You are on page 1of 14

Etika pergaulan remaja

Masa remaja merupakan masa yang sangat kritis, masa untuk melepaskan ketergantungan terhadap
orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang
dewasa. keberhasilan para remaja melalui masa transisi sangat dipengaruhi oleh faktor
biologis(faktor fisik), kognitif(kecerdasan intelektual), psikologis(faktor mental), maupun faktor
lingkungan. Dalam kesehariannya,remaja tidak lepas dari pergaulan dengan remaja lain. remaja
dituntut memiliki keterampilan sosial (social skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan
sehari-hari. keterampilan-keterampilan tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin
hubungan dengan orang lain, mendengarkan pendapat/ keluhan dari orang lain, memberi /
menerima umpan balik, memberi/ menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku,
dan lain-lain.

Prinsip-prinsip etika pergaulan remaja

1. Hak dan kewajiban


Hak kita memang layak untuk kita tuntut, tapi juga jangan sampai meninggalkan kewajiban
kita sebagai makhluk sosial.
2. Tertib dan disiplin
Selalu tertib dan disiplin dalam melakukan setiap aktivitas. Disiplin waktu biar nggak
keteteran.
3. Kesopanan
Senantiasa menjaga sopan santun, baik dengan teman sebaya atau orang tua dan juga guru
dimanapaun dan kapanpun.
4. Kesederhanaan
Bersikaplah sederhana .
5. Kejujuran
Jujur akan membawa kita ke dalam kebenaran. Bersikap jujurlah walau itu pahit.
6. Keadilan
Senantiasa bersikap adil dalam bergaul. Tidak membeda-bedakan teman.
7. Cinta Kasih
Saling mencintai dan menyayangi teman kita agar terhindar dari permusuhan.
8. Suasana & tempat pergaulan kita
Ini sangat penting juga buat kita. Musti diperhatiin ya nih.

Faktor yang mempengaruhi pergaulan remaja

1. Kondisi fisik

2. Kebebasan Emosional

3. Interaksi sosial.

4. Pengetahuan terhadap kemampuan diri

5. Penguasaan diri terhadap nilai-nilai moral dan agama

Memahami Etika dalam Pergaulan

1. Etika pergaulan adalah sopan santun atau tata krama dalam pergaulan yang sesuai dengan
situasi dan keadaan serta tidak melanggar norma-norma yang berlaku baik norma agama,
kesopanan, adat, hukum dan lain-lain.
2. Cara yang baik bersikap dalam pergaulan adalah bagaimana seseorang tersebut
mengutamakan perilaku yang sopan santun saat berhubungannya dengan setiap orang.

3. Dunia pergaulan banyak jenisnya. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu faktor
umur, pekerjaan, keterikatan, lingkungan dan sebagainya.

4. Dampak positif dari pergaulan adalah Mampu membentuk kepribadian yang baik
yang bisa diterima di berbagai lapisan sehingga bisa tumbuh dan berkembang menjadi
sosok individu yang pantas diteladani.

5. Dampak negatif dari pergaulan adalah tumbuh menjadi sosok individu dengan
kepribadian yang menyimpang.
Etika pergaulan laki-laki dan perumpuan dalam agama islam

Rambu-rambu Islam tentang pergaulan

Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis
secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas.
Perhatikanlah firman Allah berikut ini, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman;
hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah
mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah kedua biji mata ini agar
terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah
engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan
lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR.
Abu Daud).

Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana
islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, “…dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-
anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka
mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.” (QS. 33: 59)

Dalam hal menjaga aurat, Nabi pun menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan,
beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu
juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki
berkumul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh
berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain.” (HR. Muslim)
Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32)
misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan
seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah
syaithan (HR. Ahmad).

Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan selera’.
Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah, “Hai para istri Nabi, kamu
sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk
dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan
ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31)

Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara
dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara
dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)

Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan
sebagaimana dicontohkan Nabi saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan
wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).

