You are on page 1of 23

MAKALAH PARASIT dan PENYAKIT IKAN

Diajukan Sebagai Mata Kuliah Parasit dan Penyakit Ikan

Opecoelus lobatus , Camalanus sp, Acantocephala sp dan Echynorynchus sp.

Kelompok 10

Disusun oleh:

Bagja Satria Zulkarnaen 230110160001

Muthi’ah Atsari Hamiedah 230110160009

Dharmawan Ekonur Saputro 230110160015

Amyati 230110160028

Firdha Julyawati Dewi 230110160042

Luthfia Rahmannisa 230110160045

Rachmat Mahandika R 230110160062

UNIVERSITAS PADJAJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

SUMEDANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya penyusun bisa menyusun dan menyelesaikan makalah
Parasit dan Penyakit Ikan sebagai salah satu tugas. Penyusun juga mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah memberikan informasi yang sebagian besar diambil dari internet
dan buku.

Penulis telah berusaha menyusun laporan praktikum dengan sebaik-baiknya. Oleh karena
itu, penyusun mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna menyempurnakan makalah
dan dapat menjadi acuan dalam menyusun makalah atau tugas-tugas selanjutnya. Penyusun juga
memohon maaf apabila dalam penulisan makalah terdapat kesalahan pengetikan dan kekeliruan
sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.

Jatinangor, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .......................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................... ii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1


1.2 Tujuan dan Manfaat .................................................................... 2

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Parasit ....................................................................... 3


2.1.1 Jenis Parasit................................................................................. 3
2.1.2 Identifikasi Parasit ...................................................................... 4
2.2 Pengertian Penyakit .................................................................... 4
2.2.1 Penyebab Penyakit ...................................................................... 5
2.2.2 Sumber Penyakit ......................................................................... 5
2.3 Opecoelus lobatus ....................................................................... 5
2.3.1 Klasifikasi ................................................................................... 6
2.3.2 Morfologi .................................................................................... 6
2.3.3 Siklus Hidup ............................................................................... 6
2.3.4 Gejala Klinis ............................................................................... 7
2.3.5 Penanggulangan .......................................................................... 7
2.4 Camalanus sp...................................................................................... 7
2.4.1 Klasifikasi ............................................................................................ 7
2.4.2 Morfologi ............................................................................................. 8
2.4.3 Siklus Hidup ........................................................................................ 9
2.4.4 Gejala Klinis ........................................................................................ 11
2.4.5 Penanggulangan ................................................................................... 12
2.5 Acantocephala sp ................................................................................ 12
2.5.1 Klasifikasi ............................................................................................ 12
2.5.2 Morfologi ............................................................................................. 13
2.5.3 Siklus Hidup ........................................................................................ 13
2.5.4 Gejala Klinis ........................................................................................ 13
2.5.5 Penanggulangan ................................................................................... 14
2.6 Echynorynchus sp. ..................................................................... 14
2.6.1 Klasifikasi ................................................................................... 14
2.6.2 Morfologi .................................................................................... 14
2.6.3 Siklus Hidup ............................................................................... 15
ii
2.6.4 Gejala Klinis ............................................................................... 16
2.6.5 Penanggulangan .......................................................................... 17

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... ........ 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit ikan biasanya timbul berkaitan dengan lemahnya kondisi ikan yang diakibatkan
oleh beberapa faktor yaitu antara lain penanganan ikan, faktorpakan yang diberikan, dan keadaan
lingkungan yang kurang mendukung. Pada padat penebaran ikan yang tinggi jika faktor
lingkungan kurang menguntungkan misalnya kandungan zat asam dalam air rendah, pakan yang
diberikan kurang tepat baik jumlah maupun mutunya, penanganan ikan kurang sempurna, maka
ikan akan menderita stress. Dalam keadaan demikian ikan akan mudah terserang oleh penyakit
(Sniezko, 1973 ; Sarig, 1971).

