You are on page 1of 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Instalasi Gawat darurat merupakan salah satu tempat praktek
keperawatan profesional atau unit emergency yang membantu klien dalam
memberikan pelayanan kegawatdaruratan untuk memper- tahankan hidup,
mencegah kondisi menjadi lebih buruk dan meningkatkan pemulihan.
Bantuan kegawatdaruratan ini mencakup banyak organ penting tubuh
antara lain sistem kardiovaskuler dimana masih tingginya angka kematian
akibat serangan penyakit sistem kardiovaskuler ini dan dua pertiganya
meninggal dalam dua jam setelah serangan (Faridah, 2009). Salah satunya
yaitu Sindrom koroner akut.
Acute Coronary Syndrome (ACS) atau Sindrom Koroner Akut
(SKA) merupakan suatu kasus kegawat daruratan terutama dalam
pembuluh darah koroner dan merupakan sekumpulan sindrom Penyakit
Jantung Koroner (PJK) dan menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia
bahkan mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir ini (Widimsky,
2008). Penanganan ACS ini harus dilakukan secara tepat dan cepat
(Cohen, Roubin, Kuepper F, 2007) agar angka kematiannya bisa
diminimalkan.
Pada tahun 2014 dilaporkan bahwa kurang lebih 32 juta meninggal
artinya satu dari tiga orang di seluruh meninggal karena penyakit
kardiovaskular, lebih khususnya yang terjadi di Indonesia angka kematian
akibat ACS ini mencapai 26% atau kurang lebih 53,5 per 100.000
penduduk, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional
(SKRTN) Indonesia, dalam 10 tahun terakhir angka tersebut cenderung
mengalami peningkatan, hal ini terjadi di Rumah Sakit Jantung Harapan
Kita bahwa angka perawatan ACS sangat besar jika dibandingkan
penyakit jantung lainnya. (Dirjen Binfar Alkes, 2015). Besarnya kasus
ACS tersebut pada tahun 2008 didapatkan 2446 kasus, tahun 2009
didapatkan 3862 kasus sedangkan di tahun 2010 didapatkan 2529 kasus
(Priyanto, 2011). Diperkirakan bahwa diseluruh dunia, ACS pada tahun
2020 menjadi pembunuh pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh
kematian, angka ini dua kali lebih tinggi dari angka kematian akibat
kanker (Departemen Kesehatan, 2006).
Penyakit jantung cenderung meningkat sebagai penyebab kematian
di Indonesia.Data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1996
menunjukkan bahwa proporsi penyakit ini meningkat dari tahun ke tahun
sebagai penyebab kematian. Pada tahun 1975 kematian akibat penyakit
jantung hanya 5,9%, tahun 1981 meningkat sampai dengan 9,1%, tahun
1986 melonjak menjadi 16% dan tahun 1995 meningkat menjadi 19%.
Sensus nasional tahun 2001 menunjukkan bahwa kematian karena
penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner adalah sebesar
26,4% (Farissa, 2012).
Pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2002, terdapat 92
pasien AMI yang datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita. Data Dinas Kesehatan provinsi Jawa
Tengah tahun 2006 didapatkan kasus AMI 7,32 per 1.000 penduduk. Pada
tahun 2010. Laporan Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2010
menunjukkan bahwa kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah
sebanyak 96.957 kasus dan sebanyak 1.847 (2%) kasus merupakan kasus
akut miokard infark. Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan
penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dan
selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 telah terjadi
kematian sebanyak 2.941 kasus dan sebanyak 414 kasus (14%)
diantaranya disebabkan oleh akut miokard infark (Farissa, 2012).
Dengan adanya peningkatan kasus gawat darurat setiap tahunnya
termasuk kegawat- daruratan sistem kardiovaskuler dan tuntutan
masyarakat akan mutu layanan maka pelayanan gawat darurat oleh
perawat sebagai pelaksana pelayanan kesehatan dalam penanganan
kegawat- daruratan ini sangat penting untuk ditingkatkan dimana tujuan
utama pada pertolongan emergency adalah untuk memberikan asuhan
yang akan menguntungkan pasien tersebut sebelum mereka menerima
perawatan definitif (Faridah, 2009).
Pasien-pasien yang tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), harus
segera dievaluasi karena kita berpacu dengan waktu dan bila makin cepat
tindakan reperfusi dilakukan hasilnya akan lebih baik. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya infark miokard ataupun membatasi luasnya infark
dan memper-tahankan fungsi jantung. Menurut Virgianti Nur Faridah
(2009). Oleh karena itu, mahasiswa ingin mengetahui lebih lanjut tentang
konsep penanganan Sindrom Koronar Akut.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui lebih lanjut tentang peran perawat dalam kegawatan SKA
ruang Instalasi Gawat Darurat.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui tindakan keperawatan yang di lakukan dalam penanganan
kegawatan SKA ruang Instalasi Gawat Darurat
b) Mengetahui pengetahuan yang harus di miiliki perawat dalam
penanganan kegawatan SKA ruang Instalasi Gawat Darurat
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi ilmu pengetahuan keperawatan
Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan keperawatan dalam
penanganan kegawatan SKA ruang Instalasi Gawat Darurat
2. Bagi petugas kesehatan
Membantu perawat dan tenaga kesehatan lain dalam penanganan
kegawatan SKA di ruang Instalasi Gawat Darurat dengan tepat dan segera