You are on page 1of 9

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MULTIPLE INTELLIGENCE UNTUK

MENINGKATKAN TEACHING EFFICACY BELIEF DAN AKTUALISASI DIRI


MAHASISWA

Aswendo Dwitantyanov Raisa Anakotta


STKIP Muhammadiyah Sorong STKIP Muhammadiyah Sorong
aswendopsi@gmail.com shasa_anakotta@yahoo.com

Abstract: This research tries to examine the influence of multiple intelligence based learning
towards university students’ teaching efficacy belief and self actualization of STKIP Muhammadiyah
Sorong. The subject of this research is the 40 university students from Physical Education, Health
and Recreation (PJKR) and English Education Program of STKIP Muhammadiyah Sorong which is
consist of 20 in each control and experiment group. This is quasi experimental research with
randomized pre-post test control group design and uses parametric test (t-test) for the technique of
data analysis. The instrument of this research is analyzed by using TEB-AD scale with the coefficient
cronbach’s alpha 0,829. The result of this research shows that there is influence between multiple
intelligence based learning towards TEB-AD score scale. The average of TEB-AD score scale in
experiment is higher than control group, and there is significance differentiation of experiment rather
than control group (te > ttabel = 0,338 > -2,334). So, the multiple intelligence based learning can be
one of learning model which is effective to improve students’ teaching efficacy belief and self
actualization.

Keywords: Keywords: Multiple Intelligence, Teaching Efficacy Belief, Self-Actualization.

menunjukkan bahwa kemampuan ini menjadi


1. Pendahuluan prediktor utama kompetensi guru dan
Pengembangan dan aktualisasi diri berhubungan dengan komitmen untuk mengajar
individu dalam pendidikan menjadi suatu seefektif mungkin (Ross, 1998; Goddard dkk,
alternatif untuk mempersiapkan individu 2000; Labone, 2004, Wheatley, 2005). Seorang
menghadapi dunia kerja yang kompleks. Di sisi guru yang memiliki teaching efficacy belief
lain, pendidikan selalu menyesuaikan dengan yang tinggi dapat lebih bersikap fleksibel dan
kemajuan peradaban serta pola berpikir menunjukkan tingkat kepuasan bekerja yang
masyarakat. Hal ini membuat pendidikan tinggi serta memiliki resiliensi yang cukup
bergerak dinamis dan berubah seiring waktu. tinggi dalam rentang karirnya.
Perubahan di dalam pendidikan ini menuntut Aktualisasi diri berkaitan dengan
guru untuk dapat lebih mengembangkan ketepatan dalam menempatkan dirinya sesuai
kemampuannya agar dapat menciptakan iklim dengan kemampuan berdasarkan kemampuan
pembelajaran yang up to date. Dalam hal ini pribadi di lingkungan sekitar (Bandura, 1997;
termasuk calon guru yang sedang menempuh Maslow, 1998). Pada guru, kemampuan ini
pendidikan tinggi. berkaitan erat dengan memaksimalkan potensi
Teaching efficacy belief berkaitan erat yang dimiliki untuk mengembangkan metode
dengan keyakinan seorang guru untuk pembelajaran untuk mencapai kepuasan belajar
menjalankan peranannya dalam proses belajar siswa yang maksimal (Fox, 2012). Untuk itu,
mengajar dan menandakan level kemampuan aktualisasi guru semestinya dikembangkan
dirinya sendiri. ; Bandura, 1986). Studi empiris sejak dini untuk menciptakan iklim belajar
mengenai peranan teaching efficacy belief
mengajar yang efektif serta efisien (Coble & untuk mengarahkan motivasi, kognisi, dan
Hounshell, 1972). mengambil tindakan yang diperlukan untuk
Semakin berkembangnya ilmu mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan
pengetahuan dan pendidikan sudah tentu memenuhi tuntutan-tuntutan dari situasi yang
menuntut para guru dan calon guru untuk dapat dihadapi. Teaching efficacy belief dalam hal ini
mengembangkan peserta didik dengan lebih mencakup dimensi keyakinan seorang guru
inovatif tidak hanya secara kognitif tetapi juga dalam mengembangkan metode pembelajaran
secara emosional dan psikomotorik. Dengan yang efektif di kelas (Fox, 2012). Dengan
tiga kemampuan inilah seorang peserta didik demikian, teaching efficacy belief menjadi
diharapkan dapat memasuki dunia di luar suatu karakteristik kepribadian guru yang
sekolah dengan kesiapan (Bloom dkk, 1956). berkaitan erat dengan proses pembelajaran yang
Dengan memfasilitasi peserta didik melalui efektif dan inovatif.
