You are on page 1of 10

main turbine

Steam chest temperature differential accross steam chest wall yang dihitung
menggunakan thermocouples dalam dan dangkal.
BATASAN OPERASI
1. Perbedaan temperatur yang direkomendasi  83 oC
2. Bila steam chest temperature kurang dari 204 oC pada Cold Start Up. Perbedaan
temperatur yang diperbolehkan adalah  110 oC
ALASAN
a. Untuk mencegah overstress akibat tekanan yang dapat menimbulkan retak dan
kerusakan akibat steam chest.
b. Untuk mencegah distorsi yang dapat menyebabkan seret dan tidak beroperasinya
valve dengan baik

Steam chest temperature sebelum valve transfer


BATASAN OPERASI
Bagian dalam dari steam chest harus dipanaskan sampai temperatur jenuh sesuai
dengan steam inlet pressure sebelum valve transfer
ALASAN
Untuk mencegah terjadinya kondensasi air yang dapat mengakibatkan thermal fatique
di steam chest dan bagian inlet dari HP turbin oleh thermal shock atau kerusakan
pada sudu HP turbin.

Laju perubahan beban


BATASAN OPERASI
1. Laju perubahan dari steam temperatur tingkat pertama HP turbin harus sekitar 
165 oC/H
2. Laju perubahan  56 oC/10 menit dapat dibenarkan pada keadaan tertentu
ALASAN
Untuk mencegah low cycle fatique rupture karena thermal stress

Rotor eccentricity selama turning operation


BATASAN OPERASI
1. Normal: kurang dari 0,05 mm (TSI)
2. Alarm: lebih dari 0,075 mm (TSI)
3. Normal: kurang dari 0,025 mm (Pada tiap bearing oil ring)
ALASAN
Untuk mencegah vibrasi berlebih selama rolling turbin

Vibrasi turbin di poros


BATASAN OPERASI
1. Baik: kurang dari 0,075 mm
2. Alarm: lebih dari 0,125 mm
3. Trip: lebih dari 0,25 mm (double amplitude pada putaran normal)
4. Turbin trip otomatis pada bila batasan trip telah dilampaui pada satu bearing dan
alarm pada bearing yang lain.

ALASAN
a. Untuk mencegah kerusakan fatique pada bany komponen dari turbin-generator
b. Untuk mencegah noise berlebih di turbin area
c. Untuk mencegah kerusakan bearing
d. Untuk mencegah peralatan longgar dan menjaga sensor-sensor instrumen

Differential expansion
BATASAN OPERASI
1. Alarm: Short -0,5 mm Long +18,5 mm (TSI)
2. Trip otomatis: Short -1,3 mm Long +19,3 mm (TSI)
3. Clearance minimum adalah D-dimension pada sudu 5-S dari Generator end pada LP
turbin
ALASAN
Untuk mencegah gesekan antara bagian yang diam dan bagian yang bergerak

Posisi Rotor
BATASAN OPERASI
TSI (Berdasarkan pada posisi dari thrust clearance center)
1. Alarm:  0,9 mm
2. Trip oleh operator:  1,0 mm
Kegagalan thrust bearing oleh protective device
1. Alarm: 2,1  0,1 kg
2. Trip otomatis: 5,6  0,3 kg
ALASAN
Untuk mencegah kegagalan thrust bearing sehingga dapat terjadi gesekan antara
bagian yang diam dan bagian yang bergerak.

Perbedaan metal temperature antara Top dan Bottom dari HP-IP turbine outer
cylinder (Water induction)
BATASAN OPERASI
1. Alarm: 42oC
2. Trip oleh operator 56oC
*) Selama proses Start Up, alarm sering terjadi karena Uneven heating di turbin. Pada
kasus ini operator harus memperhatikan agar temperatur tidak naik dengan tiba-tiba
ALASAN
a. Untuk mencegah operasi pada kondisi Water induction yang dapat menyebabkan
distorsi pada silinder.
b. Distorsi pada silinder dapat diakibatkan oleh bersinggungannya bagian yang diam
dan bergerak

Journal bearing metal Temperature


BATASAN OPERASI
1. Alarm: 107oC
2. Trip oleh operator 113oC
ALASAN
a. Untuk mencegah meleleh dan perubahan dari white metal karena panas berlebih
b. Bila white metal benar-benar meleleh, maka rotor akan berputar diatas permukaan
bearing yang keras sehingga kerusakan pada bearing dan rotor dapat terjadi

Thrust bearing metal Temperature


BATASAN OPERASI
1. Alarm: 99oC
2. Trip oleh operator 107oC
ALASAN
a. Untuk mencegah meleleh dan perubahan dari white metal karena panas berlebih
b. Kegagalan thrust bearing dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada bagian
dan berputar dan diam akibat gerakan aksial abnormal.

