Вы находитесь на странице: 1из 15

4

behavior will be shaped by the values of patients, nurses and social


interactions within the environment). Tujuan dari etika keperawatan adalah
(the goals of nursing ethics are):
1. Mengidentifikasi, mengatur, memeriksa dan membenarkan tindakan
kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu (Identify,
organize, examine and justify humanitarian actions by applying certain
principles)
2. Tegaskan tugas perawat dan cari informasi tentang dampak keputusan
perawat (Affirm the duties of the nurse and seek information on the effects
of the nurse's decision).

Sedangkan Kode Etik Keperawatan adalah pernyataan profesi yang


komprehensif yang memberikan tuntutan kepada anggotanya dalam
menerapkan praktik keperawatan, baik yang berkaitan dengan pasien, keluarga,
rekan kerja, tim kesehatan sendiri dan kesehatan lainnya. Pada dasarnya, tujuan
kode etik keperawatan adalah usaha perawat, dalam menjalankan setiap tugas
dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati harkat martabat manusia.
Tujuan kode etik keperawatan adalah sebagai berikut (While the Code of ethics
of nursing is a comprehensive statement of the profession that provides
demands for its members in implementing nursing practice, whether related to
patients, family, peers, self and other health teams. Basically, the purpose of
the code of ethics of nursing is the effort that nurses, in carrying out every task
and function, can appreciate and respect human dignity. The purpose of the
nursing ethics code is as follows):
1. Ini adalah dasar untuk mengelola hubungan antara perawat, klien atau
pasien, teman sebaya, masyarakat, dan elemen profesional, baik dalam
profesi keperawatan dan profesi lain di luar profesi keperawatan (It is the
basis for managing relationships between nurses, clients or patients,
peers, communities, and professional elements, both in the nursing
profession and with other professions outside the nursing profession).
2. Merupakan standar untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi para
praktisi perawat yang tidak memperhatikan dedikasi moral dalam
5

menjalankan tugasnya. (it is the standard to overcome the problems that


nursing practitioners who do not pay attention to moral dedication in the
performance of their duties).
3. Bertahan saat praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan
tidak adil oleh institusi atau masyarakat (to defend when practitioners who
are in the conduct of their duties are treated unfairly by the institution or
society).
4. Merupakan dasar penyusunan kurikulum pendidikan keperawatan agar
menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional
keperawatan (it is the foundation in preparing the curriculum of nursing
education in order to produce graduates who are oriented towards
professional attitude of nursing).
5. Memberikan pemahaman kepada pengguna / pengguna staf keperawatan
tentang pentingnya sikap profesional dalam melakukan tugas praktik
keperawatan (providing an understanding to the user community / users of
nursing staff about the importance of professional attitude in performing
nursing practice duties). (PPNI, 2000)

B. Hubungan Perawat Dengan Pasien


Pasien atau klien adalah fokus dari asuhan keperawatan yang diberikan
oleh perawat, sebagai salah satu komponen tenaga kesehatan. Dasar hubungan
antara perawat dan pasien adalah hubungan yang saling menguntungkan
(mutual humanity). Perawat mempunyai hak dan kewajiban untuk
melaksanakan asuhan keperawatan seoptimal mungkin dengan biologis,
psikologis, sosial, dan spiritual sesuai dengan kebutuhan pasien.
Hubungan perawat dengan pasien adalah suatu wahana untuk
mengaplikasikan proses keperawatan pada saat perawat dan pasien berinteraksi
kesediaan untuk terlibat guna mencapai tujuan asuhan keperawatan. Hubungan
perawat dan pasien adalah hubungan yang direncanakan secara sadar,
bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk pencapaian kebutuhan klien.
Dalam hubungan itu perawat menggunakan pengetahuan komunikasi guna
memfasilitasi hubungan yang efektif.
6