model pembelajaran multiple intelligence Teaching Efficacy Belief yang rendah
diharapkan siswa dapat memperoleh dapat ditandai dengan perasaan lemah dan
pemahaman belajar yang luas dan bertanggung gelisah saat menghadapi tugas-tugas yang
jawab atas pengetahuan yang dimilikinya. kompleks. Selain itu, teaching efficacy belief
Konsep model pembelajaran multiple juga mendorong seseorang untuk dapat
intelligence memfasilitasi dan mengasah memprediksi dan menerapkan standar
kemampuan problem solving, conceptual ekspektasi yang berkualitas dalam proses
thinking, analytical thinking, body kinesthetic mengajar (Bandura, dalam Alwisol, 2004).
intelligence, linguistic aspect, intrapersonal, Teaching efficacy Belief di sisi lain memotivasi
dan interpersonal skill (Howard, 1983 dalam guru untuk dapat mengaktualisasikan potensi
Gilman, 2012). Di dalam penerapannya metode dirinya dengan cara mengembangkan bahan
ini dapat direalisasikan dalam bentuk cerita, ajar dan proses belajar sehingga lebih dapat
penyelesaikan masalah, berpikir secara reflektif mengasah kemampuan siswa secara umum
serta kritis terhadap materi ajar, pengamatan tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga afektif
mendalam terhadap materi ajar, memunculkan dan psikomotorik siswa (Bassi dkk, 2007;
pertanyaan efektif, pendampingan diskusi Bandura, 1986).
kelompok yang dinamis untuk melihat Aktuaslisasi diri adalah suatu daya yang
kemampuan komunikasi siswa, kerjasama, serta mendorong pengembangan diri dan potensi
kemampuan menjalin responsibilitas. yang dimiliki individu (Maslow, 1998).
Dengan menerapkan model multiple Aktualisasi diri berkaitan dengan kesadaran
intelligence diharapkan dapat menciptakan seseorang terhadap potensi yang dimilikinya
atmosfer belajar yang lebih proaktif dan efektif kemudian mengekspresikan potensi dan
mengasah potensi peserta didik. Penerapan kreativitas yang dimilikinya untuk
multiple intelligence pada calon pengajar atau direalisasikan dalam bentuk-bentuk perilaku
guru diharapkan dapat menjadi model contoh yang menunjang dirinya (Goldstein, 1995).
untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif Lebih lanjut, aktualisasi diri di dalam hirarki
dan membangkitkan efikasi guru dalam kebutuhan Maslow adalah kebutuhan terakhir
mengajar serta mengasah kemampuan guru yang dicapai seseorang setelah kebutuhan
untuk mengaktualisasikan potensi yang fisiologis, rasa aman, cinta kasih, dan harga diri
dimilikinya secara personal. telah terpenuhi. Seseorang guru yang
mengaktualisasikan dirinya ditandai dengan
2. Kajian Literatur kemampuan untuk melakukan stimulasi dalam
Efikasi diri dapat diartikan sebagai “belief proses belajar, bersikap kreatif, mampu
in one’s capabilities to mobilize the motivation, memotivasi dirinya sendiri dan peserta didik,
cognitive resources, and course of action serta mengasah potensi peserta didik dalam hal
needed to meet given situational demands” berpikir kritis dan konseptual (Stein, 2014; Deci
(Bandura, 1997). Efikasi diri ini berkaitan & Ryan, 2012).
dengan potensi dan kemampuan seseorang
Aktualisasi pada seorang guru lebih pertanyaan yang cerdas; pengamatan suatu
berkaitan dengan memaksimalkan potensi serta peristiwa; dan permainan peran secara langsung
minat yang dimiliki untuk mencapai kesuksesan maupun dengan melakukan visualisasi suatu
belajar yang maksimal (Fox, 2012) serta kejadian apabila sedang terjadi (Gilman, 2012;
menciptakan suasana belajar yang kondusif dan Howard dalam Smith, 2002).
