Вы находитесь на странице: 1из 20

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hukum adalah sebagai alat, sehingga secara praktis politik hukum
juga merupakan alat atau sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh
pemerintah untuk menciptakan sistem hukum nasional guna mencapai
cita-cita bangsa dan tujuan negara.
Berdasarkan pada kenyataan bahwa negara kita mempunyai tujuan
yang harus dicapai dan upaya untuk mencapai tujuan itu dilakukan
dengan menggunakan hukum sebagai alatnya melalui pemberlakuan dan
penidakberlakuan hukum-hukum sesuai dengan tahapan-tahapan
perkembangan yang dihadapi oleh masyarakat dan negara kita.
Politik hukum di Indonesia ada yang bersifat permanen atau jangka
panjang dan ada yang bersifat periodik. Yang bersifat permanen misalnya
permberlakuan prinsip perjanjian yudisial, ekonomi, kerakyatan,
keseimbangan antara kepastain hukum. Keadilan dan kemanfaatan,
penggantian hukum-hukum kolonial dengan hukum-hukum nasional,
penguasaan sumber daya alam oleh negara, kemerdekaan kekuasaan
kehakiman, dan sebagainya. Disini terlihat bahwa beberapa prinsip yang
dianut dalam Undang-Undang Dasar 1945 sekaligus berlaku sebagai
politik hukum.
Adapun yang bersifat periodik adalah politik hukum yang dibuat
sesuai dengan perkembangan situasi yang dihadapi pada setiap periode
tertentu baik yang akan memberlakukan maupun yang akan dicabut
misalnya pada periode 1973 – 1978 ada politik hukum untuk melakukan
kodifikasi dan unifikasi dalam bidang-bidang hukum tertentu. Pada periode
1983 – 1988 ada politik hukum untuk membentuk peradilan tata usaha
negara, dan pada periode 2004 – 2009 ada lebih dari 250 rencana
pembuatan UU yang dicantumkan di dalam program legislasi Nasional.
Disatu sisi, hukum baik dalam bidang politik maupun bidang lainnya
memiliki tujuan untuk masyarakat, dimana salah satu tujuannya adalah
dibidang pendidikan. Di Indonesia, hal ini dapat dilihat dalam kaidah Pasal
2

28C Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyebutkan bahwa,


Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari
ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan
kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.1
Berdasarkan ketentuan Pasal 28C Undang-Undang Dasar 1945
tersebut maka dapat dipahami bahwa Pemerintah mempunyai wewenang
dalam mengatur penyelenggaraan pendidikan nasional melalui standar-
standar (peraturan pemerintah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan)
yang telah disepakati. Standar-standar itu antara lain berupa penyusunan
kurikulum nasional. Sistem akreditasi dan evaluasi nasional. Sistem
pemerataan pendidikan, serta pemerataan kualitas pendidikan di berbagai
daerah.
Disatu sisi mengembangkan satu sistem pendidikan adalah salah
satu langkah penting yang diambil oleh negara-negara modern sebagai
upaya untuk dapat mengontrol dan keluar dari krisis motivasi. Dengan
mengemban nilai-nilai, ideologi dan kepentingan-kepentingan negara.
Sehingga berdasarkan uraian tersebut diatas, tentunya amat sangat
menarik apabila penulis membahas lebih lanjut mengenai mengenai
hukum dan aliran realisme hukum dan hubungannya, dan akan
dituangkan dalam karya tulis yang berjudul : “PERKEMBANGAN POLITIK
HUKUM DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
yang akan dibahas pada penelitian ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan Politik Hukum?
2. Bagaimanakah perkembangan Politik Hukum di bidang pendidikan
dan pengaruhnya di bidang pendidikan di Indonesia?

