You are on page 1of 8

PENGARUH TEKNIK CLAPPING DAN VIBRASI TERHADAP SATURASI PASIEN PPOK

DI RUANG IGD RSUD KABUPATEN BULELENG

(The Influence of The Technique of Clapping and Vibration to Oxygen Saturation COPD Patiens
In Emergency Instalation In General Hospital Government of Buleleng Regency)

Ni Made Riska Widharianti), I Dewa Ayu Rismayanti2), Putu Wahyu Sri Juniantari Sandy2)
Program Studi S1 Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng
e-mail: riskawidha95@gmail.com

ABSTRAK

Pendahuluan: Penyakit Paru Obtruksi Kronik (PPOK) merupakan suatu penyakit yang
ditujukan untuk mengelompokkan penyakit-penyakit yang mempunyai gejala berupa terhambatnya
arus udara pernapasan. Gejala tersebut diakibatkan tumpukan mukus sehingga asupan oksigen tidak
adekuat dan terjadi penurunan SaO2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
Clapping dan Vibrasi terhadap saturasi oksigen di ruang IGD RSUD Kabupaten Buleleng. Metode:
Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental One Group PreTest-Posttest dengan uji Paired T Test
yang dilaksanakan di ruang IGD RSUD Kabupaten Buleleng. Pengumpulan data menggunakan lembar
observasi dengan teknik total sampling dan jumlah sampel 26 orang. Hasil: Dari hasil penelitian
didapatkan rata-rata nilai saturasi oksigen sebelum diberikan intervensi adalah 90,42 yang masuk
dalam kategori hipoksemia sedang, setelah diberikan intervensi selama 2 kali dalam sehari didapatkan
rata-rata nilai SaO2 95,00 yang masuk dalam kategori SaO2 normal dengan p-value 0,000. Nilai ini
menunjukkan terdapat pengaruh clapping dan vibrasi terhadap saturasi oksigen pasien PPOK di IGD
RSUD Kabupaten Buleleng.

Kata kunci: Clapping dan Vibrasi, Saturasi Oksigen, PPOK

ABSTRACT
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a disease that is intended to categorize
the disease that have an indication of respiratory obstruction of the airway. The symptoms caused by
pile of mucus, so that oxygen intake and decreased oygen saturation.The purpose of this research is to
determine the influence of the technique of clapping and vibration to oxygen saturation COPD
Patiens In Emergency Instalation In General Hospital Government of Buleleng Regency. Method:
This kind of research is pre-eksperimental one group pretest-posttest with paired t-test were performed
in Emergency Instalation In General Hospital Government of Buleleng Regency. Data collection using
observation sheet by using total sampling and sampel of 26 people. Results: The result showed the
average value of the oxygen saturation of patiens with COPD before given intervention is 90,42in the
category of moderate hypoxemia, after given intervention 2 times in a day showed an average SaO 2
value 95,00 wich is in the category of normal SaO 2 with p-value 0,000. Thus value showed a
significant influence of the clapping and vibration to oxygen saturation COPD patiens in the
Emergency Instalation In General Hospital Government of Buleleng Regency.

Keyword: The Technique of Clapping and Vibration, Oxygen Saturation, COPD

PENDAHULUAN terjadinya penyakit) biasanya pada usia


PPOK adalah penyakit kronis pertengahan dan tidak hilang dengan
saluran napas yang ditandai dengan pengobatan. Didefinisikan sebagai PPOK
hambatan aliran udara khususnya udara jika pernah mengalami sesak napas yang
ekspirasi dan bersifat progresif lambat bertambah ketika beraktifitas atau
(semakin lama semakin memburuk), bertambah dengan meningkatnya usia
disebabkan oleh pajanan faktor risiko disertai batuk berdahak atau pernah
seperti merokok, polusi udara di dalam mengalami sesak napas disertai batuk
maupun di luar ruangan. Onset (awal berdahak (RISKESDAS 2013).
Sesak napas merupakan manifestasi gangguan atau tidak akurat (Kartikawati,
dasar penyakit. Dengan bebagai cara 2011:53)
digambarkan sebagai haus udara, napas Variabel lain yang mempengaruhi
pendek, tidak mampu menarik napas dalam, akurasi SpO2 termasuk kadar hemoglobin,
dan banyak keluhan lainnya. Sesak dalam suhu dari tempat tersebut, dan penggunaan
satu bentuk atau lainnya menyertai sebagian oksigen (Vaughans, 2013:70). Kemampuan
besar penyakit pernapasan. Pemantauan dan klien untuk memobilisasi sekresi dapat
pengukuran sesak sangan berharga dalam membuat perbedaan antara penyakit jangka-
penanganan penyakit (Ringel, 2012: 12). pendek dan proses penyembuhan jangka-
Penyebabnya adalah meningkatnya tahanan panjang yang melibatkan komplikasi.
jalan napas seperti pada obstruksi jalan Intervensi keperawatan yang meningkatkan
napas atas, asma, dan penyakit obstruksi mobilisasi sekresi pulmonar dilakukan
kronik (Djojodibroto, 2016: 53-54). dengan hidrasi, humidifikasi, nebulisasi,
Batuk merupakan mekanisme dan fisioterapi dada (Potter & Perry
refleks yang sangat penting untuk menjaga 2012:1593).
jalan napas tetap terbuka (paten) dengan Fisioterapi dada merupakan suatu
cara menyingkirkan hasil sekresi lendir rangkaian tindakan keperawatan yang
yang menumpuk pada jalan napas. Batuk terdiri atas perkusi (clapping), vibrasi, dan
termasuk elemen utama untuk postural drainage. Clapping adalah
membersihkn saluran napas dari dahak, dan pukulan kuat, bukan berarti sekuat-kuatnya,
dahak merupakan stimulus untuk terjadinya pada dinding dada dan punggung dengan
batuk (Djojodibroto, 2016: 50-51). tangan dibentuk seperti mangkuk. Teknik
Obstruksi jalan napas (bersihan selanjutnya adalah vibrasi, dimana vibrasi
jalan napas) merupakan kondisi pernapasan adalah getaran kuat secara serial yang
yang tidak normal akibat ketidakmampuan dihasilkan oleh tangan perawat yang
batuk secara efektif, dapat disebabkan oleh diletakkan datar pada dinding dada klien
sekresi yang kental atau berlebihan akibat (Asmadi, 2008:35).
penyakit infeksi, imobilisasi, statis sekresi, Fisioterapi ini walaupun caranya
dan batuk tidak efektif karena penyakit kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat
persarafan seperti cerebro vascular efektif dalam upaya mengeluarkan sekret
accident (CVA), efek pengobatan sedatif dan memperbaiki ventilasi pada pasien
dan lain-lain (Hidayat, 2015:10). yang memiliki fungsi paru yang terganggu.
Bernapas merupakan cara tubuh Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit
untuk menghirup oksigen dan paru adalah mengembalikan dan
mengeluarkan karbondioksida. Bernapas memelihara fungsi otot-otot pernapasan dan
juga membantu menjaga keseimbangan membantu membersihkan sekret dari
asam-basa dalam jangka pendek. Penilaian bronkus dan untuk mencegah penumpukan
status respirasi yang akurat sangat penting sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran
karena ini memberikan informasi bahwa, sekret (Darmawan & Jamil, 2013: 109).
jika dilakukan sesuai waktunya, dapat Berdasarkan studi pendahuluan
meyelamatkan hidup seseorang. yang dilakukan pada tanggal 16 Februari
Sebaliknya, kegagalan dalam mengenali 2017, pada data pencatatan dan pelaporan
petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam data ruang IGD RSUD Kabupaten Buleleng,
penilaian respirasi dapat menyebabkan didapatkan jumlah penderita PPOK dalam
kematian (Vaughans, 2013:67). tiga bulan terakhir yaitu sebanyak 80 orang
Pemantauan jumlah kecukupan dimana rata-rata kunjungan penderita
oksigen, dibutuhkan pemasangan oksimetri. PPOK setiap bulan sebanyak 26-27 orang.
Pemasangan oksimetri dilakukan pada Dari 80 penderita PPOK tersebut,
pasien yang mengalami gangguan didapatkan data status pasien dengan
pernapasan, tingkat kesadaran yang jumlah 80 pasien rawat inap. Setelah
berubah-ubah, penyakit serius dan pasien dilakukan wawancara dengan perawat yang
dengan tanda-tanda vital yang abnormal. bertugas di ruang IGD pasien PPOK yang
Pada pasien dengan hipotermi, berobat ke IGD diberikan penanganan
vasokontriksi, anemia, hipotensi, pasien oksigen dan nebuliser secara bergantian.
dengan kuku palsu atau yang dicat, hasil Nebuliser diberikan setiap 6/8 jam dan
pemantauan oksimetrinya dapat mengalami setelah itu diberikan oksigen dengan
menggunakan nasal kanul dan frekuensi
kurang dari 6 liter. Pasien PPOK yang dependen dengan menggunakan uji Shapiro
ditangani di IGD tidak diberikan teknik wilk karena sampel kurang dari 50.
clapping dan vibrasi karena keterbatasan
waktu perawat untuk melakukan teknik HASIL PENELITIAN
tersebut. Rata-rata nilai saturasi pasien
PPOK yang baru berobat ke IGD kurang Penelitian ini menggunakan 26 sampel
dari 90%. PPOK yang berkunjung keruang IGD RSUD
Studi pendahuluan yang dilakukan Kabupaten Buleleng dengan karakteristik
selanjutnya melibatkan 2 pasien PPOK responden yang meliputi usia dan jenis
yang berada di ruang IGD didapatkan nilai kelamin.
saturasi oksigen 93% pada pasien pertama
dan 94% pada pasien kedua, setelah Tabel 1 Responden Berdasarkan Usia di IGD
dberikan teknik clapping dan vibrasi nilai RSUD Kabupaten Buleleng.
saturasi oksigen meningkat masing-masing
2% sehingga nilai saturasi oksigen pasien Variabel N Rerata Min Max SD
pertama menjadi 95% dan pasien kedua
menjadi 96%. Dari uraian tersbut, maka Usia 26 46,54 31 60 9,378
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan mengambil judul pengaruh teknik Berdasarkan tabel 1 menunjukkan
clapping dan vibrasi terhadap saturasi bahwa rata-rata usia responden adalah 46,54
oksigen pasien PPOK di IGD RSUD tahun. Responden memiliki usia tertinggi 60
Kabupaten Buleleng. tahun dan usia terendah 31 tahun .

