Вы находитесь на странице: 1из 43

PENGENDALIAN Colletotrichum spp.

TERBAWA BENIH
CABAI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO

LILIH NAELUN NAJAH

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul “Pengendalian


Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai Menggunakan Gelombang Mikro”
adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2016

Lilih Naelun Najah


NIM A251130161
RINGKASAN

LILIH NAELUN NAJAH. Pengendalian Colletotrichum spp. Terbawa Benih


Cabai Menggunakan Gelombang Mikro. Dibimbing oleh MOHAMAD
RAHMAD SUHARTANTO dan WIDODO.

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas


hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia karena memiliki
nilai ekonomi tinggi. Cabai memiliki peranan penting dalam perekonomian
nasional karena harganya yang sering mengalami fluktuasi dan bahkan
mempengaruhi inflasi.
Penyakit penting pada tanaman cabai salah satunya adalah penyakit
antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp. Spesies
cendawan Colletotrichum yang paling banyak ditemukan di Indonesia antara lain
C. acutatum, C. capsici, dan C. gloeosporioides. Perlu adanya alternatif
pengendalian yang mudah, murah, cepat dan ramah lingkungan seperti
penggunaan gelombang mikro (microwave).
Gelombang mikro merupakan gelombang elektromagnetik yang mempunyai
frekuensi super tinggi yaitu berkisar antara 300 MHz-300 GHz. Gelombang mikro
dapat digunakan dalam komunikasi, navigasi dan industri. Pemanasan gelombang
mikro dalam bidang industri digunakan untuk pengeringan, ekstraksi minyak,
aplikasi medis, pengendalian hama, dan meningkatkan perkecambahan benih.
Frekuensi yang biasa digunakan adalah 2 450 MHz karena frekuensi tersebut
mudah diserap oleh molekul air yang ada di setiap sel hidup. Perlakuan benih
dengan menggunakan gelombang mikro dapat menjadi alternatif pengendalian
patogen terbawa benih yang efektif dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa
benih cabai menggunakan gelombang mikro dengan tetap mempertahankan mutu
fisiologis benih. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi
Benih, Institut Pertanian Bogor dari bulan Juli sampai dengan Desember 2015.
Percobaan pertama menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas
dua faktor, faktor pertama adalah kadar air benih terdiri atas tiga taraf yaitu 4.31,
6.33, dan 8.25%, dan faktor kedua adalah lama pemanasan gelombang mikro
terdiri atas enam taraf yaitu 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 detik. Kadar air terbaik
digunakan pada percobaan kedua. Percobaan kedua menggunakan RAL satu
faktor yaitu lama pemanasan gelombang mikro terdiri atas tujuh taraf yaitu 0, 10,
20, 30, 40, 50 detik dan perlakuan fungisida sistemik berbahan aktif benomil 0.5 g
L-1 sebagai pembanding.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Colletotrichum spp. yang ditemukan
pada benih cabai terdiri atas 4 spesies yaitu C. acutatum, C. capsici, C.
gloeosporioides, and Colletotrichum sp. Cendawan C. acutatum merupakan
cendawan yang paling banyak menginfeksi benih cabai dibandingkan dengan
spesies Colletotrichum lainnya. Gelombang mikro dapat mengendalikan C.
acutatum dengan tingkat efikasi sebesar 64.3% serta dapat mempertahankan
viabilitas benih cabai pada kadar air rendah (4.31%) dan lama pemanasan
gelombang mikro 40 detik.

Kata kunci : benomil, efikasi, kadar air benih, tular benih


SUMMARY

LILIH NAELUN NAJAH. Control on Colletotrichum spp. Seed Borne Pathogen


of Chili Using Microwave. Supervised by MOHAMAD RAHMAD
SUHARTANTO and WIDODO.

Chili (Capsicum annuum L.) is one of horticulture commodities that


cultivated by many Indonesian farmers because of high economy values. Chili
plays role in national economy because of the fluctuating price and its impact to
inflation.
One of the important disease in chili is anthracnose which caused by
Colletotrichum spp fungal. Colletotrichum species which can be found in
Indonesia are Colletotrichum acutatum, C. capsici, and C. gloeosporioides. There
are need to find alternative ways for disease controlling that are uncomplicated,
inexpensive, rapid, and eco-friendly like microwave.
Microwave is an electromagnetic wave having extremely high frequency
from 300 MHz-300 GHz. Microwave usually used in communication, navigation,
and industries. In industries, microwave heating used for drying, oil extraction,
medical application, pest control, and increasing seed germination. The frequency
which commonly used is 2 450 MHz because of easy absorbed by water
molecules which exist in every living cell. Seed treatment using microwave can be
an alternative way to control seed borne pathogens of chili effectively and
efficiently.
The purpose of this research was to control the seedborne Colletotrichum
spp. of chili using microwave while still maintain the physiological seed quality.
The research was conducted at the Seed Science and Technology Laboratory of
Bogor Agricultural University from July to December 2015. The first experiment
used a completely randomized design (RAL) with two factors, the first factor was
seed water content consisted of three levels of 4.31, 6.33, and 8.25%, and the
second one was microwave heating duration consisted of six levels of 0, 10, 20,
30, 40, 50 seconds. The best seed water content then was used in the second
experiment. The second experiment used RAL with one factor that was
microwave heating duration consisted of seven levels of 0, 10, 20, 30, 40, 50
seconds and systemic fungicide with active ingredient benomyl 0.5 g L-1 as check
treatment.
The results showed that there were four species of Colletotrichum spp which
could be found, that were C. acutatum, C. capsici, C. gloesporioides, and
Colletotrichum sp. Colletotrichum acutatum is the most infected chili seeds
compared with other Colletotrichum species. Microwave could control C.
acutatum with efficacy rate of 64.5% and also maintained the viability of chili
seed on low water content (4.31%) and microwave heating period for 40 seconds.

Keywords: benomyl, efficacy, seed water content, seedborne


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PENGENDALIAN Colletotrichum spp. TERBAWA BENIH
CABAI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO

LILIH NAELUN NAJAH

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Penguji pada Ujian Tesis: Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS
Judul Tesis : Pengendalian Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai
Menggunakan Gelombang Mikro
Nama : Lilih Naelun Najah
NIM : A251130161

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr Ir M. Rahmad Suhartanto, MSi Dr Ir Widodo, MS


Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Ilmu dan Teknologi Benih

Dr Ir Endah Retno Palupi, MSc Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr

Tanggal Ujian: 25 April 2016 Tanggal Lulus:


PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian
dengan judul Pengendalian Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai
Menggunakan Gelombang Mikro dilaksanakan sejak bulan Juli 2015.
Terima kasih penulis ucapkan kepada: Dr Ir M. Rahmad Suhartanto, MSi
selaku ketua komisi pembimbing dan Dr Ir Widodo, MS selaku anggota komisi
pembimbing, atas segala arahan dan bimbingan yang telah diberikan kepada
penulis; Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS dan Dr Dewi Sukma, SP MSi yang telah
memberikan saran dalam penyempurnaan tesis ini. Dr Ir Endah Retno Palupi,
MSc selaku ketua program studi Ilmu dan Teknologi Benih, dan seluruh dosen
atas ajaran dan bimbingannya. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada
Pemerintah Daerah Provinsi Maluku atas Beasiswa Pendidikan Pascasarjana yang
telah penulis terima selama ini serta Pimpinan dan Staf Balai Pengawasan dan
Sertifikasi Benih/Bibit Pertanian Peternakan Provinsi Maluku atas dukungannya.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, suami (Basnainy
Thio), anak-anak (M. Rizky Thio, Fauzan Althaf Thio, Zaidan Azka Thio), dan
seluruh keluarga besar atas segala doa dan kasih sayangnya. Teman-teman Ilmu
dan Teknologi Benih 2013, teman-teman Fitopatologi 2013 dan 2014, serta
seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas segala ilmu dan
kebaikan yang diberikan.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2016

Lilih Naelun Najah


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 3
Benih Cabai 3
Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai 4
Gelombang Mikro 7
Kadar Air Benih 9
3 METODE 9
Tempat dan Waktu Penelitian 9
Sumber Bahan 9
Pelaksanaan Percobaan 10
Percobaan I Pengaruh Kadar Air dan Lama Pemanasan Gelombang Mikro
Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Cabai 11
Percobaan II Pengaruh Lama Pemanasan Gelombang Mikro Terhadap
Perkembangan Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai 13
Analisis Data 14
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 15
Pengaruh Gelombang Mikro Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Cabai 15
Pengaruh Gelombang Mikro Terhadap Infeksi Colletotrichum Spp. dan
Hubungannya Dengan Daya Berkecambah Benih 18
5 KESIMPULAN 22
Kesimpulan 22
DAFTAR PUSTAKA 22
RIWAYAT HIDUP 27
DAFTAR TABEL
1 Interaksi kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro terhadap
viabilitas benih 15
2 Interaksi kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro terhadap
vigor benih 17
3 Persentase tingkat infeksi Colletotrichum spp. 18
4 Hasil identifikasi berdasarkan pertumbuhan koloni pada media PDA
selama 14 hari dan bentuk konidia Colletotrichum spp. 19
5 Pengaruh lama pemanasan gelombang mikro terhadap daya
berkecambah (%) dan tingkat infeksi Colletotrichum spp. 20
6 Tingkat efikasi pemanasan gelombang mikro dan fungisida benomil
terhadap tingkat infeksi C. acutatum 22

