You are on page 1of 5

SM-3T Maluku Barat Daya

Penempatan Kecamatan Wetar Timur


Desa Arwala
Penulis: Aland Budi Permana
Desa Arwala merupakan ibukota kecamatan Wetar Timur yang berada di Pulau
Wetar sebelah timur dan masyarakat Maluku Barat Daya pada umunya menyebut
Wetar Timur sebagai muka pulau atau bagian pulau terdepan. Bentuk pulau wetar
kalau menurut saya seperti kelelawar, tapi menurut masayarakat Arwala lebih
cenderung seperti babi, dan juga Pulau Wetar merupakan pulau terbesar yang
dimiliki Kabupaten Maluku Barat Daya.
Pulau Wetar terletak di ujung paling Barat Kabupaten Maluku Barata Daya,
Kecamatan Wetar Timur memiliki 6 Desa dengan luas wilayah 713,51 Km2, meliputi
Desa Arwala dengan luas 92,88 km2, Desa Ilway dengan luas 43,52 Km2 dengan
jumlah penduduk 196 orang meliputi laki-laki 102 orang, perempuan 94 orang, Desa
Kahilin dengan luas 149,33 Km2, Desa Moning dengan luas 111,50 Km2 dengan
jumlah penduduk 306 orang meliputi laki-laki 143 orang, perempuan 163 orang,
Desa Tomliapat dengan luas 161,30 Km2, Desa Ilpokil dengan luas 154,98 Km2
dengan jumlah penduduk 304 orang meliputi laki-laki 155 orang, perempuan 149
orang.
Ibukota Kecamatan Wetar Timur berada di Desa Arwala, karena letaknya yang
strategis diantara banyak Desa di Kecamatan Wetar Timur. Dari semua desa itu
hanya Desa Arwala dan Desa Ilway saja yang terhubung dengan jalan darat dengan
jarak 800M. Untuk desa yang lain harus dengan jalan laut, dapat juga dijangkau
dengan jalan darat namun harus naik-turun gunung dengan waktu tempuh kurang
lebih satu sampai dua jam perjalanan tergantung kondisi fisik pejalan kaki.