METODE PENELITIAN Tabel 2 Distribusi frekuensi responden


Penelitian ini adalah penelitian berdasarkan jenis kelamin di IGD
kuantitatif yang menggunakan desain RSUD Kabupaten Buleleng
penelitian pra-eksperimental dengan Persentase
rancangan one group pra-post test desaign Frekuensi
(%)
yaitu mengungkapkan hubungan sebab Laki-laki 16 61,5
akibat dengan cara melibatkan satu Jenis
kelompok subjek. Kelompok subjek Kelamin Perempuan 10 38,5
diobservasi sebelum dilakukan intervensi,
kemudian diobservasi kembali setelah Total 26 100
intervensi (Nursalam, 2014). Penelitian ini
menggunakan pengambilan sampel
Nonprobability Sampling dengan sampling Berdasarkan tabel 2 di atas dapat
jenuh yaitu teknik penetapan sampel dilihat bahwa karakteristik responden
dengan cara penentuan sampel bila semua berdasarkan jenis kelamin sebagian besar
anggota populasi digunakan sebagai responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 16
sampel, sehingga sampel tersebut dapat orang (61,5%) dan 10 orang (38,5%)
mewakili karakteristik populasi yang responden berjenis kelamin perempuan.
dikenal sebelumnya (Sugiyono, 2010: 66). Tabel 3 Gambaran saturasi oksigen pasien
Penelitian ini dilakukan di RSUD PPOK sebelum diberikan
Kabupaten Buleleng yaitu di ruang Instalasi intervensi Clapping dan Vibrasi
Gawat Darurat (IGD) dari tanggal 1-29 Juni
2017. Besar sampel penelitian ini adalah 26 Persentase
Kategori Frekuensi
orang responden yang memenuhi kriteria (100%)
yang telah ditetapkan (Nursalam, 2014).
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien 89%-94% 21 80,8
PPOK yang berkunjung ke ruang IGD
83%-88% 5 19,2
RSUD Kabupaten Buleleng. Pengumpulan
data menggunakan lembar observasi. Total 26 100
Dalam penelitian ini data yang dianalisa
adalah data interval sehingga uji yang
digunakan adalah uji paired T-test. Adapun Tabel diatas menunjukkan bahwa
syarat uji T-test yaitu data harus sebelum diberikan Clapping dan Vibrasi,
berdistribusi normal pada kelompok frekuensi saturasi oksigen responden yang
berada pada rentang 89%-94% sebanyak 21 Berdasarkan tabel 6 menunjukkan
orang (80,8%) dan 83%-88% sebanyak 5 orang bahwa rata-rata nilai saturasi oksigen setelah
(19,2%). diberikan teknik clapping dan vibrasi dari 26
responden adalah 95,00 (95% CI: 93,90-96,10)
Tabel 4 Saturasi oksigen pasien PPOK dengan standar deviasi 2,713. Nilai saturasi
sebelum diberikan intervensi oksigen terendah 90 dan tertinggi 99. Dari
Clapping dan Vibrasi estimasi interval disimpulkan bahwa 95%
diyakini bahwa rata-rata nilai saturasi oksigen
N Mean Min Max SD 95% pada pasien PPOK di IGD yaitu 93,90 sampai
(CI) dengan 96,10. Data ini menunjukkan nilai
saturasi oksigen pasien PPOK setelah
diberikan teknik clapping dan vibrasi, sebagian
Pre 26 90,42 86 94 2,3 89,49- besar mengalami peningkatan nilai saturasi
Test 18 91,36 oksigen menjadi SaO2 normal.
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan
bahwa rata-rata nilai saturasi oksigen pasien Tabel 7 Uji normalitas Shapiro-Wilk (n=26)
PPOK sebelum diberikan teknik clapping dan
vibrasi dari 26 pasien 90,42 (95% CI: 89,49- Shapiro-wilk
91,36), dengan standar deviasi 2,318. Nilai Df Sig.
saturasi oksigen terendah 86 dan tertinggi 94. Pretest 26 0,072
Dari estimasi interval disimpulkan bahwa 95% Posttest 26 0,059
diyakini bahwa rata-rata nilai aturasi oksigen
pada pasien PPOK di IGD yaitu diantara 89,49 Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa
sampai dengan 91,36. Data ini menunjukkan nilai p-value sebelum intervensi 0,072 dan
nilai saturasi oksigen pasien PPOK sebelum nilai p-value setelah intervensi 0,059 sehingga
diberikan teknik clapping dan vibrasi sebagian p-value yang diperoleh > 0,05 maka data
mengalami hipoksemia sedang berdistribusi normal dan uji statistik yang
digunakan adalah statistic parametrik dengan
Tabel 5 Nilai saturasi oksigen pasien PPOK uji Paired Sample t-test.
setelah diberikan intervensi Clapping dan
Vibrasi Tabel 8 Uji Paired Sample t-test
Persentase
Kategori Frekuensi Paired Differences
(100%)
Perbedaan
95%-100% 15 57,7 Mean
Variabel N (Mean ± P
± SD
SD)
89%-94% 11 42,3 Pre-test
0
Saturasi
Total 26 100 90,69
Oksigen 26
±
Tabel 5 menunjukkan bahwa setelah pasien
2,241
diberikan Clapping dan Vibrasi, frekuensi PPOK -4,077 ±
0,000
saturasi oksigen responden yang berada pada Post-test 0,272
rentang 95%-100% sebanyak 15 orang (57,7%) Saturasi 94,77
dan 89%-94% sebanyak 11 orang (42,3%). Oksigen 26 ±
pasien 2,215
Tabel 6 Saturasi oksigen responden setelah PPOK
diberikan intervensi Clapping dan
Vibrasi Berdasarkan tabel 8 menunjukkan
bahwa ada pengaruh yang signifikan pada
N Mean Min Max SD 95% pelaksanaan intervensi clapping dan vibrasi
(CI) terhadap saturasi oksigen pasien PPOK. Hasil
perhitungan dengan program komputer
Pre 2,7 93,90- menunjukkan p value 0,000 (p<0,005). Maka
26 95,00 90 99 dapat disimpulkan bahwa H0 dalam penelitian
Test 13 96,90
ini ditolak yang berarti terdapat pengaruh
clapping dan vibrasi terhadap saturasi oksigen
pasien PPOK di Ruang IGD Rumah Sakit pada pasien PPOK sebelum diberikan teknik
Umun Daerah Kabupaten Buleleng. clapping dan vibrasi sebagian besar mengalami
hipoksemia sedang. Selain pemberian
PEMBAHASAN nebulizer untuk mengencerkan sekret, sangat
penting juga untuk memberikan drainage
Dilihat dari karakteristik usia Responden postural dan pemberian fisioterapi dada seperti
memiliki usia tertinggi 60 tahun dan usia clapping dan vibrasi yang dapat memudahkan
terendah 31 tahun. Usia responden yang paling pasien dalam mengeluarkan sekret.
banyak menderita PPOK yaitu rentang usia 51- Penelitian yang mendukung asumsi
60 tahun (42,3%) dengan jumlah responden 11 diatas adalah menurut Hasanah (2016) yang
orang. Analisa diatas sesuai dengan penelitian dengan hasil terdapat penurunan sesak yang
yang dilakukan oleh Nugraha (2010) yang dialami pasien atas nama Tn.K usia 54 tahun
meniliti hubungan hubungan derajat berat setelah melakukan 4 kali tindakan fisioterapi.
merokok berdasarkan indeks brinkman dengan Dilihat dari borg scale pada terapi pertama
derajat berat PPOK mendapatkan hasil bahwa yaitu dengan nilai 5 dengan penjelasan sesak
penderita PPOK terbanyak yaitu umur 51-59 yang dirasakan pasien adalah sesak yang
tahun dengan jumlah 13 responden (32,5%) sangat berat dan pada terapi terakhir dengan
dari 40 responden. Hal ini sesuai dengan teori nilai 2 dengan penjelasan sesak yang dirasakan
Gleadle (2007: 173) dimana penderita PPOK pasien adalah sesak yang ringan. Penelitian
biasanya terjadi pada usia lebih dari 45 tahun. lain yang dilakukan oleh Murti (2015) dimana
Dilihat dari karakteristik jenis kelamin Murti menyatakan bahwa pemberian tindakan
yang mengalami PPOK sebagian besar berjenis fisioterapi dapat menurunkan derajat sesak
kelamin laki-laki yaitu sebanyak 16 orang pasien dilihat dari hasil 6 kali tindakan terapi
(61,5%) sedangkan yang berjenis kelamin terdapat penurunan sesak dari 5 menjadi 4.
perempuan sebanyak 10 orang (38,5%). PPOK Nilai saturasi oksigen pasien PPOK di
dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan, IGD RSUD Kabupaten Buleleng dari 26
namun laki-laki lebih banyak menderita responden setelah diberikan teknik clapping
mengingat bahwa laki-laki lebih dominan dan vibrasi menunjukkan bahwa frekuensi
memiliki kebiasaan merokok. Hal ini didukung saturasi oksigen responden yang berada pada
oleh teori Danusantoso (2016:212) dimana rentang 95%-100% sebanyak 15 orang (57,7%)
penyebab paling utama dan paling sering dari dan 89%-94% sebanyak 11 orang (42,3%)
PPOK adalah asap rokok, baik yang dihisap dengan nilai rata-rata 95,00. Data ini
sendiri secara langsung ataupun terhisap dari menunjukkan nilai saturai oksigen pada pasien
