You are on page 1of 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa Enu terletak di Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Provinsi


Sulawesi Tengah yang secara geografis desa Enu terletak pada 00˚31’
54,3”BT dan 119˚46’ 36“LS. Kejadian longsor terjadi hampir setiap tahun di
Desa Enu. Melihat dari litologi Desa Enu terdiri atas aluvium dan endapan
pantai dengan material penyusun kerikil, pasir, lumpur, dan batu gamping
koral, di samping itu batuan yang terdapat di Desa Enu merupakan batuan
kerakal dan bongkah yang berada di lereng tebing sehingga mudah bergerak
atau menggelinding. Oleh karena itu, daerah tersebut dipilih sebagai lokasi
penelitian untuk mengetahui kedalaman lapisan batuan lapuk yang berada di
bawah permukaan tanah/batuan. Kemiringan lereng yang besarnya lebih dari
20 % yang diduga menyebabkan longsoran dari material yang berada pada
daerah tersebut.
Bencana longsor menimbulkan banyak kerugian terutama kemacetan lalu
lintas, bagi pengguna jalan daerah setempat maupun dari daerah lain yang
akan melewati jalan tersebut. Selain itu juga, bencana longsor dapat
menimbulkan dampak negatif jangka panjang seperti hilangnya lapisan tanah
(top soil) yang subur sehingga produktivitas tanah menurun. Faktor yang
menyebabkan gerakan tanah (tanah longsor) adalah topografi kemiringan
lereng, keadaan tanah (tekstur, struktur lapisan), curah hujan, gempa bumi
dan keadaan vegetasi hutan (Wuryata, 2004).
Penyelidikan tanah longsor ini dilakukan dengan menggunakan
menggunakan metode Geolistrik konfigurasi Wenner. Pemilihan metode
geolistrik ini didasarkan karena penggunaan geolistrik yang tidak terlalu
rumit dan cara pengolahan data yang mudah. Metode ini diharapkan dapat
digunakan unntuk menentukan bidang gelincir di desa Enu Kecamatan Sindue
Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi bawah permukaan desa Enu.
2. Bagaimana keadaan bidang gelincir desa Enu.

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui kondisi bawah permukaan desa Enu.
2. Menentukan bidang gelincir desa Enu.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Pemerintah

1. Memberikan informasi tentang kondisi bawah permukaan yang


meliputi kondisi bidang gelincir/ faktor yang menyebabkan
longsor pada daerah Enu Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala
Provinsi Sulawesi Tengah sehingga dapat dilakukan mitigasi
bencana.

1.4.2 Bagi Masyarakat

1. Memberikan informasi kepada masarakat Desa Enu Kecamatan


Sindue Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah tentang
kondisi lingkungan Desa Enu Kecamatan Sindue Kabupaten
Donggala Provinsi Sulawesi Tengah desa yang meliputi bencana
tanah longsor.

1.5 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Pengukuran dilakukan menggunakan geolistrik geolistrik.
2. Metode yang di gunakan yaitu metode geolistrik resistivitas
konfigurasi Wenner.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Kelistrikan Batuan

a. Konduksi secara elektronik.

Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai banyak


elektron bebas sehingga arus listrik di alirkan dalam batuan atau mineral oleh
elektron-elektron bebas tersebut. Aliran listrik ini juga di pengaruhi oleh sifat
atau karakteristik masing-masing batuan yang di lewatinya.Salah satu sifat
atau karakteristik batuan tersebut adalah resistivitas (tahanan jenis) yang
menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk menghantarkan arus listrik.
Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan maka semakin sulit bahan tersebut
menghantarkan arus listrik, begitu pula sebaliknya. Resistivitas memiliki
pengertian yang berbeda dengan resistansi (hambatan), dimana resistansi tidak
hanya bergantung pada bahan tetapi juga bergantung pada faktor geometri
atau bentuk bahan tersebut, sedangkan resistivitas tidak bergantung pada
faktor geometri. Jika di tinjau suatu silinder dengan panjang L, luas
penampang A, dan resistansi R, maka dapat di rumuskan:

3
𝐿
R=ρ
𝐴

Dimana : R = Resistansi

ρ = Resistivitas

L = Panjang

A = Luas

Di mana secara fisis rumus tersebut dapat di artikan jika panjang


silinder konduktor (L) dinaikkan, maka resistansi akan meningkat, dan
apabila diameter silinder konduktor diturunkan yang berarti luas
penampang (A) berkurang maka resistansi juga meningkat. Di mana ρ
adalah resistivitas (tahanan jenis) dalam Ωm. Sedangkan menurut hukum
Ohm, resistivitas R dirumuskan :

𝑉
𝑅=
𝐼

Sehingga didapatkan nilai resistivitas (ρ)

𝐿𝑉
ρ=
𝐴𝐼

Namun banyak orang lebih sering menggunakan sifat


konduktivitas (σ) batuan yang merupakan kebalikan dari resistivitas (ρ)
dengan satuan mhos/m.

1 𝐼𝐿 𝐼 𝐿 𝐽
σ= = = ( )( ) = ( )
ρ 𝑉𝐴 𝐴 𝑉 𝐸

Di mana J adalah rapat arus (ampere/m 2 ) dan E adalah medan


listrik (volt/m).

4
b. Konduksi secara elektrolitik.

Sebagian besar batuan merupakan konduktor yang buruk dan


memiliki resistivitas yang sangat tinggi. Namun pada kenyataannya batuan
biasanya bersifat porus dan memiliki pori-pori yang terisi oleh fluida,
terutama air. Akibatnya batuan-batuan tersebut menjadi konduktor
elektrolitik, di mana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik
dalam air. Konduktivitas dan resistivitas batuan porus bergantung pada
volume dan susunan pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar jika
kandungan air dalam batuan bertambah banyak, dan sebaliknya resistivitas
akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan berkurang. Menurut
rumus Archie:

ρ e = ∂ ϕ-m S-n ρw

di mana ρe adalah resistivitas batuan, φ adalah porositas, S adalah


fraksi pori-pori yang berisi air, dan ρw adalah resistivitas air. Sedangkan a,
m, dan n adalah konstanta. m disebut juga faktor sementasi. Untuk nilai n
yang sama, schlumberger menyarankan n = 2.

c. Konduksi secara dielektrik.

Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral bersifat dielektrik


terhadap aliran arus listrik, artinya batuan atau mineral tersebut
mempunyai elektron bebas sedikit, bahkan tidak sama sekali. Elektron
dalam batuan berpindah dan berkumpul terpisah dalam inti karena adanya
pengaruh medan listrik di luar, sehingga terjadi poliarisasi. Peristiwa ini
tergantung pada konduksi dielektrik batuan yang bersangkutan, contoh :
mika.

5
2.2 Konfigurasi Geoolistrik

Metode resistivitas pada dasarnya adalah pengukuran harga resistifitas


(tahanan jenis) batuan. Prinsip kerja metode ini adalah dengan menginjeksikan
arus ke bawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda potensial, yang
kemudian akan didapat informasi mengenai tahanan jenis batuan. Hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan keempat elektroda yang disusun sebaris, salah
satu dari dua buah elektroda yang berbeda muatan digunakan untuk mengalirkan
arus ke dalam tanah,dan dua elektroda lainnya digunakan untuk mengukur
tegangan yang ditimbulkan oleh aliran arus tadi, sehingga resistivitas bawah
permukaan dapat diketahui. Resistivitas batuan adalah fungsi dari konfigurasi
elektroda dan parameter-parameter listrik batuan. Arus yang dialirkan didalam
tanah dapat berupa arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi
rendah. Untuk menghindari potensial spontan, efek polarisasi dan menghindarkan
pengaruh kapasitansi tanah yaitu kecenderungan tanah untuk menyimpan muatan
maka biasanya digunakan arus bolak balik yang berfrekuensi rendah.

a. Konfigurasi wenner
Jenis konfigurasi Wenner termasuk resistivitas sounding,
konsepnya antara lain.:

a. pengukuran untuk memperoleh informasi mengenai variasi resistivitas


secara 2-D atau 3-D

b. resistivity-mapping dg variasi spasi elektroda cukup banyak (n >>)

c. aspek akuisisi data otomatis + pemodelan data (inversi).

Pengukuran menggunakan konfigurasi elektroda Wenner dilakukan


dengan memindahkan masing-masing elektroda sesuai dengan aturan
konfigurasi yang digunakan. Dari pengukuran dapat diperoleh nilai
resistivitas semua dengan melakukan perhitungan menggunakan
persamaan:

∆𝑉
ρα = k
𝑙
6
dimana k adalah faktor geometri, untuk konfigurasi Wenner dihitung
dengan persamaan:

k = 2πα

k sedangkan untuk faktor geometri konfigurasi Schlumberger dihitung


dengan persamaan:

[ 𝐿2 − 𝑙 2 ]
k=π
2𝑙

Pada konfigurasi elektroda Wenner, kedua elektroda arus diletakkan di


luar elektroda potensial. Jarak antar elektroda mempunyai jarak yang
sama panjang sebesar a. (Gokdi, 2012).

Gambar 2.1 Tabel referensi nilai resistivitas batuan

7
2.3 Referensi Bidang Gelincir di Daerah Penelitian

Kondisi geologi daerah penelitian serta karakteristik gradien lereng


memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian longsor. Berdasarkan
peta geologi regional lembar palu (Sukamto, dkk., 1973) lokasi penelitian berada
pada satuan batuan molasa celebes sarasin dan sarasin (1901) dengan litologi yang
umumnya dijumpai di lokasi ialah batupasir, konglomerat, batulempung, dan
batugamping, serta satuan aluvium yang berupa endapan pantai seperti material
kerikil, pasir kasar, dan lempung. Dari hasi pengamatan geologi permukaan di
lokasi penelitian, terdapat granit lapuk yang menjadi batuan dasar. Granit tersebut
sudah hamper menyerupai pasir atau batuan urai, sehingga membuat batuan di
sekitarnya atau beban di atas batuan lapuk mudah lepas sehingga terjadi
pergerakan tanah. Sifat fisik litologi batuan yang ada di lokasi penelitian bersifat
plastis dan urai sehingga diduga memiliki gaya kohesif yang lemah
yang dapat meloloskan air, sehingga kapan saja terjadi hujan dengan intensitas
tinggi, maka air akan terakumulasi disuatu lapisan bawah permukaan dan dapat
sekaligus membawa tanah bergerak mengikuti kemiringan lereng.

Pada umumnya profil batuan bawah permukaan ialah pasir kasar berupa
hasil pelapukan granit, kemudian lapisan di bawahnya tetap terdapat sisipan-
sisipan konglomerat, lempung, dan granit segar. Kehadiran lempung diduga
merupakan hasil asosiasi air meteorik membuat lapisan material urai menjadi
lebih halus sehingga terbentuk lempung.Sehingga dapat diduga longsoran yang
terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan
lepas.

Dari hasil pengamatan lapangan lapisan lempung tersebut merupakan


penutup batugamping yang berdekatan dengan tepi pantai tepatnya di sekitar
Lintasan 1, dan bertindak sebagai batuan lapuk serta berselingan dengan granit.
Pada dasarnya batuan lapuk struktur bawah permukaan dapat diketahui dari nilai
kecepatan gelombang geser yang tinggi yaitu memiliki kerapatan ikatan butiran
yang kuat .

8
Berdasarkan pengamatan geologi dan pemodelan data ReMi untuk ketiga
lintasan pasir kasar hasil pelapukan granit lapuk, kerikil, sisipan lempung dan
sisipan konglomerat merupakan bahan material yang mendominasi daerah
lokasi penelitian yang hanya di sekitar dekat permukaan. Kemudian
pendugaan mengenai litologi batuan lapuk yaitu letak dari bidang gelincir di
lokasi penelitian ialah granit kemudian sisipan lempung yang menutupi
batugamping. Ketika air metoerik yang mengalami infiltrasi terakumulasi di
lapisan material urai tersebut, kemudian membuat kohesifitas tanah
berkurang sehingga air tersebut dapat menembus sampai tanah kedap air yang
berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan
di atasnya akan bergerak mengikuti kemiringan lereng yang cukup curam dan
ditambah oleh faktor gravitasi, sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta
langganan terjadinya longsor, terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi. Tipe
longsoran yang ada di lokasi penelitian ialah longsoran aliran (translasi).
Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah,
atau material campuran tersebut bergerak ke bawah tanpa ada rekayasa
(konstruksi sipil) gayapenahan yang berfungsi.