1 Mohammad Mahfud MD, etc., Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar


Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta : Sekretariat Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia, 2010. hlm. 133
3

C. Tujuan dan Manfaat


Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dalam
penelitian ini di uraikan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Politik Hukum.
2. Untuk mengetahui perkembangan Politik Hukum di bidang
pendidikan dan pengaruhnya di bidang pendidikan di Indonesia.
Karya tulis ini diharapkan dapat memiliki beberapa bentuk manfaat
yaitu:
a. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan oleh penulis adalah karya tulis
ini diharapkan mampu menambah ilmu pengetahuan mengenai
perkembangan Politik Hukum di bidang pendidikan dan
pengaruhnya di bidang pendidikan di Indonesia pada umumnya
baik bagi penulis maupun pembaca.
b. Manfaat Akademis
Karya tulis ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan serta
bacaan bagi mahasiswa ilmu hukum serta dapat membantu
perkembangan ilmu pengetahuan dibidang hukum.
c. ManfaatTeoritis
Manfaat Teoritis yang diharapkan oleh penulis adalah karya tulis
ini diharapkan mampu menambah ilmu pengetahuan dibidang
teori hukum pada umumnya baik bagi penulis maupun
pembaca, serta secara khusus dapat membantu pemahaman
mengenai perkembangan Politik Hukum di bidang pendidikan
dan pengaruhnya di bidang pendidikan di Indonesia.

D. Metode penelitian
Dalam suatu penelitian hukum, metode yang dipergunakan berbeda
dengan metode pada penelitian sosial, pada metode penelitian hukum
penempatan istilah kualitatif dan kuantitatif di letakan pada teknik analisa,
4

sedangkan untuk metode generalnya yang lazim dipergunakan pada


penelitian hukum adalah metode penelitian yuridis normatif, yuridis
empiris, atau yuridis Normatif-empiris (gabungan).2Pada penelitian ini
metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian hukum
yuridis normatif dimana menurut Soetandyo Wignjosoebroto,
menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum doctrinal 3.
Sedangkan Ronny Hanitjo Soemitro, menyebutkan dengan istilah metode
penelitian hukum yang normatif atau metode penelitian hukum yang
doctrinal4.Penulis menggunakan pendekatan yuridis normatif oleh karena
sasaran penelitian ini adalah hukum atau kaedah (norm). Pengertian
kaedah meliputi asas hukum, kaedah dalam arti sempit (value), peraturan
hukum konkret. Penelitian yang berobjekan hukum normatif berupa asas-
asas hukum, sistem hukum, taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal.

2AdiRianto, Aspek Hukum Dalam Penelitian, Jakarta : Yayasan Obor, 2015, hlm. 5
3Ibid.,
hlm. 7.
4 Rachmad Baro, Penelitian Hukum Non Doktrinal, Cetakan Kelima, Yogyakarta :
Deeppublishing, 2016, hlm. 97
5

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Politik


Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam
masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan,
khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya
penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat
politik yang dikenal dalam ilmu politik.5
Pengertian Politik atau definisi dan makna politik secara umum yaitu
sebuah tahapan dimana untuk membentuk atau membangun posisi-posisi
kekuasaan didalam masyarakat yang berguna sebagai pengambil
keputusan-keputusan yang terkait dengan kondisi masyarakat.6
Pandangan dari para ahli terkait dengan politik, diantaranya adalah :7
1. Aristoteles mengemukakan bahwa politik adalah usaha yang
ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
2. Joice Mitchel mengemukakan bahwa politik adalah pengambilan
keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum untuk
masyarakat seluruhnya.
3. Roger F. Soltau mengemukakan bahwa politik adalah bermacam-
macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan
pelaksanaan tujuan itu. Menurutnya politik membuat konsep-
konsep pokok tentang negara (state), kekuasaan (power),
pengambilan keputusan (decision making), kebijaksanaan (policy of
beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).
4. Johan Kaspar Bluntchli mengemukakan bahwa Ilmu politik
memerhatikan masalah kenegaraan yang mencakup paham,
situasi, dan kondisi negara yang bersifat penting.

5 Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia Kesinambungan dan Perubahan, Jakarta
: LP3ES, 2012. hlm. 2
6 Veri Junaidi, etc, Politik Hukum Sistem Pemilu,Jakarta : Yayasan Perludem, 2016. hlm.

2
7 Ibid., hlm. 2
6

5. Hans Kelsen mengatakan bahwa politik mempunyai dua arti, yaitu


sebagai berikut.
a. Politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan manusia
atau individu agar tetap hidup secara sempurna.
b. Politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan cara (teknik)
manusia atau individu untuk mencapai tujuan.

B. Tinjauan Umum Tentang Politik Hukum


Politik hukum adalah ”legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang
hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru
maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan
negara. Menurut Patmo Wahjono dalam politik hukum Moh. Mahfud MD
(2009:1) mengatakan bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar yang
menentukan arah, bentuk, maupun isi hukum yang akan dibentuk.
Sedangkan Satjipto Rahardjo mendefinisikan politik hukum sebagai
aktifitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu
tujuan sosial dengan hukum tertentu di dalam masyarakat yang
cakupannya meliputi jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar,
yaitu:8
1. Tujuan apa yang hendak dicapai melalui sistem yang ada.
2. Cara-cara apa yang yang mana yang dirasa paling baik untuk
dipakai dalam mencapai tujuan tersebut
3. Kapan waktunya dan melalui cara bagaimana hukum itu perlu
diubah.
4. Dapatkah suatu pola yang baku dan mapan dirumuskan untuk
membantu dan merumuskan proses pemilihan tujuan serta cara-
cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan baik.
Dengan demikian, politik hukum merupakan pilihan tentang hukum
yang akan diberlakukan sekaligus pilihan tentang hukum-hukum yang
akan dicabut atau tidak diberlakukan yang kesemuanya dimaksudkan

8 Abdul Hakim Siagian, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta : LP3ES, 2015. hlm. 2
7

untuk mencapai tujuan negara seperti yang tercantum didalam


pembukaan UUD 1945.9
Definisi tentang politik hukum cukup banyak dijumpai dalam literature,
baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing. Imam Syaukani
dan A. Ahsin Thohari membagi definisi politik hukum yang dikemukakan
beberapa pakar menjadi dua bagian, yaitu: 10
1. Perspektif etimologis
Politik hukum dalam perspektif ini lebih dilihat secara kebahasaan.
Politik hukum merupakan terjemahan dari bahasa Belanda,
rechtspolitiek. Recht dalam bahasa Indonesia berarti hukum,
sementara kata hukum berasal dari bahasa Arab hukm yang berarti
putusan (judgement), ketetapan (provision), perintah (command),
dan pengertian lainnya. Sementara kata politiek mengandung arti
beleid, yaitu kebijakan (policy). Politik, dalam penelusuran
beberapa literatur berasal dari bahasa Yunani "Politica" (politika)
yang berarti hubungan yang terjadi antar individu (anggota
masyarakat) dalam suatu negara. Dalam hubungan (interaksi) yang
resiprokal tersebut, terjadi kesepakatan-kesepakatan terhadap
suatu keputusan atau kebijakan yang bersifat kolektif. Dengan
demikian, secara etimologis, politik hukum adalah kebijakan-
kebijakan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam bidang
hukum, termasuk pengambilan keputusan-keputusan hukum yang
bersifat kolektif.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik hukum didefinisikan
sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan
dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan,
dan cara bertindak.11 Definisi dari KBBI tersebut lebih melihat politik
hukum sebagai blueprint terhadap sekalian kebijakan yang akan
diambil dalam rangka penegakan hukum pada segenap dimensi
kehidupan masyarakat. Dengan demikian, politik hukum merupakan