inovatif (Coble & Hounshell, 1972). Dengan Model pembelajaran multiple intelligence
aktualisasi ini, seorang guru dapat lebih yang diterapkan dalam lingkungan pendidikan
mengembangkan peserta didiknya secara diharapkan memberikan stimulasi aktif bagi
menyeluruh mencakup aspek kognitif, afeksi, peserta didik sehingga lebih termotivasi untuk
dan psikomotorik. Kemampuan guru untuk mendalami materi ajar dan mengaitkannya
mengembangkan peserta didik dalam ketiga dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan
aspek ini diharapkan dapat memfasilitasi siswa demikian, dengan melatih potensi kecerdasan
untuk dapat menghadapi lingkungan sosial yang peserta didik secara menyeluruh maka
lebih luas. efektivitas dan efisiensi dalam belajar serta
Howard (dalam Smith, 2002) menjelaskan perkembangan peserta didik akan jauh lebih
bahwa kecerdasan sebagai potensi biopsikologi optimal. Pada dasarnya penerapan model
yang membantu memproses informasi yang pembelajaran multiple intelligence didasarkan
didapatkan secara aktif untuk membentuk pada pengembangan aspek psikologis peserta
skema kognitif. Howard (dalam Smith, 2002) didik secara utuh mencakup fungsi kognitif,
menambahkan bahwa tujuan pendidikan sudah emosi, dan psikomotorik. Sebagai implikasinya,
selayaknya diarahkan untuk mengembangkan evaluasi belajar yang dikembangkan juga harus
kecerdasan secara keseluruhan bukan secara menunjang dan mengakomodasi prinsip
partial. Howard (dalam Smith, 2002) kecerdasan majemuk. Proses penilaian tidak
menekankan pada kemampuan memecahkan hanya sekedar tes tertulis, tetapi dapat
persoalan yang nyata, karena seseorang dilakukan melalui penciptaan produk, diskusi
memiliki kemampuan inteligensi yang tinggi kasus, dan membangun konsep (Gilman, 2012).
bila dapat menyelesaikan persoalan hidup yang
nyata, bukan hanya dalam teori. Semakin 3. Hipotesis Penelitian
seseorang terampil dan mampu menyelesaikan Adapun hipotesis dalam penelitian ini,
persoalan kehidupan yang situasinya yaitu:
bermacam-macam dan kompleks, semakin H0: Tidak ada pengaruh model pembelajaran
tinggi inteligensinya. berbasis multiple intelligence terhadap
Model pembelajaran multiple intelligence teaching efficacy belief dan aktualisasi
dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan diri mahasiswa STKIP Muhammadiyah
melalui beberapa metode, yaitu metode Sorong.
bercerita untuk melatih kemampuan linguistik; H1: Ada pengaruh model pembelajaran berbasis
problem solving melalui diskusi kasus; multiple intelligence terhadap teaching
reflective/ critical thinking melalui catatan efficacy belief dan aktualisasi diri
refleksi atas sebuah perisitiwa, foto, dan mahasiswa STKIP Muhammadiyah
sebagainya; group dynamic melalui Sorong.
pembimbingan kelompok terpadu secara
berkelanjutan untuk mengerjakan suatu proyek 4. Metode Penelitian
atau tugas; community building melalui Penelitian ini adalah penelitian eksperimen
pembentukan kesepakatan bersama dalam dengan desain kuasi eksperimen dengan desain,
belajar; responsibility building melalui tugas yaitu pre-posttest control group design
yang konkret dan diminta untuk membuat (Shadish, Cook, & Campbell, 2002) dengan
laporan pertanggung jawaban; picnic melalui cakupan populasi adalah mahasiswa program
kunjungan belajar atau membahas kasus di studi Penjaskesrek dan Bahasa Inggris di
dalam suatu lingkungan; pertanyaan efektif STKIP Muhammadiyah Sorong yang terdiri
dengan memfasilitasi untuk memberikan atas laki-laki maupun perempuan. Teknik
sampling dalam penelitian ini adalah stratified yang telah memenuhi syarat parametrik yaitu
random sampling yaitu cara pengambilan normal dan homogen.
sampel dengan memperhatikan strata
(tingkatan) dalam populasi. Strata yang 5. Hasil dan Pembahasan
dimaksudkan dalam penelitian ini adalah 5.1. Hasil Penelitian
pemilihan kategori berdasarkan kelas Alat Ukur yang digunakan dalam
(kelompok) yang sedang diambil oleh penelitian ini adalah skala psikologis. Skala
mahasiswa tersebut. Randomisasi dilakukan penelitian ini terdiri atas skala teaching efficacy
untuk memilih kategori kelas yang akan dipilih belief dan skala aktualisasi diri. Jumlah item
sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. yang diharapkan dari penelitian ini adalah 20
Penelitian akan dilakukan di kampus STKIP dengan asumsi semakin banyak jumlah item
Muhammadiyah Sorong sesuai waktu yang suatu skala pengukuran maka objektivitas
telah ditetapkan. pengisi skala semakin kecil. Teaching Efficacy
Penelitian ini dilakukan diawali dengan Belief terdiri atas 3 aspek, yaitu: Level,
survey awal untuk meninjau model generality, dan strength (Bandura, 1997). Skala
pembelajaran yang diterapkan dan diperoleh Teaching Efficacy Belief diadaptasi dari
mahasiswa selama ini. Kemudian, peneliti penelitian yang dilakukan oleh Catherine M.
melakukan randomisasi terhadap kategori kelas Aurah dan Tom J. McConnell. Di dalam jurnal
yang akan dijadikan kelompok eksperimen dan penelitian yang berjudul “Comparative Study
kontrol. Setelah itu, peneliti melakukan on Pre-Service Science Teachers’ Self-Efficacy
screening sekaligus berguna sebagai data skor Beliefs of Teaching in Kenya and the United
pretest sampel terpilih. Setelah dilakukan States of America” dilaporkan koefisien
pretest, kemudian perlakuan diberikan kepada cronbach’s alpha skala teaching efficacy belief
kelompok eksperimen yaitu dengan adalah 0,90 ( Aurah & McConnell, 2014).
menerapkan model pembelajaran multiple Skala aktualisasi diri dalam penelitian ini
intelligence, sedangkan kelompok kontrol tidak diadopsi dari pengembangan skala aktualisasi
diberikan perlakuan. Setelah perlakukan diri oleh Alvin Jones dan Rick Crandall. Skala
diberikan, kemudian kedua kelompok diberikan aktualisasi ini didasarkan atas 4 aspek
posttest untuk melihat perubahan yang terjadi psikologis yaitu penolakan terhadap
pada masing-masing kelompok eksperimen dan penyeragaman, penerimaan diri, minat sosial,
kontrol. dan kreativitas (Maslow, dalam Koswara,
Pengumpulan data dalam penelitian ini 1991). Skala aktualisasi diri memiliki koefisien
menggunakan skala psikologi yang dibuat cronbach’s alpha yaitu 0,69 (Jones & Crandall,
berdasarkan dimensi efikasi Bandura (1997) 1991). Total item rancangan skala teaching
dan aktualiasi diri yang dikembangkan dari efficacy belief dan aktualisasi diri adalah 39
aspek-aspek aktualisasi diri yang dikemukakan butir item, yang terdiri dari 24 butir item skala
oleh Maslow (1998). Skala ini diberi nama teaching efficacy belief dan 15 butir item skala
TEB-AD. Skala ini menggunakan model likert aktualisasi diri. Skala tersebut kemudian
dengan empat kategori jawaban yaitu: Sangat dilabelisasi dengan nama skala TEB-AD dan
Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak akan diuji cobakan terhadap individu-individu
Sesuai (STS) yang dikembangkan sebelum dengan karakteristik yang serupa dengan subjek
proses penelitian dimulai dan telah melalui uji penelitian.
validitas serta reliabilitas (Azwar, 2003). Skala Uji coba dilakukan terhadap 40 individu
TEB-AD telah melalui uji validitas dan untuk mendapatkan koefisien cronbach’s alpha.
reliabilitas dengan koefisien cronbach’s alpha Dari hasil uji coba pertama diperoleh koefisien
sebesar 0,829. cronbach’s alpha yaitu 0,829. Skala TEB-AD
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini ini menggunakan skala Likert dengan empat
menggunakan teknik statistik parametrik uji-t kategori jawaban, yaitu poin 1, poin 2, poin 3,
dua sampel independen (independent Sample t- dan poin 4 dengan menggunakan butir soal
test) dan uji berpasangan (paired sample t-test) favorable dan unfavorable. Alasan tidak
digunakannya pilihan tengah pada skala efikasi rendah. Kontinum ini terdiri dari tiga jenjang
diri akademik yaitu bahwa pilihan tengah dapat yang bergerak dari rendah ke tinggi.