Zona labil merupakan suatu wilayah yang menunjukkan daerah itu


mempunyai kondisi tanah yang terus bergeser, pergeseran tanah ini dapat terjadi
karena longsor, peretakan tanah atau bisa juga daerah itu dilalui patahan bumi.
Daerah yang rentan terhadap geseran tanah adalah daerah dekat atau sepanjang
patahan. Kawasan permukiman (built-up areas), bendungan dan jembatan,
jaringan jalan raya dan kereta api, tanah pertanian, dan sistem alur sungai.
Daerahdaerah lingkungan endapan sungai, bekas pantai/zona pantai, tanah urugan
dan bekas danau atau rawa merupakan daerah-daerah yang rentan terhadap kedua
peristiwa alam tersebut. Akibat dari dua peristiwa alam tersebut dapat merusakan
atau menghancurkan bangunan, meretakan bendungan, sistem irigasi, jaringan
jalan, hilangnya tanah pertanian, memutuskan hubungan permukiman, dan lainlain
(Suseno 2007: 16).

9
Geseran tanah yang sering terjadi adalah tanah longsor yang merupakan
proses perpindahan massa tanah secara alami dari tempat yang tinggi ke tempat
yang lebih rendah. Longsoran umumnya terjadi jika tanah sudah tidak mampu
menahan berat lapisan tanah di atasnya karena ada penambahan beban pada
permukaan lereng dan berkurangnya daya ikat antarbutiran tanah akibat tidak ada
pohon keras (berakar tunggang). Faktor pemicu utama kelongsoran tanah adalah
air hujan. Tanah longsor banyak terjadi di perbukitan dengan ciri-ciri: kecuraman
lereng lebih dari 30 derajat, curah hujan tinggi, terdapat lapisan tebal (lebih dari 2
meter) menumpang di atas tanah/batuan yang lebih keras, tanah lereng terbuka
yang dimanfaatkan sebagai permukiman, ladang, sawah atau kolam (Suseno
2007:16).

Dengan demikian, air hujan leluasa menggerus tanah dan masuk ke dalam
tanah. Juga diperburuk dengan jenis tanaman di permukaan lereng yang
kebanyakan berakar serabut dan hanya bisa mengikat tanah tidak terlalu dalam
sehingga tidak mampu menahan gerakan tanah. Daerah dengan ciri seperti itu
merupakan daerah rawan longsor. Jika suatu daerah termasuk kategori rawan
longsor, kejadian longsor sering diawali dengan kejadian hujan lebat terus
menerus selama lima jam atau lebih atau hujan tidak lebat tetapi terus-menerus
hingga beberapa hari, tanah retak di atas lereng yang selalu bertambah lebar dari
waktu ke waktu, pepohonan di lereng terlihat miring ke arah lembah, banyak
terdapat rembesan air pada tebing atau kaki tebing, terutama pada batas antara
tanah dan batuan di bawahnya. Selain merupakan daerah rawan longsor kawasan
zona labil biasanya merupakan daerah yang di lalui oleh patahan bumi, daerah ini
sangat labil karena kondisi tanah yang ada di sana terus bergerak, hal ini
dipengaruhi oleh gerakan lempeng-lempeng bumi secara konvergen atau saling
bertumbukan. Pergerakan kulit bumi yang berupa lempeng-lempeng tektonik itu
muncul dalam wujud gelombang yang disebut gempa. Pergerakan lempeng
tektonik menciptakan kondisi terjepit atau terkunci dimana terjadi penimbunan
energi dengan suatu jangka waktu tertentu yang untuk selanjutnya dilepaskan
dalam bentuk gelombang gempa, energi gelombang gempa bumi akan

10
dikonsentrasikan dan difokuskan jika gelombang gempa bumi melintas di jaur
patahan, goncangan dari gempa bumi ini dapat menggeser posisi tanah baik ke
arah lateral ataupun horizontal dan dapat pula pada arah vertikal sehingga terjadi
amblesan di sekitar patahan itu (Suseno 2007: 18).

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa


batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke
bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan
sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot
tanah.Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai
bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan
bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

Ada 6 jenis tanah longsor (ESDM 2007), yakni :

1. Longsoran translasi
Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

Gambar 2.2 Longsoran translasi

2. Longsoran rotasi
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk cekung.

11
Gambar 2.3 Longsoran rotasi

3. Pergerakan blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi
blok batu.

Gambar 2.4 Pergerakan blok

4. Runtuhan batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada
lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai.
Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

Gambar 2.5 Runtuhan batu

12
5. Rayapan tanah
Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini
hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor
jenis rayapan ini bias menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau
rumah miring ke bawah.

Gambar 2.6 Rayapan tanah

6. Aliran bahan rombakan


Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong
oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume
dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang
lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa
tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di
sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup
banyak.

Gambar 2.7 Aliran bahan rombakan

13
Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia.
Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah
aliran bahan rombakan.Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong
pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya
dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya
pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis
tanah batuan. Sedangkan faktorfaktor penyebab tanah longsor adalah hujan, lereng
terjal, tanah yang kurang padat dan tebal, batuan yang tidak kompak, jenis
penggunaan lahan, getaran, penyusutan permukaan danau/waduk, beban
tambahan, erosi, material timbunan pada tebing, bekas longsoran lama, adanya
bidang diskontinuitas dan penggundulan hutan (RAD PRB prov. jateng 2008).

Biasanya tanah yang longsor bergerak pada suatu bidang tertentu. Bidang
ini disebut bidang gelincir (slip surface) atau bidang geser (shear surface). Bentuk
bidang gelincir ini sering mendekati busur lingkaran, dalam hal ini tanah longsor
tersebut disebut rotational slide yang bersifat berputar. Ada juga tanah longsor
yang terjadi pada bidang gelincir yang hampir lurus dan sejajar dengan muka
tanah, dalam hal ini tanah longsor disebut translational slide. Tanah longsor
semacam ini biasanya terjadi bilamana terdapat lapisan agak keras yang sejajar
dengan permukaan lereng.