Keadaan sosial masyarakat Desa Arwala dikatakan cukup baik. Jumlah


penduduk masih sedikit di desa ini, karena hampir semua masyarakat memiliki
hubungan keluarga yang dikenal dengan family dan pasti setiap penduduknya
memiliki nama fam di belakang namanya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
marga atau fam agar tidak hilang dan mudah untuk mengetahui garis keturunannya.
Sistem kekeluargaan di Maluku pada umumnya, dan di Wetar pada khususnya
menggunakan sistem patrilineal, yaitu mengambil nama marga atau fam dari garis
keturunan ayah. Apabila sebuah keluarga hanya memiliki anak perempuan saja,
maka marga dari ayah akan hilang.
Hampir semua warga di desa ini memiliki sifat yang baik dan ramah kepada
semua orang, hanya beberapa warga saja yang terkadang kurang dapat mengontrol
emosinya karena pengaruh minuman khas Maluku, biasa dikenal dengan sopi. Setiap
kita berkunjung ke rumah warga pasti dipersilahkan untuk menikmati minuman teh
dan kue yang telah dihidangkan. Budaya makan di Maluku Barat Daya dalam sehari
hanya 2 kali saja, yaitu siang dan malam, pagi hari hanya minum teh dan makanan
manis atau kue. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh budaya eropa yang dulu
pernah menduduki Pulau Kisar yaitu Belanda.
Sifat gotong royong disini cukup baik, apabila ada kegiatan kemasyarakatan
maupun keagamaan semua orang ikut serta didalam kegiatannya. Tidak hanya
orangtua, anak-anak juga sejak kecil sudah dilatih untuk hidup saling tolong-
menolong. Namun hanya di Desa Arwala saja warganya banyak yang mau ikut
gotong royong, sedangkan warga Desa Ilway mayoritas kurang suka bergotong
royong denga warga Desa Arwala. Contoh saja, dalam hal pembangunan jembatan
yang menghubungkan Desa Arwala dan Ilway, semua pekerjaan jembatan dikerjakan
oleh warga Desa Arwala sedangkan warga Desa Ilway sibuk dengan urusannya
sendiri di kebun. Sebenarnya ada dua jembatan yang menghubungkan dua desa,
namun yang baru diperbaiki hanya yang berada di wilayah Arwala, sedangkan yang
berada di wilayah Desa Ilway belum diperbaiki sama sekali bahkan jembatannya
terbuat dari kayu pohon kelapa bahkan kondisinya sudah rusak dan tidak bisa
dilewati. Sehingga akses setelah jembatan Arwala menuju Desa Ilway, warga
berjalan melalui hutan kelapa dan melewati sungai kecil yang apabila sudah
memasuki musim hujan tidak bisa dilewati warga karena banjir dan ancaman buaya
sungai. Banyak pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh orang tua di Jawa,
namun di Maluku Barat Daya ini pekerjaan rumah yang sulit sudah dapat dilakukan
oleh anak-anak.
Masyarakat Arwala sebagian besar memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan
berkebun, karena desa yang terletak di pesisir pantai dan kebetulan tanahnya subur.
Mereka mencari ikan di laut dengan menjaring, memanah, dan mengail/memancing.
Hasil ikan yang didapat biasa dikonsumsi sendiri, dibagikan atau dijual kepada
masyarakat dengan harga yang cukup miring. Saat pergantian musim menjadi musim
penghujan semua masyarakat menanam. Pada musim penghujan semua orang
menanam jagung untuk dikonsumsi sebagai campuran beras kemudian dimasak
maupun dikonsumsi sebagai jagung rebus dan bakar.
Masyarakat Arwala sebagian besar memiliki kebun jambu dan kelapa kopra
yang digunakan sebagai komoditas ekonomi di daerah ini. Jambu mente yang telah
masak dan diambil mentenya tersebut dibersihkan lalu dijual dengan harga antara
Rp.6000-18000/Kg, tergantung persediaan di pasar. Harga jambu mete di Pulau
Wetar selalu fluktuaktif karena pengaruh musim hujan dan permintaan masyarakat.
Dahulu saat kapal Lintas Bahari Indonesia (LBI) singgah di Desa Arwala, warga
menjual hasil panen jambu mete langsung ke Kota Kalabahi di Pulau Alor karena
harga jual kacang mete disana lebih menjanjikan dan stabil. Semenjak kasus tragedi
bunuh diri seorang mantri yang melompat dari kapal LBI, kapal tersebut sudah tidak
singgah lagi di Desa Arwala, sehingga warga kesulitan menjual hasil kacang mete.
Selama satu tahun jambu mente panen hanya satu kali. Kelapa kopra juga
diambil dari kebun yang dimiliki oleh masyarakat. Cara pengolahannya adalah
dengan membelah kelapa menjadi dua buah kemudian dijemur selama kurang lebih
tiga hari. Setelah itu kelapa kopra dijual ke pedagang Makassar yang nantinya akan
di jual lagi ke Surabaya. Harga kelapa kopra yang ditawarkan adalah Rp. 11.000/Kg.
