You are on page 1of 16

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. S DENGAN


DIAGNOSA AKI + HT + METABOLIK ENCEFELOPATI +
PNEUMONIA DI RUANG INTENSIF CARE UNIT RUMAH
SAKIT AL ISLAM BANDUNG

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien

Nama pasien : Ny. S

Tanggal lahir : 17 September 1981

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : S1

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

No RM : 621750

Alamat : Komp. GBA II Blok K-7 RT 08/ RW 08

Tanggal masuk ICU : 21 Maret 2018, pukul 09.00 WIB

Tanggal Pengkajian : 22 Maret 2018, pukul 15.30 WIB

Sumber data : Keluarga klien dan rekam medik

Penanggung jawab : Tn. G

Hubungan dengan pasien : Suami

Alamat : Komp. GBA II Blok K-7 RT 08/ RW 08


2. Anamnesis

a. Keluhan utama

Keluhan utama pada klien tidak dapat dikaji karena klien mengalami penurunan

kesadaran.

b. Riwayat penyakit sekarang

1) Kronologis pasien masuk rumah sakit

Menurut suami klien, klien muntah-muntah di rumah sejak hari senin siang

(20 Maret 2018) sudah ±10 kali.

2) Kronologis penanganan saat di UGD/ ruangan sebelum masuk ICU

Klien masuk IGD pada tanggal 20 Maret 2018 Pukul 23.35 WIB dengan

keluhan nyeri perut bagian bawah, lemas badan dan muntah sudah 10 kali sejak

siang hari sebelum masuk rumah sakit. Kemudian, klien dilakukan pemeriksaan

dengan hasil : tingkat kesadaran CM, hasil TTV : TD: 220/140 mmHg, N:

140x/menit, RR: 24x/menit, S: 37,6°C, SaO2: 98%. Klien mendapat terapi

oksigen 3 liter/menit, terapi cairan RL 30 tetes/menit, terapi obat Omeprazole 1

vial melalui IV, Ketorolac 1 ampul melalui IV, Ondancentron 1 ampul melalui

IV, Captropil 50 mg per oral, dan Amlodipin 10 mg per oral. Hasil laboratorium

Hb: 9,7 g/dL, Leukosit: 18.300 sel/uL, Ht: 30,7%, Ureum: 126 mg/dL, Kreatinin:

12,9 mg/dL, GDS: 84 mg/dL, K: 5,9 mmol/L, Ca: 5,38 mg/dL. Pada tanggal 21

Maret 2018 pukul 00.30 WIB klien mengalami kejang dan penurunan kesadaran.

hasil TTV : TD: 240/180 mmHg, N: 150x/menit, RR: 30x/menit, S: 39,0°C,

SaO2: 90%, skor GCS: 11 (Somnolent). Klien diberikan terapi Valium 10 mg

melalui IV diberikan secara perlahan dan Dextrose 40% 1 vial melalui IV. Klien
3 1
mengalami kelemahan ekstremitas klien diberikan terapi Citicolin 500 mg
3 1
melalui IV, Ranitidine 1 ampul melalui IV, dan Manitol 125 cc melalui IV drip

pada pukul 01.15 WIB. Klien dipasang kateter no 16, produksi urine positif, klien

dipasang mayo dan dipasang NGT. Pada pukul 01.40 WIB klien mengalami

kejang kembali dan diberikan terapi Valium 10 mg melalui IV secara perlahan.

Klien dipindahkan ke ruang HCU pukul 02.40 WIB untuk observasi lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan TTV saat tiba di ruangan HCU: TD: 210/135 mmHg, N:

