You are on page 1of 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha ESA Atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Asuhan
Keperawatan Pada Ca. Gaster” ini dengan tepat waktu. Semoga ini dapat digunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam memperluas pengetahuan mengenai Ca. Gaster.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman
penulis sendiri, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannnya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih ada kekurangan. Oleh karena itu, kami harapkan kepada pembaca
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................................................................... 1
BAB II KONSEP DASAR ............................................................................................................................ 2
A. Defenisi ............................................................................................................................................. 2
B. Etiologi.............................................................................................................................................. 2
C. Patofisiologi ...................................................................................................................................... 3
D. Klasifikasi ......................................................................................................................................... 4
E. Manifestasi klinis .............................................................................................................................. 5
F. Pemeriksaan diagnostik..................................................................................................................... 5
G. Penatalaksanaan ................................................................................................................................ 6
H. Komplikasi ........................................................................................................................................ 7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................................................................ 8
A. Pengkajian ......................................................................................................................................... 8
B. Diagnosa ........................................................................................................................................... 8
C. Intervensi........................................................................................................................................... 8
BAB IV PENUTUP .................................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................................. iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era serba cepat seperti saat ini tidak sulit bagi setiap orang untuk memenuhi keinginannya
dalam waktu yang relatif singkat. Begitu juga dalam hal memilih makanan, hampir sebagian
masyarakat lebih memilih mengkonsumsi makanan cepat saji yang mereka sendiri tidak tahu bahan
apa saja yang digunakan untuk mengolah makanan tersebut dibandingkan mengolah bahan makanan
sendiri di rumah dengan alasan lebih mudah dan efisien. Namun dibalik rasa nikmat yang dirasakan,
mereka tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi jika mereka mengkonsumsi makanan tersebut dalam
jangka panjang. Berbagai penyakit bisa saja mereka derita akibat mengkonsumsi makanan cepat saji
yang menjadi pilihan mereka. Salah satu penyakit yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi
berbagai makanan cepat saji dalam jangka panjang adalah kanker. Sebagian manusia terkadang
mengabaikan suatu gejala penyakit yang timbul dalam dirinya, sehingga penyakit tersebut baru
diketahui ketika telah mencapai stadium lanjut. Salah satu contoh kanker akibat kebiasaan buruk ini
adalah kanker lambung dimana penyakit ini merupakan suatu bentuk neoplasma maligna
gastrointestinal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar penyakit Ca gaster / kanker lambung?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca gaster / kanker lambung?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makala ini adalah :

1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit Ca gaster / kanker lambung.


2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca gaster / kanker lambung.

1
BAB II
KONSEP DASAR

A. Defenisi
Ca gaster / kanker lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan dilambung. Kanker
lambung sering dimulai pada sisi dimana lapisan lambung meradang. Tetapi banyak ahli yakin
bahwa peradangan adalah akibat dari kanker lambung, bukan sebagai penyebab kanker. ( Khaidir
Muhaj,2009 )

Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalalah dari
jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah lelomiosarkoma ( kanker otot polos) dan
limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu
terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun ( Osteen, 2003).

Kanker lambung pada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker
kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat keempat setelah kanker payudara, kanker
serviks, dan kenker kolorektal ( Christin, 1999).

B. Etiologi
Penyebab kanker lambung adalah bakteri Helicobacter Pylori yang ditemukan oleh dua warga
Australia peraih hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2005, yakni J. Robin Warren dan Barry J.
Marshall. Akan tetapi, penyebab keberadaan bakteri Helicobacter Pylori di dalam lambung masih
belum diketahui dengan pasti.

Beberapa faktor resiko dari kanker lambung adalah sebagai berikut :

1. Umur
Insiden kanker lambung meningkat pada umur 55 tahun, dan semakin tua umur pasien semakin
tinggi pula kemungkinan terjadinya kanker lambung.
2. Jenis kelamin
Jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat kencenderungan yang tinggi untuk mengidap kanker
lambung dibanding dengan wanita.
3. Genetik
Faktor genetik dapat terjadi jika ada anggota keluarga lain yang juga mengalami kanker lambung.
Frekuensi lebih besar timbul pada individu dengan golongan darah A. Riwayat keluarga
meningkatkan resiko individu tetapi minimal, hanya 4% dari organ dengan karsinoma lambung
mempunyai riwayat keluarga. Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki
hubungan genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen
E-cadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga amenia pernisiosa
dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani,
2003).

2
3

4. Faktor kesehatan ( ulkus kronis)


Kanker lambung meningkat insidennya pada orang dengan riwayat inflamasi polip lambung bisa
terjadi pada pasien yang mengonsumsi NSAIDs dalam jangka waktu yang lama dan hal ini (polip
lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung berulang akan
meningkatkan risiko kanker lambung (Houghton, 2006). Selain itu pada riwayat anemia
pernisiosa, merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12) yang
disebabkan oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung. Kombinasi anemia pernisiosa
dengan infeksi H.pylori memberikan konstribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada
dinding lambung (Santacroce, 2008).
5. Bahan karsinogen dan Diet
Bahan-bahan penyebab kanker yang masuk melalui mulut dapat meningkatkan resiko terjadinya
kanker lambung , seperti alkohol, rokok, dll. Kebiasaan merokok dan tingginya masukan garam,
dan konsumsi buah-buahan yang rendah dapat meningkatkan resiko kanker. Resiko kanker
lambung dari perokok lebih tinggi dari yang tidak perokok dan diperberat dengan pemasukan
garam yang tinggi serta diet rendah buah- buahan. Peningkatan masukan garam biasanya
berhubungan dengan belum atau tidak digunakannya alat pendingin (Cool Case) untuk
menyimpan atau mengawetkan makanan dalam jangka waktu yang lama. Makanan disimpan atau
diawetkan dengan cara diasinkan dan diasap, sehingga meningkatkan kandungan garamnya.
Rendahnya intake buah-buahan berhubungan dengan kondisi geografis daerah tersebut.
6. Kondisi sosial ekonomi
Kondisi sosioekonomi yang rendah dilaporkan meningkatkan risiko kanker lambung, namun
tidak spesifik. Menurut hadil penelitian di Amerika Serikat, kondisi sosioekonomi yang rendah
dihubungkan dengan faktor-faktor asupan diet, kondisi lingkungan miskin dengan sanitasi buruk.
Berbagai kondisi tersebut memfasilitasi transmisi infeksi H. pylori yang menjadi predisposisi
penting peningkatan terjadinya kanker lambug (Yarbro, 2005).

C. Patofisiologi
Penyebab kanker lambung adalah bakteri Helicobacter Pylori yang ditemukan oleh dua warga
Australia peraih hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2005, yakni J. Robin Warren dan Barry J.
Marshall. Akan tetapi, penyebab keberadaan bakteri Helicobacter Pylori di dalam lambung masih
belum diketahui dengan pasti. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, misalnya pola makan yang
tidak sehat seperti kurang mengkonsumsi buah dan sayur, juga gaya hidup tidak sehat seperti
merokok, mengkonsumsi alkohol, dan makan makanan yang dibakar (barbeque). Infeksi H.pylori
adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus doudenum dan 80% tukak lambung (Fuccio,2007).
Bakteri ini menempel di permukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri
lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (Fuccio, 2009).
Mekanisme utama bakteri ini dalam menginisiasi pembentukan luka adalah melalui produksi racun
VacA. Racun VacA bekerja dalam menghancurkan keutuhan sel-sel tepi lambung melalui berbagai
cara, di antaranya melalui pengubahan fungsi endolisosom, peningkatan permeabilitas sel,
pembentukan pori dalam membran plasma, atau apoptosis (pengaktifan bunuh diri sel). Pada
beberapa individu, H.pylori juga menginfeksi bagian badan lambung. Bila kondisi ini sering terjadi,
maka akan menghasilkan peradangan yang lebih luas yang tidak hanya mempengaruhi ulkus di
daerah badan lambung, tetapi juga meningkatkan risiko kanker lambung. Peradangan di mukosa
lambung juga merupakan faktor risiko tipe khusus tumor limfa (lymphatic neoplasm) di lambung,
4

atau disebut dengan limfoma MALT (Mucosa Associated Lymphoid Tissue). Infeksi H.pylori
berperan penting dalam menjaga kelangsungan tumor dengan menyebabkan dinding atrofi dan
perubahan metaplastik pada dinding lambung (Santacroce,2008).

D. Klasifikasi
1. Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini).
Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat
dibagi atas :
1.1 Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk
polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.
1.2 Tipe II (superficial type)
Dapat dibagi atas 3 sub tipe:
a. Elevated type
Tampak sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi
dan lebih meluas dan melebar.
b. Flat type
Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna
mukosa.
c. Depressed type
Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik /
perdarahan.
1.3 Tipe III. (Excavated type)
Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti II c & III
atau III & II c dan II a & II c.

2. Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut).


Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :
2.1 Bormann I
Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan
mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular.
2.2 Bormann II
Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya
menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan,
keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik.
2.3 Bormann III
Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi
difus pada seluruh mukosa.
2.4 Bormann IV
Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi
difus pada seluruh mukosa.
5

E. Manifestasi klinis
Gejala awal dari kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dikurvatura
kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ganguan fungsi lambung.Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala
pada pasien ulkus benigna.Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia,
dyspepsia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah (Harnawati,
200, KMB).

Gejala klinis yang ditemui antara lain (Davey, 2005):


1. Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakan defisiensi Fe mungkin
merupakan keluhan utama karsinoma gaster yang paling umum.
2. Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis lanjut.
3. Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar lambung.
4. Disfagia
5. Nausea
6. Kelemahan
7. Hematemesis
8. Regurgitasi
9. Mudah kenyang
10. Asites perut membesar
11. Kram abdomen
12. Darah yang nyata atau samar dalam tinja
13. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan

F. Pemeriksaan diagnostik
Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa Ca. gaster /
kanker lambung diantanya sebagai berikut :

1. CT Scan.
Pemeriksaan ini dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk melihat stadium dengan system
TNM dan penyebaran ekstra lambung, yang penting untuk penentuan intervensi bedah radikal dan
pemberian informasi prabedah pada pada pasien.
CT Staging pada karsinoma lambung :
Stage I : Massa intra luminal tanpa penebalan dinding.
Stage II : Penebalan dinding lebih dari 1 cm.
Stage III : Invasi langsung ke struktur sekitarnya.
Stage IV : Penyakit telah bermetastase.
2. Endoskopi dan Biopsi
Pemeriksaan Endoskopi dan Biopsi sangat penting untuk mendiagnosa karsinoma lambung
terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan karsinoma lambung.
3. Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitologi pada gaster dilakukan melalui sitologi brushing. Pada keadaan normal,
tampak kelompok sel-sel epitel superfisial yang reguler membentuk gambaran seperti honey
6

comb. Sel-sel ini mempunyai inti yang bulat dengan kromatin inti yang tersebar merata
(Lumongga,2008).
Pada keadaan gastritis, sel tampak lebih kuboidal dengan sitoplasma yang sedikit dan inti sedikit
membesar.Pada karsinoma, sel-sel menjadi tersebar ataupun sedikit berkelompok yang irreguler,
inti sel membesarn hiperkromatin dan mempunyai anak inti yang multipel atau pun giant
nukleus (Lumongga, 2008).
Pemeriksaan sitologi brushing ini jika dilakukan dengan benar, mempunyai nilai keakuratan
sampai 85%, tetapi bila pemeriksaan ini dilanjutkan dengan biopsi lambung maka nilai
keakuratannya dapat mencapai 96% (Lumongga, 2008).
4. Pemeriksaan makroskopis
Secara makroskopis ukuran karsinoma dini pada lambung ini terbagi atas dua golongan, yaitu
tumor dengan ukuran < 5 mm, disebut denganminute dan tumor dengan ukuran 6 – 10 mm
disebut dengan small(Lumongga, 2008).
Lokasi tumor pada karsinoma lambung ini adalah pylorus dan antrum (50-60%), curvatura minor
(40%), cardia (25%), curvatura mayor (12%). Paling banyak terjadi karsinoma lambung pada
daerah daerah curvatura minor bagian antropyloric (Lumongga, 2008).
5. Pemeriksaan laboratorium (Hamsafir, 2010)
Anemia (30%) dan tes darah positif pada feses dapat ditemukan akibat perlukaan pada dinding
lambung.LED meningkat.Fractional test meal à ada aklorhidria pada 2/3 kasus kanker
lambung.Elektrolit darah dan tes fungsi hati àkemungkinan metastase ke hati.

G. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
Kanker lambung dapat dicegah dengan cara-cara anatara lain
1.1. Makan lebih banyak buah dan sayuran.
1.2. Mengurangi jumlah makanan diasap dan asin yang dikonsumsi.
1.3. Berhenti merokok.

2. Pengobatan
2.1 Kemoterapi dan terapi radiasi
Bila karsinoma telah menyebar ke luar dari lambung, tujuan pengobatannya adalah untuk
mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup. Kemoterapi dan terapi penyinaran bisa
meringankan gejala.
2.2 Reseksi bedah
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik adalah pembedahan.
Pembedahan sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif.
2.3 Obat multiple (fluorosil, mitomisin C dan doksorubisin)
Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU, trimetrexote, fluorosil, mitomisin C,
doksorubisin, hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %.
2.4 Hiperalimentasi (nutrisi intravena).
Nutrisi intravena yag disuntikan melalui intravena yang berfunsi untuk menggantikan nutrisi
karena kanker lambung ini. Karena kanker lmbung proses penyerapan nutrisi yang terjadi di
lambung terganggu dan mengakibatkan kekurangan nutrisi dari kebutuhan yang diperlukan.
Maka diberikan hiperalimentasi ini.
7

3. Perawatan
3.1 Klien dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap
berbaring sampai beberapa hari setelah tanda dan gejala terjadi, dan 7 hari setelah dilakukan
operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
3.2 Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan-perubahan posisi berbaring
untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.

4. Diet
4.1 Pada mulanya klien diberikan makanan diet cair atau bubur saring kemudian bubur kasar
untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
4.2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk
pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman
kepada klien.

H. Komplikasi
1. Perforasi
Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronika
1.1 Perforasi akut
AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang terbuka dari karsinoma
ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi dari kanker yang letaknya di
kurvatura minor, diantrium dekat pylorus. Biasanya mempunyai gejala-gejala yang mirip
demean perforasi dari ulkus peptikum. Perforasi ini sering dijumpai pada pria (Hadi, 2002).
1.2 Perforasi kronika
Perforasi yang terjadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh omentum atau
bersifat penetrasi.Biasanya lebih jarang dijumpai jika dibandingkan dengan komplikasi dari
ulkus benigna.Penetrasi mungkin dijumpai antara lapisan omentun gastrohepatik atau
dilapisan bawah dari hati.Yang sering terjadi yaitu perforasi dan tertutup oleh pancreas.
Dengan terjadinya penetrasi maka akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrohepatik,
gastroenterik dan gastrokolik fistula (Hadi, 2002).
2. Hematemesis
Hematemesis yang masif dan melena terjadi ± 5 % dari karsinoma ventrikuli yang gejala-gejalanya
mirip seperti pada perdarahan massif maka banyak darah yang hilang sehingga timbullah anemia
hipokromik(Hadi, 2002).
3. Obstruksi
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah-
muntah (Hadi, 2002).
4. Adhesi
Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ
sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut (Hadi, 2002)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker lambung. Keluhan anoreksia terjadi pada
hampir semua pasien yang mengalami kanker lambung. Keluhan gastrilointestinal yang lazim
biasanya adalah nyeri epigastrium, berat badan menurun dengan cepat, melena dan anemia; pada
kondisi ini biasanya sudah ada metastasis dalam kelenjar getah bening, regional, paru, otak,
tulang,dan ovarium.
Pada pengkajian riwayat penyakit, penting diketahui adanya penyakit yang pernah diderita seperti
ulkus peeptikum atau gastritis kronis yang disebabkan oleh infeksi. H.pylori. Pengkajian perilaku/
kebiasaan yang mendukung peningkatan resiko penyakit ini, seperti konsumsi alkohol dan tembakau
kronis, konsumsi makanan yang diasinkan (seperti daging bakar atau ikan asin). Perawat juga
mengkaji terdapatnya penurunan berat badan selama ada riwayat penyakit tersebut.
Pengkajian psikososial biasanya didapatkan adanya kecemasan berat setelah pasien mendapat
informasi mengenai kondisi kanker lambung. Perawat juga mengkaji pengetahuan pasien tentang
program pengobatan kanker; meliputi radiasi, kemoterapi dan pembedahan gastrektomi. Pengkajian
tersebut memberikan inoformasi untuk merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Walaupun pemeriksaan fisik tidak banyak membantu untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada
pemeriksaan gastrointestinal akan didapatkan adanya anoreksia, penurunan berat badan sehingga
pasien terlihat kurus.
Pengkajian diagnostik yang diperlukan untuk kanker lambung adalah pemeriksaan radiografi,
endoskopi biopsi, sitologi, dan laboratorium klinik

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita kanker lambung antara lain:

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis


2. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan
mencerna makanan
3. Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit yang dialaminya

C. Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
Tujuan : Frekuensi nyeri yang dirasakan oleh klien dapat berkurang
Kriteria hasil :
a. Nyeri yang dirasakan berkurang
b. Ekspresi wajah klien rileks
c. Klien dapat merasa nyaman
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan; lokasi, kualitas frekuensi,
durasi, dsb.

8
9

R : Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau


keeftifan intervensi selanjutnya
b. Ajarkan teknik relaksasi dan nafas dalam pada saat nyeri muncul
R : Mengalihkan pasien dari nyeri yang dirasakannya dan dapat
meningkatkan rasa nyaman
c. Berikan tindakan kenyamanan dasar pada dan aktivitas hiburan
R : Meningkatkan rasa nyaman dan relaksasi pasien
d. Kolaborasi dalam pemberian analgesic
R : Dapat menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan
pasien.

2. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan


mencerna makanan
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan dan sesuai dengan
tinggi badan
b. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
c. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
d. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan

Intervensi :
a. Jaga kebersihan mulut pasien
R : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
b. Sajikan makanan yang mudah dicerna dalam keadaan hangat dan berikan
sedikit-sedikit tapi sering.
R : Meningkatkan selera makan dan intake makanan
c. Tingkatkan intake makanan dengan mengurangi gangguan lingkungan
seperti berisik dan lain-lain, jaga privasi pasien, jaga kebersihan ruangan.
R : Cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan
d. Bantu pasien makan jika tidak mampu.
R : Membantu pasien makan sehingga meningkatkan intake makanan
e. Berikan dorongan masukan cairan yang adekuat, tetapi batasi cairan pada
waktu makan.
R : Tingkat cairan diperlukan untuk menghilangkan produk sampah dan
mencegah dehidrasi.

3. Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi


Tujuan : Ansietas klien menurun
Kriteria hasil :
10

a. Klien lebih rileks


b. Nadi normal
c. Tidak terjadi peningkatan respirasi
Intervensi :
a. Berikan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam
R : Pasien dapat mengekspresikan rasa takut, masalah, dan kemungkinan
rasa marah akibat diagnosisi dan prognosisi.
b. Dorongpasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanya
R : Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta
kesalahan konsep tentang diagnostic
c. Pertahankan kontak sering dengan pasien, bicara dengan menyentuh pasien
bila tepat
R : Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak

4. Kurang pengetahuan tentang penyakit yang dialaminya


Tujuan : Kurang pengetahuan teratasi
Kriteria hasil :
a. Mengungkapkan informasi akurat tentang diagnosa dan aturan pengobatan
pada tingkatan kesiapan diri sendiri.
b. Melakukan perubahan gaya hidup yang perlu dan berpartisipasi dalam
aturan pengobatan.

Intervensi :
a. Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pemahaman diagnosa
khusus.
R : Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini, mengidentifikasi kebutuhan
belajar dan memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat
keputusan berdasarkan informasinya.

b. Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatan kanker .


R : Membantu idetifikasi ide, sikap, rasa takut, kesalahan komsepsi dan
kesenjangan pengetahuan tentang kanker

c. Minta pasien untuk umpan balik verbal dan perbaiki kesalahan konsep
tentang tipe kanker individu dan pengobatannya
R : Kesalahan konsep tentang kanker lebih mengganggu dari pada
kenyataan dan mempengaruhi pengobatan atau penurunan penyembuhan.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ca gaster / kanker lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan dilambung. Kanker
lambung sering dimulai pada sisi dimana lapisan lambung meradang. Tetapi banyak ahli yakin
bahwa peradangan adalah akibat dari kanker lambung, bukan sebagai penyebab kanker.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Helikobacter Pylori dan juga didukung oleh beberapa faktor
resiko seperti umur, jenis kelamin, genetik, status kesehatan, status sosial ekonomi serta gaya hidup
dan pola makanan serta diet yang tidak sesuai yang dapat memicu terjadinya kanker lambung.
Sehingga diperlukan perhatian khusus atas faktor-faktor resiko yang mungkin dapat menyebabkan
penyakit ini agar dapat terhindar dan menjalani hidup dengan sehat.

B. Saran
Makalah yang telah disusun ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu diharapkan saran dan
kritik yang membangun dari para pembaca demi sempurnanya makalah ini. Terima kasih.

11
DAFTAR PUSTAKA

Askandar, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: FKUNAIR

Cameron, John L. 1997. Terapi Bedah Mutakhir, Edisi 4, Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara

Carpenito Kep, Lynda Jual. 1995. Diagnosa Keperawatan, Edisi 6. Jakarta: EGC.

Tambunan, W. Gani. 2000. Patologi Gastroenterologi. Jakarta: EGC.

Tjokronegoro, Arjatmo. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Jakarta: FKUI.

Syamsuhidayat, R dan Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Uemura .N,M.D . et.al .,2000. Heliobacter Pylori Infection and the Development of Gastric Cancer,
Arif muttaqin & Kumala Sari.2010.Gangguan gastrointestinal,Banjarmasin.Salemba Medika.

http://content.nejm.org/cgi/content/short/html

https://indahverawati.wordpress.com/2015/05/02/asuhan-keperawatan-kanker-lambung/

http://sanirachman.blogspot.co.id/2009/10/karsinoma-lambung.html

iii