Pada perairan alami, penyakit dapat mengakibatkan kerugian ekonomis. Karena penyakit
dapat menyebabkan kekerdilan, periode pemiliharaan lebih lama, tingginya konversi pakan,
tingkat padat tebar yang rendah dan Sehingga dapat mengakibatkan menurunnya atau hilang
produksi. Timbulnya serangan penyakit adalah hasil interaksi yang tidak sesuai antara hospek,
kondisi lingkungan dan organisme penyebab penyakit. Interaksi yang tidak serasi tersebut dapat
menimbulkan stress pada ikan, nafsu makan menurun, yang selanjutnya menyebabkan mekanisme
pertahanan tubuh tidak bekerja secara optimal, akhirnya infeksi dan infestasi penyakit mudah
masuk (Afrianto dan Liviawati, 1992).

Kerugian akibat infestasi ektoparasit memang tidak sebesar kerugian akibat infeksi
organisme patogen lain seperti virus dan bakteri, namun infestasi ektoparasit dapat menjadi salah
satu faktor predisposisi bagi infeksi organisme patogen yang lebih berbahaya. Kerugian non lethal
lain dapat berupa kerusakan organ luar yaitu kulit dan insang, pertumbuhan lambat dan penurunan
nilai jual (Bhakti, 2011).

1
2

Untuk mencapai target produksi perikanan sesuai dengan yang diharapkan, berbagai
permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain kegagalan produksi
akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik baik dari golongan parasit, jamur,
bakteri, dan virus. Widyastuti et al (2002), menyebutkan penyakit pada ikan dapat dibedakan
menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Keduanya bersifat merugikan bagi
pertumbuhan/perkembangan ikan. Serangan penyakit dapat dideteksi dari suatu jenis parasit yang
menyerang ikan, maka perlu adanya identifikasi parasitenis parasit tersebut. Sehingga dapat
diketahui cara penanggulangan yang tepat terhadap serangan spesies dari suatu jenis parasit
tersebut. Secara fisik, efek negatif yang ditimbulkan dari serangan parasit lebih jelas terlihat pada
serangan ektoparasit, sehingga penanganannya relatif lebih mudah.

Berdasarkan hal yang diatas, peneliti ingin mengetahui tentang organisme parasit yang ada
Krueng Inoeng, seperti jenis parasit, sebagai informasi mengenai ekologi parasit dan inangnya
diperairan sungai tersebut. Selanjut berguna bagi kepentingan budidaya sebagai upaya untuk
pencegahan dan penanggulangan terhadap serangan parasit agar produksi ikan dapat terjaga dan
terus meningkat.

1.2 Tujuan dan Manfaat

1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami siklus hidup parasit.


2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai gejala klinis dan cara
penanggulangan parasit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Parasit

Secara umum, parasit dapat didefinisikan sebagai organisma yang hidup pada organisme
lain, yang disebut inang, dan mendapat keuntungan dari inang yang ditempatinya hidup, sedangkan
inang menderita kerugian. Parasitologi merupakan salah satu cabang ilmu yang mempelajari
tentang kehidupan parasit. Kehidupan parasit memiliki keunikan karena adanya ketergantungan
pada inang. Ada beberapa jenis bentuk symbiosis, antara lain, yaitu comensalisme dimana pada
hubungan ini kedua organisme yang bersymbiosis masing-masing memperoleh keuntungan dan
tidak ada yang dirugikan, sedangkan mutualisme adalah kedua organisme mendapatkan
keuntungan, dan jika salah satu diantaranya tidak tersedia maka tidak akan terjadi kehidupan.
Parasitisma merupakan suatu pada dan hidup atas pengorbanan inangnya, baik secara biokimia
maupun secara physiology (Anshary, 2008)

2.1.1 Jenis Parasit

Berdasarkan lingkungannya, parasit dibedakan menjadi ektoparasit, yaitu parasit yang


hidup pada permukaan tubuh inang. Beberapa golongan parasit yang bersifat ektoparasit antara
lain adalah ciliata, beberapa flagellata, monogenea, copepod, isopod, branchiuran dan lintah,
sedangkan endoparasit adalah parasit yang ditemukan pada organ bagian dalam inang. Golongan
parasit yang masuk kelompok endoparasit antara lain adalah digenea, cestoda, nematoda,
acantocephala, coccidia, microsporidia, dan amoeba (Anshary, 2008). Umumnya ikan-ikan yang
hidup di alam dapat terinfeksi oleh berbagai jenis parasit cacing-cacingan seperti Monogenea,
Digenea, Nematoda dan Acanthocepala. Monogenea umumnya ektoparasit dan jarang bersifat
endoparasit. Hal ini sesuai dengan pendapat (Kabata, 1985), bahwa monogenea salah satu parasit
yang sebagian besar menyerang bagian luar tubuh ikan (ektoparasit), jarang menyerang bagian
dalam tubuh ikan (endoparasit) biasanya menyerang kulit dan insang. Salah satu spesies dari kelas
monogenea yang paling sering muncul pada ikan air tawar adalah Dactylogyrus sp. dan
Gyrodactylus sp. (Rukyani, 1991).

