You are on page 1of 21

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PERCOBAAN I
IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT

Disusun oleh :

Diah Rohaeni 10060316208


Dwina Syafira Arzi 10060316210
Dini Wahidah 10060316211
Shift/ Kelompok : G/ 4
Asisten : Adrian Permana., S. Farm., Apt.

Tanggal Praktikum : 11 April 2018


Tanggal Pengumpulan : 18 April 2018

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018 M/ 1439 H
PERCOBAAN I

“IDENTIFIKASI PROTEIN”

I. Tujuan Percobaan

Dapat memahami metode identifikasi karbohidrat dan dapat


mengidentifikasi karbohidrat golongan apa saja yang dapat ditentukan oleh
berbagai uji pada praktikum ini.

II. Teori Dasar


Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau keton suatu senyawa yang
menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolis. Nama karbohidrat berasal dari
kenyataan bahwa kebanyakan senyawa dari golongan ini mempunyai rumus
empiris, yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut adalah karbon “hidrat”, dan
memiliki nisbah karbon terhadap hidrogen dan terhadap oksigen sebagai 1:2:1.
Sebagai contoh, rumus D-glukosa adalah C6H12O6, yang juga dapat ditulis sebagai
(CH2O)6 atau C6(H2O)6. Walaupun banyak karbohidrat yang umum sesuai dengan
rumus empiris (CH2O)n, yang lain tidak memperlihatkan nisbah ini dan beberapa
yang lain lagi juga mengandung nitrogen, fosfor, atau sulfur. (Lehninger, 1982)

Karbohidrat yang berasal dari makanan, akan mengalami perubahan atau


metabolisme di dalam tubuh. Hasil metabolisme karbohidrat antara lain glukosa yang
terdapat dalam darah, sedangkan glikogen adalah karbohidrat yang disintesis dalam hati
dan digunakan oleh sel – sel pada jaringan otot sebagai sumber energi (Sumarlin, 2013).

Dalam tubuh manusia sebagian besar karbohidrat terdapat dalam tubuh berupa
glikogen yang tersimpan dalam hati dan jaringan otot. Glikogen dalam tubuh manusia
berfungsi sebagai cadangan energi. Melalui mekanisme kerja hormon dan aktivitas enzim,
glikogen diperoleh menjadi unit – unit glukosa ( Sumarlin, 2013).
Berdasarkan monomer yang menyususnnya, karbohidrat dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
a. Monosakarida: karbohidrat yang tersusun dari satu molekul berupa glukosa atau ketosa.
Contohnya: glukosa, fruktosa dan galaktosa.
b. Oligosakarida: karbohidrat yang tersusun atas dua sampai sepuluh satuan
monosakarida. Contohnya: sukrosa, disakarida dari glukosa dan fruktosa, atau laktosa
yang terdiri dari glukosa dan galaktosa.
c. Polisakarida: karbohidrat yang terusun atas lebih dari sepuluh satuan monosakarida
yang dapat berupa rantai lurus maupun bercabang. Contoh: karbohidrat kelompok ini
adalah amilum dari selulosa.

Pati banyak terdapat dalam tumbuh – tumbuhan terutama terdapat pada biji, buah
dan umbi. Di dalam sel, pati membentuk granula yang secara mikroskopis memiliki bentuk
yang berbeda untuk setiap sumber. Pati terbagi menjadi dua fraksi yang dapat dipisahkan
dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa (±20%) dengan struktur molekul linier,
sebaliknya fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (±80%) dengan struktur bercabang.
Dengan penambahan iodium, fraksi amilosa akan memberikan warna biru yang dibentuk
oleh amilosa dan iodium dari struktur amilosa sehingga warna biru menjadi hilang
(Sumarlin, 2013).
Dalam suasana asam dengan pemanasan, pati akan terhidrolisis menjadi senyawa
karbohidrat yang telah sederhana. Hidrolisis pati dengan asam klorida akan menghasilkan
molekul glukosa sedangkan hidrolisis pati oleh enzim akan menghasilkan maltosa yang
selanjutnya akan menghasilkan glukosa. Pengujian laju hidrolisis dapat dilakukan dengan
poenambahan iodium. Tahap pada saat larutan hasil hidrolisis sudah tidak menimbulkan
warna biru dengan iodium disebut titik akromatik (Sumarlin, 2013).