Gambar 2.8 Tanah longsor rotational slide dan translational slide

14
Faktor-faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah
morfologi, litologi, stratigrafi dan strukutur geologi.Struktur geologi yang
mempengaruhi gerak tanah adalah seperti komposisi lapisan, dan formasi susunan
batuannya. Adanya pengaruh dari beberapa faktor lain seperti curah hujan,
kandungan air di dalam batuan, vegetasi, beban batuan, gempa bumi dan lain
sebagainya (Ristianto 2007: 21).

Proses gerak tanah meliputi (Ristianto 2007: 21) :

1. Kegagalan lereng

Gaya gravitasi yang selalu menarik kebawah membuat lereng bukit dan
gawir pegunungan rawan untuk runtuh. Slum adalah keruntuhan lereng dimana
batuan atau regolith bergerak turun dan maju disertai gerak rotasional yang
bergerak berlawanan dengan arah massa yang bergerak. kegagalan lereng secara
mendadak yang mengakibatkan berpindahnya massa batuan yang relatif koheren
dengan slumping, jatuh (falling), atau meluncur (sliding).

2. Falls dan Slides

Gerak pecahan batuan besar atau kecil yang terlepas dari batuan dasar dan
jatuh bebas dinamakan rock fall. Biasanya terjadi pada tebing-tebing yang terjal,
dimana material yang lepas tidak dapat tetap di tempatnya. Jika material yang
bergerak masih agak koheren dan bergerak di atas permukaan suatu bidang
disebut rock slides. Bidang luncurnya dapat berupa bidang rekahan, kekar atau
bidang pelapisan yang sejajar dengan lereng.

3. Aliran (flow)

Aliran terjadi apabila material bergerak turun lereng sebagai cairan kental
dengan cepat. Biasanya materialnya jenuh air yang sering terjadi adalah mud
flow, aliran debris dengan banyak air dan partikel utamanya adalah partikel halus.
Tipe gerak tanah ini terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di
Indonesia.aliran (flow) campuran sedimen, air, udara, dengan memperhatikan
kecepatan dan konsentrasi sedimen yang mengalir.

15
4. Patahan

Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan
berlangsung yang dalam waktu yang sangat cepat, sehingga menyebabkan lapisan
kulit bumi retak atau patah.Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti
graben dan horst. Horst adalah tanah naik, terjadi bila terjadi
pengangkatan.Graben adalah tanah turun, terjadi bila blok batuan mengalami
penurunan. Ada beberapa jejak yang ditimbulkan oleh gesekan pada batuan
diantaranya adalah gores garis atau slickensides, gesekan antara batuan yang
keras, permukaannya menjadi halus dan licin disertai goresan-goresan pada
bidang sesar. Kebanyakan gerak sesar menghancurkan batuan yang bergesekan
menjadi berbagai ukuran tidak beraturan, membentuk breksi sesar atau fault
breccia (Ristianto 2007: 24).

Berdasarkan pada klasifikasi Vernes dan Eckel dalam Ristianto (2007: 24)
maka gerakan tanah terdapat tujuh jenis gerakan, yaitu soil fall, rock fall, sandrun,
debris slide, earth flow, debris avalance dan bloock glide, sedangkan gerakan
terbanyak adalah jenis debris slide, merupakan 51,83% dari seluruh gerakan. Pada
umumnya gerakan tanah terjadi pada daerah sekitar kontak ketidakselarasan
antara satuan batu lempung dengan sisipan-sisipan batu pasir.

16
BAB III
METODE PENEITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Enu, Kecamatan Sindue, Kabupaten
Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah dengan koordinat LS : 0o 31’
23,7’’ dan BT : 119o 49’ 36,1’’. Dalam hal ini kami menggunakan
Peta Lembar Tavaili, yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL
tahun 1991.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Daerah Penelitian

17
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini berlangsung selama 1 hari pada hari Sabtu,
Tanggal 7 Mei 2016. Penelitian dilakukan pada pukul10.00 sampai
16.00 WITA.

3.2 Peralatan yang Digunakan


Adapun alat dan bahan yang kami gunakan adalah ;
a. Resistivity Meter
Resistivity Meter digunakan untuk mengukur nilai Tahanan Jenis

Foto 3.1 Resistivity Meter

b. ACCU
ACCU digunakan Sebagai sumber energi listrik

Foto 3.2 ACCU

c. Elektroda
Elektroda yang digunakan yaitu 2 buah elektroda Potensial dan 2 buah
elektroda Arus. Digunakan untuk menginjeksi arus listrik

18
Foto 3.3 Elektroda

d. Kabel Listrik
Kabel listrik digunakan untuk menghantarkan listrik

Foto 3.4 Kabel Listrik

e. Patok Besi / Tembaga


Patok besi/tembaga digunakan sebagai penanda jarak dan sebagai
media yang menghantarkan listrik ke dalam tanah

Foto 3.5 Patok

f. GPS Garmin
Gps Digunakan untuk mengambil data Kordinat dan data Topografi

19
Foto 3.6 GPS

g. Rol Meter
Rol meter digunakan untuk mengukur jarak

Foto 3.7 Rol meter

h. Tabel Data
Sebagai tempat untuk menuliskan data–data yang diperoleh selama
pengukuran

i. Kalkulator dan Alat Tulis Menulis


Kalkulator dan alat tulis digunakan sebagai alat hitung dan alat untuk
menulis

Foto 3.8 Kalkulator dan Alat Tulis

20
j. Software Res2Dinv
Software Res2Dinv digunakan sebagai Software yang di gunakan
untuk mengolah data yang didapatkan di lapangan