3
4

2.1.2 Identifikasi Parasit

Dalam identifikasi atau dianogsa penyakit ikan, nama penyakit cukup penting. Nama
penyakit ikan sering dihubungkan dengan gejala-gejala klinis, seperti penyakit bercak-bercak
putih, penyakit bintik putih, penyakit becak-becak hitam, dan sebagainya. Tetapi, gejala-gejala
tersebut tidak selalu merupakan tanda-tanda khusus penyakit ikan tertentu (Ghufran M.H., et al
2004). Identifikasi terhadap parasit ikan yang dijumpai dapat dilakukan berdasarkan adanya ciri-
ciri khusus yang dijumpai dan morfologi dari tiap-tiap jenis parasit dan habitatnya. Identifikasi ini
dilakukan dengan petunjuk Kabata (1985), Hoffman (1967), Waren (1984) dan Bykhovskaya-
Pavlovskaya (1964)

2.2 Pengertian Penyakit

Penyakit ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan
gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses
hubungan tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi dalam air), kondisi inang (ikan), dan
adanya jasad patogen (jasad penyakit). Dengan demikian, timbulnya serangan penyakit itu
merupakan hasil interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stres pada ikan,sehingga mekanisme
pertahanan diri yang memilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit. (Ghufran
M.H., et al 2004) Penyakit adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh
organisme lain, pakan maupun kondisilinkungan yang kurang menunjang kehidupan lain. Dengan
demikian, timbulnya serangan penyakit ikan di kolam merupakan hasil interaksi yang tidak serasi
antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini telah
menyebabkan stres pada ikan sehingga mekanisme pertahanan diri dari yang dimilikinya menjadi
lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit (Lukistyowati dan Morina, 2005).
Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang dalam tubuh ikan,
sehingga organ tubuh ikan terganggu, akan terganggu pula seluruh jaringan tubuh ikan (Gusrina,
2008).
5

2.2.1 Penyebab Penyakit

Salah satu kelompok penyebab penyakit pada ikan yang juga harus diwaspadai oleh petani
ikan dan hobiis (kolektor) ikan adalah kelompok non infeksi. Kelompok ini adalah kelompok
penyakit yang disebabkan oleh bukan jasad hidup, antara lain disebabkan oleh perubahan
lingkungan seperti kepadatan ikan terlalu tinggi, variasi lingkungan (oksigen, suhu, ph, salinitas,
dsb), biotoksin (toksin alga, toksin zooplankton, dsb), pollutan, rendahnya mutu pakan
dan lain-lain (Hofman, 1967).
Ciri masing-masing penyebab penyakit merupakan proses menuju morbiditas dan
mortalitas. Dan di antara bebagai penyebab penyakit tersebut, proses menuju mortalitas sangat
tergantung pada jenis penyebabnya. Kebanyakan keracunan dan infeksi virus terjadi secara
mendadak dan meningkatkan kematian dengan tajam (Ghufran M.H., et al 2004).

2.2.2 Sumber Penyakit

Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang
antara ti ga komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan)yang lemah, patogen serta
kualitas lingkungan yang memburuk. Penyakit ikan dapat disebabkan oleh mikrob penyebab
penyakit (Patogen) yang dapat berupa parasit, bakteri, virus maupun jamur (Kordi, 2004).