DAFTAR GAMBAR
1 Irisan melintang benih cabai: kotiledon (C), endosperm (E), hipokotil
(H), mikrofil (M), radikula (R), kulit benih (SC) 4
2 Konidia C. acutatum (a), C. capsici (b), C. gloeosporioides (c) 5
3 Gejala penyakit antraknosa pada buah cabai 6
4 Komponen-komponen oven microwave 8
5 Diagram alir penelitian 10
6 Nilai LD50 berdasarkan persentase DB benih cabai kadar air 4.31%
selama pemanasan gelombang mikro 17
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas


hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia karena memiliki
nilai ekonomi tinggi. Cabai juga mempunyai peranan penting dalam
perekonomian nasional karena harganya yang sering mengalami fluktuasi dan
bahkan mempengaruhi inflasi. Produktivitas cabai nasional pada tahun 2014
adalah sebesar 8.35 ton ha-1 (BPS 2015). Nilai tersebut masih sangat rendah jika
dibandingkan dengan potensi hasilnya yang dapat mencapai 20 ton ha-1 (Syukur et
al. 2010). Salah satu penyebab dari rendahnya produktivitas cabai adalah karena
penggunaan benih yang bermutu rendah.
Pengunaan benih bermutu merupakan faktor utama dalam peningkatan
produktivitas cabai. Benih bermutu mempunyai beberapa karakteristik
diantaranya viabilitas dan vigor yang tinggi, murni tidak tercampur oleh varietas
lain, bersih tidak tercampur kotoran atau benih tanaman lain, dan bebas dari
organisme pengganggu tanaman (OPT) (Sumarni & Muharam 2005).
Karakteristik tersebut digolongkan menjadi mutu fisiologis, genetik, fisik, dan
patologis (kesehatan benih). Jika suatu benih tidak memenuhi syarat keempat
karakteristik tersebut maka akan menyebabkan penurunan hasil produksi (Ilyas
2012).
Benih merupakan penyebar pasif dari beberapa penyakit terbawa benih
(seedborne) yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti cendawan, bakteri,
virus dan nematoda. Patogen terbawa benih tersebut dapat menyebar bersama
benih, di permukaan maupun di dalam benih yang biasanya dapat mengakibatkan
kehilangan hasil produksi yang cukup besar (Chigoziri & Ekefan 2013). Benih
yang secara visual tampak sehat, bukan berarti benih tersebut sehat. Benih yang
terinfeksi penyakit merupakan sumber inokulum yang akan menularkan dan
menyebar di lapangan. Perlu adanya pengujian kesehatan benih untuk mengetahui
status kesehatan suatu lot benih, sehingga hasilnya dapat menentukan cara
perlakuan benih dalam upaya pengendalian patogen terbawa benih atau
mengurangi resiko penularan penyakit (Dirjen Tanaman Pangan 2005).
Cendawan merupakan kelompok terbesar dari patogen yang dapat terbawa
benih atau tertular (transmitted) melalui benih. Cendawan masuk ke dalam
tanaman dan benih melalui bukaan alami seperti hidatoda, mikrofil, stomata, dan
melalui luka yang disebabkan oleh gesekan air hujan, tiupan angin, serangga,
binatang, manusia, atau mikroorganisme lain (Agarwal & Sinclair 1996).
Penyakit penting pada tanaman cabai salah satunya adalah penyakit
antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp. (Duriat et al.
2007). Penyakit ini dapat menurunkan hasil produksi cabai di Indonesia sebesar
10 - 80% pada musim hujan dan 2 - 35% pada musim kemarau. Spesies cendawan
Colletotrichum yang paling banyak ditemukan antara lain Colletotrichum
acutatum, C. capsici, dan C. gloeosporioides (Widodo 2007). Penyakit antraknosa
dapat menginfeksi buah muda maupun buah matang dan membuat buah menjadi
busuk. Gejala pada buah, yaitu terdapat luka melingkar membentuk lekukan ke
2

dalam berwarna merah tua sampai coklat muda, dengan berbagai bentuk jaringan
konsentrik dari aservuli cendawan yang seringkali basah dan berwarna gelap.
Spora yang berwarna pucat kekuningan sampai warna merah muda tersebar pada
garis-garis konsentrik. Buah cabai bisa hancur 100% karena antraknosa (Duriat et
al. 2007; Than et al. 2008).
Upaya pengendalian penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen
terbawa benih yang biasa dilakukan yaitu dengan perlakuan benih menggunakan
bahan kimia seperti fungisida sistemik, namun penggunaannya dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan dan akan berpengaruh terhadap kesehatan
manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (Zhang et al. 2011) dan
juga dapat menimbulkan resistensi cendawan patogen terhadap fungisida (Deising
et al. 2008). Oleh karena itu perlu adanya alternatif pengendalian lain yang mudah,
murah, cepat dan ramah lingkungan seperti penggunaan gelombang mikro
(microwave).
Gelombang mikro merupakan gelombang elektromagnetik yang mempunyai
frekuensi sangat tinggi yaitu berkisar antara 300 MHz-300 GHz. Gelombang
mikro dapat digunakan dalam komunikasi, navigasi dan industri. Pemanasan
gelombang mikro dalam bidang industri digunakan untuk pengeringan, ekstraksi
minyak, aplikasi medis, pengendalian hama, dan meningkatkan perkecambahan
benih (Brodie 2012). Frekuensi yang biasa digunakan adalah 2 450 MHz karena
frekuensi tersebut mudah diserap oleh molekul air yang ada di setiap sel hidup.
Gelombang mikro memiliki efek panas karena dapat meningkatkan suhu.
Peningkatan suhu tersebut dihasilkan oleh energi yang diserap akibat pergerakan
medan listrik (Iuliana et al. 2013).
Pemanfaatan gelombang mikro untuk mengendalikan cendawan patogen
terbawa benih telah banyak dilaporkan antara lain dapat mengendalikan Fusarium
semitectum pada benih jagung (Vassanacharoen et al. 2006), Alternaria alternata
pada benih aster cina (Han 2010), Penicillium spp. pada benih buncis (Tylkowska
et al. 2010), Fusarium spp. dan Microdochium nivale pada benih gandum (Knox
et al. 2013), Fusarium subglutinan dan Aspergillus niger pada benih jagung manis
(Arengka 2014). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengendalian
penyakit tanpa merusak mutu fisiologis benih, serta dapat digunakan secara cepat,
tepat dan mudah.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa


benih cabai menggunakan gelombang mikro serta dapat mempertahankan mutu
fisiologis benih.
3

2 TINJAUAN PUSTAKA

Benih Cabai

Benih merupakan faktor penentu keberhasilan dalam budidaya tanaman.


Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya tanaman.
Untuk mendapatkan benih bermutu tersebut, selain diperlukan benih sumber
dengan mutu genetik tinggi, perlu diperhatikan juga cara budidaya tanaman yang
optimal, pemeliharaan, panen, pasca panen, dan penyimpanan benih yang baik
(Kusandriani & Muharam 2005).
Benih bermutu mempunyai empat karakteristik, yaitu mutu genetik, mutu
fisiologis, mutu fisik, dan mutu kesehatan benih. Mutu genetik berhubungan
dengan kemurnian genetik, tidak tercampur varietas lain. Isolasi dan seleksi perlu
dilakukan untuk menghindari terjadinya persilangan antar varietas sehingga mutu
genetik tetap terjaga. Mutu fisiologis berhubungan dengan waktu panen benih
yang sangat berpengaruh terhadap mutu benih awal dan umur simpan benih yang
lebih panjang, sehingga panen sebaiknya dilakukan pada saat buah mengalami
masak fisiologis yang ditandai dengan buah sudah berwarna merah. Mutu fisik
berhubungan dengan fisik benih yang harus tampak bersih bebas dari kotoran dan
tidak tercampur dengan benih tanaman lain, sehat, bernas, tidak rusak, tidak
keriput dan berukuran normal. Mutu kesehatan benih berhubungan dengan ada
tidaknya serangan penyakit pada benih baik itu penyakit yang terbawa benih atau
tidak (Kusandriani & Muharam 2005).
Struktur benih terdiri dari embrio, cadangan makanan dan kulit benih.
Embrio merupakan bagian yang paling penting dari benih, memiliki ukuran yang
pada umumnya sangat kecil dibandingkan dengan bagian benih lainnya. Embrio
seperti tanaman miniatur yang terdiri dari radikula, plumula, satu atau dua
kotiledon dan epikotil atau hipokotil tergantung dari jenis tanaman. Cadangan
makanan terdapat pada kotiledon, endosperm atau perisperm. Kotiledon berasal
dari zigot dan merupakan bagian dari embrio. Pada beberapa spesies tanaman,
cadangan makanan terdapat pada kotiledon, dan perkembangan embrio menyerap
semua endosperm. Kulit benih terdiri dari testa dan tegmen. Testa merupakan
lapisan luar yang dapat bersifat keras seperti batu, kasar, tipis atau berdaging. Di
atas testa terdapat hilum yang merupakan bekas tempat menempelnya benih pada
funikulus, dan juga mikrofil yang merupakan titik pada benih berupa lubang ovul
tempat masuknya tabung polen. Tegmen merupakan lapisan dalam yang tipis dan
pada umumnya berwarna keputihan (Nome et al. 2002).
Struktur benih cabai terdiri dari embrio (radikula, kotiledon, hipokotil),
endosperm, kulit benih dan mikrofil (Gambar 1). Benih cabai berbentuk elipsoid,
dengan ukuran panjang 2.94 mm, lebar 3.23 mm ketebalan 0.71 mm dan berat
1000 butir 5.18 g. Posisi ovul termasuk tipe campylotropus atau membengkok,
embrio berbentuk melengkung dan rata (Dias et al. 2013). Sebagian besar benih
mengandung dua atau lebih cadangan makanan dalam jumlah cukup, yang
disintesis selama perkembangan benih. Cadangan makanan utama benih adalah
karbohidrat, protein dan lemak, umumnya diakumulasikan dalam kotiledon untuk
dikotil dan endosperm untuk monokotil (Widajati et al. 2013). Benih cabai
sebagian besar cadangan makanan berupa protein dan lipid (Chen & Lott 1992).
4

SC
M R

E
C
H

Gambar 1 Irisan melintang benih cabai: kotiledon (C), endosperm (E), hipokotil
(H), mikrofil (M), radikula (R), kulit benih (SC). Sumber: Dias et al.
(2013)

Benih berpotensi membawa berbagai macam mikroorganisme seperti


cendawan, bakteri, virus dan nematoda yang dapat menyebabkan penyakit di
persemaian maupun pada tanaman. Ada beberapa yang hidup di permukaan benih
dan tidak mempengaruhi penampilan fisik benih, namun ketika kondisi
lingkungan mendukung untuk pertumbuhan dan reproduksi maka akan menjadi
sangat berbahaya. Mikroorganisme lain hidup pada perikarp atau kulit benih dan
menyerang perkecambahan ketika kondisi lingkungan mendukung. Ada yang
terbawa benih, baik pada atau di dalam embrio dan endosperm. Biasanya tidak
mematikan benih, namun dapat menghambat perkecambahan dan menghasilkan
kecambah yang lemah. Ada yang bertahan di embrio dan kecambah untuk
menginfeksi pertanaman bila ditanam dari benih tersebut (Copeland & McDonald
1995).

Colletotrichum Terbawa Benih Cabai

Penyakit antraknosa berasal dari bahasa Yunani yang artinya batubara,


merupakan nama umum untuk penyakit tanaman yang mempunyai gejala seperti
bercak berwarna hitam, memiliki luka yang membentuk cekungan dan
mengandung spora. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada daun, batang,
buah pra dan pascapanen (Isaac 1992) serta dapat menyebabkan kerugian
ekonomi yang cukup tinggi di daerah tropis dan subtropis termasuk China, Korea,
India, Indonesia dan Thailand (Voorrips et al. 2004; Kim et al. 2008; Than et al.
2008; Xia et al. 2011).
Penyakit antraknosa disebabkan oleh cendawan dari genus Colletotrichum
(Deuteromycetes), yang merupakan anamorf (bentuk aseksual) dari genus
Glomerella (Ascomycetes). Cendawan ini merupakan patogen yang paling
penting selain karena terbawa benih, juga dapat menyebabkan infeksi laten.
Infeksi tersebut menunjukkan fenomena kepasifan, yaitu gejala tidak berkembang
sampai buah matang (Jeffries et al. 1990). Penyakit antraknosa disebabkan oleh
beberapa spesies Colletotrichum termasuk C. acutatum, C. capsici, C.
gloeosporioides (Widodo 2007). Cendawan C. acutatum merupakan spesies yang
paling merusak dan mempunyai penyebaran yang luas (Voorrips et al. 2004; Xia
et al. 2011).
5

Identifikasi dan karakterisasi Colletotrichum dilakukan berdasarkan karakter


morfologi dan karakter kultur. Karakter tersebut digunakan untuk membedakan
species Colletotrichum seperti ukuran dan bentuk konidia, apresoria, keberadaan
setae atau teleomorf, warna koloni, produksi pigmen, tekstur dan kecepatan
tumbuh (Smith & Black 1990).
Ivey et al. (2004) melaporkan bahwa koloni C. acutatum berwarna putih
pada awal perkembangan kemudian menjadi oranye, semakin lama semakin
berwarna abu-abu kehijauan, jika dibalikkan akan berwarna oranye kecoklatan.
Kumpulan konidia berwarna oranye cerah berada pada koloni bagian tengah.
Kultur yang lebih lama menghasilkan aservuli berwarna hitam pada bagian tengah
koloni. Miselia bercabang, bersekat dan hialin. Konidia hialin, bersel satu,
bentuknya silinder dengan ujung meruncing, berukuran panjang 14.7 µm dan
lebar 3.85 µm. Than et al. (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan koloni C.
acutatum sangat lambat 5.8 mm/hari, bentuk konidia fusiform dengan salah satu
atau kedua ujungnya meruncing berukuran panjang 14 µm dan lebar 3.5 µm
(Gambar 2).
Than et al. (2008) melaporkan bahwa koloni C. capsici berwarna putih
sampai abu-abu, dengan kumpulan konidia berwarna abu-abu kecoklatan.
Pertumbuhan koloni pada kultur tergolong cepat, yaitu 7.1 mm/hari, bentuk
konidia falcate seperti bulan sabit berukuran panjang 21 µm dan lebar 3 µm
(Gambar 2). Chai et al. (2014) melaporkan bahwa C. capsici mempunyai koloni
berwarna coklat keabu-abuan, kumpulan konia berwarna kuning pucat, acervuli
berwarna cokelat tua sampai hitam, setae berwarna coklat muda sampai coklat tua.
Konidia berwarna hialin, bentuknya falcate dengan ujung tajam, berukuran
panjang 22-26.2 µm dan lebar 3-5.5 µm.
Koloni C. gloeosporioides mempunyai warna yang bervariasi dari putih
keabu-abuan sampai abu-abu tua. Pertumbuhan koloni pada kultur paling cepat,
yaitu 11 mm/hari, bentuk konidia silinder dengan kedua ujungnya membulat
berukuran panjang 13.5 µm dan lebar 4 µm (Gambar 2) (Than et al. 2008).

a b c

Gambar 2 Konidia C. acutatum (a), C. capsici (b), C. gloeosporioides (c).


Sumber: Than et al. (2008)

Penyakit antraknosa pada buah sering menyebabkan busuk lunak pada kulit
buah. Gejala yang khas pada buah, yaitu luka yang membentuk cekungan,
melingkar dan meluas dengan aservuli (struktur aseksual pada cendawan parasit)
berwarna hitam yang membentuk cincin konsentris, sering basah dan
menghasilkan kumpulan konidia berwarna merah muda sampai oranye. Pada
serangan berat, buah menjadi kering, keriput dan berwarna seperti jerami (Gambar
3).
6

Gambar 3 Gejala penyakit antraknosa pada buah cabai

Infeksi awal dari patogen ini merupakan rangkaian proses mulai dari adanya
konidia di permukaan tanaman, perkecambahan konidia dengan membentuk
tabung kecambah, produksi appresoria yang berfungsi untuk melekat dengan kuat
pada jaringan tanaman, penetrasi pada jaringan epidermis, pertumbuhan dan
kolonisasi jaringan tanaman, produksi aservuli dan pembentukan spora (Prusky et
al. 2000). Mekanisme infeksi patogen pada benih terdapat dua cara, yaitu infeksi
sistemik dan kontaminasi atau infestasi. Infeksi sistemik terjadi melalui empat
cara, yaitu: 1) infeksi sistemik melalui bunga, buah atau funiculus, 2) penetrasi
melalui stigma, 3) penetrasi melalui dinding ovari dan kulit benih, 4) penetrasi
melalui luka atau bukaan alami. Kontaminasi terjadi melalui dua cara yaitu
patogen menempel pada permukaan benih dan tercampur pada benih selama
proses produksi benih dari mulai panen, ekstraksi, seleksi sampai pengemasan
(Nome et al. 2002).
Colletotrichum merupakan patogen yang dapat bertahan hidup pada benih
maupun pada kulit benih, dalam bentuk aservuli atau miselia. Keberadaan aservuli
yang melimpah menyebabkan rusaknya lapisan parenkim dari kulit benih dan
mengurangi cadangan makanan di endosperm dan embrio (Chitkara et al. 1990).
Cendawan pada kondisi tertentu dapat hidup pada inang alternatif seperti tanaman
golongan solanaceae lainnya, legum, sisa-sisa tanaman, dan buah yang busuk di
lapangan (Pring et al. 1995).
Pencegahan dan pengendalian cendawan Colletotrichum spp. terbawa benih
cabai yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan benih yang bersertifikat,
tidak mengikutsertakan biji yang berbentuk dan berwarna abnormal , memberi
perlakuan perendaman dengan air panas ± 55 °C selama 30 menit, atau fungisida
dari golongan sistemik selama kurang lebih satu jam. Penggunaan fungisida
berlebih selain tidak efisien juga dapat menimbulkan berbagai masalah serius
seperti akumulasi residu pestisida, penyakit menjadi resisten, epidemi penyakit,
terbunuhnya musuh alami dan pencemaran lingkungan (Duriat et al. 2007).
Fungisida sistemik bahan aktif benomil dapat digunakan untuk mengendalikan
cendawan Colletotrichum spp. (Peres et al. 2004; Setiyowati et al. 2007).
7

Gelombang Mikro

Gelombang mikro merupakan bagian dari gelombang radio yang memiliki


frekuensi antara 300 Mhz-300 Ghz dengan panjang gelombang antara 1 m sampai
1 mm. Panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi. Semakin besar
frekuensi suatu gelombang maka panjang gelombang semakin pendek dan
semakin kecil frekuensi suatu gelombang maka panjang gelombang semakin
panjang. Frekuensi gelombang mikro memiliki spektrum yang luas terdiri dari
ultra high frequency (UHF) yaitu frekuensi antara 300 Mhz-3 Ghz, super high
frequency (SHF) yaitu frekuensi antara 3 GHz-30 GHz, dan extremely high
frequency (EHF) yaitu frekuensi antara 30 GHz-300 GHz. Perangkat elektronik
yang memancarkan gelombang mikro dapat mengganggu telekomunikasi,
pertahanan, dan aplikasi maritim, sehingga pemerintah membatasi penggunaan
frekuensi yang diperbolehkan yaitu frekuensi Industrial, Science and Medical
(ISM) untuk peralatan elektronik (Saltiel & Datta 1999).
Oven gelombang mikro (microwave) merupakan alat pemanas yang
menghasilkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sekitar 2 450 Mhz
setara dengan 2.4 Ghz, yang dapat bekerja dengan cepat dan efisien. Gelombang
mikro tersebut memantul dalam oven dan diserap oleh material mengandung air,
lemak dan gula, yang ditempatkan dalam oven. Apabila material tidak
mengandung air, maka pemanasan tidak akan terjadi dan akan tetap dingin.
Gelombang mikro yang diserap akan menghasilkan panas. Proses ini tidak
memerlukan konduksi panas seperti di oven biasa, sehingga bisa dilakukan
dengan cepat. Gelombang mikro pada frekuensi tersebut tidak diserap oleh bahan-
bahan gelas, keramik, dan sebagian jenis plastik. Bahan logam bahkan dapat
memantulkan gelombang ini, sehingga oven microwave ini bersifat selektif dalam
memanaskan.
Edgar & Osepchuk (2001) menjelaskan komponen-komponen utama oven
microwave antara lain: 1) power supply merupakan catu daya terdiri dari
trasformator, kapasitor dan dioda, 2) magnetron merupakan bagian inti yang dapat
mengubah energi listrik menjadi gelombang mikro, 3) waveguide merupakan alat
yang berfungsi untuk mengarahkan gelombang, 4) stirrer merupakan alat yang
menyerupai baling-baling yang berfungsi untuk menyebarkan gelombang mikro di
dalam oven, 5) oven cavity merupakan ruangan berdinding logam yang akan
memantulkan gelombang mikro ke segala arah dan diserap oleh material, 6) air
flow merupakan aliran udara yang dapat mendinginkan transformator dan
magnetron (Gambar 4).
Mekanisme pemanasan oven microwave, yaitu gelombang mikro yang
dihasilkan oleh magnetron ditransmisikan ke dalam waveguide kemudian
dipantulkan ke dalam stirrer dan dinding logam di dalam oven, kemudian
gelombang tersebut diserap material. Gabriela & Simina (2011) menyatakan
bahwa aliran energi panas dari dalam material ke keluar terjadi akibat absorbsi
energi elektromagnetik oleh molekul air yang terkandung dalam material. Hal ini
menyebabkan terjadinya penurunan tingkat kelembaban material akibat adanya
transfer panas dari bagian dalam benih ke luar.
Aplikasi gelombang mikro dalam bidang industri, salah satunya yaitu
digunakan untuk perlakuan benih. McCormack (2004) menyatakan bahwa
perlakuan benih yang ideal seharusnya sangat efektif menekan patogen terbawa
8

benih, relatif aman, tidak menimbulkan toksik terhadap hewan, tanaman maupun
manusia, efektif untuk waktu yang lama selama penyimpanan, mudah digunakan,
cocok dan praktis, serta ekonomis. Perlakuan benih dengan gelombang mikro
memenuhi kriteria tersebut, karena penggunaannya yang mudah hanya
memerlukan beberapa detik, sehingga lebih efektif dan tidak menimbulkan toksik.
Wei (2004) meyatakan bahwa keuntungan dari teknik pemanasan gelombang
mikro, yaitu: 1) startup cepat, meningkatkan produksi panas secara cepat,
mengurangi biaya produksi dan tenaga kerja, 2) suhu yang lebih tinggi di dalam
material dari pada di luar material, 3) proses pemanasan dan pengeringan secara
selektif, 4) pemanasan elektromagnetik tanpa polusi, mudah digunakan dan
otomatis.

Gambar 4 Komponen-komponen oven microwave.


Sumber: Edgar & Osepchuk (2001)

Perlakuan benih dengan menggunakan gelombang mikro merupakan


pemanasan dielektrik yang biasa digunakan dalam proses pengeringan. Dielektrik
adalah suatu zat yang mampu mendukung medan listrik dan umumnya dianggap
sebagai isolator yang baik daripada konduktor arus listrik. Bouraoui et al. (1993)
menyatakan bahwa pemanasan dielektrik merupakan suatu proses yang
menggunakan radiasi elektromagnetik frekuensi tinggi untuk memanaskan
material dielektrik melalui deretan dipolar molekul air. Ketika material dielektrik
seperti benih yang terkena radiasi gelombang mikro, maka penyusunan kembali
molekul air menciptakan gesekan yang menghasilkan panas dan meningkatkan
suhu benih. Wei (2004) menyatakan bahwa ada dua konsep fisika yang terjadi
dalam proses pemanasan dielektrik yaitu osilasi dipolar dan pergerakan ion.
Mekanisme pemanasan dielektrik selain refleksi dan transmisi energi gelombang
mikro, material dielektrik juga memiliki kemampuan untuk menyerap dan
menghilangkan energi dalam jumlah besar dalam medan elektromagnetik.
Perlakuan benih dengan menggunakan gelombang mikro efektif dalam
meningkatkan perkecambahan benih, mengendalikan penyakit pada benih serta
menekan gulma. Benih yang mengalami pemanasan dengan gelombang mikro
akan terjadi peningkatan suhu secara cepat yang mengakibatkan rusaknya dinding
sel cendawan, degradasi protein yang memicu terjadinya inaktivasi enzim,
penurunan viabilitas konidia cendawan dan kematian sel-sel hifa cendawan
(Nelson 2011). Perlakuan gelombang mikro merupakan perlakuan fisik yang
9

dapat menjadi altenatif pengendalian OPT tanpa meninggalkan residu kimia yang
membahayakan kesehatan manusia.

Kadar Air Benih

Kadar air benih merupakan berat air yang hilang karena pengeringan dan
dinyatakan sebagai persentase dari berat awal benih (ISTA 2014). Kadar air
merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan pada kegiatan
pemanenan, pengolahan, penyimpanan dan pemasaran benih. Kadar air benih
menentukan tingkat kerusakan mekanis saat pengolahan, kemampuan benih
mempertahankan viabilitasnya selama di penyimpanan dan menentukan kelulusan
pada proses sertifikasi benih ( Widajati et al. 2013).
Kadar air berperan dalam perdagangan benih untuk menetapkan nilai jual
benih. Kandungan air yang tinggi pada benih menandakan mutu benih yang
rendah, yang menyebabkan daya simpan benih rendah. Kadar air dapat dinyatakan
dengan dua cara yaitu: 1) berdasarkan berat kering yang digunakan dalam ilmu
pengetahuan dan penelitian, dan 2) berdasarkan berat basah yang digunakan
dalam industri benih dan ISTA. Kadar air bersifat dinamis, dapat menguap atau
mendesorbsi air tergantung tingkat kelembaban udara disekelilingnya (Dirjen
Tanaman Pangan 2013).
Kadar air benih ortodoks pada saat panen masih sangat tinggi sekitar 20-
30%, dan harus dikeringkan sampai kadar air optimum untuk mencegah
perkecambahan, mempertahankan viabilitas dan vigor selama penyimpanan.
Benih ortodoks tahan terhadap pengeringan sampai kadar air rendah (4%) dan
dapat disimpan pada suhu rendah (<0 °C) (Ilyas 2012). Kadar air benih cabai
maksimum pada pengujian laboratorium sebesar 7% untuk semua kelas benih.
Kadar air tersebut merupakan persyaratan dan standar kelulusan sertifikasi benih
tanaman sayuran (Permentan 2012).

3 METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih,


Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor pada bulan Juli sampai dengan Desember 2015.

Sumber Bahan

Benih cabai yang digunakan adalah benih dari buah cabai varietas Royal
Hot yang terinfeksi penyakit antraknosa diperoleh dari pertanaman di Kebun
Percobaan IPB Pasir Sarongge Desa Ciputri Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur
pada bulan Juli 2015. Benih diambil dari buah yang telah masak fisiologis, yaitu
secara morfologi buah berwarna merah namun terinfeksi penyakit yang ditandai
dengan bercak coklat kehitaman melingkar dan meluas menjadi busuk lunak.
10

Serangan yang berat mengakibatkan buah menjadi kering, keriput dan warna
menjadi seperti jerami.

Pelaksanaan Percobaan

Penelitian ini terdiri atas dua percobaan, yaitu 1) Pengaruh kadar air dan
lama pemanasan gelombang mikro terhadap viabilitas dan vigor benih cabai, dan
percobaan 2) Pengaruh lama pemanasan gelombang mikro terhadap
perkembangan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai. Diagram alir kegiatan
penelitian disajikan dalam Gambar 5.

Pengendalian Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai Menggunakan


Gelombang Mikro

Tujuan
Mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai menggunakan
gelombang mikro serta dapat mempertahankan mutu fisiologis benih

Output
Gelombang mikro dapat mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai
serta dapat mempertahankan mutu fisiologis benih

Percobaan I
Pengaruh kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro terhadap viabilitas dan
vigor benih cabai

Tujuan
Mendapatkan tingkat kadar air benih terbaik pada beberapa lama pemanasan
gelombang mikro dengan tetap mempertahankan mutu fisiologis

Output
Kadar air benih terbaik yang dapat mempertahankan mutu fisiologis

Percobaan II
Pengaruh lama pemanasan gelombang mikro terhadap perkembangan
Colletotrichum spp. terbawa benih cabai

Tujuan
Mendapatkan lama pemanasan gelombang mikro optimum yang dapat
mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai

Output
Lama pemanasan gelombang mikro terbaik yang dapat mengendalikan
Colletotrichum spp. terbawa benih cabai

Gambar 5 Diagram alir penelitian


11

Percobaan I Pengaruh kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro


terhadap viabilitas dan vigor benih cabai.

Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat kadar air terbaik pada
beberapa lama pemanasan gelombang mikro dengan tetap mempertahankan mutu
fisiologis. Benih yang digunakan adalah benih yang diekstrak dari bagian buah
cabai yang sehat. Buah diekstrak secara manual, kemudian benih dikering-
anginkan selama 2-3 hari sampai mendapatkan kadar air yang diperlukan.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial
yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah kadar air benih terdiri atas tiga
taraf, yaitu kadar air rendah (4.31%), sedang (6.33%) dan tinggi (8.25%). Faktor
kedua adalah lama pemanasan gelombang mikro terdiri atas enam taraf yaitu 0, 10,
20, 30, 40, dan 50 detik. Dengan demikian terdapat 18 kombinasi perlakuan dan
setiap perlakuan terdiri atas 4 ulangan, sehingga seluruhnya terdapat 72 satuan
percobaan. Setiap ulangan menggunakan 50 butir benih. Model linier rancangan
percobaan yang digunakan yaitu sebagai berikut :

𝑌 ijk =μ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Keterangan :
Yijk = nilai pengamatan pada perlakuan kadar air ke-i dan lama pemanasan
gelombang mikro ke-j dan ulangan ke-k
µ = nilai tengah umum
αi = pengaruh taraf ke-i dari faktor perlakuan kadar air
βj = pengaruh taraf ke-j dari faktor lama pemanasan gelombang mikro
(αβ)ij = pengaruh interaksi faktor perlakuan kadar air ke-i dan lama pemanasan
gelombang mikro ke-j
εijk = pengaruh galat percobaan pada perlakuan kadar air ke-i, lama pemanasan
gelombang mikro ke-j, dan ulangan ke-k

Penetapan kadar air


Kadar air benih cabai yang digunakan sesuai dengan taraf perlakuan yaitu
4.31, 6.33, dan 8.25% (berdasarkan uji pendahuluan). Pengukuran kadar air benih
dilakukan berdasarkan ISTA (2014) dengan menggunakan metode oven suhu
konstan rendah 103 ± 2 ºC selama 17 ± 1 jam kemudian didinginkan dalam
desikator selama 30-45 menit. Penetapan kadar air dihitung dengan rumus :
(M2 − M3)
KA (%) = x 100%
(M2 − M1)
Keterangan :
M1 = berat cawan + penutup (g)
M2 = berat cawan + penutup + benih sebelum pengeringan (g)
M3 = berat cawan + penutup + benih setelah pengeringan (g)

Penurunan kadar air dilakukan dengan menimbang berat benih awal


kemudian diletakkan dalam wadah plastik tertutup yang di bawahnya berisi silika
gel, setelah itu ditimbang sampai mencapai bobot benih yang diharapkan.
Penurunan kadar air ± 2% diperlukan waktu selama ± 12 jam pada suhu ± 27 ºC
dan RH 54%. Peningkatan kadar air dilakukan dengan menimbang berat benih
12

awal kemudian diletakkan dalam wadah plastik tertutup yang di bawahnya berisi
air kemudian ditimbang sampai mencapai bobot benih yang diharapkan.
Peningkatan kadar air ± 2% diperlukan waktu ± 3 jam pada suhu ± 27 ºC dan RH
54%. Kisaran bobot benih yang ekuivalen dengan kadar air benih yang diinginkan
dihitung dengan rumus (ISTA 2014) :
100−𝐾𝐴 𝑎𝑤𝑎𝑙
Berat subsampel pada KA tertentu = 100−𝐾𝐴 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 x bobot awal benih

Pemanasan dengan gelombang mikro


Benih cabai dengan kadar air 4.31, 6.33, dan 8.25% sebanyak 200 butir
dipanaskan dengan gelombang mikro menggunakan oven microwave dengan
frekuensi 2 450 MHz dan daya 450 W selama 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 detik.
Frekuensi dan daya tersebut digunakan berdasarkan penelitian Aladjadjiyan
(2010). Benih cabai diletakkan pada cawan Petri terbuka kemudian dimasukkan
ke dalam oven microwave dan diatur sesuai lama pemanasan. Setelah pemanasan,
benih dikeluarkan dan disimpan dalam wadah steril untuk selanjutnya dilakukan
pengujian viabilitas dan vigor benih serta kesehatan benih.