144x/menit, RR: 38x/menit, S: 37,0°C, skor GCS: 11 (E: 3, M: 4, V: 3). Pada

pukul 09.00 WIB klien dipindahkan ke ruangan ICU karena kondisi klien

mengalami hipovolemik dan asidosis metabolik sehingga memerlukan tindakan

cuci darah dan pemasangan ETT segera. Klien dilakukan tindakan SLEED pada

pukul 10.30 WIB dengan UF goal 1500 mL, QB: 150 mL/menit, QD: 300

mL/menit. Pada saat SLEED berlangsung, klien dipasang ETT pada pukul 11.30

WIB dengan ukuran no. 7 dan kedalaman 20 cm dan dihubungkan ke ventilator

dengan mode SIMV (PC), PEEP 8, SIMV 6 , PS 14, FiO2 35%. Klien selesai

tindakan SLEED pada pukul 14.30 dengan UF total -1100 mL dan cek darah

laboratorium post HD dengan hasil: Ureum: 59 mg/dL, Kreatinin: 6,5 mg/dL,

GDS: 79 mg/dL, Ca: 4,51 mg/dL.

3) Riwayat pembedahan dan anestesi (bila dari OK)

4) Riwayat PQRST saat dilakukan pengkajian

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 22 Maret 2018, didapati klien

tampak lemah dan penurunan kesadaran dengan GCS 4 (E: 1, M: 3, V: T). Hasil

pemeriksaan TTV: TD: 186/117, N: 125x/menit, S: 37,0°C, R: 20x/menit, SaO2:


100%. Klien terpasang ETT no 7 kedalaman 20 cm dan terpasang ventilator

dengan mode PC, dengan PEEP: 8, FiO2: 35%, Tidal volume: 264.

c. Riwayat penyakit sebelumnya

Suami klien mengatakan klien menderita endometriosis, dan menjalani

operasi pertamanya pada umur 15 tahun. Suami klien juga mengatakan bahwa

klien sudah menjalani 5 kali operasi pada rahimnya dan yang terakhir klien

menjalani operasi pengangkatan tuba valopi kanan di Rumah Sakit Hasan Sadikin

karena ada kista yang menempel di saluran telur klien. Klien juga sempat dirawat

1 bulan di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan menjalani kemoterapi. Suami klien

mengatakan sejak menjalani kemoterapi, klien menjadi sering naik tekanan

darahnya.

d. Riwayat penyakit keluarga

Suami klien mengatakan bahwa di keluarga klien tidak ada yang mempunyai

atau pernah mengalami penyakit kista sebelumnya.

e. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum :

Kesadaran : Koma, GCS: 4 (E: 1, M: 3, V: T (terintubasi))

TD: 195/117, N: 125x/menit, S: 37,0°C, R: 20x/menit, SaO2: 100%

BB : ±60 kg TB: ±160 cm BMI: -

Status fungsional : ketergantungan penuh, skor: 0 (Barthel index)

Risiko jatuh : Sedang, skor: 35 (Skala Morse)

Skor APACHE II : 33, Predicted Death Rate: 78,6%


1) Pernafasan

Klien tampak batuk sesekali, dispneu (+), tidak ada PCH, tidak terdapat

penggunaan bantuan otot nafas tambahan, suara nafas ronchi, retraksi dada

simetris, rentang frekuensi nafas 17 – 26 x/menit, klien terpasang ETT hari kedua

dengan kedalaman 20 cm no 7, dan ventilator dengan mode : PC TV: 264 MV: -

PEEP: 8, I:E ratio 1;2, FiO2: 35%.

2) Persarafan

Kesadaran klien koma dengan GCS 4 GCS: 4 (E: 1, M: 3, V: T (terintubasi)),

FOUR score: 7 (E: 1, M: 1, B: 4, R: 1), diameter pupil simetris (+2/+2), refleks

cahaya (+), tidak ada kejang, tidak ada kaku kuduk.

3) Kardiovaskuler

Konjungtiva anemis, bunyi jantung reguler S1 dan S2, kulit tampak pucat,

CRT >2 detik, akral hangat, gambaran EKG sinus takikardi, rentang nadi 125 –

130x/menit, rentang TD 183/112 – 225/120 mmHg. Rentang MAP 133 – 160

mmHg, nadi teraba kuat, antara kiri dan kanan sama, tidak terdapat peningkatan

JVP. Terdapat perdarahan pada vagina klien dengan derajat kehilangan cairan ±

<50 cc.