2.3 Opecoelus lobatus


6

2.3.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Digenea
Family : Opecoelidae
Genus : Opecoelus
Spesies : Opecoelus sp (Ozaki, 1925)

2.3.2 Morfologi

Memiliki tubuh bulat panjang, bagian posterior bulat dan anterior lonjong, oral sucker
berkembang baik dan berbetuk oval, panjang acetabulu 2 kali oral sucker, papila tidak
berkebang, faringnya berbenruk oval, dan Hospes definitif : Ikan tawes (Puntius javonicus), dan
Ikan Lele (Clarias batrachus). (Kabata 1985)

2.3.3 Siklus Hidup

Siklus hidup dari opeocolus produksi dari sporokista betina oleh sporocyst induk ketika
ukuran betina seperempat dari ukuran induknya dan pengebangan lebih lanjut dari metaserkaria
dalam hospes perantara kedua setelah enjadi infektif ke hospes definitif.
Opegaster dewasa atau serkaria akan menghasilkan ribuan telur yang dimigrasikan ke feses
inangnya. Telur ini memiliki mirasidium bersilia tertutup untuk menetas dan menembus ke dalam
moluska. Pada saat telur ini berpindah dan masuk ke dalam inang, ia akan menetas dan
meungkinkan mirasidium untuk mencari dan menembus bagian bagian spesifik dari inangnya
seperti usus. Mirasidium tersebut kemudian akan kantung spora dalam jumlah besar dan kembali
menghasilkan serkaria.
Opegaster ini biasanya hidup pada jenis mollusca atau hewan laut lainnya. Paperna (1975,
Paperna dan Overstreet 1981)
7

2.3.4 Gejala Klinis

Opecoelus termasuk kedalam parasit Diginea. Digenea adalah trematoda endoparasit yang
memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang. Digenea yang telah
diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000 spesies yang menyerang ikan. Parasit ini
memperlihatkan inang spesifisitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan
pada inang akhir. Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran
gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang
serta saluran darah. (Buchmann & Bresciani 2001).

2.3.5 Penanggulangan

Upaya pengendalian yaitu dengan menggunakan larutan acriflavin 100 ppm dalam air
tawar selama 1 menit, atau acriflavin 10 ppm selama 60 menit. (Buchmann & Bresciani 2001).

2.4 Camalanus sp

2.4.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Nematoda
Familia : Camalanidae
Genus : Camallanus
Spesies : Camallanus sp.
8

Cacing Camallanus sp. merupakan salah satu spesies dari kelas Nematoda. Cacing ini
merupakan parasit pada tubuh ikan. Nematoda sering disebut cacing ”gilig”, merupakan kelas
tersendiri dari filum Nemathelmintes. Nematoda merupakan parasit yang sering dijumpai pada
ikan, dimana ikan dapat bertindak sebagai induk semang antara maupun induk semang definitif.
Noga (1996) menyatakan bahwa ikan laut biasanya terinfeksi oleh nematoda yang berasal
dari golongan Ascaridoidoiea (Contracecum, Pseudoterranova, Anisakis, Cotracaecum),
Camallanoidea (Camallanus, Culcullanus), Dracunculoidea (Philonema, Philometra), dan
Spiruroidea (Metabronema, Ascarophis). Sebagian besar camallanoids, dracunculoids,
danspiruroids memiliki dua induk semang dalam siklus hidupnya dimana ikan bertindak sebagai
induk semang definitif.

2.4.2 Morfologi

Menurut Kabata (1985) perbedaan antara Camallanus sp. Dengan Procamallanus sp.
terletak pada rongga kapsul. Pada Camallanus sp., buccal kapsul terbagi menjadi dua katup
sedang pada Procamallanus sp. buccal kapsul tidak terbagi. Umumnya Camallanus sp. ini
menyerang organ usus dan saluran anus.
Parasit ini memiliki ciri khas yaitu memiliki suatu buccal kapsul yang dilapisi kutikula
yang tebal dan sepasang lekukan pada buccal kapsul. Mulutnya seperti penjepit yang kuat,
berbingkai yang dikelilingi oleh buku-buku semacam tanduk. Bentuk seperti ini akan membuat
parasit ini dapat memegang dengan kuat ke dinding usus dan tidak dapat lepas. Tempat berkaitnya
cacing ini pada usus dapat terjadi pendarahan. Mulut sampai esofagus memiliki dinding otot yang
tebal, biasanya esofagus dilapisi kutikula.
Menurut Buchmann & Bresciani (2001), panjang tubuh Camallanus jantan ini dapat
mencapai 6,2 mm dan betinanya dapat mencapai 11 mm. mereka memiliki ciri khas yakni adanya
rongga kapsul yang terbuat dari dua katup lateral, cincin basal dandua trident. Betina gravid
berisikan larva motil kira-kira panjangnya 0,5 mm. Camallanus sp. ini memiliki kebiasaan
menghisap darah sehingga menyebabkan anemia. Perlekatan dengan rongga kapsulnya
menyebabkan erosi pada mukosa.
9