Dalam keterangan lain disebutkan, “Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang
tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan
tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan. Wallahu a’lam.

Selain dua hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini, bekiau
bersabda: “Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan jarum dari besi
daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).

Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam
satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, “Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan
pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata:
“Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian
adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).

Selain itu Ibnu Umar berkata, “Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara dua
wanita.” (HR. Abu Daud).

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan
dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah hal-hal yang tidak diharapkan.

Tapi nampaknya rambu-rambu pergaulan ini belum sepenuhnya difahami oleh sebagian
orang. Karena itu menjadi tanggung jawab kita menasehati mereka dengan baik. Tentu saja
ini harus kita awali dari diri kita masing-masing.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjauhkannya dari perbuatan tercela dan
perbuatan yang tidak terpuji. Amin.
etika pergaulan dan batas pergaulan diantara lelaki dan
wanita menurut Islam
1.Menundukan pandangan : Allah memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan
pandangannya ,sebagaimana firman-NYA;Katakanlah kepada laki-laki yang beriman
:hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. ( An-Nuur:30)
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada kaum wanita beriman,Allah berfirman ;Dan
katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya (An-Nuur : 31)

2.Menutup Aurat : Allah berfirman dan jangan lah mereka menampakkan


perhiasannya,kecuali yang biasa Nampak daripadanya . Dan hendaklah mereka melabuhkan
kain tudung ke dadanya. (An-Nuur : 31) Juga Firman-NYA ; Hai nabi,katakanlah kepada
istri-istri mu,anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : Hendaklah mereka
melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yand demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali,karena itu mereka tidak diganggu.
Dan allah adalah Maha Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis. Dari Abu Daud
Said al-khudri.ra.berkata :Rasullullah SAW bersabda : janganlah seseorang lelaki
memandang aurat lelaki,bgitu juga dengan wanita jangan melihat aurat wanita..

3.Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita ; Kalau ada sebuah keperluan terhadap
kaum yang berbeda jenis harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firmna-
NYA; Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari
balik hijab (Al-Ahzaab:53)

4.Tidak berdua-duaan diantara Lelaki dan Perempuan ; Dari Ibnu Abbas.ra. berkata :
Saya mendengar Rasullullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki berdua-duaan
(Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahrammnya . (Hadis riwayat Bukhari&Muslim)
Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasullullah Saw bersabda : janganlah salah seorang dari
kalian berdua-duaan dengan seorang wanita,karena syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis
Riwayat Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang shalih)

5.Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan) : Seorang wanita dilarang melunakkan


ucapannya ketika berbicara selain kepada suaimnya. Firman Allah SWT ; Hai istri-istri
nabi,kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkenginan orang
yang ada penyakit didalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik ( Al-
Ahzaab : 32)
Berkata Imam Ibnu Kathir ; Ini adalah beberapa etika yang diperintakan oleh Allah kepada
para istri Rasullullah Saw serta kepada para wanita mukminah lainnya ,yaitu hendaklah dia
kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu,dalam perngertian janganlah seorang
wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu
Kathir 3/350)

6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis ; Dari Maqil bin Yasar .ra. berkata ;
Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada
menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginya. ( Hadis Hasan Riwayat Thabrani dalam
Mujam Kabir) Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam hadis ini terdapat ancaman
keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohihah
1/44 Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting
seperti membaiat dll. Dari Aishah berkata ; Demi ALLAH , tangan Rasulullah tidak pernah
menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat .( Hadis Riwayat Bukhari)
Inilah sebagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram,yang mana apabila seseorang
melanggar semuanya ata sebgiannya saja akan menjadi dosa zina baginya ,sebagaimna sabda
rasulullah SAW;Dari Abu Hurairah.ra. dari rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah
menetapkan untuk anak adam bahagianya dari zina,yang pasti akan mengenainya. Zina mata
dengan memandang,zina lisan dengna berbicara,sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-
angan , lalu farji akan membenarkan atau mendustakan semuanya. ( Hadis Riwayat Bukhari ,
Muslim & Abu Daud )
Padahal Allah SWT telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati
kepada perbuatan zina. Sebagaimana Firman-NYA ; Dan janganlah kamu mendekati zina
,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk . (al-Isra : 32)
Persiapan Pra Nikah
1. Persiapan Ilmu tentang pernikahan

Hal yang perlu dipersiapkan adalah memperjelas visi pernikahan. Untuk apa kita menikah.
Visi yang jelas dan juga sama antara calon suami dan isteri insya Allah akan melanggengkan
pernikahan.

Banyak orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti tradisi masyarakat. Bisa juga
karena malu karena sudah cukup umur tetapi masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-
alasan seperti ini tidak memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika
memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai rumah tangga datang
menerjang.

Sebagai muslim yang memiliki rujukan hidup yang jelas, tentu kita tahu bahwa menikah itu
karena ibadah. Visi pernikahan dalam Islam adalah menimba banyak pahala melalui aktivitas
berumah tangga. Menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka, dan akhirnya berusaha
meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bila seseorang memiki visi seperti ini insya Allah
hari-hari yang dilaluinya setelah menikah akan berusaha dihadapi sesuai dengan hukum-
hukum Islam.
Rasulullah SAW bersabda : "Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga
lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)." (HR. Ibnu Ady
dalam kitab Al Kamil ).
Ilmu yang lain yang harus diketahui adalah tentang hukum-hukum pernikahan. Seperti
tentang rukun nikah, yaitu mempelai pria dan wanita, dua orang saksi, wali dari pihak
perempuan dan ijab kabul. Bila sudah terpenuhi semuanya, insya Allah pernikahan menjadi
sah secara agama.

Lalu kewajiban memberi mahar sesuai yang diminta oleh pihak wanita. Lalu masalah
walimatul ursy (pesta pernikahan). Tradisi-tradisi daerah bukanlah hal yang wajib untuk
dilakukan. Bahkan sebisa mungkin dihindari tradisi yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Lalu juga mempermudah semua proses pernikahan adalah lebih utama. Juga
menyederhanakan pesta pernikahan, tidak bermewah-mewah lebih baik dalam pandangan
Islam.

2. Persiapan mental/psikologis menghadapi pernikahan.

Pernikahan adalah kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya.
Dalam pernikahan berkumpul dua pribadi yang berbeda yang berasal dari keluarga yang
memiliki kebiasaan yang berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat asli masing-masing.
Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi segala kekurangan pasangan adalah
hal yang mutlak diperlukan. Begitu juga cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan
kita dengan baik kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak
mewarnai rumah tangga kita.

Di dalam pernikahan juga diperlukan rasa tanggung jawab untuk untuk memenuhi hak dan
kewajiban masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-
haknya saja, tetapi berusaha untuk lebih dulu memenuhi kewajibannya.

Pernikahan merupakan perwujudan dari tim kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Oleh karena itu kerja sama, saling mendukung dalam segala hal sangat
diperlukan. Termasuk dalam pendidikan anak. Pernikahan juga merupakan sarana untuk
terus menerus belajar tentang kehidupan. Ketika memasuki dunia perkawinan seseorang
belajar untuk menjadi bagian dari tim kehidupan. Ketika memiliki anak seseorang belajar
untuk mendidik anak dengan cara yang baik. Tidak jarang juga orang tua perlu memaksa diri
untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya agar tidak ditiru oleh anak. Ketika anak-anak
menjelang dewasa orang tua belajar untuk menjadikan anak-anaknya sebagai teman, sebagai
bagian dari tim kehidupan yang aktif menggerakkan roda kehidupan, dan seterusnya.

