You are on page 1of 22

I am a Pharmacist

Senin, 07 November 2016


FARMAKOTERAPI ANTIBIOTIK PROFILAKSIS
1. DEFINISI

Antibiotik profilaksis adalah penggunaan antibiotik sebelum, selama atau setelah diagnosa, terapi
atau prosedur operasi untuk mencegah komplikasi infeksi (SIGN, 2014).
Tujuan pemberian antibiotik profilaksis pada kasus pembedahan:

 Penurunan dan pencegahan kejadian Infeksi Luka Operasi (ILO)


 Penurunan morbiditas dan mortalitas pascaoperasi.
 Penghambatan muncul flora normal resisten.
 Meminimalkan biaya pelayanan kesehatan (Menkes RI, 2011)

2. EPIDEMIOLOGI
Sekitar 1 juta pasien menderita infeksi luka setiap tahun di Amerika Serikat. Infeksi luka
menyebabkan perpanjangan rawat inap di rumah sakit rata-rata 1 minggu dan kenaikan biaya
rumah sakit sebesar 20 % (Holzheimer, 2001).
Berdasarkan statistik National Center for Health, sekitar 46 juta prosedur bedah telah di
lakukan di Amerika serikat, yang mana sebagian besar di lakukan dirawat jalan yang
menyebabkan infeksi. Infeksi umumnya adalah komplikasi paling umum dari pembedahan.
Infeksi luka operasi (SSIS) terjadi sekitar 3% sampai 6% pada pasien serta memperpanjang biaya
waktu rawat inap yaitu sekitar 7 hari pertahun sebesar $5 sampai $10 miliar. SSIS berada pada
urutan ketiga (14%-16%) yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial di rumah sakit,
dan merupakan penyebab utama (40%) kejadian infeksi nosokomial pada pasien bedah.
Pemberian antibiotik propilaksis menurunkan resiko infeksi setelah prosedur operasi dan
merupakan komponen penting untuk perawatan pasien bedah (Dipiro, 2008).

3. PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS


Menurut Munckhof (2005) dan Menkes RI (2011) prinsip penggunaan antibiotik profilaksis
bedah yaitu:

 Putuskan apakah penggunaan antibiotik profilaksis diperlukan.


 Identifikasi jenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi setelah operasi.
 Pilih antibiotik yang aktif melawan bakteri patogen-patogen luka bedah dengan spektrum
antibiotik yang tersempit.
 Antibiotik yang lebih baru dengan spektrum luas sebaiknya digunakan hanya untuk terapi
infeksi yang resisten.
 Pilih obat yang termurah jika terdapat 2 obat yang mempunyai spektrum antibiotik,
efikasi, toksisitas dan kemudahan pemberian yang sama.
 Antibiotik dengan toksisitas rendah.
 Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obat anestesi.
 Konsentrasi antibiotik harus lebih besar dari konsentrasi hambat minimal patogen-
patogen yang dicurigai, dan konsentrasi ini harus dicapai pada saat pengirisan.
 Berikan dosis pada waktu yang sesuai.
 Berikan antibiotik untuk periode yang pendek (dosis tunggal jika operasi kurang dari atau
sama dengan 4 jam) menggunakan antibiotik yang efektif dan paling aman.
 Jangan gunakan antibiotik profilaksis untuk mengatasi teknik operasi yang buruk.
 Evaluasi protokol antibiotik profilaksis secara regular baik dari sisi biaya maupun pola
resistensi antibiotik di rumah sakit.

4. JENIS ANTIBIOTIK PROFILAKSIS BERDASARKAN KONDISI KLINIK


A. Antibiotik profilaksis non-pembedahan
Profilaksis non-pembedahan meliputi pemberian antibiotik untuk mencegah kolonisasi atau
infeksi asimptomatis. Profilaksis non-pembedahan juga meliputi pemberian obat setelah
kolonisasi oleh atau inokulasi patogen-patogen tetapi sebelum penyakit berkembang. Profilaksis
ini diindikasikan pada individu-individu yang beresiko tinggi dengan patogen-patogen yang
virulen terpilih dan pada pasien-pasien yang mengalami peningkatan resiko untuk timbul infeksi
karena penyakit yang mendasarinya (misalnya inang yang inkompromis). Profilaksis paling
efektif ketika ditujukan melawan organisme-organisme yang diduga rentan terhadap agen-agen
antibiotika (Katzung, 2004).
B. Antibiotik profilaksis pembedahan
Pemilihan antibiotik profilaksis bedah dipengaruhi oleh jenis prosedur bedah, mikroorganisme
patogen yang paling mungkin ada dan menginfeksi, keamanan dan keefektifan antibiotik, catatan
keberhasilan, Biaya serta pola kepekaan patogen nosokromial pada institusi terkait spesifik.

5. INFEKSI LUKA OPERASI


Surgical site infection (SSI) atau infeksi pada tempat operasi merupakan salah satu
komplikasi utama operasi yang dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas dan biaya perawatan
penderita di rumah sakit.
Surgical Site Infection (SSI) adalah keadaan terinfeksinya tempat operasi, yang ditentukan
berdasarkan kriteria The Center for Desease Control (CDC) yang direvisi tahun 1992 atau
disimpulkan dari pengamatan pasca operasi di bangsal atau di poliklinik (Yuwono, 2013).
Faktor resiko terjadinya SSI antara lain sifat operasi (derajat kontaminasi operasi), nilai ASA
(American Society of Anesthesiologists), komorbiditas DM (diabetes melitus), suhu praoperasi,
jumlah lekosit dan lama operasi.
Tabel. Jenis Patogen pada pasien dengan SSI
Bakteri N %
Escherichia Coli 5 31,25
Staphylococcus aureus 3 18,75
Pseudomonas aeruginosa 2 12,50
Streptococcus faecalis 2 12,50
Citrobacter freundii 1 6,25
Klebsiella pneumonia 1 6,25
Streptococus bovis 1 6,25
Candida nonalbicans 1 6,25
Total 16 100