menimbulkan kecenderungan central tendency Skala TEB-AD terdiri atas 20 item yang
effect bagi subjek yang ragu-ragu atas pilihan masing-masing skor berkisar dari 0,1,2,3. Skor
jawabannya serta untuk melihat kecenderungan tertinggi yang mungkin diperoleh adalah 60
subjek pada salah satu kutub jawaban (De (3x20) dan skor terendah yang mungkin
Vellis, 1991). diperoleh adalah 0 (0x20), sehingga rentang
Berdasarkan hasil uji coba skala TEB-AD skor yaitu sebesar 60 (0-60). Nilai rataan
terdapat 20 item yang memenuhi syarat dan 19 hipotetiknya adalah 30 (µ = 60/2). Rentang skor
item yang gugur atau tidak memenuhi syarat. dibagi dalam enam standar deviasi, sehingga
Butir item skala TEB-AD juga melalui diperoleh 10 (60/6). Dengan SD = 10 (60/6),
professional judgement sehingga konten item maka kategorisasi normatif skor adalah sebagai
skala diharapkan relevan dengan norma yang berikut:
berlaku di Indonesia terkhusus di Sorong, Papua Tabel 1.
Barat. Hasil uji coba alat skala ditabulasi dan Gambaran Kategorisasi Kelompok
dianalisis untuk mengetahui validitas item dan Eksperimen dan Kontrol
reliabilitas skala. Validitas item ditunjukkan Rumus Skor Kategori
dengan indeks daya beda item (Rix) dan X < (µ-SD) X < 20 Rendah
reliabilitas alat ukur ditunjukkan oleh koefisien (µ-SD) ≤ X < 20 ≤ X < Sedang
alfa (α). Metode pengujian menggunakan (µ+SD) 40
corrected Item-Total Correlation. Dari (µ+SD) ≤ X 40 ≤ X ≤ Tinggi
perhitungan diperoleh koefisien cronbach’s 60
alpha sebesar 0,829.
Dari output di atas bisa dilihat pada Calon subjek diperoleh dari kategori yang
Corrected Item-Total Correlation, inilah nilai sedang dan rendah. Jadi, diperoleh 40 subjek.
korelasi yang didapat. Nilai ini kemudian kita Kemudian subjek di acak untuk menjadi
bandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari kelompok eksperimen dan kontrol berdasarkan
pada signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi dan kelas (ruangan). Ruangan 1 sebagai kelas
jumlah data (n) = 39 maka didapat r tabel eksperimen dan Ruangan 2 sebagai kelompok
sebesar 0,316. Dari hasil analisis dapat dilihat kontrol. Tidak ada mortalitas dalam kedua
bahwa untuk item kelompok penelitian selama proses penelitian
1,3,4,5,6,9,10,11,12,17,18,19,24,26,28,29,33,3 berlangsung hingga selesai.
8,39 nilai r kurang dari 0,316, maka dapat Pretest untuk kedua kelompok, yaitu
disimpulkan bahwa butir instrumen tersebut kelompok eksperimen dan kontrol. Subjek pada
tidak valid atau dinyatakan gugur. Sedangkan, penelitian ini sejumlah 20 orang pada kelompok
pada item-item lainnya nilainya lebih dari eksperimen dan 20 pada kelompok kontrol.
0,316, sehingga dapat disimpulkan bahwa butir Subjek dipilih dari kategori yang sedang dan
instrumen tersebut valid. Oleh karena itu, ada rendah, sehingga diperoleh masing-masing
20 item yang dinyatakan valid secara statistik (α kelompok eksperimen dan kontrol terdiri dari
= 0,829). 20 mahasiswa. Uji normalitas data
Penelitian dilaksanakan di Program Studi menggunakan Lilliefors Technique yang
PJKR dan Bahasa Inggris di lingkup STKIP merupakan pengembangan dari teknik
Muhammadiyah Sorong dengan menetapkan kolmogorov-smirnov untuk jumlah subjek
calon subjek penelitian yaitu mahasiswa tahap sedikit atau dalam asumsi kurang dari 200
akhir (semester 5-7). Mahasiswa yang subjek yang diteliti. Dari hasil analisis data
dikenakan survey awal sejumlah 40 orang. terlihat bahwa asumsi signifikansi data adalah
Setelah diberi pretest kemudian dilakukan 0,60 ( > 0,05), sehingga dapat dikatakan bahwa
kategorisasi sesuai norma yang telah data terdistribusi secara normal. Data juga
ditetapkan. Skor mahasiswa dikategorikan dikatakan homogen karena memenuhi
kedalam tiga kelas, yaitu tinggi, sedang, dan persyaratan pada levene test, yaitu bahwa
signifikansi 0,935 ( > 0,05) yang artinya varians membandingkan skor selisih antara pretest dan
masing-masing kelompok sebelum perlakuan posttest yang diperoleh kelompok eksperimen
adalah homogen. Hal ini berarti data dan kontrol. Kelompok eksperimen yang
terdistribusi secara normal dan homogen. sebelumnya atau dalam pretest memiliki rataan
Berdasarkan analisis data yang diperoleh perolehan skor yang sebanding dengan
pada pretest dan posttest diperoleh informasi kelompok kontrol juga mengalami peningkatan
bahwa sebelum perlakuan pada kedua skor antara pretest dan posttest. Peningkatan
kelompok (eksperimen dan kontrol) adalah p skor ini memiliki rataan sebesar 6,3 sedangkan
sebesar 0,316. Oleh karena nilai p = 0,189 > pada kelompok eksperimen sebesar 16,3.