3. Persiapan Ruhiyyah/ spiritual.

Menikah itu ibadah, oleh karena itu seluruh proses yang dilalui dalam pernikahan itu harus
dengan nuansa ibadah. Proses sebelum menikah sampai pernikahan itu sendiri juga setelah
menikah tidak boleh jauh dari nuansa penghambaan diri kepada Allah. Sebelum menikah
peningkatan kualitas diri dan kualitas ibadah mutlak diperlukan. Berdoa kepada Allah untuk
mendapatkan suami yang sholih dan anak-anak yang akan menjadi penyejuk mata.

Bergaul dengan orang-orang yang sholih yang dapat menjaga dien kita juga perlu dilakukan.
Membaca buku-buku tentang keutamaan pernikahan juga perlu dilakukan untuk
menguatkan niat kita dalam menikah.

Ketika pinangan datang, ibadah semakin dikencangkan. Terus memohon kepada Allah untuk
mendapatkan yang terbaik sebagai pasangan kita. Saat ini, perlu juga kita membersihkan hati
agar niat ibadah dalam pernikahan ini tidak menyimpang. Juga menjaga kesucian hubungan
kita dengan calon suami sampai datangnya waktu pernikahan sangat diperlukan, agar tidak
terjatuh dalam godaan setan.
Masa-masa antara meminang dan pernikahan ini sebaiknya dipersingkat agar kebersihan niat
dan hubungan kedua insan bisa terjaga.

4. Persiapan Fisik

Yang terakhir yang tidak kalah penting dalah mempersiapkan tubuh kita untuk memasuki
dunia pernikahan. Mengetahui alat-alat reproduksi wanita dan cara kerjanya sangat penting
bagi kita.
Memeriksa kesehatan alat-alat reproduksi juga penting agar terhindar dari hal-hal yang tidak
diinginkan setelah menikah.
Selain itu juga kita harus mengetahui tentang seks yang sehat. Banyak ornag yang sudah
menikah tapi tidak tahu bagaimana berhubungan seks dengan sehat dan menyenangkan bagi
masing-masing pasangan.
Hal ini penting karena merupakan bagian dari kunci kebahagiaan dalam berumah tangga.

Persiapan Pra Nikah bagi muslimah

Seorang muslimah sholihah yang mengetahui urgensi dan ibadah pernikahan tentu saja suatu hari
nanti ingin dapat bersanding dengan seorang laki-laki sholih dalam ikatan suci pernikahan.
Pernikahan menuju rumah tangga samara (sakinah, mawaddah & rahmah) tidak tercipta begitu
saja, melainkan butuh persiapan-persiapan yang memadai sebelum muslimah melangkah
memasuki gerbang pernikahan.

Nikah adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat penting, suatu mitsaqan ghalizan (perjanjian
yang sangat berat). Banyak konsekwensi yang harus dijalani pasangan suami-isteri dalam berumah
tangga. Terutama bagi seorang muslimah, salah satu ujian dalam kehidupan diri seorang muslimah
adalah bernama pernikahan. Karena salah satu syarat yang dapat menghantarkan seorang isteri
masuk surga adalah mendapatkan ridho suami. Oleh sebab itu seorang muslimah harus
mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-
persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan. Hal tersebut antara lain :

A. Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman)

Dalam tiap diri muslimah, selalu terdapat keinginan, bahwa suatu hari nanti akan dipinang oleh
seorang lelaki sholih, yang taat beribadah dan dapat diharapkan menjadi qowwam/pemimpin
dalam mengarungi kehidupan di dunia, sebagai bekal dalam menuju akhirat. Tetapi, bila kita ingat
firman Allah dalam Alqurâ’an bahwa wanita yang keji, adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita yang baik. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik….” (QS An-Nuur: 26).