Pengujian viabilitas dan vigor benih cabai


Benih yang telah dipanaskan dengan gelombang mikro sebanyak 200 butir
(4 ulangan masing-masing 50 butir) dikecambahkan pada cawan Petri berisi 3
lapis kertas lembab dengan menggunakan metode uji di atas kertas (ISTA 2014).
Pengamatan dilakukan terhadap peubah daya berkecambah, potensi tumbuh
maksimum, indeks vigor, dan kecepatan tumbuh.
1. Daya berkecambah (DB)
Pengukuran daya berkecambah benih (%) dihitung berdasarkan persentase
jumlah kecambah normal pada hari ke-7 sebagai hitungan I dan pada hari ke-14
sebagai hitungan II yang dibandingkan dengan jumlah total benih yang ditanam.
Daya berkecambah dihitung dengan rumus :

Ʃ KN Hitungan I + Ʃ KN Hitung II
DB (%) = × 100%
Ʃ benih yang ditanam
Keterangan :
DB = Daya Berkecambah
KN = Kecambah Normal
2. Potensi tumbuh maksimum (PTM)
Potensi tumbuh maksimum dihitung berdasarkan persentase benih yang mampu
menjadi kecambah normal maupun kecambah abnormal pada pengamatan hari
ke-14 per jumlah benih yang ditanam. Potensi tumbuh maksimum dihitung
dengan rumus :
Ʃ benih yang tumbuh
PTM(%) = × 100%
Ʃ benih yang ditanam
3. Indeks vigor (IV)
Indeks vigor dihitung berdasarkan persentase jumlah kecambah normal pada
hari ke-7 sebagai perhitungan I dibagi dengan jumlah benih yang ditanam.
Indeks vigor dihitung dengan rumus :
13

Ʃ kecambah normal pada hitungan pertama


IV (%) = × 100%
Ʃ benih yang ditanam

4. Kecepatan tumbuh (KCT)


Kecepatan tumbuh diukur berdasarkan persentase kecambah normal pada
waktu tanam sampai hari ke-14 (akhir pengamatan). Pengamatan dilakukan
setiap hari terhadap pertambahan persentase kecambah normal dibagi dengan
etmal (24 jam). Nilai etmal kumulatif dimulai saat benih ditanam sampai
dengan waktu pengamatan. Kecepatan tumbuh dihitung dengan rumus :

N
KCT (% KN⁄etmal) = ∑tn
0 t

Keterangan :
t = Waktu pengamatan ke- i
N = Persentase kecambah normal setiap waktu pengamatan
tn = Waktu pengamatan hari ke-14 (akhir pengamatan)

Percobaan II Pengaruh lama pemanasan gelombang mikro terhadap


perkembangan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai.

Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan lama pemanasan gelombang


mikro yang dapat mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai. Benih
yang digunakan adalah benih yang diekstrak dari bagian buah cabai yang sakit,
dan menggunakan kadar air terbaik pada percobaan sebelumnya. Buah diekstrak
secara manual, kemudian benih dikeringanginkan selama 2-3 hari sampai
mendapatkan kadar air yang diperlukan.
Rancangan yang digunakan adalah RAL satu faktor yaitu lama pemanasan
gelombang mikro terdiri atas tujuh taraf yaitu 0, 10, 20, 30, 40, 50 detik, dan
perlakuan fungisida sistemik berbahan aktif benomil 0.5 g L-1 sebagai
pembanding. Perlakuan fungisida benomil tersebut dilakukan berdasarkan
penelitian Yulianty dan Tripeni (2007) dengan merendam benih selama 5 jam.
Setiap perlakuan terdiri atas 4 ulangan, sehingga seluruhnya terdapat 28 satuan
percobaan. Setiap ulangan menggunakan 50 butir benih. Model linier rancangan
percobaan yang digunakan yaitu sebagai berikut :

𝑌 ij = μ + τi + εij

Keterangan :
Yij = nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
µ = nilai tengah umum
τi = pengaruh perlakuan ke-i
εij = pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Deteksi cendawan patogen terbawa benih cabai


Deteksi dilakukan untuk mengetahui jenis dan jumlah cendawan yang
menginfeksi benih dan untuk memastikan bahwa benih yang digunakan
merupakan benih yang terinfeksi cendawan. Deteksi dilakukan dengan metode
14

agar berdasarkan Mathur dan Kongsdal (2003), yaitu benih sebanyak 200 butir (4
ulangan masing-masing 50 butir) disterilisasi permukaan dengan merendam benih
selama 1 menit dalam NaOCl 1%, kemudian dibilas dengan akuades steril
sebanyak 2 kali dan dikeringanginkan di atas tisu steril. Benih ditanam dalam
media potato dextrose agar (PDA), kemudian diinkubasi selama 7 hari pada suhu
25 °C dengan penyinaran near ultra violet (NUV) 12 jam terang dan 12 jam gelap
secara bergantian di ruang inkubasi, dan diamati perkembangan cendawan pada
benih, karakter umum, bentuk konidia dengan menggunakan mikroskop stereo
dan mikroskop kompaun. Pengamatan persentase infeksi dilakukan terhadap
semua jenis cendawan Colletotrichum spp. terbawa benih, dihitung dengan
rumus :
Jumlah benih yang terinfeksi
Tingkat infeksi (%) = x100%
Jumlah benih yang ditanam

Pemurnian isolat dilakukan dengan mengambil koloni cendawan kemudian


ditumbuhkan dalam media PDA dan diinkubasi selama 14 hari. Pengidentifikasian
cendawan dilakukan terhadap pertumbuhan koloni dan bentuk konidia
berdasarkan identifikasi Smith dan Black (1990), Barnett dan Hunter (1998), Than
et al. (2008).

Pengujian kesehatan benih


Pengujian kesehatan benih dilakukan terhadap benih dengan kadar air
terbaik pada percobaan I. Benih yang telah dipanaskan dengan gelombang mikro
dan perlakuan fungisida benomil diuji kesehatan benih dengan menggunakan
metode agar, diamati persentase infeksi, diidentifikasi seperti pada metode deteksi
cendawan patogen terbawa benih.
Standar tingkat efikasi di Indonesia adalah sekurang-kurangnya 50% dengan
syarat tingkat infeksi perlakuan berbeda nyata dengan kontrol (Dirjen PSP 2013).
Pengamatan persentase efikasi dilakukan terhadap cendawan C. acutatum,
dihitung dengan rumus :

(TIK − TIP)
TE (%) = x 100%
(TIK)
Keterangan :
TE = Tingkat efikasi
TIK = Tingkat infeksi C. acutatum pada kontrol
TIP = Tingkat infeksi C. acutatum pada perlakuan

Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan analisis


ragam menggunakan uji F. Apabila menunjukkan pengaruh nyata maka dilakukan
uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada
taraf nyata 5%. Uji lethal dose (LD50) dilakukan pada benih yang mempunyai
kadar air terbaik menggunakan Curve-fit Analysis.
15

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh gelombang mikro terhadap viabilitas dan vigor benih cabai

Hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi antara kadar air benih
dengan lama pemanasan gelombang mikro terhadap viabilitas benih, yaitu daya
berkecambah (DB) dan potensi tumbuh maksimum (PTM). Lama pemanasan
gelombang mikro 10 detik pada beberapa tingkat kadar air belum dapat
menurunkan viabilitas benih. Benih berkadar air rendah (4.31%) memiliki
viabilitas yang tetap tinggi meskipun dipanasi gelombang mikro sampai 40 detik,
sedangkan benih berkadar air sedang (6.33%) dan tinggi (8.25%) mengalami
penurunan viabilitas setelah dipanasi gelombang mikro mulai dari 20 detik (Tabel
1).

Tabel 1 Interaksi kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro terhadap
viabilias benih
Kadar Air Lama pemanasan gelombang mikro (detik)
(%) 0 10 20 30 40 50
Daya berkecambah (%)
KA ± 4.31 79.0 a 74.0 ab 74.0 ab 73.0 ab 65.0 b 40.0 c
KA ± 6.33 73.5 ab 72.5 ab 36.0 cd 24.5 e 28.0 de 1.0 f
KA ± 8.25 68.5 ab 69.0 ab 3.5 f 2.5 f 2.5 f 0.0 f
Potensi tumbuh maksimum (%)
KA ± 4.31 83.0 a 78.0 a 77.0 a 78.0 a 75.5 a 46.0 b
KA ± 6.33 76.5 a 74.0 a 54.0 b 33.0 c 31.0 c 2.0 d
KA ± 8.25 73.0 a 71.5 a 8.5 d 7.5 d 6.0 d 0.0 d
Keterangan: Angka dalam kolom dan baris pada masing-masing tolak ukur diikuti huruf yang
sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%

Benih berkadar air tinggi mengalami penurunan viabilitas lebih cepat ketika
dipanasi gelombang mikro dibandingkan dengan benih berkadar air rendah. Hal
tersebut diduga karena benih yang mempunyai kadar air tinggi mempunyai
kandungan air yang lebih banyak dibandingkan dengan benih yang mempunyai
kadar air lebih rendah. Gaurilcikiene et al. (2013) menyatakan bahwa air
merupakan molekul polar bermuatan positif dan negatif sehingga ketika mendapat
paparan gelombang mikro, molekul-molekul polar bergerak cepat saling
bergesekan dan pergerakannya dapat menimbulkan panas. Pemanasan tersebut
dapat meningkatkan suhu benih sehingga dapat mengakibatkan perkecambahan
dan pertumbuhan benih menjadi terhambat hingga terjadinya kematian benih.
McCormack (2004) menyatakan bahwa gelombang mikro selain dapat
memanaskan air secara selektif pada benih, juga dapat memanaskan lemak dan
minyak meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Apabila benih dipanaskan
dengan gelombang mikro terlalu lama, maka molekul biologis tertentu (protein)
seperti enzim dapat terdenaturasi, kehilangan aktifitas enzim, dan kematian benih.
Benih yang mempunyai kadar air rendah dapat dipanaskan oleh gelombang
mikro lebih lama tanpa menurunkan viabilitas benih dibandingkan dengan benih
yang mempunyai kadar air tinggi. Hal tersebut diduga karena benih yang
16

mempunyai kadar air rendah akan menyerap gelombang mikro lebih sedikit,
sehingga pergerakan rotasi dari molekul polar sedikit terjadi yang menyebabkan
perubahan sifat dielektrik pada benih akan sedikit. Apabila suatu materi
mempunyai tingkat kadar air tinggi, maka penyerapan gelombang mikro akan
lenih banyak. Hal tersebut merupakan salah satu karakter yang unik dari
pemanasan gelombang mikro, sehingga dapat digunakan pada proses pengeringan
(Saltiel & Datta 1999). Perlakuan benih biasanya dimulai dari lama pemanasan
gelombang mikro 10-15 detik, dan penambahan waktu setiap 10-15 detik
(McCormack 2004).
Benih dengan kadar air tinggi lebih rentan terhadap pemanasan gelombang
mikro dibandingkan dengan benih berkadar air rendah. Penyerapan gelombang
mikro yang terjadi pada benih berkadar air tinggi dapat menyebabkan peningkatan
suhu benih. Bagian dalam benih akan lebih panas yang mengakibatkan viabilitas
benih cepat menurun (Knox et al. 2013). Benih dengan kadar air tinggi
mempunyai dielektrik konstan lebih tinggi, sehingga akan lebih banyak
berinteraksi dengan gelombang mikro (Brodie et al. 2012).
Manickavasagan et al. (2007) melaporkan bahwa suhu maksimum pada
permukaan benih gandum meningkat seiring meningkatnya daya dan lama
pemanasan gelombang mikro. Daya 100-500 W dapat meningkatkan suhu sekitar
37.5-117 °C selama 28 detik dan 44-131 °C selama 56 detik waktu pemanasan.
Peningkatan suhu tersebut berhubungan dengan viabilitas benih dimana
persentase daya berkecambah benih menurun selama meningkatnya daya dan
lama pemanasan. Pada dasarnya persentase daya berkecambah benih ditentukan
oleh suhu benih.
Benih yang mempunyai kadar air rendah sebelum perlakuan, dapat
meningkatkan daya simpan benih karena kadar air rendah merupakan persyaratan
utama dalam penyimpanan jangka panjang. Kadar air awal yang rendah
merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi daya simpan benih.
Knox et al. (2013) melaporkan bahwa pada kadar air 10% viabilitas benih
gandum dapat dipertahankan sampai lama pemanasan gelombang mikro 30 detik
dibandingkan dengan kadar air 20% yang mengalami penurunan viabilitas mulai
15 detik. Arengka (2014) melaporkan bahwa pada kadar air rendah (12.31%)
viabilitas benih jagung manis dapat dipertahankan sampai lama pemanasan
gelombang mikro 30 detik dibandingkan dengan kadar air sedang (15.59%) dan
tinggi (20.25%) yang mengalami penurunan viabilitas mulai 20 detik. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kadar air benih dan lama penamasan gelombang mikro
merupakan faktor yang sangat penting untuk mempertahankan viabilitas benih.
Pengaruh gelombang mikro pada kadar air rendah (4.31%) berbeda antara
tolak ukur DB dan PTM. Viabilitas pada tolak ukur DB dapat dipertahankan
sampai pemanasan gelombang mikro 30 detik sedangkan viabilitas pada tolak
ukur PTM dapat dipertahankan sampai 40 detik. Penentuan lama pemanasan
gelombang mikro yang terbaik dilakukan dengan uji LD50. Uji tersebut dapat
menentukan lama pemanasan gelombang mikro yang mengakibatkan kematian
benih cabai mencapai 50%.
Toksisitas merupakan kemampuan suatu bahan (gelombang mikro) untuk
menimbulkan kerusakan pada saat bahan tersebut mengenai bagian dalam atau
permukaan organisme tertentu. Uji toksisitas digunakan untuk mempelajari
pengaruh suatu bahan terhadap organisme tertentu. Uji LD50 merupakan uji
17

toksisitas dimana dosis bahan toksik tersebut dapat menyebabkan kematian 50%
populasi organisme uji dalam periode waktu. Dalam hal ini, gelombang mikro
sebagai bahan toksik dan benih merupakan populasi organisme uji.

S = 0.56343617
r = 0.99968548

90
Daya Berkecambah (%) 82.

10
75.

30
67.

50
59.

70
51.
LD50 = 50.19
90
43. 555555050.19
10
36. 0.0 9.2 18.3 27.5 36.7 45.8 55.0

Lama Pemanasan Gelombang Mikro (detik)

Gambar 6 Nilai LD50 berdasarkan persentase DB benih cabai kadar air 4.31%
selama pemanasan gelombang mikro

Hasil analisis LD50 pada benih cabai yang dipanaskan dengan gelombang
mikro pada 6 taraf pemanasan, menghasilkan kurva Polynomial Fit dengan
persamaan (y = 7.91 – 1.08x + 6.53x2 – 1.18x3). Nilai LD50 yang diperoleh dari
persamaan tersebut yaitu 50.19 detik (Gambar 6). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pada lama pemanasan gelombang mikro 50.19 detik mengakibatkan DB
benih cabai mencapai 50%. Berdasarkan nilai LD50 tersebut maka lama
pemanasan gelombang mikro 40 detik masih dapat mempertahankan viabilitas
benih di atas 50%, dan dapat berpotensi menjadi alternatif pilihan dalam
perlakuan benih menggunakan gelombang mikro.

Tabel 2 Interaksi kadar air dan lama pemanasan gelombang mikro terhadap vigor
benih
KadarAir Lama pemanasan gelombang mikro (detik)
(%) 0 10 20 30 40 50
Indeks vigor (%)
KA ± 4.31 23.5 ab 22.0 abc 24.5 a 20.5 abc 16.0 dc 11.5 de
KA ± 6.33 22.5 abc 24.0 ab 17.0 bcd 10.0 de 8.5 e 0.0 f
KA ± 8.25 11.5 de 13.0 de 0.5 f 0.5 f 0.0 f 0.0 f
-1
Kecepatan tumbuh (% etmal )
KA ± 4.31 9.8 a 9.2 ab 9.2 a 8.8 abc 7.7 c 4.8 d
KA ± 6.33 9.1 abc 8.9 abc 4.6 d 3.1 e 3.4 e 0.2 f
KA ± 8.25 7.8 c 7.8 bc 0.4 f 0.3 f 0.3 f 0.0 f
Keterangan: Angka dalam kolom dan baris pada masing-masing tolak ukur diikuti huruf yang
sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%

Hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi antara kadar air benih
dengan lama pemanasan gelombang mikro terhadap vigor benih, yaitu indeks
vigor (IV) dan kecepatan tumbuh (KCT). Benih berkadar air rendah (4.31%)
18

memiliki vigor yang tetap tinggi meskipun dipanasi gelombang mikro sampai 30
detik (Tabel 2). Semakin tinggi kadar air benih dan semakin lama pemanasan
gelombang mikro maka vigor benih semakin menurun.
Gaurilcikiene et al. (2013) melaporkan bahwa pada benih gandum, semakin
tinggi kadar air benih dan semakin tinggi frekuensi gelombang mikro yang
digunakan maka vigor semakin menurun. Friesen et al. (2014) melaporkan bahwa
pemanasan gelombang mikro melebihi 30 detik akan mengakibatkan penurunan
viabilitas dan vigor benih buncis secara perlahan, sedangkan pemanasan
gelombang mikro 50 detik akan mengakibatkan penurunan viabilitas dan vigor
benih buncis secara cepat.

Pengaruh gelombang mikro terhadap infeksi Colletotrichum spp. dan


hubungannya dengan daya berkecambah benih.

Hasil deteksi cendawan patogen terbawa benih cabai ditemukan 4 spesies


Colletotrichum diantaranya C. acutatum, C. capsici, C. gloeosporioides, dan
Colletotrichum sp. (Tabel 3). Hasil ini sesuai dengan penelitian Than et al. (2008)
dan Syukur et al. (2013) yang menyatakan bahwa tanaman cabai dapat diinfeksi
oleh 3 spesies Colletotrichum yaitu C. acutatum, C. capsici, dan C.
gloeosporioides.
Spesies Colletotrichum dapat menginfeksi beberapa tanaman inang,
contohnya seperti cendawan C. acutatum dapat menginfeksi cabai (Ivey et al.
2004; Than et al. 2008), tomat (Pardo-De la Hoz et al. 2016), strawberi (Peres et
al. 2005; Than et al. 2008; Freeman 2008; Grahovac et al. 2012), almond, jeruk,
blueberri, dan apel (Peres et al. 2005). Cendawan C. capsici dapat menginfeksi
beberapa tanaman inang seperti cabai (Than et al. 2008), sawi (Mahmodi et al.
2013), labu (Chai et al. 2014). Cendawan C. gloeosporioides dapat menginfeksi
beberapa tanaman inang seperti cabai dan mangga (Than et al. 2008), strawberi,
alpukat, almond (Freeman 2008).

Tabel 3 Persentase tingkat infeksi Colletotrichum spp.


Patogen Tingkat infeksi (%)
C. acutatum 33.0
C. capsici 1.0
C. gloeosporioides 3.0
Colletotrichum sp. 2.0

Cendawan C. acutatum merupakan cendawan yang paling banyak


menginfeksi benih cabai dengan tingkat infeksi mencapai 33% (Tabel 3).
Cendawan ini diduga merupakan spesies yang paling utama menyerang tanaman
cabai. Syukur et al. (2007) melaporkan bahwa dari 13 isolat Colletotrichum yang
diperoleh dari 6 daerah di Indonesia, 7 isolat merupakan C. acutatum.
Hasil identifikasi morfologi berdasarkan pertumbuhan koloni dan konidia
cendawan ditemukan 4 jenis cendawan penyebab penyakit antraknosa. Cendawan
yang mempunyai pertumbuhan koloni lambat dan bentuk konidia fusiform, salah
satu atau kedua ujungnya meruncing diduga sebagai C. acutatum (Smith & Black
1990; Ivey et al. 2004; Than et al. 2008; Damm et al. 2012). Cendawan yang
mempunyai pertumbuhan koloni lebih cepat dan bentuk konidia falcate seperti
19

bulan sabit diduga sebagai C. capsici (Than et al. 2008; Damm et al. 2009).
Cendawan yang mempunyai pertumbuhan sangat cepat dan bentuk konidia
silinder, kedua ujungnya membulat diduga sebagai C. gloeosporioides (Smith &
Black 1990; Than et al. 2008). Cendawan yang memiliki pertumbuhan sangat
cepat dan bentuk konidia silinder yang berukuran lebih besar diduga sabagai
Colletrotrichum sp. (Tabel 4).

Tabel 4 Hasil identifikasi berdasarkan pertumbuhan koloni pada media PDA


selama 14 hari dan bentuk konidia Colletotrichum spp.
Koloni depan Koloni belakang Bentuk konidia Karakter temuan
C. acutatum
Warna koloni putih
keabuan, kumpulan
konidia oranye,
pertumbuhan lambat,
bentuk konidia
meruncing pada satu
atau kedua ujungnya.
C. capsici
Warna koloni salem
kecoklatan, kumpulan
konidia abu tua,
pertumbuhan sedikit
cepat, bentuk konidia
seperti bulan sabit.
C. gloeosporioides
Warna koloni putih,
kumpulan konidia
merah muda,
pertumbuhan cepat,
bentuk konidia silinder
kedua ujung membulat.
Colletotrichum sp.
Warna koloni abu
kehitaman, kumpulan
konidia hitam,
pertumbuhan cepat,
bentuk konidia silinder
berukuran lebih besar.

Pertumbuhan koloni seperti warna koloni dan kumpulan konidia


mempunyai karakter yang berbeda-beda dalam satu spesies. Hal tersebut diduga
karena adanya keragaman genetik antara spesies yang banyak dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan seperti inang yang berbeda, media tumbuh yang berbeda, dan
waktu pengamatan. Bentuk konidia mempunyai karakter yang cenderung sama
20

dalam satu spesies, hal ini diduga karena bentuk konidia Colletorichum sp. yang
mempunyai ciri khas tertentu.
Benih cabai yang terinfeksi cendawan Colletotrichum spp. mempunyai
viabilitas yang rendah (Tabel 5). Setiyowati et al. (2007) melaporkan bahwa benih
cabai yang teinfeksi C. capsici mempunyai daya berkecambah yang rendah yaitu
sebesar 35%. McCormack (2004) menyatakan bahwa pengaruh utama dari adanya
cendawan patogen terbawa benih yaitu dapat menurunkan viabilitas benih,
produksi toksin yang dapat mempengaruhi viabilitas benih, dapat meningkatkan
produksi panas (sangat penting pada lot benih yang banyak), menyebabkan
perubahan warna dan bau.

Tabel 5 Pengaruh lama pemanasan gelombang mikro terhadap daya berkecambah


(%) dan tingkat infeksi Colletotrichum spp.
Lama pemanasan gelombang mikro (detik)
Patogen
0 10 20 30 40 50 benomil
Daya berkecambah (%)
KA ± 4.36% 27.5 b 23.0 bc 26.5 b 30.0 b 28.5 b 13.0 c 44.5 a
Tingkat infeksi (%)
C. acutatum 56.0a 48.5ab 44.0b 33.0c 20.0de 17.0e 28.5cd
C. capsici 2.0abc 1.0bc 0.5bc 2.5ab 3.0a 0.0c 0.5bc
C. gloeosporioides 6.0a 2.5ab 3.0ab 2.5ab 5.5a 2.5ab 0.0b
Colletotrichum sp. 1.5b 5.5a 3.0ab 3.5ab 3.0ab 1.0ab 0.5b
Keterangan: Angka pada baris yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata
berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%

Benih dengan kadar air rendah (4.36%) memiliki viabilitas yang tetap stabil
sampai pemanasan gelombang mikro 40 detik, sedangkan perlakuan fungisida
benomil memiliki viabilitas yang lebih tinggi (Tabel 5). Hal tersebut dikarenakan
perlakuan fungisida dengan cara perendaman dapat meningkatkan perkecambahan.
Penggunaan fungisida diharapkan tidak mengganggu perkecambahan benih, dan
dapat merangsang perkembangan benih.
Fungisida benomil merupakan fungisida sistemik, yaitu senyawa kimia yang
akan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman bila diaplikasikan. Persyaratan
utama untuk fungisida sistemik, yaitu bekerja sebagai toksikan dalam inang atau
tanaman, mengganggu metabolisme inang dan mengimbas ketahanan fisik
maupun kimia terhadap patogen dengan tidak mengurangi kualitas dan kuantitas
tanaman, dapat diabsorbsi secara baik dan ditranslokasikan ke tempat patogen
serta stabil dalam tanaman inang, toksisitas terhadap mamalia cukup rendah, efek
residu dapat bertahan cukup lama dan toleran terhadap hujan. Hewitt (1998)
menyatakan bahwa fungisida golongan benzimidazole memiliki cara kerja yang
sangat spesifik, sehingga pengembangan resistensi benomil merupakan perhatian
utama dalam manajemen penyakit.
Pemanasan gelombang mikro dapat mempengaruhi kolonisasi cendawan
Colletotrichum spp. pada benih cabai. Penurunan tingkat infeksi C. acutatum
terjadi pada setiap lama pemanasan gelombang mikro. Semakin lama pemanasan
gelombang mikro maka tingkat infeksi C. acutatum semakin menurun. Pemanasan
gelombang mikro 40 detik efektif menurunkan tingkat infeksi C. acutatum serta
21

dapat mempertahankan viabilitas benih. Berbeda halnya dengan tingkat infeksi


cendawan Colletotrichum lainnya yang tidak berpengaruh nyata terhadap lama
pemanasan gelombang mikro 40 detik (Tabel 5). Hal tersebut diduga karena
tingkat infeksi awal yang sangat rendah sehingga pemanasan gelombang mikro
yang digunakan tidak efektif.
Tylkowska et al. (2010) melaporkan bahwa pemanasan gelombang mikro
45 dan 60 detik pada benih buncis dapat menghilangkan infeksi cendawan
Penicillium spp. sebesar 100% dengan tetap mempertahankan viabilitas benih.
Knox et al. (2013) melaporkan bahwa pemanasan gelombang mikro 15 detik pada
benih gandum dapat menurunkan tingkat infeksi cendawan Fusarium spp. dan
Microdochium nivale masing-masing sebesar 72 dan 77%. Perlakuan gelombang
mikro tidak merubah sifat DNA namun cendawan terbawa benih menjadi mati
dikarenakan pemanasan dan pengeringan. Hal tersebut diduga karena dinding sel
cendawan mengandung kitin dan β glukan yang merupakan material yang dapat
diserap oleh gelombang mikro menyebabkan atom-atom pada material tersebut
berotasi dan saling bertabrakan sehingga menimbulkan panas.
Arengka (2014) melaporkan bahwa pemanasan gelombang mikro 30 detik
pada benih jagung manis kadar air rendah (12.31%) dapat menurunkan tingkat
infeksi Fusarium subglutinans dan Aspergillus niger sebesar 75.0% dan 54.8%
dengan tetap mempertahankan viabilitas benih. Friesen et al. (2014) melaporkan
bahwa pemanasan gelombang mikro 30 dan 40 detik dapat menurunkan tingkat
infeksi C. lindemuthianum masing-masing sebesar 27.3 dan 33.3% dengan tetap
mempertahankan viabilitas benih.
Perlakuan fungisida benomil juga dapat menurunkan tingkat infeksi pada
semua Colletotrichum spp. (Tabel 5). Hal ini sesuai dengan penelitian Peres et al.
(2004) yang melaporkan bahwa benomil merupakan salah satu fungisida yang
paling efektif mengendalikan penyakit antraknosa pada buah jeruk, terutama
cendawan C. acutatum dan C. gloeosporioides. Ramdial dan Rampersad (2015)
melaporkan bahwa C. gloeosporioides pada cabai sensitif terhadap benomil.
Setiyowati et al. (2007) melaporkan bahwa benih yang dilapisi dengan
fungisida benomil dapat menurunkan tingkat infeksi C. capsici pada benih cabai.
Fungisida benomil merupakan fungisida sistemik yang akan masuk ke dalam
jaringan tanaman dan diserap oleh sel tanaman sehingga dapat melindungi
dinding-dinding sel dari infeksi cendawan. Hal tersebut diduga karena adanya
mekanisme fungitoksisitas dari benomil yang dapat menetralisasi enzim atau
toksin yang terlibat dalam invasi dan kolonisasi cendawan.
Benomil telah lama digunakan di bidang pertanian, namun banyak kasus
yang melaporkan bahwa benomil mengakibatkan resistensi. Umumnya cendawan
patogen berkembang menjadi resisten terhadap benomil, termasuk cendawan
patogen Colletotrichum pada tanaman jeruk dan tanaman lainnya (Peres et al.
2004).
Semakin lama pemanasan gelombang mikro maka semakin besar tingkat
efikasi terhadap C. acutatum. Tingkat efikasi gelombang mikro 40 detik terhadap
infeksi C. acutatum yaitu 64.3% lebih besar dibandingkan dengan tingkat efikasi
fungisida benomil yaitu 49.1% (Tabel 6).
22

Tabel 6 Tingkat efikasi pemanasan gelombang mikro dan fungisida benomil


terhadap tingkat infeksi C. acutatum
Lama pemanasan gelombang mikro Tingkat efikasi terhadap C. acutatum
(detik) (%)
0 0
10 13.4
20 21.4
30 41.1
40 64.3
50 69.6
Benomil 49.1

Perlakuan benih dikatakan efektif apabila pada pengamatan terakhir nilai


tingkat efikasi sekurang-kurangnya 50% (Dirjen PSP 2013). Pemanasan
gelombang mikro 40 detik mempunyai tingkat efikasi lebih dari 50%, sedangkan
perlakuan fungisida benomil mempunyai tingkat efikasi kurang dari 50%.
Berdasarkan hasil tersebut maka pemanasan gelombang mikro 40 detik efektif
menurunkan tingkat infeksi C. acutatum dibandingkan dengan perlakuan
fungisida benomil.
Pemanasan gelombang mikro bermanfaat bagi produsen skala kecil seperti
pemulia tanaman yang akan dikenakan biaya yang minimum dengan
menggunakan peralatan rumah tangga seperti oven microwave. Produsen skala
besar juga dapat memanfaatkan gelombang mikro karena microwave ukuran besar
untuk industri sudah digunakan oleh perusahaan pengolahan makanan dan
perusahan kimia (Mathlouthi et al. 2010).

5 KESIMPULAN

Gelombang mikro dapat mengendalikan C. acutatum dengan tingkat efikasi


sebesar 64.3% serta dapat mempertahankan viabilitas benih cabai pada kadar air
rendah (4.31%) dan lama pemanasan gelombang mikro 40 detik.

DAFTAR PUSTAKA

Agarwal VK, Sinclair JB. 1996. Principle of Seed Pathology. 2nd ed. Florida
(US):CRC Press Inc.
Aladjadjiyan A. 2010. Effect of microwave irradiation on seeds of lentils (Lens
culinaris, MED.). Roman J Biophys. 20(3):213-221.
Arengka D. 2014. Pemanfaatan gelombang mikro untuk mengendalikan patogen
terbawa benih jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) [tesis]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Barnett HL, Hunter BB. 1998. Illustrated Genera of Imperfect Fungi. 4th ed.
Minnesota (US): APS Press.
23

Bouraoui M, Richard P, Fichtali J. 1993. A review of moisture content


determination in foods using microwave oven drying. Food Res Int. 26:49-
57.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi cabai besar, cabai rawit, dan bawang
merah tahun 2014. [internet]. [diunduh 2016 Februari 10]. Tersedia pada
http://www.bps.go.id/website/brs_ind.
Brodie G. 2012. Applications of microwave heating in agricultural and forestry
related industries [Internet]. [diunduh 2013 Juli 3]. Tersedia pada
http://dx.doi.org/10. 5772/ 45919.
Brodie G, Ryan C, Lancaster C. 2012. Microwave technologies as part of an
integrated weed management strategy [a review]. Intern J Agron. 2012:1-14.
Chai AL, Zhao YJ, Shi YX, Xie XW, Li BJ. 2014. Identification of
Colletotrichum capsici (Syd.) Butler causing anthracnose on pumpkin in
China. Can J Plant Pathol. 36(1): 121–124.
Chen P, Lott JN. 1992. Studies of Capsicum annums seed: structure, storage
reserves, and mineral nutrients. Can J Bot. 70:518-529.
Chigoziri E, Ekefan EJ. 2013. Seed borne fungi of chilli pepper (Capsicum
frutescens) from pepper producing of Benue State, Nigeria. Agric Biol J N
Am. 4(4):370-374.
Chitkara S, Singh T, Singh D. 1990. Histopathology of Colletotrichum dematium
infected chilli seeds. Acta Botan Indic. 18:226-230.
Copeland LO, McDonald MB. 1995. Seed Science and Technology. 3rd ed. New
York (US): Chapman and Hall.
Damm U, Woudenberg JHC, Cannon PF, Crous PW. 2009. Colletotrichum
species with curved conidia from herbaceous hosts. Fungal Divers. 39:45-
87.
Damm U, Cannon PF, Woudenberg JHC, Crous PW. 2012. The Colletotrichum
acutatum species complex. Stud Mycol. 73:37-113. doi:10.3114/sim0010.
Deising HB, Reimann S, Pascholati SF. 2008. Mechanisms and significance of
fungicide resistance. Brazil J Microbiol. 39:286-295.
Dias GB, Gomes VM, Moraes TMS, Zottich UP, Rabelo GR, Carvalho AO,
Moulin M, Goncalves LSA, Rodrigues R, da Cunha M. 2013.
Characterization of Capsicum species using anatomic and molecular data.
Genet Mol Res. 12(4):6488-6501.
[Dirjen PSP]. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. 2013. Metode
Standar Pengujian Efikasi Fungisida. Jakarta (ID).
[Dirjen Tanaman Pangan]. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2005. Metode
dan Prosedur Pengujian Kesehatan Benih Tanaman Pangan dan
Hortikultura. Jakarta (ID): Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu
Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura.
[Dirjen Tanaman Pangan]. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013.
Pengkajian ISTA Rules: Penetapan Kadar Air dan Kegiatan Pendukungnya.
Jakarta (ID): Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman
Pangan dan Hortikultura.
Duriat AS, Gunaeni N, Wulandari AW. 2007. Penyakit Penting pada Tanaman
Cabai dan Pengendaliannya. Lembang (ID): Balai Penelitian Tanaman
Sayuran.
24

Edgar RH, Osepchuk JM. 2001. Consumer, Commercial, and Industrial


Microwave Ovens and Heating Systems. In: Handbook of microwave
technology for food applications. New York (US): Marcel Dekker, Inc.
Freeman S. 2008. Management, survival strategies, and host range of
Colletotrichum acutatum on strawberry. Hort Sci. 43(1):66-68.
Friesen AP, Conner RL, Robinson DE, Barton WR, Gillard CL. 2014. Effect of
microwave radiation on dry bean seed infected with Colletotrichum
lindemuthianum with and without the use of chemical seed treatment. Can J
Plant Sci. 94:1373-1384.
Gabriela V, Simina VC. 2011. Germination percentage of corn grains processed in
microwave field. Analele Universitatii din Oradea Fascicula Protectia
Mediului. 16:176-183.
Gaurilcikiene I, Ramanauskiene J, Dagys M, Simniskis R, Dabkevicius Z,
Suproniene S. 2013. The effect of strong microwave electric field radiation
on: (2) wheat (Triticum aestivum L.) seed germination and sanitation.
Zemdirb Agric. 100(2):185-190.
Grahovac M, Indic D, Vukovic S, Hrustc J, Gvozdenac S, Mihajlovic M, Tanovic
B. 2012. Morphological and ecological features as differentiation criteria for
Colletotrichum species. Zemdirb Agric. 99(2):189-196.
Han F. 2010. The effect of microwave treatment on germination, vigour and
health of china aster (Callistephus chinensis Nees.) seeds. J Agric Sci.
2(4):201-210.
Hewitt HG. 1998. Fungicide resistance. In: Fungicides in Crop Protection. Hewitt
HG. Centre for Agriculture and Biosciences International. Wallingford, UK.
155-181
Ilyas S. 2012. Ilmu dan Teknologi Benih (Teori dan Hasil-hasil Penelitian). Bogor
(ID): IPB Press.
Isaac S. 1992. Fungal Plant Interaction. London (UK): Chapman and Hall Press.
[ISTA] Internasional Seed Testing Association. 2014. International Rules for
Seed Testing. Switzerland (CH): ISTA.
Iuliana C, Caprita R, Giancarla V, Sorina R, Genoveva B. 2013. Respon of barley
seedling to microwave at 2.45 GHz. Animal Sci Biotech 46(1):185-191.
Ivey MLL, Miller SA. 2004. Identification and management of Colletotrichum
acutatum on immature bell peppers. Plant Dis. 88(11):1198-1204.
Jeffries P, Dodd JC, Jegerand MJ, Plumbley RA. 1990. The biology and control of
Colletotrichum species on fruit crops. Plant Pathol. 39(3):343-366.
Kim SH, Yoon JB, Do JW, Park HG. 2008. A major recessive gene associated
with anthracnose resistance to Colletotrichum capsici in chili pepper
(Capsicum annuum L.). Breed Sci. 58:137–141.
Knox OGG, McHugh MJ, Fountaine JM, Havis ND. 2013. Effects of microwave
on fungal pathogens of wheat seed. Crop Prot. 50:12-16.
Kusandriani Y, Muharam A. 2005. Produksi Benih Cabai. Bandung (ID): Balai
Penelitian Tanaman Sayuran.
Mahmodi F, Kadir JB, Wong MY, Nasehi A, Soleimani N, Puteh A. 2013. First
report of anthracnose caused by Colletotrichum capsici on Bok choy
(Brassica chinensis) in Malaysia. Plant Dis. 97:687.
25

Manickavasagan A, Jayas DS, White NDG. 2007. Germination of wheat grains


from uneven microwave heating in an industrial microwave dryer. 49:323-
327.
Methlouthi A, Rouaud O, Boillereaux L. 2010. Microwave applicator with
conveyor belt system. In: Proceedings of the COMSOL Conference. Paris
France.
Mathur SB, Kongsdal O. 2003. Common Laboratory Seed Health Testing
Methods for Detecting Fungi. Denmark (DK).
McCormack JH. 2004. Seed Processing and Storage: Principles and Practices.
California (US).
Nelson S. 2011. A half century of research on agricultural applications for RF and
microwave dielectric heating. American Society of Agricultural and
Biological Engineers.
Nome SF, Barreto D, Docampo DM. 2002. Seedborne pathogens. In: Proceeding
International Seed Seminar : Trade, Production and Technologi. 114-126.
Pardo-De la Hoz CJ, Calderón C, Rincón AM, Cárdenas M, Danies G, López-
Kleine L, Restrepo S, Jiménez P. 2016. Species from the Colletotrichum
acutatum, Colletotrichum boninense and Colletotrichum gloeosporioides
species complexes associated with tree tomato and mango crops in
Colombia. Plant Pathol. 65(2):227-237.
Peres NA, Souza NL, Peever TL, Timmer LW. 2004. Benomyl sensitivity of
isolates of Colletotrichum acutatum and C. gloeosporioides from citrus.
Plant Dis. 88(2):125-130.
Peres NA, Timmer LW, Adaskaveg JE, Correll JC. 2005. Lifestyles of
Colletotrichum acutatum. Plant Dis. 89(8):784-796.
[Permentan] Peraturan Menteri Pertanian RI. 2012. Peraturan Menteri Pertanian
RI No. 01/Ktps/SR.130/12/2012 tentang Pedoman Teknis Sertifikasi Benih
Hortikultura.
Pring RJ, Nash C, Zakaria M, Bailey JA. 1995. Infection process and host range
of Colletotrichum capsici. Physiol Mol Plant Pathol. 46(2):137-152.
Prusky D, Koblier I, Aridi R, Beno-Moalem D, Yakoby N, Keen NT. 2000.
Resistance Mechanisms of Subtropical Fruits to Colletotrichum
gloeosporioides. In: Bailey JA, Jeger MJ. Colletotrichum: Biology,
Pathology, and Control. CAB International Wallingford.
Ramdial H, Rampersad SN. 2015. Characterization of Colletotrichum spp.
causing anthracnose of bell pepper (Capsicum annuum L.) in Trinidad.
Phytoparasitica. 43:37-49.
Saltiel C, Datta AK. 1999. Heat and mass transfer in microwave processing.
Advances in heat transfer. 33:1-94.
Setiyowati H, Surahman M, Wiyono S. 2007. Pengaruh seed coating fungisida
benomil dan tepung curcuma terhadap patogen antraknosa terbawa benih
dan viabilitas benih cabai besar (Capsicum annuum L.). Bul Agron.
35(3):176-182.
Smith BJ, Black LL. 1990. Morphological, cultural, and pathogenic variation
among Colletotrichum species isolated from strawberry. Plant Dis. 74:69-76.
Sumarni N, Muharam A. 2005. Budidaya Tanaman Cabai Merah. Lembang (ID):
Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
26

Syukur M, Sujiprihati S, Koswara J, Widodo. 2007. Pewarisan ketahanan cabai


(Capsicum annuum L.) terhadap antraknosa yang disebabkan oleh
Colletotrichum acutatum. Bul Agron. 35(2):112-117.
Syukur M, Sujiprihati S, Yunianti R, Kusumah DA. 2010. Evaluasi daya hasil
cabai hibrida dan daya adaptasinya di empat lokasi dalam dua tahun. J
Agron Indonesia. 38(1):43-51.
Syukur M, Yunianti R, Rustam, Widodo. 2013. Pemanfaatan sumber daya genetik
lokal dalam perakitan varietas unggul cabai (Capsicum annuum) tahan
terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. JIPI.
18(2):67-72.
Than PP, Jeewon R, Hyde KD, Pongsupasamit S, Mongkolporn O, Taylor PWJ.
2008. Characterization and pathogenicity of Colletotrichum species
associated with anthracnose on chilli (Capsicum spp.) in Thailand. Plant
Pathol. 57:562-572. doi: 10.1111/j.1365-3059.2007.01782.x.
Tylkowska K, Turek M, Prieto RB. 2010. Health, germination and vigour of
common bean seeds in relation to microwave irradiation. Phytopathologia.
55:5-12.
Vassanacharoen P, Janhang P, Kritigamas N, Horsten VD, Vearsilp S. 2006.
Radio frequency heat treatment to eradicate Fusarium semitectum in corn
grain (Zea mays). J Agric Sci. 37(5):180-182.
Voorrips RE, Finkers R, Sanjaya L, Groenwold R. 2004. QTL mapping of
anthracnose (Colletotrichum spp.) resistance in a cross between Capsicum
annuum and C. chinense. Theoret App Gen. 109(6):1275-1282.
Yulianty, Tripeni TH. 2007. Pengaturan lama perendaman benih cabai (Capsicum
annuum L.) dalam fungisida berbahan aktif benomyl untuk menekan
perkembangan penyakit antraknosa (Colletotrichum capsici). J Sains MIPA.
13(1):49-54.
Wei MC. 2004. Microwave power control strategies on the drying process [tesis].
Canada (CA): McGill University.
Widajati E, Murniati E, Palupi ER, Kartika T, Suhartanto MR dan Qadir A. 2013.
Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. Bogor (ID): IPB Press
Widodo. 2007. Status of Chilli Anthracnose in Indonesia. In: First International
Symposium on Chili Anthracnose. Seoul National University. Seoul.
Korea.17-19.
Xia H, Wang XL, Zhu HJ, Gao BD. 2011. First report of anthracnose caused by
Glomerella acutata on chili pepper in China. Plant Dis. 95:219.
Zhang WJ, Jiang FB, Ou JF. 2011. Global pesticide consumption and pollution:
with China as a focus. In: Proceedings of the International Academy of
Ecology and Environmental Sciences. 1(2):125-144.
27

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 17 November 1981 sebagai


anak ketiga dari pasangan Bapak Achmad Ridwan Fakih (Alm) dan Ibu Nuni
Jamilah. Pendidikan sarjana ditempuh pada tahun 1999 di Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, dan
menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2004. Penulis bekerja sebagai Analis
Benih di Laboratorium Pengujian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih/Bibit
Pertanian dan Peternakan Provinsi Maluku sejak tahun 2009. Penulis melanjutkan
pendidikannya pada tahun 2013 di Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan menyelesaikan pendidikannya
pada tahun 2016. Beasiswa Pendidikan Pascasarjana diperoleh dari Pemerintah
Daerah Provinsi Maluku.