Gambar 3.10 Software Res2Dinv

3.3 Prosedur Pengambilan Data


Pada penelitian ini, Tahap pertama yang dilakukan adalah Kajian
Literatur yaitu Jurnal mengenai Bidang Gelincir dan Tanah Longsor.
Tahap kedua adalah pengambilan data. Pengambilan data dibagi menjadi 3
bagian ;
1. Pengamatan Litologi,
2. Pengambilan data Resistivity Batuan
Pengukuran Resistivity batuan dilakukan pada satu lintasan. Lintasan
ini memiliki panjang lintasan 51 meter dengan jumlah patok 18 buah
dengan jarak antar patok 3 meter. Sedangkan tahap pertama yang
dilakukan untuk pengambilan data yaitu mempersiapkan alat yang
akan digunakan dalam percobaan ini. Kemudian pasang meteran pada
daerah yang akan digunakan untuk penelitian, dan memasang patok
pada setiap ujungnya. Setelah itu, pasang elektroda arus (C1C2) dan
elektroda potensial (P1P2) diawali dengan jarak terdekat yang telah
disiapkan pada tabel pengukuran. Kemudian untuk pengukuran yang
kedua dan seterusnya memindahkan elektroda arus dan elektroda
potensial yang dilakukan secara bersama-sama dengan jarak yang sama
pada setiap elektroda. Setelah itu, accu 12 volt ke resistivitimeter dan
sambungkan capit dari resistivitimeter ke setiap elektroda. Kemuadian

21
setelah semua tersambung selanjutnya mengambil data yaitu catat arus
(I) dan beda potensial (V).
3. Pengambilan data Topografi di setiap patok.
Kemudian tahap akhir yang dilakukan adalah Interpretasi data dari
hasil yang diperoleh di lapangan.

3.4 Teknik Analisis dan Interpretasi Data


3.4.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan berdasarkan datageolistrik resistivitas
konfigurasi wenner hasilpengukuran di desa Enu. Data
yangdiperoleh merupakan data kuat arus, data potensial, data
topografi, kemudian datatersebut diolah menggunakan Excel.
Setelahdilakukan perhitungan dengan menggunakanSoftware Excel,
data hasil perhitungandimasukkan ke dalam notepade dan
disimpandalam format dat. Kemudian dilakukanpemodelan untuk
menginversi data hasil pengukuran dan menggambarkannya
dalambentuk 2D yang menggambarkan distribusi resistivitas batuan
bawah permukaan lokasipenelitian dengan menggunakan
aplikasiRes2Dinv.
3.4.2 Interpretasi Data
Interpretasi data dilakukan setelah melihat model yang didapatkan
setelah tahap pengolahan data. Hasil interpretasi dibuat berdasarkan
hasil resistivitas pada berbagai lapisan daerah penelitian. Jika
terdapat pada area tertentu nilai resistivitas lapisan atas lebih rendah
daripada lapisan bawahnya, area itulah yang disebut bidang gelincir.

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Geologi Lokasi


Kondisi Geologi daerah penelitian Desa Enu Kecamatan Sindue
Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah termasuk dalam Geologi
Regional Kota Palu (Rab Sukamto, 1973) dan seperti yang tertuang dalam Peta
Geologi Tinjau Lembar Palu, Sulawesi dengan skala 1 : 250.000.
Geomorfologi regional secara fisiografi daerah Palu terdiri dari pematang
timur dan pematang barat, kedua-duanya berarah Utara-Selatan dan terpisahkan
oleh Lembah Palu (Fossa Sarassina). Pematang Barat di dekat palu hingga lebih
dari 200 meter tingginya, tetapi di Donggala menurun hingga muka air laut.
Pematang Timur dengan tinggi puncak dari 400 meter hingga 1900 meter, dan
menghubungkan pegunungan Sulawesi Tengah dengan Lengan Utara.
Stratigrafi regional, batuan tertua di daerah yang dipetakan adalah
metamorf dan tersingkap hanya pada pematang timur yang merupakan intinya.
Kompleks itu terdiri dari sekis ampibolit, sekis, genes dan pualam. Sekis terdapat
banyak di sisi Barat, sedangkan genes dan pualam terdapat banyak di sisi Timur.
Tubuh-tubuh intrusi tak terpetakan, umumnya selebar kurang dari 50 meter,
menerobos kompleks batuan metamorf, dengan berjangka dari diorit hingga
granodiorit. Umur metamorfisme tak diketahui, tetapi boleh jadi pra-Tersier.
Brouwer (1947) berpendapat, bahwa sekis yang tersingkap di seantero Sulawesi
berumur Palezoikum.
Formasi Tinombo / (Tts), menurut Alburg (1913), bahwa rangkaian ini
tersingkap luas, baik di pematang timur maupun pematang barat. Batuan ini
menindih kompleks metamorf secara tidak selaras. Di dalamnya terkandung
rombakan yang berasal dari batuan metamorf. Endapan ini terutama terdiri dari
serpih, batupasir, konglomerat, batugamping, rijang, radiolaria dan batuan gunung
api yang diendapkan di dalam lingkungan laut.
Molasa Celebes Sarasin/ (Tmc), menurut Sarasin (1910), batuan ini
terdapat pada ketinggian lebih rendah pada sisi-sisi kedua pematang, menidih

23
secara tidak selaras Formasi Tinombo dan Kompleks Metamorf, mengandung
rombakan yang berasal dari formasi-formasi yang lebih tua, dan terdiri dari
konglomerat, batupasir, batulumpur, batugamping koral dan napal yang semuanya
hanya mengeras lemah. Di dekat kompleks batuan metamorf pada bagian Barat
Pematang Timur endapan itu terutama terdiri dari bongkah-bongkah kasar dan
agaknya diendapkan di dekat sesar. Batuan-batuan itu ke arah laut beralih jadi
batuan klastika berbutir halus. Di dekat Donggala sebelah Utara Enu dan sebelah
Barat Labean batuannya terutama terdiri dari batugamping dan napal dan
mengandung Operculina sp., Cycloclypeus sp., Rotalia sp., Orbulina universa.,
Amphistegina sp., Miliolidae, Globigerina, foraminifera pasiran, ganggang
gampingan, pelesipoda dan gastropoda. Sebuah conto yang di pungut dari
Tenggara Laebago selain fosil-fosil tersebut juga mengandung Miogysina sp., dan
Lepidocyclina sp., yang menunjukkan umur Miosen (pengenalan oleh kadar,
Direktorat Geologi). Foram tambahan yang dikenali oleh Socal meliputi
Planorbulina sp., Solenomeris sp., Textularia sp., Acervulina sp., Siroclypeus sp.,
Reussella sp., Lethoporella, Llithophyllum, dan Amphiroa. Socal mengirakan
bahwa fauna-fauna tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah, dan
pengendapannya di dalam laut dangkal. Pada kedua sisi Teluk Palu, dan
kemungkinan juga di tempai lain, endapan sungai Kuarter juga dimasukkan ke
dalam satuan ini.
Alluvium dan Endapan Pantai (Qal) berupa kerikil, pasir, lumpur dan
batugamping koral terbentuk dalam lingkungan sungai, delta dan laut dangkal
merupakan sedimen di daerah ini. Endapan itu boleh jadi seluruhnya berumur
Holosen. Di daerah dekat Labean dan Tambu terumbu koral membentuk bukit-
bukit rendah.
Batuan intrusi telah diamati beberapa generasi intrusi, dimana yang tertua
ialah intrusi andesit dan basal kecil-kecil di Semenanjung Donggala. Intrusi-
intrusi ini mungkin merupakan saluran-saluran batuan vulkanik di dalam Formasi
Tinombo. Intrusi-intrusi kecil (selebar 50 meter) yang umumnya terdiri dari diorit,
porfiri diorit dan granodiorit menerobos Formasi Tinombo, yakni sebelum
endapan Molasa, dan tersebar luas diseluruh daerah. Semuanya tak terpetakan,

24
granit dan granodiorit yang telah dipetakan tercirikan oleh fenorkris feldspar
kalium sepanjang hingga 8 cm. Penanggalan Kalium/Argon telah dilakukan oleh
Gulf Oil Company terhadap dua contoh granodiorit di daerah ini. Intrusi yang
tersingkap di antara Palu dan Donggala memberikan penanggalan 31.0 juta tahun
pada analisa kadar K/Ar dari feldspar. Yang lainnya adalah suatu intrusi yang
tidak dipetakan terletak kira-kira 15 Km Timurlaut dari Donggala, tersingkap di
bawah koral Kuarter, memberikan penaggalan 8,6 juta tahun pada analisa K/Ar
dari biotit.

Gambar 4.1 Peta Geologi Lembar Palu

Gambar 4.1 Peta Geologi Lembar Palu

Secara regional struktur geologi orogenesa di Pulau Sulawesi mulai


berlangsung sejak zaman Trias, terutama pada Manggala Banggai Sula yang
merupakan Mandala tertua, sedangkan pada Mandala Geologi Sulawesi Bagian
Timur dimulai pada kapur Akhir atau Awal Tersier. Perlipatan yang kuat
menyebabkan terjadinya sesar anjak yang berlangsung pada Miosen Tengah di
lengan Timur Sulawesi dan bagian Tengah dari Mandala Geologi Sulawesi Barat,
serta waktu yang bersamaan dengan transgresi lokal berlangsung di lengan

25
Tenggara Sulawesi, dan suatu aktivitas vulkanik terjadi di lengan Uatara dan
Selatan (Sukamto, 1975).
Fasa orogenesa Intra Miosen terlihat menonjol di beberapa tempat,
terutama pada Mandala Sulawesi Barat bagian Tengah, sedangkan orogenesa
sebelum Intra Miosen mungkin terjadi pada Kala Kapur Akhir hingga Miosen
Awal, mengangkat dan melipat endapan Mesozoikum dan sedimen tua lainnya
kemudian terhenti oleh pengaruh gerekan horizontal dan yang menyebabkan sesar
sungkup berarah Utara –Selatan atau Utara- Barat Laut, Selatan-Tenggara. Gaya
horisontal terhenti dan disusul terbentuknya sesar bongkah yang menyebabkan
terjadinya terban ataupun sambul.

4.2 Hasil Pengamatan

a. Data Hasil Pengamatan Geolistrik

Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Geolistrik

R
No a k v I R Rata2 Label x z Roh Keterangan
1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 3 18.84 556 557 483 88 80 81 6.318 6.962 5.962 6.414 1 4.5 -1 120.840 1-2-3-4
2 3 18.84 901 891 902 94 94 93 9.585 9.478 9.698 9.587 2 7.5 -1 180.619 2-3-4-5
3 3 18.84 845 841 833 84 83 83 10.059 10.132 10.036 10.076 3 10.5 -1 189.826 3-4-5-6
4 3 18.84 982 982 994 91 86 89 10.791 11.418 11.168 11.126 4 13.5 -1 209.608 4-5-6-7
5 3 18.84 584 568 567 64 62 63 9.125 9.161 9 9.095 5 16.5 -1 171.356 5-6-7-8
6 3 18.84 625 567 565 59 58 58 10.593 9.775 9.741 10.036 6 19.5 -1 189.085 6-7-8-9
7 3 18.84 349 346 341 43 43 43 8.116 8.046 7.93 8.031 7 22.5 -1 151.298 7-8-9-10
8 3 18.84 323 321 317 34 32 33 9.5 10.031 9.606 9.712 8 25.5 -1 182.980 8-9-10-11
9 3 18.84 347 350 351 42 41 42 8.261 8.536 8.357 8.385 9 28.5 -1 157.967 9-10-11-12
10 3 18.84 348 345 341 35 35 35 9.942 9.857 9.742 9.847 10 31.5 -1 185.517 10-11-12-13
11 3 18.84 300 309 304 32 32 33 9.375 9.656 9.212 9.414 11 34.5 -1 177.366 11-12-13-14
12 3 18.84 306 306 304 45 45 44 6.8 6.8 6.909 6.836 12 37.5 -1 128.797 12-13-14-15
13 3 18.84 361 362 361 47 49 48 7.68 7.387 7.52 7.529 13 40.5 -1 141.846 13-14-15-16
14 3 18.84 187 184 178 43 42 42 4.348 4.38 4.238 4.322 14 43.5 -1 81.426 14-15-16-17
15 3 18.84 297 289 288 69 70 68 4.304 4.128 4.235 4.222 15 46.5 -1 79.549 15-16-17-18
16 6 37.68 447 427 478 70 69 68 6.385 6.188 7.029 6.534 16 9 -2 246.201 1-3-5-7
17 6 37.68 442 437 428 63 62 62 7.015 7.048 6.903 6.989 17 12 -2 263.333 2-4-6-8
18 6 37.68 360 347 347 60 60 59 6 5.783 5.881 5.888 18 15 -2 221.860 3-5-7-9
19 6 37.68 261 260 262 49 50 50 5.326 5.2 5.24 5.255 19 18 -2 198.021 4-6-8-10