Bila dalam diri seorang muslimah memiliki keinginan untuk mendapatkan seorang suami yang
sholih, maka harus diupayakan agar dirinya menjadi sholihah terlebih dahulu. Untuk menjadikan
diri seorang muslimah sholihah, maka bekalilah diri dengan ilmu-ilmu agama, hiasilah dengan
akhlaq islami, tujuan nya bukan hanya semata untuk mencari jodoh, tetapi lebih kepada untuk
beribadah mendapatkan ridhoNya. Dan media pernikahan adalah sebagai salah satu sarana untuk
beribadah pula.

B. Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan)

Pernikahan sebagai ajang untuk menambah ibadah & pahala : meningkatkan pahala dari Allah,
terutama dalam Shalat Dua rokaat dari orang yang telah menikah lebih baik daripada delapan
puluh dua rokaatnya orang yang bujang” (HR. Tamam).

Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan


dienullah. Adapun dengan lahirnya anak yang sholih/sholihah maka akan menjadi penyelamat bagi
kedua orang tuanya.

Pernikahan sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dan ladang dakwah. Dengan menikah, maka akan
banyak diperoleh pelajaran-pelajaran & hal-hal yang baru. Selain itu pernikahan juga menjadi
salah satu sarana dalam berdakwah, baik dakwah ke keluarga, maupun ke masyarakat.

C. Persiapan kepribadian

Penerimaan adanya seorang pemimpin. Seorang muslimah harus faham dan sadar betul bila
menikah nanti akan ada seseorang yang baru kita kenal, tetapi langsung menempati posisi sebagai
seorang qowwam/pemimpin kita yang senantiasa harus kita hormati & taati. Disinilah nanti salah
satu ujian pernikahan itu. Sebagai muslimah yang sudah terbiasa mandiri, maka pemahaman
konsep kepemimpinan yang baik sesuai dengan syariat Islam akan menjadi modal dalam
berinteraksi dengan suami.

Belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami kita,
sesungguhnya adalah orang asing bagi kita. Latar belakang, suku, kebiasaan semuanya sangat jauh
berbeda dengan kita menjadi pemicu timbulnya perbedaan. Dan bila perbedaan tersebut tidak di
atur dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul
persoalan dalam pernikahan. Untuk itu harus ada persiapan jiwa yang besar dalam menerima &
berusaha mengenali suami kita.

D. Persiapan Fisik

Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan
mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun isteri secara optimal. Saat sebelum
menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi
masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi baik, atau adakah penyakit
tertentu yang diderita yang dapat berpengaruh pada kesehatan janin yang kelak dikandung. Bila
ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.

E. Persiapan Material

Islam tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada
materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga,
maka diutamakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi. Dan bagi fihak wanita, adanya
kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi
maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis
kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil
dan mengingkari ni’mat Allah (QS. 16:72) ” Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.<li/i> S) (Qp kedua orang S. 24:32)”.
F. Persiapan Sosial

Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Mereka
bukan lagi gadis dan lajang tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka pun
harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga
maupun di masyarakat. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan
sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadatua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin,”Q.S. An-Nissa: 36).

Adapun persiapan-persiapan menjelang pernikahan (A hingga F) yang tersebut di atas itu tidak
dapat dengan begitu saja kita raih. Melainkan perlu waktu dan proses belajar untuk mengkajinya.
Untuk itu maka saat kita kini masih memiliki banyak waktu, belum terikat oleh kesibukan rumah
tangga, maka upayakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya guna persiapan menghadapi
rumah tangga kelak.

Pemahaman kriteria dalam memilih atau menyeleksi calon suami

- Utamakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama yang baik.

- Bagaimana ibadah wajib laki-laki yang dimaksud ?.

- Sejauh mana konsistensi & semangatnya dalam menjalankan syariat Islam.?

- Bagaimana akhlaq & kepribadiannya ?

- Bagaimana lingkungan keluarga dan teman-temannya ?

Catatan :
Seorang laki-laki yang sholih akan membawa kehidupan seorang wanita menjadi lebih baik, baik
di dunia maupun kelak di akhirat .

Sekufu, agar :

- Memudahkan proses dalam beradaptasi.

