You are on page 1of 4

Sebagai negara tropis, Indonesia melimbah akan buah kelapa.

Indonesia merupakan salah satu Negara


produsen kelapa terbesar ke-2 di dunia setelah Filipina, sehingga untuk mendapatkan buah kelapa di
Indonesia tidaklah sulit. Salah satu olahan buah kelapa adalah dengan membuatnya menjadi minyak
kelapa, atau pada masyarakat jawa dikenal dengan minyak kletik. Pada masyarakat pedesaan, minyak
kelapa sering digunakan untuk menggoreng atau dikonsumsi oleh ibu hamil jelang persalinan agar
persalinannya lancar. Minyak kelapa juga digunakan untuk memijat, mengerik, campuran minyak telon,
dan melembutkan rambut.

Saat ini salah satu jenis minyak kelapa lainnya yang dapat dihasilkan dari buah kelapa adalah VCO (virgin
coconut oil) atau dikenal juga dengan sebutan minyak kelapa murni. Popularitas minyak ini sudah sangat
menjulang tinggi dikarenakan khasiatnya yang sangat baik untuk kesehatan dan pengobatan. VCO di
klaim memiliki segudang manfaat terhadap kesehatan seperti untuk obat penyakit yang berasal dari virus
seperti flu burung, HIV/AIDS, hepatitis, dan jenis virus lainnya. Selain itu, VCO juga dapat mengatasi
kegemukan, penyakit kulit, kanker prostat, jantung, darah tinggi, dan diabetes. VCO juga diklaim
merupakan minyak yang paling sehat dan aman dibandingkan dengan minyak goreng golongan minyak
sayur, seperti minyak jagung, minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, dan minyak kanola.

VCO mampu mendukung system kekebalan dengan membebaskan tubuh dari mikroorganisme
berbahaya. Jika organisme berbahaya yang memakan energi tubuh dapat ditekan jumlahnya, sistem
kekebalan bisa berfungsi lebih baik. Minyak kelapa murni dapat memberikan sumber energi cepat dan
merangsang metabolism, sehingga peningkatan energi ini mampu menyebabkan penyembuhan lebih
cepat. Hal ini dikarenakan semakin tinggi metabolisme tubuh maka efisiensi sistem kekebalannya
semakin bagus. Dengan demikian, semakin cepat tubuh bisa menyembuhkan dan memperbaiki diri.

Kemudian timbul pertanyaan, apa bedanya antara minyak biasa dengan virgin coconut oil? Jawabannya
adalah kandungan asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang terkandung dalam minyak tersebut. Selain
itu, proses produksinya juga berbeda dengan minyak biasa. Berbeda dengan minyak goreng lainnya,
minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh berantai sedang dan pendek yang tingggi, yaitu sekitar 92
% seperti asam laurat dan asam kaprat (caprilic acid). Sedangkan minyak jenis lainnya memiliki asam
lemak jenuh berantai panjang yang lebih banyak. Dalam sistem metabolisme, asam lemak jenuh berantai
panjang dapat menyebabkan resiko munculnya penyakit seperti obesitas, darah tinggi, penyempitan
pembuluh darah, serangan jantung, stroke, diabetes, dan kanker. Asam lemak jenuh berantai panjang
tidak dapat langsung diserap oleh tubuh atau usus, namun akan mengalami proses emulsi (menjadi
bentuk butiran) dengan bantuan enzim dari pankreas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan kemudian
membentuk senyawa baru yang disebut lipoprotein. Senyawa ini kemudian akan diangkut ke hati melalui
aliran darah untuk diubah menjadi energi, kolesterol, dan sisanya akan ditimbun sebagai jaringan lemak
tubuh. Penimbunan lipoprotein secara terus menerus dapat menyebabkan penyakit di dalam tubuh.
Kandungan asam laurat pada minyak kelapa sangat tinggi, yaitu mencapai 52 %. Dalam tubuh, asam
laurat diubah menjadi monolaurin yang mengandung antibiotik alami yang bekerja dengan cara merusak
membran yang membungkus sel-sel kuman, virus, mikroorganisme yang mayoritas disusun oleh asam
lemak. Selain itu, kandungan asam laurat dari minyak kelapa setara dengan Air Susu Ibu (ASI). Dalam
minyak kelapa murni terdapat MCFA (medium chain fatty acid) yang merupakan komponen asam lemak
berantai sedang yang memiliki banyak fungsi seperti mampu merangsang produksi insulin sehingga
proses metabolisme glukosa dapat berjalan normal, dan MCFA juga dapat mengubah protein menjadi
sumber energi. Konsumsi MCFA dapat meningkatkan efisiensi asam lemak esensial sebesar 100 %. Asam
laurat dan asam lemak jenuh berantai pendek seperti asam kaprat, kaprilat, dan miristat yang
terkandung dalam minyak kelapa ini berperan positif dalam proses pembakaran nutrisi makanan menjadi
energi, sebagai antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa.

Asam lemak jenuh rantai sedang pada minyak kelapa tidak menimbulkan penyakit. Hal ini dikarenakan
asam lemak jenuh rantai sedang mudah diserap tubuh atau usus karena ukuran molekulnya tidak terlalu
besar seperti asam lemak rantai panjang. Di dalam peredaran darah, lemak rantai sedang segera masuk
dalam metabolisme energi dan tidak ditimbun menjadi jaringan lemak atau kolesterol. Di dalam
pencernaan, lemak-lemak tidak membebani kerja pankreas seperti pada gula sehingga tidak
menyebabkan penyakit seperti diabetes. Yang menyebabkan tingginya resiko gangguan kardiovaskuler
adalah asam lemak jenuh rantai panjang (jumlah rantai karbon lebih dari 17) yang sumber utamanya
adalah lemak hewani.

Metode pembuatan VCO juga sedikit berbeda dengan pembuatan minyak kelapa biasa. Pada pembuatan
minyak kelapa biasa, santan langsung dipanaskan dengan suhu tinggi dengan waktu tertentu sehingga
diperoleh minyak kelapanya. Namun pada pembuatan VCO, tidak digunakan suhu yang tinggi untuk
merubah santan kelapa menjadi minyak VCO yang diinginkan.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh para peneliti, ternyata membuat VCO tidak terlalu sulit
dan tidak membutuhkan keahlian khusus serta alat-alat khusus. Namun, VCO yang dihasilkan akan
memberikan nilai ekomonis yang tinggi bagi petani kelapa. Prinsip pembuatan VCO adalah pemecahan
emulsi (campuran air dan minyak) yang terdapat dalam santan. Mekanisme pemecahan emulsi terjadi
melalui perusakan atau denaturasi protein sehingga yang tersisa hanya minyak kelapa dan ampasnya
(blondo). Protein yang terdapat dalam santan berbentuk lipoprotein dan berfungsi sebagai emulsifier.
Jika protein menjadi rusak/terdenaturasi maka fungsi protein tersebut sebagai emulsifier menjadi
menurun sehingga terjadi pemecahan emulsi. Proses selanjutnya adalah pemisahan minyak dari ampas
dengan cara meniriskan.
Hingga saat ini sudah banyak dikembangkan metode-metode untuk menghasilkan VCO yang baik. Berikut
adalah beberapa metode pembuatan VCO yang dapat dilakukan, yaitu :

cara basah atau disebut juga dengan cara tradisional atau sederhana. Metode ini dilakukan dengan cara
memanaskan santan kelapa secara terus menerus (rendering) pada suhu 95 °C hingga dihasilkan minyak
kelapa yang diinginkan. Selanjutnya air akan diuapkan hingga habis sehingga dihasilkan minyak kelapa
murni.

Metode Fermentasi. Pada metode ini, santan ditempatkan pada wadah yang bersih dan didiamkan
beberapa saat (1-2 jam) hingga terbentuk gumpalan krim yang disebut biang santan. Selain itu, dapat
juga dilakukan dengan memberikan perlakuan mekanis terhadap santan sehingga gumpalan krim santan
terpisah dari airnya. Kemudian, biang santan akan difermentasi selama 1-2 hari. Fermentasi dapat
dilakukan dengan menggunakan enzim secara langsung (mikroba penghasil enzim). Dapat pula dilakukan
dengan menambahkan ragi atau larutan cuka nira secukupnya. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
protein yang berikatan dengan minyak dan karbohidrat sehingga minyak dapat terpisah dengan baik.

Metode pancingan. Metode ini dilakukan dengan cara mencampur santan yang akan diubah menjadi
minyak dengan minyak pancingan (minyak kelapa murni hasil fermentasi) dengan perbandingan tertentu.
Pada prinsipnya, santan adalah campuran minyak, air, dan protein. Ikatan tersebut terbentuk karena
adanya protein yang mengelilingi molekul minyak. Dengan teknik pemancingan, molekul minyak dalam
santan ditarik oleh minyak umpan sampai akhirnya bersatu. Tarikan tersebut membuat air dan protein
yang sebelumnya terikat dengan molekul santan terlepas. Dengan demikian, metode pancingan ini
mengubah bentuk emulsi air-minyak menjadi minyak-minyak.

Penggunaan VCO secara teratur dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi kesehatan, terutama
berfungsi untuk membantu proses penyembuhan dan mengatasi berbagai penyakit. Namun, meskipun
tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya, konsumsi VCO tetap perlu diperhatikan. Hal ini
dilakukan agar kita mendapatkan khasiat yang maksimal. Pada dasarnya semakin banyak mengkonsumsi
kelapa maka efeknya bagi kesehatan menjadi lebih baik. Salah satu contoh pengggunaan VCO dalam
kesehatan dan penyembuhan adalah jika VCO digunakan sebagai suplemen. Beberapa ahli berpendapat
bahwa untuk orang dewasa perlu mengkonsumsi 3.5 sendok makan (±50 g) VCO setiap harinya. Akan
tetapi, jika digunakan untuk membantu menyembuhan penyakit beberapa ahli menyatakan bahwa
konsumsi VCO sampai sekurang-kurangnya 1 g/kg bobot badan masih aman. Sedangkan jika digunakan
sebagai obat luar, maka cukup dioleskan secara merata ke sekujur tubuh sebanyak 3 kali sehari.
Sumber :

Sutarmi dan Hartin Rozaline. 2005. Taklukkan Penyakit dengan VCO (Virgin Coconut Oil). Penebar
Swadaya. Jakarta.