Karbohidrat yang ada di dalam suatu sampel dapat dideteksi dengan


berbagai uji diantaranya uji Molisch, uji Bennedict, uji Barfoed, uji Seliwanoff, uji
pati-iodium, uji osazon, uji moore, uji fermentasi, dan lain-lain. Namun pada
praktikum ini hanya dilakukan 5 uji, yaitu uji Molisch, uji Bennedict, uji Barfoed,
uji Seliwanoff, uji pati-iodium.

Uji Molisch adalah uji yang memiliki prinsip hidrolisis karbohidrat menjadi
monosakarida. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat. Uji ini ditandai dengan
warna ungu kemerah-merahan untuk reaksi positif, sedangkan warna hijau untuk
negatif. (Sumardjo, 2006)
Uji Benedict berdasarkan pada gula yang mengandung gugus aldehida atau
keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+ yang
mengendap sebagai Cu2O (kuprooksida) berwarna merah bata. Uji Barfoed
memiliki prinsip berupa mekanisme Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana
asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada
disakarida (biru) dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata.
(Sumardjo 2006)

Uji Seliwanoff adalah uji kimia yang dilakukan untuk membedakan gula
aldosa dan ketosa. Ketosa dibedakan dari aldosa via gugus fungsi keton/aldehida
gula tersebut. Jika gula tersebut mempunyai gugus keton, ia adalah ketosa.
Sebaliknya jika mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Uji ini didasarkan
pada fakta bahwa ketika dipanaskan ketosa lebih cepat terdehidrasi dari pada
aldosa.

Reagen uji Seliwanoff ini terdiri dari resorsinol dan asam klorida pekat:
 Asam reagen ini menghidrolisis polisakarida dan oligosakarida
menjadi gula sederhana.
 Ketosa yang terdehidrasi kemudian bereaksi dengan resorsinol,
menghasilkan zat berwarna merah tua. Aldosa dapat sedikit bereaksi
dan menghasilkan zat berwarna merah muda.
 Fruktosa dan sukrosa merupakan dua jenis gula yang memberikan
uji positif. Sukrosa menghasilkan uji positif karena ia adalah
disakarida yang terdiri dari fruktosa dan glukosa.

Uji pati-iodium berdasarkan pada penambahan iodium pada


suatu polisakarida yang menyebabkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna
spesifik. Amilum atau pati dengan iodium mengahasilkan warna biru, dekstrin
menghasilkan warna merah anggur, glikogen dan sebagian pati yang
terhidrolisis bereaksi dengan iodium membantuk warna merah coklat. (Sumardjo,
2006)
Dengan reaksi sebagai berikut:

III. Alat dan Bahan

Alat Bahan

a. Tabung reaksi a. Larutan 0,1 M glukosa


b. Penangas air b. Larutan 0,1 M arabinosa
c. Batang pengaduk c. Larutan 0,1 M galaktosa
d. Pipet tetes d. Larutan 0,1 M fruktosa
e. Gelas ukur e. Larutan 0,1 M sukrosa
f. Penjepit tabung f. Larutan 0,1 M maltosa
g. Rak tabung g. Larutan 0,1 M laktosa
h. Stopwatch h. Larutan 1% pati
i. Pereaksi Molish
j. H2SO4 pekat
k. Reagen benedict
l. Reagen bradfoed segar
m. Pereaksi seliwanoff
n. Larutan pati- amilum
o. Air (H2O)
p. Hidroklorida (HCl)
q. Natrium hidroksida
(NaOH)
r. Larutan Iodium
IV. Prosedur Percobaan

A. Uji Molisch

Disiapkan 8 tabung reaksi, lalu kedalamnya dimasukan 1 mL larutan


karbohidrat (monosakarida, disakarida, dan polisakarida) kemudian ditambahkan 3
tetes pereaksi molisch pada tiap tabung reaksi, dikocok pelan-pelan. Ke dalam
tabung tersebut ditambahkan 1 mL asam sulfat pekat melalui dinding dalam tabung
yang dimiringkan.