- Tapi ini tidak mutlak sifatnya, karena jodoh adalah rahasia Allah SWT.

- Batasan-batasan siapa yang terlarang untuk menjadi suami (QS 4:23-24; QS 2: 221)

Langkah-langkah yang ditempuh dalam kaitannya untuk memilih calon.

a. Menentukan kriteria calon pendamping (suami ). Diutamakan lelaki yang baik agamanya.

b. Mengkondisikan orang tua dan keluarga , Kadang ketidaksiapan orang tua dan keluarga bila
anak gadisnya menikah menjadi suatu kendala tersendiri bagi seorang muslimah untuk menuju
proses pernikahan. Penyebab ketidak siapan itu kadang justru berasal dari diri muslimah itu
sendiri, misalnya masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan, belum dapat bertanggung jawab
dsb. Atau kadang dapat juga pengaruh dari lingkungan, seperti belum selesai kuliah (sarjana)
tetapi sudah akan menikah. Hal-hal seperti ini harus diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya, agar
pelaksanaan menuju pernikahan menjadi lancar.

c. Mengkomunikasikan kesiapan untuk menikah dengan pihak-pihak yang dipercaya Kesiapan


seorang muslimah dapat dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang dipercaya, agar dapat turut
membantu langkah-langkah menuju proses selanjutnya.

d. Taâ’ruf (Berkenalan) , Proses taâ’aruf sebaiknya dilakukan dengan cara Islami. Dalam Islam
proses taâruf tidak sama dengan istilah pacaran. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa
dihindarkan kondisi dua insan berlainan jenis yang khalwat atau berduaan. Yang mana dapat
membuka peluang terjadinya saling pandang atau bahkan saling sentuh, yang sudah jelas
semuanya tidak diatur dalam Islam. Allah SWT berfirman “Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” QS 17:32).

Rasulullah SAW bersabda : “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang
perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad,
Bukhari dan Muslim).

Bila kita menginginkan pernikahan kita terbingkai dalam ajaran Islami, maka semua proses yang
menyertainya, seperti mulai dari mencari pasangan haruslah diupayakan dengan cara yang ihsan
& islami.

e. Bermusyawarah dengan pihak-pihak terkait , Bila setelah proses tâ’aruf terlewati, dan hendak
dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka selanjutnya dapat melangkah untuk mulai bermusyawarah
dengan pihak-pihak yang terkait.

f. Istikhoroh , Daya nalar manusia dalam menilai sesuatu dapat salah, untuk itu sebagai seorang
msulimah yang senantiasa bersandar pada ketentuan Allah, sudah sebaiknya bila meminta
petunjuk dari Allah SWT. Bila calon tersebut baik bagi diri muslimah, agama dan penghidupannya,
Allah akan mendekatkan, dan bila sebaliknya maka akan dijauhkan. Dalam hal ini, apapun kelak
yang terjadi, maka sikap berprasangka baik (husnuzhon) terhadap taqdir Allah harus diutamakan.

g. Khitbah , Jika keputusan telah diambil, dan sebelum menginjak pelaksanaan nikah, maka harus
didahului oleh pelaksanaan khitbah. Yaitu penawaran atau permintaan dari laki-laki kepada wali
dan keluarga fihak wanita. Dalam Islam, wanita yang sudah dikhitbah oleh seorang lelaki, maka
tidak boleh untuk dikhitbah oleh lelaki yang lain. Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda,”Janganlah kamu mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah saudaranya, sampai yang
mengkhitbah itu meninggalkannya atau memberinya izin “(HR. Muttafaq alaihi).

Pentingnya mempelajari tata cara nikah sesuai dengan anjuran & syariat Islam

Sebenarnya tata cara pernikahan dalam Islam sangatlah sederhana dibandingkan tata cara
pernikahan adata atau agama lain. Karena Islam sangat menginginkan kemudahan bagi
pelakunya. Untuk itu memahami tata cara pernikahan yg islami menjadi salah satu kebutuhan
pokok bagi calon pasangan muslim. Dengan melaksanakan secara Islami, maka sebisa mungkin
untuk menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan tata cara pernikahan yang berbau syirik
menyekutukan Allah). Karena hanya kepada Allah SWT sajalah kita memohon kelancaran,
kemudahan, keselamatan dan kelanggengan pernikahan nanti. Untuk beberapa hal yang harus
kita ketahui tentang tatacara nikah adalah masalah sbb:

a. Dewasa (baligh) & Sadar

b. Wali , “Tidak ada nikah kecuali dengan wali” (HR.Tirmidzi J.II Bukhari Muslim dalam Kitabu
Nikah),

c. Mahar , “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang
penuh kerelaan” (QS: 4:4)

- Semakin ringan mahar semakin baik. Seperti sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari
Uqbah bin Amir : “Sebaik-baiknya mahar adalah paling ringan (nilainya).”

- Bila tak memiliki materi, boleh berupa jasa. Semisal jasa mengajarkan beberapa ayat al-Qur’an
atau ilmu-ilmu agama lainnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkata kepada seorang pemuda
yang dinikahkannya : “Telah aku nikahkan engkau dengannya (wanita) dengan mahar apa yang
engkau miliki dari Al-Quran” (HR. Bukhari dan Muslim)

d. Adanya dua orang saksi

e. Proses Ijab Qobul , Proses Ijab Qabul adalah proses perpindahan perwalian dari Ayah/Wali
wanita kepada suaminya. Dan untuk kedepannya makan yang bertanggung jawab terhadap diri
wanita itu adalah suaminya. Syarat-syarat diatas adalah ketentuan yang harus dipenuhi dalam
syarat sahnya prosesi suatu pernikahan. Selain itu dianjurkan untuk mengadakan walimatul ‘ursy,
dimana pasangan mempelai sebaiknya diperkenalkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar
bahwa mereka telah resmi menjadi pasangan suami isteri, sebagai antisipasi terjadinya fitnah.

Permasalahan seputar persiapan nikah

a. Sudah siap, tetapi jodoh tidak kunjung datang Rahasia jodoh adalah hanya milik Allah, tidak
ada satu orangpun yang dapat meramalkan bila jodohnya datang. Sikap husnuzhon amat
diutamakan dalam fase menunggu ini. Sembari terus berikhtiar dengan cara meminta bantuan
orang-orang yang terpercaya dan berdo’a memohon pertolongan Allah. Juga upayakan
senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Hindari diri dari berangan-angan, isilah
waktu oleh kegiatan-kegiatan positif .

b. Belum siap, tetapi sudah datang tawaran Introspeksi diri, apakah yang membuat diri belum
siap ?. Cari penyebab ketidak siapan itu, tingkatkan kepercayaan diri dan fikirkan solusinya.
Sangat baik bila mengkomunikasikan masalah ini dengan orang-orang yang dipercaya, sehingga
diharapkan dapat membantu proses penyiapan diri. Sembari terus banyak mengkaji urgensi
tentang pernikahan berikut hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.

Penutup

Agama Islam sudah sedemikian dimudahkan oleh Allah SWT, tetap masih saja ada orang yang
merasakan berat dalam melaksanakannya karena ketidak tahuan mereka. Allah Taâ’ala telah
berfirman: “Allah menghendaki kemmudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”
(Q.S. Al-Baqarah : 185)

Kita lihat, betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan
jodoh, dalam peminangan, dalam urusan mahar dan juga dalam melaksanakan akad nikah.
Demikianlah beberapa pandangan tentang persiapan pernikahan dan berbagai problematikanya,
juga beberapa kiat untuk mengantisipasinya. Insyallah, jika ummat Islam mengikuti jalan yang
telah digariskan Allah SWT kepadanya, niscaya mereka akan hidup dibawah naungan Islam yang
mulia ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian .