You are on page 1of 35

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Edukasi Perawat

2.1.1. Defenisi Edukasi Perawat

Edukasi kesehatan yang efektif tidak diberikan dalam satu kali pertemuan

melainkan diberikan dalam keadaan terstruktur selama pasien dirawat. Edukasi

kesehatan merupakan aspek besar dalam praktik keperawatan dan bagian penting

dari peran dan fungsi perawat sebagai nursing educator. Kozier dan Erbs juga

menambahkan edukasi yang dilakukan perawat meski beraneka ragam mulai dari

promosi, pencegahan penyakit, mempertahankan kesehatan sampai perawat harus

dapat mengurangi faktor resiko penyakit dan meningkatkan tingkat kesejahteraan

pasien serta terhindar dari rasa cemas, ketidakberdayaan untuk mandiri dan

ketidakpercayaan diri dalam merawat diri (Wahyuni A, dkk, 2015).

Perawat sebagai tenaga kesehatan yang professional mempunyai

kesempatan yang paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya

pelayananlasuhan keperawatan yang komprehensi dengan membantu klien

memenuhi kebutuhan dasar yang holistic. Perawat memandang klien sebagai

makhluk bio-psiko-sosiokultural spiritual yang berespon secara holistic dan unik

terhadap perubahan. Perawat berusaha untuk memenuhi lcebutuhan spiritual klien.

walaupun perawat dan klien tidak mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan

yang sama (Widyarini N, 2005).

Peran perawat sebagai pendidik, perawat memberikan edukasi mengenai

lama pemberian zink, yaitu 10 hari, tetapi pernyataan tersebut tidak didukung oleh

data dari observasi, dokumentasi dan triangulasi dengan orang tua. Dari hal

7
8

tersebut dapat diketahui, bahwa pengetahuan perawat mengenai lama pemberian

zink sudah benar, tetapi belum diikuti dengan pemberian edukasi kepada orang

tua mengani lama pemberian zink kepada anak dan belum dilakukan dokumentasi

mengenai edukasi tersebut.

Perawat sudah melakukan informed consent, tetapi belum diikuti dengan

pendokumentasian mengenai tindakan yang sudah dilakukan. Dari hal tersebut,

perawat belum melaksanakan tanggung jawab dan tanggung gugat dalam upaya

melindungi klien terhadap pelayanan atau tindakan yang didapatkan, karena

dokumentasi merupakan bentuk pertanggungjawaban perawat terhadap tindakan

yang sudah dilakukan (Wardani S, 2016).

Edukasi terintegrasi pasien rawat inap adalah pendidikan pasien dan

mengenai pengetahuan yang diperlukan oleh pasien dan keluarga selama proses

asuhan maupun pengetahuan yang dibutuhkan setelah pasien dipulangkan ke

pelayanan kesehatan lain atau ke rumah. Penjelasan yang disampaikan oleh

tenaga kesehatan harus berkesinambungan dan membentuk suatu kesatuan yang

utuh dan bulat, sehingga pasien dapat memahami dengan jelas, dan sebagai bukti

bahwa tenaga medis telah memberikan penjelasan mengenai informasi medis

yang diberikan kepada pasien dan keluarga pasien

Tingkat pendidikan,gangguan penginderaan (seperti hilang

pengelihatan), harapan terhadap operasi, dan adanya sistem suport akan

menentukan bagaimana mengedukasi klien. Pada umunya, klien yang telah

menjalani berbagai operasi lebih sedikit membutuhkan edukasi. Namun,

janganberasumsi bahwa klien seperti itu sama sekali tidak membutuhkan

pemeriksaan dan intervensi pre dan pascaoperasi (Lestari L, 2014).


9

2.1.2. Tujuan Edukasi Perawat

Perawat bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada pasien dan

keluarga. Perawat adalah petugas kesehatan utama yang melaksanakan pemberian

obat kepada pasien. Pelaksanaan pencampuran sediaan parenteral selama ini

masih dilaksanakan oleh perawat yang menangani pasien secara langsung

(Maharani L, dkk, 2013).

Perawat adalah tulang punggung pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Mereka harus selalu siaga selama 24 jam untuk melakukan tugas-tugas rutin, dan

menghadapi berbagai situasi darurat seperti kondisi kesehatan pasien yang kritis,

menghadapi kesulitan keluarga pasien, dan sebagainya (Widyarini N, 2005).

Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang mempunyai

kontribusi besar dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Perawat merupakan

ujung tombak pelayanan di rumah sakit karena perawat mempunyai waktu yang

terlama dalam berinteraksi dengan pasien dan keluarga. Perawat merupakan tuan

rumah di ruang perawatan dan selama 24 jam perawat berada di dekat pasien dan

keluarga (Hariyati TS, dkk, 2008).

2.1.3. Pelaksanaan Edukasi Perawat

1. Pengkajian

a. Sejak pasien masuk, kaji kebutuan pasca operasi pasien apendiktomi,

berdiskusi dengan pasien, focus pada psien pasien berkelanjutan

terhadap kesehatan fisik pasien, status fungsional, system pendukung

sosial, sumber-sumber finensial, nilai kesehatan, latar budaya dan

ednis, serta rintangan terhadap perawatan.


10

b. Kaji kebutuhan pasien terhadap pendidikan kesehatan yang

berhubungan dengan bagaimana mengkonsumsi makanan, larangan

sebagai akibat gangguan kesehatan, dan kemungkinan terjadinya

komplikasi. Kaji cara pengurangan tingkat nyeri pasien (seperti

berbaring, mendengarkan music). Jika materi yang digunakan, pastikan

materi tertulis yang layak tersedia. Tipe materi pendidikan yang

berbeda-beda dapat mengefektifkan cara pembelajaran yang berbeda

pada apasien.

c. Kaji bersama-sama dengan pasien terhadap setiap faktor makanan

yang menghalangi keteraturan makan, keamanan, dan kebersihan.

d. Berkolaborasi dengan dokter dan staf pada profesi lain (seperti dokter

pemberi obat) dalam mengkaji kebutuhan untuk rujukan pre operasi.

e. Kaji penerimaan pasien terhadap masalah kesehatan.

2.1.4. Perencanaan

Hasil yang diharapkan jika seluruh prosedur telah lengkap dilakukan

sebagai berikut :

a. Pasien mampu menjelaskan rasa tingkat nyeri yang dialami, dan kapan

mencari pengobatan akibat masalah yang timbul.

b. Pasien mampu mendemonstrasikan tingkat nyeri.

c. Perawat menelepon klien untuk mengingatkan instruksi praoperasi pada

malam sebelum operasi.

d. Persiapan praoperasi dimulai 1 atau 2 jam sebelum operasi bagi klien

dirumah sakit.

e. Masuk pada hari yang sama dengan jadwal operasi.


11

f. Sepakati tujuan penatalaksanaan: tailored treatment yang

sederhana,membuat prioritas. bertindak segera mengatasi kekambuan.

Sebaiknya rencana penatalaksanaan dibuat. tertulis agar mudah diingat

dan diikuti.

g. Mengulang pesan yang penting beberapa kali akan meningkatkan

pengertian penderita.

h. Tanyak klien apakah masih memiliki pertanyaan atau pikiran yang

masih mengganjal.

i. Pastikan klien memahami prosedur bedah yang akan dilakukan.

j. Klien dapat dirawat dirawat dirumah sakit setelah operasi jika memang

membutuhkan. observasi atau perawat khusus.

k. Pengurangan rasa nyeri: obat-obatan.

l. Lanjutkan mengkaji adakah kecemasan.

m. Keterlambatan memulai operasi harus dikomunikasikan dengan klien

dan keluarga (Lestari L, 2014).

2.1.5. Evaluasi

Pasien menjelaskan tentang ras tingkat nyeri yang dialaminya, tanda-

tanda fisik dan gejala harus dilaporkan kepada docter,perawat melakukan edukasi

untuk memperhatikan keadaan pasien untuk mengurangi rasa nyeri.

Secara umum,hal yang akan didiskusikan dengan klien selama pemeriksaan

ini adalah tipe anestesi yang akan dipakai dan sensasi yang akan dialami klien

selama menjalani pembiusan. Ketakutan klien terhadap pembiusan harus

diperatikan. Risiko efek samping dan komplikasi diperiksa pada saat ini. Sediaan
12

obat anestesi ditentukan berbagai faktor, seperti usia, kondisi fisik dan psikologis,

jenis pembedahan, dan jenis anestesi yang dipakai (Lestari L, 2014).

2.1.6. Manfaat Edukasi Perawat

Pentingnya profesionalisme perawat dapat dilihat dari beberapa hasil

penelitian yang menunjukkan bahwa perawat berperanan penting dalam usaha

penyembuhan pasien. Salah satu penelitian, Nuralita & Hadjam (2002)

menemukan adanya korelasi negative yang signifikan antara persepsi tentang

layanan. memperkecil pengalaman sakit. Perawat maupun pasien, ada yang

termasuk augmentors, dan ada pula yang termasuk reducers. Kombinasi

augmentors dan reducers di antara perawat dan pasien, dapat menghasilkan

komplikasi dalam menjajagi dan menangani pasien dengan pengalaman sakit.

Mengingat pentingnya profesi perawat bagi kesembuhan pasien, terasa

bahwa diperJukan adanya usaha untuk meningkatkan profesionalisme perawat

Selama ini dunia pendidikan perawat telah mengembangkan kurikulum yang

tentunya telah dipertimbangkan sebaik mungkin (Widyarini N, 2005).

2.2. Nyeri

2.2.1. Defenisi Nyeri

Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya

orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan

tersebut. Nyeri adalah sensasi yang penting bagi tubuh. Sensasi penglihatan, bau,

rasa, sentuhan, dan nyeri merupakan hasil stimulasi reseptor sensorik. Provokasi

saraf-saraf sensorik nyeri menghasilkan reaksi ketidaknyamanan, distress, atau

menderita.
13

Nyeri merupakan suatu perasaan atau pengalaman yang tidak nyaman baik

secara sensori maupun emosional yang dapat ditandai dengan kerusakan jaringan

ataupun tidak (Association for the study of pain). Tipe dari nyeri adalah:

Cutaneous pain, Viseral pain, Neuropathic pain, Acute pain dan chronic pain.

Asosiasi Nyeri Internasional menggambarkan nyeri sebagai perasaan yang tidak

menyenangkan dan pengalaman emosional yang dihubungkan dengan aktual atau

potensial kerusakan jaringan tubuh. Selanjutnya Perry & Potter menyatakan

bahwa nyeri seringkali merupakan tanda yang menyatakan ada sesuatu yang

secara fisiologis terganggu yang menyebabkan seseorang meminta pertolongan.

Nyeri juga merupakan masalah yang serius yang harus direspons dan di intervensi

dengan memberikan rasa nyaman, aman dan bahkan membebaskan nyeri tersebut.

Nyeri adalah salah satu alasan paling umum bagi pasien untuk mencari bantuan

medis dan merupakan salah satu keluhan yang paling umum. Sembilan dari 10

orang Amerika berusia 18 tahun atau lebih, menderita nyeri minimal sekali

sebulan, dan 42% merasakannya setiap hari.

Nyeri abdomen akut dilaporkan berkisar 5–10% pada kunjungan pasien ke

unit gawat darurat. Kegawatan abdomen yang datang ke rumah sakit dapat berupa

kegawatan bedah atau kegawatan non bedah. Penyebab tersering dari akut

abdomen antara lain appendisitis, kolik bilier, kolisistitis, divertikulitis, obstruksi

usus, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis, salpingitis, adenitis mesenterika

dan kolik renal.

Nyeri menjadi tidak efektif atau ketika pasien tidak dapat berfungsi secara

adekuat. Mereka juga mengemukakan bahwa mendengarkan dengan penuh

perhatian, mengkaji intensitas nyeri dan distress, merencanakan perawatan,


14

memberikan edukasi tentang nyeri, meningkatkan penggunaan teknik nyeri non-

farmakologi dan mengevaluasi hasil yang dicapai adalah tanggung jawab Perawat

(Black & Hawk, 2005).

2.2.2. Tenik konsep relaksasi

Teknik relaksasi merupakan intervensi keperawatan secara mandiri untuk

menurunkan intensitas nyeri, Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri

ketika terjadi rasa nyeri serta dapat digunakan pada saat seseorang sehat ataupun

sakit. Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan

merilekskan tegangan otot yang menunjang nyeri. Ada banyak bukti yang

menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam meredakan nyeri. Relaksasi secara

umum sebagai metode yang paling efektif terutama pada pasien yang mengalami

nyeri nyeri kronis dan penulis belum menemukan penelitian yang dilakukan

terhadap nyeri akut pada abdominal pain.

Skal nyeri beragam antara 7 sampai dengan 10, kemudian 6 responden

yang pertama diberikan terapi standar dan 6 responden yang kedua diberikan

kombinasi terapi standar dan tehnik relaksasi. Kelompok pertama ada penurunan

nyeri setelah setengah jam pemberian obat analgetik dengan skala nyeri 6 – 3,

sedangkan kelompok yang kedua penurunan skala nyeri rata-rata dibawah 4,

tehnik relaksasi yang dilakukan adalah membimbing mengatur posisi yang

nyaman, relaksasi otot-otot dan mengatur bernafas dalam.

Manajemen nyeri pada Abdominal Pain meliputi terapi farmakologi dan

non-farmakologi, terapi farmakologi meliputi pemberian analgetik non-opiat dan

opiat, terapi non-farmakologi yang dilakukan meliputi relaksasi dan distraksi,

teknik relaksasi secara spontan dan tidak prosedural sering diterapkan pada
15

pasien-pasien yang mengeluh nyeri dengan berbagai penyebab dan respon yang

dihasilkan pada pasien-pasien dengan Abdominal Pain relatif bervariasi, sebagian

keluhan nyeri pasien dapat teratasi dan dipulangkan serta sebagian lagi klien

berlanjut kepada tindakan diagnostik dan medik lebih lanjut.

Berbagai jenis teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri telah banyak

diterapkan dalam tatanan pelayanan keperawatan. Namun, penggunaan teknik

relaksasi di Indonesia masih belum optimal. Tehnik relaksasi yang paling sering

digunakan yaitu bernafas dalam dan teknik distraksi. Akan tetapi belum ada

prosedur tertulis mengenai teknik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri pada

Abdominal Pain yang diterapkan menjadi standar pelayanan keperawatan

(Syamsiah N.DKK, 2015).

2.2.3. Konsep Teknik Distraksi

a. Pengertian

Distraksi merupakan metode pengalihan perhataian klien ke hal lain

dan dengan demikian menurunkan kewaspadaan klien terhadap nyeri,

bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri sehingga nyeri

berkurang. Teknik distraksi bekerja memberi pengaruh paling baik

untuk jangka waktu yang singkat, serta untuk mengatasi nyeri intensif

yang hanya berlangsung beberapa menit (Potter, dkk, 2006).

b. Jenis teknik distraksi menurut Young & Koopsen (2007)

1. Distraksi visual

Melihat pertandingan,menonton televise, membaca koran, melihat

pemandangan dan gambar termasuk distraksi visual.


16

2. Distraksi pendengaran

Diantaranya mendengarkankan musik yang disukai, individu

dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang

seperti musik klasik dan diminat untuk berkonsentrasi pada lirik

dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan untuk menggerakan

tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang mengetukkan jari

atau kaki.

3. Distraksi bernafas ritmik

Bernafas ritmik, menganjurkan klien untuk memandang focus pada

satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan

melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian

menghembuskan nafas melalui mulut secaraha pelahan dengan

penghituangan satu sampai empat (dalam hati). Menganjurkan klien

untuk berkosentrasi pada sensasi bernafas atau terhadap ganbar yang

memberi ketengan, lanjutkan teknik ini hingga berbentuk pola

pernafasan ritmik.

4. Distraksi intelektual

Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu,

melakukan kegemaran (ditempat tidur) seperti mengumpulkan

perangko, menulis cerita.

5. Distraksi imajinasi terbimbing adalah kegiatan klien membuat

sesuatu bayangan yang menyenangkan dan mengkosentrasikan diri

pada bayangan tersebut serta berangsur-angsur memihatnya


17

2.2.4. Konsep Nyeri

a. Klasifikasi Nyeri

1. Nyeri perifer

Nyeri ini ada tiga macam:

a. Nyeri superfisial, yakni rasa nyeri yang muncul akibat rangsangan

pada kulit dan mukosa.

b. Nyeri viseral, yakni rasa nyeri yang muncul akibat stimulasi pada

reseptor nyeri di rongga abdomen, cranium, dan toraks.

c. Nyeri alih, yakni nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh

dari jaringan penyebab nyeri.

2. Nyeri Sentral

Nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medulla spinalis, batang

otak, dan talamus.

3. Nyeri psikogenik

Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata lain, nyeri

ini timbul akibat pikiran sipenderita sendiri. Seringkali, nyeri ini

muncul karena psikologis, bukan fisiologis.

b. Bentuk nyeri

1. Nyeri akut

Nyeri ini biasanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan.

Awitan gejala mendadak, dan biasanya penyebab serta lokasi nyeri

sudah diketahui. Nyeri akut ditandai dengan peningkatan tegangan otot

dan kecemasan yang keduanya meningkatnya persepsi nyeri

(Andarmoyo, 2013).
18

2. Nyeri kronik

Nyeri ini berlangsung lebih dari enam bulan. Sumber nyeri bias

diketahi atau tidak. Nyeri cenderung hialang timbul dan biasanya tidak

dapat disembuhkan. Selain itu, penginderaan nyeri medajadi lebih

dalam sehingga penderita sukar untuk menunjukan lokasinya. Dampak

dari nyeri ini antara lain penderita menjadi mudah tersinggung dan

sering mengalami insomnia. Akibatnya, mereka menjadi kurang

perhatian, sering merasa putus asa, dan terisolir dari kerabat dan

keluarga. Nyeri kronis biasanya hilang timbul dalam periode waktu

tertentu. Adanya kalanya penderita terbebas dari rasa nyeri

(Andarmoyo, 2013).

c. Mekanisme nyeri

Nyeri merupakan suatu bentuk peringatan akan adanya bahaya

kerusakan jariangan. Nyeri akan membantu individu untuk tetep hidup dan

melakukan kegiatan secara fungsional. Pada kasus-kasus gangguan sensasi

nyeri (misalnya: neuropati akibat diabetes) maka dapat terjadi kerusakan

jaringan yang hebat (Meliala, 2007).

Nyeri terjadi apabila terdapat adanya rangsangan mekanikal, termal

dan kimiawi yang melewati ambang rangsang tertentu. Rangsangan akan

terdeteksi oleh nosiseptor yang merupakan ujung saraf bebas. Rangsangan

akan dibawa sebagai implus saraf melalui saraf A bermielin berkecepatan

hantar yang cepat dan bertanggung jawab terhadap nyeri yang cepat,

tajam, terlokalisasi serta serabut C yang tidak bermielin berkecepatan


19

hantar saraf lambat dan bertanggung jawab atas nyeri yang tumpul dan

tidak terlokalisasi dengan jelas (Moilono,2008).

d. Alat ukur nyeri

Skala penilaian nemerik (Numerik rting Scale, NRS) lebih

digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi data. Dalam hal ini klien

menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif

digunakan saat mengkaji intesitas nyeri sebelum dan setelah intervensi

terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka

direkomendasikan patokan 10 cm (Asmadi, 2012).

2.2.5. Penanganan nyeri

Penanganan nyeri dengan teknik non farmakologi merupakan modal utama

menuju kenyamanan. Dipandang dari segi biaya dan manfaat, penggunaan

manajemen non farmakologi lebih ekonomis dan tidak ada efek sampingnya jika

dibandingkan dengan penggunaan manajemen farmakologi. Selain juga mengurangi

ketergantungan pasien terhadap obat-obatan.

Selain penanganan secara farmakologi, cara lain adalah dengan manajemen

nyeri non farmakologi dengan melakukan teknik relaksasi, yang merupakan

tindakan eksternal yang mempengaruhi respon internal individu terhadap nyeri.

Manajemen nyeri dengan tindakan relaksasi mencakup relaksasi otot,

nafas dalam, masase, meditasi dan perilaku. Teknik relaksasi nafas dalam

merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat

mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam, nafas lambat

(menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas

secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi nafas
20

dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenisasi

darah. Massase didefinisikan sebagai tindakan penekanan oleh tangan pada

jaringan lunak, biasanya otot tendon atau ligamen tanpa menyebabkan pergeseran

atau perubahan posisi sendi guna menurunkan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan

atau meningkatkan sirkulasi (Yusrizal.DKK, 2012).

2.2.6. Tanda dan Gejala

Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam

ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan local pada titik mc.

Burney bila dilakukan penekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.

Derajat nyeri,spasme otot,dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak

tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar

dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal: bila

ujungnya ada pada pelvis,tanda-tanda ini hanya dapat diketahui pada pemeriksaan

rektal. Nyeri pada defekasi dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya

kekakuan pada bagian bawah otot rectum kanan dapat terjadi.

Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah

kiri, yang secara paradooksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran

bawah kanan. Apabila apendiks telah rupture, nyeri dan dapat lebih menyebar:

distensi andomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi klien memburuk

(Adwan GM.DKK, 2016).

2.2.7. Manifestasi klinik

Nyeri terasa pada abdomen kuadran bahwah dan biasanya disertai oleh

demam ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada

titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan titik nyeri akan lepas mungkin akan
21

dijumpain. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau

diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks

melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal,

bila ujungnya pada pelvis, tanda-tanda ini hanyak dapat diketahuai pada

pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukan bahwah apendiks ujung

apendiks deket dengan kandung kemi atau ureter. Apabilah apendiks telah

rupture, nyeri dan dapat lebih menyebar, distensi abdomen terjadi akibat ileus

paralitik dan kondisi klien membusuk (Smeltzer, 2002).

2.2.8. Pengukuran Nyeri

1. Tipe Pengukuran Nyeri

Ada 3 tipe pengukuran nyeri yaitu : self-report measure,

observational measure, dan pengukuran fisiologis.

a. Self-report measure

Penderita yang mengalami nyeri akan memberikan informasi

untuk menyempurnakan pengukuran nyeri. Self-report measure

digunakan dalam berbagai cara. Pengukuran tersebut seringkali

melibatkan penilaian nyeri pada beberapa jenis skala metrik. Seorang

peenderita diminta untuk menilai sendiri rasa nyeri yang dirasakan apakan

nyeri yang berat (sangat nyeri), kurang nyeri dan nyeri sedang.

Menggunakan buku harian merupakan cara lain untuk memperoleh

informasi baru tentang nyerinya jika rasa nyerinya terus menerus atau

menetap atau kronik. Cara ini sangat membantu untuk mengukur

pengaruh nyeri terhadap kehidupan pasien tersebut. Penilaian terhadap

intensitas nyeri, kondisi psikis dan emosional atau keadaan affektif nyeri
22

juga dapat dicatat. Self-report dianggap sebagai standar gold untuk

pengukuran nyeri karena konsisten terhadap definisi/makna nyeri. Nyeri

adalah pengalaman sensorik yang bersifat subyektif, sehingga hasil

pengukuran ini juga bersifat subyektif dan tidak bisa exact. Pengukuran

ini didasarkan pada persepsi nyeri dari pasien, dan persepsi tersebut dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor kejujuran dari pasien.

b. Observational measure (pengukuran secara observasi)

Pengukuran ini adalah metode lain dari pengukuran nyeri.

