You are on page 1of 23

Tutorial Klinik

ILMU PENYAKIT MATA


HORDEOLUM

Disusun Oleh :
Antonius Setyo Wibowo G99142003
Dwiana Ardianti G99142004
G. Harldy Parendra G99142005
Anisa Rahmatia G99151043
Rindy Saputri G99151044
Sri Retnowati G99151045
Priaji Setiadani G99151046
Niza Nurul Miftah G99151047

Pembimbing :
Senyum Indrakila, dr., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

0
BAB I
PENDAHULUAN

Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata
1
melindungi bola mata terhadap trauma dari luar yang bersifat fisik atau kimiawi.
Pembasahan dan pelicinan bola mata terjadi karena pemerataan air mata dan
sekresi berbagai kelenjar akibat gerakan buka tutup kelopak mata.1,2
Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari
yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur
seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari
kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan.1,2
Hordeolum merupakan infeksi supuratif (akut) kelenjar kelopak mata,
biasanya disebabkan oleh Staphylococcus. Pembentukan nanah terdapat dalam
lumen kelenjar. Biasanya mengenai kelenjar Meibom, Zeis, Moll. Apabila yang
terkena kelenjar Meibom, pembengkakan agak besar disebut hordeolum internum.
Apabila yang terkena kelenjar kelenjar Zeis dan Moll, penonjolan ke arah kulit
palpebra disebut hordeolum eksternum. 1,2,3
Prevalensi hordeolum merupakan penyakit yang sering dalam praktek
klinis tetapi tidak ada data mengenai insidensi dan prevalensinya. Laki-laki dan
perempuan sama. Lebih sering pada usia dewasa dibanding anak-anak. 4

1
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Tn. I
Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Klaten
Tgl pemeriksaan : 19 Oktober 2015
No. RM : 0099XXXX

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama : benjolan di kelopak mata atas kanan dan kiri

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata dengan keluhan terdapat benjolan di
mata sebelah atas kanan dan kiri. Benjolan dirasakan sejak 1 bulan yang
lalu. Benjolan tersebut dirasakan mengganjal, terasa nyeri jika
dipegang, terdapat blobok di pagi hari dan pandangan sedikit terganggu.
Mata silau (-), mata merah (-), demam (-), nrocos (-), gatal (-).

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat hipertensi : disangkal
2. Riwayat kencing manis : disangkal
3. Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
4. Riwayat kacamata : disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga
1. Riwayat hipertensi : disangkal
2. Riwayat kencing manis : disangkal
3. Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

2
4. Riwayat kacamata : disangkal

E. Kesimpulan Anamnesis

OD OS

Proses Sumbatan Sumbatan

Lokalisasi Palpebra superior Palpebra superior


Oculli Dextra Oculli Sinistra

Sebab Belum diketahui Belum diketahui

Perjalanan Kronis Kronis

Komplikasi - -

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan umum
Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan cukup