2.4.3 Siklus Hidup

Yanong (2008) membagi siklus hidup nematoda menjadi dua kategori utama, yaitu siklus
hidup langsung dan tidak langsung. Siklus hidup langsung dimana ikan bertindak sebagai inang
definitif bagi nematoda dan tidak diperlukan inang antara sehingga infeksi dapat langsung
disebarkan secara langsung dari satu ikan ke ikan lain melalui telur atau larva infektif yang
termakan. Jika nematoda memiliki siklus hidup tidak langsung, telur atau larva akan dikeluarkan
ke dalam air dan selama proses perkembangannya, larva yang belum dewasa ini setidaknya akan
melewati dua organisme yang berbeda yang salah satunya adalah ikan.
Camallanus sp. memiliki siklus hidup yang tidak langsung atau melalui inang perantara dan
Camallanus sp. betina memiliki vulva yang terletak ditengah tubuh. Camallanus sp. dewasa akan
melakukan kopulasi dan Camallanus sp. betina akan mengeluarkan larva (viviparus) ke lumen
usus ikan. Larva kemudian dikeluarkan oleh ikan langsung ke perairan yang nantinya akan
dimakan oleh inang antara seperti kopepoda (Buchmann & Bresciani 2001 dalam Batara, 2008).
Menurut Nimai (1999) dalam Batara (2008) didalam tubuh kopepoda larva migrasi dari saluran
pencernaan ke haemocoel pada cephalothorax dan menjadi infektif di haemocoel. Larva stadium
tiga dapat ditemukan dalam inang perantara seperti kopepoda atau inang definitf. Ikan sebagai
inang definitif memakan kopepoda yang mengandung larva kemudian larva berkembang menjadi
dewasa dan melakukan penetrasi dalam usus. Camallanus sp. dapat hidup di usus dan pylorus
sekum pada inang definitifnya dan penyakit yang disebabkan oleh Camallanus sp. disebut
Camallanosis. Buccal capsule dari Camallanus sp. dapat mengakibatkan erosi pada mukosa usus
(Buchmann & Bresciani, 2001 dalam Batara, 2008). Buccal capsule dilekatkan pada dinding usus
dengan sangat kuat dan menyebabkan jaringan dinding usus menjadi robek. Jaringan menjadi
rusak karena mengalami iskemia dan dalam waktu yang lama jaringan menjadi nekrosa. Disaat
yang sama Camallanus sp. melakukan migrasi ke jaringan usus yang lain dan kerusakan jaringan
dapat ditemukan sepanjang usus. Kerusakan yang parah dapat menyebabkan infeksi dari parasit
lain dan pertahanan tubuh ikan menurun sehingga dapat menyebabkan ikan mati.
Beberapa spesies dari parasit ini dapat berkembang dalam aquarium karena dapat
menghasilkan larva aktif, nantinya parasit ini tidak memerlukan inang antara setidaknya untuk
beberapa generasi. Camallanus sp. ini dapat menyebabkan camallanosis. Selain menyerang
usus, parasit ini juga menginfeksi pilorus sekum.
10

Gambar . Siklus hidup Camallanus sp.


(Sumber : jstor.org)
Adapun siklus hidup parasit ini secara ringkarnya yakni cacing dewasa berkopulasi di ikan
kemudian betinanya membawa larva menuju lumen usus. Camallanus sp. ini merupakan cacing
vivipar. Larva akhirnya berada di air. Mereka akan termakan kopepoda yang akan terinfeksi
pada hemocoelnya. Kopepoda sebagai inang antara yang berisi larva stadium ketiga (L3)
dari Camallanus sp. tersebut akan dimakan oleh inang akhir yakni ikan. Melalui ingesti dan
digesti kopepoda, larva cacing melekat pada mukosa dan berkembang menuju stadium dewasa
pada ikan sebagai inang akhir. Inang paratenik mungkin termasuk dalam siklus parasit ini,
dengan cara ini beberapa ikan membawa sejumlah besar larva dan akan berakhir pada
saluran pencernaan ikan. Adapun gejala yang ditimbulkan yaitu kematian, cacat dan anemia pada
ikan (Buchmann & Bresciani 2001).
Camalanus sp. berkembang melalui keberadaan inang antara. Kebanyakan larvanya dapat
hidup bebas di air selama 12 hari. Larva parasit ini menjadi makanan oleh cyclop krustasea dan
berkembang dalam saluran pencernaan, cyclop ini menjadi inang antara bagi camallanus sp..
Kemudian cyclop akan termakan oleh ikan. Disini ikan akan menjadi inang definitif
bagi camallanusjika ikan ini tidak dimakan oleh ikan karnivor lebih besar. Parasit ini juga dapat
berkembang tanpa inang antara. Pada inang parasit ini dapat berkembang dan mencapai
kematangan seksual untuk kemudian melepaskan larvanya dan berkembang disana.
11