Observational measure biasanya mengandalkan pada seorang terapis

untuk mencapai kesempurnaan pengukuran dari berbagai aspek

pengalaman nyeri dan biasanya berkaitan dengan tingkah laku

penderita. Pengukuran ini dapat berguna untuk menguatkan hasil self-

report dari pasien, dan juga sangat berguna didalam mengidentifikasi

area-area tubuh lainnya yang penting, khususnya pada pengukuran

fungsi dan faktor ergonomik yang memperburuk atau menyebabkan

nyeri pada saat kerja. Meskipun demikian, pengukuran ini relatif mahal

karena membutuhkan waktu observasi yang lama. Pengukuran ini

mungkin kurang sensitif terhadap komponen subyektif dan affektif dari

nyeri. Yang termasuk dalam observational measure adalah pengukuran

tingkah laku, fungsi, ROM, dan lain-lain.

c. Pengukuran fisiologis

Nyeri dapat menyebabkan perubahan biologis pada denyut nadi,

respirasi, keringat, tension otot dan perubahan lainnya yang berkaitan

dengan respon stress. Perubahan biologis ini dapat digunakan sebagai


23

pengukuran tidak langsung pada nyeri akut, tetapi respon biologis pada

nyeri akut dapat distabilkan dalam beberapa waktu karena tubuh dapat

berusaha memulihkan homeostatisnya. Sebagai contoh, pernapasan atau

denyut nadi mungkin menunjukkan beberapa perubahan yang kecil pada

awal migrain jika terjadi serangan yang tiba-tiba dan keras, tetapi

beberapa waktu kemudian perubahan tersebut akan kembali sebelum

migrain tersebut menetap sekalipun migrainnya berlangsung lama.

Pengukuran fisiologis berguna dalam keadaan dimana pengukuran

secara observasi lebih sulit dilakukan. Yang termasuk dalam

pengukuran fisiologis adalah pemeriksaan denyut nadi, pernapasan.

2. Dimensi Nyeri

Meskipun jalur neuroanatomi dapat diidentifikasi, tetapi masih

tidak jelas mengapa begitu banyak variabilitas yang terjadi pada

penderita nyeri. Secara klinis, beberapa pasien dengan anjuran yang

keras dapat mengalami sedikit nyeri sedangkan yang lainnya dengan

trauma yang kecil dapat meengalami kelemahan secara total akibat nyeri.

Perbedaan ini mungkin dapat dijelaskan secara parsial oleh fakta bahwa

nyeri itu unik atau khas diantara seluruh sense. Nyeri melibatkan 2

komponen utama yaitu : komponen sensorik dan komponen afektif.

Komponen sensorik nyeri digambarkan sebagai rasa tidak enak yang

seringkali dapat diidentifikasi dan dilokalisir pada bagian tubuh tertentu,

dan dapat diidentifikasi derajat intensitasnya. Secara klinis, kami

membatasi intensitas nyeri pada berapa besar rasa sakit yang dirasakan

oleh pasien.
24

Sedangkan komponen afektif nyeri adalah berbeda. Komponen ini

melibatkan serangkaian tingkah laku pasien yang kompleks dimana pasien

mungkin melakukan secara minimal, melepaskannya, atau mengakhiri

stimulus noxious tersebut. Komponen afektif nyeri ini akan

menggambarkan perbedaan yang khas tentang cara-cara individu /

seseorang merasakan nyerinya dan variabilitasnya terhadap pengalaman

nyeri hebat yang dirasakan.

Secara klinis, perbedaan yang paling penting antara aspek

sensorik nyeri dan affektif nyeri adalah perbedaan antara deteksi nyeri

dengan toleransi nyeri. Ambang rangsang untuk deteksi nyeri berkaitan

dengan aspek sensorik nyeri dan dapat terjadi nyeri hebat secara

berulang pada pasien yang berbeda serta dapat terjadi nyeri hebat secara

berulang pada waktu yang berbeda dengan pasien yang sama.

Sedangkan toleransi nyeri sangat variabel dan berkaitan dengan

komponen afektif nyeri. Karena sifatnya multidimensional, maka

toleransi nyeri pada setiap orang tidak akan sama caranya. Oleh karena

itu, untuk memeriksa nyeri secara efektif pada aplikasi klinis maka

terapis harus teliti serta mempertimbangkan komponen sensorik dan

afektif dari pengalaman nyeri pasien.

3. Jenis-jenis Pengukuran Nyeri

Pengukuran nyeri terdiri dari pengukuran komponen sensorik

(intensitas nyeri) dan pengukuran komponen afektif (toleransi nyeri).


25

a. Pengukuran komponen sensorik

Ada 3 metode yang umumnya digunakan untuk memeriksa

intensitas nyeri yaitu Verbal Rating Scale (VRS), Visual Analogue

Scala (VAS), dan Numerical Rating Scale (NRS).

1. VRS adalah alat ukur yang menggunakan kata sifat

untuk menggambarkan level intensitas nyeri yang

berbeda, range dari “no pain” sampai “nyeri hebat”

(extreme pain). VRS merupakan alat pemeriksaan yang

efektif untuk memeriksa intensitas nyeri. VRS biasanya

diskore dengan memberikan angka pada setiap kata sifat

sesuai dengan tingkat intensitas nyerinya. Sebagai

contoh, dengan menggunakan skala 5-point yaitu none

(tidak ada nyeri) dengan skore “0”, mild (kurang nyeri)

dengan skore “1”, moderate (nyeri yang sedang) dengan

skore “2”, severe (nyeri keras) dengan skor “3”, very

severe (nyeri yang sangat keras) dengan skore “4”.

Angka tersebut berkaitan dengan kata sifat dalam VRS,

kemudian digunakan untuk memberikan skore untuk

intensitas nyeri pasien. VRS ini mempunyai keterbatasan

didalam mengaplikasikannya. Beberapa keterbatasan

VRS adalah adanya ketidakmampuan pasien untuk

menghubungkan kata sifat yang cocok untuk level

intensitas nyerinya, dan ketidakmampuan pasien yang

buta huruf untuk memahami kata sifat yang digunakan.


26

2. Numeral Rating Scale adalah suatu alat ukur yang

meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai

dengan level intensitas nyerinya pada skala numeral

dari 0 – 10 atau 0 – 100. Angka 0 berarti “no pain” dan

10 atau 100 berarti “severe pain” (nyeri hebat). Dengan

skala NRS-101 dan skala NRS-11 point, dokter/terapis

dapat memperoleh data basic yang berarti dan kemudian

digunakan skala tersebut pada setiap pengobatan

berikutnya untuk memonitor apakah terjadi kemajuan.

Skala ini sangat sederhana dan cocok untuk beragam

pasien daripada skala lainnya.