B. Uji Benedict

3 tetes larutan karbohidrat ditambahkan pada tabung reaksi yang berisi 1 mL


reagent Benedict disimpan di dalam penangas air mendidih selama 3 menit
kemudian dibiarkan dingin dan diperhatikan perubahan warna dan endapan
(endapan hijau, kuning atau merah menunjukan reaksi positif.

C. Uji Barfoed

1 mL Larutan karbohidrat ditambahkan pada tabung reaksi yang berisi mL


reagen Barfoed segar, disimpan di dalam penangas air mendidih dan direbus selama
1 menit atau lebih jika perlu lebih lama lagi hingga reduksi terjadi kemudian
dibiarkan dingin pada air mengalir selama 2 menit.

D. Uji Seliwanof

Disiapkan 2 tabung reaksi, pada tabung 1 ditambahkan 3 tetes fruktosa ke


dalam 1 mL pereaksi Seliwanoff, pada tabung 2 ditambahkan 3 tetes sukrosa ke
dalam 1 mL pereaksi Seliwanoff kedua tabung tersebut disimpan di dalam penangas
air mendidih selama 60 detik lalu diperhatikan warna yang terjadi, terjadinya
perubahan warna merah dan endapan menunjukan reaksi positif untuk ketosa, bila
endapan dilarutkan dalam alkohol terjadi larutan warna merah.

E. Uji Pati- Iodium


3 mL larutan pati 1% ke dalam 3 tabung reaksi ke dalam tabung pertama
ditambahkan 2 tetes air, ke dalam tabung kedua ditambahkan 2 tetes 6 N HCL, ke
dalam tabung ke tiga ditambahkan 2 tetes NaOH 6 N dicampur kemudian
ditambahkan satu tetes 0,01 M larutan iodium pada tiap tabung reaksi dipanaskan
tabung hingga timbul warna dan catat perubahan warna yang terjadi diamati juga 3
mL larutan glukosa yang ditambahkan satu tetes 0,01 M larutan iodium.

V. Data Pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum uji molisch, uji Benedict,


Barfoed, Seliwanoff, dan Uji Pati Iodium, maka dapat dihasilkan dalam bentuk
tabel dibawah ini:
5.1 Uji Molisch

5.1.1. Tabel Hasil Pengamatan Uji Molisch


Karbohidrat Pereaksi Hasil Pengamatan Reaksi
Setelah Ditambahkan Positif
Pereaksi H2SO4
Glukosa Reagen Ungu pada bidang batas +
Molisch
Arabinosa Reagen Ungu pada bidang batas +
Molisch
Galaktosa Reagen Tidak berwarna ungu -
Molisch pada bidang batas

Fruktosa Reagen Ungu pada bidang batas +


Molisch
Sukrosa Reagen Ungu pada bidang batas +
Molisch
Maltosa Reagen Ungu pada bidang batas +
Molisch
Laktosa Reagen Tidak berwarna ungu -
Molisch pada bidang batas
Pati Reagen Tidak berwarna ungu -
Molisch pada bidang batas
Keterangan : (+) menghasilkan lapisan cincin berwarna ungu
Glukosa Arabinosa Galaktosa Fruktosa Sukrosa Maltosa Lakto Pati
-sa

Gambar 5.1.1. Setelah ditambahkan pereaksi Molisch

Gambar 5.1.2. Setelah ditambahkan larutan H2SO4


5.2 Uji Benedict

5.2.1 Tabel hasil pengamatan Uji Benedict


Warna Warna
Larutan
Pereaksi sebelum setelah Keterangan
Karbohidrat
pemanasan pemanasan
Coklat pada
bagian atas
Sukrosa Benedict Biru dan larutan Reaksi (+)
biru pada
bagian bawah
Hijau
Laktosa Benedict Biru Reaksi (+)
kecoklatan
Hijau
Galaktosa Benedic Biru Reaksi (+)
kecoklatan

Sukrosa Laktosa Galaktosa


Gambar 5.2.1 Uji benedict sebelum pemanasan

Sukrosa Laktosa Galaktosa

Gambar 5.2.2 Uji benedict setelah pemanasan


5.3. Uji Bradford

5.3.1. Tabel hasil pengamatan Uji Bradfoed

Karbohidrat Pereaksi Perubahan Setelah Reaksi


Warna Saat di Didinginkan Positif
Campurkan
Fruktosa Reagen Biru muda ada +
Barfoed endapan
berwarna
merah bata

Sukrosa Reagen Biru muda Ada +


Barfoed endapan
berwarna
merah
sedikit

Laktosa Reagen Biru muda Warna -


Barfoed tetap, tidak
ada endapan
berwarna
merah
Fruktosa Laktosa Sukrosa

Gambar 5.4.1 Sebelum dipanaskan

Laktosa Laktosa Sukrosa

Gambar 5.4.2 Sesudah dipanaskan


5.4. Uji Seliwanof

5.4.1 Tabel hasil pengamatan Uji Seliwanoff

Warna
Larutan Warna setelah
Pereaksi sebelum
Karbohidrat pemanasan
pemanasan
Fruktosa Seliwanoff Bening Merah muda

Sukrosa Seliwanoff Bening Merah muda

Fruktosa Sukrosa
Gambar 5.4.1 Sebelum pemanasan

Fruktosa Sukrosa
Gambar 5.4.1 Sesudah pemanasan
5.5. Uji Pati- Iodium

5.5.1. Tabel hasil pengamatan Uji Pati Iodium


Warna
Warna setelah
Larutan Pereaksi sebelum
pemanasan
pemanasan
Sedikit endapan
Air Iodium Ungu muda
merah bata
Agak banyak
Ungu agak
HCL 6 N Iodium endapan merah
pekat
bata
NaOH 6 N Iodium Bening Bening

Pembanding Iodium Bening Bening

Air HCL 6N NaOH 6N


Gamba 5.5.1 Sebelum pemanasan

Air HCL 6N
NaOH 6N

Gambar 5.5.2. Setelah pemanasan

VI. Pembahasan

a. Uji Molisch

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa


semua tabung kecuali pada tabung 4,7,8 (fruktosa, laktosa, amilum-pati) diduga
merupakan karbohidrat. Hal tersebut ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna
ungu. Reaksi yang berlangsung sebagai berikut:i uji molisch ini yaitu bahan yang
mengandung monosakarida bila direaksikan dengan H2SO4. Reaksinya sebagai
berikut

Adapun prinsip dari uji molisch ini yaitu bahan yang mengandung
monosakarida bila direksikan dengan H2SO4 pekat akan terhidrolisis membentuk
furfural. Furfural kemudian akan membentuk persenyawaan naftol yang ditandai
dengan terbentuknya cincin berwarna ungu.

Pada percobaan ini asam sulfat pekat menghidrolisis ikatan glikosidik


(ikatan yang menghubungkan monosakarida satu dengan monosakarida lain)
menghasilkan monosakarida yang selanjutnya didehidrasi menjadi furfural dan
turunannya (Sumadjo, Damin. 2009: 235). Furfural tersebut kemudian ditambah
dengan α-naphtol akan terkondensasi dan membentuk senyawa komplekas
berwarna ungu. Apabila pemberian asam sulfat pada larutan uji yang telah diberi
melalui dinding tabung, maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin furfural
pada batas antara larutan uji dengan asam sulfat. Hal itu menunjukkan bahwa
larutan uji tersebut mengandung karbohidrat.

Pada percobaan uji Molisch dengan menguji kedelapan larutan karbohidrat


yang telah ditetesi pereaksi pereaksi molisch selanjutnya dihidrolisis dengan asam
sulfat pekat (H2SO4) maka terjadi pemutusan ikatan glikosidik dari rantai
karbohidrat polisakarida menjadi disakarida dan monosakarida. Hal ini terlihat jelas
dengan adanya perubahan warna pada kedelapan tabung reaksi yang berisikan
larutan karbohidrat tersebut. Larutan yang bereaksi positif terbentuk cincin
berwarna ungu pada saat ditetesi asam sulfat pekat.

Uji ini bertujuan untuk adanya gugus karbohidrat sehingga menurut teori
uji ini akan memberikan hasil positif untuk semua jenis karbohidrat baik mono -,
di-, dan polisakarida. Berdasarkan hasil pngujian karbohidrat dengan uji molisch,
pada tabung 4 (fruktosa), tabung 7 (laktosa) dan tabung 8 (amilum- pati)
menunjukkan hasil negatif terhadap uji molisch ini, pada percobaan tidak terbentuk
cincin yang berwarna ungu, yang terbentuk adalah endapan dengan larutan yang
berwarna coklat keruh. Kemungkinan hal ini terjadi karena perbandingan molisch
dan asam pekat yang dimasukkan dalam tabung kurang tepat sehingga
mengakibatkan reaksi tidak berlangsung dan tidak terjadi gejala-gejala positif.

b. Uji Benedict
Uji benedict bertujuan untuk mengidentifikasi gula pereduksi. Uji ini
merupakan uji secara umum dilakukan untuk menganalisis karbohidrat yang
memiliki gugus aldehid/keton bebas. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+
menjadi Cu+ oleh gugus aldehid/keton bebas dalam suasana alkalis biasanya
ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya
pengendapan CuCO3 uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan hijau, merah,
orange, atau merah bata serta adanya endapan. Pada percobaan kali ini dengan
menguji larutan karbohidrat (sukrosa, laktosa, dan galaktosa) ditambahkan larutan
benedict, larutan karbohidrat yang beraksi adalah larutan laktosa, galaktosa dan
sedikit pada sukrosa. Reaksi yang diberikan oleh larutan laktosa dan galaktosa
menunjukan reaksi positif karena ditunjukan dari perubahan warna yang terjadi,
pada laktosa terjadi perubahan warna biru menjadi hijau kecoklatan, pada galaktosa
terjadi perubahan warna biru menjadi hijau kecoklatan, pada larutan sukrosa terjadi
sedikit perubahan warna coklat diatasnya dan larutan yang dibawahnya tetap
berwana biru seharusnya sukrosa tidak mengalami perubahan warna karena sukrosa
tidak memiliki gugus aldehid/keton sehingga tidak dapat mereduksi larutan
benedict, hal ini mungkin terjadi karena terkontaminasinya larutan sukrosa dengan
larutan karbohidrat yang sebelumnya terdapat di dalam tabung reaksi.

