You are on page 1of 3

Kinin hidroklorida berasal dari kina yang merupakan tanaman obat

berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan yang ditanam pada
ketinggian 900-3.000 m dpl (Sultoni, 1995).
Klasifikasi dari Kina yaitu :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Rubiaceae
Genus : Chinchona
Spesies : Chinchona spp.
Simplisia : Chinchona cortex
(Sultoni,1995)
Tanaman berupa pohon dengan tinggi hingga 17 m, cabang
berbentuk galah yang bersegi 4 pada ujungnya, mula-mula berbulu
padat dan pendek kemudian agak gundul dan berwarna merah. Daun
letaknya berhadapan dan berbentuk elips, lama kelamaan menjadi
lancip atau bundar, warna hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur
berwarna merah. Tulang daun terdiri dari 11 – 12 pasang, agak
menjangat, berbentuk galah, daun penumpu sebagian berwarna merah,
sangat lebar. Ukuran daun panjang 24 – 25cm, lebar 17 –19cm.
Kelopak bunga berbentuk tabung, bundar, bentuk gasing, bergigi lebar
bentuk segitiga, lancip. Bunga wangi, bentuk bulat telur sampai
gelendong. (Sultoni,1995)
Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna
untuk obat. Di antara alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat
penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan kinidine untuk
penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah
untuk depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik (Sultoni, 1995).
Pule (Alstonia sp) merupakan tumbuhan asli Indonesia dan
penyebarannya cukup luas di Indonesia. Pulai tumbuh mulai dari
ketinggian 10 – 1250 m dpl dengan variasi tapak yang beragam baik pada
areal rawa, gambut, pasang surut maupun daerah kering (Martawidjaja,
1981). Kulit batang pule (Alstonia scholaris R.Br.) merupakan tanaman
yang sering digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia.
Dari studi pustaka, kulit batang pule berkhasiat sebagai penurun demam,
meningkatkan selera makan, mengobati radang ginjal, obat kencing manis,
obat malaria, obat tekanan darah tinggi dan obat cacing (Wijayakusuma,
2001).

Alat yang digunakan dibilas menggunakan air minum dan


untuk pelarut juga digunakan air minum karena praktikum ini langsung
berhubungan dengan indera pengecap. Dibilas mulut dengan air
minum, digunakan air minum bukan aquadest karena aquadest sudah
melalui penyulingan dan kandungan mineralnya rendah sehingga
indera pengecap akan kebal dan tidak bisa merasakan sensasi pahit dari
simplisia.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa ambang batas pahit akan


berbeda-beda pada tiap orang, karena rasa pahit yang timbul dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yaitu faktor dari orang yang mencicipi, salah satunya
jika orang tersebut tidak suka atau jarang mengkonsumsi bahan
makanan yang berasa pahit, maka reseptor rasa pahitnya akan sensitif
terhadap rasa pahit,lalu jika orang tersebut suka merokok, sedang sakit,
atau setelah memakan makanan yang berbumbu kuat.( Teyler,1988).
Namun jika orang tersebut sudah sering mengkonsumsi bahan
makanan yang berasa pahit, maka reseptor pahit tersebut bergeser
kesensitifan pahitnya, sehingga akan terjadi pergeseran pada ambang
batas pahitnya atau karena anatomi lidah orang yang mencicipinya
rusak jadi rasa yang dirasakan tidak dihantarkan ke pusat otak untuk
diproses sehingga rasanya tidak dapat dirasakan. Sedangkan faktor
eksternal yaitu mungkin karena pengenceran yang dilakukan terlalu
encer sehingga kinin yang terdapat didalam larutan tersebut sangan
sedikit,faktor lain adalah karena pada praktikum ini tidak digunakan
kinin HCl murni sehingga terdapat senyawa tambahan didalamnya
menyebabkan derajat kepahitan kinin akan berkurang. (Teyler,1988)