0,05 dan nilai te sebesar 1,336 < ttabel sebesar
1,686 (dF = 38), maka hal ini menunjukkan 5.2. Pembahasan
bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan Jelas bahwa ada efek pengulangan test
antara kedua kelompok sebelum diberikan pada subjek kedua kelompok, sehingga terjadi
perlakuan. peningkatan pada skor posttest. Untuk melihat
Hasil perhitungan menggunakan paired efektivitas perlakuan dapat diukur dengan
sample t-test juga digunakan untuk menguji membandingkan skor selisih atau gain score
apakah ada perbedaan skor efikasi diri antara kelompok eksperimen dan kontrol. Gain
akademik mahasiswa yang signifikan sebelum score adalah skor selisih yang terjadi antara
dan sesudah perlakuan pada kelompok pretest dan posttest. Dua kelompok ini masing-
eksperimen. Berdasarkan hasil perhitungannya masing mengalami peningkatan rataan skor dari
diperoleh informasi bahwa bahwa ada pretestnya atau peningkatan antara dua
perrbedaan skor sebelum dan sesudah sebesar kelompok ini tidak signifikan. Kelompok
16,30. Hal ini menunjukkan bahwa skor efikasi eksperimen (KE) memiliki perubahan (M=
diri akademik sesudah perlakuan pada 16,3000) dibandingkan kelompok kontrol (KK)
kelompok eksperimen lebih tinggi yaitu sebesar M= 6,3000. Hasil analisis
dibandingkan sebelum perlakuan dengan nilai p menunjukkan bahwa data dapat dikatakan
= 0,000 dan te sebesar -21,610. Nilai Ttabel homogen (F= 0,942; p> 0,05) artinya tidak ada
pada signifikansi 0,05 : 2 = 0,025 (uji 2 sisi) varians antara kelompok eksperimen dan
dengan dF = 19 adalah -2,093. Oleh karena –te kontrol. Oleh karena data kita terasumsi
< -ttabel (-21,610 < -2,093) atau te > ttabel homogen, maka terlihat bahwa ada perbedaan
(21,610 > 2,093) serta p = 0,000 < 0,05, maka pada taraf 1% (t= 8,355; p< 0,01), maka dapat
hasil tersebut menunjukkan bahwa ada dikatakan perlakuan yang diberikan kepada
perbedaan signifikan antara skor efikasi diri kelompok eksperimen adalah signifikan, dan
akademik sebelum dan sesudah perlakuan pada terjadi perubahan yang signifikan pada
kelompok eksperimen. kelompok eksperimen dibandingkan kelompok
Selain itu terlihat nilai te adalah sebesar - kontrol (te > ttabel = 0,338 > -2,334).
6,779 dan signifikansi 0,000. Nilai Ttabel pada Berdasarkan hasil analisis data, maka
signifikansi 0,05 : 2 (uji 2 sisi) dengan dF = 19 hipotesis yang diajukan dapat diterima yaitu ada
adalah 2,093, maka hasil tersebut menunjukkan perbedaan skor TEB-AD pada kelompok
bahwa ada perbedaan antara skor efikasi diri eksperimen sebelum dan sesudah perlakuan.
akademik mahasiswa kelompok kontrol pada Skor TEB-AD kelompok eksperimen sesudah
sebelum dan sesudah perlakuan. Berdasarkan perlakuan lebuh tinggi dibandingkan sebelum
data, terlihat perubahan (peningkatan) skor perlakuan, hal ini berarti H1 diterima, dan
pada kelompok kontrol, namun dapat sebagai kesimpulan ada pengaruh positif model
diasumsikan kenaikan pada kelompok kontrol pembelajaran multiple intelligence terhadap
tidak sebanding dengan kenaikan yang Teaching Efficacy Belief dan Aktualisasi Diri
ditunjukkan oleh kelompok eksperimen. Untuk Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sorong.
mendapatkan informasi lebih lanjut, peneliti Berikut adalah grafik perubahan pada
melakukan analisis independent sample t-test kelompok eksperimen dan kontrol.
menggunakan gain score atau dengan
keberartian materi, dan sebagainya yang berada
Tabel 2. di luar kontrol penelitian, tetapi turut serta
Perubahan Skor Perolehan berperan dalam mempengaruhi internalisasi
TEB-AD materi pelatihan, sehingga terjadi perbedaan
70 fluktuasi skor perolehan antara subjek satu
60 dengan lainnya.
50 Perubahan skor pada kelompok kontrol
40 terjadi dalam konteks yang kecil. Perubahan
30 yang terlihat dapat disebabkan oleh adanya
20 proses historis dan maturasi. Maturasi adalah
10 proses perubahan yang terjadi normal seiring
0 berjalannya waktu (Azwar, 1998). Maturasi
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 menimbulkan perubahan-perubahan yang dapat
mempengaruhi skor perolehan TEB-AD baik
KE Sebelum KE Sesudah kearah peningkatan maupun penurunan. Proses
KK Sebelum KK Sesudah historis merupakan kejadian-kejadian khusus
yang terjadi di luar perlakuan selama rentang
pretest dan posttest yang dialami oleh subjek
Kenaikan skor pada kelompok eksperimen pada kelompok kontrol. Dalam penelitian
sebelum dan sesudah perlakuan selain karena terhadap subjek manusia atau dalam hal ini
adanya model pembelajaran multiple penelitian kuasi eksperimen, proses historis
intelligence, bisa juga disebabkan oleh faktor- tidak sepenuhnya dapat dikontrol dan terjadi di
fakotr individual yang tidak dapat dikontrol luar kehendak peneliti, tetapi proses ini adalah
secara penuh oleh peneliti. Hal ini disebabkan sesuatu yang wajar terjadi dalam penelitian-
kompleksnya dinamika psikologis manusia dan penelitian psikologis yang menempatkan
beragamnya aktivitas yang bisa mengubah skor manusia sebagai subjek penelitiannya.
pada subjek bersangkutan, sebagai contoh
plilihan program televisi yang ditonton, 6. Kesimpulan dan Saran
persuasi sosial dari lingkungan sekitar tempat 6.1. Kesimpulan
tinggal, dan fakotr lain yang di luar jangkauan Berdasarkan uraian di atas, dapat
peneliti. disimpulkan bahwa model pembelajaran
Soemanto (1998) menambahkan terdapat multiple intelligence memiliki pengaruh dalam
beragam faktor individual yang menyebabkan meningkatkan teaching efficacy belief dan
terjadinya perbedaan efektivitas dalam belajar, aktualisasi diri mahasiswa (TEB-AD). Terlihat
misalnya kematangan dan kondisi kesehatan bahwa skor perolehan skala TEB-AD yang
fisik serta psikologis. Selain itu, individu mencerminkan skor teaching efficacy belief dan
sebagai manusia lahir dengan sejumlah potensi aktualisasi diri dari kelompok eksperimen lebih
hereditas yang dibawa dari orangtuanya melalui tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.
kromosom (Soemanto, 1998). Potensi bawaan Terjadi juga peningkatan skor yang signifikan
ini turut berperan dalam perkembangan dan pada kelompok eksperimen sebelum dan
proses belajar individu, misalnya inteligensi sesudah diberi perlakuan berupa model
dan fungsi fisiologis lainnya. pembelajaran teaching efficacy belief. Hasil
Potensi hereditas ini berinteraksi dengan analisis data penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran dari lingkungan dalam hipotesis satu (H1) dalam penelitian ini dapat
perkembangan individu. Perbedaan diterima.
kemampuan individu yang menimbulkan 6.2. Saran
perbedaan fluktuasi efikasi diri akademik bisa Dalam rangka turut menyumbangkan
disebabkan oleh potensi hereditas yang dibawa pemikiran yang berkenaan dengan model
secara biologis. Selain faktor hereditas, terdapat pembelajaran multiple intelligence, maka dapat
sejumlah faktor lingkungan seperti stimulus disarankan hal-hal sebagai berikut.