c. Uji Barfoed
Uji barfoed ini bertujuan untuk membedakan antara monosakarida dan
disakarida. Pereaksi barfoed bersifat asam lemah dan hanya direduksi oleh
monosakarida. Ion Cu2+ (dari pereaksi barfoed) dalam suasana asam akan direduksi
lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan
endapan Cu2O berwarna merah bata. Disakarida (sukrosa dan laktosa) sebenarnya
dapat bereaksi. Dimana disakarida tersebut akan dapat dihidrolisis sehingga
bereaksi positif tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi dengan pemanasan yang
lebih lama. Jika disakarida tersebut lebih lama pemanasannya, maka kedua larutan
disakarida tersebut juga akan dapat bereaksi. Dengan kata lain, untuk membedakan
monosakarida, disakarida, polisakarida tergantung berapa lama pemanasan. Setelah
dilakukan pemanasan semua bahan tidak bereaksi secara bersamaan. Artinya hal ini
disebabkan karena monosakarida dapat mereduksi lebih cepat daripada disakarida
dan polisakrida. Hal ini yang kemudian menunjukkan bahwa pereaksi barfoed
digunakan untuk membedakan antara monosakarida, disakarida dan polisakarida.
Dimana yang cepat mereduksi atau bereaksi adalah monosakarida. Sementara yang
membutuhkan waktu lama dalam pemanasannya sampai bisa bereaksi adalah
disakarida. Pada percobaan ini dengan menggunakan 1 mL reagen barfoed yang
ditambahkan masing-masing 1 ml larutan karbohidrat (glukosa, sukrosa, fruktosa).
Dimana setelah dipanaskan selama 1 menit, pada larutan karbohidrat (fruktosa dan
sukrosa) menghasilkan hasil yang positif sedangkan pada larutan karbohidrat
laktosa menghasilkan hasil yang negatif.

Pada uji bradfoed pada fruktosa dari hasil percobaan terbentuk endapan
berwarna merah bata. Secara teori fruktosa merupakan gula pereduksi memiliki
gugus aldehid, dimana gugus aldehid ini akan mereduksi ion Cu menjadi Cu2O yang
berupa endapan merah bata. Karena fruktosa ini merupakan monosakarida dan
strukturnya yang sederhana sehingga bila diuji dengan pereaksi barfoed langsung
akan bereaksi membentuk endapan Cu2O. Pada uji barfoed ini dilakukan
pemanasan pada penangas dengan tujuan untuk mempercepat dan
menyempurnakan reaksi, sehingga reaksi berjalan cepat dan sempurna.
Berdasarkan percobaan, larutan menunjukan hasil yang positif dimana terbentuk
endapan berwarna merah bata.
Pada uji bradfoed pada laktosa dari hasil percobaan tidak terbentuk endapan
berwarna merah bata. Secara teori laktosa merupakan gula pereduksi memiliki
gugus aldehid, dimana gugus aldehid ini akan mereduksi ion Cu menjadi Cu2O yang
berupa endapan merah bata. Karena laktosa ini merupakan disakarida sehingga bila
diuji dengan pereaksi barfoed langsung akan bereaksi membentuk endapan Cu2O.
Berdasarkan percobaan, larutan menunjukan hasil yang negatif dimana tidak
terbentuk endapan berwarna merah bata.

Pada uji barfoed pada sukrosa menunjukkan endapan berwarna merah bata
sedikit. Menurut literatur, sukrosa tidak memiliki gula pereduksi. Pada sukrosa
walupun tersusun oleh glukosa dan fruktosa, namun atom karbon anomerik
keduanya saling terikat, sehingga pada setiap unit monosakarida tidak lagi terdapat
gugus aldehid atau keton yang dapat bermutarotasi menjadi rantai terbuka. Hal ini
menyebabkan sukrosa tak dapat mereduksi ion Cu menjadi Cu2O. Berdasarkan
percobaan uji barfoed pada sukrosa menunjukan hasil positif. Seharusnya sukrosa
memang tidak dapat mereduksi pereaksi barfoed. Hal ini mungkin terjadi karena
terkontaminasinya larutan sukrosa dengan larutan karbohidrat yang sebelumnya
terdapat di dalam tabung reaksi.