Pada dasarnya hubungan perawat dan pasien bersifat professional yang


diarahkan pada pencapaian tujuan. Hubungan perawat dengan pasien
merupakan hubungan interpersonal titik tolak saling memberi pengertian.
Kewajiban perawat memberikan asuhan keperawatan dikembangkan
hubungan saling percaya dibentuk dalam interaksi, hubungan yang dibentuk
bersifat terapetik dan bukan hubungan sosial, hubungan perawat dan klien
sengaja dijalin terfokus pada klien, bertujuan menyelesaikan masalah klien.
Dua tahap interaksi yang dilalui dalam berhubungan banyak faktor yang perlu
diperhatikan baik klien maupun perawat, yaitu:
1) Perawat professional bila mampu menciptakan hubungan terapetik dengan
klien.
2) Keikhlasan, empati dan kehangatan diciptakan dalam berhubungan dengan
klien.
Tahap hubungan perawat dengan pasien:

1. Tahap orientasi

Di mulai pada saat pertama kali berhubungan. Tujuan utama tahap


orientasi adalah membangun trust (kepercayaan).

2. Tahap bekerja
a. Menyatukan proses komunikasi dengan tindakan keperawatan
b. Membangun suasana yang mendukung untuk berubah
3. Tahap terminasi
a. Penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan
b. Terminasi disampaikan sejak awal atau tidak mendadak

Faktor-faktor yang memengaruhi klien dalam berhubungan:

1. Perbedaan perkembangan
2. Perbedaan budaya
3. Perbedaan gender
4. Gangguan pendengaran
5. Gangguan penglihatan
7

Hubungan yang baik antar perawat dengan pasien akan terjadi bila:

1. Terdapat rasa saling percaya antara perawat dengan pasien.


2. Perawat benar-benar memahami tentang hak-hak pasien dan harus
melindungi hak tersebut, salah satunya adalah hak untuk menjaga privasi
pasien.
3. Perawat harus sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mungkin
terjadi pada pribadi pasien yang disebabkan oleh penyakit yang
dideritanya,antara lain kelemahan fisik dan ketidakberdayaan dalam
menentukan sikap atau pilihan sehingga tidak dapat menggunakan hak
dan kewajibannya dengan baik.
4. Perawat harus memahami keberadaan pasien sehingga dapat bersikap
sabar dan tetap memperhatikan pertimbangan etis dan moral.
5. Dapat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas segala risiko yang
mungkin timbul selama pasien dalam perawatannya.
6. Perawat sedapat mungkin berusaha untuk menghindari konflik antara
nilai-nilai pribadi pasien dengan cara membina hubungan baik antara
pasien, keluarga, dan teman sejawat serta dokter untuk kepentingan pasien.
Contoh kasus
Tuan dan Nyonya Yanda yang berusia 57 dan 56 tahun, pada hari minggu
pergi mengunjungi anaknya dengan mobil pribadi. Mobil tersebut
dikemudikan sendiri oleh istrinya yang berusia 56 tahun. Di tengah perjalanan,
mobil tersebut mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tuan Yanda
meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit, sedangkan ny. Yanda tidak
sadarkan diri. Setelah 2 hari dirawat, ny. Yanda baru sadarkan diri dan bertanya
kepada perawat yang bertugas tentang keberadaan suaminya.
Bila perawat berterus terang mengatakan bahwa suaminya telah
meninggal, maka ia khawatir akan dampaknya terhadap kesehatan ny. Yanda
karena, secara klinis keadaan fisik atau mental ny. Yanda masih sangat lemah.
Bila perawat tidak mengatakan yang sebenarnya, hal ini berarti perawat tidak
jujur atau berbohong.
Hal-hal seperti ini sangatlah dilematis bagi perawat. Di satu sisi perawat
harus berkata jujur, disisi lain perawat dituntut untuk menjadi pembela hak-hak
8

ny. Yanda yang masih lemah kondisi fisik maupun mentalnya. Dalam hal ini,
kejujuran perawat dapat berakibat fatal bagi diri ny. Yanda.
Di sini terlihat bahwa perawat tersebut mengalami konflik nilai.
Haruskah perawat tersebut mengatakan secara jujur atau apakah ia harus
berbohong. Perawat harus berkata secara bijaksana bahwa kesehatan ny. Yanda
lebih penting untuk dipertahankan. Perawat juga harus dapat mempertahankan
pendapatnya, baik terhadap keluarga pasien, petugas lain, maupun teman
sejawat.

C. Hubungan Kerja Perawat Dengan Sejawat


Dalam membina hubungan antarsesama perawat yang ada, baik dengan
lulusan SPK maupun D-III Keperawatan (perjenjangan) diperlukan adanya
sikap saling menghargai dan saling toleransi sehingga sebagai perawat baru
dapat mengadakan pendekatan yang baik dengan kepala ruangan, dan juga para
perawat lainnya.
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama
dengan sesama perawat dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan terhadap klien (As a member of the nursing profession, nurses
should be able to work with fellow nurses in order to improve the quality of
nursing services to clients).
Perawat ditantang untuk mengembangkan etika profesi secara terus
menerus agar dapat menampung keinginan masalah baru. Dan agar perawat
menjadi wasit untuk anggota profesi yang bertindak kurang profesional atau
merusak kepercayaan masyarakat terhadap profesi keperawatan. Maka untuk
mewujudkannya seorang perawat harus memiliki etika dalam keperawatan,
seperti:
a. Seorang perawat harus terus menerus mengembangkan suatu perasaan
yang kuat tentang identitas moral mereka, mencari dukungan dari sumber
profesional yang sedia, dan mengembangkan pengetahuan serta
kemampuan mereka dalam bidang etik.
9

b. Kode etik profesional menugaskan tanggung jawab dan tanggung gugat


dan komite etik institusional memberikan dukungan dan arahan untuk
praktik etis.
c. Seorang perawat harus dapat melakukan asuhan adalah bagian dari usaha
manusia untuk bertahan hidup.
d. Memiliki perasaaan empati pada orang lain.
e. Memahami situasi yang di alami orang lain.
f. Mencoba memahami kehidupan dan pengalaman hidup orang lain.
g. Mampu mengambil tindakan demi kepentingan orang lain.
Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat harus mempunyai
rasa saling mengahargai dan saling toleransi yang tinggi agar tidak terjadi sikap
saling curiga dan benci. Tunjukkan sikap memupuk rasa persaudaraan dengan
cara:
a) Silih asuh
Yaitu sesama perawat dapat saling membimbing, menasihati,
menghormati, dan mengingatkan bila sejawat melakukan kesalahan atau
kekeliruan sehingga terbina hubungan yang serasi.
b) Silih asih
Yaitu dalam menjalankan tugasnya, setiap perawat dapat saling
mrnhargai satu sama lain, saling mengahrgai antar anggota profesi, saling
bertenggang rasa, serta bertoleransi yang tinggi sehingga tidak terpengaruh
oleh hasutan yang dapat menimbulkan sikap saling curiga dan benci.
c) Silih asah
Yaitu perawat yang merasa lebih pandai/tahu dalam hal ilmu
pengetahuan, dapat mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya kepada
rekan sesama perawat tanpa pamrih.

Contoh kasus:
Florentina Nurti, Amd.Kep. Seorang perawat lulusan salah satu akademi
keperawatan, baru saja bertugas di RSUD dr. T.c. Hillers Maumere (RS tipe
C). Di rumah sakit tersebut, tenaganya sangat terbatas. Pada umumnya, tenaga
yang ada adalah lulusan sekolah perawat kesehatan (SPK). Sedangkan lulusan
10