26
20 6 37.68 215 208 217 38 40 37 5.657 5.2 5.864 5.574 20 21 -2 210.016 5-7-9-11
21 6 37.68 364 350 344 45 51 52 8.089 6.862 8.19 7.714 21 24 -2 290.651 6-8-10-12
22 6 37.68 243 244 245 46 43 45 5.282 5.674 5.444 5.467 22 27 -2 205.984 7-9-11-13
23 6 37.68 270 269 268 46 48 48 5.869 5.604 5.583 5.685 23 30 -2 214.223 8-10-12-14
24 6 37.68 180 245 244 34 48 49 5.294 5.104 4.979 5.126 24 33 -2 193.135 9-11-13-15
25 6 37.68 190 193 193 40 43 42 4.75 4.488 4.595 4.611 25 36 -2 173.742 10-12-14-16
26 6 37.68 131 136 134 30 30 27 4.367 4.533 4.962 4.621 26 39 -2 174.107 11-13-15-17
27 6 37.68 268 260 248 58 57 55 4.62 4.561 4.509 4.563 27 42 -2 171.946 12-14-16-18
28 9 56.52 194 189 188 41 42 42 4.731 4.5 4.476 4.569 28 13.5 -3 258.240 1-4-7-10
29 9 56.52 183 182 180 40 40 40 4.575 4.55 4.5 4.542 29 16.5 -3 256.695 2-5-8-11
30 9 56.52 204 199 201 53 53 52 3.849 3.754 3.865 3.823 30 19.5 -3 216.057 3-6=9-12
31 9 56.52 231 233 229 60 59 59 3.85 5.974 3.881 4.568 31 22.5 -3 258.202 4-7-10-13
32 9 56.52 253 248 250 60 59 60 4.216 4.203 4.167 4.195 32 25.5 -3 237.120 5-8-11-14
33 9 56.52 263 261 257 62 60 67 4.241 4.35 3.835 4.142 33 28.5 -3 234.106 6-9-12-15
34 9 56.52 309 306 309 72 70 72 4.291 4.371 4.291 4.318 34 31.5 -3 244.035 7-1-13-16
35 9 56.52 174 171 169 43 41 40 4.046 4.17 4.225 4.147 35 34.5 -3 234.388 8-11-14-17
36 9 56.52 264 260 257 64 63 62 4.125 4.126 4.145 4.132 36 37.5 -3 233.541 9-12-15-18
37 12 75.36 163 158 157 47 47 48 3.468 3.361 3.27 3.366 37 18 -4 253.687 1-5-9-13
38 12 75.36 198 196 196 61 62 63 3.245 3.161 3.111 3.172 38 21 -4 239.067 2-6-10-14
39 12 75.36 193 197 200 65 65 66 2.969 3.03 3.03 3.010 39 24 -4 226.808 3-9-11-15
40 12 75.36 241 238 239 76 74 74 3.171 3.216 3.229 3.205 40 27 -4 241.554 4-8-12-16
41 12 75.36 194 192 190 53 53 52 3.66 3.622 3.653 3.645 41 30 -4 274.687 5-9-13-17
42 12 75.36 401 393 393 103 103 103 3.893 3.815 3.815 3.841 42 33 -4 289.458 6-10-14-18
43 15 94.2 153 151 149 51 56 51 3 2.696 2.921 2.872 43 22.5 -5 270.574 1-6-11-16
44 15 94.2 151 144 141 52 51 50 2.903 2.823 2.82 2.849 44 25.5 -5 268.344 2-7-12-17
45 15 94.2 286 282 280 95 95 93 3.01 2.968 3.01 2.996 45 28.5 -5 282.223 3-8-13-18

Tabel 4.2 Data pengukuran topografi

Patok X Y Z
1 00 31’54,3”
o
119 46’37,6”
o
63
2 00o31’54,3” 119o46’37,6” 65

3 00o31’54,2” 119o46’37,5” 67

4 00o31’54,2” 119o46’37,5” 69
5 00o31’54,1” 119o46’37,5” 71
6 00o31’54” 119o46’37,4” 71
7 00o31’53,8” 119o46’37,6” 72

27
8 00o31’53,7” 119o46’37,6” 72
9 00o31’53,6” 119o46’37,6” 72
10 00o31’53,5” 119o46’37,7” 73
11 00o31’53,4” 119o46’37,7” 75
12 00o31’53,4” 119o46’37,5” 75
13 00o31’53,5” 119o46’37,8” 77
14 00o31’53,1” 119o46’37,8” 79
15 00o31’53,2” 119o46’37,8” 81
16 00o31’53,1” 119o46’37,7” 82
17 00o31’53,1” 119o46’37,7” 84
18 00o31’52,9” 119o46’37,8 84

4.3 Interpretasi Data

Datum point atau titik pengukuran di bawah permukaan lintasan


pengukuran merupakan titik tengahdari total spasi elektro dan arus dan tegangan.
Besarnya nilai datum point dapat diperoleh dengan cara sebagaiberikut:

𝑃1−𝐶1
𝐷 = 𝐶1 + 2

dimana, D = Datum point


C1 = Jaraktitik 0 denganelektroda C1
P1 = Jaraktitik 0 denganelektroda P

Gambar 4.2 Stacking Chart pengukuran geolistrik 18 elektroda konfigurasi


wenner
28
Gambar 4.4 Hasil pengolahan data menggunakan software Res2dinv,
Penampang resistivitas semu hasil pengukuran

Gambar 4.3 Profil resistivitas semu dari jumlah ekspansi titik datum

Gambar 4.5 Penampang resistivitas semu hasil perhitungan

29
Gambar 4.6 Nilai resistivitas batuan bawah permukaan hasil pemodelan inversi

Setelah semua data telah di dapat, kemudian dilakukan pengolahan data


lapangan dengan menggunakan software Res2Dinv. Berdasarkan dari model
penampang menunjukan bahwa nilai resistivitas tersebut digambarkan dengan
warna biru tua, biru muda, hijau kebiruan, dan hijau dengan letak pada
penampang Res2Dinv berada pada kedalaman 0.750 hingga 3.2 meter. Sedangkan
anomaly dengan nilai resistivitas tinggi dengan nilai 2031 hingga 428 Ωm yang di
interpretasikan dengan warna coklat dan coklat kemerahan yang diindikasikan
sebagai batugamping (limestone). Berdasarkan pada literatur yang telah ada, nilai
resistivitas batugamping berkisar antara 50 Ωm hingga 4x102 Ωm.

c
b
c
e
a

Gambar 4.7 Model resitivitas batuan bawah permukaan dengan topografi di


wilayah rawan longsor Desa Enu Kabupaten donggala

a. Pada titik b dan e, pada kedalaman 0.75 – 7.46 meter Kedalaman umumnya
disusun oleh batulempung tufaan, umumnya kurang kompak dan kurang kuat.