d. Uji Seliwanoff
Uji seliwanoff bertujuan untuk membuktikan adanya ketosa (fruktosa)
reaksi seliwanoff berdasarkan pada konversi fruktosa menjadi asam levulinat dan
hidroksimetilfurfural oleh asam hidroklorida panas, yang selanjutnya terjadi
kondensasi hidroksimetilfurfural dengan resornisol yang menghasilkan suatu
senyawa yang merah bata. Pada percobaan uji seliwanoff de ngan menggunakan 3
tetes fruktosa dalam 1 mL pereaksi seliwanoff dan 3 tetes sukrosa dalam 1 mL
pereaksi seliwanoff pada fruktosa dan sukrosa terjadi perubahan warna dari bening
menjadi merah muda hal ini menunjukan reaksi reaksi positif dengan uji seliwanoff
karena fruktosa dan sukrosa memiliki gugus keton, jika karbohidrat yang
mengandung gugus keton direaksikan dengan seliwanoff akan menunjukan suatu
senyawa yang berwarna merah sebagai reaksi positifnya (Sumardjo, Damin 2009:
238).

e. Uji Pati- Iodium


Percobaan terakhir dalam uji karbohidrat adalah uji Pati-Iodium percobaan
ini bertujuan untuk memisahkan antara polisakarida, monosakarida, dan disakarida.
Iod memberikan kompleks dengan polisakarida. Amilum memberikan warna biru
pada iod, sedangkan glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian
(eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium. Pada
percobaan ini digunakan air, HCL 6N, NaOH 6N yang pada seluruh tabung
ditambahkan 3 mL larutan pati dan ditambahkan 1 tetes 0,01 M larutan Iodium,
setelah ditambahkan larutan Iodium terjadi perubahan warna, pada air berubah
warna menjadi ungu muda, HCl 6N berwana ungu agak pekat, NaOH 6N berwarna
bening, dan dan glukosa+Iodin sebagai pembanding berwarna bening kemudian
dipanaskan terjadi perubahan, pada air terdapat sedikit endapan merah bata yang
menunjukan bahwa adanya kandungan karbohidrat yang terdapat golongan
polisakarida, pada HCl 6N terdapat banyak endapan merah bata hal ini
membuktikan adanya kandungan karbohidrat yang terdapat golongan polisakarida
di dalam amilum HCl sedangkan NaOH 6N tetap berwarna bening hal ini
membuktikan bahwa tidak terdapat kandungan polisakarida di dalam amilum
NaOH.

VII. Kesimpulan
uji molish larutan yang mengandung karbohidrat terdapat cincin
furfural berwarna ungu setelah ditambahkan dengan pereaksi molish, pada
uji molish seluruh tabung terdapat cincin furfural berwarna ungu setelah
ditambahkan pereaksi molish hal ini menunjukan seluruh larutan pada
yabung reaksi mengandung karbohidrat.
Pada uji benedict yang mengandung gula pereduksi adalah larutan
laktosa dan galaktosa hal ini dapat ditunjukan dengan perubahan warna
menjadi hijau setelah ditambahkan pereaksi benedict.
Uji barfoed?
Uji seliwanoff dapat mengidentifikasi karbohidrat yang mengandung
gugus keton (ketosa) yang ditandai dengan terjadinya perubahan larutan
menjadi merah setelah dipanaskan dan ditambahkan pereaksi seliwanoff,
pada percobaan ini yang mengalami perubahan warna menjadi merah muda
adalah fruktosa dan sukrosa karena memiliki gugus keton.
Uji pati-Iodium pada air dan HCL terkandung adanya glikogen karena
terjadi perubahan warna menjadi merah bata setelah ditambahkan pereaksi
Iodine, serta terjadinya perubahan warna pada saat pemanasan diakibatkan
karena hidrolisis pati amilum menjadi senyawa yang lebih sederhana.

DAFTAR PUSTAKA
Lehninger, A.1998. Dasar – Dasar Biokimia. Maggy Thenawidjaya; Penerjemah.
Jakarta: Erlangga

Poedjaji, Anna dan Supriyanti, F.M Titin.2009. Dasar – Dasar Biokimia. Jakrta: Erlangga

Sumarlin, La Ode.2013. Biokimia: Dasar – Dasar Biomolekul dan Konsep


Metabolisme. Tangerang Selatan: Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumardjo.2006.Pengantar Kimia.Jakarta: EGC.


Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa Kedokteran dan Program Srata I Fakultas Bioeksata. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.