You are on page 1of 10

IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO TERJADINYA INFEKSI KECACINGAN PADA MURID

SEKOLAH DASAR NEGERI 1 BAGIK POLAK BARAT DI KECAMATAN LABUAPI KABUPATEN


LOMBOK BARAT

Lale Maulin Prihatina, Muthia Cenderadewi, Eva Triani


Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Abstract
Background: Helminthiasis is infestation with one or more intestinal parasitic worms occurred in human
body, mostly caused by roundworms (Ascaris lumbricoides), whipworms (Trichuris trichiura), and
hookworms (Necator americanus and Ancylostoma duodenale). More than 1.3 billion people are infected
with soil-transmitted helminth infections worldwide. Soil-Transmitted Helminthiasis (STH) can be
contracted by humans in various age groups, however children are the most affected by the consequences
of the infections. Over 400 million school-age children are infected by STH, and their cognitive and
educational performances are affected by these infestations.
Purpose: The objective of this study is to analyze varied risk factors of STH in Primary School Students of
Sekolah Dasar Negeri 1 Bagik Polak, Labuapi Subdistrict, West Lombok Method: An observational, cross-
sectional study was conducted, using questionnaire and structured interview. Risk Factors were evaluated
through students' defecation behavior, practices on hand hygiene, footwear use, and other sanitation-
related practices and knowledge. Fecal examinations were performed to establish helminthiasis
diagnosis. A Chisquare test was used to analyze the collected data.
Results and Conclusions: STH were diagnosed in 8.6% of respondents. There was no correlation identified
between mother's' level of knowledge and diagnosis of STH (87.7% with good level of knowledge in regard
to STH). Significant correlations were identified between diagnosis of STH and students' level of personal
hygiene (p=0.044), and family members' practices in regard to helminthiasis prevention (p=0.01).
Keywords : Helminthiasis, Soil-Transmitted Helminthiasis, Primary School Students

Abstrak
Pendahuluan: Penyakit kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh karena masuknya parasit
(berupa cacing) kedalam tubuh manusia. Jenis cacing yang sering ditemukan menimbulkan infeksi adalah
cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Necator
americanus) yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminthiasis). Diperkirakan lebih dari 1,3
milyar orang di dunia terinfeksi Soil Transmitted Helminthiasis (STH). Walaupun STH dapat menginfeksi
semua kelompok umur, tetapi kebanyakan terjadi pada usia anak sekolah, diperkirakan 400 juta anak
sekolah (5 — 15 tahun) terinfeksi STH, dan hal ini sering dapat berpengaruh terhadap —Hihan, aktifitas
fisik, fungsi kognitif dan kemampuan belajar dimana semua itu tznjadi tidak optimal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
infeksi kecacingan pada murid Sekolah Dasar Negeri I Bagik Polak Barat di Kecamatan Labuapi, Kabupaten
Lombok Barat.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan
cross sectional. Penilaian tentang faktor risiko kecacingan diukur dengan metode kuesioner yang terdiri
dari pertanyaan-pertanyaan tentang perilaku buang air besar (BAB), perilaku cuci tangan, perilaku
pemakaian alas kaki dan kondisi sanitasi yang berkorelasi dengan kejadian kecacingan. Untuk penegakkan
diagnosa kecacingan dilakukan pemeriksaan telur cacing pada tinja sampel. Hasil positif apabila
ditemukan telur cacing dalam sediaan yang dibuat. Analisis data dengan menggunakan Uji Kai Kuadrat
dengan taraf signifikansi (p < 0,05).
Hasil dan Kesimpulan: Angka kejadian kecacingan pada murid SD Negeri I Bagik Polak Barat mencapai
8,6%. Tingkat pengetahuan responden ibu tentang kecacingan terbagi menjadi baik (B) 87,7% dan buruk
(K) 12,3 % namun tidak berpengaruh pada tingkat kecacingan. Terdapat hubungan yang bermakna antara
tingkat kebersihan murid (p=0,044) dan perilaku anggota keluarga (p=0,01) terkait pencegahan
kecacingan pada murid SD Negeri I Bagik Polak Barat.
Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat
Kata Kunci : Kecacingan, Soil Transmitted Helminth, Murid Sekolah Dasar