(Yuwono, 2013)
Klasifikasi Infeksi Luka Operasi
a. Infeksi luka operasi superfisial
Infeksi luka operasi yang terjadi dalam jangka waktu 30 hari pasca operasi yang meliputi
kulit atau jaringan subkutan di atas fasia, disertai: a) adanya purulent dengan atau tanpa hasil
laboratorium dari luka permukaan, b) kuman dapat diisolasi dari kultur cairan atau jaringan dari
luka permukaan, c) terdapat paling sedikit satu dari tanda-tanda infeksi: sakit atau perih,
bengkak, kemerahan, atau rasa panas dan luka sengaja dibuka oleh dokter, kecuali kultur negatif
atau d) dokter yang menangani menyatakan infeksi.
b. Infeksi luka operasi dalam/profunda
Yaitu infeksi luka operasi yang terjadi seteah 30 hari-1 tahun pasca operasi (bila ada implant)
dan infeksi melibatkan jaringan lunak bagian dalam (fasia dan otot) disertai: a) adanya purulent
dari luka dalam tetapi tidak dari organ, b) dehisensi luka atau luka dibuka oleh dokter karena ada
tanda-tanda infeksi: suhu> 380C, rasa sakit, atau perih kecuali kultur negatif, c) abses atau tanda
infeksi lain yang melibatkan luka dalam atau d) dokter yang menangani menyatakan infeksi.
c. Infeksi luka operasi organ/rongga
Yaitu infeksi luka operasi yang terjadi setelah 30 hari-1 tahun pasca operasi (bila ada
implant) dan infeksi melibatkan beberapa anatomi (organ), disertai: a) adanya purulent dari drain
luka dalam tetapi tidak dari organ, b) kuman dapat diisolasi dari kultur cairan atau jaringan dari
organ, c) abses atau tanda infeksi lain yang melibatkan organ/rongga atau d) dokter yang
menangani menyatakan infeksi (SIGN 2014, Meakins 2008).

American Society of Anesthesiologists (ASA) membuat skor resiko preparasi untuk


mengidentifikasi resiko infeksi luka operasi berdasarkan adanya komorbiditas pada waktu
operasi. Skor ASA > 2 menunjukkan meningkatnya resiko infeksi luka operasi. Adanya 2 faktor
resiko komorbiditas (skor ASA > 2) dan lamanya operasi dapat digunakan untuk menghitung
indeks resiko (SIGN, 2014). Klasifikasi status fisik pasien menurut ASA yaitu:
Skor ASA Status Fisik
1 Pasien normal dan sehat
2 Pasien dengan kelainan sistemik ringan
3 Pasien dengan kelainan sistemik berat, aktivitas terbatas
4 Pasien dengan kelainan sistemik berat yang sedang menjalani pengobatan
untuk bertahan hidup
5 Pasien dengan keadaan yang sangat jelek, diperkirakan bisa bertahan
sekitar 24 jam dengan atau tanpa operasi

Kemungkinan infeksi luka operasi berdasarkan jenis operasi dan indeks resiko
Jenis operasi Indeks resiko
0 1 2
Tidak terdapat Terdapat 1 faktor terdapat 2 faktor
faktor resiko (%) resiko (%) resiko (%)
Bersih 1,0 2,3 5,4
Bersih- 2,1 4,0 9,5
terkontaminasi
Terkontaminasi 3,4 6,8 13,2
6. KLASIFIKASI LUKA OPERASI BERDASARKAN DERAJAT KONTAMINASI LUKA
OPERASINYA
Kelas/angka infeksi Definisi Antibiotik profilaksis
Bersih (Kelas I) < 2% Operasi yang dilakukan pada daerah Kelas operasi bersih
dengan kondisi prabedah tanpa terencana umumnya
infeksi, tanpa membuka traktus tidak memerlukan
(respiratorius, gastrointestinal, antibiotik profilaksis
urinarius, bilier), operasi terencana, kecuali pada beberapa
atau penutupan kulit primer dengan jenis operasi, misalnya
atau tanpa digunakan drain tertutup mata, jantung, dan
sendi
Bersih terkontaminasi Operasi yang dilakukan pada traktus Pemberian antibiotika
(Kelas II) 5-10% (digestivus, bilier, urinarius, profilaksis pada kelas
respiratorius, reproduksi kecuali operasi bersih
ovarium) atau operasi tanpa disertai kontaminasi perlu
kontaminasi yang nyata. dipertimbangkan
manfaat dan risikonya
karena bukti ilmiah
mengenai efektivitas
antibiotik profilaksis
belum ditemukan
Kontaminasi (Kelas Operasi yang membuka saluran cerna, Kelas operasi
III) > 20% saluran empedu, saluran kemih, kontaminasi
saluran napas sampai orofaring, memerlukan antibiotik
saluran reproduksi kecuali ovarium terapi (bukan
atau operasi yang tanpa pencemaran profilaksis)
nyata (Gross Spillage)
Operasi kotor (kelas Adalah operasi pada perforasi saluran Kelas operasi kotor
IV) 40% cerna, saluran urogenital atau saluran memerlukan antibiotik
napas yang terinfeksi ataupun operasi terapi
yang melibatkan daerah yang purulen
(inflamasi bakterial). Dapat pula
operasi pada luka terbuka lebih dari 4
jam setelah kejadian atau terdapat
jaringan nonvital yang luas atau nyata
kotor
(Dipiro, (2008) dan Fry, (2003))