B. Vital Sign
TD: 120/80 mmHg
HR: 84x/m
RR:20 x/m
t: 36.70C

C. Pemeriksaan subyektif
OD OS

A. Visus Sentralis

1. Visus sentralis
6/7 6/6
jauh

a. pinhole Tidak dilakukan Tidak dilakukan

b. koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

3
2. Visus sentralis Tidak dilakukan Tidak dilakukan
dekat

B. Visus Perifer

1. Konfrontasi tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan

2. Proyeksi sinar Normal Normal

3. Persepsi warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan

D. Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar mata OD OS

a. tanda radang Tidak Ada Tidak Ada

b. luka Tidak Ada Tidak Ada

c. parut Tidak Ada Tidak Ada

d. kelainan warna Tidak Ada Tidak Ada

e. kelainan bentuk Tidak Ada Tidak Ada

2. Supercilia

a. warna Hitam Hitam

b. tumbuhnya Normal Normal

c. kulit Sawo matang Sawo matang

d. gerakan Dalam batas normal Dalam batas normal

3. Pasangan bola mata


dalam orbita

a. heteroforia Tidak Ada Tidak Ada

b. strabismus Tidak Ada Tidak Ada

c. pseudostrabismus Tidak Ada Tidak Ada

d. exophtalmus Tidak Ada Tidak Ada

e. enophtalmus Tidak Ada Tidak Ada

4. Ukuran bola mata

4
a. mikroftalmus Tidak Ada Tidak Ada

b. makroftalmus Tidak Ada Tidak Ada

c. ptisis bulbi Tidak Ada Tidak Ada

d. atrofi bulbi Tidak Ada Tidak Ada

5. Gerakan bola mata

a. temporal Tidak terhambat Tidak terhambat

b. temporal superior Tidak terhambat Tidak terhambat

c. temporal inferior Tidak terhambat Tidak terhambat

d. nasal Tidak terhambat Tidak terhambat

e. nasal superior Tidak terhambat Tidak terhambat

f. nasal inferior Tidak terhambat Tidak terhambat

6. Kelopak mata

a. pasangannya

1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

2.) hiperemi Tidak Ada Tidak Ada

3.) blefaroptosis Tidak Ada Tidak Ada

4.) blefarospasme Tidak Ada Tidak Ada

5.) Benjolan Ada 1 benjolan di Ada 1 benjolan di


palpebra superior palpebra superior
seukuran biji jagung seukuran biji jagung

b. gerakannya

1.) membuka Tidak tertinggal Tidak tertinggal

2.) menutup Tidak tertinggal Tidak tertinggal

c. rima

1.) lebar 8 mm 9 mm

2.) ankiloblefaron Tidak Ada Tidak Ada

3.) blefarofimosis Tidak Ada Tidak Ada

5
d. kulit

1.) tanda radang Tidak Ada Tidak Ada

2.) warna Normal Normal

3.) epiblepharon Tidak Ada Tidak Ada

4.) blepharochalasis Tidak Ada Tidak Ada

5.) Vulnus Tidak Ada Tidak Ada

e. tepi kelopak mata

1.) enteropion Tidak Ada Tidak Ada

2.) ekteropion Tidak Ada Tidak Ada

3.) koloboma Tidak Ada Tidak Ada

4.) bulu mata Dalam batas normal Dalam batas normal

7. Sekitar glandula
lakrimalis

a. tanda radang Tidak Ada Tidak Ada

b. benjolan Tidak Ada Tidak Ada

c. tulang margo tarsalis Tidak Ada kelainan Tidak Ada kelainan

8. Sekitar saccus lakrimalis

a. tanda radang Tidak Ada Tidak Ada

b. benjolan Tidak Ada Tidak Ada

9. Tekanan intraocular

a. palpasi Kesan normal Kesan normal

b. tonometri schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

10. Konjungtiva

a. konjungtiva palpebra
superior

1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

6
2.) hiperemi Ada Ada

3.) sekret Tidak Ada Tidak Ada

4.) sikatrik Tidak Ada Tidak Ada

5). Benjolan Ada 1 benjolan Ada 1 benjolan

b. konjungtiva palpebra
inferior

1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

2.) hiperemi Tidak Ada Tidak Ada

3.) sekret Tidak Ada Tidak Ada

4.) sikatrik Tidak Ada Tidak Ada

5). Benjolan Tidak Ada Tidak Ada

c. konjungtiva forniks

1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

2.) hiperemi Tidak Ada Tidak Ada

