You are on page 1of 20

1

Kritik Sosial terhadap Situasi Pascakemerdekaan di Indonesia dalam Novel


Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer

Siti Sarah Ismiani


1112013000056
PBSI/ UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Abstrak: Tulisan ini memperlihatkan kritik sosial terhadap situasi


pascakemerdekaan di Indonesia dalam novel Bukan Pasar Malam. Metode yang
digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis
terdapat tiga kritik sosial yang terdapat dalam teks. 1) kritik sosial terhadap
kondisi ekonomi, 2) kritik sosial terhadap kondisi politik, dan 3) kritik sosial
terhadap diskriminasi masyarakat. Kritik sosial teresbut timbul akibat gagalnya
revolusi pascakemerdekaan Indonesia (1950-an), di mana para elit politik sibuk
dengan kursinya atau jabatannya sehingga rakyat Indonesia merasa kesulitan yang
disebabkan oleh beratnya perekonomian dan gangguan keamanan, hingga muncul
beberapa gugatan serta kritikan atas situasi yang terjadi.

Kata Kunci: Kritik sosial, Bukan Pasar Malam, Ekonomi, Politik, diskriminasi.
2

Pendahuluan

Suatu karya sastra tercipta dari pemikiran imajinatif pengarang yang


berangkat dari kehidupan sosial masyarakat. Melalui karya sastra seorang
pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri melihat,
merasakan, bahkan terlibat di dalamnya. Dalam hal ini pengarang memegang
peranan penting, karena dalam proses penciptaannya pengarang tentu melakukan
pengamatan yang seksama terhadap apa yang ada di sekelilingnya sebelum
memberikan tanggapan atas peristiwa yang terjadi melalui karya yang diciptakan.
Sebuah karya sastra lahir dikarenakan ada sebuah keinginan dari
pengarang untuk mengungkapkan keberadaannya sebagai manusia yang memiliki
ide, gagasan, dan realitas sosial budaya pengarang dan kemudian menggunakan
bahasa sebagai media penyampaiannya. Ide ataupun gagasan yang disampaikan
oleh pengarang tersebut tentu melibatkan unsur kreativitas manusia, sehingga
melahirkan suatu kreasi yang indah dan menarik, baik untuk dinikmati sebagai
sebuah karya yang mencerminkan kehidupan maupun karya sastra sebagai seni.
Sebagai sebuah cerminan dari kehidupan, dalam karya sastra seringkali muncul
nilai-nilai mana yang patut dan nilai-nilai yang tidak patut dalam masyarakat
sehingga muncullah kritik sosial.
Kritik sosial muncul dalam karya sastra akibat adanya kegelisahan dari
pengarang terhadap realita sosial yang tidak sesuai dengan tujuan dan harapan
masyarakat. Karya sastra dianggap sebagai wadah yang paling ampuh dalam
menyampaikan kritik sosial. Dalam hal ini, sering kita sebagai pembaca
menemukan adanya persoalan-persoalan sosial yang terkait dengan kehidupan
bermasyarakat, baik dalam cerpen, novel, naskah drama, maupun puisi.
Salah satu karya sastra yang di dalamnya memuat kritik sosial, terutama
menganai kondisi pascakemerdekaan Indonesia yakni novel Bukan Pasar Malam
karya Pramoedya Ananta Toer (1951). Sekilas novel tersebut hanyalah merupakan
perjalanan seorang anak revolusi yang pulang ke kampung halamannya di Blora
dikarenakan ayahnya sakit. Selama perjalanan tersebutlah terungkap gejolak
3

emosi dari tokoh yang menyinggung bobroknya demokrasi dan gagalnya revolusi
pascakemerdekaan Indonesia.
Berbicara sastra biasanya akan selalu ada persoalan: apakah lingkungan
harus dikenal untuk memahami suatu karya? Atau lupakan lingkungan dan masuk
ke dalam karya seorang penulis. Dhakidae mengungkapkan bahwa A Teeuw tidak
mempedulikan debat itu, karena untuk memahami Pramoedya Ananta Toer
ternyata lingkungan sama penting seperti karyanya, dan karyanya sama
pentingnya seperti orangnya; karyanya adalah hasil pengolahan lingkungan;
orangnya adalah produk lingkungan—ekonomi-politik: lingkungan, kaya dan dan
manusia-penulis seolah-olah lumer jadi satu dalam diri Pramoedya Ananta Toer.1
Karya-karya Pram tak ubahnya seperti sebuah rekaman jejak
kehidupannya yang senantiasa diiringi juga oleh jejak relovolusi Indonesia. Pram
merupakan seorang sastrawan yang delapan belas tahun hidupnya dihabiskan
dalam dunia paling kelam di jeruji besi. Secara bergiliran dicicipinya nyinyir terali
besi tiga rezim kekuasaan; tiga tahun dalam tawanan Belanda, setahun (1960)
dalam dalam pernjara Orla dan empat tahun yang melelahkan dala penjara Orba.2
Dari penjara inilah karya-karyanya dikenal sampai ke luar negeri. Pram memang
ditakdirkan untuk menulis, bahkan di penjara di mana ada larangan untuk menulis
Pram menggunakan segala cara untuk bisa menulis. Terlepas dari kontroversi
dirinya dan karya-karyanya yang pernah diterbitkan, Pram merupakan seorang
sastrawan yang sangat jeli memandang sastra dari segi kemanusiaan yang berisi
pembelaan, gugatan, dan kritik pedas terhadap realita sosial yang terjadi.
Pram memang merupakan seorang yang humanis dan nasionalis. Ia sangat
cinta kepada kemanusiaan dan kepada bangsanya. Karya-karyanya selalu
membahas tentang penderitaan anak-anak bangsa karena penjajahan dan
penindasan.3 Pram berpendapat bahwa novel adalah bentuk ideal untuk
mengungkapkan aspek-aspek revolusioner mengenai kontradiksi dalam

1
Daniel Dhakidae, “Pramoedya Ananta Toer, Pujangga Penuh Paradoks”, dalam harian
Kompas No. 317, Senin, 23 Mei 1994
2
Eka Kurniawan, “Buku, Perang, dan Penjara”, dalam harian Merdeka No. 2030, 22 Juni
1956
3
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Sastra Indonesia, (Bandung: Titian Ilmu, 2004), h.630-641
4

masyarakat. Dinamisme kekuatan revolusioner dapat direkam melalui narasi


novel, karena dalam gaya pengungkapan narasinya, sebuah novel berada di antara
epik kuno dan jurnalisme modern. Dengan begitu novel dapat merangkum sisi
kontemporer dan tradisional masyarakat.4 Oleh karena itu, tidak mengherankan
jika karya-karya Pram gencar mengungkapkan tentang nilai-nilai kemanusiaan
yang telah luluh lantah, sehingga banyak bermunculan kaum yang lemah, kalah,
dan tertindas. Semua kegelisahan Pram yang demikian ia tuangkan juga dalam
novelnya yang berjudul Bukan Pasar Malam (1951).
Sebagaimana kita ketahui, Pram merupakan anggota Lekra yang beraliran
realisme sosialis, yaitu suatu aliran kesenian yang semangatnya adalah membela
kepentingan rakyat. Satu ciri khas dari realisme sosialis yakni menempatkan seni
sebagai media tumbuhnya kesadaran. Novel Bukan Pasar Malam ditulis sebagai
gugatan sosial sekaligus pembelaannya terhadap nasib pahlawan atau pejuang
kemerdekaan yang tidak mendapat perhatian khusus dari negara.
Realisme sosialis Pramoedya tidak semata-mata dibagun melalui konsepsi
teoritias yang diadopsi oleh pemikiran orang lain. Pramoedya sampai pada suatu
kesadaran realisme sosialis yang berpihak pada perjuangan progresif, lebih
banyak merupakan kontemplasi perjalanan hidupnya yang hampir seluruh
ceritanya tercitrakan dalam karya-karya sastra maupun tulisan-tulisan non-
fiksinya. Di mana-mana dalam kurun waktu yang berlainan, ia melihat
ketidakadilan yang meluluh-lantakkan nilai-nilai kemanusiaan, yang diyakininya
begitu merajalela. Dalam novel Bukan Pasar Malam, Pram menuangkan bentuk-
bentuk ketidakadilan yang ditemuinya pada masa revolusi.5
Tulisan ini diharapkan mampu memberikan gambaran bagaimana kritik
sosial yang disampaikan oleh pengarang melalui tokoh-tokoh di dalam novel
Bukan Pasar Malam (1951) mengenai kondisi Indonesia pascakemerdekaan.
Dengan melihat kritik sosial yang tergambar di dalam novel tersebut, penulis
mengharapkan pembaca mampu menangkap dan memahami bagaimana kondisi

4
Savitri Scherer, Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi, (Jakarta: Komunias
Bambu, 2012), h. 133
5
Eka Kurniawan, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. (Yogyakarta:
Yayasan Aksara Indonesia, 1999), h. 172
5

sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pascakemerdekaan dan gagalnya revolusi


setelah naiknya Sang Merah Putih. Dengan demikian, sastra bisa menjadi sesuatu
yang memberikan pelajaran, bukan hanya memberikan hiburan.
Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan, persoalan yang akan
dikaji mencakup kritik sosial terhadap situasi pascakemerdekaan dalam novel
Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Persoalan tersebut
dirumuskan dalam pertanyaan bagaimana kritik sosial terhadap situasi
pascakemerdekaan di Indonesia dalam novel Bukan Pasar Malam?

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam menelaah novel ini adalah deskriptif


kualitatif. Metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data alamiah, data
hubungannya dengan konteks keberadaannya. Hal tersebut yang menjadikan
metode kualitatif dianggap sebagai multimetode sebab penelitian pada gilirannya
melibatkan sejumlah besar gejala sosial yang relevan. Dalam penelitian karya
sastra, akan dilibatkan pengarang, lingkungan sosial di mana pengarang berada,
termasuk unsur-unsur kebudayaan pada umumnya. Objek penelitian metode
kualitatif merupakan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang
mendorong timbulnya gejala sosial. Penelitian mempertahankan hakikat nilai-nilai
sumber data dalam ilmu sastra adalah karya, naskah, data penelitiannya sebagai
data formal adalah kata, kalimat dan wacana.6
Sumber data primer yang digunakan ialah novel Bukan Pasar Malam
karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada
2013. Sedangkan bahan sekunder yang menunjang yakni berupa jurnal, surat
kabar, artikel, dan buku-buku lain terkait tulisan ini.
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra, untuk
memusatkan fokus penelitian pada hubungan novel yang penulis jadikan sebagai
objek penelitian, terhadap masyarakat di sekitarnya. Untuk menemukan hal

6
Nyoman Kutha Ratna, S. U., Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari
Strukturalisme hingga Postrukturalisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 46-47
6

tersebut penulis fokus pada peristiwa-peristiwa sosial yang dikritik oleh penulis
melalui dialog tokoh.

Landasan Teori

Konsep penting yang perlu dipahami untuk membahas persoalan kritik


sosial dalam suatu karya ialah memahami bagaimana hakikat sosiologi sastra.
Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar
kata sosio/socius berarti masyarakat dan logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi
berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu
pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia
dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas
(Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan intruksi.
Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar,
buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Perbedaan antara sastra dan
sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan ciri-ciri, sebagaimana
ditunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan, fiksi dan fakta.7
Nyoman Kutha Ratna berpendapat bahwa ada sejumlah definisi mengenai
sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan, dalam rangka menemukan
objektivitas hubunga antara karya sastra dengan masyarakat, yakni: (1)
pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek
kemasyarakatannya, (2) pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan
aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya, (3) pemahaman
terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang
melatarbelakanginya, (4) sosiologi sastra adalah hubungan dwiarah (dialektik)
antara sastra dengan masyarakat, (5) sosiologi sastra berusaha menemukan
kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.8
Wellek dan Warren manyatakan pendapatnya mengenai hubungan sastra
dan masyarakat (sosiologi) biasanya bertolak dari frase De Bonald bahwa “sastra

7
Nyoman Kutha Ratna, Paradigma Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2009), h. 1-2
8
Ibid, h. 2-3
7

adalah ungkapan perasaan masyarakat” (literature is an expression of society).


Telaah mengenai hubungan sastra dan masyarakat memiliki tiga klasifikasi, yakni:
(1) sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang
berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial,
status dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di
luar karya sastra, (2) isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat di
dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial, (3)
permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra. Sejauh mana sastra
ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan, dan perkembangan sosial,
adalah pertanyaan yang termasuk dalam ketiga jenis permasalahan tersebut:
sosiologi pengarang, isi karya sastra yang bersifat sosial, dan dampak sastra
terhadap masyarakat.9
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
sosiologi sastra merupakan telaah sastra yang memperhatikan aspek-aspek sosial
kemasyarakatan baik di dalam maupun di luar karya sastra. Sosilogi sastra
memperhatikan aspek kemasyarakatan yang terkandung dan/atau mempelajari
hubungan karya sastra tersebut dengan masyarakat yang melatarbelakanginya.
Pengarang dan pembaca juga termasuk dalam anggota masyarakat. Oleh karena
itu, latar belakang pengarang dan bagaimana pengaruh karya sastra terhadap
kedudukan pembaca juga harus diperhatikan. Sosiologi sastra merupakan alat
bantu bagi seorang peneliti untuk lebih memahami berbagai aspek sosial yang
menjadi muatan karya sastra sebagai landasan kritik terhadap karya tersebut.
Kritik sosial dapat dipahami sebagai suatu ide atau gagasan yang bertolak
belakang dari kenyataan maupun berbagai bentuk keadaan yang tidak sesuai
dengan tujuan dan harapan. Akhmad Zaini Akbar mengungkapkan bahwa kritik
sosial adalah suatu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau
berfungsi sebagai kontrol jalannya sebuah sistem sosial atau proses
bermasyarakat. Zaini juga mengatakan bahwa berbagai tindakan sosial ataupun
individual yang menyimpang dari kaidah umum dapat dihindari maupun dicegah

9
Renne Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, Terj. dari Theory of Literature
oleh Melani Budianta, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 110-112
8

dengan cara memfungsikan kritik sosial. Dengan kata lain, kritik sosial berfungsi
sebagai wahana untuk konservasi dan reproduksi sebuah sistem sosial atau
masyarakat.10
Berdasarkan penjelasan mengenai kritik sosial di atas, dapat disimpulkan
bahwa kritik sosial merupakan kritik sastra yang menilai baik buruknya sebuah
karya sastra yang ditelaah dari segi sosial kemasyarakatan. Kritik sosial memang
memiliki fungsi sebagai kontrol terhadap jalannya terhadap suatu proses
bermasyarakat. Adanya pengaruh lingkungan masyarakat terhadap hasil karya
seorang pengarang akan memunculkan kritik sosial terhadap ketimpangan sosial.
Kritik sosial muncul di masyarakat karena adanya hal-hal yang kurang berkenan
dengan tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Pembahasan

Bukan Pasar Malam menggambarkan kehidupan seorang anak revolusi


yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan
itu, terungkap beberapa beberapa kenyatan pahit yang harus dihadapi, kenyataan
yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi. Kemerdekaan yang
telah diproklamirkan tersebut seakan hanya kemerdekaan yang terjadi melalui
ucapan tanpa tindakan. Perjuangan para pahlawan yang saat itu telah
mempertaruhkan segenap jiwanya untuk kemerdekaan seharusnya dijadikan
modal untuk pembangunan nasional pascakemerdekaan, namun kenyataannya saat
itu nasib rakyat Indonesia masih saja terlunta-lunta. Pramoedya yang mengetahui
dan merasakan hal tersebut menggambarkan apa yang terjadi melalui novel Bukan
Pasar Malam. Meskipun, pada intinya alur cerita dalam novel tersebut
mengisahkan kehidupan sebuah keluarga dan detik-detik kematian sang ayah,
namun di dalamnya kita juga menemukan beberapa gugatan-gugatan sosial zaman
itu. Tidak sedikit rakyat yang miskin, dan sengsara di Indonesia, tetapi mereka,
para pejabat sibuk dengan kemerdekaan dirinya sendiri, mereka berlomba untuk

10
Moh. Mahfud M.D., dkk, Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan, (Yogyakarta: UII
Press, 1997), h.47
9

memperoleh kekayaan tanpa memikirkan nasib rakyat yang menjadi tangung


jawabnya.
Bukan Pasar Malam, merupakan salah satu novel karya Pramoedya
Ananta Toer yang di dalamnya mencakup beberapa kritik sosial terhadap
kehidupan. Terutama situasi sekitar pascakemerdekaan, mengingat novel ini terbit
sekitar tahun 1950an. HB Jassin sendiri pernah berpendapat bahwa Bukan Pasar
Malam menampakkan gugatan sosial zamannya, mengenai nasib amtenar kecil,
guru Republik yang enam bulan tidak menerima gaji, penduduk desa yang miskin,
ditambah dengan prasangka dan kepercayaan mistik yang masih kental. 11
Pram menunjukkan sisi spiritualitas jiwa manusia dalam novel ini. Tema
yang diangkat adalah tentang kemanusiaan. Mengisahkan seputaran perjalanan
seorang anak revolusi yang tengah dihadapkan pada kenyataan-kenyataan pahit
tentang kehidupannya. Seorang anak revolusi yang memiliki jiwa perwira, yang
pernah terlibat dalam medan perang seketika melunak ketika dihadapkan pada
kenyataan bahwa ayahnya sakit keras dan terbaring lemah karena penyakit TBC,
sementara di sisi lain dirinya juga dihadapkan oleh kenyataan bahwa hidupnya
dilingkupi kesulitan ekonomi, kondisi politik yang kacau balau
pascakemerdekaan, ayahnya yang juga seorang pejuang nasionalis tak dihargai.
Orang hidup di dunia bukan seperti di pasar malam. Datang beramai-ramai,
berkeliling dan berjalan bersama, pulang pun beramai-ramai. Seseorang hidup di
dunia ini serba sendiri, berjuang sendiri, menikmati kekayaan sendiri, menderita
sendiri, dan kembali pulang ke yang Maha Kuasa sendiri-sendiri.
Novel ini diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1951,
kemudian dinyatakan terlarang pada tahun 1965, dan pada tahun 1999 diterbitkan
oleh Bara Budaya Yogyakarta, lantas diterbitkan lagi oleh Lentera Dipantara
tahun 2004. Adanya pelarangan karya tersebut dikarenakan rezim orde baru yang
tidak memberikan kebebasan kepada pers/berbagai media yang mengktritik
pemerintah. Bukan Pasar Malam dinilai banyak mengkritik pemerintah,
kekuasaan para pejabat, menyinggung presiden, menyinggung masalah ekonomi,

11
Yudiono K.S., Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT Grasindo, 2010), h.
154
10

dan kondisi lainnya sebagai bentuk kegagalan revolusi pascaindonesia merdeka.


Lebih jelas kritik sosial yang terdapat dalam novel Bukan Pasar Malam
mencakup beberapa aspek, seperti yang dijabarkan di bawah ini.

Kritik sosial terhadap kondisi ekonomi


Pascaindonesia merdeka sekitar tahun 1950-an Indonesia menerapkan
sistem demokrasi liberal, di mana masa tersebut merupakan masa yang suram bagi
rakyat Indonesia. Di masa ini yang berkuasa hanyalah kabinet-kabinet di dalam
pemerintahan. Kabinet-kabinet yang berkuasa itu tidak lama berganti dikarenakan
banyaknya partai. Pada masa demokrasi liberal para elit politik sibuk dengan
kursinya atau jabatannya sehingga rakyat Indonesia merasa kesulitan yang
disebabkan oleh beratnya perekonomian dan gangguan keamanan. Hal tersebut
juga berdampak pada sistem ekonomi pada saat itu yang menerapkan sistem
ekonomi liberal. Masa tersebut menimbulkan terjadinya krisis ekonomi, inflasi,
mulai bermunculan korupsi di setiap lembaga pemerintahan, dan lain sebagainya.
Kondisi perekonomian yang kacau serta adanya ketimpangan ekonomi
yang demikian juga disoroti oleh Pram dalam novel Bukan Pasar Malam ini.
Bagian pertama dalam novel Pram sudah menyinggung masalah ekonomi yang
dialami oleh tokoh ‘aku’. Cerita dimulai dengan persiapan perjalanan ke Blora.
Tokoh ‘aku’ harus mencari uang untuk perjalanan itu, dan ketika naik sepeda
mengelilingi Jakarta, ia mendapat kesempatan untuk renungan-renungan tentang
kemiskinan dan kekayaan dan tentang restu-restu kemerdekaan dan demokrasi
yang meragu-ragukan pada awal 1950 di Jakarta.12 Pernyataan Teeuw mengenai
kaitan latar waktu sekitar tahun 1950 tersebut relevan dengan latar waktu yang
digambarkan Pram dalam novel, yakni sekitar tahun 1949-1950an. Hal tersebut
tertera pada surat yang dikirimkan Sang ayah kepada tokoh ‘aku’. Penggambaran
kesulitan ekonomi yang dialami tokoh ‘aku’ saat itu terbukti pada kutipan berikut.
“Mula-mula aku terkejut mendengar berita itu. Sesak di dada. Kegugupan
datang menyusul. Dalam kepalaku terbayang: ayah. Kemudian: uang. Dari

12
A. Teeuw, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer,
(Jakarta: Pustaka Jaya, 1997), h. 118-119
11

mana aku dapat uang untuk ongkos pergi? Dan ini membuat aku
mengelilingi kota Jakarta—mencari kawan-kawan—dan hutang.”13

“Dan untuk ke Blora ini, aku harus pergi mengelilingi Jakarta dulu dan
mendapatkan hutang. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu.”14

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa tokoh ‘aku’ mengalami kesulitan


ekonomi. Untuk perjalanan ke Blora menjenguk ayahnya yang sedang sakit, ia
harus mengelilingi kota Jakarta, mencari temannya yang bersedia meminjamkan
uang.
Bagian pertama memang sudah langsung menyeret pembaca pada keadaan
tokoh ‘aku’ yang terlibat dalam penghayatan dan perasaan si aku, yang seakan-
akan langsung disapa oleh komentar pedasnya.
“Ya, sekiranya aku punya mobil—sekiranya, kataku—semua ini mungkin
takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat bahwa; orang yang punya
itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak
merasai ini.”15

Kutipan di atas membuat pembaca larut dalam suka duka tokoh ‘aku’ yang
berjuang demi perjalanannya ke Blora. Sepeda adalah kendaraan satu-satunya
yang ia miliki, karenanya ia menelusuri kota Jakarta untuk mencari hutang dengan
menaiki sepedanya. Kesusahannya dalam hal kendaraan membuatnya berhutang
untuk modal ongkos perjalannya. Ketimpangan ekonomi yang terjadi di awal
cerita membuat pembaca langsung terbawa oleh perasaan si ‘aku’ yang serba
kekurangan dalam hal ekonomi saat itu. Semua kesulitan-kesulitan yang tokoh
‘aku’ alami tetap ia hadapi terus sampai akhir cerita. Hal tersebut sejalan dengan
penokohan tokoh ‘aku’ yang memiliki jiwa keperwiraan dalam dirinya.
Keterlibatannya dalam peperangan sebelum kemerdekaan menjadikan dirinya kuat
dalam menjalani cobaan hidup yang datang silih berganti menerpanya.
“Kala itu kemiskinan selalu melayang-layang di angkasa dan menyambari
kepalaku”16

13
Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, (Jakarta: Lentera Dipantara, 2003), h. 8
14
Ibid, h. 10
15
Ibid, h. 9
16
Ibid, h. 18
12

“Kian dekat dengan kota kelahiran, kian nyata terbayang-bayang jalan-


jalan yang sempit, penduduknya yang miskin, dan ayah.”17

“Kendaraan satu-satunya yang boleh dipergunakan oleh orang banyak di


kota kami yang kecil itu hanyalah dokar. Rumah sakit terletak dua
kilometer dari rumah kami. Jadi sore itu kami pergi dengan dokar ke
rumah sakit.”18

Di bagian selanjutnya Pram mulai menyinggung kemiskinan yang dialami


kampung halaman tokoh ‘aku’. Penggambaran latar mengenai kampung halaman
Blora tertera jelas dalam novel ini karena sebagian besar latar dailog para tokoh
terjadi di Blora. Pembangunan ekonomi pascakemerdekaan yang saat itu tidak
merata antara penduduk kota-kota besar dan kota kecil, membuat adanya
ketimpangan. Di kota besar seperti Jakarta sudah banyak dijumpai kendaraan
mobil-mobil pribadi dan kendaraan umum, namun di kota kecil seperti Blora saat
itu hanya dokar kendaraan yang menunjang mobilitas para penduduknya.
“Rumah yang kudiami semasa kecilku kini sudah nampak miring.
Sebagian dinding temboknya telah runtuh oleh tuanya. Tanah daerah kami
adalah tanah bercampur kapur dan lempung. Di musim panas tanah
lempung itu pecah-pecah, dan lantai yang terbuat dari batu disobek-
sobeknya.”19

“Blora masih seperti waktu kutinggalkan dulu. Rumah-rumah baru banyak


didirikan. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring.” Aku menengok ke
arah rumah. Meneruskan, “ Dan rumah kami pun sudah begitu rusak.”20

“Sumur pun kuperiksa. Sudah setua duapuluh lima tahun juga dia. Batu-
batunya telah mulai runtuh-runtuh bila orang terlalu kasar menimba. Dan
lantai sekeliling itu telah hilang terendam oleh tanah. Di daerah kami yang
miskin, jarang orang berani membuat sumur. Dan di daerah kami yang
kering, sumur adalah pusat perhatian manusia dalam hidupnya di samping
beras dan garam.”21

“Kami masuk lagi ke dalam rumah –rumah yang gelap karena aliran listrik
belum sampai di tempat kami.”22

17
Ibid, h.20
18
Ibid, h.30
19
Ibid, h. 42
20
Ibid, h. 43
21
Ibid, h. 45
22
Ibid, h. 82
13

Kampung halaman Blora di mana tokoh ‘aku’ tinggal bersama


keluarganya digambarkan sebagai suatu wilayah yang tertinggal dan belum
tersentuh pembangunan oleh pemerintah. Tak bisa dimungkiri memang dari dulu
hingga saat ini pemerintah belum mampu menerapkan penyamarataan
kesejahteraan penduduk di seluruh sudut wilayah Nusantara. Kondisi ekonomi
yang sejahtera, aman, makmur, dan sentausa yang selama ini diharapkan oleh
rakyat pasca proklamasi kemerdekaan nyatanya belum mampu terwujud.
Kampung halaman yang serba kesusahan dan rumahnya yang sudah sangat tidak
layak itu digambarkan dengan jelas oleh tokoh ‘aku’. Rumah yang telah berumur
25 tahun itu tak pernah diperbaiki. Kondisi sumur yang berumur sama dengan
rumahnya juga batu-batunya telah runtuh sedikit demi sedikit karena termakan
usia. Sumur yang jarang dipunyai warga setempat itu menjadi penunjang bagi
warga setempat untuk memperoleh air yang layak. Belum lagi masalah listrik
yang tidak bisa dinikmati oleh warga Blora saat itu, semua kesusahan dan
penderitaan dituangkan melalui penceritaan tokoh. Selain kondisi bangunan,
listrik, dan air yang buruk. Masalah fasilitas kesehatan juga disoroti.
“Dokter tak pernah berkata apa-apa pada kami. Di sini Cuma ada satu
dokter. Dan obat-obatan pun tidak mecukupi.”23

“Engkau sudah pergi ke dokter?” aku bertanya dengan suara patah-patah


pula.
“Aku sudah pergi ke dokter, tapi masih tetap begini saja,” suara yang
patah-patah juga.
“Barangkali lebih baik engkau pergi ke kota besar. Di sana banyak
spesialis,” suaraku yang patah-patah juga.”24

Kesusahan keluarga tokoh ‘aku’ dalam mendapatkan fasilitas kesehatan


yang memadai juga menjadi sorotan dalam novel ini. Adik dan ayahnya yang
menderita sakit hanya mendapatkan perawatan seadanya. Tenaga dokter dan obat-
obatan yang terbatas secara tidak langsung menjadi kritikan bahwa penyamarataan
kesejahteraan penduduk pascakemerdekaan belum terwujud.
Situasi pascakemerdekaan yang digambarkan oleh Pram melalui dialog-
dialog tokohnya saat itu sangat kontras dengan arti kemerdekaan yang selalu

23
Ibid, h. 26
24
Ibid, h. 28
14

diidamkan rakyat selama masa penjajahan. Kemerdekaan yanng hakiki belum


menyentuh semua rakyat Indonesia dan masih banyak rakyat yang mengalami
kesusahan. Semua itu merupakan wujud dari gagalnya revolusi.

Kritik sosial terhadap kondisi politik


Keadaan politik pada masa liberal tahun 1950-an dipegang atau dikuasai
oleh kabinet dari partai yang berkuasa. Di dalam kepemimpinannya para penguasa
hanya mementingkan dirinya sendiri (pribadi) dan memperhatikan partainya
dibandingkan masyarakat. Banyaknya partai politik yang ada saat itu, membuat
orang banyak berlomba-lomba untuk menduduki jabatan tertentu. Gambaran
situasi tersebut juga ditemui dalam novel Bukan Pasar Malam ini. Kritik terhadap
para penguasa dan pemerintahan yang memimpin disampaikan oleh tokoh ‘aku’.
“Antara gelap dan lembayung sinar sekarat dibarat yang merah, sepedaku
meluncuri djalan kecil depan istana. Istana itu- mandi dalam cahaya lampu
listrik. Entah berapa puluh ratus watt. Aku tak tahu. Hanya perhitungan
dalam prasangkaanku mengatakan : listrik di istana itu paling sedikit
sebesar lima kilowatt. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik orang
tinggal mengangkat tilpun dan istana mendapat tambahan.”25

Orang-orang yang memegang kekuasaan dikritik oleh tokoh ‘aku’ sebagai


orang yang selalu mudah dalam segala urusan hidupnya. Ia menyinggung masalah
istana negara yang dengan mudah mendapat akses listrik, bahkan bangunan
tersebut terlihat seperti bermandikan cahaya. Tokoh ‘aku’ mengkritik hal tersebut
karena adanya ketimpangan antara dirinya dengan penguasa yang mendapat
fasilitas listrik dengan mudah sedangkan keluarganya di kampung belum
tersentuh listrik.
“Ya, Mas, ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan
daerah. Dan ayah menolak angkatan itu.”

“Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang begini, perwakilan rakyat?
Perwakilan rakyat banyak panggung sandiwara. Dan aku tidak suka
menjadi badut—sekalipun badut besar. Dan ayah tetap menolak. Ayah pun
pernah mendapat tawaran koordinator pengajaran untuk mengatur
pengajaran untuk seluruh daerah pati. Tapi ayah menolak juga dan bilang ,
tempatku bukan di kantor. Tempatku ada di sekolahan.”26

25
Ibid, h. 9
26
Ibid, h. 65
15

Kutipan di atas menunjukkan sosok ayah sebagai orang yang tidak mau
ikut terlibat dalam dunia politik dan tidak tergiur oleh jabatan. Tokoh ayah dalam
novel tersebut digambarkan sebagai seorang yang hebat, bergelora, dan penuh
semangat menjalankan profesinya sebagai sorang guru. Selain itu, ayah juga
merupakan seorang pejuang nasionalis yang tidak mau diangkat menjadi anggota
perwakilan daerah karena menganggap pekerjaannya tidak efisien, juga tidak mau
menjadi pengawas sekolah republik. Ia tetap mau menjadi guru, yang menurutnya
harus diperkuat barisannya. Tokoh ayah yang digambarkan dalam novel tersebut
seolah menjadi pembanding yang amat jelas dengan orang-orang yang dulu
terlibat dalam partai-partai. Mereka semua berlomba untuk mendapatkan
posisi/jabatan di pemerintahan untuk memperkaya diri mereka sendiri, tanpa
memikirkan nasib rakyat.
“Ayah tuan jatuh sakit oleh kekecewaan—kecewa oleh keadaan yang
terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia
melihatdunia kelilingnya yang jadi bobrok itu—bobrok dengan segala
akibatnya. Mereka yang dulu jadi jendral di daerah gerilya, mereka yang
tadinya menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda
meyerbu, jadi pemimpin pula di daerah gerilya dan jadi bapak rakyat
sungguh-sungguh. Tapi kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama
berebutan gedung dan kursi.”27

Sosok Ayah sebagai seorang pejuang nasionalis sejati seolah-olah kalah


dengan orang-orang yang dulunya sama berjuang namun pascakemerdekaan
mereka malah saling berebut kursi jabatan. Ayah merupakan sosok pemimpin
pemerintahan gerilya yang memiliki watak keras yang hidupnya selalu dipenuhi
oleh perjuangan. Hanya tokoh ayah yang mampu bertahan dengan nilai
kemanusiaan yang ia miliki. Ayah meninggal dengan membawa segala
penderitaan dan kekecewaan yang ia tanggung tentang kehidupan saat itu.
Runtuhnya nilai kemanusiaan setelah gencarnya revolusi diperjuangkan dengan
susah payah, membuat adanya gugatan-gugatan terhadap kondisi politik Indonesia
saat itu.

Kritik sosial terhadap diskriminasi masyarakat

27
Ibid, h. 102
16

Ketaksamarataan kesejahteraan penduduk pasca proklamasi menimbulkan


adanya perbedaan perlakuan antara satu dengan yang lainnya yang disebut sebagai
diskriminasi sosial. Kondisi ekonomi, politik, sosial dan budaya yang masih kacau
di awal kemerdekaan juga disoroti dalam novel ini. Di bagian pertama tokoh ‘aku’
telah menuangkan segala kegelisahan dan penderitaan yang dialaminya, sehingga
kita terbawa dan hanyut oleh komentarnya mengenai ketimpangan sosial yang
ada.
“Dan kalau engkau jadi presiden, dan ibumu sakit atau ambillah bapakmu
atau ambillah seseorang dari keluargamu yang terdekat—besok atau lusa
engkau sudah bisa datang menengok. Dan sekiranya engkau pegawai kecil
yang bergaji cukup hanya untuk bernafas saja, minta perlop untuk pergi
pun susah. Karena sep-sep kecil itu merasa benar kalau dia bisa memberi
larangan sesuatu pada pegawainya.”28

Kesusahan yang dialami tokoh ‘aku’ dalam perjalanannya ke Blora untuk


menegok ayahnya sangat terlihat di bagian pertama. Mulai dari ia yang sibuk
mencari hutang keliling Jakarta ke teman-temannya, kendaraan yang ia miliki
hanya sepeda, hingga ia merasa adanya diskriminasi antara dirinya dengan para
pejabat dan petinggi-petinggi negeri ini. Kutipan di atas menunjukkan adanya
diskriminasi masyarakat berdasarkan status sosialnya. Kesusahan untuk
menjenguk ayah yang sedang sakit mungkin tak pernah ia alami jika ia merupakan
seorang presiden, yang bisa kapan saja dan dengan mudah menjenguk yang sakit.
Diskriminasi juga terlihat pada skala yang lebih kecil lagi yakni di perusahaan
atau tempat bekerja. Perbedaan jabatan antara kepala/pemimpin dan pegawai
membuat seseorang susah untuk meminta izin bekerja.
“Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada
dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang,
engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh
membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang,
engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga
semacam kemenangan demokrasi.”29

Kutipan di atas menunjukkan betapa demokrasi yang dijunjung tinggi


dalam gebyar-gebyar kemerdekaan terlihat bobrok. Demokrasi hanya dimiliki

28
Ibid, h. 10
29
Ibid, h. 10
17

oleh orang yang berkuasa; orang yang beruang, sedangkan yang tak berkuasa dan
tak beruang akan lumpuh, tak bisa berbuat apa-apa. Kemerdekaan sejatinya belum
menyentuh semua rakyat Indonesia. Negeri yang menjunjung tinggi demokrasi
nyatanya masih sangat jauh dari realisasi demokrasi yang sesungguhnya.
Demokrasi diibaratkan sebagai sesuatu yang hanya bisa dimenangi oleh orang
yang memiliki uang .
“Sekarang kepalaku membayangkan kuburan—tempat manusia terakhir.
Tapi kadang-kadang manusia tak mendapat tempat dalam kandungan
bumi. Ya kadang-kadang. Pelaut, prajurit di zaman perang—sering mereka
tidak mendapat tempat tinggal terakhir. Dan kepalaku membayangkan—
kalau ayah yang tak mendapat tempat itu.”30

Sosok ayah sebagai pejuang nasionalis yang jujur, mulia, tidak pernah
pamrih dan tidak mencari keuntungan sendiri menjadi sosok yang kalah di tengah
masyarakat yang berebut kuasa. Selain itu, orang seringkali lupa dengan pahlawan
yang membela di kala perang; lupa dan tidak mau tahu bagaimana mereka
berjuang. Bahkan, sampai mereka mati pun mereka tak mendapat tempat di bumi
pertiwi ini. Hal demikian menjadi bayangan yang menghantui tokoh ‘aku’
sebagai seorang dari keluarga yang muram, keluarga yang membayar mahal untuk
kemerdekaannya, dalam dunia yang penuh ketidakadilan, kekerasan, dan
perebutan kekuasaan. Diskriminasi telah mengkotak-kotakkan antara yang
berkuasa dan yang tidak berkuasa, antara yang kaya dengan yang miskin.
“Air di kota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pembagian air di
ledeng sini tak boleh diharapkan. Barangkali air mandi yang tebal inilah
yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota
besar yang mempunyai pembagian air ledeng dengan teratur, bening, dan
baik. Di sini, orang berjalan-jalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak.”31

Pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara juga dialami oleh


warga di kota besar dan kota kecil. Hal tersebut tergambar dalam novel di bagian
ketujuh pada paragraf awal. Tokoh ‘aku’ menyinggung masalah perairan yang
buruk di kota kecilnya. Berbeda dengan kota besar yang memiliki pengaturan
peraian yang teratur dan baik. Hal tersebut menunjukkan adanya diskriminasi

30
Ibid, h. 16
31
Ibid, h. 42
18

yang dilakukan oleh pemerintah mengenai kebijakan sarana dan prasarana antara
warga di kota besar dengan warga di kota kecil/pedesaan.
“Dan waktu kutanyakan ke sana-sini, barangkali ayah bisa ditempatkan di
sebuah sanatorium—ya, Mas, pertanyaan itu tinggaal jadi dengung belaka.
Tak ada setangkup mulut pun yang berani menjawab. Kalau ada orang
menjawab, jawabannya begini; ongkos di sanatorium mahal sekarang. Dan
kalau tidak begitu jawabannya ialah, sanatorium? Sanatorium sudah penuh
oleh pedagang. Kalau engkau jadi pegawai, kalau engkau bukan pegawai
tinggi jangan sekali-kali berani mengharapakan mendapat tempat di
sanatorium.”32

“Sekiranya ayah jadi wakil di perwakilan rakyat, atau jadi koordinator,


ayah akan jadi pegawai tinggi. Dan kalau ayah jadi pegawai tinggi. Dan
kalau ayah jadi pegawai tinggi barangkali bisa mendapat tempat di
sanatorium.”33

Selain masalah perairan, masalah kesehatan juga menjadi sorotan dalam


novel ini. Sosok ayah dan adik ketiga yang sakit hanya mendapat pengobatan
seadanya dari rumah sakit terdekat di Blora saat itu. Mereka tak mampu untuk
berobat ke sanatorium. Sanatorium hanya dipenuhi oleh pegawai tinggi, orang
yang berduit, dan saudagar. Ongkos pengobatan yang mahal membuat keluarga
tersebut kesulitan untuk mendapat fasilitas kesehatan yang memadai.
Adiknya yang telah lama menderita sakit TBC hanya terbaring lemah di
rumah tanpa menjalani pengobatan hingga tubuhnya begitu kurus kering karena
digerogoti oleh penyakit tersebut. Penyakit tersebut dialami saat ia ikut terkurung
pasukan merah di daerah perang. Keadaan waktu perang yang serba kekurangan
obat-obatan membuat penyakitnya belum bisa disembuhkan dan selepas perang
adiknya pun sulit mendapat pengobatan yang memadai karena mahalnya ongkos
di sanatorium. Adanya diskriminasi mengenai fasilitas kesehatan berdampak juga
pada kesehatan ayah yang juga terserang TBC kian hari memburuk karena
keterbatasan dokter, obat, dan fasilitas kesehatan lainnya.

Simpulan

32
Ibid, h. 64
33
Ibid, h. 70
19

Kritik sosial terhadap situasi pascakemerdekaan dalam novel Bukan Pasar


Malam mencakup kritik sosial terhadap kondisi ekonomi, politik, dan diskriminasi
masyarakat. Bentuk kritik yang pertama, kritik sosial terhadap kondisi ekonomi
yang berisi kritikan terhadap ketimpangan ekonomi yang dialami tokoh ‘aku’
yang sangat kesusahan sangat tidak adil jika dibandingkan dengan para
presiden/pejabat hidupnya selalu mudah. Bentuk kritik yang kedua, kritik sosial
terhadap kondisi politik. Kondisi politik yang kacau pascaproklamasi saat itu
disebabkan oleh banyaknya orang-orang berebut kursi kekuasaan. Pada bagian
kritik ini, tokoh ‘aku’ membandingkan keadaan tersebut dengan sosok ayah
sebagai seorang nasionalis sejati yang jujur dan tidak pernah mencari keuntungan
sendiri. Bentuk kritik yang ketiga yakni, kritik sosial terhadap diskriminasi
masyarakat. Tokoh ‘aku’ merasakan adanya pembedaan perlakuan yang
dialaminya, seperti kemenangan demokrasi yang saat itu hanya untuk orang-orang
yang memiliki uang banyak saja, tidak meratanya kesejahteraan antara penduduk
di kota besar dengan kota kecil tempat tinggalnya, dan sanatorium hanya dihuni
untuk pegawai tinggi, saudagar, dan orang yang beruang. Berbagai kritik tersebut
merupakan suatu bentuk ketidakadilan pada masa revolusi pascakemerdekaan.
20

DAFTAR PUSTAKA

Ananta Toer, Pramoedya. Bukan Pasar Malam. Jakarta: Lentera Dipantara. 2003.
Dhakidae, Daniel. “Pramoedya Ananta Toer, Pujangga Penuh Paradoks”. dalam
harian Kompas No. 317, Senin, 23 Mei 1994.
K.S., Yudiono. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo. 2010
Kurniawan, Eka . “Buku, Perang, dan Penjara”, dalam harian Merdeka No. 2030,
22 Juni 1956.
Kurniawan, Eka. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis.
Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia. 1999.
Mahfud M.D., Moh. Dkk. Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan.
Yogyakarta: UII Press. 1997.
Ratna, Nyoman Kutha. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2009.
Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari
Strukturalisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2004.
Redaksi, Dewan. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. 2004.
Scherer, Savitri Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi. Jakarta:
Komunias Bambu. 2012.
Teeuw, A. Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta
Toer. Jakarta: Pustaka Jaya. 1997.
Wellek, Renne, dan Austin Warren. Teori Kesusastraan. Terj. dari Theory of
Literature oleh Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
1993.