You are on page 1of 2

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Instalasi Gawat darurat merupakan salah satu tempat praktek
keperawatan profesional atau unit emergency yang membantu klien dalam
memberikan pelayanan kegawatdaruratan untuk mempertahankan hidup,
mencegah kondisi menjadi lebih buruk dan meningkatkan pemulihan.
Bantuan kegawatdaruratan ini mencakup banyak organ penting tubuh antara
lain sistem kardiovaskuler salah satunya yaitu Sindrom koroner akut.
1. Tujuan utama untuk perawatan SKA adalah untuk menghindari iskemia
berlanjut, membatasi kerusakan miokard, mengurangi insiden disfungsi
ventrikular kiri, gagal jantung dan kematian. Hal ini dicapai dengan
identifikasi dini pada pasien yang memerlukan revaskularisasi dan
perawatan komplikasi-komplikasi iskemik meliputi aritmia (FV/TV dan
bradikardia), gagal jantung dan syok. Awalnya, semua pasien dengan
SKA, perawatan gawat darurat terdiri dari meringankan gejala,
pemberian agen-agen antitrombotik, dan terapi reperfusi sedini mungkin
untuk kemungkinan STEMI.
a. Melakukan pengkajian pada pasien SKA dengan menanyakan
riwayat penyakit dahulu pasien, melakukan rekam irama jantung
serta mengkaji TTV pasien untuk mengetahui kondisi jantug pasien.
Konfirmasi dan identifikasi adanya infark miokard akut (IMA)
adalah hal yang mendasar, karena berkaitan dengan penempatan dan
perawatan pasien secara tepat (Sargowo, 2007). Pengkajian riwayat
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan evaluasi pemeriksaan
diagnostik.
b. Dalam perumusan diagnosa berdasarkan data obyektif dan data
subyektif seperti pasien mengeluh kesakitan dari raut wajah
tampak meringis menahan nyeri. Dalam mendiagnosis SKA
didasarkan atas didapatkannya dua atau lebih dari 3 kriteria yaitu:
adanya nyeri dada, perubahan elektro-kardiografi (EKG) dan
peningkatan petanda peningkatan biokimia (Sargowo, 2007).
c. Perencanaan keperawatan dilakukan sesuai kebutuhan pasien
dengan memberikan terapi cairan, memberikan oksigen serta
kolaborasi pemberian obat sesuai anjuran dokter seperti nitrogliserin
untuk membantu meningkatkan vaso-dilatasi
d. Evaluasi yang dilakukan pada pasien SKA memaksimalkan curah
jantung sambil meminimalkan kerja jantung secara cermat. Untuk
tujuan ini, tanda – tanda vital pasien akan diperiksa dengan sering
dan monitor jantung untuk pemantauan segmen ST terus dipasang
pada pasien. Sadapan yang dipilih untuk pemantauan harus
berdasarkan pada lokasi infark dan irama yang mendasarinya. EKG
serial dan evaluasi serial penanda jantung serum untuk memantau
infark dicatat (Patricia et all, 2011).
2. Prinsip Tindakan Keperawatan Pada Pasien Ska
Dalam prinsip tindakan keperawatan pada pasien SKA dengan
mengurangi nyeri menangani secara cepat serta memonitor kondisi
pasien. Paula (2009) mengatakan tindakan keperawatan dalam
penatalak- sanaan SKA yaitu mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri serta memonitor dan mencatat karakteristik nyeri. Hematologi
dan kimia serum di pantau. Ketika pasien dengan kemungkinan SKA
tiba di unit kedaruratan, diagnosis dan penatalaksanaan awal pasien
harus cepat karena manfaat terapi reperfusi paling besar jika terapi
dimulai dengan cepat (Ptricia et all. 2011).
B. Saran
Penulisan ini diharapkan dapat menambah acuan perawat dalam melakukan
manajemen penanganan Sindrom Koroner Akut di Instalasi Gawat Darurat
RSUD Ungaran.