7. PEMILIHAN ANTIBIOTIK
Pilihan antibiotik profilaksis tergantung pada jenis prosedur pembedahan, patogen yang
paling sering ditemui dalam prosedur pembedahan, profil keamanan dan efikasi dari agen
antimikroba, literatur pendukung penggunaan antibiotik profilaksis, dan biaya. Meskipun
kebanyakan SSIs (surgical-site infections) melibatkan flora normal pasien, pemilihan
antimikroba juga harus memperhitungkan pola kerentanan nosokomial patogen dalam setiap
institusi. Biasanya, Antibiotik gram positif harus dimasukkan dalam pilihan profilaksis bedah
karena organisme seperti S. aureus dan S. epidermidis umumnya ditemui dalam flora kulit.
Keputusan untuk memperluas antibiotik profilaksis untuk agen dengan spektrum gram negative
dan anaerobik tergantung pada surgical-site (misalnya, saluran pernapasan atas saluran, saluran
pencernaan, saluran urogenital) dan apakah operasi akan terdapat membrane mukosa kental yang
mungkin berisi flora (Dipiro, 2008).
Menurut Theurapeutic Guidelines AHSP (2013); idealnya, agen antimikroba untuk
profilaksis bedah harus dapat: (1) mencegah SSI, (2) mencegah morbiditas SSI terkait dan
kematian, (3) mengurangi durasi dan biaya perawatan kesehatan (4) tidak menghasilkan efek
samping, dan (5) tidak memiliki konsekuensi yang merugikan bagi flora mikroba pasien atau
rumah sakit. Untuk mencapai tujuan tersebut, agen antimikroba harus (1) aktif terhadap patogen
yang paling mungkin mencemari site of surgery, (2) diberikan dalam dosis dan waktu yang
sesuai sehingga menjamin konsentrasi serum dan jaringan selama periode kontaminasi
potensial,(3) aman, dan (4) diberikan untuk periode yang efektif terpendek untuk meminimalkan
efek samping, pengembangan resistensi, dan biaya.
Meskipun profilaksis antimikroba dapat diberikan melalui berbagai rute (misalnya, lisan,
topikal, intramuskular), rute parenteral lebih disukai karena konsentrasi jaringan yang adekuat
dapat tercapai. Sefalosporin umumnya diresepkan untuk profilaksis bedah karena merupakan
spektrum antimikroba yang luas, profil farmakokinetik yang menguntungkan, insiden efek
samping rendah, dan biaya rendah. Generasi pertama sefalosporin, seperti cefazolin adalah
pilihan yang lebih disukai untuk bedah profilaksis (Dipiro, 2008). Bagi kebanyakan prosedur,
cefazolin adalah obat pilihan untuk profilaksis karena merupakan agen antimikroba yang paling
banyak dipelajari, dengan khasiat yang terbukti. Memiliki durasi yang diinginkan tindakan,
spectrum aktivitas terhadap organisme yang biasa ditemui dalam operasi, keamanan yang baik,
dan biaya rendah (Anonim, 2013).
Bila agen spektrum gram negatif dan anaerobik diharapkan, maka sefalosporin
antianaerob, seperti cefoxitin dan cefotetan, merupakan pilihan yang tepat. Meskipun
sefalosporin generasi ketiga (misalnya, ceftriaxone) telah dianjurkan untuk profilaksis karena
peningkatan spektrum gram-negatif dan waktu paruh yang lebih panjang, namun aktivitas gram
positif dan aktivitas anaerobik yang rendah sehingga penggunaan agen ini kurang meluas. Reaksi
alergi adalah efek samping yang paling umum yang terkait dengan penggunaan sefalosporin.
Reaksi dapat terjadi di kulit, manifestasi di lokasi infuse seperti ruam, pruritus, dan anafilaksis
(<0,02%). Kesamaan structural antara penisilin dan sefalosporin (masing-masing berisi cincin β-
laktam) telah menyebabkan kebingungan tentang cross-alergenisitas antara dua kelas obat.
Vancomycin menjadi aternatif cefazolin dapat institusi dengan tingkat kejadian MRSA yang
tinggi atau untuk pasien yang alergi β laktam (Dipiro, 2008).

8. ANTIBIOTIK PROFILAKSIS BERDASARKAN JENIS OPERASINYA


Jenis-jenis pemilihan antibiotic berdasarkan jenis operasinya
Regimen
Patogen
Jenis Pembedahan profilaksis Yang Keterangan
Penginfeksi
direkomendasikan
1. Pembedahan Gastrointestinal

a. Gastroduodenal Gram Negatif Ceftazolin 1 g x 1 Hanya untuk pasien yang


Bacillus Enterik berisikotinggi
Gram positif Cocus (penyumbatan, perdarahan,
Enteric, Anaerob maglinasi, terapi penekan
oral asam, obesitas)

b. Saluran Empedu
Gram Negatif Cefazolin 1 g x 1 Hanya untuk pasien yang
bacillus Enterik, untukpasien yang beresiko tinggi (kolesitisakut,
bakterianaerob beresiko tinggi batu pada saluran, pernah
operasi saluran empedu,
c. Transjugular jaundice, umur> 60 th,
intrahepatic obesitas diabetes mellitus
portosystemic Gram Negatif Ceftriaxone 1 g x 1 Long-acting sefalosporin
shunt (TIPS) bacillus Enterik, lebih disukai
bakteri anaerob
d. Appendectomy
Gram Negatif Cefoxitin atau Dosis intraoperative kedua
bacillus Enterik, Cefotetan 1g x 1 cefoxitin mungkin
bakterianaerob disyaratkan apabila prosedur
berlangsung lebih dari 3 jam
e. Colorectal Gram Negatif PO : Neomicyn 1 g Manfaat atas penggunaan
bacillus Enterik, + erytromisin base oral yang ditambahkan
bakterianaerob 1 g pada jam 13:00, intravena masih controversial
14:00 dan 23:00 1 kecuali untuk colostomy
hari sebelum reversal dan reseksi rectal
operasi plus
persiapan
mekanisme bowel
IV : Cefoxitin atau
cefotetan 1g x 1
f. Endoskopi Variabel tergantung PO : Amoxicilin 2g Hanya direkomendasikan
Gastrointestinal pada prosedur tapi x1 pada pasien yang beresiko
biasanya gram- IV : Ampicilin 2 g tinggi. Menjalani prosedur
negatif basilus x 1 atau seftazolin yang rawan.
enterik, gram 1g x 1
positive cocci,
anaerobes oral
2. Pembedahan urologic
a. Reseksi Prostat, Escherichia coli Cefazolin 1 g x 1 Umumnya tidak dianjurkan
Reseksi kemih, untuk pasien dengan
cystoscopy kultururin preoperative steril
3. PembedahanGynecological
a. Operasi Caesar Gram Negatif Sefazolin 2g x 1 Dapat di berikan sebelum
basillus enteric, awal sayatan atau setelah
anaerob luka oprasi tertutup
streptococcus
group B,
enterococcus
b. Histerectomi Gram negative Vaginal : sefazolin Antibiotic profilaksis tidak
basillus enteric, 1g x 1 boleh lebih dari 24 jam.
anaerob, Abdominal :
streptococcus sefotetan 1 g x 1
group B, atausefazolin 1g x 1
enterococcus.
4. Pembedahan kepala dan leher
a. Pembedahan Staphylococcisaure Cefazollin 2 g atau Ulang dosis intraoperative
Maxillofacial us, streptococci clindamisin 600 untuk pembedahan yang
oral anaerob mg, berlangsung lebih dari 4 jam