akper hanya dua orang. Kepala bidang keperawatan dijabat oleh lulusan SPK
yang sudah 20 tahun bertugas disana. Kedatangan Nurti cukup membuat para
perawat kurang menyenanginya karena Nurti sering dipanggil oleh direktur
untuk berdiskusi tentang bagaimana meningkatkan mutu asuhan keperawatan
dirumah sakit tersebut. Dalam membina hubungan antar perawat yang ada,
baik dengan lulusan SPK maupun lulusan akper, perlu adanya sikap saling
menghargai dan saling toleransi shingga nurti dapat mengadakan pendekatan
yang baik kepada kepala bidang keperawatan dan juga perawat-perawat lain
yang ada. Begitu pula kepala bidang keperawatan, yang dalam hal ini menjabat
sebagai manager utama bidang keperawatan, harus dapat menunjukkan sikap
yang bijaksana, walaupun terdapat kesenjangan dari segi pendidikan. Namun,
pengalaman 20 tahun yang ia miliki cukup membuatnya lebih matang sebagai
seorang manger. Ia tidak perlu merasa tersaingi ataupun merasakan adanya
ancaman terhadap jabatannya. Dengan demikian, hubungan yang baik dan rasa
saling menghargai dan menghormati antar perawat akan dapat terbina.

D. Hubungan Perawat Dengan Profesi Lain Yang Terkait


Dalam melaksanakan tugasnya seorang perawat harus dapat bekerjasama
dengan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan tugasnya untuk memeberikan
pelayanan yang baik pada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
Setiap profesi dituntut untuk mempertahankan kode etik profesi masing-
masing. Kelancaran masing-masing profesi tergantung dari ketaatannya dalam
menjalankan dan mempertahankan kode etik profesinya.
Bila setiap profesi dapat saling menghargai, maka hubungan kerja sama
akan dapat terjalin dengan baik, walaupun pada pelaksanaanya sering terjadi
konflik-konflik etis.
Contoh kasus:
Maria Memitri, S.Kep.ns adalah lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan,
bertugas diruang ICU rumah sakit tipe B. Dalam menjalankan tugasnya, Memy
sangat berdisiplin dan teliti terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan pasien.
Oleh karena itulah, Memi sangat dipercaya oleh dokter jaga yang bernama dr.
Irawan. Bila memy bertugas dengan waktu yang bersamaan dengan dr. Irawan,
11

memy sering mendapat pesan bahwa dr. Irawan tidak dapat hadir dan diberi
petunjuk atau protocol bila terjadi perubahan pada kondisi pasiennya dan
memy diwajibkan melapor melalui telepon atau ponselnya. Dalam hal ini,
seharusnya Memy dan dr. Irawan mempunyai tanggung jawab yang berbeda
baik dalam menjalankan tugas maupun tanggung jawab terhadap pasien.
Walaupun Memy dapat menjalankan tugasnya dengan baik, akan tetapi, terjadi
konflik dalam nilai pribadinya, apakah ia perlu menjelaskan pada dr. Irawan
bahwa tanggung jawab tugas mereka berbeda, dan tidak dapat dilimpahkan
begitu saja padanya tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan atau
apakah ia perlu melaporkan kepada pihak rumah sakit bahwa dr. Irawan sering
tidak hadir untuk menjalankan tugasnya sebagai dokter jaga. Hal ini perlu
dipertimbangkan dengan matang agar hubungan kerja perawat dan dokter
tersebut dapat tetap terjalin dengan baik dan dapat berperan sesuai profesinya
masing-masing.

E. Hubungan Perawat Dengan Masyarakat


Perawat memegang peranan penting dalam memprakarsai pembaharuan,
tanggap, mempunyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam
menentukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
Perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungan kesehatan dengan
menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat, menghargai adat kebiasaan,
serta kepercayaan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menjadi
pasien atau kliennya.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga,
atau komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang
merupakan filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasar
terhadap pelaksanaan peraktik keperawatan, dimana inti dari filsafat tersebut
adalah hak dan martabat manusia. Karena itu, fokus dari etika keperawatan
ditujukan terhadap sifat manusia yang unik. Untuk memelihara dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat diperlukan peraturan tentang hubungan
antara perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai berikut :
12

1) Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman


pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap
keperawatan individu, keluarga, dan masyarakat.
2) Perawat dalam melaksanakan pengabdian dibidang keperawatan,
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya,
adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga,
dan masyarakat.
3) Perawat dalam melaksanakan kewajibannya terhadap individu, keluarga
dan masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus, ikhlas sesuai dengan
martabat dan tradisi luhur keperawatan.
4) Perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga dan
masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan
upaya kesehatan serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian
dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat.

