You are on page 1of 7

LAPORAN ORAL MEDICINE

TORUS PALATINUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Mastiah
Tempat/Tanggal lahir : Palembang / 27 Juli 1964
Suku : Melayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Alamat : jl. KH M. Hasyik 3-4 Ulu. Lorong wakaf RT 25/ RW
07 Kecamatan Seberang Ulu 1
Telepon : 085310121735
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
RM : 026279

B. ANAMNESA
a. Keluhan Utama
Pasien perempuan (53 th) datang dengan keluhan terdapat kehilangan
seluruh gigi-geliginya pada rahang atas dan rahang bawah. Pasien
merasakan kesulitan dalam mengunyah makanan serta merasa malu dan
tidak percaya diri karena tidak mempunyai gigi, sehingga pasien ingin
dibuatkan gigi palsu untuk gigi rahang atas dan rahang bawah.

b. Keluhan Tambahan
Pasien perempuan ( 53 th) datang dengan keluhan tambahan terdapat
tonjolan tulang pada bagian tengah langit-langit rongga mulutnya, tonjolan
tulang tersebut tidak terasa sakit saat makan ataupun berbicara. Tonjolan
tulang ini dirasakan pasien muncul sejak pasien remaja dan dirasakan
semakin membesar seiring bertambah usia. Pasien ingin memeriksakan
keadaan langit-langitnya tersebut.
c. Riwayat Perawatan Gigi
Pernah dilakukan pencabutan gigi
d. Kebiasaan Buruk
Merokok
e. Riwayat Sosial
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama
keluarganya.
f. Riwayat Penyakit Sistemik
Tidak ada

C. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL


Wajah : Simetris
Bibir : Sehat
Kelenjar Getah Bening : Kanan tidak teraba dan tidak sakit,
Kiri tidak teraba dan tidak sakit.

D. PEMERIKSAAN INTRA ORAL


Debris : Tidak ada
Plak : Tidak ada
Kalkulus : Tidak ada
Pendarahan papila interdental : Tidak ada
Gingiva : Sehat
Mukosa : Sehat
Palatum : Terdapat lesi nodul pada midline palatum
berjumlah dua lobus, berbentuk oval dengan
panjang 1,5 cm dan lebar 1 cm, dan memiliki
warna yang sama dengan mukosa sekitarnya.
Lesi tersebut memiliki konsistensi yang padat
dan keras serta tidak terasa sakit ketika
palpasi.
Lidah : Sehat
Dasar mulut : Sehat
Hubungan rahang : Orthognati
Pemeriksaan Gigi Geligi
 Full edentulous rahang atas dan rahang bawah

E. DIAGNOSA SEMENTARA
Diagnosa sementara : Torus Palatinus

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak diperlukan dan tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

G. TINJAUAN PUSTAKA
Torus palatinus bukan merupakan keadaan patologis tetapi melainkan salah
satu variasi anatomi normal ronga mulut.1 Torus palatinus adalah suatu
perkembangan eksostosis di bagian midline palatum keras, yang terbentuk dari
penebalan tulang kortikal yang padat, serta tertutup oleh mukosa yang tipis dan
vaskularisasi yang sedikit.2-4 Torus palatinus berdasarkan bentuknya terbagi
menjadi unilobulus, multilobul, nodular, dan irregular.1
Etiologi torus palatinus belum diketahui secara jelas.4 Literatur menyebutkan
bahwa torus disebabkan oleh multifaktorial yang dikaitkan dengan faktor genetik,
lingkungan, hiperfungsi mastikasi, dan pertumbuhan lanjutan.5 Teori yang saat ini
banyak diterima adalah penyebab genetik, tetapi tidak semua torus menunjukkan
sifat gen autosamal dominan. Penelitian yang dilakukan Eggen melaporkan
bahwa 29,5% kasus torus mandibula disebabkan oleh genetik, dan hampir 70%
kasus dipengaruhi oleh faktor lingkungan.4 Faktor etiologi lain juga dikemukakan
peneliti yaitu kebiasaan makan, kebiasaan diet dengan makanan yang kaya
kalsium akan mendorong terbentuknya torus palatinus. Eggen and Al-bayyath et al
menghubungkan sering menkunsumsi ikan dengan timbulnya torus. Mereka
berpendapat bahwa ikan mengandung omega3 asam lemak tak jenuh dan vitamin
D yang akan mendorong pertumbuhan tulang secara berlebih.4
Torus palatinus biasanya ditemukan pada orang dewasa dan terjadi setelah
pubertas.1 Prevalensi torus palatinus bervariasi dalam setiap penelitian, hal ini
kemungkinan dipengaruhi ras atau etnis tertentu.5 Torus palatinus paling sering
terjadi pada wanita. Hasil penelitian menyebutkan 20-25% populasi orang Asia,
Amerika, dan eskimo memiliki torus palatinus, dan paling sering terjadi pada
wanita dibandingkan pria.6 Penelitian yang dilakukan Bukhari et all melaporkan
bahwa prevalensi torus paltinus di Indonesia cukup tinggi yaitu 22,3 % dari 300
subjek penelitian, didapatkan 54,7 % wanita dan 45,3 % adalah pria.5
Gambaran klinis torus palatinus berupa lesi nodular, lobular atau tidak
beraturan , asimpotmatik, ukurannya bervariasai ( biasanya <2mm). Lesi ini terjadi
di midline palatum durum dengan permukaan tulang keras dan ditutupi mukosa
tipis dengan warna normal sama dengan sekitar. Diagnosis ditergakan dengan
berdasarkan temuan gambaran klinis.3,7
Torus palatinus tidak membutuhkan perawatan kecuali ukuran torus yang
besar sehingga mengganggu fungsi dan penempatan gigi tiruan maka
perawatan bedah pengangkatan torus dapat dilakukan.6