asap rokok orang lain. Teori diatas sesuai PPOK setelah diberikan teknik clapping dan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Aini vibrasi sebagian besar mengalami peningkatan
(2007) dengan hasil penderita PPOK laki-laki saturasi oksigen menjadi SaO2 normal. Hal ini
berjumlah 21 orang (62%) dan perempuan 13 menunjukkan bahwa pemberian teknik
orang (38%) dari 33 responden. Selain dengan clapping dan vibrasi mampu meningkatkan
Aini penelitian yang dilakukan oleh Khotimah saturasi oksigen dengan mengeluarkan sekret
(2013) juga mendapatkan hasil responden dan melancarkan jalan napas.
PPOK berdasarkan jenis kelamin laki-laki Hasil penelitian diatas didukung oleh
lebih banyak dari pada perempuan yaitu 15 teori menurut Darmawan & Jamil (2013:104).
orang (68,2%) laki-laki dan 7 orang (38,1%). Fisioterapi dada adalah salah satu teknik yang
Hasil analisis nilai saturasi oksigen pasien sangat berguna bagi penderita penyakit
PPOK di IGD RSUD Kabupaten Buleleng dari respirasi baik yang bersifat akut maupun
26 responden sebelum diberikan teknik kronis. Fisioterapi ini walaupun caranya
clapping dan vibrasi menunjukkan bahwa kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat
frekuensi saturasi oksigen responden yang efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan
berada pada rentang 89%-94% sebanyak 21 memperbaiki ventilasi pada pasien yang
orang (80,8%) dan 83%-88% sebanyak 5 orang memiliki fungsi paru yang terganggu. Jadi
(19,2%) dengan nilai rata-rata 90,42. tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru
Pada pasien PPOK penderita mengalami adalah mengembalikan dan memelihara fungsi
produksi sekret yang berlebih dan tertumpuk otot-otot pernapasan dan membantu
selama bertahun-tahun dan menyebabkan membersihkan sekret dari bronkus dan untuk
penderita mengalami penurunan gas darah dan mencegah penumpukan sekret, memperbaiki
saturasi oksigen (Danusantoso, 2016:225). pergerakan dan aliran sekret.
Data diatas menunjukkan nilai saturasi oksigen
Sejalan dengan penelitian yang kejalan napas besar untuk dikeluarkan. Saat
dilakukan oleh Pratama (2014) pada pasien dada mengembang dan tekanan dari abdomen
Tn.A didapatkan hasil penurunan derajat sesak pada diafragma menurun maka oksigen
napas setelah 6 kali diberikan terapi. Hal ini didalam paru-paru juga akan semakin
berarti bahwa teknik clapping dan vibrasi meningkat. Peningkatan oksigen di dalam
dapat membantu melancarkan jalan napas paru-paru akan membantu memperingan
pasien. Penelitian lain yang dilakukan oleh kesukaran napas dan sekaligus juga membantu
Ariasti (2014) dimana dalam penelitian yang meningkatkan saturasi oksigen serta
dilakukan didapatkan hasil kebersihan jalan mengurangi kerusakan membran alveolus
napas sebelum diberikan fisioterapi dad, akibat tertimbunnya cairan, sehingga perbaikan
responden yang jalan napasnya tidak bersih kondisi klien akan lebih cepat. Jika sekret
sebanyak 23 responden (88,47), sedangkan berkurang maka pasien dapat bernapas dengan
untuk kategori bersih sebanyak 3 responden normal kembali begitu pula dengan
(11,53%). Kemudian sesudah diberikan saturasinya.
fisioterapi dada, responden untuk kategori Penelitian yang mendukung
jalan napas bersih sebanyak 18 responden pernyataan tersebut dilakukan oleh Kitong dkk
(69,23%), sedangkan jumlah responden untuk (2013) dengan judul penelitian, dengan
kategori jalan napas tidak bersih adalah 8 simpulan terdapat pengaruh penghisapan lendir
responden (30,70%). endotrakeal tube terhadap kadar saturasi
Hasil uji analisa data dengan oksigen pada pasien yang dirawat di ruang
menggunakan uji paired dependent t-test ICU RSUP Dr. R. D. Kandou Manado serta
menunjukkan bahwa nilai ρ<ɑ (0,000<0,05. terdapat perbedaan kadar saturasi oksigen