b. Reseksi kanker Staphylococcisaure Clindamycin 600 Tambahkan gentamisin untuk


pada kepala dan us, streptococci mg pada saat proses bersih kontaminasi
leher oral anaerob induksi dan setiap 8
jam, 2 kali
5. Pembedahan Cardiothoracic
a. Pembedahan Staphylococcisaure Cefazolin 1g setiap
Pasien >80 kg harus
jantung us, Staphylococcus 8 jam x 48 jam menerima 2 g cafazolin, pada
epidermidis, prevalensi tinggi kejadian
Corynebacterium resistensi
Staphilococcusaureus,
b. Pembedahan vancomisin dapat
toraks dipertimbangkan
S. aureus, S. Cefuroxime 750 mg Generasi pertama
epidermidis, IV setiap 8 jam x sefalosporin inadequate dan
Corynebacterium, 48 jam durasi pendek dari profilaksis
enteric tidak menunjukan efek yang
gram-negative adekuat.
bacilli
6. Pembedahan Vaskular
a. Pembedahan S. aureus, S. Cefazolin 1 g pada Meskipun komplikasi dari
Abdominal aorta epidermidis, enteric saat induksi dan infeksi mungkin jarang
and lower gram-negative setiap 8 jam x 2 terjadi, pemindahan infeksi
extremity vascular bacilli dosis lebih berhubungan dengan
kejadian morbiditas yang
signifikan
7. Pembedahan
Ortopedi
b. Pembedahan S. aureus, S. Cefazolin 1 g x Vankomisin dapat digunakan
tulang epidermidis 1sebelum operasi, untuk pasien yang alergi
Kemudian setiap 8 terhadap penisilin.
jam x 2 dosis
c. Perbaikan tulang S. aureus, S. Cefazolin 1 g x 1 Penggabungan frakur di obati
pinggul yang retak epidermidis sebelum operasi, jika di perkirakan ada infeksi
Kemudian setiap 8
jam x 48 jam
8. Pembedahan otak
a. Prosedur S. aureus, S. Cefazolin 1 g setiap Tidak ada obat lain yang
pengalihan cairan epidermidis 8 jam x3 dosis atau menunjukan efek yang lebih
serebrospinal ceftriaxone 2 g x 1 baik di bandingkan cefazolin
melalui penelitian RCT
b. Crainotomy S. aureus, S. Cefazolin 1 g x 1 Trimethoprim–
epidermidis atau cefotaxime sulfamethoxazole
1gx1 (160/800mg)
IV x 1 dapat di subtitusi
c. Pembedahan sum- untuk pasien yang alergi
sum tulang penicillin.
S. aureus, S. Cefazolin 1 g x 1 Penelitian terhadap
epidermidis Perbandingan terhadap
dengan agen antibiotic yang
lain terbatas.

9. JADWAL PEMBERIAN ANTIBIOTIK


Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai
infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah. Antibiotik
profilaksis digunakan untuk membantu mencegah infeksi. Jika seorang ibu dicurigai atau
didiagnosis menderita suatu infeksi, pengobatan dengan antibiotik merupakan jalan yang tepat.
Pemberian antibiotik profilaksis 30 menit sebelum memulai suatu tindakan, jika memungkinkan,
akan membuat kadar antibiotik dalam darah yang cukup pada saat dilakukan tindakan.
Dalam operasi bedah sesar, antibiotik profilaksis sebaiknya diberikan sewaktu tali pusat
dijepit setelah bayi dilahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotik profilaksis sudah mencukupi
dan tidak kurang efektif jika dibanding dengan tiga dosis atau pemberian antibiotik selama 24
jam dalam mencegah infeksi (Saifudin, 2008).
Dilihat dari waktu saat pemberian antibiotik profilaksis pada umumnya 30 – 60 menit
sebelum operasi, secara praktis umumnya diberikan pada saat induksi anestesi. Pada bedah sesar,
untuk menghindari masuknya antibiotik pada janin, antibiotik dapat diberikan segera setelah
penjepitan tali pusat (Saifudin, 2008). Lama penggunaan antibiotik yang digunakan untuk
keperluan profilaksis pada umumnya memiliki waktu paruh yang pendek ( 1- 2 jam). Oleh
karena itu, pemakaian antibiotik harus diulang apabila operasi telah berlangsung 1 jam atau
lebih. Namun, pada penelitian lain didapatkan slow clearance antibiotik pada saat operasi.
Sefuroksim yang memiliki waktu paruh 1 – 2 jam, dapat bertahan sampai 2 – 4 jam sehingga
dengan pemberian tunggal tampaknya konsentrasi antibiotik dalam jaringan masih tetap
terpelihara (Saifudin, 2008).
Kombinasi 1 g neomycin dan 1 g erythromycin base diberikan oral pada 19, 18, dan 9 jam
sebelum operasi adalah regimen oral yang paling umum digunakan di AS. Selama 24 jam
pertama, infeksi tergantung pada jumlah koloni bakteri yang ada. Pada dua jam pertama
mekanisme pertahanan tubuh bekerja untuk menurunkan jumlah bakteri. Empat jam berikutnya,
jumlah bakteri konstan karena terjadi keseimbangan antara bakteri yang bermultiplikasi dan
bakteri yang dibunuh oleh sistem pertahanan tubuh. Enam jam pertama ini disebut sebagai
periode emas (Golden Period), setelah itu bakteri bermultiplikasi secara eksponen. Antibiotik
menurunkan pertumbuhan bakteri secara geometrik dan menunda reproduksi bakteri. Profilaksis
antibiotik diberikan untuk memperlama `Golden Period’ .
Pedoman untuk Memilih Antibiotik Profilaksis
Obat-obatan profilaksis harus diarahkan terhadap organisme yang mempunyai kemungkinan
terbesar dapat menyebabkan infeksi, tetapi tidak harus membunuh atau melemahkan seluruh
patogen. Untuk sebagian besar tindakan, sefalosporin generasi pertama atau kedua yang tidak
mahal, seperti sefazolin, mempunyai half-life yang cukup panjang dan aktif terhadap stafilokoki
dan streptokoki, efektif apabila diberikan secara intravena (IV) 30 menit sebelum pembedahan.
Kecuali pada apendektomi, di mana sefoksitin (Mefoxin) atau sefotetan (Cefotan) lebih baik
karena lebih aktif dari pada sefazolin terhadap organisme anaerobik dalam usus.
Antibiotik profilaksis diberikan dalam dosis yang menunjukkan konsentrasi efektif sebelum
kontaminasi bakteri intraoperatif. Pemberian yang dianjurkan adalah 30-45 menit sebelum insisi
kulit (biasanya bersamaan dengan induksi anestesia).

