You are on page 1of 5

TETRASIKLIN

Tetrasiklin merupakan salah satu obat antimikroba yang menghambat sintesis protein mikroba.
Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein. Sintesis protein
berlangsung di ribosom, dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas
atas dua subunit, yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan
50S. untuk berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai
mRNA menjadi ribosom 70S.

URAIAN OBAT

Rumus Struktur

C22H24N2O8

Indikasi

Kegunaan tetracycline adalah untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang peka
terhadap antibiotik ini, seperti :

 Infeksi Kulit dan jaringan lunak : selulitis, furunkulosis, pastular dermatosis, dan
acne/jerawat.
 Infeksi saluran pernapasan : faringitis, sinusitis, tonsilitis, mastoiditas, ototis
media, bakterial pneumonia, bronkitis, dan laringitis.
 Infeksi telinga, hidung, tenggorokan.
 Infeksi saluran kemih dan kelamin : pielonefritis, sistitis, pielitis, prostalitis, uretritis, dan
gonorrhoeae.
 Infeksi pada saluran pencernaan : gastrocateritis, disentri amuba dan basiler, diare
disebabkan bakteri.
 Antibiotik ini bisa juga digunakan untuk pengobatan demam tifoid.
 Untuk mengobati infeksi karena pembedahan.
 Obat ini adalah antibiotik lini pertama untuk pengobatan Rickettsia, Lyme desease (B.
burgdorferi),demamQ
(Coxiella), psittacosis dan limfogranuloma venereum (Chlamydia), Mycoplasma pneumonia
e dan nasal carriage meningococci.

Mekanisme Kerja

Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya.Paling sedikit terjadi
2 proses dalam masuknya antibiotic ke dalam ribosom bakteri gram-negatif, pertama yang
disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik,ke dua ialah system transport aktif. Setelah masuk
maka antibiotic berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya komplek tRNA –
asam amino pada lokasi asam amino.

Kontra Indikasi

 Penggunaan obat ini untuk pasien dengan riwayat pernah mengalami reaksi
alergi/hipersensitivitas pada tetracycline atau derivatnya harus dihindari.
 Penderita gangguan ginjal berat dikontraindikasikan menggunakan antibiotik ini.
 Tidak boleh digunakan secara bersamaan dengan methoxyflurane, vitamin A atau retinoid.
 Ibu menyusui tidak boleh menggunakan antibiotik ini.

Interaksi Obat

1) Interaksi terhadap obat lain :


Berikut ini adalah interaksi dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :

 Jika diberikan bersamaan dengan susu, yogurt, dan produk susu lainnya menjadi tidak aktif.
 Makanan mengurangi penyerapan tetracycline.
 Hal yang sama terjadi jika diberikan bersamaan dengan obat gangguan pencernaan (antasida
dan obat-obat mulas) yang mengandung divalen dan trivalen kation (mis Al, Ca, Mg), Fe,
Zn dan Na persiapan bikarbonat, kaolin-pektin, subsalisilat, sucralfate, strontium ranelate,
colestipol dan kolestiramin.
 Sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan alkaloid ergot dan methotrexate, karena
potensi toksik obat-obat ini meningkat.
 Tetracycline dapat mengganggu efek bakterisida penicillin.
 Dapat mempotensiasi efek antikoagulan.
 Dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi oral.
 Efek nefrotoksik tetracycline diperburuk oleh diuretik atau obat nefrotoksik lain.
 Dapat meningkatkan efek hipoglikemik insulin dan sulfonilurea pada pasien diabetes
mellitus.
 Penggunaan bersamaan dengan methoxyflurane dapat mengakibatkan keracunan ginjal yang
fatal.
 Peningkatan risiko benign intracranial hipertensi jika digunakan bersamaan dengan vitamin
A atau retinoid (mis acitretin, isotretinoin, tretinoin).

2) Interaksi terhadap minuman :

Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium membentuk senyawa yang tidak dapat
diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama
susu, atau suplemen vitamin-mineral yang mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi
berkurang.

Efek samping

Berikut adalah beberapa efek samping tetracycline :

 Kebanyakan efek samping tetracycline yang muncul adalah mual, muntah, diare, radang
lidah, radang usus, dermatitis, dan urtikaria.
 Beberapa efek samping yang tidak begitu serius seperti : luka atau bengkak di dubur atau
area genital, diare atau sakit perut, bercak putih atau luka di bagian dalam mulut, kesulitan
menelan, dan keputihan yang terasa gatal.
 Efek samping lainnya berupa : pusing dan sakit kepala parah, penglihatan kabur, demam,
menggigil, nyeri tubuh, gejala flu, kencing lebih sedikit dari biasanya atau tidak sama sekali,
urin berwarna gelap, rasa sakit parah pada perut bagian atas menyebar ke punggung, detak
jantung cepat, kehilangan nafsu makan, sakit kuning (menguningnya kulit atau mata),
mudah memar atau perdarahan.
 Antibiotik ini menghambat perkembangan gigi dan tulang termasuk untuk janin sehingga
pemberian tetracycline untuk wanita hamil sebaiknya dihindari.
 Menyebabkan gigi kuning, abu-abu, coklat hingga hitam, terutama untuk bayi dan anak-
anak dibawah usia 8 tahun.
 Menyebabkan efek fotosensitifitas pada kulit (paparan cahaya matahari secara intens
sebaiknya dihindari selama pemakaian antibiotik ini).
 Reaksi pada kulit biasanya berupa kulit panas, mengelupas, kulit menjadi pucat atau
menguning dan ruam kulit merah.
 Tetracycline juga bisa menyebabkan kesulitan nafas dan shock anafilaksis pada beberapa
orang yang peka.

Bentuk Sediaan

Kapsul (250 mg, 500 mg). Kapsul sebaiknya diminum dengan air putih yang banyak saat berdiri
atau duduk.

Dosis dan Aturan Pakai


Dewasa : 250-500 mg setiap 6 jam. Maksimal : 4 g / hari.
Anak usia ≥12 tahun maksimal : 2 g / hari. Diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.

FARMAKOKINETIK

Absorpsi

Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Absorpsi sebagian besar
berlangsung di lambung dan usus halus. Adanya makanan dalam lambung menghambat
penyerapan, kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu oleh
pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar
diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat
dalam antasida, dan juga ferum.

Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang
bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar
dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan
tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat
dalam ASI dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin
dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.

Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati, sehingga kurang aman pada
pasien gagal ginjal.

Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan melalui
empedu. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali
kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami
sirkulasi enterohepatik, maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah
terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini
akan mengalami akumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.

FARMAKODINAMIK

Golongan tetrasiklin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribososm
bakteri. Pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui sistem transpor aktif.
Setelah masuk antibiotik berikatan secara reversibel dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan
tRNA-aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai
peptida yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein. Tetrasiklin termasuk
antibiotika broad spektrum. Spektrum golongan tetrasiklin umumnya sama, sebab mekanisme
kerjanya sama, namun terdapat perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-masing derivat
terhadap kuman tertentu. Derivat dari tetrasiklin yaitu: demeklosiklin, klortetrasiklin, doksisiklin,
methasiklin, oksitetrasiklin, dan minosiklin.
Mekanisme resistensi yang terpenting adalah diproduksinya pompa protein yang akan
mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri. Protein ini dikode dalam plasmid dan dipindahkan dari
satu bakteri ke bakteri lain melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu
jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya.