Вы находитесь на странице: 1из 136

PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG

MENGGUNAKAN BIOFILM BAKTERI PEREDUKSI


SULFAT

MUCHAMAD YUSRON

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengolahan Air Asam


Tambang Menggunakan Biofilm Bakteri Pereduksi Sulfat adalah karya saya
sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis yang telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Oktober 2009

Muchamad Yusron
NRP P062050211

ii
ABSTRACT
MUCHAMAD YUSRON. Treatment of Acid Mine Drainage using Biofilm of
Sulfate Reducing Bacteria. Under supervision of DWI ANDREAS SANTOSA,
BIBIANA W. LAY and ANAS MIFTAH FAUZI.

Many mining and mineral processing industries discharge sulfate and


metal containing wastewater, which is called acid mine drainage. The formation
of acid mine drainage is generally the result of uncontrolled oxidation of the
sulfide minerals present in the terrain in which the drainage flows with
concomitant leaching of the metals. The high sulfate content in acid mine
drainage can be reduced through chemical neutralization or biological treatment.
Active biological treatment has been widely applied by using sulfate reducing
microorganisms. These microorganisms can sustain life in acid environment.
The aims of the research were: (i) to isolate and identify sulfate reducing bacteria
collected from acid environment, (ii) to study environmental factors that influence
growth of sulfate reducing bacteria, (iii) to treat acid mine drainage using
suspended cell reactor system of sulfate reducing bacteria, and (iv) to evaluate the
effectiveness of biofilm of sulfate reducing bacteria reactor for acid mine drainage
treatment. The research consists of several stages which started with exploration
and identification of sulfate reducing bacteria. On the final stage, the
effectiveness of biofilm of sulfate reducing bacteria for acid mine drainage
treatment was studied. Four promising isolates of sulfate reducing bacteria which
can sustain in acid environment were obtained from coal mining area at Muara
Enim, South Sumatra. The bacteria are classified as Desulfovibrio sp., which is
characterized as straight rods, motile, non spore- forming and able to grow in
simple organic carbon. The activity of bacteria depends on environmental
conditions. The optimum pH of Desulfovibrio sp. range between 5-7, and able to
reduce sulfate content of about 82-90%. Rice straw can be used as a carbon
organic source for bacterial growth. The application of freely suspended sulfate
reducing bacteria cell reactor efficiently reduce sulfate and metal content of
wastewaters, however operation still need long residence time. With 30 days
residence time, 89% of sulfate content was reduced, 97% of dissolved Fe and Mn
were reduced and pH increased to 7.5. The application of biofilm of sulfate
reducing bacteria cell system reactor was found more efficient in reducing sulfate
and metal content of acid mine drainage. With 144 hours residence time, 77.16%
of sulfate content was reduced, 88.72% of dissolved Mn and 69.72% of dissolved
Fe were reduced, and pH increased up to 7. By using biofilm of sulfate reducing
bacteria cell system, sulfate and metal content can be reduced to a value that meet
standard quality of industrial wastewaters within 68-80 hours residence time.

Keywords : Acid mine drainage, biofilm, sulfate reducing bacteria

iii
RINGKASAN
MUCHAMAD YUSRON. Pengolahan Air Asam Tambang Menggunakan
Biofilm Bakteri Pereduksi Sulfat. Dibawah bimbingan : DWI ANDREAS
SANTOSA, BIBIANA W. LAY dan ANAS MIFTAH FAUZI.

Air asam tambang merupakan limbah pencemar lingkungan yang terjadi


akibat aktifitas pertambangan. Limbah ini terjadi karena adanya proses oksidasi
bahan mineral pirit (FeS2 ) dan bahan mineral sulfida lainnya yang tersingkap ke
permukaan tanah dalam proses pengambilan bahan mineral tambang. Proses
kimia dan biologi dari bahan-bahan mineral tersebut menghasilkan sulfat dengan
tingkat kemasaman yang tinggi. Secara langsung maupun tidak langsung tingkat
kemasaman yang tinggi mempengaruhi kualitas lingkungan dan kehidupan
organisme.
Upaya untuk mengurangi dampak negatif air asam tambang ini telah
dilakukan, baik melalui penggunaan bahan kimia maupun secara biologi.
Penambahan bahan alkalin akan meningkatkan nilai pH, mempercepat laju
oksidasi ion fero (Fe2+), serta mengendapkan logam terlarut dalam bentuk
hidroksida dan karbonat. Teknologi lain adalah pembuatan lahan basah (wetland),
baik yang aerob maupun anaerob. Adanya tanaman pada sistem lahan basah ini
memberikan kontribusi dalam peningkatan kandungan bahan organik melalui zat-
zat hasil sekresi dan dekomposisi sisa tanaman. Cara lain yang diharapkan bisa
memberikan keuntungan lebih besar adalah dengan memanfaatkan bakteri
pereduksi untuk meningkatkan alkalinitas dan mengimobilisasi logam- logam
berbahaya. Untuk meningkatkan daya kerja bakteri pereduksi sulfat dalam reaktor
adalah dengan mengimobilisasi sel-sel bakteri pada suatu permukaan partikel
padatan, sehingga terbentuk biofilm. Dengan adanya biofilm tersebut diharapkan
akan meningkatkan efektivitas bakteri dalam meningkatkan pH dan
mengendapkan logam berbahaya dalam limbah air asam tambang.
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan : (i) mengisolasi dan
mengidentifikasi bakteri pereduksi sulfat yang mampu tumbuh dan beraktivitas
pada kondisi masam, (ii) mengetahui faktor- faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat, (iii) mengolah air asam
tambang dengan menggunakan bakteri pereduksi sulfat dalam reaktor sistem
tersuspensi, dan (iv) mengetahui kinerja reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat
untuk mereduksi air asam tambang.
Penelitian ini terdiri dari 4 kegiatan, yaitu (1) Eksplorasi dan identifikasi
bakteri pereduksi sulfat, (2) Pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat pada berbagai
kondisi lingkungan, (3) Pengolahan air asam tambang dengan reaktor anaerob
bakteri pereduksi sulfat tersuspensi, dan (4) Pengolahan air asam tambang dengan
reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat. Kegiatan 1 dilaksanakan dengan
menggunakan metode deskriptif, kegiatan 2 sampai 4 menggunakan metode
eksperimen di laboratorium.
Bakteri pereduksi sulfat diisolasi dari kolam penampungan air asam
tambang pertambangan batu bara PT Bukit Asam, Sumatera Selatan. Isolasi
dilakukan menggunakan media cair Postgate B yang disederhanakan. Hasil
isolasi tersebut kemudian dimurnikan dengan metode pengenceran. Selanjutnya
dilakukan seleksi untuk mendapatkan isolat yang mampu tumbuh pada pH rendah
dengan kemampuan mereduksi sulfat dan meningkatkan pH media yang tinggi.

iv
Identifikasi dilakukan hanya pada isolat yang dianggap unggul dengan media
padat maupun media cair. Penentuan tipe morfologi, pewarnaan Gram dan
pewarnaan spora dilakukan dari biakan media padat.
Kegiatan kedua dilakukan untuk mempelajari faktor- faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat, antara lain pH, konsentrasi
(kandungan) sulfat, dan sumber karbon. Pada kegiatan ketiga, pengolahan air
asam tambang dilakukan dengan menggunakan kolom pengolahan pada kondisi
anaerob bakteri pereduksi sulfat tersuspensi. Kolom dibuat dari kaca dengan
ukuran diameter panjang 10 cm, lebar 15, dan tinggi 20 cm, sehingga total volume
kolom 3000 cm3 . Limbah asam tambang dimasukkan ke dalam kolom dengan
ditambahkan nutrisi starter berupa asam laktat sebanyak 10 mL/L limbah dan
isolat bakteri pereduksi sulfat yang telah ditumbuhkan. Tiga isolat yang
digunakan pada tahap ini adalah ICBB 8815, ICBB 8816, dan ICBB 8818.
Pada kegiatan keempat, unit pengolahan air asam tambang menggunakan
biofilm bakteri pereduksi sulfat terdiri dari 3 bak yang terbuat dari kaca, yakni bak
pengisi, bak pengolah dan bak penampung. Bak pengolah yang merupakan
reaktor anaerob dibuat dengan volume 6000 mL dan dimensi dengan ukuran
panjang 20 cm, lebar 15 cm dan tinggi 20 cm. Pada bak pengolah ini diisi 1500 g
limbah jerami dan 4000 g batu vulkan (sebagai media tumbuh biofilm), sehingga
volume efektif reaktor adalah 3000 mL. Pengolahan limbah dilakukan secara
anaerob dengan menggunakan sistem curah (batch). Imobilisasi bakteri pereduksi
sulfat dilakukan dengan membiarkan kolom dalam kondisi anaerob selama 14 hari
sehingga terbentuk biofilm. Pengamatan pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat
yang menempel pada permukaan batu vulkan dilakukan dengan menggunakan
metode Scanning Electron Microscopy (SEM). Pengolahan limbah secara anaerob
dilakukan dengan 3 perlakuan, yaitu (1) jerami padi (sebagai kontrol), (2) jerami
padi dan ICBB 8815, dan (3) jerami padi dan ICBB 8818.
Dari penelitian ini diperoleh bahwa kondisi kolam penampungan yang
banyak mengandung sulfat dan pH rendah merupakan habitat yang sesuai untuk
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat. Namun demikian kelompok bakteri tersebut
mempunyai karakteristik yang berbeda, dilihat dari waktu tumbuh dan
kemampuan mereduksi sulfat. Dari kegiatan isolasi ini diperoleh empat si olat
unggul bakteri pereduksi sulfat yang mampu tumbuh pada pH 3. Keempat isolat
tersebut tergolong dalam kelompok Desulfovibrio sp., bakteri yang berbentuk
batang, motil, tidak membentuk spora dan menggunakan laktat sebagai sumber
organik.
Aktivitas bakteri dalam mereduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan. Bakteri Desulfovibrio sp. dapat tumbuh pada pH rendah, namun pH
optimum untuk pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat adalah 5-7, dan mampu
mereduksi sulfat dengan tingkat efisiensi 82-90%. Kebutuhan laktat sebagai
sumber organik untuk aktivitas bakteri dapat dipenuhi dari bahan organik yang
mudah terlapuk.
Penggunaan reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi mampu mengurangi
kandungan sulfat dan logam terlarut limbah air asam tambang, namun diperlukan
waktu yang lama. Dalam waktu 30 hari kandungan sulfat berkurang sebesar
89%, kandungan logam terlarut berkurang 97% dan pH meningkat menjadi 7.
Pengolahan limbah air asam tambang menggunakan reaktor biofilm bakteri
pereduksi sulfat lebih efisien dibandingkan dengan reaktor bakteri pereduksi sulfat

v
tersuspensi. Pengolahan limbah dengan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat
selama 144 jam mampu menurunkan kandungan sulfat sebesar 77,16%; Mn
terlarut berkurang sebesar 88,72% dan Fe terlarut berkurang sebesar 69,72%.
Dengan kandungan sulfat awal sekitar 950 mg/L, untuk menurunkan kandungan
sulfat dalam limbah air asam tambang sesuai dengan peraturan pemerintah
diperlukan waktu sekitar 68-80 jam.

vi
© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh kara tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepenttingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi Institut
Pertanian Bogor
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagaian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa ijin Institut Pertanian Bogor

vii
PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG MENGGUNAKAN
BIOFILM BAKTERI PEREDUKSI SULFAT

MUCHAMAD YUSRON

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

viii
Judul Disertasi : Pengolahan Air Asam Tambang Menggunakan Biofilm
Bakteri Pereduksi Sulfat
Nama : Muchamad Yusron
NRP : P062050211
Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui :

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa


Ketua

Prof. Dr. drh. Bibiana W. Lay, M.Sc. Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng
Anggota Anggota

Diketahui :

Ketua Program Studi Pengelolaan Dekan Sekolah Pascasarjana


Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS.

Tanggal Ujian : 16 Oktober 2009 Tanggal Lulus :

ix
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan keha dirat Allah Yang Maha Kuasa yang
telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi dengan judul “Pengolahan Air
Asam Tambang Menggunakan Biofilm Bakteri Pereduksi Sulfat”. Disertasi
ini merupakan salah satu syarat penyelesaian pendidikan program Doktor (S3)
pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih


yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, Prof. Dr. drh. Bibiana W. Lay, M.Sc. dan Dr. Ir.
Anas Miftah Fauzi, M.Eng. selaku ketua dan anggota komisi pembimbing
yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan sejak penyusunan
proposal, pelaksanan penelitian hingga selesainya penyusunan disertasi ini.

2. Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan yang


telah banyak memberikan arahan, dorongan dan motivasi selama masa studi
sampai penyusunan disertasi ini.

3. Ucapan terima kasih penulis sampaikan secara khusus kepada Dr. Ir. Dwi
Andreas Santosa yang telah menyediakan bahan penelitian dan peralatan
laboratorium sehingga penulis dapat menyelesaikan keseluruhan tahapan
penelitian.

4. Perusahaan tambang batu bara PT. Bukit Asam, Muara Enim yang telah
mengijinkan penulis melakukan penelitian selama di lapang dan menyediakan
limbah air asam tambang.

5. Kepala Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Departemen Pertanian,


yang telah memberikan kesempatan dan ijin kepada penulis untuk
melanjutkan studi pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

6. Seluruh staf dan teknisi pada Laboratorium Bioteknologi Lingkungan,


Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB), Bogor yang
telah banyak membantu penulis selama pelaksanaan penelitian.

x
7. Istri tercinta Erliza Noor yang selalu dengan sabar memberikan dorongan,
semangat dan doa yang tiada hentinya. Untuk kedua anak saya Faisal Rifqi
dan Raihan Rifqi terima kasih banyak atas pengertian, kesabaran dan doanya.

Akhirnya penulis berharap agar karya ilmiah ini dapat bermanfaat yang
yang membaca dan membutuhkan informasi yang berkaitan dengan disertasi ini.

Bogor, Oktober 2009

Muchamad Yusron

xi
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Malang, Jawa Timur pada tanggal 7 Oktober 1961,


merupakan anak kelima dari sebelas bersaudara dari pasangan (Alm) Anang
Bachrudin dan (Alm) Rahayu. Penulis menyelesaikan pendididikan menengah
pada SMA Negeri 3 Malang pada tahun 1980, kemudian menyelesaikan
pendidikan pada Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
Malang pada tahun 1985. Pada tahun 1997 penulis menyelesaikan studi program
S2 pada Faculty of Environmental Sciences, Griffith University, Australia. Pada
tahun 2005 diterima sebagai mahasiswa S3 pada Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor. Saat ini penulis bekerja sebagai peneliti pada Balai Penelitian Tanaman
Obat dan Aromatik, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Bogor.

xii
DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR TABEL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xv

DAFTAR GAMBAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xvi

DAFTAR LAMPIRAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xviii

PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
Kerangka Pemikiran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
Perumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Tujuan Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Hipotesis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Manfaat Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
Novelty . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9

TINJAUAN PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
Limbah Air Asam Tambang ........................... .... 10
Teknik Remediasi Air Asam Tambang ....................... 14
Bakteri Pereduksi Sulfat .................................. 19
Teknologi Biofilm ....................................... 28
Pembentukan Biofilm .................................... 29

METODE PENELITIAN ..................................... 31


Metode Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31
Pelaksanaan Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32
Metode Analisa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39
Analisa Data . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 40
Penyimpanan Biakan ..................................... 41

HASIL DAN PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 42


Eksplorasi dan Identifikasi Bakteri Pereduksi Sulfat . . . . . . . . . . . . . . 42
Pertumbuhan Bakteri Pereduksi Sulfat pada Berbagai Kondisi 49
Lingkungan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pengolahan Air Asam Tambang dengan Reaktor Bakteri Pereduksi 63
Sulfat Sistem Tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

xiii
Pengolahan Air Asam Tambang dengan Bioreaktor Biofilm Bakteri 69
Pereduksi Sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
KESIMPULAN DAN SARAN ................................. 82

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 84

LAMPIRAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 92

xiv
DAFTAR TABEL
Halaman

1. Beberapa hasil studi penggunaan biofilm dalam pengolahan air asam 5


tambang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. Donor elektron dan sumber karbon bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . 22
3. Data termodinamika oksidasi beberapa sumber karbon dan energi 25
selama reduksi sulfat secara biologi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4. Indikasi keberadaan bakteri pereduksi sulfat dari lumpur di kolam 43
penampungan air asam tambang di pertambangan batu bara Muara
Enim, Sumatera Selatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5. Nilai pH dan kandungan SO4 2- contoh air asam tambang di Muara 44
Enim, Sumatera Selatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6. Isolat dan asal isolat yang telah dimurnikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 46
7. Kemampuan reduksi sulfat isolat bakteri pereduksi sulfat pada pada 47
konsentrasi sulfat 500 mg/L dan pH awal 3, 4 dan 6 . . . . . . . . . . . . .
8. Karakteristik empat isolat unggul bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . . 48
9. Pengaruh pH media terhadap waktu tumbuh bakteri pereduksi sulfat, 50
konsentrasi sulfat 1000 mg/L . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
10. Pengaruh pH terhadap efisiensi bakteri dalam mereduksi sulfat . . . . 54
11. Tingkat kenaikan pH pada pH awal media yang berbeda . . . . . . . . . . 57
12. Waktu tumbuh isolat bakteri pereduksi sulfat pada beberapa level 58
konsentrasi sulfat pada pH 4 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13. Pengaruh konsentrasi sulfat awal terhadap total sulfat yang tereduksi 58
14. Waktu tumbuh isolat bakteri pereduksi sulfat pada laktat dan limbah 60
jerami padi sebagai sumber karbon organik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15. Karakteristik kimia limbah air asam tambang PIT-1, Bangko Barat, 64
Muara Enim . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
16. Jumlah koloni bakteri pereduksi sulfat terimobil pada batu vulkan . . 72

xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman

1. Perumusan masalah air asam tambang . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . 7


2. Proses pelarutan mineral pirit oleh bakteri Thiobacillus sp. . . . . . . . . 13
3. Proses oksidasi besi dan sulfur oleh bakteri Thiobacillus sp. . . . . . . . 13
4. Skema proses metabolisme reduksi sulfat dan pemanfaatan sumber 21
karbon . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5. Skema aliran elektron dalam sel Desulfovibrio, dimana H2 atau 22
senyawa organik sebagai sumber energi dan sulfat sebagai akseptor
elektron . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6. Skema mekanisme siklus hidrogen untuk menghasilkan energi pada 23
Desulfovibrio yang tumbuh pada laktat sebagai sumber energi dan
sulfat sebagai akseptor elektron . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7. Bagan pelaksanaan kegiatan penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31
8. Rancangan reaktor pengolahan air asam tambang secara anaerob .. . . 37
9. Rancangan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat untuk 38
pengolahan air asam tambang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
10. Indikasi terjadinya reduksi sulfat oleh bakteri pereduksi sulfat hasil 44
isolasi di kolam penampungan limbah air asam tambang di Muara
Enim, Sumatera Selatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
11. Pengaruh pH terhadap kecepatan tumbuh beberapa isolat bakteri 50
pereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
12. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan empat isolat bakteri pereduksi 52
sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13. Kandungan sulfat pada akhir penelitian pada level pH yang berbeda . 54
14. Total sulfida yang terbentuk pada akhir pengamatan pada level pH 55
yang berbeda . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15. Pengaruh pH dan bakteri pereduksi sulfat terhadap nilai pH akhir . . . 56
16. Pengaruh konsentrasi sulfat terhadap kemampuan bakteri dalam 59
mereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
17. Pengaruh konsentrasi sulfat awal terhadap kandungan sulfida yang 59
terbentuk . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
18. Pengaruh sumber karbon organik terhadap pola pertumbuhan bakteri 62
pereduksi sulfat Desulfovibrio sp. ICBB 8818 . . . . . . . . . . . . . . . . . .
19. Pengaruh sumber karbon terhadap kemampuan bakteri dalam 63
mereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
20. Pengaruh sumber karbon terhadap total sulfida yang terbentuk . . . . . 63

xvi
21. Pola pertumbuhan tiga isolat bakteri pereduksi sulfat pada reaktor 65
bakteri pereduksi sulfat tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
22. Penurunan konsentrasi sulfat pada limbah air asam tambang pada 66
reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
23. Peningkatan sulfida yang terbentuk pada reaktor bakteri pereduksi 67
sulfat tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
24 Peningkatan pH limbah air asam tambang pada reaktor bakteri 68
pereduksi sulfat tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
25. Penurunan konsentrasi logam terlarut limbah air asam tambang pada 69
reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
26. Foto permukaan batu vulkan hasil pengamatan dengan scanning 71
electron microscopy perbesaran 10.000x. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
27. Grafik penurunan konsentrasi sulfat dan produksi sulfida pada 74
reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
28. Grafik kenaikan pH limbah air asam tambang pada reaktor biofilm 75
bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
29. Grafik peningkatan COD limbah air asam tambang pada reaktor 76
biofilm bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
30. Grafik penurunan konsentrasi logam terlarut limbah air asam 78
tambang dengan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat . . . . . . . . . .

xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

1. Morfologi dan karakter fisiologi bakteri hasil isolasi dari lumpur 92


kolam penampungan limbah air asam tambang PT Bukit Asam,
Muara Enim . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Penambangan Batu Bara, 93
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 113 Tahun
2003 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3. Data pengamatan pengaruh pH terhadap waktu tumbuh BPS . . . . . . 94
4. Data pengamatan pengaruh pH media pertumbuhan empat isolat BPS 95
5. Data pengamatan pengaruh pH media terhadap sisa sulfat . . . . . . . . 96
6. Data pengamatan pengaruh pH media terhadap persentase reduksi 97
sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . .. . . . . . . . .
7. Data pengamatan pengaruh pH media terhadap pembentukan sulfida 98
8. Data pengamatan pengaruh pH terhadap kenaikan pH . . . . . . . . . . . 99
9. Data pengamatan pengaruh pH media terhadap delta kenaikan pH . . 100
10. Data pengamatan pengaruh konsentrasi sulfat terhadap waktu 101
tumbuh BPS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . .. . . . . .
11. Data pengamatan pengaruh konsentrasi sulfat terhadap reduksi sulfat 102
12. Data pengamatan pengaruh konsentrasi sulfat terhadap persentase 103
reduksi sulfat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13. Data pengamatan pengaruh konsentrasi sulfat terhadap pembentukan 104
sulfida . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
14. Data pengamatan pengaruh laktat sebagai sumber karbon organik 105
terhadap waktu tumbuh BPS, kenaikan pH, sisa sulfat dan sulfida
yang terbentuk . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15. Data pengamatan pengaruh jerami padi sebagai sumber karbon 106
organik terhadap waktu tumbuh BPS, kenaikan pH, sisa sulfat dan
sulfida yang terbentuk . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
16. Data pengamatan pengaruh sumber karbon organik terhadap 107
pertumbuhan BPS ICBB 8818 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
17. Data pengamatan pola pertumbuhan tiga isolat BPS pada reaktor 108
BPS tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
18. Data pengamatan penurunan konsentrasi sulfat pada reaktor BPS 109
tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
19. Data pengamatan peningkatan konsetrasi sulfida pada reaktor BPS 110
tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
20. Data pengamatan peningkatan pH pada reaktor BPS tersuspensi . . . 111

xviii
21. Data pengamatan penurunan Fe dan Mn terlarut pada reaktor BPS 112
tersuspensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
22. Data pengamatan penurunan konsentrasi sulfat dalam reaktor biofilm 113
BPS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
23. Data pengamatan peningkatan konsentrasi sulfida dalam reaktor 114
biofilm BPS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
24. Data pengamatan kenaikan pH dalam reaktor biofilm BPS . . . . . . . 115
25. Data pengamatan penurunan Mn terlarut dalam reaktor biofilm BPS 116
26. Data pengamatan penurunan Fe terlarut dalam reaktor biofilm BPS 117

xix
1

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama empat dekade terakhir industri tambang menjadi salah satu tulang
punggung perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia. Hasil survei industri
pertambangan Indonesia yang dilakukan oleh Pricewaterhouse Coopers tahun
2002 (Wahju, 2003) memperlihatkan bahwa total kontribusi industri
pertambangan terhadap ekonomi nasional tahun 2001 sebesar Rp. 14,3 triliun dan
memberikan kontribusi terhadap perkembangan regional dan masyarakat
sebesar Rp. 279 miliar. Pada tahun 2004 produksi batu bara Indonesia mencapai
127 juta ton dan meningkat menjadi 150 juta ton pada tahun 2005. Dengan
produksi sebesar itu pada tahun 2004 Indonesia mampu mengekspor batubara
lebih dari 95 juta ton. Dari data yang ada saat ini, sumber batu bara (resources)
sebanyak 57,8 milyar ton. Dari jumlah tersebut hanya 7 milyar ton yang
merupakan cadangan pasti. Sebagian besar cadangan tersebut hanya tersebar di
Sumatera Selatan (37 persen), Kalimantan Timur (35 persen) dan Kalimantan
Selatan (26 persen).
Industri pertambangan merupakan industri yang mendukung pertumbuhan
ekonomi, tetapi juga menyebabkan perubahan lingkungan. Industri pertambangan
mempunyai potensi besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama
untuk daerah terpencil. Industri pertambangan dikenal sebagai industri pionir
karena investasi pertambangan memerlukan pembangunan infrastruktur yang
mampu membuka suatu wilayah dari isolasi geografis. Disisi lain industri
pertambangan juga merupakan industri yang dapat menimbulkan perubaha n
lingkungan secara drastis, sehingga dapat mengancam kelestarian fungsi
lingkungan dan fungsi sosial kehidupan masyarakat. Banyak sekali bukti
pencemaran lingkungan sebagai akibat kegiatan pertambangan.
Salah satu pencemaran lingkungan yang terjadi akibat aktifitas
pertambangan adalah air asam tambang. Air asam tambang terjadi karena adanya
proses oksidasi bahan mineral pirit (FeS2 ) dan bahan mineral sulfida lainnya.
Bahan mineral tersebut tersingkap ke permukaan tanah dalam proses pengambilan
bahan mineral tambang. Proses oksidasi tersebut terjadi dengan adanya mineral
2

pirit, air dan oksigen. Seperti diketahui deposit mineral batubara mengandung 1-
20 persen bahan pirit-sulfur dan sulfur organik (Johnson dan Hallberg, 2005).
Proses kimia dan biologi dari bahan-bahan mineral pirit tersebut
menghasilkan ion sulfat dengan tingkat kemasaman yang tinggi, atau yang lebih
dikenal dengan air asam tambang (Acid Mine Drainage). Air asam tambang
tersebut kemudian menyebar masuk ke tanah-tanah di sekitarnya dan bahkan
masuk ke aliran air sungai. Tingkat kemasaman yang tinggi pada limbah air asam
tambang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas
lingkungan dan kehidupan organisme. Sebagian besar tumbuhan dan hewan tidak
mampu hidup pada pH rendah, sehingga merusak keragaman ekosistem, dan
hanya mikroorganisme asidofil yang mampu bertahan dan hidup pada pH rendah
(Ingledew, 1990).
Tingkat kemasaman yang tinggi meningkatkan kelarutan logam- logam
berbahaya, seperti As, Cd, Cr, dan Pb, yang sering berasosiasi dengan mineral
pirit (Sobolewski, 1999). Meningkatnya kelarutan logam- logam tersebut sangat
membahayakan organisme air, karena akan berakibat pada keracunan dan bahkan
dapat menyebabkan kematian hewan air. Oleh karena itu, peningkatan kelarutan
logam berbahaya tersebut akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem.
Keberadaan logam terlarut sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan
kelangsungan hidup di lingkungan. Walaupun pada konsentrasi yang sangat
rendah efek ion logam terlarut dapat berdampak langsung ataupun terakumulasi
dalam rantai makanan (Suhendrayatna, 2001). Logam terlarut tersebut dapat
ditransfer dengan jangkauan yang sangat jauh di lingkungan, berpotensi
mengganggu kehidupan biota lingkungan dan pada akhirnya berpengaruh
terhadap kesehatan manusia.
Sampai saat ini limbah tambang di Indonesia, baik dalam bentuk air asam
tambang maupun limbah tailing, belum dikelola dengan baik, sehingga potensi
pencemaran lingkungan tanah dan sistem perairan darat sangat besar.
Pembentukan air asam tambang di Indonesia cukup tinggi, mengingat 95%
tambang di Indonesia adalah tambang terbuka dan intensitas hujan sangat tinggi.
Di daerah pertambangan batu bara di Kalimantan, walaupun tidak ada data yang
pasti, namun kondisi di lapang memperlihatkan pencemaran limbah air asam
3

tambang yang cukup luas. Namun demikian, sampai saat ini belum ada data
kuantitatif dampak kerusakan lingkungan sebagai akibat limbah air asam
tambang.

1.2 Kerangka Pemikiran


Upaya untuk mengurangi dampak negatif air asam tambang ini telah
dilakukan, baik melalui penggunaan bahan kimia maupun secara biologi. Salah
satu proses pengolahan aktif adalah dengan menambahkan bahan kimia yang
dapat menetralisir kemasaman limbah. Penambahan bahan alkalin akan
meningkatkan nilai pH, mempercepat laju oksidasi ion fero (Fe2+), serta
mengendapkan logam terlarut dalam bentuk hidroksida dan karbonat.
Beberapa bahan penetralisir yang banyak digunakan antara lain adalah
kalsium oksida, kalsium karbonat, sodium hidroksida, magnesium oksida dan
magnesium hidroksida (Johnson dan Hallberg, 2005). Efektivitas masing- masing
bahan tersebut sangat beragam. Sodium hidroksida (NaOH) jauh lebih efektif
tetapi harganya sangat mahal. Penggunaan bahan kimia tersebut sangat efektif
dalam mengolah air asam tambang, tetapi biaya operasionalnya sangat tinggi,
serta menghasilkan lumpur limbah yang sangat banyak, terutama pada
penggunaan senyawa kalsium.
Teknologi lain yang juga banyak dikembangkan adalah pembuatan lahan
basah (wetland), baik yang aerob ma upun anaerob. Adanya tanaman pada sistem
lahan basah ini memberikan kontribusi meningkatkan kandungan bahan organik
melalui zat- zat hasil sekresi dan dekomposisi sisa tanaman. Disamping itu,
pengurangan konsentrasi logam sebagian terjadi karena proses pengendapan
logam dengan adanya reduksi sulfat secara biologi, dan sebagian kecil juga
diserap oleh tanaman.
Keuntungan dari sistem ini adalah biaya yang dibutuhkan relatif kecil
dibandingkan dengan sistem penambahan bahan kimia alkalin. Namun demikian
sistem ini juga mempunyai kelemahan, diantaranya adalah bahwa sistem ini
menurunkan nilai pH karena adanya pelepasan H+ selama proses pengendapan
logam. Disamping itu, proses sistem lahan basah sangat lambat dan
membutuhkan lahan yang luas.
4

Strategi yang diharapkan bisa memberikan keuntungan lebih besar adalah


dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menghasilkan dan meningkatkan
alkalinitas dan mengimobilisasi logam- logam berbahaya. Beberapa
mikroorganisme mampu tumbuh dan hidup di lingkungan yang banyak
mengandung sulfat, dan memanfaatkan ion sulfat sebagai terminal akseptor
elektron dan memanfaatkan bahan organik sebagai donor elektron (Moosa et al.,
2002), atau yang banyak dikenal sebagai bakteri pereduksi sulfat. Beberapa genus
bakteri pereduksi sulfat antara lain adalah Desulfobacter, Desulfococcus,
Desulfotomaculum, Desulfomonas, Desulfomena, Desulbacterium, Desulfovibrio,
Desulfosarcina, Desulfomonile, Thermodesulfofhabdus dan Desulfocinum.
Pemanfaatan bakteri pereduksi sulfat untuk mengolah air asam tambang
telah banyak diteliti, namun sebagian besar masih dalam bentuk sel bebas.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah bahwa sel bebas bakteri bisa tercuci oleh
aliran air, sehingga mengurangi efektifitas daya kerjanya. Salah satu cara untuk
meningkatkan daya kerja bakteri pereduksi sulfat adalah dengan mengimobilisasi
sel-sel bakteri pada suatu permukaan partikel padatan, sehingga terbentuk biofilm.
Dengan adanya biofilm tersebut diharapkan akan meningkatkan efektivitas bakteri
dalam meningkatkan pH dan mengendapkan logam berbahaya dalam limbah air
asam tambang.
Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan biofilm
bakteri pereduksi sulfat mampu mengurangi kandungan sulfat (Tabel 1).
Penelitian tersebut menggunakan berbagai jenis bakteri, matriks pembawa
(carrier matrix) dan sumber karbon organik. Chen et al. (1994) menggunakan
bakteri Desulfovibrio desulfuricans, dan memanfaatkan pasir sebagai matriks
pembawa dan laktat sebagai sumber karbon organik. Metode berbeda digunakan
oleh Jong dan Parry (2003), yakni dengan menggunakan bakteri kultur campuran,
pasir sebagai matriks pembawa dan laktat sebagai sumber karbon organik.
Dengan menerapkan metode yang berbeda, laju reduksi sulfat juga bervariasi
0,005 sampai 0,271 g/L/jam. Berdasarkan hasil- hasil penelitian tersebut, pada
penelitian ini dibuat reaktor dengan menggunakan bakteri pereduksi sulfat,
matriks pembawa dan sumber karbon organik yang berbeda, dengan tujuan untuk
meningkatkan la ju reduksi dan efisiensi reduksi sulfat.
5

Tabel 1. Beberapa hasil studi penggunaan biofilm dalam pengolahan air asam tambang

Bakteri Tipe Carrier Suhu pH Laju alir Konsentrasi Waktu Laju Laju
reaktor *) matrix/sumber (oC) (mL/jam) sulfat awal tinggal pengisian reduksi Pustaka
organik (g/L) (jam) (g/L/jam) (g/L/jam)

Kultur campuran UPBR Pasir/laktat 25 4,5 156,6 2,5 16,2 0,155 0,02 Jong dan Parry,
(4,78 L) 2003
Campuran mulsa UPBR Pasir + pirit + - 6,46 - 3,66 - - 0,005 Waybrant et al.,
dan limbah gergaji (0,785 L) bahan organik 2002
Campuran UPBR Keramik berpori - 2,9 - - 2,0 12,0 0,167 0,132 Glombitza,
(0,85 L) /etanol 3,2 2001
Campuran UPBR (3,9 Batuan lava - 2,9 - - 1,97 4,2 0,469 0,271 Glombitza,
m3 ) /methanol 3,2 2001
Pupuk kandang UPBR Pupuk kandang 23-26 4,2 180 0,9 6,6 0,136 0,072 Tsukamoto dan
(7,85 L) /methanol Miller, 1999
Campuran UPBR Pasir/laktat - 4,5 36 1,484 21,8 0,068 0,031 Elliot et al.,
(2,515 L) 1998
Desulfovibro UPBR Pasir/laktat 25 7 65 0,9 6,5 0,138 0,015 Chen et al.,
desulfuricans (1,18 L) 1994

*) UPBR = Up-flow packed bed bioreactor


6

1.3 Perumusan Masalah


Limbah air asam tambang merupakan permasalahan lingkungan yang
dihadapi di seluruh industri tambang di dunia. Melihat permasalahan lingkungan
yang ditimbulkan, beberapa tindakan telah dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan dampak negatif tersebut. Salah satu langkah adalah langkah
preventif, yakni menghindari terjadinya limbah air asam tambang. Prinsip
langkah preventif ini adalah menghindari terjadinya proses oksidasi bahan mineral
pirit dan sulfida lainnya (Johnson dan Hallberg, 2005), yakni dengan menyimpan
batuan mineral pirit dalam kondisi anaerob. Upaya preventif ini cukup sulit untuk
diterapkan, sehingga langkah yang bisa dilakukan adalah meminimalkan dampak
negatif limbah air asam tambang terhadap aliran dan ekosistem sungai, serta
dampak negatif tersebut terhadap lingkungan yang lebih luas.
Ada beberapa teknik yang telah dikembangkan untuk mengurangi dampak
negatif limbah asam tambang. Teknik remediasi tersebut dapat dikelompokkan
menjadi remediasi abiotik dan biologi (Johnson dan Hallberg, 2005). Teknik
remediasi abiotik yang telah dikembangkan antara lain dengan cara menetralisir
sifat masam tersebut yakni dengan menambahkan bahan kimia (Coulton et al.,
2003). Teknik ini dikenal dengan perlakuan aktif. Penambahan bahan-bahan
alkalin pada limbah asam tambang akan meningkatkan pH, mempercepat laju
oksidasi kimia dari ion Fe2+ dan mengendapkan logam- logam yang ada pada
larutan dalam bentuk hidroksida atau karbonat.
Strategi remediasi secara biologi (bioremediasi) didasarkan pada
kemampuan beberapa mikroorganisme untuk menghasilkan dan meningkatkan
alkalinitas dan mengimobilisasi logam- logam berbahaya. Pendekatan penting
dalam pengolahan air asam tambang adalah meningkatkan pH dan mengurangi
konsentrasi sulfat, yang merupakan faktor penting untuk menghilangkan logam
beracun dari limbah air asam tambang. Oleh karena itu, Suyasa (2002) mencoba
meningkatkan pH dan mengurangi logam terlarut dengan memanfaatkan bakteri
pereduksi sulfat.
Untuk mendapatkan kondisi lingkungan yang cukup sesuai, beberapa
mikroorganisme membentuk suatu koloni yang menempel di permukaan padatan,
yang dikenal dengan biofilm (Watnik dan Kolter, 2000). Pembentukan biofilm ini
7

sering terjadi pada saat substrat sumber energi mikroorganisme berada dalam
jumlah yang kurang mencukupi (Marshal, 1998), sehingga mampu memanfaatkan
keterbatasan tersebut secara efisien. Donian (2002) mendefinisikan biofilm
sebagai sekumpulan sel mikrob yang berasosiasi dan menempel pada matriks
padatan terutama bahan-bahan polisakarida, serta bahan-bahan lain seperti
partikel batuan, mineral kristal, dan lain- lain. Pembentukan biofilm tersebut
menciptakan kondisi lingkungan yang optimal bagi aktivitas mikrob (Santegoeds,
et al., 1998). Oleh karena itu, pembentukan dan pemanfaatan biofilm bakteri
pereduksi sulfat akan meningkatkan efektivitas bakteri dalam meningkatkan pH
dan mengendapkan logam berbahaya dalam limbah air asam tambang.
Berdasarkan permasalahan, secara ringkas permasalahan dan upaya yang
dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif limbah air asam tambang
disajikan pada Gambar 1.

AIR ASAM
TAMBANG

REMEDIASI

BAHAN KIMIA MIKROB

BAKTERI
PEREDUKSI SULFAT
REMEDIASI
ABIOTIK REMEDIASI
BIOLOGI

BIOFILM BAKTERI
PEREDUKSI SULFAT

LIMBAH RAMAH
LINGKUNGAN

Gambar 1. Perumusan masalah air asam tambang


8

Dari uraian tersebut, permasalahan yang dipecahkan dalam penelitian ini


adalah :
1. Ada mikrob di alam yang mampu tumbuh dan berkembang pada kondisi
asam. Seberapa jauh mikrob tersebut dapat dimanfaatkan dalam pengolahan
limbah air asam tambang ?
2. Faktor lingkungan apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan mikrob
bakteri pereduksi sulfat ?
3. Apakah bakteri pereduksi sulfat yang terimobilisasi dalam bentuk biofilm
lebih efektif dalam mereduksi sulfat dan logam- logam terlarut dibandingkan
dalam bentuk sel bebas ?

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan utama dari penelitian ini adalah menghasilkan teknologi pengolahan
limbah air asam tambang dengan memanfaatkan teknik biofilm bakteri pereduksi
sulfat. Untuk mendapatkan hasil tersebut, maka tujuan masing- masing kegiatan
penelitian adalah sebagai berikut,
1. Mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri pereduksi sulfat yang mampu
tumbuh dan beraktivitas pada kondisi masam,
2. Mengetahui faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan
bakteri pereduksi sulfat,
3. Mengolah air asam tambang dengan menggunakan bakteri pereduksi sulfat
dalam reaktor sistem tersuspensi,
4. Mengetahui kinerja reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat untuk mereduksi
air asam tambang

1.5 Hipotesis
Sesuai dengan tujuan masing- masing tahapan kegiatan, maka hipotesis
penelitian secara keseluruhan adalah :
1. Kolam penampungan limbah air asam tambang di daerah pertambangan
batu bara merupakan habitat yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat.
9

2. Pertumbuhan dan aktifitas bakteri pereduksi sulfat dipengaruhi faktor


lingkungan
3. Efisiensi mikrob dalam mereduksi sulfat dalam air asam tambang lebih
tinggi dalam kondisi terimobilisasi (biofilm) dibandingkan dengan kondisi
tersuspensi.
4. Efisiensi mikrob dalam mereduksi kandungan logam dalam air asam
tambang lebih tinggi dalam kondisi terimobilisasi (biofilm) dibandingkan
dengan kondisi tersuspensi.

1.6. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1. Bakteri pereduksi sulfat yang diisolasi dari ekosistem spesifik di Indonesia
mampu menambah penge tahuan dan kekayaan sumberdaya hayati
2. Teknologi biofilm bakteri pereduksi sulfat ini mampu dimanfaatkan secara
lebih luas dalam praktek di lapangan, sehingga dapat mengurangi dampak
negatif limbah asam tambang terhadap lingkungan.

1.7. Novelty
Teknik pengolahan limbah air asam tambang dengan menggunakan biofilm
bakteri pereduksi sulfat, dengan memanfaatkan batu vulkan sebagai matriks
pembawa dan limbah jerami padi sebagai sumber karbon organik.
10

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Limbah Air Asam Tambang
Limbah air asam tambang merupakan permasalahan lingkungan yang
dihadapi di seluruh industri tambang di dunia. Di Amerika Serikat pencemaran
limbah air asam tambang di seluruh wilayah pertambangan mencakup area sekitar
25.000 hektar dan mencemari wilayah aliran air permukaan yang cukup luas
(Durkin dan Herrmann, 1994). Di Indonesia di wilayah industri pertambangan
limbah air asam tambang menjadi permasalahan lingkungan yang krusial. Hasil
monitoring limbah pertambangan batu bara di Kalimantan, atau pertambangan
tembaga di Nusa Tenggara dan Papua, memperlihatkan bahwa limbah air bua ngan
tambang masih melebihi ambang batas mutu air. Hal ini yang menyebabkan
kondisi lingkungan di sekitar limbah buangan tersebut mengalami kerusakan.
Air asam tambang adalah limbah yang mengancam kelestarian lingkungan
yang terbentuk akibat kegiatan pertambangan. Johnson dan Hallberg (2005)
mengemukakan bahwa pada tahun 1989 diperkirakan 19.300 km badan sungai
dan 72.000 hektar danau dan bendungan di berbagai belahan di dunia mengalami
kerusakan karena limbah air asam tambang, walaupun tingkat kerusakan tersebut
sulit untuk diukur secara tepat.
Proses terjadinya air asam tambang telah diuraikan secara rinci oleh
Johnson (2003). Air asam tambang merupakan hasil reaksi oksidasi batuan
tambang yang kaya akan mineral sulfida. Banyak jenis mineral sulfida yang ada
di alam, seperti pyrrhotite (FeS), arsenopirit (FeAsS), chalcopirit (CuFeS2 ), dan
pirit (FeS2 ). Pirit merupakan mineral sulfida yang banyak dijumpai pada
pertambangan batu bara. Batuan sulfida tersebut mengalami oksidasi dengan
adanya air dan oksigen, yang dikatalis oleh bakteri pengoksida besi dan sulfur,
seperti Thiobacillus ferrooxidans, Leptospirillum ferrooxidans dan Thiobacillus
thiooxidans (Schipper, 2004; Cohen, 2005; Johnson dan Halberg, 2005).
Reaksi oksidasi pirit merupakan reaksi yang kompleks, sehingga Lizama
dan Suzuki (1989) membagi proses oksidasi pirit menjadi tiga reaksi utama, yakni
(i) reaksi spontan yang terjadi saat mineral pirit tersingkap ke permukaan tanah,
(ii) reaksi dipercepat dengan adanya ion Fe3+, dan (iii) reaksi biologi yang
mengikutsertakan aktivitas oksidasi bakteri pengoksida besi dan sulfur.
11

Reaksi oksidasi pirit (FeS2 ) dapat ditulis dengan persamaan sebagai


berikut:
FeS2 (s) + 7/2 O2 + H2O à Fe2+ + 2SO4 2- + 2H+ (1)
Fe2+ + 1/4 O2 + H+ à Fe3+ + ¼ H2 O (2)
FeS2 (s) + 14Fe3+ + 8H2O à 15 Fe2+ + 2SO4 2- + 16 H+ (3)
Fe3+ + 3H2 O à Fe(OH)3 (s) + 3H+ (4)
Secara keseluruhan oksidasi pirit mengikuti persamaan berikut,
FeS2 (s) + 15/4 O2 + 7/2 H2 O à Fe(OH)3 (s) + 2SO4 2- + 4H+ + energi (5)
Reaksi (1) dan (2) menunjukkan oksidasi mineral sulfida pirit membentuk ion
Fe3+, sulfat dan beberapa proton pembentuk kemasaman, sehingga kondisi
lingkungan menjadi lebih asam. Ion Fe3+ merupakan pengoksida yang cukup
kuat, sehingga mempercepat oksidasi mineral sulfida membentuk ion sulfat
(Fowler dan Crundwell, 1998). Penurunan kemasaman lingkungan merupakan
kondisi yang cukup sesuai bagi pertumbuhan mikrob asidofilik pengoksida besi
dan sulfur.
Proses oksidasi pirit menjadi Fe2+ dan SO42- sangat dipengaruhi oleh
konsentrasi Fe3+ dan pH lingkungan. Peningkatan konsentrasi Fe3+ akan
mempercepat laju oksidasi pirit, sedangkan peningkatan nilai pH lingkungan akan
menghambat laju oksidasi pirit (Williamson dan Rimstidt, 1994). Hossner dan
Doolittle (2003) mengemukakan bahwa pada nilai pH di bawah 4, ion Fe3+ akan
mudah larut dan menjadi pengoksida kuat bagi mineral sulfida. Pada kondisi
demikian laju oksidasi FeS2 berubah sesuai dengan perubahan waktu tergantung
pada konsentrasi FeS2 . Pada nilai pH lebih dari 4, laju oksidasi FeS2 akan konstan
sepanjang waktu, dan pada nilai pH di atas 4,5, oksidasi FeS2 lebih banyak terjadi
dengan adanya oksigen, sedang bakteri T. ferrooxidans kurang aktif.
Vaughan et al. (2001) mengemukakan bahwa reaksi oksidasi mineral
sulfida dipengaruhi oleh sifat fisika dan kimia mineral sulfda, diantaranya adalah
perbandingan stoikiometri kandungan logam dan sulfur dalam mineral sulfida dan
ukuran permukaan mineral. Dikemukakan bahwa ukuran permukaan mineral
akan menentukan reaksi kimia yang terjadi, seperti interaksi antara mineral pirit
dengan beberapa logam tertentu (Cu dan Cd), dan reaksi redoks.
12

Proses oksidasi ion Fe2+ menjadi Fe3+ dipercepat dengan adanya mikrob
pengoksida besi, seperti T. ferrooxidans dan L. ferrooxidans. T. ferrooxidans
mampu memanfaatkan Fe3+ untuk mengoksidasi senyawa sulfur, tetapi laju
oksidasi sulfur tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan oksidasi Fe2+
(Lizama dan Suzuki, 1989). Laju oksidasi FeS2 akan dipercepat dengan adanya
Fe3+ dan bakteri T. ferrooxidans (Fowler et al., 1999). Hossner dan Doolittle
(2003) mengemukakan bahwa dengan adanya aktivitas bakteri pengoksida, laju
oksidasi meningkat sampai 106 kali lipat, sedang Schrenk et al. (1998)
mengemukakan bahwa percepatan laju pelarutan pirit ole h bakteri mencapai 10-5
µmol Fe per sel per hari pada pH 0,7 dan suhu 42o C.
Keberadaan bakteri pengoksida Fe dan sulfur sangat mempengaruhi laju
oksidasi mineral pirit. Sand dan Gehrke (2006) mengemukakan bahwa bakteri
pengoksida T. ferrooxidans tidak ha nya mampu meningkatkan laju oksidasi pirit
melebihi laju oksidasi yang terjadi secara kimia, tetapi bakteri T. ferrooxidans
juga mampu berinteraksi langsung dengan mineral melalui sekresi ektraselular
atau melalui oksidasi dengan enzim spesifik mineral sulfida yang ada di
permukaan dinding sel, dengan mengikuti persamaan seperti di bawah ini
FeS2 + H2 O + 7/2O2 bakteri Fe2+ + 2SO4 2- + 2H+
Proses pelarutan dan oksidasi mineral oleh bakteri terjadi melalui
singgungan langsung bakteri dengan permukaan partikel mineral. Naveke (1986)
menggambarkan pentingnya peran bakteri dalam proses pelarutan dan oksidasi
pirit seperti pada Gambar 2. FeS2 akan terurai menjadi Fe2+ dan S2-. Selanjutnya
bakteri T. ferrooxidans akan berperan dalam mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+
seperti disajikan pada Gambar 3(a). T. ferrooxidans mengoksidasi Fe2+ untuk
menghasilkan energi yang kemudian dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan per-
kembangan sel bakteri. Sedangkan S2- atau S0 dioksidasi menjadi SO4 2- oleh T.
ferrooxidans bersama-sama denga n T. thiooxidans, seperti pada Gambar 3.
Proses oksidasi S2- menjadi SO4 2- mengikuti reaksi berikut,
S2- à So à S2O32- à S4 O6 2- à SO32- à SO42-
13

Gambar 2. Proses pelarutan mineral pirit oleh bakteri Thiobacillus sp.

(a)

(b)

Gambar 3. Proses oksidasi besi dan sulfur oleh bakteri Thiobacillus sp.

Bakteri T. ferrooxidans mengoksidasi sulfida menjadi sulfat untuk


mendapatkan energi bagi pertumbuhannya. Melalui proses tersebut, T.
ferrooxidans mampu melarutkan logam dari senyawa sulfida secara langsung
maupun tidak langsung seperti reaksi berikut (Lizama dan Suzuki, 1987),
MS + 2O2 à M2+ + SO42- (secara langsung)
MS + 2Fe2+ à M2+ + S0 + 2Fe2+ (secara tidak langsung)
14

dimana MS adalah logam sulfida dan M2+ adalah ion logam bervalensi 2. Ion
Fe2+ dan S0 akan teroksidasi oleh T. ferrooxidans membentuk Fe3+ dan SO4 2-.
Terbentuknya ion sulfat sangat mempengaruhi kemasaman lingkungan.
Pada pH 2.5 sampai 3.5, sulfat akan melarutkan ion- ion logam dari bentuk
karbonat dan oksidanya dan relatif rendah terhadap logam sulfida (Greenberg et
al., 1992). Disamping itu, adanya ion Fe3+ yang merupakan pengoksida kuat
mampu melarutkan mineral- mineral logam sulfida, seperti timbal, tembaga, seng
dan kadmium, seperti persamaan berikut :
MS + 2Fe3+ à M2+ + S2- + 3Fe2+
Melalui reaksi tersebut, logam- logam berat dalam mineral sulfida akan
teroksidasi menjadi ion logam yang terlarut (Leduc dan Ferroni, 1994). Dengan
adanya kandungan sulfat dan logam yang terlarut menyebabkan limbah air asam
tambang sangat berbahaya bagi kehidupan flora dan fauna, serta ekosistem secara
keseluruhan (Downing, 2002).
Tingkat kemasaman yang tinggi meningkatkan kelarutan logam- logam
berbahaya, seperti As, Cd, Cr, Pb, dan Se. Meningkatnya kelarutan logam- logam
tersebut akan sangat membahayakan organisme air, karena akan berakibat pada
keracunan dan bahkan dapat menyebabkan kematian hewan air. Dengan
demikian, peningkatan kelarutan logam berbahaya tersebut akan mempengaruhi
keseimbangan ekosistem.
Tingkat kemasaman yang tinggi pada limbah air asam tambang secara
langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas lingkungan dan
kehidupan organisme. Sebagian besar tumbuhan dan hewan tidak mampu hidup
pada pH rendah, dan hanya mikroorganisme asidofil yang mampu bertahan dan
hidup pada pH rendah (Ingledew, 1990). Sampai saat ini limbah air asam
tambang ini belum dikelola dengan baik, sehingga mencemari sistem perairan
darat, dan bahkan mencemari perairan pesisir dan laut.

2.2. Teknik Remediasi Air Asam Tambang


Cukup banyak teknologi yang telah dikembangkan untuk mengolah air asam
tambang. Berdasarkan proses pengolahannya, teknologi pengolahan air asam
tambang dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu (1) proses aktif dan (2)
15

proses pasif, sedang Johnson dan Halberg (2005) mengelompokkan teknologi


tersebut berdasarkan pada bahan yang digunakan, yakni remediasi abiotik dan
remediasi biologi.
Proses aktif lebih sering kali dimaksudkan sebagai aplikasi penambahan
bahan alkalis secara terus menerus untuk menetralkan limbah air asam tambang,
sedangkan istilah proses pasif adalah penggunakan ekosistem lahan basah
(wetland) baik secara alami maupun buatan. Beberapa peneliti mengemukakan
bahwa kelebihan dari proses pasif adalah biaya yang dibutuhkan untuk
pemeliharaan lahan basah lebih sedikit dibandingkan proses aktif.

2.2.1. Strategi remediasi abiotik


Berdasarkan prosesnya, strategi remediasi abiotik dapat dikelompokkan
menjadi teknologi aktif dan teknologi pasif.

2.2.1.1. Teknologi aktif


Teknologi yang banyak berkembang untuk mengurangi dampak negatif air
asam tambang adalah proses pengolahan aktif, termasuk didalamnya penambahan
bahan kimia yang dapat menetralisir kemasaman limbah. Penambahan bahan
alkalin akan meningkatkan nilai pH, mempercepat laju oksidasi ion fero (Fe2+),
serta mengendapkan logam terlarut dalam bentuk hidroksida dan karbonat.
Berbagai bahan penetralisir telah banyak digunakan seperti kalsium oksida,
kalsium karbonat, sodium hidroksida, magnesium oksida dan magnesium
hidroksida. Efektivitas masing- masing bahan tersebut sangat beragam. Sodium
hidroksida (NaOH) jauh lebih efektif tetapi harganya sangat mahal. Penambahan
bahan kimia tersebut sangat efektif dalam mengolah air asam tambang, tetapi
biaya operasionalnya sangat tinggi, serta meghasilkan lumpur limbah yang sangat
banyak, terutama pada penggunaan senyawa kalsium. Untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan bahan kimia, dan untuk mengurangi limbah yang dihasilkan,
beberapa peneliti telah melakukan perbaikan teknik pengendalian limbah air asam
tambang. Aube dan Payant (1997) mencoba memperbaiki teknik pengolahan
limbah melalui penambahan bahan kimia secara bertahap dan mempertahankan
nilai pH, mampu membersihkan beberapa logam seperti arsenik dan molibdenum.
16

2.2.1.2. Teknologi pasif


Salah satu cara penambahan bahan alkalin pada limbah air asam tambang
adalah dengan menggunakan anoxic limestone drains (ALD). Teknik ini
dimaksudkan untuk menambahkan bahan alkalin (kapur) dalam kondisi anoksik
sehingga dapat mempertahankan ion Fe2+ dalam bentuk tereduksi dan
mengendapkan Fe(OH)3 dalam kapur. Penambahan bahan kapur akan
meningkatkan nilai pH pada kisaran 6-7 yang akan mendorong pengendapan
logam.
Dibandingkan lahan basah kompos buatan (constructed compost wetlands),
biaya yang dibutuhkan dalam penerapan teknik ALD jauh lebih sedikit, namun
teknik ini tidak dapat diterapkan pada semua limbah air asam tambang. Pada
kondisi dimana air asam tambang mengandung ion ferri atau aluminium yang
tinggi, penerapan teknik ALD akan memberikan hasil yang cukup baik. Namun
dengan adanya endapan hidroksida akan mengurangi permeabilitas drainase, dan
hal ini sering terjadi sekitar 6 bulan setelah pembuatan ALD. Oleh karena itu,
teknik ALD ini diterapkan dan merupakan bagian dari pengolahan pasif, yang
diterapkan bersama-sama dengan lahan basah aerob atau lahan basah kompos.
Kleinmann et al. (1998) melaporkan bahwa penambahan ALD pada lahan basah
buatan mampu mengolah air asam tambang dengan efektif.

2.2.2. Strategi remediasi biologi


2.2.2.1. Proses biologi
Dasar pengembangan pengolahan air asam tambang secara biologi adalah
memanfaatkan kemampuan mikroorganisme menghasilkan alkalinitas dan
mengikat logam, sehingga pada dasarnya bioremediasi merupakan reaksi
kebalikan dari pembentukan air asam tambang (Johnson dan Hallberg, 2005).
Proses mikrobiologi untuk menghasilkan alkalinitas umumnya merupakan proses
reduksi dan mencakup beberapa proses biologi seperti denitrifikasi,
methanogenesis, reduksi sulfat, serta reduksi Fe dan Mn. Amonifikasi, yakni
proses pelepasan ammonium dari senyawa organik mengandung N, juga
merupakan proses penghasil alkalin. Namun karena keterbatasan bahan yang
17

direduksi, seperti nitrat, proses ini tidak banyak berpengaruh terhadap proses
pembentukan dan pengolahan air asam tambang.
Mikroorganisme yang mampu melakukan fotosintesis akan memanfaatkan
basa lemah (bikarbonat) dan menghasilkan basa kuat (ion hidroksil) seperti
persamaan berikut ini,
6HCO3 - + 6H2O à C6 H12 O6 + 6O2 + 6OH-
Reduksi ion Fe3+ yang terlarut tidak menurunkan kemasaman larutan, sedangkan
reduksi senyawa Fe3+ dalam bentuk padatan akan mempengaruhi kemasaman
larutan, dengan mengikuti persamaan di bawah ini,
Fe(OH)3 + 3H+ + e- à Fe2+ + 3H2 O
dimana e- adalah donor elektron yang diperoleh dari bahan organik. Bakteri yang
mengkatalisis proses reduksi sulfat menjadi sulfida akan menghasilkan kondisi
alkalin dengan mengubah asam kuat (H2 SO4 ) menjadi asam yang lebih lemah
(H2 S) seperti persamaan berikut ini,
SO42- + 2CH2 O + 2H+ à H2 S + 2H2 CO3
H2 S dan 2H2 CO3 yang terbentuk selama proses reduksi SO4 2- dalam larutan akan
berkeseimbangan dengan senyawa H2 S, HS -, S2-, CO2 , HCO3 - dan CO32-.
Senyawa tersebut merupakan penyangga sehingga kemasaman larutan menjadi
netral atau agak basa.
Peningkatan nilai pH memperbaiki kondisi air asam tambang. Disamping
itu, proses reduksi SO4 2- merupakan mekanisme penting untuk menghilangkan
logam dari air asam tambang. Logam- logam tersebut akan bereaksi dengan
sulfida membentuk logam sulfida yang tidak larut, seperti persamaan berikut,
Zn2+ + H2 S à ZnS + 2H+
Dari semua teknik bioremediasi sistem pasif, lahan basah buatan dan
bioreaktor kompos merupakan dua teknik yang telah digunakan dalam sistem
pengolahan air asam tambang skala besar. Kelebihan utama dari sistem
pengolahan pasif adalah biaya pemeliharaan relatif murah, dan limbah padat dari
proses remediasi berupa endapan yang ada dalam sistem lahan basah. Namun
demikian sistem ini juga mempunyai kelemahan seperti membutuhk an lahan yang
cukup luas dan hasil yang terkadang tidak pasti seperti pada sistem pengolahan
secara kimiawi (Johnson dan Hallberg, 2005).
18

2.2.2.2. Sistem biologi pasif : lahan basah aerob


Pada dasarnya lahan basah aerob adalah buatan manusia yang dibentuk
dengan menggali tanah dan mengisinya dengan tanah dan liat sebagai media
tumbuh bagi tanaman lahan basah. Air asam tambang kemudian dialirkan dalam
lahan basah tersebut.
Laju aliran air asam tambang yang lambat menghasilkan waktu tinggal yang
tinggi. Pada proses ini logam akan dihilangkan melalui proses oksidasi dan
mengendapkannya dalam bentuk logam oksihidroksida atau logam hidroksida.
Sebagai ilustrasi dari reaksi tersebut dapat digambarkan reaksi ion Fe sebagai
contoh, seperti pada reaksi di bawah ini,
Fe2+ + 1/4 O2 + H+ à Fe3+ + 1/2 H2 O
Fe3+ + 2H2 O à FeOOH + 3H+
4Fe3+ + 12H2 O à 4Fe(OH)3 + 12H+
Proses oksidasi Fe masih menjadi perdebatan, apakah oksidasi tersebut murni
oksidasi abiotik, atau dipercepat dengan adanya aktivitas mikroorganisme
(Johnson dan Hallberg, 2005).
Tanaman lahan basah memberikan kontribusi meningkatkan kandungan
bahan organik melalui zat-zat hasil sekresi dan dekomposisi sisa tanaman.
Disamping itu, pengurangan konsentrasi logam sebagian terjadi karena proses
pengendapan logam dengan adanya reduksi sulfat secara biologi, dan sebagian
kecil juga diserap oleh tanaman.
Keuntungan dari sistem ini adalah biaya yang dibutuhkan relatif kecil
dibandingkan dengan sistem aktif. Namun demikian sistem ini juga mempunyai
kelemahan, diantaranya adalah bahwa sistem ini menurunkan nilai pH karena
adanya pelepasan H+ selama proses pengendapan logam. Disamping itu, proses
sistem lahan basah sangat lambat dan membutuhkan lahan yang luas.

2.2.2.3. Sistem biologi pasif : Lahan basah anaerob


Seperti juga lahan basah aerob, sistem ini juga dibuat oleh manusia, dimana
batu kapur diletakkan pada bagian dasar lahan basah kemudian dilapisi bahan
organik, atau dicampur dengan bahan organik (Collins et al., 2004). Batuan kapur
akan memberikan kondisi alkalin pada air asam tambang, sedang bahan organik
19

menjadi media tumbuh bagi tanaman lahan basah dan sumber energi bagi
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat. Bakteri tersebut juga menghasilkan kondisi
alkalin melalui proses oksidasi bahan organik dan memanfaatkan energi yang
dihasilkan untuk reduksi sulfat. Reaksi pelepasan alkalin oleh bahan kapur dan
reduksi sulfat dengan adanya asetat sebagai senyawa organik digambarkan pada
persamaan reaksi berikut ini,
CaCO3 + H+ à Ca2+ + HCO3 -
SO42- + CH3 COO - à H2 O + CO2 + HCO3- + S2-
Dengan adanya aliran air asam tambang melalui bahan organik
menyebabkan kondisi anoksik. Kondisi ini akan mendorong pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat dan menghasilkan sulfida. Pada kondisi tidak ada oksigen bebas ,
oksidasi logam akan berjalan lebih lambat sehingga pembentukan logam
oksihidroksida juga lambat dibandingkan dengan kondisi aerob. Hilangnya logam
terjadi melalui pengendapan dalam bentuk logam sulfida, sebagian diserap oleh
tanaman, dijerap dalam bentuk bahan organik dan dalam bentuk logam hidroksida
dan logam oksihidroksida (Wouls dan Ngwenya, 2004). Kelemahan dari sistem
ini adalah terjadinya pelapisan batu kapur oleh logam hidroksida dan logam
oksihidroksida yang mengendap. Disamping itu, sistem ini membutuhkan area
yang cukup luas.

2.2.2.4. Sistem biologi pasif : Successive alkalinity producing system


Successive alkalinity producing system (SAPS) merupakan suatu teknik
yang mengkombinasikan teknologi lahan basah kompos dengan anoxic limestone
drains (ALD). Pada sistem ini batu kapur diletakkan di bagian dasar, sedangkan
bahan organik berada di atas batu kapur. Air asam tambang dilewatkan dan keluar
dari sistem melalui bagian dasar sistem. Kandungan oksigen dalam air asam
tambang akan berkurang dengan adanya bahan organik, yang kemudian akan
melewati batu kapur yang bersifat alkalin (Johnson dan Hallberg, 2005).

2.3. Bakteri Pereduksi Sulfat


Bakteri yang mampu menggunakan sulfat sebagai akseptor dalam respirasi
dikenal sebagai bakteri pereduksi sulfat. Bakteri pereduksi sulfat memanfaatkan
20

sulfat (SO4 2-), tiosulfat (S2 O32-) dan sulfit (SO3 2-) sebagai akseptor elektron
terminal dalam respirasi metabolismenya, yang kemudian direduksi menjadi
sulfida. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bakteri pereduksi
sulfat juga memerlukan susbtrat organik – umumnya asam organik rantai pendek
– seperti asam laktat dan piruvat, yang dihasilkan oleh aktivitas fermentasi bakteri
anaerob lainnya. Bakteri pereduksi sulfat merupakan heterotrof anaerob. Sampai
saat ini telah dikenal lebih dari 10 genus bakteri pereduksi sulfat. Bakteri
pereduksi sulfat yang dikenal dan ditemukan secara luas di alam antara lain adalah
Desulfovibrio dan Desulfotomaculum (Moodie dan Ingledew, 1991).
Berdasarkan cara penguraian asam organik, bakteri pereduksi sulfat dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok (Kleikemper et al., 2002). Kelompok
pertama mengoksidasi senyawa donor secara tidak sempurna, dan menghasilkan
senyawa asetat. Kelompok Desulfotomaculum yang membentuk spora dan
Desulvofibrio yang tidak membentuk spora merupakan bakteri yang mengoksidasi
senyawa organik secara tidak sempurna. Kelompok kedua mampu tumbuh
menggunakan alkohol, asetat, asam lemak berbobot molekul tinggi, dan benzoat,
seperti Desulfotomaculum acetoxidans, Desulfobacter, Desulfococcus,
Desulfosacrina dan Desulfonema (Detmers et al., 2001). Beberapa spesies dan
genus bakteri anaerob dapat bertahan sementara dengan adanya oksigen, namun
membutuhkan lingkungan anaerob (tanpa oksigen) untuk pertumbuhannya.

2.3.1. Sumber Karbon dan Energi Bakteri Pereduksi Sulfat


Ada beberapa tipe sumber karbon dan energi yang digunakan oleh bakteri
pereduksi sulfat. Lens et al., (1998) mengemukakan bahwa bakteri pereduksi
sulfat mampu memanfaatkan berbagai macam sumber karbon. Karbon tersebut
merupakan sumber energi bagi aktivitas metabolisme dan kehidupan
mikroorganisme. Reaksi reduksi sulfat oleh bakteri pereduksi sulfat mengikuti
persamaan seperti berikut,
SO42- + 8e- + 4H2 O à S2- + 8OH-
Pada reaksi tersebut, elektron yang dibutuhkan diperoleh dari aktivitas
oksidasi bahan organik (laktat, asetat, propionat, dan lain- lain) yang dilakukan
oleh bakteri pereduksi sulfat. Disamping sebagai donor elektron, sumber karbon
21

juga berfungsi sebagai sumber energi. Skema proses metabolisme reduksi sulfat
dan pemanfaatan sumber karbon disajikan pada Gambar 4. Pada tahap awal
sumber karbon akan dioksidasi dan menghasilkan ATP, kemudian ATP tersebut
dimanfaatkan untuk mereduksi sulfat menjadi sulfida. Pada kondisi dimana
hidrogen dipergunakan sebagai donor elektron, maka CO2 akan dimanfaatkan
sebagai sumber karbon. Beberapa sumber karbon yang dapat dipergunakan oleh
bakteri pereduksi sulfat disajikan pada Tabel 2.

Sumber karbon SO4 2- + H2 O

ADP ADP
ADP ATP

Menghasilkan
elektron
Flovoproteins, sitochrome C3, dll.
ATP ATP
menghasilkan ATP

CO2 +H2 O+CH3 COOH S2- + OH-


atau CO2 , H2 O

Oksidasi Transpor elektron Reduksi

Gambar 4. Skema proses metabolisme reduksi sulfat dan pemanfaatan sumber


karbon (Postgate, 1984)

Banyak teori yang membahas mekanisme reduksi sulfat oleh bakteri


pereduksi sulfat, salah satunya yang dikemukakan oleh Matias et al., (2005).
Pada mekanisme ini, energi yang diperoleh dari oksidasi laktat ditransfer ke
hidrogenase yang berada di sitoplasma dan menghasilkan H2 . H2 kemudian
dioksidasi kembali untuk menghasilkan elektron, dan melepaskan proton H+ yang
dipergunakan untuk mendorong pembentukan ATP. ATP kemudian
dipergunakan dalam proses bertahap reduksi sulfat menjadi S2-(Gambar 5).
22

Tabel 2. Donor elektron dan sumber karbon bakteri pereduksi sulfat (Hansen,
1988)

Kelompok Senyawa Sumber karbon dan energi

Anorganik Hidrogen, karbon dioksida

Asam monokarboksilat Format, asetat, propionat, isobutarat, 2- dan 3- metilbutirat, asam


lemak C tinggi (sampai C20 ), piruvat, laktat

Asam dikarboksilat Suksinat, fumarat, malat, oksalat, maleinat, glutarat, pimelat

Alkohol Metanol, etanol, propanol, butanol, glikol etilen, 1, 2 dan 1,3 –


propenediol, gliserol

Asam amino Lisin, serin, sistin, treonin, valin, leusin, isoleusin, aspartat,
glutamat, fenolalanin

Lain-lain Kolin, furfural, oksamat, fruktosa, benzoat, 2-, 3-, dan 4-OH-
benzoat, sikloheksan karbonat, hipurat, asam nikotin, indol,
antranilat, quinolin, fenol, p-cresol, katechol, resorcinol,
hidroquinin, protokatechuat, floroglusinol, pirogalol, 4-OH-
fenilasetat, 3-fenilpropionat, 2-aminobenzoat, dihydroksiaseton

Gambar 5. Skema aliran elektron dalam sel Desulfovibrio, dimana H2 atau


senyawa organik sebagai sumber energi dan sulfat sebagai akseptor
elektron (Matias et al., 2005; Dikutip atas ijin Carrondo, 2009)
23

Mekanisme lain adalah yang diusulkan oleh Odom dan Peck (1981).
Mekanisme ini merupakan model siklus hidrogen yang dimanfaatkan oleh bakteri
yang hidup dengan laktat sebagai sumber karbon organik (Gambar 6). Elektron
dari laktat akan digunakan oleh hidrogenase sitoplasma untuk menghasilkan
hidrogen yang dapat melewati membran sel dan digunakan oleh dehidrogenase
periplasma. Proton yang dihasilkan akan tetap berada di periplasma, sedangkan
elektron ditransfer keluar membran sel untuk mereduksi sulfat.

Gambar 6. Skema mekanisme siklus hidrogen untuk menghasilkan energi pada


Desulfovibrio yang tumbuh pada laktat sebagai sumber energi dan
sulfat sebagai akseptor elektron (Odom dan Peck, 1981; Dikutip atas
ijin Carrondo, 2009).

Desulfotomaculum thermocisternum merupakan bakteri yang


memanfaatkan hidrogen sebagai donor elektron dalam mereduksi sulfat (Nielsen
et al., 1996). Beberapa spesies bakteri pereduksi sulfat dilaporkan mampu
mengoksidasi bahan organik seperti alkana (C 13 sampai C18 ), 1-alkena (C 15 dan
C16 ) dan 1-alkanol (C 15 dan C16 ), toluene, o-xylen, m- xylen, o-etiltoluen, m-
24

etiltoluen, p-xylen, naftalena, etilbenzen dan benzen (Perez-Jimenez et al., 2001;


Elshahed dan McInerney, 2001; Morash et al., 2001; Harms et al., 1999; So dan
Young, 1999; Nakagawa et al., 2002), sedangkan Widdel (1992) dan Dhillon et
al. (2003) melaporkan bahwa Desulfobacterium memanfaatkan dan menguraikan
asam lemak rantai pendek, etanol dan laktat.
Berdasarkan kemampuannya dalam mengoksidasi sumber karbon, bakteri
pereduksi sulfat dibagi menjadi dua kelompok, yakni (1) kelompok yang
mengoksidasi sumber karbon secara sempurna menjadi CO2 , dan (2) kelompok
yang mengoksidasi sumber karbon tidak sempurna menghasilkan asetat dan CO2 .
Beberapa spesies dari genus Desulfobacter, Desulfosarcina, Desulfococcus,
Desulfobacterium, Desulfoorculus, Desulfomonile dan Desulfonema termasuk
dalam kelompok yang mengoksidasi sumber karbon secara sempurna, termasuk
beberapa spesies diantaranya adalah Desulfotomaculum acetoxidans,
Desulfotomaculum sapomandens dan Desulfovibrio baarsii (Postgate, 1984;
Colleran et al., 1995). Spesies bakteri pereduksi sulfat yang mengoksidasi
sumber karbon secara tidak sempurna antara lain adalah Desulfovibrio
thermophilus, Desulfovibrio sapovarans, Desulfomas pigra,
Thermodesulfobacterium commune, dan sebagian besar spesies dari genus
Desulfotomaculum, Desulfomonas dan Desulfobulbus (Colleran et al., 1995).
Tabel 3 menyajikan standar energi yang dibutuhkan (? Go ) dalam proses oksidasi
beberapa sumber karbon yang berbeda.
Postgate (1984) mengemukakan bahwa laktat merupakan sumber karbon
yang paling banyak dimanfaatkan oleh bakteri pereduksi sulfat. Kelemahan
penggunaan laktat adalah bahwa hanya sebagian dari laktat yang dioksidasi
menjadi asetat dan CO2 , sehingga jumlah laktat yang dibutuhkan untuk mereduksi
sulfat lebih banyak. Disamping itu, dengan adanya asetat yang dihasilkan
menyebabkan peningkatan COD pada sistem perairan.
Mekanisme penting bagi aktivitas bakteri pereduksi sulfat adalah proses
reduksi sulfat tersebut berlangsung dalam kondisi anaerob dan kondisi faktor
lingkungan yang optimal bagi pembentukan sulfida yang maksimal. Secara
ringkas reaksi metabolik bakteri pereduksi sulfat dengan laktat sebagai sumber
karbon utama adalah sebagai berikut (Bayoumy et al., 1998) :
25

Tabel 3. Data termodinamika oksidasi beberapa sumber karbon dan energi selama reduksi sulfat secara biologi (Postgate, 1984).

? Go
Reaksi Tipe
(Kcal/reaksi;
Kcal/mole SO4 2-)

4H2 (hidrogen) + SO4 2- à 4H2 O + S2- - 29,66


Oksidasi Sempurna
CH3 COO- (asetat) + SO4 2- à H2 O + CO2 + HCO3 - + S2- - 2,97

4HCOO- (format) + SO4 2- à 4HCO3 - + S2- - 43,70

4CH3 COCOO- (piruvat) + SO4 2- à 4CH3 COO- + 4CO2 + S2- - 79,20

2 CH5 COCOO- (laktat) + SO4 2- à 2CH3 COO- + 2CO2 + 2H2 O + S2- - 33,60
Oksidasi tidak sempurna
2C4 H4 O5 2- (malat) + SO4 2- à 2CH3 COO- + 2CO2 + 2 HCO3 - + S2- - 43,30

2C4 H2 O4 2- (fumarat) + H2 O + SO4 2- à 2CH3 COO- + 2CO2 + 2 HCO3 - + S2- - 45,50

4C4 H4 O4 2- (suksinat) + 3SO4 2- à 4CH3 COO- + 4CO2 + 4 HCO3 - + 3S2- - 36,00

? Go : Standar energi yang dibutuhkan


26

2 C3 H5O3- + SO4 2- à 2 CH3 COO - + 2 CO2 + 2 H2 O + S2-


(laktat) (asetat)
Reduksi sulfat dapat terjadi pada kisaran pH, tekanan, suhu dan salinitas
yang lebar, namun ketersediaan senyawa karbon sebagai donor elektron dan
molekul hidrogen dapat menjadi pembatas. Disamping itu, reduksi sulfat juga
dihambat oleh kehadiran oksigen, nitrat, dan ion Fe (III), dan kehadiran
bakteri metanogenik yang juga memanfaatkan donor elektron (Bratcova et al.,
2002).

2.3.2. Peranan Bakteri Pereduksi Sulfat


Bakteri pereduksi sulfat adalah bakteri yang memanfaatkan sulfat (SO4 2-),
tiosulfat (S2 O3 2-), sulfit (SO3 2-) sebagai penerima elektron di dalam respirasi
metabolismenya (Hockin dan Gadd, 2003). Dalam respirasinya bakteri pereduksi
sulfat memerlukan substrat organik sebagai donor elektron. Substrat organik
tersebut umumnya berupa asam-asam organik rantai pendek seperti asam laktat,
piruvat, dan asam organik lainnya. Di alam substrat tersebut dihasilkan dari
aktivitas fermentasi bakteri anaerob lainnya.
Bakteri pereduksi sulfat juga menggunakan H2 sebagai sumber donor
elektron yang utama, seperti yang terjadi pada reaktor laju tinggi. Bakteri
pereduksi sulfat akan menggunakan senyawa karbon jika ketersediaan sulfat
melebihi ketersediaan hidrogen yang dapat dioksidasi, yakni 4 mol hidrogen per
mol sulfat (Tsukamoto dan Miller, 1999).
Oksidasi asam laktat oleh bakteri pereduksi sulfat menjadi asam piruvat
berlangsung dengan bantuan enzim dehidrogenase. Piruvat kemudian dikonversi
menjai asetil fosfat dan karbondioksida dengan melepaskan ion hidrogen.
Rangkaian transformasi laktat ini melibatkan enzim piruvat dehidrogenase,
fosfotransasetilase dan sitoplasmik hidrogenase yang dimiliki oleh kelompok
bakteri pereduksi sulfat (Ogata dan Yagi, 1986; Czechowski dan Rossmoore,
1990).
Kelompok bakteri pereduksi sulfat mengoksidasi bahan organik dan H2
dengan menggunakan sulfat sebagai akseptor elektron, menghasilkan hidrogen
sulfida dan bikarbonat, seperti rekasi berikut :
27

2 CH2 O + SO42- à H2 S + 2 HCO3 - (x)


5 H2 + SO42- à H2 S + 4 H2 O + 2e (y)
Pembentukan bikarbonat mengindikasikan kemampuan bakteri pereduksi
sulfat dalam mengontrol pH di sekitar lingkungan mikronya (Cohen, 2005). Ion
bikarbonat yang dihasilkan selama proses reduksi sulfat akan membentuk
kesetimbangan antara CO2 , HCO3 -, dan CO 32-. Meskipun demikian, ion
bikarbonat merupakan bentuk utama yang terdapat pada pH optimal dimana
respirasi secara desimilasi sulfat oleh bakteri pereduksi sulfat berlangsung.
Peningkatan pH tersebut akan meningkatkan proses hidrolisa dan pengendapan
beberapa ion logam dalam bentuk hidroksida dan oksida (Stumm dan Morgan,
1981).
Proses reaksi ion sulfida juga dipengaruhi oleh pH lingkungan dimana
reaksi berlangsung. Bentuk kesetimbangannya seperti pada persamaan berikut,

a pKa(7.0) pKa(12.9)
H2 S (g) H2 S (l) HS- S2- (Lens et al., 1998)
dimana HS - terbentuk pada pH netral, S2- terbentuk pada pH tinggi dan bersifat
terlarut, sedang H2 S terbentuk pada pH rendah dan bersifat tidak terlarut. Ion
sulfida (S2-) yang terbentuk akan bereaksi dengan ion logam terlarut untuk
membentuk lo gam sulfida yang tidak larut mengikuti persamaan berikut,
M2+ + S2- MS (s)
2+
dimana M adalah kation logam bervalensi dua.
Proses reduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi, antara lain
waktu tinggal, pH, suhu, oksigen terlarut, dan potensial redoks. Bakteri pereduksi
sulfat adalah bakteri anaerob obligat yang membutuhkan lingkungan mikro
anaerob dengan nilai potensial redoks < -100 mV. Willow dan Cohen (2003)
mengemukakan bahwa pH optimal bagi pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat
berkisar antara 5 sampai 8, sedang Suyasa (2002) memperoleh bahwa bakteri
pereduksi sulfat yang diisolasi dari ekosistem air hitam Kalimantan mampu
menyesuaikan diri pada pH 2.5, dan menunjukkan pertumbuhan yang pesat pada
kisaran pH antara 4 dan 7.
28

2.4. Teknologi Biofilm


Biofilm adalah sekumpulan sel mikroorganisme yang melekat erat ke suatu
permukaan sehingga berada dalam keadaan diam, tidak mudah lepas atau
berpindah tempat. Pelekatan ini disertai dengan penumpukan bahan organik yang
diselubungi oleh matrik polimer ekstraseluler yang dihasilkan oleh bakteri
tersebut (Donian, 2002). Pembentukan biofilm tersebut menciptakan kondisi
lingkungan yang optimal bagi aktivitas mikrob (Santegoeds et al., 1998).
Biofilm terbentuk karena adanya interaksi antara bakteri dan permukaan
yang ditempeli. Interaksi ini terjadi sangat ditentukan oleh beberapa faktor seperti
kelembaban permukaan, ketersediaan makanan, pembentukan matrik ektraseluler,
serta faktor fisiko-kimia lainnya seperti interaksi muatan permukaan dan bakteri,
ikatan ion, ikatan van der Walls, pH, dan tegangan permukaan (Donian, 2002).
Waktu yang diperlukan untuk membentuk biofilm sangat beragam,
tergantung dari jenis mikrob, permukaan bahan penempelan dan kondisi
lingkungan. Bakteri pereduksi sulfat mulai membentuk biofilm antara 1-2
minggu setelah inkubasi. Santegoeds et al. (1998) melaporkan bahwa bakteri
pereduksi sulfat mulai membentuk biofilm satu minggu setelah inokulasi, sedang
Beyenal dan Lewandowski (2004) mendapatkan bahwa pada media hematit
biofilm bakteri pereduksi sulfat mulai terbentuk 2 minggu setelah inkubasi.
Acinetobacter calcoaceticus mulai terimobilisai membentuk biofilm 24 jam
setelah inokulasi (Hrenovic et al., 2005). Selanjutnya dikemukakan bahwa
kecepatan pembentukan biofilm juga ditentukan oleh tipe permukaan dan ukuran
partikel.
Kelebihan mikrob yang membentuk biofilm antara lain adalah sel mikrob
mampu bertahan pada kondisi makanan yang terbatas (Marshal, 1998).
Disamping itu, Watnik dan Kolter (2000) mengemukakan bahwa sel dalam bentuk
biofilm mempunyai kemampuan bertahan yang lebih baik pada kondisi yang tidak
menguntungkan. Pada mikrob patogen, sel mempunyai laju transfer gen yang
lebih tinggi dibandingkan dengan pada sel plankton.
Imobilisasi bakteri untuk membentuk biofilm dilakukan untuk menghasilkan
kepadatan populasi sel dalam bioreaktor yang lebih tinggi, sehingga dihasilkan
ukuran bioreaktor yang lebih kecil, waktu tinggal yang lebih pendek dan laju
29

aliran yang lebih tinggi (Hrenovic et al., 2005). Kondisi ini yang memungkinkan
bahwa teknologi biofilm mampu meningkatkan efisiensi bioremediasi. Masak et
al. (2003) membuktikan bahwa dengan menggunakan teknik biofilm laju
penghilangan meningkat secara signifikan.
Melihat keunggulan biofilm, teknologi ini telah banyak diterapkan pada
pengendalian pencemaran lingkungan, terutama untuk menguraikan senyawa
organik menjadi senyawa anorganik, seperti penguraian pentan dengan
menggunakan Arthrobacter sp. (Ionata et al., 2005), penguraian limbah toluen
(Di Lorenzo et al., 2005), remediasi limbah merkuri (von Canstein et al., 2001),
serta dalam pencemaran lingkungan lainnya.

2.5. Pembentukan Biofilm


Pada kondisi yang memungkinkan, secara alami mikroorganisme akan
membentuk biofilm. Lingkungan yang ideal untuk membentuk biofilm adalah
jika ada kontak antara permukaan benda padat dengan cairan. Menurut Donian
(2002), pembentukan biofilm diawali dengan pengkondisian permukaan padatan,
yakni dengan penempelan molekul bahan organik pada permukaan padatan. Hal
ini terjadi segera setelah terjadi kontak antara permukaan benda padat dengan
cairan. Pada tahapan berikutnya, sel bakteri akan melekat ke permukaan dengan
adanya daya tarik elektrostatis dan fisik. Sel bakteri tersebut selanjutnya
menempel pada permukaan padatan dengan adanya extracellular polymeric
substances (EPS). O’Toole (2003) mengemukakan bahwa EPS tersebut tidak
hanya berfungsi sebagai bahan pengikat antara sel dengan permukaan padatan,
tetapi berperan dalam sistem pertukaran ion untuk mengikat nutrisi dalam air yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan sel. Pada saat ketersediaan nutrisi mencukupi, sel
bakteri berkembang dan sel baru membentuk EPS tersendiri. Perkembangan
semacam ini terus berlanjut, sehingga membentuk kelompok koloni yang saling
terkait.
Kecepatan pelekatan bakteri pada permukaan padatan pertama ditentukan
oleh karakteristik sel bakteri. Hidrofobisitas permukaan sel, keberadaan fimbriae
dan flagela, serta produksi EPS, merupakan beberapa karakteristik bakteri yang
menentukan kecepatan pelekatan bakteri (Donian, 2002). Hidrofobisitas
30

permukaan sel sangat mempengaruhi proses adhesi karena permukaan yang


hidrofobik meningkatkan interaksi dengan permukaan padatan. Keberadaan
fimbirae dan flagela juga mempengaruhi kecepatan pelekatan sel ke permukaan
dengan cara mengurangi pengaruh daya tolak yang terjadi antar permukan.
Proses pembentukan biofilm juga dipengaruh oleh faktor lingkunga n,
diantaranya adalah permukaan bahan padatan, luas area permukaan, kecepatan
laju alir dan ketersediaan nutrisi. Karakteristik permukaan bahan padatan menjadi
faktor kunci yang menentukan proses penempelan sel bakteri (Donian, 2002).
Penempelan koloni bakteri lebih mudah terjadi pada permukaan yang kasar. Hal
ini dikarenakan pada permukaan yang kasar, pemukaan padatan semakin luas.
Karakateristik fisiko-kimia permukaan juga sangat menentukan laju penempelan.
Sel bakteri lebih cepat menempel pada permukaan hidrofobik dan non polar dari
permukaan yang bersifat hidrofilik. Bakteri pada umumnya mempunyai muatan
negatif, tetapi masih mempunyai komponen permukaan hidrofobik. Cordas et al.
(2008) karakteristik tersebut akan menentukan elektroaktif permukaan sehingga
menentukan kecepatan penempelan sel bakteri pereduksi sulfat pada permukaan
padatan.
31

III. METODE PENELITIAN


3.1. Metode Penelitian
Penelitian ini terdiri dari 4 kegiatan. Kegiatan 1 dilaksanakan dengan
menggunakan metode deskriptif, kegiatan 2 sampai 4 menggunakan metode
eksperimen di laboratorium.

3.1.1. Tahapan Kegiatan Penelitian


Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam empat tahapan seperti pada bagan
berikut :

Kegiatan Pertama
Eksplorasi dan identifikasi bakteri pereduksi sulfat

Kegiatan Kedua
Pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat pada berbagai kondisi
lingkungan

Kegiatan Ketiga
Pengolahan air asam tambang dengan reaktor anaerob bakteri
pereduksi sulfat tersuspensi

Kegiatan Keempat
Pengolahan air asam tambang dengan reaktor biofilm bakteri
pereduksi sulfat

Gambar 7. Bagan pelaksanaan kegiatan penelitian

3.1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian


Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan di beberapa laboratorium.
Kegiatan isolasi bakteri pereduksi sulfat sampai pengolahan air asam tambang
pada reaktor biofilm dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan,
Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB), Bogor.
Identifikasi bakteri hasil isolasi dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
32

Kedokteran Hewan IPB, sedangkan pengamatan pembentukan biofilm pada batu


vulkan menggunakan Scanning Electron Microscopy dilakukan di Laboratorium
Pengujian Material, Pusat Penelitian Metalurgi, LIPI Serpong. Analisa kimia
dilakukan di Laboratorium Tanah, Balai Penelitian Penelitian Obat dan Aromatik
Bogor. Penelitian secara keseluruhan dilaksanakan selama 24 bula n, mulai
Februari 2007 sampai Februari 2009.

3.2. Pelaksanaan Penelitian


3.2.1. Eksplorasi dan Identifikasi Bakteri Pereduksi Sulfat
3.2.1.1. Isolasi
Bakteri pereduksi sulfat diisolasi dari ekosistem air asam di kolam
penampungan air asam tambang indus tri batu bara PT Bukit Asam, Sumatera
Selatan. Lokasi pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik pada kolam
penampungan air asam tambang. Sebanyak 26 sampel tanah diambil dari sedimen
(bagian bawah) perairan, sesuai dengan metode pengambilan sampel mikrobiologi
tanah. Sampel diambil sebanyak 100-200 g tanah, dimasukkan ke dalam tabung
berwarna gelap, kemudian diisi air hingga penuh dan dikemas dalam kondisi
anaerob dengan cara ditutup rapat.
Isolasi bakteri pereduksi sulfat dilakukan menggunakan metode Atlas
(1993) dengan komposisi media cair Postgate B yang disederhanakan. Komposisi
untuk satu liter media cair terdiri dari komponen utama yaitu natrium laktat (8
mL), magnesium sulfat (1,0 g), ammonium klorida (0,5 g), kalium dihidrogen
fosfat (1,0 g), besi fosfat (0,1 g) dan asam askorbat (0,5 g), glukosa (0,1 g),
kalsium klorida (0,1 g), natrium sulfat (0,5 g), dan ekstrak khamir (0,1 g).
Pengaturan pH 4 dilakukan dengan penambahan asam sulfat sebelum disterilisasi.
Suspensi sampel dibuat dengan cara dimasukkan 1 g sampel tanah ke dalam
tabung reaksi dan ditambahkan larutan garam fisiologis (0,85%) steril hingga 10
mL, kemudian dihomogenisasi dengan vorteks. Suspensi sampel tersebut dipipet
1 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan garam
fisiologis hingga 10 mL, lalu dihomogenisasi. Selanjutnya dilakukan
pengenceran hingga 103 , dan diambil 1 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi
yang berisi 1/3 media yang telah disterilkan, kemudian ditambahkan media steril
33

secara perlahan- lahan sampai penuh dan ditutup rapat. Media tersebut kemudian
diinkubasi pada suhu 35 o C.
Tumbuhnya bakteri pereduksi sulfat ditandai dengan berubahnya media
menjadi berwarna hitam (dengan terbentuknya sulfida) yang menunjukkan
aktivitas bakteri pereduksi sulfat. Pengamatan dilakukan saat perubahan warna
hingga seluruh media berwarna hitam. Isolat yang tumbuh diberi skor tingkat
kepekatan wana hitamnya.

3.2.1.2. Pemurnian
Pemurnian isolat dilakukan dengan metode pengenceran (Tauro et al.,
1986). Isolat yang diperoleh dikocok dengan vorteks hingga terbentuk suspensi.
Tingkat pengenceran sepuluh kali dilakukan dengan memindahkan secara aseptik
1 mL suspensi mikrob ke dalam tabung yang berisi 9 mL larutan fisiologi 0,85%
lalu dihomogenisasi. Suspensi tersebut diencerkan lebih lanjut dengan cara yang
sama hingga pada tingkat pengenceran 1012 . Suspensi pada tingkat pengenceran
terakhir dipindahkan secara aseptik sebanyak 1 mL ke dalam tabung ulir yang
telah berisi media cair steril 1/3 bagian, lalu media ditambahkan secara perlahan-
o
lahan hingga penuh dan ditutup rapat dan diinkubasi pada suhu 35 C.
Pengamatan dilakukan terhadap waktu pertumbuhan biakan mulai dari munculnya
warna hitam hingga seluruh tabung menghitam. Isolat yang tumbuh pada tingkat
pengenceran terakhir diindikasikan sebagai biakan dengan satu jenis sel bakteri
pereduksi sulfat.

3.2.1.3. Seleksi
Seleksi dilakukan dengan pembiakan isolat murni dalam media cair dengan
kandungan sulfat masing- masing 500 mg/L dengan variasi pH dari 6, 4, dan 3.
Sebanyak 1 mL suspensi mikrob dipindahkan secara aseptik ke dalam tabung ulir
yang telah berisi 1/3 bagian media cair (500 mg/L sulfat dengan pH 6), kemudian
ditambahkan media perlahan-lahan hingga penuh dan diinkubasi pada suhu 35 o C.
Perlakuan yang sama dilakukan terhadap semua isolat yang dikarakterisasi
dengan variasi pH. Pada hari ke 21 dilakukan pengukuran sisa sulfat dan pH
34

larutan. Isolat yang dipilih adalah yang mampu tumbuh pada pH rendah dengan
kemampuan mereduksi sulfat dan meningkatkan pH media yang tinggi.

3.2.1.4. Identifikasi
Identifikasi dilakukan hanya pada isolat yang dianggap unggul. Identifikasi
dilakukan dengan media padat maupun media cair. Untuk penentuan tipe
morfologi, pewarnaan Gram dan pewarnaan spora isolat diambil dari biakan
media padat. Masing- masing isolat ditumbuhkan pada media selektif pada
dengan komposisi hara yang sama dengan media cair. Sebanyak 1 mL suspensi
mikrob dipindahkan secara aseptik dengan mikropipet ke dalam cawan petri yang
telah berisi media padat steril. Suspensi mikrob disebar secara merata di
permukaan media, kemudian dimasukkan ke dalam tabung anaerob yang
o
dilengkapi dengan gaspak dan indikator. Biakan diinkubasi pada suhu 35 C
selama lebih dari 7 hari.
Setiap koloni yang tumbuh dipindahkan secara aseptik ke dalam agar miring
dan diinkubasi secara anaerob. Koloni yang tumbuh dibiakkan lagi ke dalam
media cair dengan cara yang sama. Isolat tersebut diidentifikasi lebih lanjut
dengan uji fisiologis dan biokimia. Karakterisasi fisio logis dan biokimia
dilakukan dengan berpedoman pada Bergey’s Manual of Determinative
Bacteriology (Holt et al., 1994).
Identifikasi bakteri dilakukan dengan menggunakan metode sebagai
berikut :
a. Pewarnaan Gram
Bakteri dari isolat yang diuji dioleskan pada kaca obyek. Olesan difiksasi
panas secara hati- hati, selanjutnya diwarnai dengan pewarna ungu kristal
selama satu menit lalu dibilas dengan akuades. Pewarnaan selanjutnya
adalah dengan yodium selama dua menit sebelum dibilas dengan etanol
95% selama 30 detik dan dicuci dengan aquades. Selanjutnya olesan
diwarnai dengan safranin selama 30 detik, kemudian kelebihan warna
dibilas sebelum diamati di bawah mikroskop. Gram positif akan berwarna
biru atau ungu, sedang Gram negatif akan berwarna merah muda.
35

b. Pewarnaan spora
Olesan isolat yang diuji disiapkan pada kaca obyek, lalu difiksasi panas.
Selanjutnya diakukan pewarnaan dengan hijau malakit dan dipanasi secara
hati-hati selama 10 menit. Olesan didinginkan dan dibilas dengan aquades
sebelum diwarna i dengan safranin selama satu menit. Sisa air kemudian
ditiriskan dan diamati di bawah mikroskop. Jika biakan membentuk spora
akan berwarna hijau dan sel vegetatif berwarna merah muda.
c. Pengujian karakter fisiologi dan biokimia
Untuk menentukan genus bakteri pereduksi sulfat dari isolat yang diperoleh
dilakukan pengujian karakter fisiologis dan biokimia dengan berpedoman
pada Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Pemanfaatan bahan
organik oleh bakteri ditentukan dengan pembiakan isolat pada media dengan
kandungan bahan organik tertentu untuk melihat kemampuan bakteri
memanfaatkan bahan organik. Pengamatan dilakukan dengan melihat
kemampuan tumbuh bakteri pada media tersebut.

3.2.2. Pertumbuhan Bakteri Pereduksi Sulfat pada Berbagai Kondisi


Lingkungan
Kegiatan ini dilakukan untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat, antara lain pH, konsentrasi (kandungan)
sulfat, dan sumber karbon.

3.2.2.1. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat


Untuk melihat tingkat pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat pada kondisi
pH yang berbeda, masing- masing 1 mL suspensi mikrob dimasukkan ke dalam
tabung ulir yang telah berisi 1/3 bagian media cair steril dengan pH 3, dan secara
perlahan- lahan diisi sampai penuh dan ditutup rapat. Dengan cara yang sama
dilakukan dengan variasi pH 4, 5, 6, dan 7, dan diinkubasi pada suhu 28 o C.
Enam isolat yang diuji dalam percobaan ini adalah isolat yang mempunyai
kemampuan reduksi sulfat tinggi hasil seleksi pada kegiatan pertama.
Pengamatan dilakukan terhadap kecepatan pertumbuhan bakteri, kenaikan pH,
kemampuan mereduksi sulfat dan produksi sulfida.
36

3.2.2.2. Pengaruh konsentrasi (kandungan) sulfat terhadap reduksi sulfat


Untuk mengetahui kemampuan mereduksi sulfat, isolat bakteri yang
diperoleh ditumbuhkan pada media cair dengan kandungan sulfat divariasikan
dengan konsentrasi dasar sesuai dengan yang ada di lokasi penelitian. Sebanyak 1
mL suspensi mikrob dipindahkan secara aseptik ke dalam tabung ulir yang berisi
1/3 bagian media cair dengan kandungan sulfat 1000, 1500, 2500, dan 3500 mg/L.
Kemudian media ditambahkan secara perlahan-lahan hingga penuh dan ditutup
rapat. Media tersebut kemudian diinkubasi pada suhu 28 o C selama 21 hari.
Empat isolat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah isolat yang mampu
tumbuh pada pH 3 dan mempunyai kemampuan reduksi sulfat tinggi. Pengamatan
dilakukan terhadap kecepatan pertumbuhan bakteri dan kemampuan mereduksi
sulfat. Pengukuran terhadap sulfat yang tereduksi dilakukan secara
spektrofotometri.

3.2.2.3. Pengaruh kompos sebagai sumber karbon terhadap pertumbuhan


bakteri pereduksi sulfat
Pada kegiatan ini digunakan tiga jenis bahan organik sebagai sumber karbon
untuk pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat, yaitu (1) limbah kulit kayu, (2)
limbah jerami padi, dan (3) laktat. Bahan organik tersebut bersama-sama dengan
media cair tanpa laktat dimasukkan ke dalam kolom dan 10 mL suspensi bakteri
pereduksi sulfat hingga 1/3 bagian, kemudian ditambahkan media sampai penuh
dan ditutup rapat. Isolat tersebut diinkubasi pada suhu ruang. Empat isolat yang
dipergunakan dalam percobaan ini adalah isolat yang mampu tumbuh pada pH 3
dan mempunyai kemampuan reduksi sulfat tinggi. Perlakuan yang sama
diaplikasikan pada isolat yang diuji lainnya. Pengamatan dilakukan terhadap
kecepatan tumbuh bakteri pereduksi sulfat, kenaikan pH, kandungan sulfat, dan
kerapatan optik.

3.2.3. Pengolahan Air Asam Tambang dengan Reaktor Anaerob Bakteri


Pereduksi Sulfat Tersuspensi
Pada kegiatan ini pengolahan air asam tambang dilakukan dengan
menggunakan kolom pengolahan pada kondisi anaerob bakteri pereduksi sulfat
37

tersuspensi seperti pada Gambar 8. Kolom dibuat dari kaca dengan ukuran
panjang 10 cm, lebar 15, dan tinggi 20 cm, sehingga total volume kolom 3000
mL. Limbah asam tambang dimasukkan ke dalam kolom bersama-sama dengan
ditambahkan nutrisi starter berupa asam laktat sebanyak 10 mL/L limbah dan
isolat bakteri pereduksi sulfat yang telah ditumbuhkan. Tiga isolat yang
digunakan dalam percobaan ini adalah isolat yang mampu tumbuh pada pH 3 dan
mempunyai kemampuan reduksi sulfat tinggi.

Bak Keran
Pengisi

Penampung gas

Reaktor anaerob
Bak penampung

Gambar 8. Rancangan reaktor pengolahan air asam tambang secara anaerob

Parameter-parameter yang diukur dalam rangkaian pengolahan air asam


tambang dengan bakteri pereduksi sulfat skala laboratorium ini adalah:
1. Kemampuan bakteri pereduksi sulfat dalam mereduksi sulfat
2. Total sulfida yang terbentuk
3. Peningkatan pH limbah
4. Kemampuan mereduksi logam- logam yang terkandung dalam air asam
tambang, terutama Fe dan Mn

3.2.4. Pengolahan Air Asam Tambang dengan Reaktor Biofilm Bakteri


Pereduksi Sulfat
Unit pengolahan air asam tambang menggunakan biofilm bakteri pereduksi
sulfat terdiri dari 3 bak yang terbuat dari kaca, yakni bak pengisi, bak pengolah
dan bak penampung. Bak pengisi dibuat dengan dimensi panjang 20 cm, lebar 20
cm dan tinggi 25 cm, sehingga volume sebesar 10.000 mL. Bak pengolah yang
38

merupakan reaktor anaerob dibuat dengan volume 6000 mL dan dimensi dengan
ukuran panjang 20 cm, lebar 15 cm dan tinggi 20 cm. Pada bak pengolah ini diisi
1500 g limbah jerami dan 4000 g batu vulkan, sehingga volume efektif reaktor
adalah 3000 mL, seperti pada Gambar 9.

Bak Keran
Pengisi

Penampung gas

Jerami padi Reaktor anaerob


Batu vulkan
Bak penampung
Gambar 9. Rancangan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat untuk pengolahan
air asam tambang

Sebagai media berkembangnya bakteri (bacterial carrier) digunakan batu


vulkan dengan ukuran 3-5 cm. Untuk menghilangkan senyawa toksik potensial,
batu vulkan dicuci beberapa kali dengan menggunakan etanol 100%, aquades,
kemudian dikeringkan dan disterilisasi menggunakan autoklaf dengan suhu 200
o
C selama 15 menit.
Pengolahan limbah dilakukan secara anaerob dengan menggunakan sistem
curah (batch). Limbah asam tambang dimasukkan ke dalam kolom bersama-sama
dengan ditambahkan media cair sebagai nutrisi starter sebanyak 10-15% dari
volume kolom dan isolat bakteri pereduksi sulfat yang telah ditumbuhkan. Isolat
diambil dari kultur bakteri pereduksi sulfat pada awal fase pertumbuhan
eksponensial. Imobilisasi bakteri pereduksi sulfat dilakukan dengan membiarkan
kolom dalam kondisi anaerob selama 14 hari, sesuai hasil penelitian Beyenal dan
Lewandowski (2004), sehingga terbentuk biofilm. Setelah 14 hari cairan dalam
reaktor dialirkan keluar untuk mengeluarkan bakteri yang tidak terikat pada batu
vulkan. Pengamatan pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat yang menempel pada
permukaan batu vulkan dilakukan dengan menggunakan metode Scanning
Electron Microscopy (SEM).
39

Untuk mengetahui efektifitas isolat bakteri pereduksi sulfat, pengolahan


limbah secara anaerob dilakukan dengan 3 perlakuan, yaitu (1) jerami padi
(sebagai kontrol), (2) jerami padi dan ICBB 8815, dan (3) jerami padi dan ICBB
8818.
Pengamatan dilakukan selama 6 hari dengan perbedaan waktu tinggal antara
1-144 jam, yakni 1, 2, 3, 4, 5, 10, 15, 24, 48, 72, 96, 120 dan 144 jam. Parameter
yang diukur dalam rangkaian pengolahan air asam tambang dengan teknik biofilm
bakteri pereduksi sulfat skala laboratorium ini adalah:
1. Kemampuan biofilm bakteri dalam mereduksi sulfat
2. Produksi sulfida (total)
3. Peningkatan pH limbah
4. Kemampuan mereduksi logam- logam yang terkandung dalam air asam
tambang, yakni Fe dan Mn.

3.2.5. Penentuan Jumlah Sel Terimobilisasi pada Batu Vulkan


Pelepasan sel yang melekat pada batu vulkan dilakukan dengan
menggunakan metode Taoufik et al. (2004). Sebanyak 25 g batu vulkan yang
telah ditumbuhi biofilm bakteri pereduksi sulfat dimasukkan ke dalam tabung
reaksi dan ditambahkan 5 mL akuades steril dan divorteks selama 5 menit.
Langkah ini dilakukan sebanyak dua kali. Cairan yang dihasilkan kemudian
digabung dan diambil sebanyak 1 mL dan dilakukan pengenceran sampai 10 kali.
Sel bakteri yang terlarut kemudian ditumbuhkan pada media agar menggunakan
cawan petri dan diinkubasi selama 7-10 hari. Jumlah koloni yang tumbuh dalam
media agar dihitung menggunakan metode total plate count.

3.3. Metode Analisa


Analisa yang dilakukan terhadap limbah air asam tambang yang telah
diperlakukan adalah kandungan sulfida, sulfat, pH, kandungan asam-asam
organik, dan kandungan logam terlarut (Fe dan Mn). Data pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat dari hasil isolasi berupa waktu tumbuh (hari) dan tingkat
kepekatannya diukur secara visual dengan memberikan skor berupa tanda “+”
yang didefinisikan sesuai tingkat kepekatan. Sedangkan pada proses pemurnian
40

diukur dari pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat yang ditandai dengan perubahan
warna media (hitam).

3.3.1. Pengukuran Sulfat


Konsentrasi sulfat diukur menggunakan metode turbidimetri (Adams, 1990).
Barium klorida (BaCl2 ) ditambahkan pada larutan yang mengandung sulfat. Pada
0,9 mL bahan kondisioning (0,85 mL gliserol, 0,5 mL HCl, 1.3 g NaCl, 17 mL
etanol dan 1000 mL aquades) ditambahkan 0,1 mL sampel standar, kemudian
ditambahkan BaCl2 . Larutan tersebut dikocok menggunakan vorteks selama 1
menit sehingga BaSO4 membentuk koloid dan larutan menjadi keruh.
Absorbance larutan kemudian diukur dengan spektrofotometer pada 430 nm.

3.3.2. Pengukuran Sulfida


Kandungan sulfida diukur dengan menggunakan metode spektrofotometri,
dengan menambahkan kuprisulfat (CuSO4 ) pada sisa limbah yang mengandung
sulfida, sehingga terbentuk kuprisulfida (CuS). Sebanyak 0,1 mL larutan standar
sodium sulfida ditambahkan ke dalam 0.9 mL larutan asam kuprisulfat, kemudian
absorbance larutan tersebut diukur dengan spektrofotometer pada 480 nm.
Dengan cara yang sama dilakukan pengukuran pada larutan sampel.

3.3.3. Pengukuran Kandungan Logam Terlarut


Pengukuran ion logam terlarut sebelum dan sesudah proses pengolahan
dilakukan dengan metode spektrofotometri serapan atom (SSA).

3.4. Analisa Data


Data yang diperoleh direkapitulasi dan ditabulasi disajikan dalam bentuk
tabel. Untuk melihat adanya perbedaan perlakuan dilakukan dengan analisa sidik
ragam. Analisa statistik yang digunakan adalah rancangan acak lengkap,
sedangkan perbedaan kemaknaan dilakukan dengan uji beda nyata.
Perhitungan efisiensi hasil pengolahan ditentukan dengan mengukur
parameter tersebut sebelum dan pada waktu tertentu seama dan sesudah proses.
41

Efisiensi masing- masing isolat diuji pada tiap-tiap pengamatan didasarkan pada
masa inkubasi sebagai berikut :
(A – B)
Efisiensi = x 100%
A
A = nilai sebelum proses
B = nilai sesudah proses
Dari hasil pengamatan efektivitas dilakukan analisis sidik ragam dan uji Duncan.
Perbandingan parameter yang ditetapkan ditunjukkan dengan kurva dan diagram.

3.5. Penyimpanan Biakan


Penyimpanan biakan dimaksudkan untuk preservasi jangka panjang
koleksi isolat murni bakteri pereduksi sulfat. Untuk tujuan tersebut, isolat murni
bakteri pereduksi sulfat disimpan dengan menggunakan dua teknik, yaitu (1)
Penyimpanan dalam tanah/kompos steril, dan (2) Penyimpanan dalam gliserol.
Cara penyimpanan dalam tanah/kompos steril adalah sebagai berikut:
Tanah/kompos kering dimasukkan ke dalam botol hingga penuh, kemudian
diautoklaf pada suhu 121 o C selama 1 jam. Selanjutnya botol dioven kering pada
suhu 105 o C selama 1 jam. Suspensi kultur bakteri diambil dengan pipet steril
sebanyak 1 mL dan dimasukkan ke dalam botol.
Pada cara penyimpanan dalam biakan gliserol, 1 mL gliserol steril
dimasukkan ke dalam ampul dan ditambahkan 1 mL suspensi kultur bakteri,
kemudian dikocok sampai merata dengan vortex, dan segera disimpan dalam
freezer (- 20o C - - 70o C).
42

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Eksplorasi dan Identifikasi Bakteri Pereduksi Sulfat
4.1.1. Isolasi Bakteri Pereduksi Sulfat
Hasil isolasi bakteri pereduksi sulfat dari 26 contoh lumpur di kolam
penampungan limbah air asam tambang di area pertambangan PT. Bukit Asam
Muara Enim memperlihatkan bahwa bakteri pereduksi sulfat ditemukan di semua
kolam penampungan (Tabel 4). Kondisi kolam penampungan yang banyak
mengandung sulfat dan pH rendah merupakan habitat yang sesuai untuk
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat. Namun demikian kelompok bakteri tersebut
mempunyai karakteristik yang berbeda, dilihat dari waktu tumbuh dan
kemampuan mereduksi sulfat. Beberapa kelompok bakteri mampu tumbuh cepat,
yakni antara 6-8 hari setelah inkubasi, namun demikian ditemukan pula kelompok
bakteri yang membutuhkan waktu 21 hari untuk tumbuh.
Kemampuan kelompok bakteri untuk mereduksi sulfat juga berbeda.
Kemampuan mereduksi sulfat diind ikasikan dengan tingkat kepekatan larutan dan
warna hitam pada tabung reaksi. Sesuai dengan reaksi reduksi sulfat, SO4 2-
direduksi oleh bakteri pereduksi sulfat menjadi S2-, dan bereaksi dengan ion
logam membentuk logam sulfida yang berwarna hitam dan tidak larut. Oleh
karena itu, makin banyak logam sulfida yang terbentuk, larutan dalam tabung
akan semakin hitam pekat (Gambar 10). Keragaman karakteristik kelompok
bakteri pereduksi sulfat tersebut disebabkan perbedaan ekosistem tempat
tumbuhnya, seperti pH, konsentrasi sulfat dan ketebalan lumpur dalam kolam.
Hasil pengukuran pH dan kandungan sulfat di beberapa titik pengamatan
memperlihatkan adanya perbedaan tersebut (Tabel 5). Nilai pH bervariasi antara
2,92 – 4,05, sedang kandungan SO4 2- berkisar antara 800 – 1150 mg/L.
Perbedaan kondisi ekosistem mikro kolam penampungan limbah menyebabkan
perbedaan isolat bakteri yang tumbuh dan beradaptasi pada kondisi ekosistem
tersebut.
Keragaman karakteristik bakteri pereduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan, kemasaman lingkungan, kedalaman sedimen, ketersediaan
energi dari bahan organik, dan kandungan sulfat. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian lain yang mengemukakan bahwa faktor lingkungan mempengaruhi
43

Tabel 4. Indikasi keberadaan bakteri pereduksi sulfat dari lumpur di kolam


penampungan air asam tambang di pertambangan batu bara Muara
Enim, Sumatera Selatan

No. Kode Contoh Waktu Tumbuh (hari) Tingkat Kepekatan

1. PIT G 1-1 20 +
2. PIT G 3-1 20 +
3. PITG 3-2 12 ++
4. ALP1 21 +
5. ALP2 13 ++
6. ALP3 9 +++
7. SALURAN ALP 20 +
8. KPL 4-1 13 ++
9. KPL 4-2 7 ++++
10. TOWER 4-1 6 ++++
11. TOWER 4-2 7 +++
12. KTU-1 6 ++++
13. KTU-2 22 +
14. TUPAK 1 19 +
15. TUPAK 2 21 +
16. TUPAK 3 9 +++
17. LINTANG 1 9 ++
18. LINTANG 2 9 ++
19. KANDIS 1 18 +
20. KANDIS 2 18 +
21. KANDIS 3 16 +
22. KANDIS 4 19 +
23. KPL MERE 1 14 +
24. KPL MERE 2 8 ++
25. LIMAU TEMBE 1 12 +
26. LIMAU TEMBE 2 9 +++
Keterangan :
+ = hitam tipis di bagian bawa +++ = hitam merata
++ = hitam tipis hampir merata ++++ = hitam pekat merata
44

Tabel 5. Nilai pH dan kandungan SO4 2- contoh air asam tambang di Muara Enim,
Sumatera Selatan

No. Kode Contoh Posisi pH SO42- (mg/L)

1. PIT G - 034211.2 + 1034640.9 2,92 1050


2. ALP - 034344.1 + 1034719.0 2,95 925
3. KPL - 034141.8 + 1034577.9 2,92 1150
4. TOWER - 034198.1 + 1034775.7 3,41 980
5. KTU - 034288.9 + 1034732.4 3,48 875
6. TUPAK - 034175.4 + 1034728.3 3,24 825
7. LINTANG - 034142.1 + 1034599.0 3,56 850
8. KANDIS - 034393.9 + 1034739.1 3,97 840
9. KPL MERE - 034277.0 + 1034765.8 4,05 800
10. LIMAU TEMBE - 034129.2 + 1034781.0 3,75 905

a b c

Gambar 10. Indikasi terjadinya reduksi sulfat oleh bakteri pereduksi sulfat hasil
isolasi di kolam penampungan limbah air asam tambang di Muara
Enim, Sumatera Selatan : (a) kontrol, (b) hitam tipis hampir merata
dan (c) hitam pekat merata. Warna hitam menunjukkan endapan
logam sulfida yang terbentuk dari hasil reduksi sulfat menjadi
sulfida.
45

keragaman jenis dan karakteristik bakteri pereduksi sulfat, antara lain


kemasaman lingkungan (Bractova et al., 2002), kedalaman sedimen (Hoehler et
al., 2001; Jorgensen, 1982), ketersediaan energi dari bahan organik (Hoehler et
al., 2001; Liamleam dan Annachhtre, 2007), dan kandungan sulfat (Icgen dan
Harrison, 2006). Icgen dan Harrison (2006) melaporkan bahwa kandungan sulfat
menentukan kelompok bakteri pereduksi sulfat yang dominan tumbuh pada suatu
ekosistem.
Perbedaan karakteristik bakteri pereduksi sulfat mungkin juga disebabkan
oleh perbedaan kedalaman contoh yang diambil. Contoh lumpur diambil pada
kedalaman antara 50 cm sampai 150 cm. Perbedaan kedalaman lumpur tersebut
akan mempengaruhi jumlah oksigen yang terlarut, sehingga mempengaruhi jenis
dan aktivitas bakteri yang tumbuh. Beberapa kelompok bakteri pereduksi sulfat
mampu tumbuh pada kondisi oksik, sedangkan kelompok bakteri lain
membutuhkan kondisi yang betul-betul anoksik. Pertumbuhan bakteri pereduksi
sulfat yang anaerob obligat terganggu dengan adanya oksigen terlarut. Risatti et
al. (1994) mengemukakan bahwa kelompok Desulfovibrio lebih dominan di
bagian atas dari sedimen, sedangkan Jorgensen (1982) melaporkan bahwa jumlah
dan aktivitas bakteri pereduksi sulfat meningkat dengan ketebalan lapisan
sedimen.

4.1.2. Pemurnian Bakteri Pereduksi Sulfat


Dari 26 kelompok bakteri yang telah diiolasi, diperoleh 15 isolat murni
bakteri pereduksi sulfat (Tabel 6). Isolat murni ini merupakan bakteri yang
mampu tumbuh pada salah satu tabung pada tingkat pengenceran terakhir. Hasil
ini memperlihatkan bahwa tidak semua bakteri pereduksi sulfat mampu tumbuh
pada kondisi spesifik. Dari hasil permurnian ini terlihat bahwa isolat yang tidak
dapat dimurnikan adalah kelompok bakteri yang mempunyai kemampuan
mereduksi sulfat rendah.
46

Table 6. Isolat dan asal isolat yang telah dimurnikan

No. Kode Contoh Kode Isolat Asal Sedimen Posisi

1. PITG 3-2 ICBB 8811 Bangko Barat - 034211.2 + 1034640.9


2. ALP2 ICBB 8812 Air Laya - 034344.1 + 1034719.0
3. ALP3 ICBB 8813 Air Laya - 034344.1 + 1034719.0
4. KPL 4-1 ICBB 8814 Air Laya - 034141.8 + 1034577.9
5. KPL 4-2 ICBB 8815 Air Laya - 034141.8 + 1034577.9
6. TOWER 4-1 ICBB 8816 Air Laya - 034198.1 + 1034775.7
7. TOWER 4-2 ICBB 8817 Air Laya - 034198.1 + 1034775.7
8. KTU-1 ICBB 8818 Air Laya - 034288.9 + 1034732.4
9. TUPAK 3 ICBB 8819 Air Laya - 034175.4 + 1034728.3
10. LINTANG 1 ICBB 8820 Air Laya - 034142.1 + 1034599.0
11. LINTANG 2 ICBB 8821 Air Laya - 034142.1 + 1034599.0
12. KANDIS 3 ICBB 8822 Air Laya - 034393.9 + 1034739.1
13. KPL MERE 1 ICBB 8823 Air Laya - 034277.0 + 1034765.8
14. LIMAU TEMBE 1 ICBB 8824 Air Laya - 034129.2 + 1034781.0
15. LIMAU TEMBE 2 ICBB 8825 Air Laya - 034129.2 + 1034781.0

4.1.3. Karakteristik Isolat Murni Bakteri Pereduksi Sulfat


Beberapa karakteristik isolat bakteri pereduksi sulfat yang telah dimurnikan
disajikan pada Tabel 7. Karakteristik isolat murni beragam dalam beradaptasi
dengan lingkungan sekitarnya dan kemampuan mereduksi sulfat. Hasil
pengujian pada media dengan konsentrasi sulfat sebesar 500 mg/L, dari 15 isolat
murni, hanya 8 isolat yang mampu tumbuh pada pH 3. Tujuh isolat murni lainnya
hanya mampu tumbuh pada pH di atas 4. Kemampuan bakteri pereduksi sulfat
beradaptasi dengan kondisi masam berkaitan dengan karakteristik sel bakteri.
Kemampuan isolat bakteri pereduksi sulfat juga beragam, namun efisiensi
reduksi sulfat semua isolat meningkat dengan peningkatkan nilai pH. Pada pH 6
efisiensi reduksi sulfat berkisar antara 74,75% sampai 91,79%. Kemampuan
terendah diperole h isolat ICBB 8820, sedangkan isolat ICBB 8818 mempunyai
kemampuan mereduksi sulfat paling tinggi, yakni sebesar 91,79%. Penurunan pH
menurunkan kemampuan bakteri mereduksi sulfat. Pada pH 6, isolat ICBB 8820
mampu mereduksi sebesar 74,75%, berkurang menjadi 72,77% pada pH 4, dan
tidak mampu tumbuh pada pH 3. Berbeda dengan kemampuan reduksi isolat
47

ICBB 8818 yang mencapai 91,79% pada pH 6, tetapi hanya sebesar 84,28% pada
pH 3. Pada pH 3 total sulfat yang tereduksi oleh 6 isolat yang mampu tumbuh
berkisar antara 71,47% sampai 84,28%.

Tabel 7. Kemampuan reduksi sulfat isolat murni bakteri pereduksi sulfat pada
konsentrasi sulfat 500 mg/L dan pH awal 3, 4 dan 6

pH 6 pH 4 pH 3
Isolat
pH SO42- % pH SO42- % pH SO42- %
(mg/L) Reduksi (mg/L) Reduksi (mg/L) Reduksi

ICBB 8818 8,32 41,06 91,79 7,65 68,54 86,29 6,74 78,58 84,28
ICBB 8815 8,15 43,25 91,35 7,60 69,44 86,11 6,57 80,24 83,95
ICBB 8816 7,91 44,89 91,02 7,22 70,12 85,98 6,68 84,64 83,07
ICBB 8813 7,90 45,32 90,94 7,10 70,24 85,95 6,59 106,08 78,78
ICBB 8819 7,80 45,06 90,99 7,40 90,64 81,87 6,40 106,82 78,64
ICBB 8825 7,75 57,80 88,44 7,10 89,50 82,10 6,59 115,26 76,95
ICBB 8817 7,70 62,40 87,52 7,00 112,58 77,48 6,40 142,67 71,47
ICBB 8811 7,70 60,58 87,88 7,00 92,58 81,48 tt - -
ICBB 8814 7,60 90,26 81,95 7,0 120,25 75,95 6,00 140,28 71,94
ICBB 8812 7,60 78,29 84,34 7,00 108,11 78,38 tt - -
ICBB 8823 7,50 95,25 80,95 7,05 115,28 76,94 tt - -
ICBB 8824 7,30 100,85 79,83 7,00 125,58 74,88 tt - -
ICBB 8822 7,20 113,25 77,35 6,90 133,12 73,38 tt - -
ICBB 8821 7,20 120,21 75,96 6,90 140,25 71,95 tt - -
ICBB 8820 7,20 126,25 74,75 7,00 136,15 72,77 tt - -
Keterangan : tt = tidak tumbuh

4.1.4. Identifikasi Bakteri Pereduksi Sulfat


Karakteristik 4 isolat unggul bakteri pereduksi sulfat disajikan pada Tabel 8.
Identifikasi ini dilakukan berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative
Bacteriology, yang didasarkan pada beberapa karakteristik antara lain pewarnaan
Gram, bentuk sel, bentuk koloni, warna koloni, motilitas, kondisi lingkungan
tumbuh, pembentukan spora dan sumber karbon.
Berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, hasil
identifikasi 8 isolat unggul, diperoleh bahwa semua isolat tersebut termasuk
dalam kelompok Desulfovibrio sp. Desulfovibrio sp. adalah bakteri pereduksi
sulfat dengan karakteristik antara lain bersifat mesofil, gram negatif, batang, tidak
48

Tabel 8. Karakteristik empat isolat unggul bakteri pereduksi sulfat

Karakteristik Isolat

ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Pewarnaan Gram Negatif Negatif Negartif Negatif


Bentuk Sel Batang Batang Batang Batang
Bentuk Koloni Bulat tak Bulat tak Bulat tak Bulat tak
beraturan beraturan beraturan beraturan
Ukuran Sel
Panjang (µm) 1,12-1,75 1,09-2,22 1,07-1,86 1,07-1,72
Lebar (µm) 0,70-1,03 0,69-1,01 0,68-1,00 0,71-1,05
Warna Koloni Putih – krem Putih – krem Putih – krem Putih – krem
Motilitas + + + +
Anaerob + + + +
Endospora - - - -
Sumber karbon Laktat Laktat Laktat Laktat
Suhu pertumbuhan 25-40 25-40 25-40 25-40
o
C
Penghasil sulfida + + + +
Species Desulfovibrio sp. Desulfovibrio sp. Desulfovibrio sp. Desulfovibrio sp.

membentuk spora dan hanya menunjukkan pertumbuhan pada kondisi anaerob


(Widdel dan Bak, 1994). Bakteri ini tergolong bakteri yang mengoksidasi karbon
organik secara tidak sempurna. Desulfovibrio sp. terutama memanfaatkan laktat
sebagai sumber karbon, dan mengoksidasinya menjadi asetat. Rzeczycka dan
Blaszczyk (2005) dan Cord-Ruwisch, et al. (1986) melaporkan bahwa
Desulfovibrio tumbuh lebih baik dengan laktat sebagai sumber karbon. Namun
demikian kelompok bakteri ini juga dapat memanfaatkan sumber karbon la in,
seperti malat, pyruvat, propionat, butyrat, dalam mereduksi sulfat (Postagate dan
Campbell, 1966). Desulfovibrio sp. memanfaatkan sumber karbon antara lain
laktat, dan mengoksidasinya menjadi asetat.
Desulfovibrio sp. merupakan kelompok bakteri pereduksi sulfat yang paling
banyak ditemui di alam, dan paling banyak ditemui sedimen lingkungan air
tawar (Holmer dan Storkholm, 2001). Hasil isolasi dan pemurnian bakteri
pereduksi sulfat yang tumbuh di lingkungan pertambangan batu bara
49

menunjukkan bahwa Desulfovibrio sp. merupakan bakteri pereduksi sulfat yang


paling dominan. Hal ini sesuai dengan hasil temuan Icgen dan Harrison (2006),
dimana Desulfovibrio sp. ditemui lebih dominan pada ekosistem dengan
kandungan sulfat yang tinggi dibandingkan dengan kelompok bakteri pereduksi
sulfat lainnya.
Desulfovibrio sp. merupakan bakteri pereduksi sulfat yang mampu hidup
pada kondisi yang sedikit oksik. Karakteristik ini berkaitan dengan kemampuan
bakteri menghasilkan enzim yang mampu melindungi sel dari stres oksigen (Dolla
et al., 2006; Fournier et al., 2006). Berkaitan dengan kemampuan Desulfovibrio
sp. hidup dalam kondisi sedikit oksik, Fournier et al., (2003) mengemukakan
bahwa dalam sel Desulfovibrio sp. terdapat enzim superoxide reductase (Sor)
yang berperan dalam mereduksi oksigen. Oleh karena itu kelompok bakteri ini
sering ditemukan di bagian atas sedimen (Risatti et al., 1994). Walaupun
demikian Desulfovibrio sp. tetap membutuhkan kondisi anaerob untuk dapat
mempertahankan perkembangan selnya. Bakteri ini hanya mampu tumbuh
dengan baik pada kondisi oksik selama tidak lebih dari 24 jam, setelah itu
pertumbuhannya akan turun drastis (Cypionka et al., 1985).

4.2. Pertumbuhan Bakteri Pereduksi Sulfat pada Berbagai Kondisi


Lingkungan
4.2.1. Pengaruh pH terhadap Pertumbuhan Bakteri Pereduksi Sulfat
Pada tahap penelitian ini digunakan enam isolat bakteri pereduksi sulfat,
yaitu ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816, ICBB 8818, ICBB 8819 dan ICBB
8825. Keenam isolat ini dipilih karena mampu tumbuh pada pH 3 dan
mempunyai kemampuan reduksi sulfat tinggi.
Kondisi kemasaman media secara nyata mempengaruhi kecepatan tumbuh
(Tabel 9 dan Gambar 11) dan pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat (Gambar 12).
Pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat semakin cepat dengan kenaikan pH. Pada
pH rendah waktu awal pertumbuhan bakteri lebih dari 8 hari setelah inkubasi,
tetapi membutuhkan waktu lebih cepat pada pH tinggi. Isolat ICBB 8813
membutuhkan waktu 12 hari untuk tumbuh pada pH 3, tetapi hanya butuh waktu 3
hari untuk tumbuh pada pH 7. Dua isolat, yaitu ICBB 8819 dan ICBB 8825,
50

bahkan tidak tumbuh pada pH 3, tetapi pada pH netral kedua isolat tersebut
tumbuh lebih cepat, yakni antara 1-3 hari. Pada pH di atas 5, ICBB 8818 mampu
tumbuh 3 hari setelah inkubasi. ICBB 8818 tumbuh lebih cepat dibandingkan
dengan ketiga isolat bakteri pereduksi sulfat lainnya.

Tabel 9. Pengaruh pH media terhadap waktu tumbuh bakteri pereduksi sulfat,


konsentrasi sulfat 1000 mg/L
Isolat pH 3 pH 4 pH 5 pH 6 pH 7

hari
ICBB 8813 12 5 4 4 3
ICBB 8815 11 6 3 3 3
ICBB 8816 10 5 4 3 3
ICBB 8818 8 4 3 1 1
ICBB 8819 tt 5 3 2 2
ICBB 8825 tt 7 5 5 5
Catatan : tt = tidak tumbuh

14

12
Waktu tumbuh (hari)

10

0
ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
Isolat

pH3 pH4 pH5 pH6 pH7

Gambar 11. Pengaruh pH terhadap kecepatan tumbuh beberapa isolat bakteri


pereduksi sulfat

Pertumbuhan dan aktivitas bakteri pereduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh


pH lingkungan. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan bakteri dapat melalui dua
cara, yakni melalui (1) fungsi sistem enzimatis dalam sel bakteri dan (2)
pembentukan energi dalam sel. Perubahan pH secara langsung mempengaruhi
51

struktur enzim dan protein lain dalam sel, karena aktivitas fisiologis intraselular
selalu berada dalam kondisi mendekati netral. Oleh karena itu, sel bakteri perlu
melakukan penyesuaian apabila kondisi lingkungan di luar sel terlalu masam atau
terlalu basa.
Kemasaman lingkungan juga mempengaruhi pembentukan energi dalam sel.
Kondisi pH yang terlalu masam atau terlalu basa akan menghambat pembentukan
ATP, sedangkan kondisi pH netral pembentukan ATP berjalan lebih cepat
(Garland, 1977; Mitchell, 1961). ATP adalah protein penghasil energi yang
dipergunakan dalam pertumbuhan sel. Kondisi demikian yang menyebabkan pada
pH rendah waktu tumbuh bakteri lebih lama dibandingkan dengan pH mendekati
netral (Tabel 9). Hal ini sejalan dengan hasil beberapa penelitian lain (Elliot et
al., 1998; Johnson et al., 1993; Kolmert dan Johnson, 2001). Untuk dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik bakteri membutuhkan kond isi kemasaman media
yang optimum. Umumnya bakteri pereduksi sulfat membutuhkan kemasaman
optimum pada pH 5-6 (Elliot et al., 1998; Bratcova et al., 2002). Dikemukakan
pula bahwa pada kondisi kemasaman di bawah atau di atas nilai pH tersebut
pertumbuhan dan aktivitas bakteri pereduksi sulfat akan terhambat. Pada tingkat
kemasaman yang terlalu tinggi, beberapa isolat bakteri bahkan tidak mampu
tumbuh. Pada penelitian ini, dua isolat, yaitu ICBB 8819 dan ICBB 8825, tidak
dapat tumbuh pada pH 3.
Respon masing- masing isolat bakteri pereduksi sulfat terhadap kondisi
kemasaman lingkungan berbeda. Sebagai contoh, isolat ICBB 8819 tidak mampu
tumbuh pada pH 3, tetapi pada pH optimum (pH antara 5-7) mampu tumbuh lebih
cepat dibandingkan dengan isolat ICBB 8813, ICBB 8816 dan ICBB 8818. Pada
suhu optimum isolat ICBB 8819 tumbuh 2-3 hari setelah inokulasi, sedangkan
isolat ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818 tumbuh 3-4 hari
setelah inkubasi.
Kondisi kemasaman lingkungan juga menentukan pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat. Secara kualitatif pertumbuhan biomassa bakteri ditunj ukkan
dengan kerapatan optik (Gambar 12). Metode ini merupakan cara yang baik
untuk melihat pertumbuhan bakteri tanpa harus mengganggu kultur bakteri
(Black, 2005). Pada penelitian ini kerapatan optik diukur 21 hari setelah inkubasi.
52

Kerapatan Optik (Abs 620 nm)


0,80

0,60

0,40

0,20

0,00
ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
Isolat

pH3 pH4 pH5 pH6 pH7

Gambar 12. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan empat isolat bakteri pereduksi


sulfat

Dari Gambar 12 terlihat bahwa empat isolat yang diuji mampu tumbuh pada pH 3,
tetapi pertumbuhannya agak terhambat, yang ditunjukkan dengan nilai kerapatan
optik lebih kecil dari 0,61. Pada pH 4 dan pH 5 pertumbuhan bakteri meningkat,
dimana kerapatan optik berkisar antara 0,75-0,81, tetapi menurun pada pH 6 dan
pH 7. Pada pH 7 kerapatan optik sekitar 0,65.
Penurunan biomassa bakteri pada pH 6 dan pH 7 berkaitan dengan
pembentukan sulfida. Pada pH 6 dan pH 7 bakteri mulai tumbuh pada hari 1-3
setelah inkubasi, sedangkan pada pH rendah bakteri mulai tumbuh pada hari 8-12
setelah inkubasi, sehingga pada hari ke 21 jumlah sulfida yang terbentuk pada pH
6 dan pH 7 lebih banyak diband ingkan dengan pada pH lebih rendah. Sulfida
merupakan faktor yang dapat menyebabkan kerusakan sel bakteri dan kematian
bakteri. Postgate (1984) melaporkan bahwa sulfida terserap ke dalam sel dan
merusak protein sehingga sel tersebut tidak aktif. Barathi et al. (1990)
mengemukakan bahwa yang lebih berperan dalam aktivitas sel bakteri pereduksi
sulfat adalah dalam bentuk logam sulfida, sedangkan O’Flaherty dan Colleran
(1998) melaporkan bahwa pertumbuhan bakteri dipengaruhi baik oleh H2 S
maupun sulfida total, tergantung pada pH . Pada pH di bawah 7,2, pengaruh H2 S
akan lebih dominan, sedangkan apabila nilai pH di atas 7,2, pertumbuhan bakteri
lebih dipengaruhi oleh sulfida total.
53

Faktor lain yang menyebabkan penurunan biomassa bakteri adalah adanya


asam asetat sebagai hasil proses oksidasi laktat. Desulfovibrio sp. merupakan
kelompok bakteri yang mengoksidasi sumber karbon secara tidak sempurna
menjadi asetat dan CO2 (Colleran, et al., 1995). Dalam proses reduksi sulfat,
bakteri pereduksi sulfat membutuhkan energi yang diperoleh dari proses oksidasi
laktat, seperti reaksi berikut,
2 C3 H5O3- + SO4 2- à 2 CH3 COO - + 2 CO2 + 2 H2 O + S2-
dimana dalam reaksi tersebut 2 mol laktat dibutuhkan untuk mengoksidasi 1 mol
sulfat, dan menghasilkan 2 mol asetat. Pembentukan asetat tersebut
mempengaruhi pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat. Rzeczycka dan Blaszczyk
(2005) melaporkan bahwa bakteri pereduksi sulfat sangat sensitif pada asam
asetat. Adanya akumulasi produksi asetat tersebut akan menghambat pertumbuhan
bakteri.
Perbedaan pertumbuhan sel bakteri pada masing- masing nilai pH berdampak
langsung pada kemampuan bakteri mereduksi sulfat dan jumlah sulfat yang
tereduksi (Gambar 13). Pada media dengan pH awal 4, efisiensi bakteri dalam
mereduksi sulfat adalah 82,16%, 87,78%, 87,38% dan 88,99%, berturut-turut
untuk ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818, sedang pada pH 7
reduksi sulfat mencapai 88,99%, 89,59%, 89,39% dan 90,80% (Tabel 10). Isolat
ICBB 8818 memperlihatkan kemampuan mereduksi sulfat yang paling menonjol
dibandingkan dengan ketiga isolat lainnya.
Kemampuan bakteri dalam mereduksi sulfat meningkat dengan
meningkatnya pH media (Tabel 10 dan Gambar 13). Tabel 10 memperlihatkan
bahwa si olat ICBB 8818 mampu mereduksi sulfat sebesar 85,17% pada pH 4,
meningkat menjadi 90,19% pada pH 5. Pada pH 6 dan pH 7 persentase sulfat
yang tereduksi sama, yakni 90,80%. Pola kemampuan reduksi sulfat yang sama
juga ditemukan isolat ICBB 8813, ICBB 8815 dan ICBB 8816, perbedaan
persentase reduksi antara pH 6 dan pH 7 sebesar 0,20%; 0,51% dan 0,48%,
berturut-turut untuk ICBB 8813, ICBB 8815 dan ICBB 8816.
54

Tabel 10. Pengaruh pH terhadap efisiensi bakteri dalam mereduksi sulfat

Isolat
pH ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
awal Sisa % Sisa % Sisa % Sisa %
Sulfat Reduksi Sulfat Reduksi Sulfat Reduksi Sulfat Reduksi
(mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L)

pH3 212,26 77,87 168,38 83,16 166,38 83,36 148,29 85,17


pH4 178,41 82,16 122,18 87,78 126,19 87,38 110,13 88,90
pH5 172,39 82,76 116,16 88,38 120,17 87,98 98,08 90,19
pH6 110,13 88,43 108,12 89,18 112,14 88,79 92,05 90,80
pH7 110,13 88,99 104,10 89,59 106,11 89,39 92,05 90,80

250
Kandungan Sulfat (mg/L)

200

150

100

50

0
ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
Isolat

pH3 pH4 pH5 pH6 pH7

Gambar 13. Kandungan sulfat pada akhir penelitian pada level pH yang berbeda

Proses reduksi sulfat menghasilkan sulfida, seperti reaksi kimia berikut :


2 C3 H5O3- + SO4 2- à 2 CH3 COO - + 2 CO2 + 2 H2 O + S2-
Oleh karena itu penurunan konsentrasi sulfat diikuti dengan peningkatan
konsentrasi sulfida, dimana 1 mol SO4 2- yang tereduksi menghasilkan 1 mol S2- .
Total sulfida yang terbentuk pada akhir percobaan untuk masing- masing isolat
disajikan pada Gambar 14. Total sulfida yang terbentuk meningkat dengan
meningkatnya pH media. Pada akhir pengamatan, total sulfida yang terbentuk
pada isolat ICBB 8818 sebesar 283,12 mg/L, 291,67 mg/L, 296,80 mg/L, 296,80
55

mg/L dan 301,93 mg/L berturut-turut untuk pH 3, 4, 5, 6 dan 7. Hal ini sejalan
dengan persentase reduksi sulfat, dimana makin tinggi pH larutan, makin banyak
sulfat yang tereduksi (Tabel 10). Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa sulfida
yang dihasilkan oleh isolat ICBB 8818 lebih tinggi dibandingkan dengan isolat
lainnya. Hal ini sejalan dengan total sulfat yang mampu direduksi oleh isolat
ICBB 8818, yakni sebesar 90,72%, sedang total sulfat yang direduksi oleh ketiga
isolat lainnya kurang dari 90%.

300
Kandungan Sulfida (mg/L)

280

260

240

220
ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
Isolat

pH3 pH4 pH5 pH6 pH7

Gambar 14. Total sulfida yang terbentuk pada akhir pengamatan pada level pH
yang berbeda

Penurunan kandungan sulfat berakibat langsung pada kenaikan pH pada


akhir percobaan, seperti yang ditampilkan pada Gambar 15. Pada pH awal 4, nilai
pH akhir meningkat menjadi 7,09, 7,60, 7,22 dan 7,65, masing- masing untuk
isolat ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818. Kenaikan nilai pH
tersebut berkaitan dengan proses reduksi SO4 2- menjadi H2 S. Proses reduksi sulfat
secara biologi oleh bakteri melibatkan aktivitas enzim hidrogenase dan
pembentukan ATP (Matias et al., 2005; Odom dan Peck, 1981), tetapi secara
sederhana SO4 2- direduksi menjadi S2-, melalui reaksi kimia :
2 C3 H5O3- + SO4 2- à 2 CH3 COO - + 2 CO2 + 2 H2 O + S2- (1)
CO2 + 2 H2O + S2- ↔ H2 S + 2H2 CO3 (2)
56

10

8
pH akhir

4
ICBB 8813 ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818
Isolat

pH3 pH4 pH5 pH6 pH7

Gambar 15. Pengaruh pH dan bakteri pereduksi sulfat terhadap nilai pH akhir

Proses reduksi sulfat menjadi sulfida akan menurunkan tingkat kemasaman karena
konsentrasi H2 SO4 yang merupakan asam kuat berkurang dan berubah menjadi
asam lemah. Disamping itu, bikarbonat yang terbentuk merupakan senyawa yang
bersifat alkalin, dan mengikat ion H+ yang merupakan sumber kemasaman
limbah. Dengan demikian, makin banyak ion SO4 2- yang tereduksi, makin tinggi
pH larutan.
Peningkatan pH awal media meningkatkan jumlah sulfat yang tereduksi
(Tabel 10), tetapi jumlah sulfat yang tereduksi tidak berbanding lurus dengan
?pH. Tabel 11 memperlihatkan bahwa ?pH antara pH awal dan akhir percobaan
cenderung menurun. Pada pH awal 3, ?pH pada awal dan akhir percobaan lebih
besar dari 3,5, tetapi ?pH menurun dengan semakin tingginya pH awal. Pada pH
awal 7, ?pH berkisar antara 0,88 – 1,36. Dari data tersebut terlihat adanya pH
akhir tertinggi yang dapat dihasilkan, yakni sekitar 8. Kondisi ini kemungkinan
disebabkan oleh kemampuan bakteri untuk menghasilkan senyawa penyangga,
sehingga pH lingkungan tidak terlalu tinggi. Hal ini terjadi karena selama proses
reduksi sulfat, bakteri pereduksi sulfat menghasilkan bikarbonat sehingga mampu
mengontrol pH di sekitar lingkungan mikronya (Cohen, 2005). Ion bikarbonat
yang dihasilkan selama proses reduksi sulfat akan membentuk kesetimbangan
antara CO2 , HCO3-, dan CO32-.
57

Tabel 11. Tingkat kenaikan pH pada pH awal media yang berbeda

?pH
Isolat
pH 3 pH 4 pH 5 pH 6 pH 7
ICBB 8813 3,59 3,09 2,31 1,75 0,88
ICBB 8815 3,57 3,60 2,56 2,15 1,25
ICBB 8816 3,68 3,22 2,22 1,91 0,97
ICBB 8818 3,74 3,65 3,30 2,32 1,36

4.2.2. Pengaruh Konsentrasi Sulfat terhadap Pertumbuhan Bakteri


Pereduksi Sulfat
Empat isolat bakteri pereduksi sulfat digunakan dalam tahap percobaan ini.
Keempat isolat tersebut adalah ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816, dan ICBB
8818. Keempat isolat tersebut dipilih karena mempunyai kemampuan reduksi
sulfat tinggi.
Pengaruh konsentrasi sulfat terhadap pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat
ditampilkan pada Tabel 12. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi
sulfat tidak berpengaruh terhadap waktu tumbuh empat isolat bakteri pereduksi
sulfat yang diuji. Pada konsentrasi sulfat antara 1000-3500 mg/L dan pada pH 4,
waktu tumbuh keempat isolat yang diuji berkisar antara 4-8 hari. Isolat ICBB
8813 membutuhkan waktu 5 hari untuk tumbuh pada konsentrasi sulfat 1000
mg/L, 1500 mg/L, 2500 mg/L dan 3500 mg/L. Konsentrasi ion sulfat hanya
berpengaruh terhadap persentase sulfat yang tereduksi. Berbeda dengan isolat
ICBB 8818, pada konsentrasi sulfat 1000 mg/L waktu tumbuh 2 hari, tetapi
membutuhkan waktu 6 hari untuk tumbuh pada konsentrasi sulfat 1500 mg/L,
2500 mg/L dan 3500 mg/L.
Total sulfat yang tereduksi meningkat dengan peningkatan kosentrasi sulfat
awal (Tabel 13). Rata-rata total sulfat yang tereduksi pada kosentrasi sulfat awal
1000 mg/L, 1500 mg/L, 2500 mg/L dan 3500 mg/L berturut-turut adalah 856,96
mg/L, 1079,56 mg/ L, 1335,64 mg/L dan 1518,92 mg/L. Namun demikian,
efisiensi reduksi sulfat menurun dengan peningkatan konsentrasi sulfat awal
(Gambar 16). Persentase reduksi pada konsentrasi sulfat awal 1000 mg/L
mencapai 85,70%, menurun menjadi 43,40% jika konsentrasi sulfat awal sebesar
58

Tabel 12. Waktu tumbuh isolat bakteri pereduksi sulfat pada beberapa level
konsentrasi sulfat pada pH 4
Konsentrasi SO4 2- (mg/L)
Isolat
1000 1500 2500 3500
hari
ICBB 8813 5 5 5 5
ICBB 8815 6 4 8 7
ICBB 8816 5 5 6 6
ICBB 8818 2 6 6 6

Tabel 13. Pengaruh konsentrasi sulfat awal terhadap total sulfat yang tereduksi

Konsentrasi SO4 2- (mg/L)


Isolat
1000 1500 2500 3500
(mg/L)
ICBB 8813 818,79 987,17 1294,47 1538,50
ICBB 8815 875,03 1095,63 1375,81 1532,48
ICBB 8816 871,01 1077,55 1351,71 1529,46
ICBB 8818 887,08 1210,11 1372,80 1559,59

3500 mg/L. Efisiensi reduksi sulfat tidak ditentukan oleh konsetrasi sulfat awal,
tetapi lebih ditentukan oleh sumber organik yang tersedia. Dalam reaksi reduksi,
untuk mereduksi 1 mol sulfat diperlukan 2 mol laktat. Oleh karena itu, walaupun
sulfat yang tersedia meningkat, tetapi karena jumlah sumber organik yang tersedia
terbatas membatasi proses reduksi sulfat. Isolat ICBB 8818 mempunyai
kemampuan mereduksi sulfat lebih tinggi dibandingkan ketiga isolat lainnya.
Penurunan kandungan sulfat diikuti dengan peningkatan kandungan sulfida
yang terbentuk (Gambar 17). Total sulfida yang terbentuk meningkat dengan
meningkatnya kandungan sulfat awal. Pada kandungan sulfat awal 1000 mg/L,
total sulfida yang terbentuk adalah 286,96 mg/L, meningkat menjadi 511,90 mg/L
dengan peningkatan konsentrasi sulfat awal 3500 mg/L. Isolat ICBB 8818
menunjukkan kecenderungan membentuk sulfida lebih tinggi dibandingkan
dengan ketiga isolat lainnya. Hal ini sejalan dengan kemampuan isolat bakteri
59

pereduksi sulfat dalam mereduksi sulfat, dimana isolat ICBB 8818 mampu
mereduksi sulfat lebih banyak dibandingkan ketiga isolat lainnya.

Reduksi Sulfat (%) 100

75

50

25

0
8813 8815 8816 8818
Isolat

1000 mg/L 1500 mg/L 2500 mg/L 3500 mg/L

Gambar 16. Pengaruh konsentrasi sulfat terhadap kemampuan bakteri dalam


mereduksi sulfat

600
Kandungan Sulfida (mg/L)

500

400

300

200

100

0
8813 8815 8816 8818
Isolat

1000 mg/L 1500 mg/L 2500 mg/L 3500 mg/L

Gambar 17. Pengaruh konsentrasi sulfat awal terhadap kandungan sulfida yang
terbentuk
60

4.2.3. Pengaruh sumber karbon organik terhadap pertumbuhan bakteri dan


laju reduksi sulfat
Pada tahap percobaan ini digunakan isolat bakteri pereduksi sulfat yaitu
ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816, dan ICBB 8818. Keempat isolat tersebut
dipilih karena mempunyai kemampuan reduksi sulfat tinggi.
Pertumbuhan keempat isolat bakteri pereduksi sulfat pada sumber karbon
organik yang berbeda disajikan pada Tabel 14. Dari tabel tersebut terlihat bahwa
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh sumber karbon
organik. Isolat bakteri pereduksi sulfat tumbuh lebih cepat pada media dengan
laktat sebagai sumber karbon organik dibandingkan dengan jerami padi dan kulit
kayu. Pada media laktat sebagai sumber karbon, bakteri tumbuh pada 4-6 hari
setelah inkubasi, sedangkan pada media jerami padi waktu tumbuh bakteri
berkisar antara 6-10 hari. Hal ini terjadi karena laktat langsung tersedia bagi
pertumbuhan bakteri. Pada media dengan jerami padi sebagai sumber karbon,
perlu waktu beberapa hari untuk menguraikan jerami padi sehingga laktat tersedia
bagi pertumbuhan bakteri.

Tabel 14. Waktu tumbuh isolat bakteri pereduksi sulfat pada laktat, limbah jerami
padi dan limbah kulit kayu sebagai sumber karbon organik

Waktu tumbuh (hari)


Isolat
Laktat Jerami padi Kulit kayu

ICBB 8813 5 8 tt
ICBB 8815 6 10 tt
ICBB 8816 5 9 tt
ICBB 8818 4 6 tt

Keterangan : tt = tidak tumbuh

Salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat


adalah ketersediaan karbon organik. Karbon organik merupakan sumber energi
bagi aktivitas metabolisme dan kehidupan mikroorganisme. Reaksi reduksi sulfat
oleh bakteri pereduksi sulfat mengikuti persamaan seperti berikut,
SO42- + 8e- + 4H2 O à S2- + 8OH-
Pada reaksi tersebut, elektron yang dibutuhkan diperoleh dari aktivitas oksidasi
senyawa organik (laktat, asetat, propionat, dan lain- lain) yang dilakukan oleh
61

bakteri pereduksi sulfat. Disamping sebagai donor elektron, sumber karbon juga
berfungsi sebagai sumber energi. Pada tahap awal sumber karbon akan dioksidasi
dan menghasilkan ATP, kemudian ATP tersebut dimanfaatkan untuk mereduksi
sulfat menjadi sulfida.
Penggunaan jerami padi sebagai sumber karbon mampu menyediakan
karbon sesuai kebutuhan bakteri pereduksi sulfat. Jerami padi merupakan sumber
bahan organik yang mudah terurai, sehingga akan melepaskan senyawa organik
yang dibutuhkan dalam aktivitas bakteri. Gotoh dan Onikura (1971) melaporkan
bahwa pada kondisi anaerob, jerami padi akan mengalami fermentasi dan
melepaskan laktat, asetat, format, dan propionat. Wang et al. (2008)
mengemukakan bahwa senyawa tersebut mulai terlepas 3 hari setelah inkubasi.
Senyawa-senyawa organik tersebut masih dilepaskan sampai 16 minggu setelah
inkubasi.
Penggunaan limbah kulit kayu tidak mampu mendukung pertumbuhan
bakteri pereduksi sulfat. Dalam percobaan ini, tidak ada satupun isolat yang
tumbuh pada media yang menggunakan limbah kulit kayu sebagai sumber karbon.
Hal ini mungkin berkaitan dengan komposisi kimia kulit kayu. Richard (1998)
melaporkan bahwa komposisi utama kulit kayu adalah selulosa, hemiselulosa dan
lignin. Dikemukakan bahwa kandungan lignin pada kayu berkisar antara 26-27%,
sedangkan kandungan lignin pada jerami padi adalah 7% (Antongiovanni dan
Sargentini, 1991). Lignin merupakan komplek polimer fenilpropane sehingga
sulit didekomposisi (Richard, 1998; McCrady, 1991; Haug, 1993). Oleh karena
itu, tingginya kandungan lignin pada baha n organik menjadi penghambat fisik
proses pelapukan. Van Soest (1994) mengemukakan bahwa pada kondisi
lingkungan anaerob, lignin dapat bertahan pada rentang waktu yang sangat lama.
Perbedaan sumber karbon organik menyebabkan perubahan kurva
pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat (Gambar 18). Kurva pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat mengalami pergeseran pada perlakuan jerami sebagai sumber
karbon organik. Pada perlakuan ini, laktat tidak langsung tersedia bagi aktivitas
bakteri, tetapi beberapa hari kemud ian. Hal ini yang menyebabkan fase awal
pertumbuhan terjadi lebih lambat. Pada media dengan laktat sebagai sumber
karbon, bakteri tumbuh dengan cepat, dan mencapai puncaknya pada hari ke 18-
62

Kerapatan Optik (Abs 620nm)


0,8

0,6

0,4

0,2

0
3 6 9 12 15 18 21 24 27 30

Waktu (hari ke)

Laktat Jerami padi

Gambar 18. Pengaruh sumber karbon organik terhadap pola pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat Desulfovibrio sp. ICBB 8818

20 setelah inkubasi. Kondisi berbeda diperoleh pada media dengan jerami padi
sebagai sumber karbon. Pertumbuhan bakteri lebih lambat dan mencapai
puncaknya 24 hari setelah inkubasi. Keterlambatan tumbuh tersebut disebabkan
ketersediaan laktat, dimana pada jerami padi perlu diuraikan terlebih dahulu
sebelum tersedia bagi aktivitas bakteri. Pada hari ke 30 setelah inkubasi, aktivitas
bakteri yang tumbuh pada media laktat telah mengalami penurunan, diindikasikan
dengan penurunan kerapatan optik, yakni di bawah 0,40. Hal berbeda ditunjukkan
dengan bakteri yang tumbuh pada media jerami padi, dimana pada hari ke 30
kerapatan optik masih tinggi, yakni sekitar 0,65.
Perbedaan pertumbuhan bakteri sebagai akibat perbedaan sumber karbon
menyebabkan perbedaan kemampuan bakteri dalam mereduksi sulfat. Jumlah
sulfat yang tereduksi oleh bakteri yang tumbuh pada jerami padi lebih tinggi
dibandingkan dengan laktat sebagai sumber karbon (Gambar 19). Total sulfat
yang tereduksi pada media laktat adalah 86,53%, sedangkan pada media jerami
padi, total sulfat yang tereduksi sebesar 89,59%. Isolat ICBB mampu mereduksi
sulfat paling tinggi, yakni 88,79% pada media laktat dan 90,39% pada media
jerami padi. Penurunan kandungan sulfat diikuti dengan peningkatan kandungan
sulfida yang terbentuk (Gambar 20). Rata-rata sulfida yang terbentuk pada media
laktat adalah 286,96 mg/L dan 298,08 mg/L pada media jerami padi.
63

90

Reduksi Sulfat (%)


80

70

60
8813 8815 8816 8818
Isolat

Laktat Jerami padi

Gambar 19. Pengaruh sumber karbon terhadap kemampuan bakteri dalam


mereduksi sulfat

300
Kandungan Sulfida (mg/L)

250

200

150

100
8813 8815 8816 8818

Isolat

Laktat Jerami padi

Gambar 20. Pengaruh sumber karbon terhadap total sulfida yang terbentuk

4.3. Pengolahan Air Asam Tambang dengan Reaktor Bakteri Pereduksi


Sulfat Sistem Tersuspensi
4.3.1. Karakteristik Limbah Air Asam Tambang
Limbah air asam tambang yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari
kolam penampungan limbah PIT-1 Banko Barat, pertambangan batu bara PT.
Bukit Asam, Muara Enim, Sumatera Selatan. Karakteristik kimia limbah air asam
64

tambang disajikan pada Tabel 15. pH air limbah sangat masam, yakni antara
2,92-3,30. Kondisi ini terjadi karena kandungan ion SO4 2- tinggi (925-950 mg/L).
Tingginya tingkat kemasaman limbah menyebabkan logam terlarut cukup tinggi,
terutama untuk Fe dan Mn, berturut-turut 6,99-7,22 mg/L dan 11,31-11,77 mg/L.
Kualitas air limbah ini jauh melebihi baku mutu air limbah, seperti yang telah
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113
Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. Menurut
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003, baku
mutu air limbah bagi usaha kegiatan pertambangan batu bara mempunyai pH
antara 6-9, kandungan Fe total tidak lebih dari 7 mg/L, kandungan Mn total tidak
lebih dari 4 mg/L, dan residu tersuspensi tidak lebih dari 400 mg/L. Sedangkan
menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, batas maksimal kandungan sulfat
yang masih diperbolehkan adalah 400 mg/L. Oleh karena itu, limbah air asam
tambang tersebut perlu diolah sebelum dapat dibuang ke air permukaan.

Tabel 15. Karakteristik kimia limbah air asam tambang PIT-1, Bangko Barat,
Muara Enim
PIT-1 Ambang Batas

pH 2,92-3,30 6-9 2)
SO4 2- (mg/L) 925-950 < 400 1)
Fe (mg/L) 6,99-7,22 < 7 2)
Mn (mg/L) 11,31-11,77 < 4 2)
Zn (mg/L) 0,99-1,99 -
Pb (mg/L) 0,28-0,32 -
Co (mg/L) 0,26-0,27 -
1)
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
2)
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003

4.3.2. Pertumbuhan Isolat Bakteri Pereduksi Sulfat pada Reaktor Bakteri


Tersuspensi
Bakteri yang digunakan dalam pengolahan limbah air asam tambah pada
bioreaktor adalah isolat ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818. Ketiga isolat ini
dipilih didasarkan hasil penelitian tahap ke dua, dimana ketiga isolat tersebut
65

memiliki kemampuan mereduksi sulfat lebih unggul dibandingkan dengan isolat


lainnya.
Pertumbuhan isolat ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818 dalam reaktor
selama waktu inkubasi 35 hari disajikan pada Gambar 21. Pertumbuhan bakteri
pereduksi sulfat diamati secara turbidimetri. Secara umum pola pertumbuhan
bakteri dikelompokkan menjadi 4 fase, yaitu (1) fase lag, yaitu fase adaptasi
terhadap lingkungan, (2) fase eksponensial dimana bakteri tumbuh dengan cepat
dan membutuhkan banyak nutrisi dan energi, (3) fase stasioner dimana
perbanyakan sel berhenti, dan (4) fase kematian yang ditunjukkan dengan
penurunan jumlah sel yang aktif.
Secara umum isolat ICBB 8818 menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik,
diikuti dengan isolat ICBB 8815 dan ICBB 8816. Pola pertumbuhan ketiga isolat
menunjukkan pola yang hampir sama. Pada awal pertumbuhannya, ketiga isolat
tidak menunjukkan perbedaan, tetapi pada hari ke 10 dimana pertumbuhan bakteri
memasuki fase eksponensial, ketiga isolat menunjukkan laju pertumbuhan yang
berbeda. Ketiga isolat yang diuji menunjukkan pertumbuhan eksponensial antara
hari ke 10 – 20 setelah inkubasi, sedang fase stasionari terjadi antara hari ke 20 –
30 setelah inkubasi. Pada puncak pertumbuhannya, yakni pada hari ke 25,
kerapatan optik tertinggi adalah 0,77; 0,72 dan 0,79 berturut-turut untuk isolat
Kerapatan Optik (Abs 620 nm)

0,8

0,6

0,4

0,2

0
5 10 15 20 25 30 35

Waktu (hari ke)

ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Gambar 21. Pola pertumbuhan tiga isolat bakteri pereduksi sulfat pada reaktor
bakteri pereduksi sulfat tersuspensi
66

ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818. Populasi bakteri mulai menurun setelah
25 hari. Pada akhir percobaan, 35 hari setelah inkubasi, kerapatan optik hanya
berkisar antara 0,29 dan 0,34. Dari data tersebut terlihat bahwa fase kematian
bakteri mulai terjadi 30 hari setelah inkubasi.

4.3.3. Kemampuan Isolat Bakteri Mereduksi Sulfat dan Logam Terlarut


pada Reaktor Bakteri Pereduksi Sulfat Tersuspensi
Penurunan konsentrasi sulfat limbah air asam tambang pada reaktor bakteri
pereduksi sulfat ditampilkan pada Gambar 22. Efisiensi reduksi sulfat untuk
isolat ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICBB 8818 berturut-turut adalah 89,60%,
88,21% dan 90,44%. Efisiensi reduksi sulfat tersebut terjadi dalam waktu
inkubasi 30 hari.
Pada awal inkubasi, proses reduksi sulfat berjalan lambat. Proses reduksi
sulfat berjalan cepat pada inkubasi hari ke 5 sampai 20, kemudian melandai pada
hari ke 20 – 30. Kecepatan laju reduksi ini sejalan dengan perkembangan
populasi bakteri. Populasi bakteri berkembang dengan cepat pada hari ke 10-20,
seperti terlihat pada grafik kerapatan optik (Gambar 21). Pada saat populasi
bakteri berkembang dengan cepat, jumlah sulfat yang tereduksi semakin tinggi.

1000
Kandungan Sulfat (mg/L)

800

600

400

200

0
0 5 10 15 20 25 30

Waktu (hari ke)

ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Gambar 22. Penurunan konsentrasi sulfat pada limbah air asam tambang pada
reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi
67

Pada 20 hari setelah inkubasi, perkembangan bakteri memasuki fase stasionari


dimana perkembangan sel mulai terhenti. Kondisi ini menyebabkan jumlah sulfat
yang tereduksi sedikit.
Penurunan sulfat tersebut diikuti dengan peningkatan sulfida (Gambar 23).
Peningkatan sulfida sejalan dengan penurunan sulfat. Pembentukan sulfida mulai
terukur setelah hari ke 5, dan menujukkan peningkatan yang nyata antara hari ke
10 dan 20 saat pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat berada pada fase
eksponensial. Penurunan kandungan sulfat dan peningkatan sulfida menyebabkan
pH limbah meningkat. Pada akhir percobaan, pH limbah mencapai 7, seperti yang
ditampilkan pada Gambar 24.

300
Kandungan Sulfida (mg/L)

200

100

0
0 5 10 15 20 25 30

Waktu (hari ke)

ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Gambar 23. Peningkatan sulfida yang terbentuk pada reaktor bakteri pereduksi
sulfat tersuspensi

Reaktor bakteri pereduksi sulfat juga mampu menurunkan logam terlarut


secara signifikan (Gambar 25). Logam tersebut bereaksi dengan S2- membentuk
logam sulfida yang tidak larut, seperti reaksi berikut:
M2+ + S2- à MS
Pada penelitian ini logam terlarut yang diukur adalah Fe dan Mn karena
berdasarkan hasil analisa limbah air asam tambang, konsentrasi yang terlarut
kedua logam ini cukup tinggi, yakni 6,99-7,22 mg/L dan 11,31-11,77 mg/L. Pada
akhir inkubasi selama 30 hari, total terlarut dari kedua logam ini adalah 0,15-0,17
68

6
pH

0
0 5 10 15 20 25 30

Waktu (hari ke)

ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Gambar 24. Peningkatan pH limbah air asam tambang pada reaktor bakteri
pereduksi sulfat tersuspensi

mg/L dan 0,23-0,28 mg/L, masing- masing untuk Fe dan Mn. Logam tersebut
bereaksi dengan S2- membentuk logam sulfida yang tidak larut (mengendap).
Hasil ini memperlihatkan bahwa penggunaan reaktor bakteri pereduksi sulfat
tersuspensi secara nyata mampu mengurangi kandungan sulfat dan logam terlarut
dalam limbah air asam tambang dengan tingkat efisiensi antara 88-90%, dan
reduksi logam terlarut sekitar 97%, serta mampu meningkatkan pH dari sekitar 3
menjadi 7. Namun demikian, untuk mendapatkan tingkat efisiensi tersebut
diperlukan waktu yang cukup lama, yakni sekitar 30 hari. Bahkan untuk
memperoleh kandungan sulfat yang diperbolehkan (400 mg SO4 2-/L) diperlukan
waktu lebih dari 21 hari. Hal ini dianggap terlalu lama untuk pengolahan limbah
di lapang. Disamping itu, dengan sistem sel bakteri tersuspensi, masih ada
kemungkinan terjadinya bakteri yang terbuang (wash out) ke lingkungan bersama-
sama dengan pembuangan air limbah. Oleh karena itu, untuk mempertahankan
jumlah populasi bakteri yang optimum, diperlukan penambahan bakteri ke dalam
reaktor.
69

12

Konsentrasi (mg/L)
9

0
ICBB 8815 ICBB 8816 ICBB 8818

Isolat

Mn Awal Mn Akhir Fe Awal Fe Akhir

Gambar 25. Penurunan konsentrasi Fe dan Mn terlarut limbah air asam tambang
pada reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

4.4. Pengolahan Air Asam Tambang dengan Reaktor Biofilm Bakteri


Pereduksi Sulfat
4.4.1. Rancangan Reaktor
Pembuatan rancangan reaktor biofilm yang menggunakan jerami padi
sebagai sumber karbon organik dan batu vulkan sebagai media pelekatan bakteri
didasarkan pada hasil penelitian pendahuluan yang memperlihatkan bahwa jerami
padi tidak dapat dipergunakan sebagai media pelekatan media. Setelah dilakukan
imobilisasi bakteri pereduksi sulfat dengan cara membiarkan reaktor dalam
kondisi anaerob selama 14 hari, reaktor tidak mampu menurunkan kandungan
sulfat dalam air asam tambang. Hasil ini membuktikan bakteri pereduksi sulfat
tidak dapat tumbuh melekat pada jerami padi. Hal ini sejalan dengan temuan
Tampion dan Tampion (1987). Tampion dan Tampion (1987) mengemukakan
bahwa bahan organik yang dapat dipergunakan sebagai media tumbuh biofilm
harus tidak mudah dirombak oleh mikrob, banyak mengandung selulose, dan
banyak berpori. Oleh karena itu pada percobaan ini digunakan batu vulkan
sebagai media tumbuh biofilm bakteri pereduksi sulfat. Berdasarkan hasil
beberapa penelitian (Benedict et al., 1998; Basu dan Baldwin, 2000) menunjukkan
70

bahwa batu vulkan merupakan media yang cukup sesuai untuk pelekatan dan
pertumbuhan biofilm bakteri.

4.4.2. Pertumbuhan Biofilm Bakteri


Media yang dipergunakan untuk pelekatan dan pertumbuhan biofilm bakteri
pereduksi sulfat adalah batu vulkan. Batu vulkan mempunyai permukaan yang
kasar dan banyak berongga, sehingga dapat mempermudah proses pelekatan
bakteri dan pertumbuhan biofilm. Gambar 26[a] merupakan penampakan
permukaan batu vulkan tanpa penambahan bakteri.
Secara alami bakteri akan menempel pada permukaan yang kasar dan
tumbuh membentuk biofilm. Proses awal penempelan bakteri pada permukaan
batu vulkan terjadi karena adanya pergerakan bakteri mendekati permukaan batu
vulkan, dan kemudian terjadi proses penjerapan. Bakteri tersebut selanjutnya
menempel pada permukaan batu dan mengalami kolonisasi. Penempelan tersebut
terjadi karena bakteri menghasilkan bahan polimer (extracellular polymeric
substrate - EPS). Bahan polimer tersebut merupakan komponen utama biofilm
(50-90%), yang terdiri dari campuran senyawa karbon organik antar lain
polisakarida, mucopolisakarida dan protein yang diproduksi oleh bakteri (Bridge
et al., 1999). Pembentukan EPS memperkokoh pelekatan bakteri pada permukaan
batu vulkan sehingga dapat menjaga stabilitas populasi dalam reaktor.
Penampakan visual pertumbuhan bakteri dalam bentuk biofilm diamati dengan
metode Scanning Electron Microscopy (SEM).
Hasil pengamatan pertumbuhan bakteri terimobilisasi menggunakan metode
SEM ditampilkan pada Gambar 26. Pada Gambar 26[a] yang merupakan
permukaan batu vulkan yang tidak diperlakukan tidak terlihat adanya bakteri
pereduksi sulfat yang tumbuh. Hasil serupa juga terlihat pada perlakuan kontrol
(tanpa penambahan kultur bakteri), tidak ada pertumbuhan bakteri terimobilisasi
pada permukaan batu vulkan (Gambar 26[b]). Hal ini membuktikan bahwa tidak
ada bakteri pereduksi sulfat yang tumbuh di jerami padi. Pada perlakuan
penambahan kultur bakteri, bakteri pereduksi sulfat isolat ICBB 8815 dan ICBB
8818 tumbuh terimbolisasi dengan baik pada permukaan batu vulkan, seperti yang
terlihat pada Gambar 26[c] dan 26[d]. Secara visual terlihat bahwa populasi isolat
71

[a] [b]

[c] [d]

Gambar 26. Foto permukaan batu vulkan hasil pengamatan dengan scanning
electron microscopy perbesaran 10.000x. (a) Permukaan batu
vulkan tanpa perlakuan (blanko), (b) Perlakuan jerami padi, (c)
Perlakuan jerami padi dan ICBB 8815, dan (d) Perlakuan jerami
padi dan ICBB 8818. Lingkaran dan tanda panah menunjukkan
bakteri pereduksi sulfat yang tumbuh menempel pada permukaan
batu vulkan

ICBB 8818 lebih tinggi dibandingkan dengan ICBB 8815. Hasil


perhitungan populasi dengan metode total plate count juga memperlihatkan
bahwa populasi isolat ICBB 8818 lebih tinggi dibandingkan dengan ICBB
8815, seperti ditampilkan pada Tabel 16. Jumlah koloni bakteri pereduksi
sulfat yang tumbuh pada permukaan batu vulkan adalah 1,6-4,1 x 109 cfu/g untuk
isolat ICBB 8815 dan 2,1-7,6 x 109 cfu/g untuk isolat ICBB 8818.
72

Tabel 16. Jumlah koloni bakteri pereduksi sulfat terimobil pada batu vulkan
No. Isolat Batu Jumlah koloni terhitung Jumlah koloni
vulkan (g) (cfu/g)
Petri 1 Petri 2 Petri 3

1 Blanko 25 - - - -
2. Kontrol 25 - - - -
3. ICBB 8815 25 40x109 103x109 52x109 1,6-4,1 x 109
4. ICBB 8818 25 53x109 190x109 153x109 2,1-7,6 x 109

Berdasarkan perhitungan populasi tersebut, dengan volume limbah air asam


tambang sebanyak 3000 mL dan jumlah batu vulkan yang dipergunakan adalah
4000 g, maka diperkirakan jumlah total bakteri yang ada di reaktor adalah 6,4 –
30,4 x 1012 cfu, atau sekitar 2,1 - 10,1 x 109 cfu/mL limbah. Populasi tersebut
diperoleh 14 hari setelah masa inkubasi. Hal serupa juga diperoleh oleh Kuo dan
Shu (2004), dimana populasi bakteri pereduksi sulfat pada kondisi terimobilisasi
mencapai 109 cfu/mL pada masa inkubasi 15 hari. Dengan populasi tersebut
dianggap cukup memadai untuk mereduksi sulfat dengan tingkat efisiensi 70-
98%.

4.4.3. Efisiensi Reduksi Sulfat pada Reaktor Biofilm Bakteri Pereduksi


Sulfat
Gambar 27 memperlihatkan penurunan konsentrasi sulfat dalam limbah air
asam tambang dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat. Konsentrasi sulfat
dalam larutan mengalami penurunan cepat 24 jam pertama. Pada 24 jam pertama,
konsentrasi sulfat dalam limbah air asam tambang sebesar 577,54 mg/L dan
554,62 mg/L, masing- masing untuk isolat ICBB 8815 dan ICBB 8818. Pada
waktu pengamatan 144 jam, konsentrasi sulfat yang tertinggal dalam limbah air
asam tambang adalah 211,32 mg/L dan 182,45 mg/L, masing- masing untuk isolat
ICBB 8815 dan ICBB 8818, atau dengan tingkat efisiensi sebesar 77,72% dan
80,76%.
Perbedaan efisiensi reduksi sulfat dari kedua isolat tersebut berkaitan dengan
kemampuan isolat untuk melekat dan tumbuh dalam bentuk biofilm. Hasil analisa
SEM dan perhitungan populasi bakteri (Gambar 26 dan Tabel 16) memperlihatkan
73

bahwa isolat ICBB 8818 mampu tumbuh pada kondisi biofilm dengan populasi
lebih tinggi dibandingkan dengan isolat ICBB 8815. Perbedaan populasi tersebut
secara langsung akan mempengaruhi kemampuan bakteri dalam mereduksi sulfat.
Pengolahan limbah air asam tambang dengan menggunakan reaktor bakteri
pereduksi sulfat yang terimobilisasi menghasilkan efisiensi penurunan sulfat lebih
tinggi dibandingkan dengan reaktor bakteri tersuspensi. Efisiensi reduksi sulfat
sebsar 77,72-80,76% pada reaktor bakteri terimobilisasi diperoleh pada waktu
tinggal 6 hari. Pada reaktor bakteri tersuspensi, tingkat efisiensi reduksi sulfat
tersebut dicapai pada hari ke 21 (Gambar 22). Hal ini disebabkan dengan
melekatnya bakteri pada permukaan batu, membentuk struktur dan lingkungan
mikro yang menguntungkan untuk mempertahankan kehidupan sel bakteri.
Penempelan sel bakteri pada batu vulkan meningkatkan jumlah sel bakteri per
volume tertentu, sehingga meningkatkan efisiensi reduksi sulfat.
Disamping itu, dalam kondisi terimobilisasi sel bakteri lebih toleran
terhadap bahan beracun (toksik) konsentrasi tinggi dari pada kondisi tersuspensi.
Dalam proses reduksi sulfat dihasilkan sulfida, dimana senyawa ini bersifat racun
terhadap sel bakteri pereduksi sulfat. Hal ini dapat dilihat dari proses reduksi
sulfat yang terus terjadi pada konsentrasi sulfida yang terus meningkat.
Penurunan konsentrasi sulfat diikuti dengan peningkatan konsentrasi sulfida
dalam limbah air asam tambang (Gambar 27). Dalam proses reduksi sulfat,
sulfida yang terbentuk kemungkinan dapat bereaksi dengan logam dan mengendap
dalam reaktor, sebagian menguap dalam bentuk gas. Oleh karena itu, total sulfida
yang teruk ur adalah sulfida yang terlarut dalam limbah air asam tambang. Dari
hasil pengukuran tersebut diperoleh bahwa pada akhir pengamatan (144 jam),
total sulfida yang terbentuk adalah 251,89 mg/L dan 243,33 mg/L, masing- masing
untuk isolat ICBB 8818 dan ICBB 8815.
Penggunaan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat mampu meningkatkan
pH air limbah dari sekitar 3,05 me njadi pH 7 (Gambar 28). Kenaikan pH menjadi
lebih dari 6 dicapai dengan waktu tinggal 2 jam. Kenaikan pH tersebut juga
terjadi pada perlakuan kontrol tanpa inokulasi bakteri pereduksi sulfat.
Peningkatan yang sangat tajam ini kemungkinan bukan disebabkan oleh
penurunan sulfat, tetapi disebabkan oleh hasil penguraian lebih lanjut dari
74
ICBB 8818
1000

Konsentrasi (mg/L) 800

600

y = -143,15Ln(x) + 1004,2
2
R = 0,9619
400

y = 47,395Ln(x) - 19,512
2
R = 0,9592
200

0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (jam)

ICBB 8815
1000

800
Konsentrasi (mg/L)

600
y = -139,22Ln(x) + 1010,8
R 2 = 0,9635
400

y = 46,085Ln(x) - 22,026
2
200 R = 0,9623

0
0 20 40 60 80 100 120 140

Waktu (jam)

Sulfat Sulfida Sulfat Kontrol


Log. (Sulfat) Log. (Sulfida)

Gambar 27. Grafik penurunan konsentrasi sulfat dan produksi sulfida pada
reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat : ICBB 8818 (Atas) dan
ICBB 8815 (Bawah)
75
KONTROL
8
7

6
y = 0,3512Ln(x) + 5,3206
5 2
R = 0,3748
pH

4
3
2
1
0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (jam)

ICBB 8818
8
7

6
y = 0,4949Ln(x) + 4,9172
5 2
R = 0,6381
pH

4
3
2
1
0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (jam)

ICBB 8815
8
7

6
y = 0,4379Ln(x) + 5,2015
5 2
R = 0,5105
pH

4
3

2
1
0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (jam)

Gambar 28. Grafik kenaikan pH limbah air asam tambang pada reaktor biofilm
bakteri pereduksi sulfat : Kontrol (Atas), ICBB 8818 (Tengah),
ICBB 8815 (Bawah)
76

senyawa organik yang terbentuk hasil fermentasi jerami padi. Pada kondisi
anaerob jerami padi mengalami fermentasi membentuk senyawa organik, seperti
asam laktat, asam asetat, alkohol dan gliserol. Hasil penelitian Wang et al. (2008)
dan Mostafa et al. (2001) membutikan bahwa jerami padi mengalami fermentasi
menghasilkan berbagai macam senyawa organik, termasuk diantaranya adalah
etanol, asam asetat, asam laktat dan gliserol. Hasil serupa juga ditunjukkan dari
penelitian Kumari et al. (2008), dimana pengamatan pada akhir percobaan
menunjukkan pH larutan tabil pada kondisi alkalin.
Pembentukan senyawa organik ini dalam reaktor ditandai dengan
peningkatan COD limbah (Gambar 29). Parameter COD (Chemical Oxygen
Demand) menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan organik secara kimiawi menjadi CO2 dan H2 O. Makin tinggi
senyawa organik yang terbentuk, makin tinggi COD limbah. COD limbah air
asam tambang adalah 15,13 mg/L, dan mengalami peningkatan dengan
meningkatnya waktu tinggal. COD pada waktu tinggal 144 jam adalah 280,00
mg/L. Nilai COD tersebut masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan,
sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-
51/MENLH/10/1995.

300

250
y = 43,435Ln(x) + 66,167
COD (mg/L)

200
R2 = 0,8782
150

100

50

0
0 20 40 60 80 100 120 140

Waktu (jam)

Gambar 29. Grafik peningkatan COD limbah air asam tambang pada reaktor
biofilm bakteri pereduksi sulfat
77

Kandungan logam terlarut pada limbah air asam tambang menurun dengan
peningkatan waktu tinggal dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat (Gambar
30). Dengan waktu tinggal 144 jam, logam Mn dan Fe terlarut mengalami
penurunan masing- masing sebesar 88,70% dan 69,70%. Logam tersebut bereaksi
dengan ion sulfida membentuk logam sulfida yang tidak larut. Reaksi dan
pengendapan logam sulfida tersebut ditentukan oleh konstanta kelarutan (KSp)
masing- masing senyawa, makin rendah nilai KSp makin cepat senyawa tersebut

mengendap. Senyawa FeS dan MnS berkeseimbangan dalam larutan mengikuti


reaksi :

FeS (s) ? Fe2+ + S2- KSp = 3,7 x 10-19


MnS (s) ? Mn2+ + S2- KSp = 10-22

Pada kondisi homogen, MnS akan mengendap lebih cepat sebelum FeS
mengendap. Namun demikian larutan dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi
sulfat bukan larutan homogen, sehingga proses pengendapan juga dipengaruhi
oleh faktor lain seperti transport massa, reaksi pengikatan oleh bahan organik,
atau pengikatan dengan bahan polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh bakteri.
Kondisi demikian menyebabkan Fe terlarut berkurang bersamaan dengan
penurunan kandungan Mn terlarut. Hal serupa terjadi pada pengendapan Pb dan
Fe dalam biofilm bakteri pereduksi sulfat seperti yang ditunjukkan oleh Beyenal
dan Lewandoski (2004).

Penurunan konsentrasi sulfat dalam reaktor ini mengikuti persamaan


logaritmik sebagai berikut: Y = - 143,15 Ln [X] + 1004,2 (R2 = 0,9619) untuk
isolat ICBB 8818 dan persamaan Y = - 139,22 Ln [X] + 1010,8 (R2 = 0,9635)
untuk isolat ICBB 8815, dimana Y adalah konsentrasi sulfat dan X adalah waktu
tinggal. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, batas maksimal
kandungan sulfat yang masih diperbolehkan adalah 400 mg/L. Pada percobaan ini,
konsentrasi sulfat awal dalam limbah air asam tambang adalah 925-950 mg/L.
Dengan menggunakan persamaan tersebut, untuk mendapatkan konsentrasi sulfat
sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut, maka waktu yang diperlukan untuk
78

ICBB 8818
12

Konsentrasi (mg/L)
8
y = -1,1235Ln(x) + 8,6606
R2 = 0,8039 y = -1,5173Ln(x) + 8,1233
R2 = 0,8363
4

0
0 20 40 60 80 100 120 140

Waktu (jam)

ICBB 8815
12
Konsentrasi (mg/L)

8
y = -1,0093Ln(x) + 8,4112
2
R = 0,798 y = -1,5627Ln(x) + 8,7256
2
R = 0,8848
4

0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (jam)

Mn Fe Log. (Mn) Log. (Fe)

Gambar 30. Grafik penurunan konsentrasi logam terlarut limbah air asam
tambang dengan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat: ICBB
8818 (Atas) dan ICBB 8815 (Bawah)

mengolah limbah air asam tambang adalah 80 jam untuk isolat ICBB 8815 dan 68
jam untuk isolat ICBB 8818.
Penurunan logam terlarut juga mengikuti persamaan logaritmik, seperti pada
Gambar 30. Konsentrasi awal Mn dan Fe terlarut dalam limbah air asam tambang
masing- masing adalah 11,31-11,77 mg/L dan 6,99-7,22 mg/L. Dengan
menggunakan persamaan logaritmik tersebut, dengan waktu pengolahan antara
79

68-80 jam, maka kandungan Mn dan Fe terlarut berkurang menjadi 1,72-1,88


mg/L dan 3,92-4,00 mg/L. Nilai tersebut di bawah ambang batas baku mutu
limbah bagi usaha kegiatan pertambangan batu bara. Menurut Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003, kandungan Mn terlarut dalam
limbah tidak lebih dari 4 mg/L dan kandungan Fe terlarut tidak lebih dari 7 mg/L.
Hasil percobaan ini membuktikan bahwa reaktor biofilm bakteri pereduksi
sulfat jauh lebih efisien dalam memperbaiki kualitas limbah air asam tambang
dibandingkan dengan reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi. Dengan reaktor
bakteri pereduksi sulfat tersuspensi dibutuhkan waktu sekitar 21 hari unt uk
menghasilkan mutu limbah yang sesuai dengan peraturan pemerintah dan aman
terhadap lingkungan. Sedangkan dengan menggunakan reaktor biofilm bakteri
pereduksi sulfat diperlukan waktu antara 68-80 jam, atau sekitar 3 hari.

4.4.4. Perkiraan Penggunaan Reaktor Biofilm di Lapang : Kasus PT Bukit


Asam
Hasil penelitian tingkat laboratorium ini dapat diaplikasikan ke lapang
melalui pendekatan peningkatan skala (scale up). Untuk aplikasi reaktor biofilm
bakteri pereduksi sulfat ke lapang, hal yang perlu diperhatikan dalam peningkatan
skala pada tingkat lapang antara lain adalah jumlah populasi bakteri dalam
biofilm, volume dan dimensi reaktor, dan waktu tinggal.
Pertambangan batu bara PT Bukit Asam merupakan pertambangan batu bara
terbesar di Indonesia. Pertambangan di wilayah ini dilakukan dengan pola
pertambangan terbuka, sehingga pembentukan air asam tambang terjadi tanpa
dapat dikendalikan. Untuk mengurangi dampak negatif dari limbah tersbut, saat
ini pengolahan air asam tambang dilakukan secara aktif dengan penambahan batu
kapur sebelum limbah tersebut ditampung pada kolam penampungan. Cara ini
membutuhkan biaya mahal karena penambahan bahan kapur harus dilakukan
secara terus menerus, dan membutuhkan kolam penampungan yang luas.
Disamping itu, hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa cara ini kurang
efektif dalam menurunkan pH limbah.
Dalam penerapan reaktor biofilm, volume reaktor tingkat lapang disesuaikan
volume limbah air asam tambang yang terbentuk di areal pertambangan pada
80

periode waktu tertentu. Pada areal pertambangan batu bara PT Bukit Asam tidak
ada data pasti berapa volume limbah yang terbentuk dalam periode waktu tertentu,
namun diperkirakan sekitar 3000 m3 air asam tambang terbentuk dalam waktu
satu bulan. Dengan volume limbah tersebut, ukuran reaktor biofilm bakteri
pereduksi sulfat yang sesuai adalah 300 m3 dengan dimensi panjang 100 m, lebar
3 m dan tinggi 2 m. Reaktor dirancang kondisi anaerob, sehingga rancangan yang
mudah adalah dibuat di bawah tanah dalam bentuk gorong-gorong (Gambar 31).
Dengan bentuk dan dimensi tersebut, diharapkan air limbah dapat mengalir lebih
merata sehingga meningkatkan waktu kontak dengan permukaan biofilm.

Jerami padi

Batu vulkan

Gambar 31. Sketsa rancangan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat untuk
pengolahan air asam tambang di lapang

Faktor lain yang menentukan efisiensi reduksi sulfat dalam reaktor adalah
populasi bakteri yang tumbuh dalam biofilm. Untuk mendapatkan jumlah
populasi yang diharapkan, reaktor yang telah diisi dengan jerami padi, batu vulkan
dan kultur murni bakteri pereduksi sulfat dibiarkan dalam kondisi anaerob selama
2 minggu atau lebih. Hasil penelitian skala laboratorium menunjukkan bahwa
dengan waktu tersebut populasi bakteri yang tumbuh cukup memadai untuk
mereduksi sulfat dengan tingkat efisiensi sekitar 80%.
Hal selanjutnya yang perlu diperhitungkan adalah waktu tinggal. Dari hasil
penelitian tingkat laboratorium diperoleh waktu tinggal 68-80 jam untuk
menurunkan konsentrasi sulfat sampai memenuhi baku mutu limbah air asam
tambang. Apabila menggunakan sistem curah (batch), pengolahan limbah air
asam tambang akan lebih mudah, yakni dengan membiarkan limbah dalam
81

kondisi anaerob selama 68-80 jam sebelum limbah tersebut dialirkan ke badan
sungai. Apabila menggunakan sistem aliran sinambung (continous flow), maka
diperlukan perhitungan lanjutan untuk menentukan laju alir. Dengan volume
reaktor 300 m3 dan waktu tinggal 68-80 jam, maka laju alir yang diperlukan
adalah 1,04-1,23 L/detik.
82

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Bakteri pereduksi sulfat yang berhasil diisolasi adalah kelompok bakteri


Desulfovibrio sp. Ada 15 isolat murni yang diisolasi, tetapi mempunyai
karakteristik yang berbeda, baik dalam kemampuan mereduksi sulfat
maupun dalam beradaptasi dengan kemasaman lingkungan. Empat isolat
bakteri pereduksi sulfat dianggap unggul dibandingkan isolat lainnya, yait u
ICBB 8813, ICBB 8815, ICBB 8816 dan ICB 8818.
2. Aktivitas bakteri dalam mereduksi sulfat sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan. Bakteri Desulfovibrio sp. dapat tumbuh dengan baik pada pH
5-7, dan mampu mereduksi sulfat dengan tingkat efisiensi 82-90%.
Kebutuhan laktat sebagai sumber organik untuk aktivitas bakteri dapat
dipenuhi dari bahan organik yang mudah terlapuk.
3. Penggunaan reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi mampu
memperbaiki mutu limbah air asam tambang. Dalam waktu 30 hari
kandungan sulfat awal sebesar 925-950 mg/L dapat direduksi 89%,
kandungan logam terlarut berkurang 97% dan pH meningkat menjadi 7.
Untuk menghasilkan mutu limbah air asam tambang sesuai dengan peraturan
pemerintah diperlukan waktu sekitar 21 hari.
4. Pengolahan limbah air asam tambang menggunakan reaktor biofilm bakteri
pereduksi sulfat lebih efisien dibandingkan dengan reaktor bakteri pereduksi
sulfat tersuspensi. Dengan kandungan sulfat awal 925-950 mg/L,
pengolahan limbah dengan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat selama
144 jam mampu menurunkan kandungan sulfat dengan tingkat efisiensi
77,16%; Mn terlarut 88,72% dan Fe terlarut 69,72%. Untuk menghasilkan
mutu limbah air asam tambang sesuai dengan peraturan pemerintah
diperlukan waktu sekitar 68-80 jam.

5.2. SARAN

1. Penggunaan reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat dalam mengolah limbah


air asam tambang ini masih dalam skala laboratotium. Oleh karena itu perlu
83
dilakukan penelitian skala lapang untuk melihat dan memperbaiki efisiensi
reduksi sulfat.
2. Perlu dilakukan penelitian penggunaan bahan organik lain untuk
mendapatkan teknik pengolahan dengan reaktor yang lebih efektif dan
efisien.
84

VI. DAFTAR PUSTAKA

Adams, V.G. 1990. Water and Wastewater Examination Method. Lewis


Publishers. p.153-154.
Antongiovanni, M. and C. Sargentini. 1991. Variability in chemical composition
of straws. Options Mediterranennes. Serie Seminaires No. 16:49-53.
Atlas, R.M. 1993. Handbook of Microbiological Media. Third Edition. CRC
Press Inc. Boca Raton, Florida.
Aube, B.C. and S. Payant. 1997. The Geo process: a new high density sludge
treatment for acid mine drainage. Proc. of the Fourth International
Conference on Acid Rock Drainage, May 30-June 6, 1997. Vancouver
BC. Vol 1. p.165-180.
Barathi, P.A.L., V. Sathe and D. Chandramohan. 1990. Effect of lead, mercury
and cadminum on sulphate-reducing bacteria. Envi. Pollut. 67:361-374.
Basu, O. and S.A. Baldwin. 2000. Attachment and growth of sulphate-reducing
bacteria on different support materials. Envi. Techn. 21: 1293-1300
Bayoumy, E.L., A. Mahmoud, J.K. Bewtra, H.I. Ali and N. Biswas. 1999.
Sulfide production by sulfate reducing bacteria with lactate as feed in an
upflow anaerobic fixed film reactor. Water, Air and Soil Pollut. 112:85-
106.
Benedict, S.W., T. Ahmed and K. Jahan. 1998. Autotrophic denitrification using
hydrogen oxidizing bacteria in continuous flow biofilm reactor. Toxicol.
Envi. Chem. 67:197-214.
Beyenal, H. And Z. Lewandowski. 2004. Dynamics of lead immobilization in
sulfate reducing biofilms. Water Res. 38:2726-2736.
Black, J.G. 2005. Microbiology. Principles and Explorations. Sixth Edition.
John Wiley and Sons, Inc. p.150.
Bractova, S., S. Groudev and P. Georgiev. 2002. The effect of some essential
environmental factors on microbial dissimilatory sulphate reduction.
Annual of the University of Mining and Geology St Ivan Ritski, Vol 44-
45, Part II, Mining and Mineral Processing. pp. 123-127.
Bridge, T.A., C. White and G.M. Gadd. 1999. Extracellular metal-binding
activity of the sulphate-reducing bacterium Desulfococcus multivorans.
Microbiol. 145:2987-2995.
Chen, C.L., R.F. Mueller, and T. Griebe. 1994. Kinetic analysis of microbial
sulphate reduction by Desulfovibrio desulfuricans in an up flow porous
media biofilm reactor. Biotech. and Bioengin, 43:257-274.
Cohen, R.R.H. 2005. Use microbes for cost reduction of metal removal from
metals and mining industry waste streams. J. Cleaner Prod. 5:1-2.
Colleran, E., S. Finnegan and P. Lens. 1995. Anaerobic treatment of sulphate-
containing waste streams. Antonie van Leeuwenhoek 67:29-46
85
Collins, B., J.V. McArthur and R.R. Sharitz. 2004. Plant effects on microbial
assemblages and remediation of acidic coal pile runoff in mesocosm
treatment wetlands. Ecol. Engin. 23 :107-115.
Cordas, C.M., L.T. Guerra, C. Xavier and J.J.G. Moura. 2008. Electroactive
biofilms of sulphate reducing bacteria. www.elsevier.com/locate/electacta
Cord-Ruwisch, R., B. Ollivier and Garcia, J.L. 1986. Fructose degradation by
Desulfovibrio sp. in pure culture and in coculture with Methanospirillum
hungatei. Current Microbiol. 13 : 285-289.
Coulton R., C. Bullen, C. Hallet, J. Wright and C. Marsden. 2003. Wheal Jane
mine water active treatment plant-design, construction and operation.
Land Contam. Reclam. 11:245-252.
Cypionka, H., F. Widdel and N. Pfenning. 1985. Survival of sulfate-reducing
bacteria after oxygen stress, and growth in sulfate-free oxygen sulfide
gradients. FEMS Microbiol. Ecol. 31:39-45.
Czechowski, M.H. and H.W. Rossmoore. 1990. Purification and partial
characterization of a D(-)-lactate dehydrogenase from Desulfovibrio
desulfuricans (ATCC 7757). J. Indust. Microb. 6: 117-122.
Detmers, J., V. Bruchert, K.S. Habicht and J. Kuever. 2001. Diversity of sulfur
isotope fractionations by sulfate reducing Prokaryotes. Appl. Envi.
Microb. 67: 888-894.
Dhillon A., A. Teske, J. Dillon, A.D. Stahl and L.M. Sogin. 2003. Molecular
characterization of sulfate-reducing bacteria in the Guayamas Basin.
Appl. Envi. Microb. 69:2765-2772.
Di Lorenzo, A., M. Varcamonti, P. Parascandola, R. Vignola, A. Bernardi, P.
Sacceddu, R. Sisto and E de Alteriis. 2005. Characterization and
performance of a toluene-degrading biofilm developed on pumice stones.
Microb. Cell Fact. 4: 4-10
Dolla, A., M. Fournier and Z. Dermoun. 2006. Oxygen defense in sulfate
reducing bacteria. J. Biotech. 126: 87-100.
Donian, R.M. 2002. Biofilms: Microbial life on surfaces. Emerging Infectious
Diseases 8:881-890.
Downing, B.W. 2002. Acid rock generation/drainage in mineral deposit
throughout time. www.Enviromine.com
Durkin, T.V. and J.G. Herrmann. 1994. Focusing on the problem of mining
wastes: An introduction to acid mine drainage. EPA Seminar Publication
no. EPA/625/R-95/007.
Elliott, P., S. Ragusa and D. Catcheside. 1998. Growth of sulfate-reducing
bacteria under acidic conditions in and upflow anaerobic bioreactor as a
treatment system for acid mine drainage. Water Res. 32:3724-3730.
Elshahed S.M. and J.M. McInerney. 2001. Is interspecies hydrogen transfer
needed for toluene degradation under sulfate-reducing conditions?. FEMS
Microb. Ecol. 35:163-169.
86
Fournier, M., C. Aubert, Z. Dermoun, M. Durand, D. Moinier and A. Dolla.
2006. Response of the anaerobe Desulfovibrio vulgaris Hildenborough to
oxidative conditions: Proteome and transcript analysis. Biochimie 88: 85-
94.
Fournier, M., Y. Zhang, J.D. Wildschut, A. Dolla, J.K. Voordouw, D.C.
Schriemer and G. Voordouw. 2003. Function of oxygen resistance
proteins in the anaerobic sulfate-reducing bacterium Desulfovibrio
vulgaris Hildenborough. J. Bacteriol. 185:71-79.
Fowler, T.A. and F.K. Crundwell. 1998. Leaching of zinc sulfide by
Thiobacillus ferrooxidans: Experiments with a controlled redox potential
indicate no direct bacterial mechanism. Appl. Envi. Microbiol. 64: 3570-
3575.
Fowler, T.A., P.R. Holmes and F.K. Crundwell. 1999. Mechanism of pyrite
dissolution in the presence of Thiobacillus ferrooxidans. Appl. Envi.
Microbiol. 65: 2987-2993.
Garland, P.B. 1977. Energy transduction in microbial systems. Symp. Soc. Gen.
Microbiol. 27:1.
Glombitza, F. 2001. Treatment of acid lignite mine flooding water by means of
microbial sulfate reduction. Waste Mana g., 21: 197-203.
Gotoh, S. and Y. Onikura. 1971. Organic acids in a flooded soil receiving added
rice straw and their effect on the growth of rice. Japan. Soc. Soil Sci. and
Plant Nut. 17: 1-8
Greenberg, A.E., L.S. Clesceri, A.D. Eaton, and M.A.H. Franson. 1992. Ion and
sulfur bacteria. In Standard Methods for Examination of Water and
Wastewater (18th ). Am. Public Health Association, Washington DC.
Hansen, T.A. 1988. Physiology of sulphate reducing bacteria. Microbiol. Sci.
5:81-94.
Harms, G., K. Zengler, R. Rabus, F. Aeckersberg, D. Minz, R. Rossello-Mora and
F. Widdel. 1999. Anaerobic oxidation of o-xylene, m- xylene and
homologous alkylbenzenes by new types of sulfate-reducing bacteria.
Appl. Envi. Microbiol. 65:999-1004.
Haug, R.T. 1993. The Practical Handbook of Compost Engineering. Lewis
Publisher, Boca Raton, Fl. 717pp.
Hockin, S.L. and G.M. Gadd. 2003. Linked redox precipitation of sulfur and
selenium under anaerobic conditions of sulfate-reducing bacterial biofilms.
Appl. Envi. Microbiol. 60: 7063-7072.
Hoehler, T.M., M.J. Alperin, D.B. Albert and C.S. Martens. 2001. Apparent
minimum free energy requirements for methanogenic Archaea and sulfate-
reducing bacteria in an anoxic marine sediment. FEMS Microbiol. Ecol.
38 : 33-41.
Holmer, M and P. Storkholm. 2001. Sulphate reduction and sulphur cycling in
lake sediments: a review. Freshwater Biol. 46:431-451
87
Holt, J.G., N.R. Krieg, P.H.A. Sneath, J.T. Staley and S.T. Williams. 1994.
Bergey’s manual of Determinative Bacteriology. Williams and Wilkins.
Baltimore, USA.
Hossner, L.R. and J.J. Doolittle. 2003. Iron sulfide oxidation as influenced by
calcium carbonate application. J. Envi. Qual. 32:773-780.
Hrenovic, J., D. Tibijas, Y. Orhan and H. Buyukgungor. 2005. Immobilization of
Acinetobacter calcoaceticus using natural carriers. Tawrre SA Vol.
31:261-266.
Icgen, B. and S. Harrison. 2006. Identification of population dynamics in sulfate-
reducing consortia on exposure to sulfate. Res. Microbiol. 157 : 922-927.
Ingledew, W.J. 1990. Acidophiles (Chapter 2). In C. Edwards (Ed).
Microbiology of Extreme Environments. Open University Press, Milton
Keynes. 33-54.
Ionata, E., P. De Blasio and F. La Cara. 2005. Microbiological degradation of
pentane by immobilized cells of Arthrobacter sp. Biodegrad. 16:1-9.
Johnson, D.B. 2003. Chemical and microbiological characteristics of mineral
spoils and drainage waters at abandoned coal and metal mines. Water Air
Soil Pollut. Focus 2003; 3: 47-66.
Johnson, D.B. and K.B. Hallberg. 2005. Acid mine drainage remediation
options: a review. Science of the Total Environment 338: 3-14.
www.elsevier.com/locate/scitotenv
Johnson, D.B., M.A. Ghauri and S. McGinness. 1993. Biogeochemical cycling
of iron and sulphur in leaching environments. FEMS Microbiol. Rev.
11:63-70.
Jong, T. and D.L. Parry. 2003. Removal of sulfate and heavy metals by sulfate
reducing bacteria in short-term bench scale upflow anaerobic packed bed
reactor runs. Water Res. 35:3379-3389.
Jorgensen, B.B. 1982. Mineralization of organic matter in sea bed: the role of
sulphate reduction. Nature 296:643-645.
Kleikemper, J., M.H. Schroth, W.V. Siegler, M. Schmucki, S.M. Bernasconi and
J. Zeyer. 2002. Activity and diversity of sulfate-reducing bacteria in a
petroleum hydrocarbon-contaminated aquifer. Appl. Envi. Microb. 68:
1516-1523.
Kleinmann, R.L.P., R.S. Hedin and R.W. Naim. 1998. Treatment of acid mine
drainage by anoxic limestone drains and constructed wetlands. In Geller
A., H. Klepper and W. Salomons. (Eds) Acidic Mine Lakes: Acid Mine
Drainage, Limnology and Reclamation. Berlin: Springer p. 3303-3319.
Kolmert, A. dan D.B. Johnson. 2001. Remediation of acid waste waters using
immobilised, acidophillic sulphate-reducing bacteria. J. Chem. Tech.
Biotech. 76:836-843.
88
Kumari, A. , K.K. Kapoor, B.S. Kundu, and R.K. Mehta. 2008. Identification of
organic acids produced during rice straw decomposition and their role in
rock phosphate solubilization. Plant Soil Environ., 54: 72–77
Kuo, W. and T. Shu. 2004. Biological pre-treatment of wastewater containing
sulfate using anaerobic immobilized cell. J. Hazard. Mat. B113: 147-155.
Leduc, L.G. and Ferroni, G.D. 1994. The chemolithotrophic bacterium
Thiobacillus ferrooxidans. FEMS Microb. Rev. 14: 103-120.
Lens, P.N.L., A. Visser, A.J.H. Jansen, L.W. Hulshoff-Pol, and G. Lettiga. 1998.
Biotechnological treatment of organic sulphate-rich wastewaters. Critical
Rev. Envi. Sci. Technol. 28:41-88.
Liamleam, W. and A.P. Annachhatre. 2007. Electron donors for biological
sulfate reduction. Biotech. Adv. 25 : 452-463.
Lizama, H.M. and I. Suzuki. 1989. Rate equations and kinetic parameters of the
reaction involved in pyrite oxidation by Thiobacillus ferrooxidans. Appl.
and Envi. Microbiol. 55:2918-2923.
Lizama, H.M. and I. Suzuki. 1987. Bacterial leaching of sulfide ore by
Thiobacillus ferrooxidans and T. thiooxidans. Shake flask studies.
Biotech. Bioengin. V:110-116
Marshal, K.C. 1998. Colonization, adhesion, and biofilm. In C.J. Hurst (Eds).
Manual of Environmental Microbiology. ASM Press, Washington D.C.
358-365.
Masak, J., A. Cejkova, M. Siglova, D. Kotrba, V. Jirku and P. Hron. 2003.
Biofilm formation : A tool increasing biodegradation activity. Dept. of
Fermentation Chemistry and Bioengineering, Institute of Chemical
Technology, Prague, Czech Republic.
Matias, P.M., I.A.C. Pereira, C.M. Soares, and M.A. Carrondo. 2005. Sulphate
respiration from hydrogen in Desulfovibrio bacteria: a structural biology
review. Prog. Biophyis. Molec. Biol. 89:292-329.
McCrady, E. 1991. The Nature of lignin. Alkaline Paper Advocate, Vol. 4, No.
4. http://cool-palimpsest.stanford.edu/byorg/abbey/ap/ap04/ap04-4/ap04-
402.html
Mitchell, P. 1961. Coupling of phosphorylation to electron and hydrogen transfer
by a chemiosmotic type of mechanism. Nature 191:144.
Moodie, A.D and W.J. Ingledew. 1991. Microbial anaerobic respiration. In Rose,
A.H and D.W. Tempest (Eds). Advances in Microbial Physiology. Vol.
31. Academic Press Limited
Moosa, S., M. Nemati and S.T.L. Harrison. 2002. A kinetic study on aerobic
reduction of sulphate. Part I: Effect of sulphate concentration. Chem.
Engin. Sci. 57:2773-2780.
Morash, B., E.J. Anweiler, R.J. Warthmann and R.U. Meckenstock. 2001. The
use of solid adsorber resin for enrichment of bacteria with toxic substrates
89
and to identify metabolites: Degradation of naphthalene, o-, and m-xylene
by sulfate-reducing bacteria. J. Microbiol. Methods. 44:183-191.
Mostafa, Y.S., A. Laszio and F.I. El- hawary. 2001. Cellulase production and
conversion of rice straw to lactic acid by simultaneous saccharification and
fermentation. Acta Alimentaria. 30: 281-295.
Nakagawa, T., S. Sato Y. Yamamoto and M. Fukui. 2002. Successive changes in
community structure of an ethylbenzene-degrading sulfate-reducing
consortium. Water Res. 36:2813-2823.
Naveke, R. 1986. Bacterial leaching of ores and other materials. Institut für
Mikrobiologie, Technische Universität, Braunschweig, Germany.
Nielsen, R.K., T. Torsvik and T. Lien. 1996. Desulfotomaculum
thermocisternum sp. nov., a sulfate reducer isolated from a hot North Sea
oil reservoir. Intern. J. System. Bacteriol. 46:397-402.
Odom J.M. and H.D. Peck Jr. 1981. Hydrogen cycling as a general mechanism
for energy coupling in the sulfate-reducing bacteria, Desulfovibrio sp.
FEMS Microbiol. Let. 12:47-50.
O’Flaherty, V. and E. Colleran. 1998. Effect of sulphate addition on volatile
fatty acid and ethanol degradation in an anerobic hybrid reactor. I: Process
disturbance and remediation. Bioresource Tech. 68:101-107.
Ogata, M and T. Yagi. 1986. Pyruvate dehydrogenase and the path of lactate
degradation in Desulfovibrio vulgaris Miyazaki F. J. Biochem. 100: 311-
318.
O’Toole, G.A. 2003. To build a biofilm. J. Bacteriol. 185: 2687-2689.
Perez-Jimenez, J.R., L.Y. Young and L.J. Kerkhof. 2001. Molecular
characterization of sulfate-reducing bacteria in anaerobic hydrocarbon-
degrading consortia and pure cultures using the dissimilatory sulfite
reductase (dsrAB) genes. FEMS Microbiol. Ecol. 35:145-150.
Postgate, J.R. 1984. The Sulphate Reducing Bacteria. 2nd Edition. University
Press, Cambridge, UK.
Postgate J.R. and L.L. Campbell. 1966. Classification of Desulfovibrio Species,
the nonsporulating sulfate-reducing bacteria. Bactiorol. Rev. 30: 732-738.
Richard, T. 1998. The effect of lignin on biodegradability.
http://www.css.cornell.edu/compost/calc/lignin.html (2 Februari 2009).
Risatti, J.B., W.C. Capman and D.A. Stahl. 1994. Community structure of a
microbial mat: the phylogenetic dimension. Proc. Natl. Acad. Sci. USA,
10173-10177.
Rzeczycka, M. and B. Blaszczyk. 2005. Growth and activity of sulphate-
reducing bacteria in media containing phosphogypsum and different
source of carbon. Polish J. Envi. Studies 14: 891-895.
Sand, W. and T. Gehrke. 2006 Extracellular polymeric substances mediate
bioleaching/biocorrosion via interfacial processes involving iron (III) ions
and acidophilic bacteria. Res. in Microb. 157: 49-56.
90
Santegoeds, C.M., T.G. Ferdelman, G. Muzyer and D. de Beer. 1998. Structural
and functional dynamics of sulfate-reducing population in bacterial
biofilms. Appl. Envi. Microbiol. 64:3731-3739.
Schipper, A. 2004. Biogeochemistry of metal sulfide oxidation in mining
environments, sediment and soils. In Amend, J.P., K.J. Edwards, T.W.
Lyons (Eds). Sulfur Biogeochemistry – Past and Present. Geological Soc.
of America. Special Paper 379:49-62.
Schrenk, M.O., K.J. Edwards, R.M. Goodman, R.J. Hamers and J.F. Banfield.
1998. Disrtibution of Thiobacillus ferrooxidans and Leptospirillum
ferrooxidans: Implications for generation of acid mine drainage. Science
279. www.sciencemag.org.
Sobolewski, A. 1999. A review of processes responsible for metal removal in
wetlands treating contaminated mine drainage. Intern. J. Phytoremed..
1:19-51.
So, M.C. and L.Y. Young. 1999. Isolation and characterization of sulphate-
reducing bacterium that anaerobically degrades alkanes. Appl. Envi.
Microbiol.. 65:2969-2976.
Stumm, W. and J.J. Morgan. 1981. Aquatic Chemistry: An Introduction
Emphasizing Chemical Equilibria in Natural Waters. Wiley-Intersience,
New York. 780p.
Suhendrayatna. 2001. Bioremoval logam berat dengan menggunakan
mikroorganisme: Suatu kajian kepustakaan. Disampaikan pada Seminar
tentang Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. 9pp.
Suyasa, I.W.B. 2002. Peningkatan pH dan Pengendapan Logam Berat Terlarut
Air Asam Tambang (AAT) dengan Bakteri Pereduksi Sulfat dari
Ekosistem Air Hitam Kalimantan Tengah. Disertasi IPB.
Tampion, J. and M.D. Tampion. 1987. Immobilized Cells: Principles and
Applications. Cambridge Studies in Biotechnology 5. Cambridge
University Press. p.156
Taoufik, J., Y. Zeroual, A. Moutaouakkil, S. Moussaid, F.Z. Dzairi, M. Talbi, A.
Hammoumi, K. Belghmi, K. Lee, M. Loutfi and M. Blaghen. 2004.
Aromatic hydrocarbons removal by immobilized bacteria (Pseudomonas
sp., Staphylococcus sp.) in fluidized bed bioreactor. Annals of Microbiol.
54:189-200.
Tauro, P., K.K. kapoor, and K.S. Jadav. 1986. An Introduction to Microbiology.
New Age International Publishers.
Tsukamoto, T.K. and G.C. Miller. 1999. Methanol as a carbon source for
microbiological treatment of acid mine drainage. Water Res., 33: 1365-
1370.
Van Soest, P.J. 1994. The Nutritional Ecology of the Ruminant, 2nd edition.
Cornell Univ. Press. Ithaca, NY, 476pp.
91
Vaughan, D.J., M. Farquhar, L. Moyes, F.R. Livens, R.A.D. Patrick and R.A.
Wogelius. 2001. Sulfide mineral surfaces: A key role in environmental
geochemistry. 11th Annual V.M. Goldschmidt Conference.
von Canstein, H.F., Y. Li, A. Felske and L. Wagner-Dobler. 2001. Long-term
stability of mercury-reducing biofilm communities analyzed by 16S-rDNA
interspacer region polymorphism. Microb. Ecol 42: 624-634.
Wahju, B.N. 2003. Current status of the Indonesian Mining Industry. Presented
at “The Future of Oil and Gas, Mining Industry Investment in Indonesia,
Bandung, 3rd May 2003.
Wang, W.D., X.F. Wang, C.L. Liu, Y.H. Li, Y.C. Lu and Z.J. Cui. 2008.
Production analysis and pH dynamics during rice straw degradation by the
lignocellulose degradation bacteria system WSC-6. Huan Jing Ke Xue 29:
219-224.
Watnick P and R. Kolter. 2000. Biofilm, city of microbe. J. Bacteriol. Vol 182:
2675-2679.
Waybrant, K.R., C.J. Ptacek and D.W. Blowes. 2002. Treatment of mine
drainage using permeable reactive barriers: Column experiments. Envi.
Sci. Technol. 36: 1349-1356.
Widdel, F. 1992. The genus Desulfotomaculum. In Balows, A. H.G. Trüper M.
Dworkin, W. Harder and K.H. Schleifer (Eds). The Prokaryotes, 2nd
Edition. Springer Verlag, New York. 1793-1799.
Widdel, F. and F. Bak. 1994. Gram- negative mesophilic sulfate-reducing
bacteria. In Balows A. et al. (Eds). The Prokaryotes. Second Edition. A
Handbook on the Biology of Bacteria: Ecophysiology, Isolation,
Identification, Application. Springer-Verlag, New York. p. 3352-3378.
Williamson, M.A. and J.D. Rimstidt. 1994. The kinetics and electrochemical
rate-determining step of aqueous pyrite oxidation. Geochim. Cosmochim.
Acta 58:5443-5454.
Willow, M.A. and R.R. H. Cohen. 2003. pH, dissolved oxygen, and adsorption
effects on metal removal in anaerobic bioreactors. J. Envi. Qual. 32:1212-
1221.
Wouls, C. and T.B. Ngwenya. 2004. Geochemical process governing the
performance of a contsructed wetland treating acid mine drainage, Central
Scotland. Appl. Geochem., 19:1773-1783.
92
Lampiran 1. Morfologi dan karakter fisiologi bakteri hasil isolasi dari lumpur kolam penampungan limbah air asam tambang PT
Bukit Asam, Muara Enim

Isolat Pewarnaan Bentuk Bentuk Koloni Warna Motilitas Anaerob Endospora Sumber Suhu Penghasil Species
Gram Sel Koloni Karbon Pertumbuhan Sulfida
oC
ICBB 8813 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8814 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8815 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8816 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8817 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8818 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8819 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem
ICBB 8825 Negatif Batang Bulat tak Putih- + + - Laktat 25-40 + Desulfovibrio sp.
beraturan krem

Ciri-ciri umum bakteri Desulfovibrio sp. :


“ Gram negatif, bentuk batang, tidak berspora, motilitas motil, tumbuh dalam kondisi anaerob, menghasilkan H2 S, dapat tumbuh pada
suhu 25-40 oC, habitat : air tawar, air payau, dan laut”.
93
Lampiran 2: Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Penambangan Batu Bara
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 113
Tahun 2003, Tanggal : 10 Juli 2003

Parameter Satuan Kadar Maksimum

pH 6-9

Residu Tersuspensi mg/l 400

Besi (Fe) Total mg/l 7

Mangan (Mn) Total mg/l 4


94
Lampiran 3 Data hasil pengukuran terhadap waktu tumbuh bakteri pereduksi
sulfat pada beberapa level pH media

Isolat Ulg Waktu tumbuh (hari)


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 11 5 4 4 3
ii 12 6 4 4 4
iii 13 5 4 4 3
Rata2 12 5 4 4 3
StDev 1,00 0,58 0,00 0,00 0,58
ICBB 8815 i 11 6 3 3 3
ii 11 7 3 4 3
iii 11 6 3 3 3
Rata2 11 6 3 3 3
StDev 0,00 0,58 0,00 0,58 0,00
ICBB 8816 i 11 5 4 3 3
ii 10 5 4 3 3
iii 10 6 4 4 3
Rata2 10 5 4 3 3
StDev 0,58 0,58 0,00 0,58 0,00
ICBB 8818 i 8 4 3 1 1
ii 9 4 2 1 1
iii 8 3 3 1 1
Rata2 8 4 3 1 1
StDev 0,58 0,58 0,58 0,00 0,00
ICBB 8819 i - 5 1 2 2
ii - 5 1 2 2
iii - 6 1 2 2
Rata2 - 5 1 2 2
StDev - 0,58 0,00 0,00 0,00
ICBB 8825 i - 7 5 5 5
ii - 7 5 5 5
iii - 7 4 6 5
Rata2 - 7 5 5 5
StDev - 0,00 0,58 0,58 0,00
95
Lampiran 4 Data hasil pengukuran kepadatan populasi (kerapatan optik) bakteri
pereduksi sulfat pada beberapa level pH media

Isolat Ulg Kerapatan Optik (Abs 620 nm)


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 0,57 0,75 0,75 0,70 0,66
ii 0,58 0,76 0,75 0,70 0,66
iii 0,57 0,76 0,74 0,70 0,66
Rata2 0,57 0,757 0,747 0,70 0,66
StDev 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00
ICBB 8815 i 0,6 0,81 0,8 0,70 0,65
ii 0,6 0,81 0,79 0,68 0,64
iii 0,6 0,81 0,8 0,67 0,65
Rata2 0,60 0,81 0,80 0,68 0,65
StDev 0,00 0,00 0,01 0,02 0,01
ICBB 8816 i 0,59 0,81 0,79 0,70 0,65
ii 0,6 0,81 0,79 0,68 0,67
iii 0,59 0,8 0,8 0,71 0,66
Rata2 0,59 0,81 0,79 0,70 0,66
StDev 0,01 0,01 0,01 0,02 0,01
ICBB 8818 i 0,62 0,82 0,8 0,72 0,66
ii 0,61 0,81 0,8 0,70 0,67
iii 0,61 0,81 0,8 0,70 0,65
Rata2 0,61 0,81 0,80 0,71 0,66
StDev 0,01 0,01 0,00 0,01 0,01
96
Lampiran 5 Data hasil pengukuran sisa SO4 2- pada beberapa level pH media

Isolat Ulg SO42- (mg/L)


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 200,51 170,38 170,38 115 116,15
ii 216,15 182,43 164,36 116,15 104,1
iii 220,12 182,43 182,43 116,15 110,13
Rata2 212,26 178,41 172,39 110,13 110,13
StDev 10,37 6,96 9,20 0,66 6,03
ICBB 8815 i 164,36 122,19 122,18 110,13 110,13
ii 164,36 116,15 110,13 104,1 104,1
iii 176,41 128,2 116,15 110,13 98,08
Rata2 168,38 122,18 116,15 108,12 104,10
StDev 6,96 6,03 6,03 3,48 6,03
ICBB 8816 i 164,36 128,2 110,13 110,13 104,1
ii 170,38 116,15 122,18 116,15 104,1
iii 164,36 134,23 128,2 110,13 110,13
Rata2 166,37 126,19 120,17 112,14 106,11
StDev 3,48 9,21 9,20 3,48 3,48
ICBB 8818 i 152,31 104,1 98,08 92,05 92,05
ii 146,28 110,13 98,08 86,03 92,05
iii 146,28 116,15 98,08 98,08 92,05
Rata2 148,29 110,13 98,08 92,05 92,05
StDev 3,48 6,03 0,00 6,03 0,00
97
Lampiran 6. Data hasil perhitungan persentase reduksi sulfat pada beberapa
level pH media

Isolat Ulg % reduksi sulfat


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 79,95 82,96 82,96 88,5 88,39
ii 78,38 81,76 83,56 88,39 89,59
iii 77,99 81,76 81,76 88,39 88,99
Rata2 78,77 82,16 82,76 88,43 88,99
StDev 1,04 0,69 0,92 0,06 0,60
ICBB 8815 i 83,56 87,78 87,78 88,99 88,99
ii 83,56 88,38 88,99 89,59 89,59
iii 82,36 87,18 88,38 88,99 90,19
Rata2 83,16 87,78 88,38 89,19 89,59
StDev 0,69 0,60 0,61 0,35 0,60
ICBB 8816 i 83,56 87,18 88,99 88,99 89,59
ii 82,96 88,38 87,78 88,39 89,59
iii 83,56 86,58 87,18 88,99 88,99
Rata2 83,36 87,38 87,98 88,79 89,39
StDev 0,35 0,92 0,92 0,35 0,35
ICBB 8818 i 84,77 89,59 90,19 90,8 90,8
ii 85,37 88,99 90,19 91,4 90,8
iii 85,37 88,38 90,19 90,19 90,8
Rata2 85,17 88,99 90,19 90,80 90,80
StDev 0,35 0,61 0,00 0,61 0,00
98

Lampiran 7. Data hasil pengukuran sulfida yang terbentuk pada beberapa level
pH media

Isolat Ulg sulfida (mg/L)


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 257,87 268,14 274,56 295,09 289,96
ii 257,87 265,57 274,56 284,83 295,09
iii 255,31 265,57 269,43 289,96 289,96
Rata2 257,02 266,43 272,85 289,96 291,67
StDev 1,48 1,48 2,96 5,13 2,96
ICBB 8815 i 274,56 289,96 289,96 295,09 295,09
ii 269,43 284,83 289,96 295,09 300,22
iii 269,43 289,96 289,96 295,09 295,09
Rata2 271,14 288,25 289,96 295,09 296,80
StDev 2,96 2,96 0,00 0,00 2,96
ICBB 8816 i 279,70 284,83 295,09 295,09 295,09
ii 274,56 289,96 284,83 289,96 295,09
iii 279,70 289,96 289,96 300,22 300,22
Rata2 277,99 288,25 289,96 295,09 296,80
StDev 2,96 2,96 5,13 5,13 2,96
ICBB 8818 i 282,83 295,09 301,22 300,22 301,22
ii 286,83 289,96 295,09 295,09 299,72
iii 279,70 289,96 296,09 295,09 304,85
Rata2 283,12 291,67 297,47 296,80 301,93
StDev 3,57 2,96 3,29 2,96 2,64
99
Lampiran 8. Data pengukuran pH akhir pada beberapa level pH media

Isolat Ulg pH akhir


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 6,61 7,10 7,37 7,80 7,90
ii 6,58 7,05 7,28 7,89 7,89
iii 6,59 7,12 7,29 7,56 7,85
Rata2 6,59 7,09 7,31 7,75 7,88
StDev 0,02 0,04 0,05 0,17 0,03
ICBB 8815 i 6,58 7,62 7,63 8,22 8,20
ii 6,55 7,60 7,58 8,10 8,25
iii 6,57 7,58 7,48 8,12 8,31
Rata2 6,57 7,60 7,56 8,15 8,25
StDev 0,02 0,02 0,08 0,06 0,06
ICBB 8816 i 6,66 7,12 7,26 7,93 8,00
ii 6,68 7,25 7,24 7,92 7,92
iii 6,70 7,28 7,15 7,89 7,98
Rata2 6,68 7,22 7,22 7,91 7,97
StDev 0,02 0,09 0,06 0,02 0,04
ICBB 8818 i 6,73 7,68 8,37 8,39 8,39
ii 6,76 7,68 8,27 8,29 8,25
iii 6,72 7,58 8,26 8,29 8,45
Rata2 6,74 7,65 8,30 8,32 8,36
StDev 0,02 0,06 0,06 0,06 0,10
100
Lampiran 9. Data hasil perhitungan delta kenaikan pH pada beberapa level pH
media

Isolat Ulg delta pH


pH 3 pH4 pH5 pH6 pH7
ICBB 8813 i 3,61 0,90 2,37 1,37 0,90
ii 3,58 0,89 4,91 1,28 0,89
iii 3,59 0,85 2,38 1,29 0,85
Rata2 3,59 0,88 3,22 1,31 0,88
StDev 0,02 0,03 1,46 0,05 0,03
ICBB 8815 i 3,58 1,20 4,32 1,63 1,20
ii 3,55 1,25 3,26 1,58 1,25
iii 3,57 1,31 4,22 1,48 1,31
Rata2 3,57 1,25 3,93 1,56 1,25
StDev 0,02 0,06 0,58 0,08 0,06
ICBB 8816 i 3,66 1,00 2,79 1,26 1,00
ii 3,68 0,92 4,45 1,24 0,92
iii 3,70 0,98 2,70 1,15 0,98
Rata2 3,68 0,97 3,31 1,22 0,97
StDev 0,02 0,04 0,99 0,06 0,04
ICBB 8818 i 3,73 1,39 5,15 2,37 1,39
ii 3,76 1,25 3,12 2,27 1,25
iii 3,72 1,45 5,14 2,26 1,45
Rata2 3,74 1,36 4,47 2,30 1,36
StDev 0,02 0,10 1,17 0,06 0,10
101
Lampiran 10. Data pengukuran waktu tumbuh bakteri pereduksi sulfat pada
beberapa level pH media

Konsentrasi SO4 2- (mg/L)


Isolat Ulg 1000 1500 2500 3500
Waktu tumbuh (hari)
ICBB 8813 i 5 5 5 5
ii 6 5 6 6
iii 5 6 5 5
Rata2 5 5 5 5
StDev 0,58 0,58 0,58 0,58
ICBB 8815 i 6 4 8 8
ii 7 4 8 7
iii 6 5 7 6
Rata2 6 4 8 7
StDev 0,58 0,58 0,58 1,00
ICBB 8816 i 5 5 7 6
ii 5 5 6 6
iii 6 6 5 7
Rata2 5 5 6 6
StDev 0,58 0,58 1,00 0,58
ICBB 8818 i 2 7 5 6
ii 2 5 7 6
iii 2 6 6 6
Rata2 2 6 6 6
StDev 0,00 1,00 1,00 0,00
102
Lampiran 11. Data pengukuran total reduksi sulfat pada beberapa level
konsentrasi sulfat

Konsentrasi SO4 2- (mg/L)


Isolat Ulg 1000 1500 2500 3500
Reduksi SO4 (mg/L)
ICBB 8813 i 822,81 963,06 1306,52 1541,51
ii 822,81 1017,3 1288,44 1550,55
iii 810,76 981,14 1288,44 1523,44
Rata2 818,79 987,17 1294,47 1538,50
StDev 5,68 22,55 8,52 11,27
ICBB 8815 i 871,01 1107,68 1378,82 1532,48
ii 883,06 1089,6 1396,9 1541,51
iii 871,01 1089,6 1351,71 1523,44
Rata2 875,03 1095,63 1375,81 1532,48
StDev 6,96 10,44 22,74 9,04
ICBB 8816 i 871,01 1089,6 1351,71 1523,44
ii 871,01 1089,6 1360,75 1541,51
iii 871,01 1053,45 1342,67 1523,44
Rata2 871,01 1077,55 1351,71 1529,46
StDev 0,00 20,87 9,04 10,43
ICBB 8818 i 895,11 1234,21 1378,82 1577,67
ii 895,11 1198,06 1378,82 1559,59
iii 871,01 1198,06 1360,75 1541,51
Rata2 887,08 1210,11 1372,80 1559,59
StDev 13,91 20,87 10,43 18,08
103
Lampiran 12. Data hasil perhitungan persentase reduksi sulfat pada beberapa
level konsentrasi sulfat

Ulg Konsentrasi SO4 2- (mg/L)


Isolat 1000 1500 2500 3500
% Reduksi SO4
ICBB 8813 i 82,28 64,20 52,26 44,04
ii 82,28 67,82 51,54 44,30
iii 81,08 65,41 51,54 43,53
Rata2 81,88 65,81 51,78 43,96
StDev 0,69 1,84 0,42 0,39
ICBB 8815 i 87,1 73,85 55,15 43,79
ii 88,31 72,64 55,88 44,04
iii 87,1 72,64 54,07 43,53
Rata2 87,50 73,04 55,03 43,79
StDev 0,70 0,70 0,91 0,26
ICBB 8816 i 87,1 72,64 54,07 43,53
ii 87,1 72,64 54,43 44,04
iii 87,1 70,23 53,71 43,53
Rata2 87,10 71,84 54,07 43,70
StDev 0,00 1,39 0,36 0,30
ICBB 8818 i 89,51 82,28 55,15 45,08
ii 89,51 79,87 55,15 44,56
iii 87,1 79,87 54,43 44,04
Rata2 88,71 80,67 54,91 44,56
StDev 1,39 1,39 0,42 0,52
104
Lampiran 13. Data pengukuran sulfida yang terbentuk pada beberapa level
konsentrasi sulfat

Ulg Konsentrasi SO4 2- (mg/L)


Isolat 1000 1500 2500 3500
Sulfida (mg/L)
ICBB 8813 i 274,56 346,41 428,51 515,75
ii 274,56 331,01 423,38 513,18
iii 269,43 341,28 420,82 505,49
Rata2 272,85 339,57 424,24 511,47
StDev 2,96 7,84 3,92 5,34
ICBB 8815 i 289,96 361,80 451,60 510,62
ii 295,09 366,93 451,60 513,18
iii 289,96 364,37 449,04 505,49
Rata2 291,67 364,37 450,75 509,76
StDev 2,96 2,57 1,48 3,92
ICBB 8816 i 289,96 369,50 449,04 505,49
ii 289,96 361,80 454,17 513,18
iii 289,96 351,54 446,47 505,49
Rata2 289,96 360,95 449,89 508,05
StDev 0,00 9,01 3,92 4,44
ICBB 8818 i 295,09 410,55 464,43 523,45
ii 295,09 397,72 459,30 518,32
iii 289,96 397,72 456,74 513,18
Rata2 293,38 402,00 460,16 518,32
StDev 2,96 7,41 3,92 5,14
105
Lampiran 14. Data pengukuran waktu tumbuh bakteri pereduksi sulfat, kenaikan
pH, sisa sulfat dan sulfida yang terbentuk pada media dengan
laktat sebagai sumber karbon organik

Laktat
Isolat Ulg Waktu tumbuh pH SO42- Sulfida
(hari) (mg/L) (mg/L)
ICBB 8813 i 5 7,10 170,38 274,56
ii 6 7,05 182,43 269,43
iii 5 7,12 182,43 269,43
Rata2 5 7,09 178,41 271,14
StDev 0,58 0,04 6,96 2,96
ICBB 8815 i 6 7,62 122,18 295,09
ii 7 7,60 116,15 289,96
iii 6 7,58 128,2 289,96
Rata2 6 7,60 122,18 291,67
StDev 0,58 0,02 6,03 2,96
ICBB 8816 i 5 7,12 128,2 289,96
ii 5 7,25 122,18 295,09
iii 6 7,28 128,2 289,96
Rata2 5 7,22 126,19 291,67
StDev 0,58 0,09 3,48 2,96
ICBB 8818 i 4 7,68 104,1 295,09
ii 4 7,68 110,13 295,09
iii 3 7,58 122,18 289,96
Rata2 4 7,65 112,14 293,38
StDev 0,58 0,06 9,21 2,96
106
Lampiran 15. Data pengukuran waktu tumbuh bakteri pereduksi sulfat, kenaikan
pH, sisa sulfat dan sulfida yang terbentuk pada media dengan
jerami padi sebagai sumber karbon organik

Laktat
Isolat Ulg Waktu tumbuh pH SO42- Sulfida
(hari) (mg/L) (mg/L)
ICBB 8813 i 8 6,70 122,18 295,09
ii 8 6,68 116,15 295,09
iii 7 6,78 122,18 289,96
Rata2 8 6,72 120,17 293,38
StDev 0,58 0,05 3,48 2,96
ICBB 8815 i 9 6,90 104,10 295,09
ii 10 7,05 98,08 300,22
iii 10 6,95 98,08 300,22
Rata2 10 6,97 100,09 298,51
StDev 0,58 0,08 3,48 2,96
ICBB 8816 i 9 6,88 104,10 300,22
ii 9 6,92 98,08 295,09
iii 8 6,94 98,08 300,22
Rata2 9 6,91 100,09 298,51
StDev 0,58 0,03 3,48 2,96
ICBB 8818 i 6 7,17 98,08 300,22
ii 6 7,24 98,08 300,22
iii 5 7,20 92,05 305,35
Rata2 6 7,20 96,07 301,93
StDev 0,58 0,04 3,48 2,96
107
Lampiran 16. Data pengukuran pola pertumbuhan (kerapatan optik) bakteri pereduksi sulfat ICBB 8818 pada media dengan laktat dan
jerami padi sebagai sumber karbon organik

Sumber Ulg Kerapatan Optik, hari ke


C organik 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30
Laktat i 0 0,15 0,43 0,71 0,79 0,82 0,82 0,82 0,57 0,4
ii 0 0,16 0,49 0,7 0,79 0,81 0,82 0,69 0,54 0,39
iii 0 0,16 0,47 0,71 0,8 0,81 0,83 0,68 0,56 0,38
Rata2 0,00 0,16 0,46 0,71 0,79 0,81 0,82 0,73 0,56 0,39
StDev 0,000 0,006 0,031 0,006 0,006 0,006 0,006 0,078 0,015 0,010
Jerami padi i 0 0,09 0,13 0,43 0,53 0,61 0,79 0,82 0,82 0,66
ii 0 0,08 0,15 0,43 0,54 0,63 0,79 0,82 0,81 0,65
iii 0 0,08 0,15 0,42 0,53 0,64 0,79 0,81 0,83 0,65
Rata2 0,00 0,08 0,14 0,43 0,53 0,63 0,79 0,82 0,82 0,65
StDev 0,000 0,006 0,012 0,006 0,006 0,015 0,000 0,006 0,010 0,006
108
Lampiran 17. Data pengamatan pola pertumbuhan tiga isolat bakteri pereduksi sulfat pada reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

Isolat Ulg Kerapatan Optik - hari ke


5 10 15 20 25 30 35
ICBB 8815 i 0 0,055 0,31 0,69 0,76 0,69 0,31
ii 0 0,067 0,29 0,73 0,78 0,71 0,34
iii 0 0,062 0,29 0,71 0,77 0,7 0,32
Rata2 0 0,061 0,30 0,71 0,77 0,7 0,32
StDev 0,000 0,006 0,012 0,020 0,010 0,010 0,015
ICBB 8816 i 0 0,052 0,28 0,69 0,71 0,69 0,29
ii 0 0,049 0,27 0,66 0,73 0,66 0,29
iii 0 0,05 0,27 0,67 0,71 0,67 0,29
Rata2 0 0,050 0,27 0,67 0,72 0,67 0,29
StDev 0,000 0,002 0,006 0,015 0,012 0,015 0,000
ICBB 8818 i 0 0,069 0,32 0,71 0,81 0,74 0,35
ii 0 0,067 0,31 0,74 0,77 0,73 0,32
iii 0 0,067 0,31 0,73 0,78 0,73 0,34
Rata2 0 0,068 0,31 0,73 0,79 0,73 0,34
StDev 0,000 0,001 0,006 0,015 0,021 0,006 0,015
109
Lampiran 18. Data pengukuran penurunan konsentrasi sulfat pada reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

Isolat Ulg SO42- (mg/L) - hari ke


Awal 5 10 15 20 25 30
ICBB 8815 i 949,34 943,32 846,91 563,71 260,77 158,33 98,08
ii 949,34 937,29 846,91 563,71 254,74 158,33 98,08
iii 949,34 943,32 846,91 563,71 257,75 152,31 98,08
Rata2 949,34 941,31 846,91 563,71 257,75 156,32 98,08
StDev 0,00 3,48 0,00 0,00 3,01 3,48 0,00
ICBB 8816 i 949,34 943,32 840,88 569,74 284,87 194,49 116,15
ii 949,34 937,29 840,88 581,79 278,84 182,43 110,13
iii 949,34 937,29 834,86 569,74 281,86 191,47 92,05
Rata2 949,34 939,30 838,88 573,75 281,86 189,46 106,11
StDev 0,00 3,48 3,48 6,96 3,01 6,27 12,54
ICBB 8818 i 949,34 943,32 858,96 539,61 230,64 128,20 89,04
ii 949,34 937,29 864,99 551,66 227,63 128,20 92,05
iii 949,34 937,29 858,96 545,63 227,63 128,20 89,04
Rata2 949,34 939,30 860,97 545,63 228,63 128,20 90,04
StDev 0,00 3,48 3,48 6,03 1,74 0,00 1,74
110
Lampira n 19. Data pengukuran peningkatan konsetrasi sulfida pada reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

Isolat Ulg Sulfida (mg/L) - hari ke


Awal 5 10 15 20 25 30
ICBB 8815 i 0,00 0,00 33,37 127,02 228,37 264,30 282,26
ii 0,00 0,00 34,65 128,30 230,93 264,30 284,83
iii 0,00 0,00 34,65 128,30 230,93 261,74 282,26
Rata2 0,00 0,00 34,22 127,87 230,08 263,45 283,12
StDev 0,00 0,00 0,74 0,74 1,48 1,48 1,48
ICBB 8816 i 0,00 0,00 37,22 125,74 221,95 251,47 277,13
ii 0,00 0,00 34,65 123,17 221,95 254,04 279,70
iii 0,00 0,00 39,78 125,74 223,24 251,47 284,83
Rata2 0,00 0,00 37,22 124,88 222,38 252,33 280,55
StDev 0,00 0,00 2,57 1,48 0,74 1,48 3,92
ICBB 8818 i 0,00 0,00 30,80 137,28 239,91 272,00 289,96
ii 0,00 0,00 29,52 130,87 239,91 274,56 284,83
iii 0,00 0,00 29,52 134,72 241,20 272,00 287,39
Rata2 0,00 0,000 29,95 134,29 240,34 272,85 287,39
StDev 0,00 0,00 0,74 3,23 0,74 1,48 2,57
111
Lampiran 20. Data pengukuran peningkatan pH pada reaktor bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

Isolat Ulg pH - hari ke


Awal 5 10 15 20 25 30
ICBB 8815 i 3,02 3,46 4,04 5,50 5,62 6,40 6,98
ii 3,04 3,40 4,04 5,48 5,60 6,50 6,97
iii 3,03 3,45 4,05 5,50 5,62 6,48 6,98
Rata2 3,03 3,44 4,04 5,49 5,61 6,46 6,98
StDev 0,01 0,03 0,01 0,01 0,01 0,05 0,01
ICBB 8816 i 3,04 3,45 4,02 5,40 5,50 6,20 6,98
ii 3,02 3,48 4,03 5,39 5,54 6,40 7,01
iii 3,03 3,48 4,04 5,42 5,55 6,35 7,05
Rata2 3,03 3,47 4,03 5,40 5,53 6,32 7,01
StDev 0,01 0,02 0,01 0,02 0,03 0,10 0,04
ICBB 8818 i 3,05 3,62 4,06 5,52 5,62 6,40 6,90
ii 3,01 3,56 4,08 5,50 5,61 6,50 7,20
iii 3,04 3,61 4,09 5,56 5,65 6,40 7,10
Rata2 3,03 3,597 4,08 5,53 5,63 6,43 7,07
StDev 0,02 0,03 0,02 0,03 0,02 0,06 0,15
112
Lampiran 21. Data pengukuran penurunan Fe dan Mn terlarut pada reaktor
bakteri pereduksi sulfat tersuspensi

Isolat Ulg Fe terlarut (mg/L) Mn terlarut (mg/L)


Awal Akhir Awal Akhir
ICBB 8815 i 7,05 0,18 11,10 0,26
ii 7,23 0,17 11,77 0,27
iii 7,35 0,17 12,25 0,27
Rata2 7,21 0,17 11,71 0,27
StDev 0,151 0,003 0,578 0,005
ICBB 8816 i 7,05 0,15 11,10 0,28
ii 7,23 0,17 11,77 0,27
iii 7,35 0,16 12,25 0,28
Rata2 7,21 0,16 11,71 0,28
StDev 0,151 0,009 0,578 0,005
ICBB 8818 i 7,05 0,15 11,10 0,23
ii 7,23 0,15 11,77 0,24
iii 7,35 0,15 12,25 0,23
Rata2 7,21 0,15 11,71 0,23
StDev 0,151 0,002 0,578 0,002
113
Lampiran 22. Data pengukuran penurunan konsentrasi sulfat dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat

ICBB 8815 ICBB 8818


Waktu 1 2 3 Rata2 StDev 1 2 3 Rata2 StDev
2- 2-
(Jam) Konsentrasi SO4 (mg/L) Konsentrasi SO4 (mg/L)
0 945,54 945,54 945,54 945,54 0,00 945,54 945,54 945,54 945,54 0,00
1 919,22 943,32 931,27 931,27 12,05 913,19 931,27 931,27 925,24 10,44
2 883,06 907,16 907,16 899,13 13,92 895,11 883,06 895,11 891,10 6,96
3 846,91 871,01 858,96 858,96 12,05 864,99 834,86 858,96 852,94 15,94
4 816,78 840,88 834,86 830,84 12,54 822,81 834,86 822,81 826,82 6,96
5 780,63 804,73 798,71 794,69 12,54 762,55 774,60 774,60 770,59 6,96
10 750,50 768,58 756,53 758,54 9,20 732,42 744,48 726,40 734,43 9,20
15 672,17 684,22 678,20 678,20 6,03 636,02 672,17 654,09 654,09 18,08
24 587,81 611,91 593,84 597,85 12,54 580,12 568,07 577,11 575,10 6,27
48 507,81 507,81 507,81 507,81 0,00 501,79 510,82 501,79 504,80 5,22
72 423,45 453,58 441,53 439,52 15,16 429,48 429,48 441,53 433,50 6,96
96 357,17 378,26 369,23 368,22 10,58 327,05 333,07 333,07 331,06 3,48
120 296,92 318,01 308,97 307,97 10,58 296,92 266,79 278,84 280,85 15,16
144 221,60 242,69 233,65 232,65 10,58 224,61 176,41 200,51 200,51 24,10
114
Lampiran 23. Data pengukuran peningkatan konsentrasi sulfida yang terbentuk dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat

ICBB 8815 ICBB 8818


Waktu 1 2 3 Rata2 StDev 1 2 3 Rata2 StDev
(Jam) Konsentrasi sulfida (mg/L) Konsentrasi sulfida (mg/L)
0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
1 0,00 0,00 14,12 4,71 8,15 14,12 0,00 12,84 8,99 7,81
2 20,54 14,12 14,12 16,26 3,70 16,69 21,82 16,69 18,40 2,96
3 32,08 24,39 26,95 27,81 3,92 26,95 34,65 28,24 29,95 4,12
4 43,63 34,65 34,65 37,64 5,18 39,78 34,65 39,78 38,07 2,96
5 52,61 44,91 47,48 48,33 3,92 60,31 55,18 55,18 56,89 2,96
10 62,87 57,74 60,31 60,31 2,57 70,57 65,44 70,57 68,86 2,96
15 89,81 85,97 88,53 88,10 1,96 101,36 88,53 96,23 95,37 6,46
24 118,04 109,06 116,76 114,62 4,86 121,89 124,45 121,89 122,74 1,48
48 144,98 144,98 144,98 144,98 0,00 144,98 144,98 147,55 145,83 1,48
72 171,92 162,94 165,51 166,79 4,63 171,92 170,64 168,07 170,21 1,96
96 195,01 188,60 191,16 191,59 3,23 203,99 203,99 203,99 203,99 0,00
120 215,54 206,56 209,12 210,41 4,63 215,54 224,52 220,67 220,24 4,51
144 239,91 232,22 234,78 235,64 3,92 239,91 252,74 247,61 246,76 6,46
115
Lampiran 24. Data pengukuran kenaikan pH dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat

ICBB 8815 ICBB 8818


Waktu 1 2 3 Rata2 StDev 1 2 3 Rata2 StDev
(Jam) pH pH
0 3,05 3,05 3,05 3,05 0,00 3,05 3,05 3,05 3,05 0,00
1 6,17 6,07 6,10 6,11 0,05 5,68 5,70 5,69 5,69 0,01
2 6,25 6,20 6,24 6,23 0,03 5,97 5,95 5,95 5,96 0,01
3 6,32 6,31 6,30 6,31 0,01 6,12 6,08 6,15 6,12 0,04
4 6,40 6,39 6,42 6,40 0,02 6,21 6,20 6,19 6,20 0,01
5 6,56 6,52 6,58 6,55 0,03 6,25 6,24 6,22 6,24 0,02
10 6,56 6,50 6,54 6,53 0,03 6,35 6,31 6,30 6,32 0,03
15 6,60 6,56 6,62 6,59 0,03 6,40 6,41 6,35 6,39 0,03
24 6,60 6,62 6,58 6,60 0,02 6,50 6,62 6,58 6,57 0,06
48 6,82 6,78 6,82 6,81 0,02 6,82 6,78 6,82 6,81 0,02
72 6,89 6,92 6,92 6,91 0,02 6,89 6,92 6,92 6,91 0,02
96 6,92 6,99 7,05 6,99 0,07 6,92 6,99 7,05 6,99 0,07
120 7,05 7,05 7,09 7,06 0,02 6,99 7,05 7,09 7,04 0,05
144 7,08 7,10 7,13 7,10 0,03 7,10 7,10 7,13 7,11 0,02
116
Lampiran 25. Data pengukuran penurunan Mn terlarut dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat

ICBB 8815 ICBB 8818


Waktu 1 2 3 Rata2 StDev 1 2 3 Rata2 StDev
(Jam) Mn terlarut (mg/L) Mn terlarut (mg/L)
0 11,30 11,30 11,30 11,30 0,00 11,30 11,30 11,30 11,30 0,00
1 6,97 6,85 7,10 6,97 0,13 6,66 6,75 6,58 6,66 0,09
2 6,05 6,00 6,10 6,05 0,05 5,95 6,05 5,85 5,95 0,10
3 5,79 5,85 5,75 5,80 0,05 5,10 5,24 4,95 5,10 0,15
4 5,41 5,45 5,35 5,40 0,05 4,53 4,68 4,35 4,52 0,17
5 5,12 5,15 5,10 5,12 0,03 4,15 4,28 4,02 4,15 0,13
10 4,83 4,90 4,80 4,84 0,05 3,98 4,06 3,90 3,98 0,08
15 4,73 4,70 4,75 4,73 0,03 3,83 3,95 3,70 3,83 0,13
24 4,63 4,70 4,60 4,64 0,05 3,68 3,75 3,60 3,68 0,08
48 2,45 2,40 2,50 2,45 0,05 1,85 2,05 1,70 1,87 0,18
72 1,85 1,90 1,81 1,85 0,05 1,62 1,70 1,55 1,62 0,08
96 1,68 1,75 1,65 1,69 0,05 1,48 1,51 1,45 1,48 0,03
120 1,45 1,56 1,40 1,47 0,08 1,38 1,45 1,34 1,39 0,06
144 1,25 1,15 1,35 1,25 0,10 1,28 1,38 1,24 1,30 0,07
117
Lampiran 26. Data pengukuran penurunan Fe terlarut dalam reaktor biofilm bakteri pereduksi sulfat

ICBB 8815 ICBB 8818


Waktu 1 2 3 Rata2 StDev 1 2 3 Rata2 StDev
(Jam) Fe terlarut (mg/L) Fe terlarut (mg/L)
0 7,10 7,10 7,10 7,10 0,00 7,10 7,10 7,10 7,10 0,00
1 7,05 6,98 7,00 7,01 0,04 7,10 7,25 7,10 7,15 0,09
2 7,95 8,01 7,00 7,65 0,57 8,05 7,98 7,95 7,99 0,05
3 7,05 7,10 7,00 7,05 0,05 7,05 7,10 7,06 7,07 0,03
4 6,95 7,05 6,90 6,97 0,08 7,00 6,98 6,95 6,98 0,03
5 6,95 6,85 6,75 6,85 0,10 6,95 6,90 6,95 6,93 0,03
10 6,80 6,75 6,70 6,75 0,05 6,86 6,89 6,98 6,91 0,06
15 6,45 6,51 6,35 6,44 0,08 6,50 6,58 6,68 6,59 0,09
24 6,34 6,45 6,35 6,38 0,06 6,25 6,35 6,42 6,34 0,09
48 5,59 5,75 5,70 5,68 0,08 5,21 5,35 5,45 5,34 0,12
72 3,90 4,02 4,00 3,97 0,06 3,35 3,56 3,59 3,50 0,13
96 3,05 3,10 3,30 3,15 0,13 2,85 3,06 3,05 2,99 0,12
120 2,65 2,70 2,80 2,72 0,08 2,15 2,14 2,20 2,16 0,03
144 2,15 2,20 2,35 2,23 0,10 2,05 2,10 2,05 2,07 0,03