanjut dia
dapat membantu kelompok rentan yang harus dilindungi dan dipenuhi kebutuhan
dasar dan psikologisnya.

"Kita akan sinergikan ke tiga pilar kesejahteraan sosial ini sehingga menjadi potensi
dan sumber daya utama dalam penanganan masalah- masalah sosial" katanya.
Fakto-faktor Penyebab Konflik Sosial
Faktor yang dapat memicu terjadinya konflik sosial yaitu sebagai berikut.
1. Perbedaan Individu
Setiap individu memiliki pendirian, perasaan dan kepribadian yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut ternyata saling mengisi kekurangan masing-masing orang yang
terdapat dalam suatu proses sosial. Yang terpenting kita jangan melakukan tindakan
yang dapat mempertajam perbedaan tersebut.

2. Perbedaan Latar Belakang Budaya


Masing-masing kelompok kebudayaan mempunyai nilai-nilai dan norma-norma sosial
yang berbeda ukurannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Perbedaan inilah yang dapat mendatangkan konflik sosial sebab kriteria tentang baik
buruk, sopan tidak, pantas tidak pantas bahkan berguna tidak berguna sesuatu, baik
itu benda fisik maupun nonfisik berbeda-beda menurut pola pemikiran masing-
masing yang berdasarkan pada latar belakang kebudayaan masing-masing.

3. Perbedaan kepentingan
Setiap orang atau kelompok mempunyai kepentingan yang berbeda karena setiap
orang orang memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang
berbeda. Contoh perbedaan kepentingan dalam memanfaatkan hutan antara pencari
kayu bakar, pengusaha kayu, pecinta lingkungan dan pelestarian budaya. Konflik
dapat terjadi akibat perbedaan kepentingan tersebut.

4. Perubahan Nilai-nilai yang Cepat


Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi. Namun bila perubahan
tersebut berlangsung cepat bahkan mendadak akan menyebabkan terjadinya konflik
sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi
yang mendadak akan memunculkan konflik sebab nilai-nilai lama pada masyarakat
tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-
nilai masyarakat industri. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis.
Perbedaan tersebut bila terjadi secara cepat dapat dianggap mengacaukan tatanan
kehidupan masyarakat yang telah ada.

Bentuk-bentuk Konflik Sosial


Konflik adalah proses sosial yang didalamnya orang per orang atau kelompok
manusia berusaha mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan
dengan menggunakan ancaman atau kekerasan. Sebagai bagian dari masyarakat
negara dan masyarakat dunia, tidak ada seorang pun yang menginginkan timbulnya
konflik. Walaupun demikian, konflik akan selalu ada di setiap pola hubungan dan
juga budaya. Pada dasarnya konflik merupakan fenomena dan pengalaman alamiah.
Konflik sosial dapat dibedakan menjadi 7 (tujuh) sebagai beriut.

1. Konflik Individu
Konflik ini terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain. Hal ini
disebabkan oleh benturan kepentingan. Contohnya konflik antara orang tua dengan
anak, konflik antara suami dan istri, konflik antara guru dengan siswa dan lain
sebagainya.

2. Konflik Politik
Konflik ini terjadi apabila suatu kelompok dengan kelompok yang lain memiliki
kepentingan yang sama dalam bidang politik. Di dalam masyarakat Indonesia
terdapat perbedaan-perbedaan dalam pilihan politik yang berkaitan langsung dengan
status, kekuasaan, dan penguasaan sumber-sumber ekonomi.

Fenomena ini dapat dilihat dan disaksikan bersama dari berita-berita di media masa
baik cetak maupun elektronik. Misalnya, bentrok antara pendukung dua partai politik
yang berbeda. Di pemerintahan yang merupakan lembaga yang menjalankan
kekuasaan, para anggota DPR atau pejabat pemerintahan terlibat baku hantam dan
perseteruan karena kalah mempertahankan kekuasaannya.

3. Konflik Antarkelompok Sosial


Terjadinya mobilitas sosial disebabkan oleh salah satu kelompok yang berusaha
untuk menguasai kelompok yang lain. Gejala ini antara lain tampak dari tuntutan
perlakuan baru antara kelompok sosial akan hak dan kewajibannya. Dengan
demikian, terjadinya persaingan antarkelompok sosial untuk merebut dominasi dan
menindas terhadap suatu kelompok sosial oleh kelompok sosial lainnya. Misalnya,
konflik rasial di Afrika dengan berlakunya politik Aparthied, yang akhirnya
dimenangkan oleh kulit hitam yang mayoritas, dengan terpilihnya Nelson Mandela
sebagai presiden.

4. Konflik Antarkelas Sosial


Adanya mobilitas sosial menyebabkan individu-individu ke dalam kelas sosial. Hal ini
berarti akan membawa perubahan dalam kelas sosial baik kelas atas, kelas
menengah, maupun kelas bawah. Dengan adanya keadaan seperti ini keseimbangan
dalam masyarakat menjadi terganggu. Gangguan keseimbangan itu berkaitan
dengan kepentingan individu atau kelompok, sehubungan dengan adanya orang
baru atau kelompok baru dalam suatu kelas sosial.

Kepentingan-kepentingan yang dimaksud dapat berupa kepentingan ekonomi,


politik, maupun kepentingan sosial, sehingga terjadi benturan-benturan kepentingan
yang dapat menimbulkan konflik antarkelas sosial. Misalnya, konflik antarkaryawan
dengan pimpinan dalam suatu perusahaan, karyawan menuntut peningkatan
kesejahteraan dan kenaikan gaji, sementara pihak perusahaan seringkali
mengabaikannya.
5. Konflik Antargenerasi
Setiap generasi mempunyai nilai-nilai, norma-norma dan kebudayaan yang berbeda-
beda konflik antargenerasi dapat terjadi bila muncul suatu permasalahan yang satu
ingin mempertahankan nilai yang sama, sedangkan yang lain ingin mengubahnya.
Contohnya, rencana dimasukkannya pendidikan dalam pengajaran sekolah, rencana
itu menimbulkan perbedaan pendapat antargenerasi. Pada umumnya generasi tua
tidak sependapat karena ingin mempertahankan nilai-nilai lama atau tradisionalnya.

6. Konflik Internasional
Konflik ini terjadi apabila bangsa yang satu dengan bangsa yang lain terjadi
benturan kepentingan, misalnya konflik antara Israel dengan Palestina.

7. Konflik Antarpenganut Agama


Dengan dijiwai toleransi dan saling menghormati, kehidupan beragama di Indonesia,
dapat dikatakan rukun. Warga masyarakat antarumat beragama selalu menjalin
hubungan kerja sama atau tolong-menolong. Meskipun demikian, dalam hubungan
antarumat beragama mungkin saja timbul kesalahpahaman karena sikap prasangka
negatif dari penganut agama yang satu terhadap yang lain.

Penyelesaian KONFLIK
Konsiliasi
Pengertian konsiliasi adalah suatu metode penyelesaian persengketaan dengan
menyerahkan kepada konsiliator untuk menjelaskan dan menguraikan berbagai fakta
dan membuat usulan keputusan penyelesaian, tetapi usulan tersebut tidak mengikat.

Secara definisi konsiliasi adalah suatu cara penyelesaian sengketa yang bersifat lebih
formal daripada mediasi. Sedangkan konsiliasi berdasarkan arti adalah suatu cara
untuk mencari perdamaian, atau tindakan untuk mencegah dilakukannya proses
litigasi. (UU no. 30 Th 1999).
Konsiliasi yang ditunjuk berhak dan mempunyai wewenang untuk menyampaikan
pendapatnya mengenai perselisihan yang terjadi. Namun ia tidak berhak mengambil
keputusan akhir terhadap perselisihan yang terjadi. Dikarenakan seorang penengah,
konsiliator diharapkan bisa memberi masukan atau pendapat yang bisa
menyelesaikan perselisihan.

Terdapat beberapa tahapan mengenai proses konsiliasi.

1. Pihak yang berselisih menyerahkan perselisihan kepada pihak ketiga yaitu


konsiliator yang sudah disepakati.
2. Konsiliator akan mendengar keterangan lisan dari pihak-pihak yang berselisih
mengenai perselisihan yang terjadi.
3. Konsiliator akan membuat laporan yang berisi kesimpulan dan saran
mengenai perselisihan itu, dan laporan-laporan tersebut akan diserahkan
pada pihak yang terkait.
TUGAS KELOMPOK

KONFLIK SOSIAL

NAMA NAMA KELOMPOK

ALEXANDER HERVAN
WIDMAN
HERPINUS
TIMOTIUS YOGI

SMA BENEDIKTUS PAHAUMAN

TAHUN AJARAN 2017 / 2018