Drain Oil Temperatur dari jurnal dan thrust bearing


BATASAN OPERASI
1. Alarm: 77oC
2. Trip oleh operator 85oC

ALASAN
a. Untuk mencegah panas berlebih dari bearing
b. Tingginya temperatur oil drain dapat menyebabkan tipisnya lapisan oil film
sehingga kontak metal dengan metal dapat terjadi.

Bearing oil temperature


BATASAN OPERASI
1. Turning operation: 21oC  Bearing oil Temp  33oC
2. Turbine rolling period: Bearing oil Temp  21oC
3. Oil Pump operation: Bearing oil Temp  10oC
ALASAN
a. Untuk mempertahankan kekentalan oil yang cukup pada batasan maksimal
b. Untuk mencegah over load dari oil pump pada batasan minimal
Bearing oil Pressure
BATASAN OPERASI
1. Normal: 1,0 – 1,8 kg/cm2
2. Alarm: 0,75 kg/cm2
3. Trip: 0,5 kg/cm2
ALASAN
a. Untuk mempertahankan flow oil yang cukup ke journal dan thrust bearing
b. Untuk mempertahankan temperatur dan kekentalan oil yang cukup ke lapisan film
di dalam bearing

Gland Condenser Vacuum


BATASAN OPERASI
400 – 500 mmH2O Vac
ALASAN
Untuk mencegah kebocoran dari turbine gland dan main steam valves gland

HP-IP Gland temperature


BATASAN OPERASI
1. Perbedaan temperatur antara sealing steam dan turbine rotor di HP-IP gland harus
dipertahankan dibawah 110oC
2. Pada keadaan tertentu (Cold Start) perbedaan sampai 165oC dapat diperbolehkan
3. Sealing steam harus 14oC Superheated
ALASAN
a. High limit: Untuk mencegah kerusakan casing gland dan rotor
b. Low limit: Untuk mencegah terjadinya terbentuknya uap air dalam casing gland
seal

LP Gland temperature
BATASAN OPERASI
1. Temperatur sealing steam harus dipertahankan antara 120oC – 180oC
2. Sealing steam harus 14oC Superheated
3. Sealing steam dipertahankan sekitar 150oC
ALASAN
a. High limit: Untuk mencegah kerusakan casing gland dan rotor
b. Low limit: Untuk mencegah terjadinya terbentuknya uap air dalam casing gland
seal

EH Oil temperature
BATASAN OPERASI
EH Oil temperature disarankan dipertahankan sekitar 40oC – 60oC
ALASAN
a. Untuk mempertahankan kekentalan oil yang cukup
b. Low t: Untuk mencegah overload EH fluid pump dan bergerak lambannya valva
actuator
c. High limit: Untuk mencegah sealing yang tidak baik sehingga bisa menyebabkan
kerusakan saat turbin trip

Putaran resonansi (kritis)


BATASAN OPERASI
Jangan menahan turbin-generator pada putaran resonansi (kritis)
ALASAN
a. Untuk mencegah kerusakan sudu dari resonansi
b. Untuk mencegah naiknya amplitudo vibrasi akibat resonansi

Operasi pada beban rendah


BATASAN OPERASI
1. Operasi pada beban kurang dari 5% nominal harus dihindari
2. Jika perlu hal-hal berikut harus diperhatikan:
2.1. Batasan pada reheat temperatur dan back pressure pada Gambar 6 harus
dipertahankan
2.2. LP turbin exhaust temp jangan melebihi 80oC
2.3. Semua penunjukan instrumen harus dalam batasan yang diperbolehkan khususnya
differential expantion
ALASAN
Untuk mencegah panas berlebih pada LP turbin dan mencegah bersentuhan antara
sudu gerak dan bagian yang diam

Turbin beroperasi sebagai motor (tidak berbeban tapi online)


Turbin beroperasi sebagai motor dibatasi kurang dari 1 (satu) menit
ALASAN
Untuk mencegah panas berlebih pada LP turbin akibat windage dan kontak antara
sudu gerak dengan bagian yang diam.

Batasan frekwensi
BATASAN OPERASI
Batasan frekwesi adalah pada 48,5  51,5 Hz
ALASAN
Untuk mencegah getaran berlebih pada sudu tingkat akhir dari LP turbin sebagai
akibat resonansi.

Operasi dari turbine drain valve


BATASAN OPERASI
1. Buka drain valves sebelum start unit dan sampai berbeban 20% beban
2. Pada shut down normal, buka drain valve pada beban kurang dari 15%
3. Buka drain valve selama shut down sampai turbinnya dingin
ALASAN
a. Untuk membuang semua air yang terbentuk di turbin dan pipa
b. Air yang terbentuk di dalam casing yang panas dapat menyebabkan kerusakan dan
bersentuhan
c. Titik air yang mengenai sudu turbin akan mengakibatkan unbalance dan erosi sudu

Pengoperasian Exhaust spray


BATASAN OPERASI
1. Buka spray valve pada putaran lebih dari 600 rpm dan beban kurang dari 5%
2. Buka spray valve bila temperature exhaust steam lebih dari 70oC
ALASAN
Untuk mencegah panas berlebih di daerah LP turbine.

Operasi curtain spray


BATASAN OPERASI
1. Buka spray valve pada pembukaan sedang selama LP bypass dalam kondisi open.
2. Buka spray valve “fully open” bila load rejection terjadi.
3. Tutup spray valve bila kedua Condensate Pump stop
ALASAN
a. Untuk mencegah baliknya dump steam dari bypass system ke LP Turbine exhaust.
b. Untuk mencegah overheating dari LP turbine exhaust
c. Untuk mencegah efek water hammer selama Condensate pump start

Pengoperasian Ventilator valve


BATASAN OPERASI
Urutan normal Start Up
1. Close setelah turbine reset
2. Open selama rub check dan close setelah rub check selesai
3. Open setelah Valve transfer
4. Close setelah syncron
Kondisi Lain:
1. Open pada beban kurang dari 10% load dan HP exhaust metal temperature  370 oC
(350 oC Close lagi)
2. Open GV close dan ICV open condition
3. Open bila Fast Cut Back terjadi
4. Open bila melakukan Over speed Protection system
5. Open setelah turbin trip atau all valve close
ALASAN
a. Pembukaan ventilator valve akan menurunkan reneat steam pressure dan
mencegah naiknlya HP turbine exhaust temperature akibat windage loss
b. Turbin trip otomatis bila HP exhaust steam temperature  500 oC

Operasi Turning gear


BATASAN OPERASI
1. Turning gear dioperasikan sebelum start up dan setelah turbine shut down
2. Operasi turning gear harus dilanjutkan setelah shut down selama minimal 48 jam
dan initial metal temperature kurang dari 180 oC
3. Turning gear harus dioperasikan setiap saat bila ada steam sealing system
4. Turning gear lebih baik dioperasikan bila generator terisi dengan Hidrogen
5. Dalam keadaan emergency, oil pump dan turning gear dapat distop pada initial
stage metal temperature 250 oC
6. Dalam keadaan emergency, turning gear hanya dapat distop pada initial stage
metal temperature 350 oC
ALASAN
a. Untuk mengurangi rotor bowing yang disebabkan pendinginan rotor yang tidak
cukup
b. Untuk mempertahankan seal yang baik
c. Untuk mencegah overheating dari metal bearing akibat panas dari bagian-bagian
yang bertemperatur tinggi

Vapor extractor
BATASAN OPERASI
Kedua vapor extractor di lubrication oil reservoir dan loop seal tank harus
dioperasikan ketika lubrication oil system beroperasi
ALASAN
Untuk mencegah bocornya oli dan uap hydrogen dari rumah bearing dan semua
komponen drain system

Urutan penempatan feed water heater in service


Feed water heater harus selalu in service dimulai dari LP Heater tekanan paling
rendah ke HP Heater tekanan paling tinggi
ALASAN
a. Untuk mengurangi load reduction pada beban tinggi
b. Untuk mencegah flow yang abnormal dan pressure ratio di dalam turbine