Gambar 1: torus palatinus di midline palatum durum

H. DIAGNOSA
Berdasarkan pemeriksaan klinis terdapat terdapat lesi nodul pada midline
palatum berjumlah dua lobus. Lesi nodul ini berbentuk oval dengan ukuran
panjang 1,5 cm dan lebar 1 cm dan memiliki warna yang sama dengan mukosa
sekitar. Konsistensi nya padat dan keras serta tidak sakit ketika palpasi. Maka
diagnosa kasus ini adalah Torus palatinus.
I. RENCANA PERAWATAN

FASE I
DHE

FASE II
-

FASE III
Pro Prosthodonsia: Gigi Tiruan Penuh

FASE IV ( Maintenance & Rehabilitatif )

 Kontrol plak dan OHI


 Kontrol Torus Palatinus
J. PEMBAHASAN

Pada pemeriksaan subjektif, pasien mengeluhkan terdapat tonjolan pada


langit-langit rongga mulutnya yang mulai disadari ketika usia remaja dan
bertambah besar seiring bertambah usia. Pasien menjelaskan bahwa tonjolan
tersebut tidak terasa sakit saat makan atau tidak menganggu ketika berbicara.
Pada pemeriksaan objektif, ditemukan lesi nodul pada midline palatum yang
terdiri dari dua lobus, lesi tersebut berbentuk oval dengan ukuran panjangnya 1,5
cm dan lebar 1 cm, konsistensinya padat dan keras, warnanya sama dengan warna
di sekelilingnya, pasien tidak merasakan sakit saat dipalpasi.
Dari pemeriksaan subjektif dan objektif, dapat ditegakkan diagnosa kasus ini
adalah Torus Palatinus yang tidak memerlukan perawatan, hanya dipastikan saat
kontrol, apakah terdapat perubahan bentuk, ukuran, warna, dan konsistensi dari
lesi nodul tersebut ataukah tetap seperti semula.

Foto Awal Torus Palatinus Kontrol

I. KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis, maka diagnosa tonjolan pada
midline palatum adalah Torus Palatinus. Rencana perawatan pasien ini adalah
memberi penjelasan kepada pasien bahwa tonjolan pada palatum tersebut bukan
suatu kelainan sehingga pasien tidak perlu melakukan perawatan khusus, hanya
dilakukan pengamatan untuk meyakinkan bahwa diagnosa tersebut adalah benar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Re Domínguez ML, Riveros R, Moreno T, Di Martino Ortiz BM, Rodríguez


Masi M, Knopfelmacher O, de Lezcano LB. Torus palatinus.Report of two
cases. Our Dermatol Online. 2016;7(2):169-171.
2. Belsky JL, Hamer JS, Hubert JE, Insogna K, Johns W. Torus palatinus: A
New Anatomical Correlation with Bone Density in Postmenopausal Women.
J Clin Endocrinol Metab, May 2003, 88(5):2081–2086
3. Scully C, Almeida OP, Bagan J, Dios PD, Taylor AM. Oral medicine and
pathology at a glance. Singapore: Blackwell Publishing;2010
4. García-García AS, Martínez-González JM, Gómez-Font R, Soto-Rivadeneira
A, Oviedo-Roldán L. Current status of the torus palatinus and torus
mandibularis. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2010 Mar 1;15 (2):e353-e360
5. Bukhari SGA, Qazi SS, Awan TM, Azad AA, Zeeshan M. Prevalence Of
Torus Palatinus Among 300 Indonesian Patients. Pakistan Oral & Dental
Journal. 27(1):89-92
6. Al Quran FAM, Al-Dwairi ZN. Torus Palatinus and Torus Mandibularis in
Edentulous Patients. J Contemp Dent Pract 2006 May;(7)2:112-119.
7. Laskaris, Gerorge. Pocket Atlas of Oral Diseases. 2nd ed. New York:
Thieme;2006