F. Hubungan Kerja Perawat Dengan Institusi Tempat Perawat Bekerja


Seorang perawat yang telah menyelesaikan pendidikan, baik tingkat
akademi maupun tingkat sarjana, memerlukan suatu pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuannya baik di bidang pengetahuan, keterampilan maupun
profesionalisme.
Memperoleh pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan kemampuan
stanedar yang telah digariskan oleh pendidikan yang telah diikutinya sangatlah
sulit karena besarnya persaingan antara jumlah tenaga yang ada dengan
sedikitnya jumlah lahan tempat bekerja. Oleh karena itu, banyak yang
beranggapan bahwa yang penting bekerja dulu, sedangkan masalah
penempatan kerja sesuai atau tidak, akan dipikirkan kemudian. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap motivasi untuk bekerja. Bila pekerjaan yang di berikan
sesuai dengan keinginan dan kemampuan, maka motivasi kerja akan
meningkat, tetapi bila pekerjaan yang didapatkan tidak sesuai keinginan dan
cita-cita, maka akan terjadi penurunan motivasi kerja yang menjurus terjadinya
konflik antara nilai-nilai sebagai perawat dengan kebijakan institusi tempat
13

bekerja. Bila terjadi penumpukan konflik nilai dalam pelaksanaan


pekerjaannya setiap hari, lambat laun akan terjadi:
1) Buruknya komunikasi antara perawat sebagai pekerjaan dengan institusi
selaku pemeberi kebijakan.
2) Tumbuhnya sifat masa bodoh terhadap tugas yang merupakan tanggung
jawabnya.
3) Menurunnya kinerja.

Agar dapat terbina hubungan kerja yang baik antara perawat dengan
institusi tempat kerja, perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini.
1) Perlu ditanamkan dalam diri perawat bahwa bekerja itu tidak sekadar
mencari uang, tetapi juga perlu hati yang tulus.
2) Bekerja juga merupakan ibadah, yang berarti bahwa hasil yang diperoleh
dari pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa
tanggung jawab akan dapat memenuhi kebutuhan lahir maupun batin.
3) Tidak semua keinginan individu perawat akan pekerjaan dan tugasnya
dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan nilai-nilai yang ia miliki.
4) Upayakan untuk memperkecil terjadinya konflik nilai dalam
melaksanakan tugas keperawatan dengan menyesuaikan situasi dan
kondisi tempat bekerja.
5) Menjalin kerjasama dengan baik dan dapat memberikan kepercayaan
kepada pemberi kebijakan bahwa tugas dan tanggung jawab keperawatan
selalu mengalami perubahan sesuai iptek.

G. Hubungan Perawat-Pasien-Dokter
Perawat, pasien, dan dokter adalah tiga unsur manusia yang saling
berhubungan selama mereka masih terkait dalam suatu hubungan timbal balik
pelayanan kesehatan. Hubungan perawat dengan dokter telah terjalin seiring
dengan perkembangan kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah, sifat
ilmu/pendidikan, latar belakang personal dan lain-lain.
Berbagai model hubungan perawat-pasien-dokter telah dikembangkan,
diantaranya adalah model yang dikembangkan oleh szasz dan hollander,
14