27

3. VAS adalah alat ukur lainnya yang digunakan untuk

memeriksa intensitas nyeri dan secara khusus meliputi 10-15 cm garis,

dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung

kiri diberi tanda “no pain” dan ujung kanan diberi tanda “bad pain”

(nyeri hebat). Pasien diminta untuk menandai disepanjang garis

tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang dirasakan pasien.

Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang

diberi oleh pasien (ukuran mm), dan itulah skorenya yang

menunjukkan level intensitas nyeri. Kemudian skore tersebut dicatat

untuk melihat kemajuan pengobatan/terapi selanjutnya. Secara

potensial, VAS lebih sensitif terhadap intensitas nyeri daripada

pengukuran lainnya seperti VRS skala 5-point karena responnya yang

lebih terbatas. Begitu pula, VAS lebih sensitif terhadap perubahan

pada nyeri kronik daripada nyeri akut (Carlson, 1983 ; McGuire,

1984). Ada beberapa keterbatasan dari VAS yaitu pada beberapa

pasien khususnya orang tua akan mengalami kesulitan merespon grafik


28

VAS daripada skala verbal nyeri (VRS) (Jensen et.al, 1986; Kremer

et.al, 1981). Beberapa pasien mungkin sulit untuk menilai nyerinya

pada VAS karena sangat sulit dipahami skala VAS sehingga supervisi

yang teliti dari dokter/terapis dapat meminimalkan kesempatan error

(Jensen et.al, 1986). Dengan demikian, jika memilih VAS sebagai alat

ukur maka penjelasan yang akurat terhadap pasien dan perhatian yang

serius terhadap skore VAS adalah hal yang vital.

b. Pengukuran komponen afektif

Secara klinis, peengukuran intensitas nyeri itu sendiri tidak

cukup untuk menentukan gambaran komplet dari pengalaman nyeri

pasien. Hal ini perlu untuk mengukur komponen afektif sebaik

mungkin. Pertanyaan berikut ini sangat berkaitan dengan komponen

afektif nyeri yaitu : Apakah nyerinya sampai terasa tidak

menyenangkan (tidak enak)? Seberapa besar nyerinya dapat

mempengaruhi tingkah lakunya? Dapatkah pasien tersebut mengatasi

nyerinya? Mengapa ada perbedaan kemampuan pada setiap pasien

untuk mengatasi nyerinya?


29

VRS dapat memeriksa komponen afektif nyeri, dengan

menggunakan beberapa kata sifat yang menggambarkan level rasa tidak

enak seperti mengganggu, menyesakkan, sangat nyeri, atau sangat

menderita. Pasien diminta untuk memilih salah satu kata diatas sesuai

dengan gambaran level affektif nyerinya. VRS juga dapat diskore

berdasarkan kata sifat tersebut. VRS untuk mengukur afektif nyeri

mempunyai 2 kekurangan yaitu validitasnya dan representasi yang salah

dari nyerinya.

VAS dapat memeriksa komponen afektif nyeri dengan garis

skala yang sama dengan intensitas nyeri, kecuali kata pada setiap ujung

garis adalah berbeda. Pada batas ujung kiri diberi tanda “no bad” (tidak

ada rasa tidak enak) dan pada batas ujung kanan diberi tanda “most

unpleasent feeling possible for me” (rasa sangat tidak enak). VAS

untuk afektif nyeri adalah sensitif terhadap perubahan persepsi afektif

nyeri seseorang sehingga membuat pengukuran ini menjadi valid.

Sebagaimana dengan VAS untuk intensitas nyeri, beberapa pasien

mungkin mengalami kesulitan dengan adanya representasi grafik dari

VAS. Oleh karena itu, terapis dapat menghasilkan pengukuran yang

kurang akurat jika tidak diterapkan teknik yang sangat teliti.

2.3. Pre Operasi

Pre operasi, informasi yang dibutuhkan oleh pasien dapat diberikan secara

tertulis dan lisan. Informasi yang diberikan harus terstruktur baik tentang

penyakit, pengobatan, serta perawatan yang penting untuk memfasilitasi pasien


30

agar dapat memahami dan mendiskusikan hal yang berkaitan dengan operasi yang

akan dijalaninya termasuk risiko komplikasi dari prosedur yang dijalaninya

(Robby A.dkk, 2015).

Pre operasi merupakan suatu respon terhadap suatu pengalaman yang

dianggap oleh pasien sebagai suatu ancaman terhadap peranya dalam hidup

integritas tubuh bahkan kehidupan sendiri. Pre operasi terdapat respon yang

mempengaruhi slah satunya respon fisiologi pada kecemasan mneliputi palpasi,

jantung berdebar, tekanan darah meningkat, denyut nadi menurun dan nafas cepat.

Pre operasi dapat diatasi dengan melakukan relaksasi untuk mengontrol

kecemasan, salah satunya dengan mendengarkan musik. Tujuanya terapi msuik

klasik adalah membantu mengekspresikan perasaan, mengurangi ketegangan otot,

dan menurunkan kecemasan pre operasi. Sedangkan efek biologis akan menurunkan

dan meningkatkan energy otot, frekuensi nafas dan nadi menjadi teratur, tekanan

darah stabil, dan fungsi endokrin.

Edukasi praoperasi sangat penting untuk mencapai hasil pembedahan yang

positif. Banyak penelitian yang mendukung edukasi edukasi preoperatife dapat

mengurangi kejadian komplikasi pascaoperasi dan lama rawat inap. Kebutuhan

edukasi, tingkat kecemasan, dan ketakutan terhadap pembedahan dikaji secara

individu sedingga rencana edukasi yang cocok dengan klien dapat disusun.

Waktu edukasi praoperasi disesuaikan dengan kondisi klien. Idelnya,

tersedia waktu yabng cukup untuk memberikan instruksi kepada klien dan

kesempatan bertanya. Jika edukasi yang diberikan terlalu jauh dengan waktu

operasi, klien akan lupa dengan bagian penting dari edukasi tersebut. Disisi lain,

edukasi yang diberikan pada waktu yang terlalu dekat dengan jadwal operasi akan
31

membuat klien terlalu cemas untuk mendalami apa yang diajarkan. Pada sebagian

besar kasus, klien datang pada hari yang sama dengan jadwal operasi.

Meruapakan hal yang sangat penting agar klien menerima instruksi lisan atau

tulisan sebelum waktu ini, sehingga perawat dapat dengan mudah mengulang

kembali edukasi dan menjawab pertanyaan dari klien dan keluarganya pada hari

masuk tersebut (Lestari L, 2014).

Informasi yang diberikan ke klien sebelum pembedahan yang harus

disesuaikan dengan kebutuhan klien masing-masing. Informasi yang didapat

berbentuk: (1) sensoris, (2) psikososial, atau (3)procedural. Informasi sensorik

menekankan pada pengelihatan,suara, dan perasaan saat berada diruangan operasi.

Beri tahu klien bahwa ruangan operasi dan sediaan obat cair terasa dingin tetapi

selimut yang hangat tersedia. Banyak ruangan bedah sekarang dilengkapi musik

diruang pre dan intraoperasinya. Klien diberikan headphones dan dapat memilih

jenis musik yang diinginkan untuk membantunya menjadi relaks dan mengurangi

suara ekternal yang tidak enak diruangan operasi (Lestari L, 2014).

Diagnosa keperawatan psikososial yang umum dijumpai pada periode

praoperasi mencakup kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan

pengalaman bedah yang tidak biasa dan kecemasan dan ketakutan yang

berhubungan dengan nyeri, kematian, cacat fisik, atau hal yang tidak diketahui.

Hasil dari pemecahan masalah ini harus dicapai dalam jangka waktu praoperasi

yang singkat (Lestari L, 2014)

2.4. Apendiktomi

2.4.1. Pengertian
32

Apendiktomi adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira

10 cm 94 inci, melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.

Apendiktomi berisi makanan dan menggosokan diri secara teratur ke dalam

sekum. Karena penggosongannya tidak efektif dan lumennya kecil,

apendiktomi cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi (Adwan

GM.DKK, 2016).

Apendiktomi adalah pengangkatan terhadap apendiks terimplamasi dengan

prosedur atau pendekatan endoskopi (Adwan GM.DKK, 2016). Apendiktomi

adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm 94 inci, melekat

pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.Apendiktomi berisi makanan dan

menggosokan diri secara teratur ke dalam sekum.Karena penggosongannya tidak

efektif dan lumenya kecil, apendiktomi cenderung menjadi tersumbat dan rentan

terhadap infeksi (Adwan GM.DKK, 2016).

2.4.2. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Apendiktomi

Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran

kanan bawah rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen

darurat. Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendisitis dapat

ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang

dilaporkan. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu

menurun. Insiden pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali

pada umur 20-30 tahun insiden laki-laki lebih tinggi.

Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau

periumbilikus yang disertai dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih
33

ke kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan.

Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise,dan demam yang tidak terlalu tinggi.

Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan

muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang

menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin

progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik

dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat

membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga

muncul. Bila tanda rovsing, psoas, dan obturatorpositif, akan semakin

meyakinkan diagnosa klinis .

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah

sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait

dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi

terjadinya kerusakan. Nyeri pasca operasi mungkin sekali disebabkan oleh luka

operasi, tetapi kemungkinan sebab lain harus dipertimbangkan. Sebaiknya

pencegahan nyeri sebelum operasi direncanakan agar penderita tidak terganggu

oleh nyeri setelah pembedahan. Cara pencegahantergantung pada penyebab dan

letak nyeri dan keadaan penderitanya (Yusrizal, 2012).

Apendektomi merupakan bagian dari prosedur laparatomy. Pasien post

laparatomy memerlukan perawatan yang maksimal untuk mempercepat

pengembalian fungsi tubuh. Tindakan apendektomi merupakan peristiwa

kompleks sebagai ancaman potensial atau aktual pada integritas seseorang baik

biopsikososial spiritual yang dapat menimbulkan respon berupa nyeri. Rasa nyeri

tersebut biasanya timbul setelah operasi. Salah satu dari perawatan klien post
34

operasi untuk mengurangi nyeri adalah dengan dilakukannya mobilisasi dini.

Dapat dengan mudah mengulang kembali edukasi dan menjawab pertanyaan dari

klien dan keluarganya pada hari masuk tersebut (Lestari L, 2014).

Informasi yang diberikan ke klien sebelum pembedahan yang harus

disesuaikan dengan kebutuhan klien masing-masing. Informasi yang didapat

berbentuk: (1) sensoris, (2) psikososial, atau (3) procedural. Informasi sensorik

menekankan pada pengelihatan,suara, dan perasaan saat berada diruangan

operasi. Beri tahu klien bahwa ruangan operasi dan sediaan obat cair terasa

dingin tetapi selimut yang hangat tersedia. Banyak ruangan bedah sekarang

dilengkapi musik diruang pre dan intraoperasinya. Klien diberikan headphones

dan dapat memilih jenis musik yang diinginkan untuk membantunya menjadi

relaks dan mengurangi suara ekternal yang tidak enak diruangan operasi

(Lestari L, 2014).

Diagnosa keperawatan psikososial yang umum dijumpai pada periode

praoperasi mencakup kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan

pengalaman bedah yang tidak biasa dan kecemasan dan ketakutan yang

berhubungan dengan nyeri, kematian, cacat fisik, atau hal yang tidak diketahui.

Hasil dari pemecahan masalah ini harus dicapai dalam jangka waktu praoperasi

yang singkat (Lestari L, 2014).

2.4.3. Klasifikasi Apendiktomi

Klasifikasi apendisitis tebagi menjadi 2 yaitu:

a. Apendisitis akut dibagi atas : apendisitis akut fokalis atau segmentalis,

yaitu setelah sembuh timbul struktur local. Apendiksitis purulentadifusi

yaitu sudah bertumpuk nanah.


35

b. Apendiksitis kronis dibagi atas : apendiksitis kronis fokalis atau

parsial, setelah sembuh akan timbul striktur local. Apendiksitis

kronis obliteritiva yaitu apendiks miring,biasanya ditemukan pada

usia tua.

Antatomi dan fisiologi appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial

(organ yang tidak berfungsi) yang melekat seperti jari.

a. Letak appendiks

Apendiks terletak diujung sacrum kira-kira 2cm dibawah anterior ileo

sakrum, bermuara dibagian posterior dan medial dari saekum. Pada

pertemuan ketiga taenia yaitu : taenia anterior, medial dan posterior.

Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daera 1/3

tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat.

b. Ukuran dan isi appendiks

Panjang appendiks rata-rata 5-10 cm. Lebar 0,3-0,7 cm. Isi 0,1 cc,

cairan bersifat bsa mengandung amylase dan musin.

c. Posisi appendiks

Laterosekal : dilateral kolon asendens. Didaerah inguinal, membelok

keareh dinding abdomen pelvis minor.

2.4.4. Etiologi

Apendiksitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses

radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya,

hyperplasia jaringan limfa, fekalich, tumor apendiks, dan cacing aksaris yang

menyumbat. Ukserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini.
36

Namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks,

diantaranya :

1. Faktor Sumbatan

Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendik

(90%) yang diikuti infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh

hyperplasia jaringan limfoid sukmukosa, 35% karena statis fekal, 4%

karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh

parasite dan cacing. Obstuksi yang disebabkan oleh fekalith dapat

ditemui pada bermacam-macam apendiks akut diantaranya: fekalith

ditemukan 40% pada kasus apendiks kasus sederhana, 65% pada kasus

apendiks akut ganggreonosa tanpa rupture dan 90% pada kasus

apendiks akut dengan rupture.

2. Faktor bakteri

infeksi enterogen merupakan faktor genesis primer pada apendiksitis

akut. Adanya fekolith pada lumen apendiks yang telah terinfekksi

memburuk dan memperlambat infeksi, karena terjadinya peningkatan

stagnasi feses dalama lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak

ditemukan adalahg kombinasi antara bakteriodes fragilis dan E.Coli lalu

Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus.

Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman aneorop

sebesar 96% dan aerob lebih dari 10%.

3. Kecenderungan familiar

Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter dari

organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan
37

letaknya yang mudah keluarga terutama dengan diet dengan rendah serat

dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi

lumen.

4. Faktor ras dan diet

Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makan sehari-hari.

Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai

resiko lebih tinggi dari negara yang pola makannya banyak serat. Namun

saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah mengubah

pola makan mereka kepola makan lebih tinggi. Justru negara berkembang

yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih kepola makan rendah

serat, memiliki resiko apendiksitis yang lebih tinggi.

5. Faktor infeksi dan saluran pernafasan

Setelah mendapat penyakit saluran pernafasan akut terutama epidemic

influenza dan penyumonitis, jumalh kasus apendiktis meningkat. Tapi

terus hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernafasan dapat

menimbulkan seperti gejala permulaan apendiksitis (Adwan GM, 2016).

2.4.5. Penatalaksanaan

Pembedahan diindikasikan bila diagnose appendiks telah ditigakan.

Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. Analgesik

dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan. Apendiktomi (pembedahan untuk

mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko

perforasi.

Apendiktomi adalah operasi pengangkatan apendiks vermiformis yang

meradang atau yang sering disebut apendiksitis. Terapi apendiksitis dilakukan dengan
38

membuang apendiks yang telah mengalami inflamasi. Apendiktomi dapat dilakukan

dengan dua teknik, yaitu teknik konvensional dan laparoskopi (Musa, 2011).

Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anastesi umumnya atau spinal

dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparaskopi, yang merupakan metode

terbaru yang sangat efektif.

Konsep asuhan keperawatan sebelum operasi dilakukan klien peru

dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga klen perlu diberikan

pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah operasi dan diberikan

latihan-latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan

dalam priode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien meras cemas

atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi.

a. Laparatomi

1. Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Ada 4 cara

yaitu:

a. Midline incision.

b. Paramedian, yaitu : sedikit ketepi dari garis tengah (kurang lebih

2,5 cm), panjang (12,5 cm).

c. Trasverse upper abdomen incision, yaitu : insisi dibagian atas,

misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.

d. Trasverse lower kurang lebih 4 cm diatas anterior spinal iliaka,

misalnya : pada operasi apendiktomi.

2. Tujuan perawat post laparatomi:

a. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.

b. Mempercepat penyembuhan.
39

c. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti

sebelum operasi.

d. Mempertahankan konsep diri pasien.

e. Mempersiapkan pasien pulang.

3. Indikasi

a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) rupture hepar.

b. Peritonitis.

c. Perdaharan saluran pencernaan.

d. Sumbutan pada usus halus dan usus besar.

e. Masa pada abdomen.

4. Latihan-latihan fisik

Latihan nafas dalam, latihan batuk, mengerakan otot-otot tangan,

mengerakan otot-otot kaki, latihan alih baring dan turun ditempat tidur.

Semua dilakukan ke 2 post operasi.

5. Komplikasi

a. Gangguan perkusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.

Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah

operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut

lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah

sebagian emboli keparu-paru, hati dan otak. Pencegahan

tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulantif dini dan

kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

b. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan luka infeksi. Infeksi

luka sering muncul pada 36-46 jam setelah operasi. Organisme


40

yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus

aurens, organisme, gram positif. Stapilokokus mengakibatkan

pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting

adalah perawatan luka yang memperhatikan aseptik dan antiseptic.

c. Buruknya integeritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau

eviserasi. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.

Eviserasi luka adalah keluarga organ-organ dalam melalui insisi.

d. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka,

kesalahan menutup waktu pembedahan,ketegangan yang berat pada

dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.

6. Proses penyembuhan luka

a. Fase pertama

Berlangsung sampai hari ketiga. Batang leukosit banyak yang

rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi

penyembuhan dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai

kerangka.

b. Fase kedua

Dari hari ke 3 sampai hari ke 14 pengisian oleh kolagen, seluruh

pinggiran epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru

tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

c. Fase ketiga

Sekitar 2 samapai 10 minggu. Kolagen terus menerus ditimbun,

timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.

d. Fase keempat
41

Fase terakhir penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

7. Pengembalian fungsi fisik

Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan

latihan nafas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.