2.4.4 Gejala Klinis

Gejala yang kerap muncul bila ikan terserang penyakit ini adalah ikan menjadi kurang
nafsu makan, terjadi implamasi, hemoragik, pembengkakan di perut, produksi lendir secara
berlebihan, atau mengalami kerusakan fisik lainnya.

Gambar . Ikan yang terinfeksi Camallanus sp.


(Sumber : akuariumok.ru)

Camallanus banyak menyerang Poecilidae dan jenis ikan ovipar lain sebagai inang akhir
(Noga 1996). Menurut Noga (1996), parasit ini akan kelihatan keluar dari anus dan berwarna
merah jika ikan diam tidak bergerak. Saat ikan mulai bergerak cacing masuk lagi ke dalam usus
sehingga anus akan terlihat menonjol. Cacing betina panjangnya dapat mencapai 10 mm,
sementara cacing jantan mencapai 3 mm. Infeksi Camallanus sering diakibatkan oleh inang
perantara lain seperti burung, krustasea atau larva serangga. Namun kemungkinan besar infeksi
terjadi melalui pakan alami.
Camallanus sp. dapat hidup di usus dan pylorus sekum pada inang definitifnya dan
penyakit yang disebabkan oleh Camallanus sp. disebut Camallanosis. Buccal capsule dari
Camallanus sp. dapat mengakibatkan erosi pada mukosa usus. Buccal capsule dilekatkan pada
dinding usus dengan sangat kuat dan menyebabkan jaringan dinding usus menjadi robek. Jaringan
menjadi rusak karena mengalami iskemia dan dalam waktu yang lama jaringan menjadi nekrosa.
Disaat yang sama Camallanus sp. melakukan migrasi ke jaringan usus yang lain dan kerusakan
jaringan dapat ditemukan sepanjang usus. Kerusakan yang parah dapat menyebabkan infeksi dari
parasit lain dan pertahanan tubuh ikan menurun sehingga dapat menyebabkan ikan mati.
(Buchmann & Bresciani, 2001 dalam Batara, 2008).
12

2.4.5 Penanggulangan

Pengendaliannya yang bisa dilakukan adalah dengan merendamkan ikan dalam larutan PK
5 mg/l selama 30 menit, pemberian garam dapur 40 mg/l selama 24 jam, serta larutal methylen
blue 4 gr/m3. Pada pencegahan, sebaiknya pada pakan alami dilakukan treatment terlebih dahulu,
seperti dengan merendam pakan alami dengan larutan PK 5 mg/l selama 30 menit atau dengan
disinfeksi telur menggunakan dylox 0,8 pp atau ziram 1 ppm (Rahmawati, 2014)

2.5 Acantocephala sp

2.5.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Acanthocephala
Class : Palaeacanthocephala
Ordo : Echinorhynchidea
Family : Rhadinorhynchidae
Genus : Acanthocephalus
Species : Acanthocephalus sp (Kabata, 1985)
13