Dengan demikian maka hipotesis nol (H 0) sebelum dan sesudah diberikan tindakan
ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada penghisapan lendir. Hasil menunjukkan terjadi
pengaruh teknik clapping dan vibrasi terhadap penurunan kadar saturasi oksigen dari
saturasi oksigen pasien PPOK di ruang IGD responden yaitu adanya selisih nilai kadar
RSUD Kabupaten Buleleng. Menurut peneliti saturasi oksigen sebesar 5,174%. Selain itu
teknik clapping dan vibrasi ini dapat dari hasil uji statistik t-Test pada responden
membantu pasien membersihkan jalan yaitu terdapat pengaruh yang signifikan
napasnya dari sekret sehingga ventilasi akan dimana nilai p-value =0,000 (α< 0.05).
maksimal dan pasien dapat bernapas dengan
lancar sehingga saturasi pasien dapat
meningkat. Teori menurut Djojodibroto (2016: KESIMPULAN DAN SARAN
113) pada penderita PPOK diupayakan
pengeluaran dan mengurangi sekresi dahaknya Simpulan
dengan sering kali diperlukan penggetaran Karakteristik responden berdasarkan
dinding dada dan juga dengan cara memukul umur sebagian besar responden berumur 51-60
punggung. Teknik ini diperlukan agar dahak tahun sebanyak 11 orang (42,3%), dan
mudah keluar. Fisioterapi dada tersebut terendah adalah pada umur 30-40 tahun
merupakan kelompok terapi yang digunakan sebanyak 6 orang (23,1%) dari 26 orang
untuk memobilisasi sekret diikuti dengan batuk responden yang digunakan sebagai sampel
produktif. Clapping berupa pemukulan dinding dalam penelitian. Karakteristik responden
dada untuk mengirimkan gelombang berbagai berdasarkan jenis kelamin sebagian besar
amplitudo dan frekuensi melalui dada, responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 16
perubahan konsistensi dan lokasi sputum. orang (61,5%) dan 10 orang (38,5%)
Hal ini didukung oleh penelitian yang responden berjenis kelamin perempuan.
dilakukan Ariasti dkk (2014), dengan hasil uji Rata-rata nilai saturasi oksigen pasien
Paired t-test program SPSS versi 18 dengan t PPOK sebelum diberikan teknik clapping dan
hitung sebesar -5,839 dengan P value 0,000 < vibrasi dari 26 pasien 90,42 (95% CI: 89,49-
0,05, yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima, 91,36) dengan standar deviasi 2,318. Nilai
sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada saturasi oksigen terendah 86 dan tertinggi 94.
pengaruh pemberian fisioterapi dada terhadap Dari estimasi interval disimpulkan bahwa 95%
kebersihan jalan napas pada pasien ISPA di diyakini bahwa rata-rata nilai aturasi oksigen
Desa Pucung Eromoko Wonogiri. pada pasien PPOK di IGD yaitu diantara 89,49
Teori dari Kozier (2010) mengatakan sampai dengan 91,36.
dimana ventilasi maksimal akan membuka area Rata-rata nilai saturasi oksigen setelah
atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret diberikan teknik clapping dan vibrasi dari 26
responden adalah 95,00 (95% CI: 93,90-96,10) Danusantoso, H. (2016). Buku Saku Ilmu
dengan standar deviasi 2,713. Nilai saturasi Penyakit Paru. Edisi 8.
oksigen terendah 90 dan tertinggi 99. Dari Jakarta:EGC
estimasi interval disimpulkan bahwa 95%
diyakini bahwa rata-rata nilai saturasi oksigen Dermawan, D., & Jamil, M.A. (2013).
pada pasien PPOK di IGD yaitu 93,90 sampai Ketrampilan Dasar Keperawatan
dengan 96,10. (Konsep dan Prosedur). Jilid 2.
Hasil uji yang dilakukan dengan Yogyakarta:Gosyen Publishing
menggunakan uji paired dependent t-test
menunjukkan bahwa hasil sig (2-tailed) atau ρ Djojodibroto, D.R. (2016). Respirologi
= 0,000. Karena nilai ρ lebih kecil dari 0.05 (Respiratory Medicine). Edisi 2.
(ρ<ɑ) maka H0 ditolak. Sehingga dapat Jakarta: EGC.
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh teknik
clapping dan vibrasi terhadap saturasi oksigen Gleadle, J. (2007). At a Galance Amannesis
pasien PPOK di ruang IGD RSUD Kabupaten dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:
Buleleng. Erlangga