mereka mengembangkan tiga model hubungan dokter-perawat di mana model


ini terjadi pada semua hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara
perawat dan dokter model yang dikembangka szasz dan hollander :
1. Model Aktivitas- Pasivitas
Suatu model dimana perawat dan dokter berperan aktif dan pasien
berperan pasif. Model ini tepat untuk bayi, pasien koma, pasien dibius, dan
pasien dalam keadaan darurat. Dokter berada pada posisi mengatur
semuanya, merasa mempunyai kekuasaan, dan identitas pasien kurang
diperhatikan. Model ini bersifat otoriter dan paternalistic.
2. Model Hubungan Membantu
Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktik keperawatan
atau praktik kedokteran. Model ini terdiri dari pasien yang mempunyai
gejala mencari bantuan dan perawat atau dokter yang mempunyai
pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien. Perawat dan dokter
memberi bantuan dalam bentuk perlakuan/ perawatan atau pengobatan.
Timbal baliknya pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran
perawat atau dokter. Dalam model ini, perawat dan dokter mengetahui apa
yang terbaik bagi pasien, memegang apa yang diminati pasien dan bebas
dari prioritas yang lain. Model ini bersifat paternalistik walau sedikit lebih
rendah.
3. Model Partisipasi Mutual
Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama atau
kesejahteraan antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi, model ini
mencerminkan asumsi dasar dari proses demokrasi. Interaksi, menurut
model ini, menyebutkan kekuasaan yang sama, saling membutuhkan, dan
aktivitas yang dilakukan akan memberikan kepuasan kedua pihak.
Model ini mempunyai ciri bahwa setiap pasien mempunyai
kemampuan untuk menolong dirinya sendiri yang merupakan aspek
penting pada layanan kesehatan saat ini. Peran dokter dalama model ini
adalah membantu pasien menolong dirinya sendiri.
Dari perspektif keperawatan, model partisipasi mutual ini penting
untuk mengenal dari pasien dan kemampuan diri pasien. Model ini
15

menjelaskan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan


berkembang. Keperawatan bersifat menghargai martabat individu yang
unik, berbeda satu sama lain dan membantu kemampuan dalam
menentukan dan mengatur diri sendiri ( bandman and bandman,1999.
Dikutip dari american nurses assocication, nursing: asocial policy. Kansas
city. Mo: 1980. Hal:6 ).
4. The Pristly Model
Dalam model ini dokter memegang vigure seorang ahli moral yang
dapat memberi tahu pasien apa yang harus dikerjakan pasien pada situasi
tertentu. Tradisi ini berdasarkan prinsip etis jangan kerjakan ketidak
baikan. Ini mencerminkan pelaksanaan prinsip paternalistic dengan tidak
memberitahukan berita buruk kepada pasien, tetapi memberikan suatu
pemantapan yang tidak nyata. Model ini tidak menyertakan pasien dalam
membuat keputusan, tetapi menyerahkan kebebasan kepada dokter,
misalnya, pasien tidak diizinkan menolak transfusi darah yang menurut
agamanya tidak diperbolehkan. Prinsip paternalime mengurangi takdir
pasien dengan mengurangi pengendalian pasien terhadap tubuh dan
kehidupan.
5. The Collegial Model
Dalam model ini, dokter dan perawat merupakan mitra dalam
mencapai tujuan untuk menyembuhkan penyakit dan mempertahankan
kesehatan pasien. Saling percaya dan percaya diri merupakan hal utama.
Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang sama. Namun pada
kenyataannya, veatch berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada dasar
untuk persamaan kedudukan dalam hubungan pasien-dokter karna
perbedaan kelas sosial, status ekonomi, pendidikan dan sistem nilai
menimbulkan asumsi tentang rasa tertarik yang lazim terhadap ilusi.
6. The Contractual Model
Dalam model ini, peserta yang mengadakan hubungan/interaksi
berharap untuk memegang ketaatan terhadap anjuran dan manfaat untuk
kedua belah pihak. Kesepakatan terhadap prinsip moral merupakan hal
yang penting. Lebih lanjut dalam kesepakatan hubungan, pasien berhak
16

menentukan nasib mereka. Dalam model ini terjadi curah pendapat tentang
tanggung jawab dan kewajiban etis.

H. Dilema Etik
The ethical dilemma is the situation one faces in which decisions about
appropriate behavior should be made. (Arens and Loebbecke, 1991: 77).
Dilema etik adalah situasi yang dihadapi seseorang di mana keputusan tentang
perilaku yang tepat harus dilakukan. Oleh karena itu, pengambilan keputusan
diperlukan untuk menghadapi dilema etika. (Therefore, decision making is
needed to face the ethical dilemma). Enam pendekatan dapat dilakukan pada
orang-orang yang menghadapi dilema (Six approaches can be made to people
facing the dilemma):
1. Mendapatkan fakta yang relevan (Getting relevant facts)
2. Tentukan isu etis dari fakta (Determine the ethical issues of the facts)
3. Tentukan siap dan bagaimana orang atau kelompok terpengaruh oleh
dilema (Determine the ready and how people or groups affected by the
dilemma)
4. Tentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema (Determine
the alternatives available in solving the dilemma)
5. Tentukan kemungkinan konsekuensi dari setiap alternatif (Determine the
possible consequences of each alternative)
6. Tetapkan tindakan yang tepat (Establish appropriate action).
Dengan menerapkan enam pendekatan ini, dapat meminimalkan atau
menghindari rasionalisasi perilaku etis yang mencakup: (1) setiap orang
melakukannya, (2) jika legal ada etika dan (3) kemungkinan tertangkap dan
konsekuensinya.
Dalam dilema etika ini sulit untuk menentukan benar atau salah dan bisa
menyebabkan stres pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etika biasanya timbul dari
nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi kohesif sehingga
menghasilkan keputusan yang saling bertentangan. Menurut Thompson &
Thompson (1981) dilema etika adalah masalah yang sulit dimana tidak ada
17

alternatif atau situasi yang memuaskan dimana alternatif memuaskan atau


memuaskan dapat dibandingkan. Kerangka pemecahan dilema etika
diungkapkan oleh para ahli
Dan pada dasarnya menggunakan proses ilmiah / pemecahan masalah
secara ilmiah, antara lain:
1. Model Pemecahan Masalah (Megan, 1989)
Ada lima langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etika.
a. Tinjau situasinya
b. Mendiagnosis masalah etika moral
c. Buat tujuan dan rencana solusi
d. Terapkan rencananya
e. Evaluasi hasil
2. Kerangka untuk memecahkan dilema etika (kozier & erb, 2004)
a. Kembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini, perawat mengumpulkan sebanyak mungkin
informasi termasuk:
1) Siapa yang terlibat dalam situasi dan bagaimana
keterlibatannya,
2) Tindakan apa yang diusulkan,
3) Apa tujuan dari tindakan yang diusulkan,
4) Apa konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diajukan.
b. Identifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasinya.
c. Buat tindakan alternatif tentang serangkaian tindakan yang
direncanakan dan pertimbangkan hasilnya atau konsekuensi
tindakannya.
d. Tentukan siapa yang terlibat dalam masalah dan siapa pembuat
keputusan yang tepat.
e. Identifikasi kewajiban perawat.
f. Membuat keputusan.
3. Model Murphy dan Murphy
a. Identifikasi masalah kesehatan
18

b. Mengidentifikasi masalah etika


c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Kenali peran perawat
e. Pertimbangkan berbagai alternatif yang mungkin
f. Pertimbangkan besarnya konsekuensi untuk setiap keputusan
alternatif
g. Membuat keputusan
h. Pertimbangkan bagaimana keputusan dibuat sesuai dengan filosofi
umum perawatan klien
i. Menganalisis situasi sampai hasil keputusan yang sebenarnya telah
muncul dan gunakan informasi tersebut untuk membantu membuat
keputusan berikutnya
4. Langkah oleh Purtilo dan Cassel (1981)
Purtilo dan Cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan
etis
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Identifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Selesaikan aksinya
5. Langkah oleh Thompson & Thompson (1981)
a. Tinjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
dibutuhkan, komponen etika dan panduan individu.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasikan
situasi
c. Mengidentifikasi masalah etika
d. Menentukan posisi moral pribadi dan profesional
e. Identifikasi posisi moral dari instruksi individu yang sesuai.
f. Identifikasi konflik nilai yang ada