2.5.2 Morfologi

Acanthocephalus sp disebut cacing kepala berduri. Hal ini dikarenakan cacing


Acanthocephalus sp memiliki kait-kait yang mirip duri pada probiosisnya. Acanthocephalus sp
merupakan cacing yang berbentuk silinder, agak pipih, mempunyai probiosis yang dapat
dimasukkan dan dikeluarkan dari tubuhnya yang berada di ujung anterior tubuh. Probiosis
berbentuk bulat atau silindris serta dilengkapi baris-baris kait (spina) yang membengkok dan
berguna untuk meletakkan tubuh cacing tersebut pada usus inang. (Erwin Nofyan, Moch Rasyid
Ridho, Rizka Fitri, 2015).
Acanthocephala ini memiliki proboscis yang tidak biasa. Ada leher panjang, yang
mengembang menjadi bola lampu, sebelum bagian terminal pendek yang dihubungkan dengan
belalai. Spesimen di sebelah kiri memiliki potongan jaringan tunas berwarna merah tua yang masih
menempel pada belalai, karena spesimen ini harus dikeluarkan dari tempat perlekatannya. Spesies
ini memaksa belalanya menembus dinding usus inangnya, sehingga bola lampu sebenarnya berada
di dalam rongga tubuh. Parasit ini bisa menyebabkan patologi serius saat hadir dalam jumlah besar.
Spesimen di sebelah kanan memiliki belalai yang bersih, dan menunjukkan bola lampu yang
membesar. Proboscis tersebut dilengkapi dengan kantong proboscis, kadang-kadang dalam posisi
evaginasi yaitu menonjol keluar dari kantongnya (Noble dan Noble 1982).

2.5.3 Siklus Hidup

Dalam siklus hidupnya, acanthocephala memerlukan arthropoda sebagai inang antara dan
vertebrata sebagai inang akhir

2.5.4 Gejala Klinis

Acanthocephala terdeteksi oleh pemeriksaan feses. Copepoda dapat dideteksi pada kerokan
kulit. Lintah, tungau, dan lalat mudah terlihat.
14

2.5.5 Penanggulangan

Pendekatan lingkungan dilakukan dengan menjaga kualitas air supaya tetap mendukung
bagi kehidupan ikan, menjaga wadah budidaya tetap bersih dan sehat dan menghindari
pengggantian air yang mendadak sehingga tidak menyebabkan ikan menjadi stress. Selain itu
penggunaan probiotik/bioremediasi kini sudah banyak dilaksanakan.

2.6 Echynorynchus sp.

2.6.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Acanthocephala
Class : Archiacanthocephala
Order : Echinorhynchida
Family : Echinorhynchidae
Genus : Echinorhynchus
Spesies : Echinorhynchus gadi

2.6.2 Morfologi

Pada Enchynorynchus jantan, bentuk tubuhnya sedikit melebar ke arah anterior. Letak dari
kelenjar semen terpisah dan bulat. Proboscis berbentuk silindris dengan banyak kait (Arai 1985).
Berikut gambar Enchynorynchus jantan :
15

Sumber : http://www.biology.ualberta.ca/parasites/ParPub/text/index/palae02i.htm

2.6.3 Siklus Hidup

Jantan dan betina dewasa tinggal di usus ikan. Betina melepaskan telur embrio yang lewat
di tinja dan dimakan oleh crustasea. Di dalam crustasea, aspergillel menetas dari telur dan
menggunakan kaitnya untuk menembus hemocoele dari inang perantara ini. Parasit berkembang
menjadi acanthella dan kemudian menjadi sistacant.
Berikut ilustrasi dari siklus hidup :

Sumber : http://www.biology.ualberta.ca/parasites/ParPub/text/index/palae02i.htm
16

Gambar di bawah ini menunjukkan dimorfisme kelas acanthocephalans, dengan jantan (M)
seringkali berukuran cukup kecil dibandingkan betina (F). Parasit ini berukuran 15-25 mm. Dalam
kedua spesimen tersebut perhatikan batang yang benar-benar terbalik, dengan bentuk persegi
panjang dan banyak garis kait kecil. Perhatikan bahwa leher batang ditarik sedikit ke dalam tubuh.
Ruang bagasinya panjang, hampir setengah panjang tubuhnya. Lemnisci, paling baik dilihat pada
pria, lebih pendek dari pada batang tubuh.

Sumber : http://www.biology.ualberta.ca/parasites/ParPub/text/index/palae02i.htm

Pada laki-laki, kedua testikel kecil terletak tepat di atas wadah penahan trunk. Lima dari
enam kelenjar semen sebagai bola merah kecil yang berada di belakang testis. Adanya bola merah
kecil menunjukkan bahwa organ reproduksinya belum matang. Pada jantan dewasa, testis dan
kelenjar semen kira-kira dua kali ukurannya.
Banyak telur dalam berbagai tahap perkembangan dipandang sebagai badan memanjang pada
spesimen wanita.

2.6.4 Gejala Klinis

Jika dalam jumlah besar Echinorhynchus gadi dapat merusak dinding usus dan
menyebabkan terjadinya pembesaran perut pada ikan
17

2.6.5 Penanggulangan

Penyakit ini dapat diobati dengan merendam ikan yang sakit dengan larutan formalin 100
- 150 ppm selama 15 - 30 menit, dan diulangi selama tiga hari berturut. Kalau ikan telah mengalami
luka sebaiknya direndam dalam larutan acriflavin 5 - 10 ppm selama 1 - 2 jam. Setelah itu diberi
Combatrin dengan dosis 1 botol combatrin (10 ml) untuk 5 kg pakan (Noble, E.R. dan Noble, G.A.
1989 diterjemahkan oleh Wardiarto).
BAB III
KESIMPULAN

Secara umum, parasit dapat didefinisikan sebagai organisma yang hidup pada organisme
lain, yang disebut inang, dan mendapat keuntungan dari inang yang ditempatinya hidup. Penyakit
ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi
atau struktur dari alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit ikan dapat
disebabkan oleh mikrob penyebab penyakit (Patogen) yang dapat berupa parasit, bakteri, virus
maupun jamur (Kordi, 2004).
Opecoelus memiliki tubuh bulat panjang, siklus hidup dari opeocolus produksi dari
sporokista betina oleh sporocyst induk. Opecoelus termasuk kedalam parasit Diginea. Digenea
adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau
lebih inang. Cacing Camallanus sp. merupakan salah satu spesies dari kelas Nematoda. Parasit ini
memiliki ciri khas yaitu memiliki suatu buccal kapsul yang dilapisi kutikula yang tebal dan
sepasang lekukan pada buccal kapsul. Gejala yang kerap muncul bila ikan terserang penyakit ini
adalah ikan menjadi kurang nafsu makan, terjadi implamasi, hemoragik, pembengkakan di perut,
produksi lendir secara berlebihan, atau mengalami kerusakan fisik lainnya.
Acanthocephalus sp disebut cacing kepala berduri. Dalam siklus hidupnya, acanthocephala
memerlukan arthropoda sebagai inang antara dan vertebrata sebagai inang akhir. Acanthocephala
terdeteksi oleh pemeriksaan feses. Copepoda dapat dideteksi pada kerokan kulit. Lintah, tungau,
dan lalat mudah terlihat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anshary, H. 2008. Parasitologi Ikan. Modul Pembelajaran Berbasis Student Center Learning (SCL).
Universitas Hasanudin. Makasar.
Batara. 2008. Aplikasi Probiotik dengan Konsentrasi Berbeda pada Pemeliharaan Udang vannamei
(Litopenaeus vannamei ). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. 239. 9 hlm.
Buchmann, K., and J. Bresciani. 2001. An Introduction To Parasitic Disease Of Freshwater Trout. DSR
Publisher .Denmark.
Erwin Nofyan, Moch Rasyid Ridho, Rizka Fitri, 2015. IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI
EKTOPARASIT DAN ENDOPARASIT. Prosiding Semirata 2015 bidang MIPA BKS-PTN
Barat, Pontianak
Kabata, Z. 1985. Parasites and Diseases of Fish in Tropics. Taylor and Francis. London and Philadelpia.
Nimai, 1991. Fishes of the World. John Wiley and Sons, Inc., New York. p; 524
Noble, E.R., G.A. Noble, G.A Schad & A.J. McInnes 1989. Parasitology. The Biology of Animal
Parasites. 6th Edition. Lea & Febiger, Philadelphia London
Noga, E. J. M. S,. O. V. M. 1996. Fish Disease Diagnosis and Treatment. Department of Companion
Animal and Species Medicine. North Carolina State University
Paperna, I. 1975. Diseases Caused by Parasites in the Aquaculture of Warm Water Fish. Ann Rev Fish
Dis. 1 : 155-194.
Rahmawati, 2014. Studi Identifikasi dan Prevelensi Cacing Endoparasit pada Ikan Layur (Trichiurus
savala) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong Kabupaten Lamongan. Universitas Airlangga,
Surabaya

19