Orang Makassar biasanya membawa barang dagangan yang ditawarkan kepada
masyarakat Arwala dan pulang dengan membeli hasil jambu mente maupun kopra.
Hasil kayu yang ada di Desa Arwala juga menjadi sumber ekonomi, dengan lahan
yang sangat luas dan dipenuhi kayu, masyarakat dapat menjualnya. Harga yang
ditawarkan kisaran satu sampai tiga juta/M 3. Kayu tersebut biasanya di jual di pulau-
pulau disekitarnya seperti, Kisar dan Romang dengan menggunakan kapal kayu
motor. Hasil perekonomian masyarakat Arwala cukup digunakan untuk menghidupi
keluarga dan membelanjakan kebutuhan pendidikan.
Di Kecamatan Wetar Timur ini dahulunya dihuni oleh suku tugung dengan
menggunakan bahasa Wetar Tugung, setelah itu didatangi para perantau yang
sebagian besar dari Pulau Kisar maupun dari pulau-pulau lain seperti Romang dan
lain sebagainya, kemudian pada akhirmya mereka menetap sampai melahirkan anak
cucunya di kecamatan Wetar Timur. Masyarakat Desa Arwala masih memegang
teguh adat yang ditinggalkan para nenek moyang, jadi di setiap kegiatan adat,
upacara adat, dan memecahkan sebuah permasalahan, masyarakat diwajibkan untuk
meminum sopi. Di pulau Wetar juga memiliki tarian adat daerah menggunakan kain
adat. Tidak hanya itu, ada sebuah lagu daerah yang berjudul “Auge Nige Ni Nami’e”
dan biasanya dinyanyikan saat ada kegiatan kemasyarakatan maupun menyambut
pejabat pemerintahan yang datang berkunjung.
Kondisi pendidikan di Kecamatan Wetar Timur dapat dikatakan rendah. Ini
dibuktikan dengan siswa yang sudah duduk kelas VII SMP masih belum bisa
membaca waktu jam dengan benar, masih sering lupa untuk mengingat materi yang
baru diberikan. Di kelas VIII SMP ada satu siswa yang keluar sekolah tanpa ada
alasan yang jelas. Di setiap kelas pasti ada beberapa anak yang kemampuannya jauh
bahkan tidak sesuai dengan tahapan kelas maupun usianya. Semenjak datang di
tempat tugas ini, saya diberi tugas untuk mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris,
IPS, dan TIK, pertimbangan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah adalah latar
belakang pendidikan saya dari Pendidikan Sejarah.
Beberapa faktor sebagai pemicu munculnya masalah pendidikan adalah dari
diri anak sendiri dan kurangnya perhatian orang tua dalam mengawasi pendidikan
dan kelakukan anak setiap hari. Rasa tanggung jawab akan masa depan diri sendiri
masih sangat rendah, mereka berfikir kehidupan di masa mendatang tidak jauh
berbeda dengan masa sekarang, dan juga tidak adanya persaingan yang ketat di luar
sana (luar Kecamatan Wetar Timur). Faktor lain adalah rasa tanggung jawab orang
tua dalam mendidikan anak-anaknya, mereka berfikir hidup ini untuk segala sesuatu
yang bersifat fisik saja, padahal pendidikan untuk membentuk karakter yang baik
adalah tumbuh dari pendidikan informal (keluarga) yang didukung oleh pendidikan
formal (sekolah). Yang selama ini dapat diamati orang tua tidak aktif mengawasi
perkembangan pendidikan maupun pergaulan anaknya.
Di Kecamatan Wetar Timur hanya ada lima SD yang tergabung menjadi satu
gugus yaitu SD Inpres Arwala yang bertempat di kota kecamatan, SD Kahilin, SD
Kristen Tomliapat, SD Kristen Moning. SMP hanya ada di desa Ilway yang
bersebelahan dengan Desa Arwala. SMA juga hanya ada di Desa Arwala yaitu SMA
N Arwala. Dari satuan pendidikan tersebut maka, beberapa siswa yang ingin
melanjutkan pendidikan tingkat selanjutnya yaitu SMP atau SMA yang lebih baik,
mereka harus bersekolah di pulau Kisar atau di Kota Tiakur Pulau Moa di pusat
pemerintah daerah. Jarak dari Kecamatan Wetar Timur ke Pulau Kisar dan Pulau
Moa dengan menggunakan kapal yaitu 6-12 jam perjalanan. Apabila mereka tidak
memiliki sanak saudara di Pulau tersebut maka, mereka harus tinggal dengan orang
lain sebagai anak piara. Sebagai anak piara harus patuh dengan segala aturan yang
ada di rumah tersebut. Ini yang terkadang menjadi kendala mereka yang tidak serius
mengikuti pendidikan di Pulau tersebut. Beberapa anak pulang ke kampung (Wetar
Timur) saat libur semester dan tidak mau kembali sekolah, akhirnya mereka putus
sekolah. Namun untuk siswa yang ingin tetap tinggal di Wetar Timur, mereka dapat
melanjutkan pendidikan dari SD menuju ke SMP yang ada di Desa Ilway dan SMA
yang ada di Desa Arwala dengan jumlah guru yang sangat memperihatinkan, yaitu
satu atau dua guru saja. Inilah kondisi pendidikan ke Kecamatan Wetar Timur.