Pendahuluan tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat


Anak usia sekolah merupakan
(PHBS)1
tumpuan bagi masa depan bangsa. Mereka
Data World Health Organization
merupakan sasaran yang strategis untuk
(2013) menunjukkan lebih dari 1,5 miliar
pelaksanaan program kesehatan, karena
orang atau 24% populasi dunia terinfeksi
selain jumlahnya yang besar yaitu dua
dengan Soil Transmitted Helminths (STH).
pertiga dari jumlah penduduk Indonesia,
Infeksi ini tersebar luas di daerah tropis dan
anak usia sekolah juga merupakan sasaran
subtropis dengan jumlah terbesar terjadi di
yang mudah dijangkau karena terorganisir
Sub-Sahara Afrika, Amerika, China dan Asia
dengan baik. Beban untuk menanggulangi
timur.1
masalah kesehatan pada anak usia sekolah
Negara miskin dan negara yang sedang
juga terus meningkat dikarenakan
berkembang seperti Indonesia
permasalahan kesehatan yang masih banyak
memperlihatkan prevalensi penyakit infeksi
terjadi dikalangan anak usia sekolah.
parasit yang lebih tinggi. Mekanisme
Indonesia itu sendiri merupakan salah
penularan penyakit akibat parasit berkaitan
satu negara yang sedang berkembang,
dengan kebersihan pada diri sendiri dan
dimana keadaan kesehatan lingkungan di
sanitasi lingkungan yang buruk, aspek sosial
Indonesia merupakan hal yang perlu
ekonomi, dan tingkat pengetahuan
mendapatkan perhatian yang maksimal
seseorang tentang PHBS yang masih
karena dapat menyebabkan status
rendah.1
kesehatan masyarakat berubah, agar
Prevalensi infeksi STH di Indonesia
terciptanya masyarakat sehat maka harus
masih tinggi dan distribusi secara luas di
dapat menerapkan kebiasaan sehari-hari
daerah pedesaan dan perkotaan, khususnya
di daerah pedesaan masih sangat tinggi. ke-5 dari hasil survei yang telah dilakukan
Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh pada beberapa kabupaten di Indonesia.3
lingkungan yang sesuai untuk Murid sekolah dikatakan sebagai salah
perkembangan cacing, serta sanitasi yang satu penderita penyakit kecacingan yang
buruk dan kebersihan pada diri sendiri yang prevalensi dan insidensinya tinggi,
buruk. Penerapan Perilaku Hidup Bersih Dan dikarenakan usia anak sekolah memiliki
Sehat lebih tinggi di daerah perkotaan bayak faktor resiko terinfeksi penyakit
(41,5%) dibandingkan di daerah perdesaan kecacingan, mulai dari faktor bermain anak,
(22,8%)2 kebersihan diri, kebersihan lingkungan,
Penyakit kecacingan yang diakibatkan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan,
oleh infeksi Soil Transmitted Helminth dapat tingkat pendidikan orang tua dan kurangnya
mengakibatkan menurunnya kondisi perhatian orang tua.4
kesehatan, gizi, kecerdasan dan
Metodologi Penelitian
produktivitas penderita sehingga secara Penelitian ini merupakan penelitian
ekonomi banyak menyebabkan kerugian, deskriptif analitik dengan desain cross
karena adanya kehilangan karbohidrat dan sectional
protein serta kehilangan darah yang pada Penelitian ini bertempat di Sekolah Dasar
akhirnya dapat menurunkan kualitas sumber Negeri 1 Bagik Polak Barat Kecamatan
daya manusia. Prevalensi infeksi kecacingan Labuapi Kabupaten Lombok Barat pada
di Indonesia masih relatif tinggi pada tahun bulan Mei sampai September 2015
2006, yaitu sebesar 32,6 %, terutama pada Populasi dalam penelitian ini adalah semua
golongan penduduk yang kurang mampu siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Bagik Polak
dari sisi ekonomi. Hasil survei yang dilakukan Barat, sedangkan sampel dalam penelitian
oleh Departemen Kesehatan Republik ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Bagik
Indonesia tahun 2011 menunjukkan bahwa Polak Barat yang memenuhi kriteria inklusi
prevalensi kecacingan di kabupaten Lombok dan bersedia menjadi responden.
Barat mencapai angka 29,47%. Angka ini Besar sampel dalam penelitian ini dihitung
termasuk tinggi dan menempati peringkat dengan menggunakan rumus :
𝑁
n = 1+𝑁 (𝑑2 )
210
n = 1+210 (0,12 ) dipilih karena daerah sekitar dari sekolah ini