30
b. Pada titik a dan c, pada kedalaman 2.25 – 5.56 meter terlihat bahwa lapisan ini
merupakan lapisan dengan batuan keras (lempung) dengan resistivity yang
tinggi. Kedua batuan keras ini mengapit batuan lunak di tengah (titik b).

c. Pada titik d, 0.75- 2.25 meter terlihat nilai resistivity yang rendah yang
mengindikasikan adanya kumpulan air yang terjebak di titik ini.

Pada umumnya profil batuan bawah permukaan ialah pasir kasar berupa
hasil pelapukan granit, kemudian lapisan di bawahnya tetap terdapat sisipan-
sisipan konglomerat, lempung, dan granit segar. Kehadiran lempung diduga
merupakan hasil asosiasi air meteoric membuat lapisan material urai menjadi
lebih halus sehingga terbentuk lempung. Sehingga dapat diduga longsoran yang
terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan
lepas. Pada dasarnya batuan lapuk struktur bawah permukaan dapat diketahui dari
nilai kecepatan gelombang geser yang tinggiya itu memiliki kerapatan ikatan
butiran yang kuat. Kemudian pendugaan mengenai litologi batuan lapuk yaitu
letak dari bidang gelincir di lokasi penelitian ialah granit kemudian sisipan
lempung yang menutupi batugamping. Ketika air metoerik yang mengalami
infiltrasi terakumulasi di lapisan material urai tersebut, kemudian membuat
kohesifitas tanah berkurang sehingga air tersebut dapat menembus sampai tanah
kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan
tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti kemiringan lereng yang
cukup curam dan ditambah oleh factor gravitasi, sehingga membuat lokasi
tersebut rentan serta langganan terjadinya longsor, terutama ketika suplai curah
hujan yang tinggi.
Tipe longsoran yang ada di lokasi penelitian ialah longsoran aliran
(translasi). Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
rombakan, tanah, atau material campuran tersebut bergerak ke bawah tanpa ada
rekayasa (konstruksi sipil) gaya penahan yang berfungsi.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

31
5.1 Kesimpulan

Nilai resistivitas yang digambarkan dengan warna biru tua, biru muda,
hijau kebiruan, dan hijau berada pada kedalaman 0.750 hingga 3.2 meter.
Sedangkan anomaly dengan nilai resistivitas tinggi dengan nilai 2031 hingga 428
Ωm yang di interpretasikan dengan warna coklat dan coklat kemerahan
diindikasikan sebagai batugamping (limestone). Berdasarkan pada literatur yang
telah ada, nilai resistivitas batugamping berkisar antara 50 Ωm hingga 4x102 Ωm.
Pada titik b dan e, pada kedalaman 0.75 – 7.46 meter umumnya disusun
oleh batulempung tufaan, umumnya kurang kompak dan kurang kuat. Pada titik a
dan c, pada kedalaman 2.25 – 5.56 meter merupakan lapisan dengan batuan keras
(lempung) dengan resistivity yang tinggi. Kedua batuan keras ini mengapit batuan
lunak di tengah (titik b). Pada titik d, 0.75- 2.25 meter diindikasikan adanya
kumpulan air yang terjebak di titik ini.
Longsoran yang terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material
yang bersifat urai dan lepas. sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta
langganan terjadinya longsor, terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi.

5.2 Saran
Kegiatan Praktikum sebaiknya dilakukan sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan dan dalam melakukan praktikum, hendaknya mahasiswa
dapat memberikan perhatian lebih kepada arahan yang diberikan oleh dosen. Agar
hal-hal yang dapat mengganggu praktikum dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Gokdi, H., dkk.2012. MENENTUKAN LITOLOGI DAN AKUIFER


MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER

32
DAN SCHLUMBERGER DI PERUMAHAN WADYA GRAHA I
PEKANBARU. Pekanbaru: Fakultas MIPA, Universitas Binawidya

Ristianto, D. 2007. Skripsi (Penentuan Resistivitas Tanah Pada Zona Labil


Dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis Konfigurasi
Schlumberger (Studi Kasus di Desa Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan,
Kota Semarang, Jawa Tengah). Semarang :Unnes (tidak dipublikasikan).

Sarasin, F. & Sarasin, P. 1901, Entwurf Einer Geologischen Beschreibung


DerInsel Celebes, Wiesbaden, 1901.

Sukamto, RAB.,Sumadirdja, H., Suptandar, T., Hardjoprawiro, S., danSudana, D.,


1973, Peta Geologi Tinjau LembarPalu, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi, Bandung.

Suseno, H. 2007. Skripsi (Penentuan Pola Resistivitas Batuan Di Daerah Labil


dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis (Metode Schlumberger
(Studi Kasus Di Sukorejo Kota Semarang)). Semarang :Unnes (tidak
dipublikasikan).

Syamsudin , N., Efendi, R. & Sandra, 2015. PENENTUAN STRUKTUR


BATUAN DAERAH RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN
METODE SEISMIK MIKROTREMOR DI DESA ENU KECAMATAN
SINDUE KABUPATEN DONGGALA. Volume 14.

Waluyodan Edy Hartantyo. 2000.Teori Dan Aplikasi Metode Resistivitas.


Yogyakarta : Laboratorium Geofisika, Program Studi Geofisika, Jurusan
Fisika FMIPA UGM.

Wuryata, A., 2004. Identifikasi Tanah Longsor dan Upaya Penanggulangan Studi
Kasus di Kulon Progo, Purworejo dan Kebumen.

33
34