Saran Hasanah, D.U. (2016). Penatalaksanaan


Adapun saran yang dapat peneliti sampaikan Fisioterapi Pada Penyakit Paru
yaitu: Penelitian ini diharapkan dapat Obstruksi Kronik Di Rskp Respira
menambah pengetahuan kepada para peserta Yogyakarta. 6-7
didik tentang pengaruh teknik clapping dan
vibrasi terhadap saturasi pasien PPOK. Hasil Hidayat, A.A.A & Uliyah, M. (2015).
penelitian ini dapat digunakan sebagai Pengantar Kebutuhan Dasar
masukan bagi perawat, tenaga kesehatan Manusia. Edisi 2. Jakarta:
lainnya dan tempat pelayanan kesehatan dalam Salemba Medika.
memberikan layanan khususnya teknik
clapping dan vibrasi di ruang IGD pada pasien Kartikawati. (2011). Buku Ajar Dasar-Dasar
PPOK serta dapat digunakan sebagai acuan Keperawatan Gawat Darurat.
dalam meningkatkan pelayanan pada pasien Jakarta: Salemba Medika
sehingga pelayanan kesehatan dapat lebih
optimal. Bagi peneliti selanjutnya dapat Khotimah, S. (2013). Latihan Endurance
digunakan sebagai acuan atau gambaran Meningkatkan Kualitas Hidup
informasi untuk pelaksanaan penelitian lebih Lebih Baik Dari Pada Latihan
lanjut berkaitan pengaruh teknik calpping dan Pernafasan Pada Pasien PPOK
vibrasi terhadap pasien PPOK. di BP4 Yogyakarta

REFERENSI Kitong, B.I., Mulyadi., & Malara. R. (2013)


Pengaruh Penghisapan Lendir
Aini, F. (2007). Pengaruh Breathing Endotrakeal Tube (ETT)
Retraining Terhadap Peningkatan Terhadap Kadar Saturasi Oksigen
Fungsi Ventilasi Paru Pada Pada Pasien Yang Dirawat di
Asuhan Keperawatan Pasien Ruang ICU RSUP Dr. R. D.
Ppok Kandou Manado.6.

Kozier., dkk. (2010). Buku Ajar


Ariasti, D., Aminingsih. S., & Endrawati. FudamentalKeperawatan :
(2014). Pengaruh Pemberian Konsep, Proses, dan Praktik.
Fisioterapi Dada Terhadap Edisi 7. Jakarta: EGC
Kebersihan Jalan Napas Pada
Pasien Ispa Di Desa Pucung Murti, A.K. (2015). Penatalaksanaan
Eromoko Wonogiri. Kosala. 2(2). Fisioterapi Pada Bronkitis Kronis
33 Di Balai Besar Kesehatan Paru
Masyarakat Surakarta. ¶ 11.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural
Keperawatan Konsep dan Nugraha, I. (2010). Hubungan Derajat Berat
Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Merokok Berdasarkan Indeks
Jakarta: Salemba Medika
Brinkman dengan Derajat Berat
PPOK.

Nursalam. (2014). Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Edisi 3. Jakarta:
Salemba Medika

Potter & Perry. (2013). Buku Ajar Fudamental


Keperawatan Konsep, Proses dan
Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Pratama, V.,D. (2014). Penatalaksanaan


Fisioterapi Pada Kasus
Pneumothoraks Dextra Di Rsu
Pku Muhammadiyah Yogyakarta.

Ringel, E. (2012). Buku Saku Hitam


Kedokteran Paru. Jakarta:Indeks

Riset Kesehatan Dasar 2013 (RISKESDAS)


oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan
Kementrian Kesehatan RI, 2013,
tersedia
http://www.depkes.go.id/resource
s/download/general/Hasil
%20Riskesdas%202013, 21
Februari 2017.

Smeltzer & Bare. (2013). Keperawatan


Medikal-Bedah. Edisi 8. Volume
1. Jakarta: EGC.

Vaughans, B.W. (2013). Keperawatan Dasar.


Yogyakarta: ANDI