Operasi dengan feed water heater out of service


BATASAN OPERASI
1. Heater yang tidak berdekatan dapat distop bila beban nominal turbin tidak
terlampaui
2. Tiga heater tekanan paling tinggi dapat out service bila beban nominal turbin tidak
terlampaui
3. Pengurangan beban sebesar 10% dibawah beban nominal bila heater yang
berdekatan out service dengan HP Heater in service. Tambahan pengurangan beban
10% tiap tambahan heater yang berdekatan out service
ALASAN
Untuk mencegah overstressing dari sudu turbin

MSV/ GV stem freedom test


BATASAN OPERASI
Valve stem freedom test dari MSV/GV harus dilakukan sekali seminggu pada beban
kurang dari 70% dan IMP on
ALASAN
a. Untuk mengecek kondisi operasi dari MSV/ GV
b. Untuk mencegah lengketnya MSV/ GV dari deposit yang terbawa dari bocoran uap
c. Untuk mencegah overspeed yang disebabkan dari kegagalan valve

RSV/ ICV stem freedom test


BATASAN OPERASI
Valve stem freedom test dari RSV/ ICV harus dilakukan sekali seminggu pada beban
kurang dari 90% dan IMP off

ALASAN
a. Untuk mengecek kondisi operasi dari RSV/ ICV
b. Untuk mencegah lengketnya RSV/ ICV dari deposit yang terbawa dari bocoran uap
c. Untuk mencegah overspeed yang disebabkan dari kegagalan valve

Over Speed Protection control system test


BATASAN OPERASI
1. Test direkomendasikan dilakukan setiap 6 (enam) bulan bersamaan dengan test
mechanical over speed test.
2. Test direkomendasikan dilakukan setiap turbin start up
ALASAN
Untuk mengecek Over speed protection control system bekerja dengan benar. GV/ ICV
menutup dalam waktu yang singkat

Protective Device Test di HP turbine pedestal


BATASAN OPERASI
Protective Device Test harus dilakukan sekurang-kurangnya sekali tiap bualan:
1. Bearing pressure low trip test
Alarm: 0,75  0,5 kg/cm2
Trip: 0,5  0,05 kg/cm2
2. Thrust Bearing oil trip
Alarm: 2,1  0,1 kg/cm2
Trip: 5,6  0,3 kg/cm2
3. Condenser vacuum low test
Alarm: 650  25 mmHg
Trip: 550  100 mmHg
4. Over speed oil trip test
Catat oil pressure dan bandingkan dengan normal standar data
ALASAN
Untuk mengecek protective device pada kondisi normal

Mechanical over speed test


BATASAN OPERASI
Test fugsi dari Mechanical over speed test direkomendasikan pada kondisi interval
berikut:
1. Setiap 6 (enam) bulan
2. Setiap start up, jika turbin telah out service pada periode yang cukup lama
3. Jika perbaikan telah dilakukan di governor pedestal
* Jika test dilakukan pada saat start up, turbin ditahan selama 4 (empat) jam pada
10% beban dibutuhkan untuk memanaskan rotor turbin

ALASAN
Untuk mengecek hal-hal berikut:
1. Semua mechanical trip test
2. Set point dari mekanisme overspeed trip (kurang dari 111% putaran nominal)
3. Fungsi reset

Trip solenoid test


BATASAN OPERASI
Trip solenoid harus dites saat turbin out service untuk over speed test
ALASAN
Untuk mengecek Trip solenoid test dapat beroperasi dengan baik

Test fungsi dari extraction non return valve


BATASAN OPERASI
Fungsi dari extraction non return valve direkomendasikan dites dengan udara
seminggu sekali
ALASAN
a. Untuk mengecek extraction non return valve dapat bekerja dengan baik
b. Untuk mencegah masuknya air dari feed water heater ke turbin

Oil pump auto start test


BATASAN OPERASI
Test auto start dari Oil Pump harus dilakukan sekali seminggu:
1. Auxiliary Oil Pump start: 7,5  0,2 kg/cm2
2. Turning Oil Pump start: 0,85  0,05 kg/cm2
3. Emergency Oil Pump start: 0,65  0,05 kg/cm2
4. EH Fluid Pump: 105  3,0 kg/cm2
ALASAN
Untuk menyiapkan oil pump pada keadaan emergency