You are on page 1of 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Allah SWT. Telah menciptakan manusia sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Dari
awal penciptaan manusia, ketika nabi Adam masih di surga Allah SWT. Mengajarkan nabi Adam
tentang semua nya termasuk berkomunikasi. Hal ini sangat membuktikan bahwa manusia tidak bisa
hidup tanpa komunikasi. Bahwa manusia mengutarakan, menyampaikan pesan, menyapaikan
keinginan agar diketahui orang lain adalah dengan berkomunikasi, baik berupa verbal maupun non
verbal. Seperti yang terdapat pada firman Allah SWT. Berikut ini :

ْ‫ت َخلقْ آَيَاتِ ِْه َومِ ن‬


ِْ ‫اوا‬
َ ‫س َم‬
َّ ‫ض ال‬ ِ ‫لِلعَا ِلمِينَْ ََلَيَاتْ ذَلِكَْ فِي إِنَّْ َوأَل َوانِكمْ أَل‬
ْ ِ ‫سنَتِكمْ َواخت ََِلفْ َواْلَر‬

Artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan
bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-
tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum ayat 22 )

Allah SWT. Menciptakan manusia berdengan berbagai keunikannya masing-masing dan


masing-asing juga punya ciri khas tersendiri, mulai dari jenis kelamin, jenis kulit, cara berkomunikasi
pun berbeda-beda disetiap daerah. Mengenai komunikasi, karena setiap daerah berbdea-bed cara
komunikasinya maka setiap manusia juag punya cara tersendiri untuk mengatasi perbedaan bahasa
dan budaya ketika berkomunikasi dengan orang asing. Baik orang yang tinggal di perkotaan maupun
pedesaan semua nya punya ciri khas tersendiri untuk menyampaikan pesan saat berkomunikasi.

Setiap daerah pasti memiliki masyarakat yang majemuk. Setiap masyarakat tersebut juga
memiliki aktivitas yang beragam, sepert masyarakat yang hidup di daerah manapun apa lagi
perkotaan. Dalam melakukan aktivitasnya, masyarakat pasti berkomunikasi melalui bahasa untuk
menunjang interaksi mereka. Namun pada umumnya, ragam interaksi bahasa yang di gunakan
berbeda-beda di karenakan latar belakang budaya asal yang juga berbeda, misalnya saja seperti yang
terjadi di daerah perkotaan. Dari semua masyarakat perkotaan, tidak lah mungkin seluruh
masyarakat asli dari perkotaan. Pasti sebagian masyrkat yang berasal dari desa yang kemudian
menetap di perkotaan.

Dari setiap budaya tersebut memiliki bahasa yang berbeda sehingga keberagaman budaya
komunikasi yang di lakukan oleh masyarakat perkotaan juga memilik keberagaman bahasa.
Hubungan komunikasi antar budaya mampu memberikan keuntungan dalam aktualisasi nya
misalnya terhadap peningkatan pengetahuan dan cara panang seseorang tentng dunia melalui orang
orang baru dari budaya yang baru di jumpai

Menurut Ting Toomey (1953), budaya sebagai kontemporer dari usaha manusia untuk
bertahan hidup dan berkembang dalam lingkungan partikular mereka. The cultula Communication
Function yaitu koordinasi antara budaya dengan komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi dan
komunikasi mempengaruhi buaya. Dengan kata lain, budaya di ciptakan di benuk,ditransmisikan dan
di pelajari melalui komunikasi.

1
Disamping itu, bagaimana cara kita untuk menjelaskan tentang diri kita sendiri di hadapan
orang yang berbeda latar budaya juga memberikan tantangan tersendiri. Alasan-alasan itulah
kemudian akan membentuk pola komunikasi dan hubungan antar budaya seseorang.

Dari teori bahasa ini dapat di ketahui bahwa bahasa merupakan alat komunikasi dan
interaksi manusia yang di dalam nya terdapat simbol-simbol bunyi yang mendiri dan unik yang di
gunakan dalam suatu latar budaya tertentu. Komunikasi adalah cara untuk berdialektika dalam
konteks hubungan antar budaya. Kita harus memulai untuk memikirkan bagai mana cara yang tept
untuk melangsungkan komunikasi ketika kita sedang berada dalam lawan bicara yang berbeda latar
belakang buaya dengan kita. Yang paling utama adalah bahasa, bahasa mempengaruhi pemikiran
dan perilaku.

Bahsa mempengaruhi proses kognitif kita. Oleh sebab itu,bahsa-bahasa di dunia memiliki
banyak keanekaragaman yang unik dan yang lainnya baik dalam hal karakteristik semantik maupun
strukturnya, maka dapat juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berfikir tentang
dunia.

Bahasa mencerminkan budaya, makin besar perbedaan budaya makin, makin besar
perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar
perbedaan antar budaya (dan,karenanya,makin besar isyarat perbeaan komunikasi), makin sulit
komumnikasi di lakukan. Semakinbesar pula ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.

Terdapat 3 fase dalam proses membangun hubungan antar budaya diantaranya :

1. Fase initial attraction (tahap pengenalan awal)


2. Exploration (tahap eksploras lanjutan)
3. Stabilization ( tahap menstabilkan hubungan)

Setiap budaya memilik variasi dan caranya masing-masing yang berbeda dan unik dalam
seiap fase membangun budaya tersebut.

Perbedaan cara pandang budaya dalam hubungan dapat disebabkan oleh adanya identitas
dan nilai-nilai yang dianut masyarakat tertentu. Hubunagn antar buaya juga tidak bisa di
lepaskan dari brbagai tantangan misalnya perbedaan-perbedaan idiosinkraktik tidak akan
banyak menimbulkan efek ketika hubunan antar budaya tersebut di bangun pada tahap awal.
Namun, ketika akan memasuki thapan yang lebih intim/mendalam, maka terciptala proses
negosiasi dan interaksi antara perbedaan-perbedaan dengan persamaan-persamaan yang ada.

Selain itu, perbedaan kultural sudah menjadi suatu hal yang pasti dan di berikan secara
turun menurun, sehingga tantangan nya adalah bagai mana cara menemukan dan membangun
kesamaan-kesamaan di balik berbagai perbedaan misalnya dengan membangun raa ketertarikan
atau kepentingan bersama,aktivitas,kepercayaan dan tujuan akhir yang sama

Dalam konteks perkuliahan, pasti ada mahasiswa yang berasal dari luar kota palembang
yang memiliki budaya yang berbeda khususnya dalam segi bahasa. Bagi mahasiswa yang bukan
dari kota palembang tentu ada sedikit kendala ketika akan berinteraksi dengan orang yan
bahasanya berbeda dari dirinya sendiri. Bahas adalah untuk berinteraksi engan orang lain.

Ketika sudah menjadi mahasiswa pasti akan akrab dengan dunia diskusi. Nah inilah alasan
kenapa penelitian ini di buat, untuk mengetahui bagaimana komunikasi mahasiswa baru yang
berbeda bahasa dengan mahasiswa lain yang penduduk asli atau sudah lama di kota palembang
dengan bahasa palembang.

2
B. Rumusan Masalah

Dari penelitian ini dapat di ambil rumuan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara mahasiswa ketika pertama kali yang bukan berasal dari kota palembang
menggunakan bahasa untuk berinteraksi di ruang kelas 06 gedung Pasca Sarjana UIN
Raden Fatah Palembang ?
2. Apakah para mahasiswa yang berasal dari luar kota palembang kesulitan untuk
berinteraksi di ruang 06 gedung Pasca Sarjana UIN Raden Fatah Palembang ?
3. Bagaimana caa mengatasi agar mahasiswa dari daerah luar kota bisa dengan mudah
berkomunikasi di ruang kelas 06 gedung Pasca Sarjana UIN Raden Fatah Palembang ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana cara mahasiswa yang berasal dari luar kota Palembang
dalam beriteraksi di ruang kelas 06 gedung Pasca Sarjana UIN Raden Fatah Palembang.
2. Untuk mengetahui apakah para mahasiswa dari lua kota Palembang merasa kesulitan
ketika berinteraksi dengan teman sekelas di ruang 06 gedung Pasca Sarjana UIN Raden
Fatah Palembang.
3. Utnuk mengetahui bagaimana cara atau solusi agar bisa berinterasi dengan teman
sekelas yang beraal dari kota palembang di ruang kelas 06 gedung Pasca Sarjana UIN
Raden Fatah Palembang.

D. Kegunaan/Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini berguna/di harapkan bisa menunjukan bahwa perbedaan budaya
khususnya dalam segi ahasa bukan penghalang untuk belaja dan menimba ilmu.

2. Manfaat Praktis
Penelitian ini bisa/dari penelitian kita bisa mengetahui apa yang di rsakan oleh
teman-teman yang bukan berasal dari budaya berbeda khususnya dalam segi bahasa.

E. Kerangka Teori

a. Pengertian komunikasi antar pribadi

komunikasi antar pribadi merupakan proses melalui mana orang menciptakan dan
mengelola hubungan mereka, melaksanakan tanggung jawab secara timbale balik
dalam menciptakan makna. Lebih lanjut ia menjelaskan sebagai berikut : pertama,
3
Komunikasi antar pribadi sebagai proses. Proses merupakan rangkaian sistematis
perilaku yang bertujuan yang terjadi dari waktu ke waktu atau berulang kali 1 .

b. Analis Komunikasi pada Tingkat Kultur

Terdapat dua jenis kultur, yaitu homogeneous : apabila orang-orang disuatu kultur
berprilaku kurang lebih sama dan menilai sesuatu juga sama. Sedangkan yang
heterogeneous : adanya perdebedaan-perbedaan di dalam pola prilaku dan nilai-nilai
yang dianutnya. Jadi apabila kmunikator melakukan prediksi terhadap reaksi
penerima atau receiver sebagai akibat menerima pesan dengan enggunakan dasar
kultural.
Apabila prediksi kita gagal,ini sering kali disebabkan kita mengabaikan
pengalaman-pengaalaman pihak laun disebabkan kita mencoba melakukan prediksi
mengenai prilaku pihak lain berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berbeda
dengan pengalaman-pengalaman pihak lain. Kita misalnya menggunakan kata-kata
yang tidak bermakna atau berbeda maknanya bagi yang bersangkutan dengan yyang
kita miliki. Hal ini terjadi kalau kita berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar
belakang budayanya. Misalnya kata cokot bagi orang Jawa dan Sunda berbeda
maknanya. Bagi orang Jawa, kata tersebut artinya “menggigit” dan bagi orag Sunda
artinya mengambil. Perbeaan makna tersebut bias juga berkaitann dengan stereotip
social yang sifatnya negative terhadap pihak lain. Jadi bukan hanya masalah
perbedaan makna sebuah kata tetapi bias juga perbedaan sikap, persepsi seseorang
terhadap orang lain yang berbeda latar belakang budayanya. Belum lagi menyangkut
masalah tradisi, adat istiadat, kebiaaan, peraturan yang tertulis maupun yang tidak
tertulis yang bsa saja beda dengan budaya lain.

c. Karakteristik Komunikasi Antar Pribadi

Menurut Richard L. Weaver II (1993) ada delpan karakteristik komunikasi antar


pribadi, yaitu sebagi berikut :
 Melibatkan paling sedikit dua orang, apabila dua orang dalam dalam
kelompok yang lebih besar mengenai hal tertentu atau sesuatu maka kedua orang
itu nyata-nyata sudah terlibat dalam proses komunikasi antar pribadi.
 Adanya umpan balik atau feedback, hamper seluruh komunikasi antar pribadi
melibatkan umpan ballik langsung. Sering kali bersifat segera, nyata,
berkesinambungan. Hubunga yang langsung antara sumber dan penerima
merupakan entuk yang unik bagi komunikasi antar pribadi. Ini yang dinamakan
simultaneous message atau co-stimulation.

1
Muhammad budyatna & Leila Mona Galiem, Teori Komunikasi Antar Pribadi. (Jakarta: Kencana, 2011), halm.
2

4
 Tidak harus tatap muka, bagi komunikasi antarpribadi yang sudah terbentuk,
adanya saling pengertian antara individu, kehadiran fisik dalam berkomunikasi
tidaklah terlalu penting.
 Tidak harus bertujuan, misalnya anda dapat mengetahui karena keseleo lidah
karena orang itu tidak berbohong kepada anda. Anda bisa saja mengetahui atau
menyadari bahwa seseorang yang didekat andabegitu terlihat dari kakinya yang
selalu bergerak dan bergeser, berkata-kata penuuh keraguan atau bereaksi secara
gugup. Rang itu mungkin mengkomunikasikan hal tersebut secar tidak sengaja yang
mempengaruhi anda, dngan kata lain proses penyampaian pesan telah terjadi.
 Menghasilkan beberapa pengaruh dan effect, untuk dianggap komunikasi
yang benar maka sebuah pesan harus menghasilkan atau memiliki efek atau
pengaruh.
 Dipengaruhi oleh konteks, konteks merupakan tempat dimana pertemuan
komunikasi tersebut terjadi termasuk apa yang mendahului dan mengikuti apa yang
dikatakan
 Dopengaruhi oleh kegaduhan atau noise, ialah setiap rangsangan atau
stimulus yang menganggu dalam proses pembuatan pesan.