10. RESISTENSI ANTIBIOTIK


Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia.
Ketika seseorang terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik, pengobatannya menjadi lebih sulit
dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek
samping. Contoh bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik termasuk spesies yang
menyebabkan infeksi kulit, meningitis, penyakit menular seksual, tuberkulosis, dan infeksi
saluran pernapasan seperti pneumonia.
Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika suatu strain bakteri dalam tubuh manusia menjadi
resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi
evolusi acak dan juga bisa direkayasa oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat. Setelah
gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal
(antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada
keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen
resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”.
Sifat resistensi antibiotik pada dasarnya ditentukan oleh genom mikroba. Resistensi
mikroba terhadap antibiotika dapat berupa resistensi intrinsik atau acquired resistance.
Resistensi intrinsik adalah resistensi secara natural yang dimiliki oleh suatu jenis mikroba dan
biasanya ditentukan oleh gen kromosom. Selain itu, acquired resistance terjadi pada sel
sebelumnya pada keadaan rentan, diikuti dengan perubahan ke genom yang ada atau melalui
transfer informasi genetik antar sel. Kemudian, informasi tersebut diteruskan kepada sel anak
pada saat pembelahan sel, yang menyebabkan sel berikutnya menjadi kebal berkat informasi
yang diberikan pada saat pembelahan.
Secara ringkasnya resistensi dapat dijabarkan menjadi dua, yaitu sifat mikroba dari awal
sudah resisten dan mikroba yang pada awalnya peka, kemudian menjadi tidak peka terhadap
antibiotik yang bersangkutan. Alasan kenapa pada saat kita meminum antibiotik harus
dihabiskan semua adalah untuk mencegah adanya mikroba yang tersisa, dengan kata lain
mikroba belum habis tuntas bila penggunaan antibiotik dihentikan dihentikan secara tiba-tiba, hal
ini menyebabkan mikroba secara alamiah memberikan informasi kepada sel anak (sel
berikutnya) pada pembelahan agar memiliki pertahanan dalam menghadapi antibiotik yang
hampir membuat mikroba tersebut mati.
Macam-Macam Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik
 Resistensi terhadap penisilin dan sefalosporin
Resistensin bakteri terhadap penisilin dapat timbul akibat adanya mutasi yang
menyebabkan dihasilkannya produksi pengikat penisilin yang berbeda atau akibat bakteri
memerlukan gen-gen protein pengiakt penisilin yang baru. Resistensi terhadap penisilin juga
dapat muncul akibat bakteri memiliki sistem transfor membran luar (outer membrane) yang
terbatas, yang mencegah penisilin mencapai membran sitoplasma (lokasi protein pengikat
penisilin). Hal ini dapat terjadi akibat adanya mutasi yang mengubah porin yang etrlibat dalam
transport melewati membrane luar. Hal lain yang memungkinkan terjadinya resistensi bakteri
terhadap penisilin dan sefalosporin adalah apabila bakteri memiliki kemampuan untuk
memproduksi β-laktamase, yang akan menghidrolisis ikatan pada cincin β-laktam molekul
penisilin dan mengakibatkan inaktivasi antimikroba.
Resistensi mikroorganisme pathogen terhadap penisilin dan sefalosporin paling sering
terjadi akibat bakteri memiliki gen pengkode β-laktamase. Terdapat 3 kelas besar β-laktamase,
yaitu penisilinase, oksasilinase, dan karbenisilinase. Penisilinase memiliki kisaran aktivitas yang
luas terhadap penisilin dan selafosporin , sedangkan oksasilinase dan karbenisilinase memiliki
aktivitas yang lebih terbatas.
Pada bakteri enteric (bakteri fakultatif anaerob gram negative yang terdapat dalam
intestinal manusia), β-laktamase dihasilkan dalam konsentrasi rendah dan terikat pada membrane
luar. Enzim ini mencegah antimikroba β-laktan untuk mencapai tapak target pada membrane
sitoplasma dengan cara merusaknya saat antimikroba tersebut melewati membrane luar dan
lapisan periplasma (periplasma space). Gen yang mengkode β-laktamase terdapat pada
kromosom bakteri, pada bebrapa strain bakteri juga terdapat pada plasmid dan transposon.
Sebagian besar bakteri resisten penisilinjuga memilki gen β-laktamase pada plasmid terutama
plasmid R dan tranposon. Gen β-laktamase yang paling banyak terdapat secara luas adalah TEM-
1 yang terdapat pada transposon Tn4.
Staphylococci resisten-metisilin terjadi akibat produksi protein alami pengikat penisilin
PBP 2a atau 2’ yang memiliki afinitas rendah pada pengikatan metisilin. Sifat resistensi dikode
oleh gen kromosom bakteri (mecA) yang tidak ditemukan pada semua strain Staphylococcus
aureus sensitive-metisilin. Gen ini nampaknya terbatas pada Staphylococci, namun gen lain pada
Streptococci juga mengkode PBP yang memiliki afinitas rendah terhadap metisilin dan
antimikroba β-laktam lainnya.

 Resistensi Terhadap Vankomisin


Resistensi vankomisin berkembang akibat adanya enzim pada sel bakteri yyang resisten,
yang akan membuang residu alanin dari bagian peptida peptidoglikan. Vankomisin tidak dapat
terikat pada peptide yang berubah, namun peptide yang berubah tersebut dapat tetap berfungsi
dalam formasi ikatan silang selama sintesis peptidoglikan, sehingga bakteri resisten vankomisin
tetap dapat membuat dinding sel fungsional.

 Resisten Terhadap Tetrasiklin


Resistensi bakteri terhadap tetrasiklin dapat muncul bila dihasilkan membran sitoplasma
yang berbeda (bentuk perubahan) dan mencegah pengikatan tetrasiklin pada subunit 30S
ribosom, sehingga sintesis protein dapat terus berlangsung. Mekanisme resistensi tetrasiklin
lainnya adalah resistensi pompa eflux, didasarkan atas transpor tetrasiklin keluar sel secara cepat,
sehingga mencegah akumulasi tetrasiklin pada dosis toksik, sehungga sintesis protein bakteri
tidak terhambat. Hal ini terjadi akibat adanya mutasi pada gen yang menyebabkan protein eflux
tetrasiklin.
Secara normal, pada saat tetrasiklin berdifusi melewati membran sitoplasma bakteri,
tetrasiklin akan dikonversi dalam bentuk ionik. Hal ini membuat tetrasiklin tidak lagi dapat
berdifusi melewati membran sehingga menyebabkan akumulasi tetrasiklin di dalam sel, yang
akhirnya dapat menghambat sintesis protein bakteri dan menyebabkan kematian sel bakteri.
Protein eflux tetrasiklin adalah protein membran sitoplasma yang mentranspor bentuk
nondifusible tetrasiklin keluar sitoplasma. Pada sel bakteri yang resisten, tetrasiklin dikeluarkan
dari sitoplasma secepat difusinya kedalam sel, sehingga mencegah akumulasi tetrasiklin yang
dapat menghambat sintesis protein.

 Resistensi Terhadap Aminoglikosida


Resistensi terhadap antibiotik golongan aminoglikosida muncul karena sel bakteri
memproduksi enzim-enzim yang dapat menambah fosfat, asetat, atau gugus adenil pada berbagai
macam tempat pada antibiotik aminoglikosida. Antibiotik aminoglikosida yang telah
dimodifikasi tersebut nantinya tidak akan mampu terikat pada subunit 30S ribosom sehingga
tidak lagi dapat menghambat sintesis protein.
Pada dasarnya, satu macam enzim yang telah digunakan untuk memodifikasi
aminoglikosida tidak akan mampu memodifikasi aminoglikosida yang lain. Hal ini mencegah
penambahan mutasi yang akan meningkatkan kisara modifikasi aminoglikosida oleh enzim
pemodifikasi aminoglikosida. Sebagai contoh, tapak ikatan yang dimodifikasi oleh suatu muatan
resisten-sreptomisin mengubah suatu asam amino pada protein S12 pada subunit 30S ribosom
bakteri. Turunan semisintetik dari aminoglikosida selanjutnya didesain untuk resisten terhadap
enzim pemodifikasi aminoglikosida tersebut. Amikasin adalah salah satu aminoglikosida
semisintetik yang sangat resisten terhadap modifikasi oleh enzim sehingga banyak bakteri
sensitif terhadap antibiotik ini.
Resistensi aminoglikosida juga muncul atas dasar penurunan aktivitas transpor
antimikroba ke dalam sel bakteri. Aminoglikosida tidak ditranspor kedalam sel oleh spesies
bakteri Bacteroides, sehingga Bacteroides resisten terhadap antimikroba ini. Escherichia coli
juga lebih resisten terhadap aminoglikosida dalam kondisi anaerob seperti pada saluran
pencernaan manusia.

 Resistensi Terhadap Kloramfenikol


Resistensi kloramfenikol mayoritas disebabkan oleh adanya enzim yang menambahkan
gugus asetil kedalam antibiotik. Kloramfenikol yang terasetilasi tidak akan dapat terikat pada
submit 50S ribosom bakteri, sehingga tidak mampu menghambat sinetsis protein.
Mayoritas bakteri yag resistensi terhadap kloramfenikol memiliki plasmid dengan sebuah
gen yang mengkode kloramfenikol astiltransferase. Enzim ini menginaktivasi kloramfenikol
yang telah melewati membran plasma dan memasuki sel. Kloramfenikol asetiltransfase
diproduksi secara terus menerus oleh mayoritas Gram negatif, namun pada Staphylococcus
aureus, sintesis enzim ini diinduksi oleh kloramfenikol.