dalam belajar, kesehatan individu, konsentrasi,
a) Bagi peneliti sebaiknya lebih Human Motivation. Oxford: Oxford
mengembangkan wawasannya dalam University Press. 267-285
hal pengembangan model pembelajaran Depdiknas. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20
multiple intelligence secara lebih Tahun 2003 Pasal 40 Ayat 2, tentang
spesifik dalam setiap proses Sistem Pendidikan Nasional.
pembelajaran. Fox, J.V.D. 2012. The Self-Actualizing Teacher.
b) Selain itu, peneliti juga berharap pada Improving College and University
penelitian selanjutnya lebih Teaching Journal. 13(3): 147-148.
mempertimbangkan kedalaman materi Gilman, L. 2012. The Theory of Multiple
kajian dalam pelatihan dengan Intelligences. Indiana. Indiana
melakukan penekanan pada praktek dan University.
aplikasi praktis untuk menerapkan Goddard, R.G., Wayne K.H., dan Woolfolk H.
prinsip-prinsip Multiple Intelligence. 2000. Collective Teacher Efficacy: Its
c) Bagi mahasiswa sebaiknya lebih terlibat Meaning, Measure, And Impact On
aktif dalam kegiatan pembelajaran dan Student Achievement. American
bersifat antusias sehingga proses Educational Research Journal. 37: 479–
pembelajaran berjalan secara efektif dan 508.
efisien. Goldstein, K. 1995. The Organism: A Holistic
Approach to Biology Derived from
Daftar Pustaka Pathological Data in Man. New York.
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang. Zone Books.
Universitas Muhammadiyah Malang Koswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian.
Press. Bandung: PT. Eresco.
Azwar, S. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Labone, E. 2004. Teacher Efficacy: Maturing
Yogyakarta. Pustaka Pelajar. The Construct Through Research in
Bandura, A. 1986. Social Foundation of Thought Alternative Paradigms. Teaching and
and Action: A Social Cognitive Theory. Teacher Education. 20: 341–359.
New York: Prentice Hall. Maslow, A.H. 1998. Toward a Psychology of
Bandura, A. 1997. Self Efficacy: The Exercise of Being (3rd Edition). New Jersey. Willey
Control. New York. W. H. Freeman and and Sons.
Company. Rogers, C.R., Lyon, Harold C, Tausch, dan
Bassi, M., A.D. Fave, dan F. Massimini. 2007. Reinhard. 2013. On Becoming an
Academic Self-Efficacy Beliefs and Effective Teacher - Person-centered
Quality of Experience in Learning. Teaching, Psychology, Philosophy, and
Springer Science and Business Media. 36: Diologues with Carl R. Rogers and
301-312. Harold Lyon. London: Routledge.
Bloom, B., Englehart, Furst, Hill, Ross, J.A. 1998. The antecedents and
dan Krathwohl. 1956. Taxonomy of consequences of teacher efficacy. In J.
Educational Objectives: The Brophy. Advances in research on
Classification of Educational Goals. teaching. Greenwich, CT: JAI Press. 7:
Handbook I: Cognitive domain. New 49-73.
York: Longmans Green. Shadish, Cook, dan Campbell. 2002.
Boeree, C.G. 2004. Personality Theories. Experimental and Quasi-Experimental
Yogyakarta: Primasophie. Design for Generalized Causal
Coble, C.R., dan Hounshell. 1972. Teacher Self- Inference. Boston. Houghton Mifflin
Actualization and Student Progress. Company.
Science Education. 56(3): 311-316. Smith, Mark K. (2002). Howard Gardner,
Deci, E.L., dan Richard M.R. 2012. In Ryan, multiple intelligences and education.
R.M. 2012. The Oxford Handbook of In The encyclopedia of informal
education. Boston. Harvard University
Press.
Stein, M.I. 2014. Stimulating Creativity:
Individual Procedures. London.
Academic Press Inc. Ltd.
Wheatley, K.F. 2005. The Case for
Reconceptualizing Teacher Efficacy
Research. Teaching and Teacher
Education. 21: 747–766.
Woolfolk, A., dan Davis. 2005. Teachers' Sense
of Efficacy and Adolescent
Achievement. In T. Urdan & F. Pajares
(Eds.). Adolescence and Education.
5: 117-137. Greenwich, CT.
Information Age.