210
n= keadaannya sangat sesuai bagi
3,1

n = 67 perkembangan dan penularan dari


Keterangan:
kecacingan (infeksi Soil Transmitted
n : besar sampel
Helminths), baik itu dilihat dari segi keadaan
N : besar populasi
d : tingkat kepercayaan / tanah, sanitasi, kepadatan rumah, dan
ketepatan yang diinginkan
perilaku penghini daerah tersebut.
(batas kesalahan 10%, tingkat
Pada penelitian ini metode yang
akurasi 90%)
Jadi besar sampel minimal yang digunakan adalah analitik obesevasional
dibutuhkan dari hasil perhitungan yaitu
dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah
67.
responden yang diteliti sebanyak 81 orang.
Hasil dan Pembahasan
Responden dalam penelitian ini Data penelitian diperoleh dari hasil

adalah murid SD Negeri 1 Bagik Polak Barat pengisian kuesioner yang dilakukan oleh ibu

kelas IV sampai kelas V, beserta ibu mereka. dari murid SD Negeri 1 Bagik Polak Barat dan

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Bagik juga dari hasil pemeriksaan yang dilakukan

Polak Barat dengan alasan untuk mencari terhadap feses murid kelas IV sampai kelas V

sekolah yang letaknya di pinggiran kota dan SD Negeri 1 Bagik Polak Barat. Data yang

sudah masuk ke bagian sebuah desa, untuk diperoleh ini kemudian diolah sesuai

melihat sejauh mana tingkat pengetahuan kebutuhan penelitian dan disajikan dalam

ibu pada daerah tersebut, dan mengetahui bentuk tabel distribusi frekuensi.

angka kejadian kecacingan pada anak murid Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

SD pada daerah tersebut. Sekolah ini juga


Tabel 1 : Distribusi sampel berdasarkan Wiraswasta 6 7,4
PNS 23 28,4
jenis kelamin
Total 81 100
Jenis Frekuensi Persentasse
Kelamin (n) (%)
Laki-laki 29 35,8 Dari tabel diatas dapat diketahui

Perempuan 52 64,2 bahwa dari total 81 orang responden (ibu),


Total 81 100
ibu yang memiliki pekerjaan sebagai buruh

sejumlah 5 orang (6,2%), wiraswasta


Dari data tersebut didapatkan bahwa
sejumlah 6 orang (7,4%), ibu rumah tangga
dari 81 sampel murid SD Negeri 1 Bagik Polak
47 orang (58%), PNS 23 orang (28,4%), Jadi
Barat yang akan diperiksa fesesnya, jumlah
berdasarkan data pada tabel diatas dapat
sampel laki-laki adalah sebanyak 29 orang
disimpulkan bahwa sebagaian besar
(35,8%) dan jumlah sampel perempuan
responden berprofesi sebagai ibu rumah
adalah 52 orang (64,2%). Jadi, berdasarkan
tangga.
data tersebut dapat disimpulkan bahwa
Tabel 3. Distribusi responden (Ibu)
tidak terdapat perbedaan yang signifikan
berdasarkan tingkat pengetahuan
antara frekuensi sampel jenis kelamin

perempuan dan laki-laki di sekolah tersebut. Tingkat Frekuensi Persentase

Tabel 2. Distribusi ibu berdasarkan jenis Pengetahuan (n) (%)


pekerjaan Buruk (K) 10 12,3
Jenis Frekuensi Persentase
Baik (B) 71 87,7
Pekerjaan (n) (%)
Total 81 100
Buruh 5 6,2
Ibu rumah
47 58,0
tangga
Dari tabel diatas dapat diketahui Dari tabel diatas dapat diketahui

bahwa dari 81 responden ibu, responden bahwa dari 81 sampel feses murid SD Negeri

(ibu) yang memiliki tingkat pengetahuan 1 Bagik Polak Barat, sampel yang positif

buruk (K) sejumlah 10 responden (12,3%), menderita kecacingan sejumlah 7 sampel,

dan responden yang memiliki tingkat sedangkan yang negatif menderita

pengetahuan baik (B) sejumlah 71 kecacingan sejumlah 74 sampel. Jadi dapat

responden (87,7%). Dapat disimpulkan disimpulkan bahwa murid SD Negeri 1 Bagik

bahwa, dari 81 responden ibu, responden Polak Barat lebih sedikit yang ditemukan

dengan tingkat pengetahuan baik (B) positif mengalami kecacingan dibandingkan

memiliki frekuensi terbanyak. yang negatif.

Tabel 4. Distribusi sampel berdasarkan Table 5. Distribusi sampel berdasarkan jenis

kecacingan kecacingan

Frekuensi Persentase Jenis Frekuensi Persentase


Kecacingan
(n) (%) Kecacingan (n) (%)
Positif (+) 7 8,6 Ascaris
Negatif (-) 74 91,4 4 4,9
lumbricoides
Total 81 100 Trichiuris
3 3,7
trichiura
Negatif 74 91,4
Total 81 100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari

81 sampel feses murid SD Negeri 1 Bagik


Polak Barat, sebanyak 4 sampel (4,9%) bahwa frekuensi terbesar sampel yang

dikatakan positif terdapat telur Ascaris ditemukan positif kecacingan berdasarkan

lumbricoides, 3 sampel (3,7%) positif tingkat pengetahuan adalah terletak pada

terdapat telur Trichiuris trichiura. Dapat ibu dengan tingkat pengetahuan baik (B).

disimpulkan bahwa frekuensi terbanyak Dari jumlah 81 orang subjek

kecacingan yang dialami sampel adalah penelitian, ditemukan 7 subjek positif

Ascaris lumbricoides. menderita kecacingan, dan 74 lainnya

Analisis Bivariat negatif menderita kecacingan. Ini

Analisis bivariat dilakukan untuk menunjukkan bahwa frekuensi murid yang

melihat adanya hubungan antara variabel menderita kecacingan di SD Negeri 1 Bagik

bebas dan variabel terikat. Polak Barat lebih sedikit dibandingkan

Pada 10 orang ibu (responden) yang dengan murid yang tidak (negatif) menderita

memiliki tingkat pengetahuan buruk (K), kecacingan. Kemudian, pada keadaan

ditemukan 2 sampel (anak dari ibu tersebut) tingkat pengetahuan ibu yang merupakan

positif (+) mengalami kecacingan, dan 5 responden dalam penelitian ini, didapatkan

orang anak atau murid ditemukan negatif (-) 10 (12,3%) ibu memiliki tingkat pengetahuan

mengalami kecacingan. Sedangkan pada 74 buruk (K), dan 71 (87,7%) ibu memiliki

responden (ibu) dengan tingkat tingkat pengetahuan baik (B). Namun, jika

pengetahuan baik (B), ditemukan 5 anak dihubungkan antara tingkat pengetahuan

atau sampel positif kecacingan, dan 66 ibu dengan kondisi kecacingan pada murid

sampel negatif kecacingan. Jadi, SD Negeri 1 Bagik Polak Barat ini, dapat

berdasarkan data tersebut dapat diketahui dikatakan bahwa tingkat pengetahuan ibu
tidak mempengaruhi kejadian kecacingan kecacingan yang dialami murid SD Negeri 1

pada murid SD Negeri 1 Bagik Polak Barat ini. Bagik Polak Barat tersebut.

Dari tabel dapat diketahui bahwa pada 10 Dalam penelitian ini, disimpulkan

orang ibu (responden) yang memiliki tingkat bahwa tidak terdapat hubungan yang

pengetahuan buruk (K), ditemukan 2 sampel bermakna antara tingkat pengetahuan ibu

(anak dari ibu tersebut) positif (+) tentang kecacingan (infeksi Soil Trasnmitted

mengalami kecacingan, dan 8 orang anak Helminths) dengan angka kejadian

atau murid ditemukan negatif (-) mengalami (insidensi) infeksi Soil Transmitted

kecacingan. Sedangkan pada 71 responden Helminths, yaitu dengan nilai signifikansi (p)

(ibu) dengan tingkat pengetahuan baik (B), sebesar 0,000 (p > 0,05). Hasil ini sama

ditemukan 5 anak atau sampel positif dengan penelitian sebelumnya yang

kecacingan, dan 66 sampel negatif dilakukan oleh Sumanto (2010) dan

kecacingan. Jadi, berdasarkan data tersebut Limbanadi, Rattu, dan Pitoi (2013). Kedua

dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak

sampel yang ditemukan positif kecacingan terdapat hubungan antara tingkat

berdasarkan tingkat pengetahuan adalah pengetahuan ibu dengan infeksi cacing atau

terletak pada ibu dengan tingkat kecacingan.

pengetahuan baik .Berdasarkan data diatas


Kebiasaan penggunaan alas kaki
dapat dikatakan bahwa semakin rendah
memberikan pengaruh yang signifikan
tingkat pengetahuan ibu, bukan berarti
(p<0,01) terhadap kejadian infeksi cacing
semakin tinggi angka kejadian atau insidensi
STH. Setelah dianalisis menggunakan

korelasi Pearson menunjukkan adanya


hubungan yang kuat (r = -0,642) antara Jumlah responden yang positif menderita

kebiasaan penggunaan alas kaki dengan kecacingan adalah sebesar 7 sampel (8,6%) ,

kejadian infeksi cacing STH, artinya semakin dan 74 (91,4%) sampel dikatakan negatif

baik kebiasaan penggunaan alas kaki maka menderita kecacingan.

semakin kecil kejadian infeksi cacing STH Terdapat hubungan yang bermakna antara

pada murid SD Negeri 3 Bajur. tingkat kebersihan diri murid dan perilaku

Hasil analisis menggunakan tingkat keluarga dalam pencegahan kecacingan


kebersihan murid dan perilaku anggota
dengan kejadian kecacingan pada murid
keluarga menunjukkan adanya hubungan
Sekolah Dasar Negeri 1 Bagik Polak Barat
antara tingkat kebersihan murid dengan
kejadian infeksi cacing STH serta terdapat Daftar Pustaka

hubungan yang signifikan juga antara 1. Wati Murti. S.E. (2011). Hubungan
perilaku anggota keluarga dalam Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
pencegahan kecacingan dengan kejadian (PHBS) Dengan Kejadian Kecacingan
kecacingan pada murid SD Negeri 1 Bagik Pada Siswa SDN Bangkal 3 Kecamatan
Polak Barat dengan nilai p=0,044 dan Cempaka. Karya Tulis Ilmiah.
p=0,01, artinya ketika siswa memiliki pola Universitas Lambung Mangkurat :
kebersihan diri yang baik dan didukung Kalimantan Selatan.
dengan perilaku keluarga yang baik dalam 2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013).
hal pencegahan kecacingan maka angka Badan Penelitian Dan Pengembangan
kejadian infeksi cacing STH akan semakin Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
rendah. Konsep Dan Penulisan Riset
Kesimpulan Keperawatan. Garaha Ilmu : Jakarta.

Berdasarkan hasil analisis data dan 3. Kementerian Kesehatan RI Direktorat


Jenderal PP dan PL. 2012. Pedoman
pembahasan, kesimpulan dari penelitian ini
Pengendalian Kecacingan. Jakarta:
adalah sebagai berikut:
Subdit Pengendalian Penyakit dan 7. Didik S. (2010). Faktor Resiko Infeksi
Penyehatan Lingkungan. Cacing Tambang Pada Anak Sekolah.
4. Liabsuetrakul. T. (2009). Epidemiology and Universitas Diponegoro : Semarang.
effect of treatment soil transmitted
helminthiasis in pregnant women in 8. Samad. H. (2009). Hubungan Infeksi
Southern Thailand. Southeast Asian J Dengan Pencemaran Tanah Oleh Telur
Trop Med Public Health : Thailand. Cacing Yang Ditularkan Melalui Tanah
5. Arisman. (2009). Gizi Dalam Daur Dan Perilaku Anak Sekolah Dasar Di
Kehidupan Buku Ajar Ilmu Gizi. Edisi 2. Kelurahan Tembung Kecamatan
EGC: Jakarta. Medan Tembung. Universitas
6. Departemen Kesehatan RI. (2009). Sumatera Utara : Medan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di 9. World Health Organization (WHO). (2013).
Rumah Tangga. Depkes Republik Soil Transmitted Helminthes. Intestinal
Indonesia : Jakarta. [online], Available Worms 2011. [online], Available at:
at: www.depkes.go.id. Diakses pada (http://www.who.int/intestinal
tanggal 8 Februari 2015. worms/en/).