 Resistensi Terhadap Makrolida


Eritromisin dan antibiotik golongan makrolida yang lain terikat pada subunit 50S
ribosom bakteri dan mengeblok sintesis potein. Pada beberapa kasus, resistensi terhadap
antibiotik makrolida terjadi akiat mutasi pada target antibiotik. Mekanisme utama resistensi
makrolida adalah didasarkan atas enzim RNA metilase yang menambahkan gugus metil kedalam
gugus adenin spesifik pada subunit 50S rRNA. Antibiotik makrolida termasuk eriromisin tidak
akn terikat pad rRNA yang termetilasi.
Pada Escherchia coli dan beberapa strain bakteri resisten-eritromisin lainnya, terdapat
perubahan pada gen pengkode protein L4 atau L12 eritromisin pada subunit 50S ribosom bakteri,
mengakibatkan penurunan afinitas eritromisin terhadap ribosom. Pada Staphylococcus aureus,
resistensi eritromisin akibat dimetilasi residu adenin pada rRNA 23S.

 Resistensi Terhadap Fluorokuinolon


Antibiotik golongan fluorokkuinolon seperti halnya siprofloksasin dan norfloksasin
terikat pada subunit β enzim DNA girase, dan mengeblok aktivitas enzim yang essensial dalam
menjaga supercoling DNA dan penting dalam proses replikasi DNA. Mutasi pda gen pengkode
DNA girase menyebabkan diproduksinya enzim yang aktif namun tidak dapat diikat oleg
fluorokuinolon.

 Resistensi Terhadap Rifampisin


Rifampisin (rifampin) terikat pada subunit β-RNA polimerase bakteri dan menghambat
fungsi enzim ini dalam transkripsi mRNA. Rifampisin memiliki afinitas terhadap RNA
polimerase bakteri yang lebih tinggi dibandingkan terhadap RNApolimerase mamalia, sehingga
rifampisin dapat mengeblok transkripsi mRNA dan sintesis protein pada sel manusia. Resistensi
terhadap rifampisi muncul akibat mutasi pada gen subunit RNA polimerase. RNA polimerase
yang berubah akibat mutasi tersebut berfungsi secara normal, namun tidak dapat dihambat oleh
rifampisin.

 Resitensi Terhadap Sulfonamid dan Trimetoprim


Sulfa drug (sulfonamid) dan trimetropin meghambat reaksi yang berbeda pada jalur
metabolisme yang memproduksi asam tetrahidrofolat (tetrahydrofolic -acid), yang merupakan
kofaktor esensial dalam sintesis asam nukleat. Resistensi terhadap sulfonamid dan trimetoprim
disebabkan oleh mutasi pada gen pengkode enzim yang terlibat dalam jalur metabolisme sintesis
asam tetrahidrofolat. Enzim berubah berfungsi secara normal namun tidak dihambat oleh
sulfanaid dan trimetoprim.
11. INTERVENSI NON-PHARMACOLOGIC
1. Menggunakan teknik aseptik
( ruangan, personel, pasien, instrumen bedah )
2. Mempertahankan keadaan normothermia pada periode intraoperatif
Pasien yang mendapatkan anestesi sistemik selama operasi, temperatur tubuhnya bisa turun 1°C -
1,5°C. Hipotermia selama operasi terjadi berkaitan dengan fungsi kekebalan tubuh terganggu,
penurunan aliran darah ke jaringan, penurunan tekanan oksigen jaringan, dan peningkatan risiko
SSI. Upaya untuk mempertahankan normothermia intraoperatif harus dilakukan, bisa
menggunakan selimut penghangat dan penghangat cairan intravena untuk mempertahankan suhu
tubuh di atas 36°C (97°F). Salah satu percobaan prospektif dari 200 pasien yang menjalani bedah
kolorektal menemukan bahwa pemeliharaan normothermia dapat menurangi tingkat infeksi
pasca operasi bersama dengan parameter morbiditas lainnya, termasuk length of stay.
3. Pemberian oksigen tambahan pada periode perioperatif
Tekanan oksigen yang rendah dalam jaringan meningkatkan risiko kolonisasi bakteri dan SSI
dengan mengurangi efisiensi aktivitas neutrofil. administrasi oksigen konsentrasi tinggi (80%
melalui ventilator atau 12 L / min melalui masker oksigen) mengurangi tingkat infeksi pasca
operasi secara signifikan dalam uji coba multicenter acak dari 500 pasien yang menjalani bedah
kolorektal.
4. Kontrol glukosa perioperatif agresif
Diabetes dan kontrol glukosa yang buruk merupakan faktor risiko untuk SSI. Peningkatan risiko
infeksi dianggap karena kedua komplikasi makrovaskular (vaskulopati dan penyakit venooklusif)
dan mikrovaskuler (kekurangan imunologi halus, termasuk neutrofil disfungsi dan penurunan
complement dan aktivitas antibodi). Kontrol agresif kadar glukosa darah pada perioperatif
menurunkan kejadian SSI pada penderita diabetes yang menjalani operasi jantung dan sedang
dievaluasi pada jenis operasi lain dan pasien nondiabetes.

12. EVALUASI TERAPI


Ketika mengevaluasi hasil terapi antibiotika profilaksis bedah, penting untuk membedakan
adanya potensi SSI dari infeksi pasca operasi lain atau komplikasi. Meskipun demam dan
leukositosis biasa terjadi pada periode pasca operasi segera, biasanya mengatasi dengan
ambulation tepat, penghapusan tepat waktu dari alat invasif, pencegahan dan / atau resolusi
atelektasis melalui perawatan pernapasan yang optimal dan analgesik yang efektif. Itu Penting
untuk mengingat bahwa
munculnya infeksi distal, seperti pneumonia, bukan merupakan kegagalan profilaksis bedah.
Profilaksis harus sesingkat mungkin karena lama rejimen profilaksis mungkin berkontribusi pada
pemilihan organisme resisten dan membuat infeksi lebih sulit untuk diobati.
Sisi pembedahan yang terlihat merupakan penentu paling penting adanya infeksi. Drainase
nanah dari sayatan disertai dengan kemerahan, hangat dan rasa sakit atau nyeri sangat sugestif
dari SSI. Menurut definisi, setiap sisi pembedahan yang membutuhkan sayatan dan drainase oleh
ahli bedah dipertimbangkan infeksi tanpa terlihat. Kegagalan untuk menyembuhkan luka juga
dilihat biasanya dengan SSIs, meskipun teknik pembedahan dan status gizi mungkin faktor
kontribusi penting.
Tanda dan gejala yang konsisten dengan SSI berkaitan dengan operasi sebelumnya yang
merupakan pertimbangan penting ketika mengevaluasi hasil terapi setelah profilaksis
pembedahan. Banyak SSIs tidak akan terlihat selama rawat inap. Bahkan SSIs tidak mungkin
menjadi jelas hingga 30 hari kemudian atau, dalam kasus implantasi prostesis, hingga 1 tahun
kemudian. Dengan demikian, kejadian sebenarnya dari SSIs dapat ditentukan hanya dengan
melengkapi komprehensif pengawasan setelah penghentian. Semua studi meneliti efikasi
profilaksis pembedahan harus termasuk follow up setelah penghentian yang cukup agar dapat
benar-benar menilai keberhasilan setiap rejimen profilaksis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013, Clinical Practice Guidelines for Antimicrobial Prophylaxis in Surgery, Theurapeutic
Guidelines of AmericanSociety of Health-System Pharmacists.

Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M., 2008, Pharmacotherapy
A Pathophysiologic Approach, 7th Edition, McGrawHill, USA.

Fry D.E., 2003, Surgical Site Infetion: Pathogenesis and Prevention, Medscape,
http://www.medscape.com

Katzung, B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, SalembA Medika, Jakarta, 196-199.
Menkes RI, 2011, Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 2406/Menkes/Per/XII/2011, Kemenkes RI

Munckhof W., 2005, Antibiotic For Surgical Prophylaxis, Austraian Prescriber Vol 28 Number 2,
Austraia

Meakins, J.L., 2008, Prevention of Postoperative Infection, ACS Surgery: Principles and Practice, Basic
Surgical and PerioperatifConsicerations.

SIGN, 2000, Antibiotic Prophylaxis in Surgery A National Clinical Guideline, Scottish Intercollegiate
Guidelines Network, Royal College of Physicians, Edinburgh.

Yuwono, 2013, Pengaruh Beberapa Faktor Risiko Terhadap Kejadian Surgical Site Infection (SSI) Pada
Pasien Laparotomi Emergensi. JMJ, Vol.1, Nomor 1, Mei 2013, Hal: 16 - 25

Diposkan oleh dhirgasykr di 20.16 1 komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Total Tayangan Laman

311

About
Blogroll
BTemplates.com
Blog Archive
 ► 2017 (1)

 ▼ 2016 (2)
o ▼ November (1)
 FARMAKOTERAPIANTIBIOTIK PROFILAKSIS1. DEFINISI Ant...
o ► Oktober (1)

Blog Archive
 ► 2017 (1)

 ▼ 2016 (2)
o ▼ November (1)
 FARMAKOTERAPIANTIBIOTIK PROFILAKSIS1. DEFINISI Ant...
o ► Oktober (1)

Mengenai Saya
dhirgasykr
Lihat profil lengkapku

Pages - Menu
 Beranda

Pages - Menu
 Beranda

AboutBlogroll
Tema Jendela Gambar. Gambar tema oleh pixhook. Diberdayakan oleh Blogger.
Berikut ini adalah antibiotik yang sering digunakan sebagai profilaksis pada operasi: (Munckhof
W. 2005)

 IV sefalosporin generasi pertama (cephazolin atau cephalotin)


 IV gentamicin
 IV atau Rektal metronidazole (jika disebabkan oleh baktri anaerobik)
 Oral tinidazole (jika disebabkan oleh baktri anaerobik)
 IV flucloxacillin (jika infeksi methicillin-susceptible staphylococcal)
 IV vancomycin (jika infeksi methicillin-resistant staphylococcal)

Umumnya studi yang dilakukan terhadap perbandingan efektifitas antibiotik sebagai profilaksis
menggunakan sampel pasien dalam jumlah yang kecil, sehingga sulit melihat perbedaan yang signifikan
antara antibiotik. Oleh karena itu pemilihan antibiotik harus didasarkan pada biaya, profil efek yang
dapat merugikan, kemudahan pemberian, profil farmakokinetik, dan aktifitas antibakterinya. Antibiotik
yang dipilih harus memiliki aktivitas terhadap bakteri yang sering mengakibatkan infeksi pada operasi.
Pada operasi clean-contaminated, antibiotik yang digunakan harus efektif terhadap bakteri patogen
yang terdapat dalam saluran GI dan GU. Pada operasi clean, bakteri gram positif cocci (S. aureus dan S.
epidermidis) paling banyak ditemukan. Kebanyakan prosedur cefazolin merupakan antibiotik pilihan
karena durasinya panjang, dan efektif melawan bakteri yang banyak menyebabkan infeksi saat operasi
disamping itu harganya juga relatif murah. Rekomendasi spesifik pemilihan antibiotik profilaksis untuk
berbagai jenis prosedur operasi tersaji dalam tabel (lihat tabel 4). (AFS 2003)

Pemberian secara parenteral sefalosporin generasi kedua misalnya cefotetan memiliki aktifitas
antibakteri yang lebih baik terhadap bakteri anaerobik dan aerobik Garam negatif bila dibandingkan
dengan sefalosporin generasi pertama dan kadang-kadang juga menjadi pilihan yang lebih disukai, namu
lebih mahal. Alternatif lain yang dapat digunakan yaitu dengan kombinasi metronidazole
dengansefalosporin generasi pertama atau dengan gentamycin untuk profilaksis pada operasi
abdominal. (Munckhof W. 2005)
Penggunaan antimikroba sebagai profilaksis pada operasi menyebabkan perubahan pada bakteri flora
baik secara individu maupun koloni. Sebuah studi menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis
dapat mengubah bakteri flora menjadi koloni atau resisten. Namun studi lain pada pasien operasi
colorectal tidak menunnjukkan terjadinya resistensi mikroba yang serius. (ASHP)