3.) sekret Tidak Ada Tidak Ada

4.) benjolan Tidak Ada Tidak Ada

5.)Hematom Tidak Ada Tidak Ada

d. konjungtiva bulbi

1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

2.) hiperemis Tidak Ada Tidak Ada

3.) sekret Tidak Ada Tidak Ada

4.) injeksi konjungtiva Tidak Ada Tidak Ada

5.) injeksi siliar Tidak Ada Tidak Ada

6.) Hematom Tidak Ada Tidak Ada

e. caruncula dan plika


semilunaris

7
1.) edema Tidak Ada Tidak Ada

2.) hiperemis Tidak Ada Tidak Ada

3.) sikatrik Tidak Ada Tidak Ada

11. Sclera

a. warna Putih Putih

b. tanda radang Tidak Ada Tidak Ada

c. penonjolan Tidak Ada Tidak Ada

d. vulnus Tidak Ada Tidak Ada

12. Kornea

a. ukuran 11 mm 11 mm

b. limbus Jernih Jernih

c. permukaan Rata, mengkilap Rata, mengkilap

d. sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

e. keratoskop ( placido ) Tidak dilakukan Tidak dilakukan

f. fluorecsin tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan

g. arcus senilis Tidak Ada Tidak Ada

13. Kamera okuli anterior

a. kejernihan Jernih Jernih

b. kedalaman Dalam Dalam

14. Iris

a. warna Hitam Hitam

b. bentuk Tampak lempengan Tampak lempengan

c. sinekia anterior Tidak tampak Tidak tampak

d. sinekia posterior Tidak tampak Tidak tampak

15. Pupil

a. ukuran 3 mm 3 mm

8
b. bentuk Bulat Bulat

c. letak Sentral Sentral

d. reaksi cahaya langsung Positif Positif

16. Lensa

a. ada/tidak Ada Ada

b. kejernihan Jernih Jernih

c. letak Sentral Sentral

e. shadow test Tidak dilakukan Tidak dilakukan

17. Corpus vitreum

a. Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan


b. Reflek fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

IV. KESIMPULAN PEMERIKSAAN


OD OS

A. Visus sentralis 6/7 6/6


jauh
B. Visus perifer

Konfrontasi tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Proyeksi sinar Baik Baik

Persepsi warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan

C. Sekitar mata Dalam batas normal Dalam batas normal

D. Supercilium Dalam batas normal Dalam batas normal

E. Pasangan bola Dalam batas normal Dalam batas normal


mata dalam orbita
F. Ukuran bola Dalam batas normal Dalam batas normal
mata
G. Gerakan bola Dalam batas normal Dalam batas normal
mata
H. Kelopak mata Terdapat 1 benjolan di Terdapat 1 benjolan di

9
palpebra superior palpebra superior
seukuran biji jagung seukuran biji jagung

I. Sekitar saccus Dalam batas normal Dalam batas normal


lakrimalis
J. Sekitar Dalam batas normal Dalam batas normal
glandula
lakrimalis
K. Tekanan Dalam batas normal Dalam batas normal
intarokular
L. Konjungtiva Dalam batas normal Dalam batas normal
palpebra
M. Konjungtiva Dalam batas normal Dalam batas normal
bulbi
N. Konjungtiva Dalam batas normal Dalam batas normal
fornix
O. Sklera Dalam batas normal Dalam batas normal

P. Kornea Dalam batas normal Dalam batas normal

Q. Camera okuli Dalam batas normal Dalam batas normal


anterior

R. Iris Bulat, warna hitam Bulat, warna hitam

S. Pupil Diameter 3 mm, bulat, Diameter 3 mm, bulat,


sentral sentral

T. Lensa Kesan normal Kesan normal

10
Dokumentasi foto pasien:

Gambar 1. Okuler Dextra-Sinistra

Gambar 2. Okuler Dextra

11
Gambar 3. Okuler Sinistra

V. DIAGNOSIS BANDING
ODS Hordeolum Eksternum
ODS Hordeolum Internum
ODS Kalazion

VI. DIAGNOSIS
ODS Hordeolum Eksternum

VII. TERAPI
 Medikamentosa:
Cloramphenicol 2% eye ointment ODS, oles 3 kali sehari.
Na Diclofenac 50mg , 3 kali sehari, selama 5 hari
 Non Medikamentosa
Kompres air hangat ODS selama 15 menit (4 kali sehari)

12
VIII. PLANNING
 Kontrol setelah 5 hari
 Pro Insisi Hordeolum jika keadaan pasien tidak membaik dalam 5 hari
perawatan

IX. PROGNOSIS
OD OS

1. Ad vitam Dubia et bonam Dubia et bonam

2. Ad fungsionam Dubia et bonam Dubia et bonam

3. Ad sanam Dubia et bonam Dubia et bonam

4. Ad kosmetikum Dubia et bonam Dubia et bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

13
A. Definisi
Hordeolum merupakan infeksi supuratif (akut) kelenjar kelopak mata,
biasanya disebabkan oleh Staphylococcus. Pembentukan nanah terdapat dalam
lumen kelenjar. Biasanya mengenai kelenjar Meibom, Zeis, Moll. Apabila yang
terkena kelenjar Meibom, pembengkakan agak besar, penonjolan ke arah
kelopak mata atau ke arah konjungtiva disebut hordeolum internum.
Hordeolum internum dapat terjadi dari kalazion yang mengalami infeksi.
Apabila yang terkena kelenjar kelenjar Zeis dan Moll, penonjolan ke arah kulit
palpebra disebut hordeolum eksternum.1,2,3,5,6

Gambar 4. Hordeolum Internum7

Gambar 5. Hordeolum Eksternum7


B. Etiologi

14
Hordeolum disebabkan oleh infeksi Staphylococcus dan Streptoccocus
pada kelenjar sebasea kelopak mata. Staphylococcus aureus merupakan agent
infeksi pada 90-95% kasus hordeolum. 1,3
Pasien sering memiliki riwayat lesi kelopak mata atau faktor risiko
untuk hordeolum, seperti disfungsi kelenjar meibom, blepharitis, atau rosacea
okuler. Hordeolum berulang telah dikaitkan dengan defisiensi imunoglobulin
M (IgM) selektif. Beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa kadar serum
lipid yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyumbatan kelenjar minyak
pada kelopak mata yang merupakan predisposisi hordeolum. 4

C. Epidemiologi
Hordeolum merupakan penyakit yang sering dalam praktek klinis tetapi
tidak ada data mengenai insidensi dan prevalensinya. Laki-laki dan perempuan
sama. Lebih sering pada usia dewasa dibanding anak-anak. Berhubungan
dengan peningkatan level androgen dan viskositas sebum, insidensi meibomitis
dan rosasea yang lebih tinggi pada usia dewasa. Tetapi hordeolum dapat terjadi
pada anak-anak. 4

D. Anatomi Kelopak Mata


Kelopak mata atau palpebra di bagian depan memiliki lapisan kulit yang
tipis, sedangkan di bagian belakang terdapat selaput lendir tarsus yang disebut
konjungtiva tarsal. Pada kelopak terdapat bagian-bagian berupa kelenjar-
kelenjar dan otot. Kelenjar yang terdapat pada kelopak mata di antaranya
adalah kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut,
dan kelenjar Meibom pada tarsus yang bermuara pada margo palpebra.
Sedangkan otot yang terdapat pada kelopak adalah M. Orbikularis Okuli
dan M. Levator Palpebra. Palpebra diperdarahi oleh Arteri Palpebra. Persarafan
sensorik kelopak mata atas berasal dari ramus frontal n. V, sedangkan kelopak
mata bawah dipersarafi oleh cabang ke II n. V.
Pada kelopak terdapat bagian-bagian:
1. Kelenjar :

15
 Kelenjar Sebasea
 Kelenjar Moll atau Kelenjar Keringat
 Kelenjar Zeis pada pangkal rambut, berhubungan dengan folikel rambut
dan juga menghasilkan sebum
 Kelenjar Meibom (Kelenjar Tarsalis) terdapat di dalam tarsus. Kelenjar
ini menghasilkan sebum (minyak).
2. Otot-otot Palpebra:
 M. Orbikularis Okuli
Berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di
bawah kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot
orbikularis okuli yang disebut sebagai M. Rioland. M. Orbikularis
berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. Fasialis.
 M. Levator Palpebra
Bererigo pada Anulus Foramen Orbita dan berinsersi pada Tarsus Atas
dengan sebagian menembus M. Orbikularis Okuli menuju kulit kelopak
bagian tengah. Otot ini dipersarafi oleh N. III yang berfungsi untuk
mengangkat kelopak mata atau membuka mata.
3. Di dalam kelopak mata terdapat :
 Tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di dalamnya atau
kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra
 Septum Orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita
merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan
 Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada
seluruh lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus (tediri atas jaringan
ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar
Meibom (40 buah di kelopak mata atas dan 20 buah di kelopak bawah)
 Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah A. Palpebrae
 Persarafan sensorik kelopak mata atas dapat dibedakan dari remus frontal
N. V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V (N. V2).

16
Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat dilihat
dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup
bulbus okuli. Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang mempunyai sel
goblet yang menghasilkan musin.
Gerakan palpebra :
1. Menutup: Kontraksi M. Orbikularis Okuli (N.VII) dan relaksasi M.
Levator Palpebra superior. M. Riolani menahan bagian belakang palpebra
terhadap dorongan bola mata.
2. Membuka: Kontraksi M. Levator Palpebra Superior (N.III). M. Muller
mempertahankan mata agar tetap terbuka.
3. Proses Berkedip (Blink): Refleks (didahului oleh stimuli) dan Spontan
(tidak didahului oleh stimuli). Kontraksi M. Orbikularis Okuli Pars
Palpebra. 1,2,3

E. Patofisiologi
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Staphylococcus
aureus yang akan menyebabkan inflamasi pada kelenjar kelopak mata.
Hordeolum externum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau
Moll. Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom yang
terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi
pada tarsus dan jaringan sekitarnya. Kedua tipe hordeolum dapat timbul dari
komplikasi blefaritis. Apabila infeksi pada kelenjar Meibom mengalami infeksi
sekunder dan inflamasi supuratif dapat menyebabkan komplikasi konjungtiva.
Secara histologi., hordeolum merupakan kumpulan leukosit polimorfonuklear
dan jaringan nekrotik (abses). 2,4

F. Manifestasi Klinis
1. Benjolan pada kelopak mata, rasa mengganjal, warna merah, mengkilat.
2. Nyeri tekan, saat menunduk rasa sakit bertambah.
3. Pseudoptosis, ptosis
4. Kadang-kadang mengakibatkan astigmatisme dan pandangan kabur. 2,4,5

17
Gejala utama pada hordeolum yaitu nyeri, bengkak, dan merah.
Intensitas nyeri menandakan hebatnya pembengkakan palpebral. Gejala dan
tanda yang lain pada hordeolum yaitu: eritema, terasa panas dan tidak nyaman,
sakit bila ditekan serta ada rasa yang mengganjal. Biasanya disertai dengan
adanya konjungtivitis yang menahun, kemunduran keadaan umum, acne
vulgaris. 1,2,4
Ada 2 stadium pada hordeolum, yaitu: stadium infiltrat yang ditandai
dengan kelopak mata bengkak, kemerahan, nyeri tekan dan keluar sedikit
kotoran. Stadium supuratif yang ditandai dengan adanya benjolan yang berisi
pus (core). 1,6

G. Penegakan Diagnosis
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis
yang muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan mata yang
sederhana. Karena kekhasan dari manifestasi klinis penyakit ini pemeriksaan
penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum. 4

H. Penatalaksanaan
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu
1-2 minggu. Penatalaksaan pada hordeolum dilakukan dengan terapi
medikamentosa pada stadium infiltrate dan pembedahan untuk fase supuratif
atau tidak sembuh dengan menggunakan terapi medikamentosa.
Untuk terapi medikamentosa dapat dilakukan dengan memberikan
kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk membantu
drainase, kemudian bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan
sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi.
menghindari menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan
infeksi yang lebih serius. Menghindari pemakaian makeup pada mata, karena
kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi, menghindari memakai lensa
kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea. 1,2,4

18
Terapi dengan menggunakan antibiotika topikal diindikasikan bila
dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada perbaikan, dan bila proses
peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum. Antibiotik topikal untuk
kasus hordeolum eksterna dan hordeolum interna ringan. Antibiotik sistemik
diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran
kelenjar limfe di preauricular, pada kasus hordeolum internum dengan kasus
yang sedang sampai berat. Analgetika dapat juga diberikan.
Pembedahan dilakukan apabila dengan terapi medikamentosa tidak
berespon dengan baik dan hordeolum tersebut sudah masuk dalam stadium
supuratif, maka prosedur pembedahan diperlukan untuk membuat drainase
pada hordeolum. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi
topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain
atau lidokain di daerah hordeolum. Hordeolum internum dibuat insisi pada
daerah fluktuasi pus, tegak lurus (vertikal) pada margo palpebral dan pada
hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar (horizontal) dengan margo palpebra.
1,2,6

Hordeolum internum yang mungkin berkembang menjadi kalazion


perlu diberikan steroid topikal, steroid intralesi, atau insisi dan kuretase.4

I. Prognosis
Walaupun hordeolum tidak berbahaya dan komplikasinya sangat
jarang, tetapi hordeolum sangat mudah kambuh. Hordeolum biasanya sembuh
sendiri atau pecah dalam beberapa hari sampai minggu. Dengan pengobatan
yang baik hordeolum cenderung sembuh dengan cepat dan tanpa komplikasi.
Prognosis baik apabila hordeolum tidak ditekan atau ditusuk karena infeksi
dapat menyebar ke jaringan sekitar. 4

J. Komplikasi
Komplikasi hordeolum adalah selulitis palpebra dan abses palpebra. 5
Selulitis palpebral merupakan radang jaringan ikat longgar palpebral di depan
septum orbita. Peradangan yang terkait dengan hordeolum dapat menyebar ke
jaringan yang berdekatan dan menyebabkan selulitis preseptal sekunder.4

19
Jika hordeolum tidak di terapi dapat berkembang menjadi kalazion.
Kalazion bisa mengakibatkan astigmatisme. Astigmatisma dapat terjadi jika
massa pada palpebra sudah mengubah kontur kornea.4 Astigmatisme adalah
kelainan refraksi sehingga sinar tidak bisa difokuskan pada satu titik. Hal ini
bisa disebabkan oleh kalazion yang massa nya besar, sehingga massa tersebut
menekan permukaan kornea yang mengakibatkan terjadinya perubahan
kelengkungan kornea. Kelengkungan kornea yang bertambah mengakibatkan
berkas cahaya yang masuk ke retina tidak difokuskan pada satu titik dengan
tajam tetapi pada 2 titik , sehingga bayangan yang dihasilkan tampak silindris.

BAB IV
PENUTUP

20
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi terhadap
pasien, pasien di diagnose dengan ODS Hordeolum Eksternum. Pasien
diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik topikal Cloramphenicol 2%
eye ointment ODS dioles 3 kali sehari dan analgetik antiinflamasi yaitu Na
Diclofenac 50mg diminum 3 kali sehari, selama 5 hari. Terapi non
medikamentosa berupa kompres hangat 4x sehari selama 15 menit.

B. Saran
Selalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh kulit di
sekitar mata dan bersihkan minyak yang berlebihan di tepi kelopak mata
secara perlahan. Menjaga kebersihan wajah, membiasakan mencuci tangan
sebelum menyentuh wajah, dan menjaga kebersihan peralatan kosmetik mata.
4,6

DAFTAR PUSTAKA

21
1. Ilyas S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman R, Simarwata M, Widodo PS
(eds). Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran.
Edisi ke-2. Jakarta: Sagung Seto. 2010. p: 57-60
2. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. Jakarta: FK Universitas
Indonesia. 2012. p:
3. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika, 2000.
4. Ehrenhaus MP, Sturridge KA. Hordeolum. 2014.
http://emedicine.medscape.com/article/1213080-overview#a5. Diakses 30
Oktober 2015
5. Mansjoer A dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta:
Media Aesculapius FK UI. 2007. p: 70
6. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: FK Universitas
Gadjah Mada. 2007. p: 31
7. Leonid SJ. Hordeolum and Chalazion Treatment. 2002.
www.optometry.co.uk. Diakses tanggal 19 Oktober 2015.

22