4) Pencernaan

Bentuk abdomen datar, tidak ada asites, bising usus 2x/menit, tidak ada

distensi abdomen, tidak teraba massa pada semua kuadran abdomen, tidak ada

pembesaran hepar. Klien terpasang selang NGT hari kedua dengan retensi 60 cc

berwarna putih susu. Hasil screening gizi (MST) skor 2 (risiko sedang).
5) Perkemihan

Pola berkemih melalui kateter urin hari kedua, warna urin kuning jernih

dengan jumlah urin 490 cc/6 jam dengan hasil diuresis 1,3 cc/jam, tidak terdapat

edema pada ekstremitas atas dan bawah klien.

6) Muskuloskeletal

Tidak terdapat fraktur pada klien. Kekuatan otot tidak dapat terkaji pada klien

karena klien penurunan kesadaran.

7) Integumen

Warna kulit pucat, tidak ada hiperpigmentasi, terdapat garis vertikal post

operasi pada umbilikalis sampai pubis ± 10 cm. Tidak terdapat luka dekubitus

pada klien.

f. Hasil Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21/03/2018 pukul 00.26 WIB


No. Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan Interpretasi
HEMATOLOGI
1. Hemoglobin 9,7 12,0-16,0 g/dL ↓
2. Leukosit 18.300 4000-10000 sel/uL ↑
3. Hematokrit 30,7 37-47 % ↓
4. Trombosit 445.000 150.000-450.000 sel/uL Normal
KIMIA KLINIK
1. AST (SGOT) 16 < 37 u/L 37°C Normal
2. ALT (SGPT) 4 < 41 u/L 37°C Normal
3. Ureum 126 14 – 45 mg/dL ↑
4. Kreatinin 12,9 0,6 – 1,1 mg/dL ↑
5. GDS 84 110 – 140 mg/dL ↓
Elektrolit
1. Natrium (Na) 141 135 – 153 mmol/L Normal
2. Kalium (K) 5,9 3,5 – 5,3 mmol/L ↑
3. Kalsium (Ca, Bebas) 5,38 4,7 – 5,2 mg/dL ↑

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21/03/2018 pukul 03.23 WIB


No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Interpretasi
KIMIA KLINIK
1. GDS 228 110 – 140 mg/dL ↑

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21/03/2018 pukul 06.10 WIB


No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Interpretasi
HEMATOLOGI
1. D-Dimer 2900 < 300 ng/mL ↑
2. Fibrinogen 489 232 - 364 mg/dL ↑
IMUNOSEROLOGI
1. HBsAg RPHA Negatif Negatif Normal
2. Anti HCV screening Negatif Negatif Normal
3. Anti HIV
Reagen 1 Non-reaktif Non-reaktif Normal
KIMIA KLINIK
1. GDS 166 110 – 140 mg/dL ↑

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21/03/2018 pukul 15.14 WIB


No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Interpretasi
KIMIA KLINIK
1. Ureum 59 14 – 45 mg/dL ↑
2. Kreatinin 6,5 0,6 – 1,1 mg/dL ↑
3. GDS 79 110 – 140 mg/dL ↓
4. Kalsium (Ca, Bebas) 4,51 4,7 – 5,2 mg/dL ↓

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 22/03/2018 pukul 19.24 WIB


No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Interpretasi
HEMATOLOGI
1. D-Dimer 3400 < 300 ng/mL ↑
2. Fibrinogen 407 232 - 364 mg/dL ↑
KIMIA KLINIK
1. GDS 123 110 – 140 mg/dL Normal
2. Amylase 38 < 95 u/L Normal
3. Lipase 36 < 190 u/L Normal
4. Kalium (K) 4,1 3,5 – 5,3 mmol/L Normal

2) Hasil Pemeriksaan Thorax tanggal 21/03/2018


KESAN :
Pneumonia kanan atas

3) Hasil Pemeriksaan MSCT Scan Kepala tanggal 21/03/2018


KESIMPULAN :
Tidak tampak tanda-tanda perdarahan intrakranial maupun adanya edema
serebri.
Tidak tampak mid line shift maupun tanda-tanda kompresi batang otak.

g. Program dan Rencana Pengobatan


No Nama Obat Dosis Cara Pemberian
1. Metronidazole 3 x 500 mg Drip IV
2. Ceftriaxone 2x1g IV
3. Citicolin 1 x 500 mg IV
4. Ranitidin 2 x 1 ampul IV
5. Omeprazole 2 x 40 mg IV
6. Paracetamol 2x1g PO (bila panas)
7. Amlodipin 1 x 5 mg PO
8. Phenitoin 3 x 100 mg PO
9. Inpepsa/Sucralfat 4 x 10 cc PO
10. Nebu Bisolvon 2 x/hari (@10 tetes) Inhalasi
11. Asering 40 cc/jam IV via Infuse pump
12. Ringer Laktat 50 cc/jam IV via Infuse pump
15. Lasix 1 cc/jam IV via Syringe pump
3. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1. DS : - Ketidakefektifan
DO : bersihan jalan napas
- Suara napas ronci
- RR: 20x/menit
- Klien tampak batuk sesekali
2. DS : - Ketidakseimbangan
DO : nutrisi: kurang dari
- Klien terpasang selang NGT kebutuhan tubuh
hari kedua dengan retensi 60
cc berwarna putih susu
- Hasil screening gizi (MST)
skor 2 (risiko sedang)
- Bising usus 2x/menit
- Nilai Hb: 9,7 gr/dL
3. DS : - Risiko
DO : ketidakseimbangan
- Klien dilakukan tindakan elektrolit
cuci darah SLEED pada
tanggal 21 Maret 2018
dengan UF total -1100 cc
- Nilai Kalium (K) tanggal 21
Maret 2018 : 5,9 mmol/L
- Nilai Kalsium (Ca) tanggal
21 Maret 2018: 5,38
mmol/L
- Nilai Kalsium (Ca) tanggal
21 Maret 2018 post HD:
4,51 mmol/L
- jumlah urin 490 cc/6 jam
dengan hasil diuresis 1,3
cc/jam
4. DS : - Resiko sindrom disuse
DO :
- Klien tampak lemah
- Kesadaran klien koma,
dengan GCS: 4 (E: 1, M: 3,
V: T (terintubasi))
- Klien terpasang ventilator,
infus pump, syiringe pump
dan alat bed site monitor
- Status fungsional :
ketergantungan penuh
dengan skor: 0 (Barthel
index)
5. DS : - Defisit perawatan diri :
DO : Mandi
- Status fungsional :
ketergantungan penuh,
skor: 0 (Barthel index)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d adanya benda asing didalam jalan

napas.

2. Risiko ketidakseimbangan elektrolit b.d gangguan mekanisme pengaturan

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan

mengabsorpsi nutrien.

4. Defisit perawatan diri : mandi b.d imobilitas dan tirah baring.

5. Risiko sindrom disuse b.d imobilisasi fisik.


C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Kep Tujuan Intervensi Rasional


1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan perawatan 1. Posisikan pasien 30- 1. Posisi semifowler (30-
bersihan jalan napas 1x24 jam, diharapkan jalan 45° 45°) merupakan posisi
b.d adanya benda napas bersih, dengan kriteria 2. Lakukan penyedotan yang pas untuk
asing didalam jalan hasil: (suction) melalui mengoptimalkan
napas - Ronchi berkurang endotrakeal pengembangan paru
- Batuk berkurang 3. Kolaborasi dengan dan diafragma,
DS : - - RR: 16-24x/menit dokter untuk sehingga proses
DO : pemberian terapi ventilasi
- Suara napas ronci Bisolvon melalui termaksimalkan.
- RR: 20x/menit nebulizer 2. Penyedotan sekret
- Klien tampak dapat membantu
batuk sesekali mengurangi sekret
yang terdapat pada
jalan napas pasien.
3. Bisolvon mengandung
Bromhexine yang
merupakan jenis
mukolitik, berfungsi
untuk mengurangi dan
mengencerkan sekret
yang berada di jalan
napas
2 Risiko Setelah dilakukan perawatan 1. Monitor tanda-tanda 1. Tanda-tanda vital
ketidakseimbangan 2x24 jam, diharapkan status vital klien merupakan sign
elektrolit b.d elektrolit dapat stabil, 2. Monitor intake output pertama yang terlihat
gangguan dengan kriteria hasil: klien perubahannya katika
mekanisme - Nilai Kalium (K) 3,5- 3. Monitor status ada masalah dengan
pengaturan 5,3 mmol/L hemodinamik pasien cairan dan elektrolit
DS : - - Nilai Kalsium (Ca) 4. Pantau berat badan per 2. Pada klien dengan
DO : 4,7-5,2 mg/dL hari dan pantau gejala koreksi cairan dan
- Klien dilakukan - Diuresis 0,5-1 cc/jam kelebihan dan elektrolit penting
tindakan cuci kekurangan cairan untuk selalu mencatat
darah SLEED 5. Dapatkan spesimen dan menghitung
pada tanggal 21 darah laboratorium balance cairan, agar
Maret 2018 untuk pemantauan tidak terjadi kelebihan
dengan UF total - perubahan cairan atau atau kekurangan cairan
1100 cc elektrolit klien pada klien
- Nilai Kalium (K) 6. Kolaborasi dengan 3. Pemantauan
tanggal 21 Maret dokter untuk resep hemodinamik klien
2018 : 5,9 pemberian cairan seperti MAP dan CVP
mmol/L 7. Kolaborasi dengan dapat mengevaluasi
- Nilai Kalsium dokter untuk keberhasilan terapi
(Ca) tanggal 21 pemberian terapi Lasix pada klien
Maret 2018: 5,38 4. Berat badan
mmol/L merupakan salah satu
- Nilai Kalsium indikator kelebihan
(Ca) tanggal 21 cairan dan elektrolit,
Maret 2018 post karena pada pasien
HD: 4,51 mmol/L tidak sadar, cairan
- Jumlah urin 490 tubuhnya juga dalam
cc/6 jam dengan kondisi statis sehingga
hasil diuresis 1,3 didapatkan berat badan
cc/jam basah dan dapat
dievaluasi berapa
banyak kelebihan
cairan klien.
5. Pengambilan spesimen
darah bertujuan untuk
mengevaluasi
keberhasilan terapi
cairan dan elektrolit
pada klien dengan
mengukur nilai kimia
darah.
6. Pemberian cairan yang
tepat dan adekuat
dapat mempertahankan
hemodinamik klien
7. Lasix merupakan jenis
terapi diuretik untuk
menarik dan
membuang kelebihan
cairan dalam tubuh
klien melalui urin
sehingga klien tidak
berisiko kelebihan
cairan.
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan perawatan 1. Kaji status nutrisi klien 1. Berguna dalam
nutrisi kurang dari 1x24 jam, diharapkan nutrisi setiap hari mengidentifikasi
kebutuhan tubuh yang diberikan dapat 2. Monitor retensi pada derajat kurang nutrisi
b.d diabsorpsi, dengan kriteria selang NGT klien dan menentukan
ketidakmampuan hasil: setiap 3 jam sekali pilihan intervensi
mengabsorpsi - Tidak terdapat retensi 3. Monitor intake output 2. 3 jam adalah waktu
nutrien pada selang NGT klien 4. Evaluasi nilai Hb dan yang ideal usus
DS : - atau retensi <60 cc kadar albumin setiap menyerap nutrien yang
DO : - Bising usus 3-5x/menit hari, bila perlu masuk, sehingga
- Klien terpasang - Nilai Hb: 12,0-16,0 5. Berikan diet cair susu apabila dalam 3 jam
selang NGT hari g/dL yang aman bagi ginjal masih terdapat retensi
kedua dengan dengan kadar maka terdapat
retensi 60 cc protein/asam amino gangguan pada
berwarna putih 1,0-1,5 g/kg/hari penyerapan nutrien di
susu 6. Berikan diet cair usus.
- Hasil screening melalui selang NGT 3. Mengukur keefektifan
gizi (MST) skor 2 dalam keadaan hangat nutrisi dan dukungan
(risiko sedang) 7. Kolaborasi dengan cairan
- Bising usus dokter untuk 4. Hb merupakan sel
2x/menit pemberian Sucralfat darah yang mengikat
- Nilai Hb: 9,7 oksigen dan nutrisi,
gr/dL apabila Hb rendah
maka mengindikasikan
bahwa nutrisi di dalam
tubuh juga rendah.
Albumin merupakan
salah satu jenis dari
protein dalam tubuh.
Protein merupakan
komponen terbanyak
penyusun tubuh.
Apabila nilai albumin
rendah, maka tubuh
sedang dalam kondisi
4. Defisit perawatan Setelah dilakukan Memandikan 1. Pasien tirah baring
diri : mandi b.d perawatan, diharapkan 1. Monitor kondisi kulit berisiko untuk terkena
imobilitas dan tirah kebersihan klien selalu saat mandi dekubitus, maka
baring terjaga, dengan kriteria hasil: 2. Cek suhu klien kondisi kulit penting
DS : - - Tidak tercium bau sebelum mandi untuk dimonitor setiap
DO : tidak sedap pada klien 3. Mandikan klien kali klien mandi
Status fungsional : - Klien terlihat bersih dengan air bersuhu 2. Pada saaat
ketergantungan nyaman memandikan, suhu
penuh, skor: 0 4. Berikan lotion pada tubuh klien harus
(Barthel index) bagian kulit yang dalam keadaan normal
kering atau bisa dalam
keadaan demam.
Apabila klien
dimandikan dalam
keadaan suhu dibawah
normal, klien akan
berisiko mengalami
hipotermi.
3. Suhu 36,5-37°C yaitu
suhu yang sama
dengan suhu fisiologis
tubuh, sehingga
dianggap nyaman saat
menyentuh kulit klien.
4. Lotion berfungsi untuk
memberikan
kelembapan pada kulit
klien, sehingga
meminimalkan
gesekan kulit dengan
laken yang dapat
berisiko terjadinya
dekubitus.
5. Risiko sindrom Setelah dilakukan perawatan Perawatan Tirah Baring Perawatan Tirah Baring
disuse b.d 1x24 jam, diharapkan nutrisi 1. Monitor kondisi kulit 1. Pasien tirah baring
imobilisasi fisik yang diberikan dapat klien berisiko untuk terkena
DS : - diabsorpsi, dengan kriteria 2. Jaga kain linen tetap dekubitus, maka
DO : hasil: bersih, kering dan kondisi kulit penting
- Klien tampak - Tidak terdapat retensi bebas kerutan untuk dimonitor
lemah pada selang NGT klien 3. Balikan klien ke kanan 2. Linen yang berkerut
- Kesadaran klien atau retensi <60 cc dan ke kiri setiap 2 jam dapat memberikan
koma, dengan - Bising usus 3-5x/menit sekali tambahan tekanan pada
GCS: 4 (E: 1, M: - Nilai Hb: 12,0-16,0 Terapi Latihan: Mobilitas kulit klien sehingga
3, V: T g/dL Sendi mengingkatkan risiko
(terintubasi)) 1. Pakaikan klien baju dekubitus. Linen yang
- Klien terpasang yang longgar dan basah dan kotor juga
ventilator, infus kering meningkatkan risiko
pump, syiringe 2. Lakukan latihan ROM infeksi pada klien
pump dan alat pasif 2 jam sekali 3. Membalikan klien
bed site monitor setiap 2 jam
- Status fungsional menghindari
: ketergantungan penekanan lama pada
penuh dengan bokong klien
skor: 0 (Barthel Terapi Latihan: Mobilitas
index) Sendi
1. Baju yang longgar
dapat memberikan
kulit bernapas dan
menghindari
peningkatan suhu
pada kulit yang dapat
menjadikan kulit
menjadi kemerahan
dan berisiko terjadi
dekubitus
2. ROM dapat
meningkatkan
elastisitas otot dan
sendi, sehingga
menghindari
terjadinya atropi pada
otot dan sendi klien
yang tirah baring
lama