d. Bentuk-bentuk Hubungan dalam Komunikai Antarpribadi


Ada dua bentuk hubungan dalam komunikasi antar pribadi, yaitu:
 Kenalan, banyak hubungan dengan kenalan tumbuh atau berkembang pada
konteks khusus. Kita menjadi kenal dengan mereka dengan yang tinggal di
apartemen yang sama dengan kita atau di seberang rumah atau teman sekelas kita,
bila bertemu saling memberi hormat atau mengangguk tapi tidak ada usaha untuk
menyampaikan gagasan-gagasan pribadi atau untuk saling berkunjung.
 Teman, karena perjalanan waktu beberapa dari kenalan bisa menjadi teman.
Teman adalah mereka yang telah mengadakan hubungan pribadi dengan kita secara
sukarela.

d. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari ahasa sansekerta yaitu buddhayah, bentuk
jamak dari buddhi (budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi, akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaa disebut culture, yang berasal
dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kata Culture juga kadang diterjemahkansebagai
“kultur” dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosiobudaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan social manusia.

5
e. Hubungan komunikasi pada tingkat kultural

Umumnya hubungan komunikasi pada tingkat kultural bertindak sebagai batu


loncatan ke hubungan tingat sosiologis. Hubungan tingkat kultural berlaku singkat.
Dalam hubungan tingkat kultural kita mendasarkan prediksi komunikasi kita pada
pengetahuan yang diperoleh dari kultur secara keseluruhan. Pengetahuan kita
tentang budaya memungkinkan kita untuk melakukan prediksi mengenai ucapan-
ucapan atau kata-kata dari seseorang yang baru saja bertemu dengan kita. Ironinya
pula bisa menjadi pasangan bagi kita bagaimana cara bicara kita kepadanya. Dua
orang berkomunikasi untuk pertama kalinya memerlukan dasar yang sama. Bila
mampu untuk melibatkan diri dalam percakapan berama dan mampu mengantisipasi
perilaku pihak lain atau mitra bicara kita memungkinkan kita untuk melakukan
transaksi lebih lanjut.
Hubungan tingkat kultural dibangun dengan sejumlah aturan-aturan yang
mengatur bagaimana seseorang harus berkomunikasi. Beberapa aturan isi pean-
pesan komunikasi, misalnya kedua belah pihak harus berbicara mengenai sesuatu
dimana pihak lainnya mengerti dan mengenal apa isi pembicaraan.

F. Kajian Pustaka

Skripsi Juniardi, Nim : 0851 2005 , tahun 2013 yang berjudul tentang “Pengaruh
Komunikasi Antar Pribadi Terhadap Prestasi Akademik pada Mahasiswa Belitung di
Palembang” Disini menjelaskan bahwa pada mahasiswa Belitung yang kuliah di
Palembang melakukan komunikasi antar teman-teman agar masing-masing dan
mereka bias memberi dan menerima suatu masukan komunikasi dalam melakukan
sesuatu. Pengaruh komunikasi antar pribadi mendapatkan nilai 0,90 yang memiliki arti
bahwa komunikasi antar pribadinya sangat berpengaruh secara signitif.

Skripsi Rabiatul Asawiyah, Nim : 9852027, tahun 2003, yang berjudul tentang : “
Upaya orang tua sebagai konselor dalam pembinaan keperibadian anak”. Disini
dijelaskan bahwa upaya yang dilakukan oleh orang tua sebagai konselor dalam
membina keperibadian anak adalah memberikan pendidikan agama, memberikan
bimbingan dan nasehat dalam menjalani hidup, mengarahkan kepada hal – hal yang
bermanfaat dan bernilai positif, mengajarkan ahlak, memberikan kebebasan untuk
memilih jalan hidup yang benar sesuai ajaran agama.

Dari kedua penelitian diatas belum ada yang meneliti tentang akulturasi antar
budaya sebagai objek komunikasi di ruang 06 gedung Pasca Sarjana Universitas Islam
Negeri Raden Fatah Palembang. Penelitian ini berbeda dari kedua penelitian diatas

6
karena penelitian ini bertujuan untuk menegetahui bagaimana proses komunikasi
siswa dari luar kota Palembang dan mahasiswa dari kota Palembang itu sendiri.

G. Metodologi Penelitian

1. Jenis dan sumber data penelitian


Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana cara mendapatkan
informasi dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi, sumber
penelitian atau sumber data utama dari penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan.

2. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan teknik catat
penulis terlebih dahulu mengobservasi dengan mengamati situasi dan keadaan
lingkungan, kemudian melakukan wawancara kepada teman sekelas, untuk
mendapatkan informasi yang relevan, terakhir lengkah yang dilakukan adalah
dengan teknik catat yaitu mencatat semua informasi yang diberikan dari teman
sekolah yang berasal dari luar kota Palembang atau yang dari daerah dengan
penggunaan bahasa yang berbeda dari warga kota Palembang.

3. Teknik Analisis Data


Analisis data dalam penelitian ini dilakukan degan analisis data model interaktif.
Artinya sebagai penelitian peneliti kualitatif sebenarnya analisis telah dilakukan sejak
mula penelitian ini dikeluarkan, dirancang, dicari datanya dilapangan dan setelah
semua data terkumpul.
Data analisis kemudian data hasil wawacara yang telah didapat selanjutnya data
hasil wawancara tersebut diklasifikasikan berdasarkan aspek keanekaragaman
bahasa yang terjadi pada mahasiswa di ruang kelas 06 gedung pasca sarjang UIN
Raden Fatah Palembang.
a. Temuan hasil penelitian
Dari penelitian yang kami lakukan, kami mendeskripsikan dari penelitian kami
mengenai “Pola penggunaan bahasa untuk mahasiswa dari luar kota yang berkuliah
di UIN Raden Fatah Palembangdi ruang 06 gedung pasca sarjana jurusan ilmu
komunikasi semester 2” dimana menurut pengamatan kami bahwa tidak semua yang
berkuliah di kota Palembang tersebut kesulitan dalam komunikasi / berkomunikasi
antar pribadi maupun kelompok.
Ada mahasiswa yang terlebih dahulu memahami apa yang dibicarakan karena
bahasa Palembang tidak jauh berbeda dengan bahasa daerah nya, ada mahasiswa
yang memang sudah paham dan bisa bahasa Palembang, karena walaupun tidak
tinggal di kota Palembang, bahasa daerahnya sama dengan bahasa Palembang, dan
ada juga yang tidak mengerti bahasa Palembang, hanya sedikit tapi jika ada kosa kata

7
yang tidak diketahuinya maka mahasiswa yang dari luar kota Palembang bertanya
tentang kosa kata yang ia tidak mengerti.
Namun, rata-rata dari data / hasil wawancara yang kami dapat sekitar 30% dari
jumlah siswa yang berasal dari luar kota Palembang tidak terlalu mengalami
kesulitan yang mencapai 50% lebih (tingkat kesulitannya). Karena ketika ada kosa
kata yang tidak mereka tau, mereka akan bertanya. Hal inilah yang memudahkan
mahasiswa tersebut mengerti, dengan adanya dialog seperti ini mahasiswa dari luar
kota Palembang dan yang dari kota Palembang semakin akrab.
Pada dasarnya memang dunia perkuliahan adalah tempat perkumpulan budaya
yang berbeda –beda, jadi mahasiswa yang dari kotamaupun luar kota palembangdi
ruang 06 gedung pasca sarjana memakluminya perbedaan bahasa karena perbedaan
bahasa tidak menjadi alas an bagi mahasiswa di gedung pasca sarjana ruang 06 untuk
tetap berkuliah dan menimba ilmu.

8
BAB II

KESIMPULAN

Dari uraian yang di jelaskan pada Bab I dan Bab II dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Bagi mahasiswa baru yang berasal dari luar kota Palembang, berkomunikasi dengan
teman sekelas yang berasal dari kota Palembang yang bahasanya berbeda merupakan
tantangan tersendiri, proses komunikasi yang pertama adalah memasuki tahap
pengenalan.
2. Tingkat kesulitan yang dialami oleh mahasiswa dari luar kota Palembbang ketika
berkomunikasi degan teman sekelas yang berasal dari kota Palembang adalah tidak
terlalu sulit. Pada komunikasi tingkat kultural yang seperti ini biasanya komunikan sudah
punya setidaknya penegttahuan tentang bahasa tempat ia akan melaksanakan proses
komuikasi.
3. Mahasiswa dari luar kota Palembang mengatasi perbedaan kultural adalah dengan hasil
dari pengenalan dan pengetahuan tentang bahasa yang digunakan pada ruang 06 di
gedung Pasca Sarjana. Pada tahap ini para mahasiswa yang berada dari luar kotta
Palembang akan berusaha menggunakan tahap pengenalan dan informasi bahasa. Dari
tahap inilah, kosa kata bahsa mulai bertambah. Pada umunya mahasiswa dari luar kota
Palembang hanya mengalami keulitan pada tingkat awal. Setelah dari situ, seiring
bertambahnya kosa kata maka bertambah mudah berkomunikasi dengan teman sekelas
yang berada dari kota Palembang di ruang 06 gedung Pasca Sarjana Universitas Islam
Negeri Raden Fatah Palembang.

9
DAFTAR PUSTAKA

Budyatna Muhammad, Mona Ganiem Leila. 2011. Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana

10