9 P. Anthonius Sitepu, Teori-Teori Politik, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2012. hlm. 21


10 Ibid., hlm. 23
11 Ibid., hlm. 24
8

patronase bagi stakeholder dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan


kewenangannya di bidang hukum.
2. Perspektif terminologis
Definisi politik hukum secara terminologis, banyak diungkapkan
beberapa pemikir yang mendalami kajian politik hukum, salah satunya
adalah Satjipto Rahardjo yang menyatakan Politik hukum adalah aktivitas
memilih dan cara (metode) yang akan digunakan dalam upaya mencapai
suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat (negara).
Berdasar pada definisi tersebut, Satjipto Rahardjo mengemukakn
beberapa pertanyaan mendasar yang muncul dalam studi politik hukum,
yaitu :12
a. Tujuan apa yang ingin dicapai dengan system hukum yang ada
(diterapkan);
b. Cara-cara (mekanisme) apa yang dianggap paling baik (efektif)
untuk mencapai tujuan tersebut;
c. Kapan dan bagaimana hukum harus diubah; dan
d. Dapatkah dirumuskan suatu pola yang baku dan mapan yang
dapat membantu manusia untul memutuskan tujuan-tujuan serta
cara-cara (mekanisme) untuk mencapai tujuan tersebut secara
baik.
Kemudian Padmo Wahjono juga menyatakan Politik hukum
merupakan kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi
(substansi) hukum yang akan dibentuk, serta bagaimana penerapan dan
penegakannya.13
Sementara menurut Teuku Muhammad Radhie, politik hukum adalah
suatu pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum yang
berlaku di wilayahnya, dan mengenai arah perkembangan hukum yang
dibangun.8 Kata politik dalam “politik hukum” dapat diartikan sebagai
kebijaksanaan atau policy dari penguasa.14

12 Ibid., hlm. 24-25


13 Novianto M. Hantoro, Politik Hukum : Sudut Pandang Hukum Tata Negara, Jakarta :
Sekretariat Jenderal DPR RI, 2014. hlm. 9
14 Ibid., hlm. 9
9

Menurut Soedarto Politik hukum adalah kebijakan Negara via institusi-


institusi negara yang berwenang untuk menetapkan peraturan yang
dikehendaki (yang selaras dengan nilai-nilai dan aspirasi masyarakat)
untuk mencapai tujuan negara.15
Politik hukum yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh
pemerintah Indonesia meliputi Pembangunan hukum yang berintikan
pembuatan dan pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat
sesuai dengan kebutuhan serta pelaksanaan ketentuan hukum yang telah
ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak
hukum.

C. Perkembangan Politik Hukum Pendidikan Di Indonesia


Pendidikan dan politik adalah dua hal yang berhubungan erat dan
saling mempengaruhi. Dengan kata lain, berbagai aspek pendidikan
senantiasa mengandung unsur – unsur politik. Begitu juga sebaliknya,
setiap aktivitas politik ada kaitannya dengan aspek – aspek kependidikan.
Politik pendidikan atau the politics of education adalah kajian tentang
relasi antara proses munculnya berbagai tujuan pendidikan dengan cara –
cara penyampaiannya.
Sebagai suatu proses yang banyak menentukan corak dan kualitas
kehidupan individu dan masyarakat, tidak mengherankan apabila semua
pihak memandang pendidikan sebagai wilayah strategis bagi kehidupan
manusia sehingga program – program dan proses yang ada di dalamnya
dapat dirancang, diatur, dan diarahkan sedemikian rupa untuk
mendapatkan output yang diinginkan. Ini yang menjadi salah satu alasan
mengapa suatu Negara sangat pedulu dan menyediakan anggaran dalam
jumlah yang besar untuk bidang pendidikan. Semua itu dilakukan dalam
rangka membangun suatu system pendidikan yang memiliki kharakteristik,
kualitas, arah, dan output yang diinginkan. Untuk memastikan terwujudnya
keinginan tersebut, banyak Negara yang menerapkan control yang sangat

15 Ibid., hlm. 9-10


10

ketat terhadap program – program pendidikan, baik yang diselenggarakan


sendiri oleh Negara maupun yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Pemerintah adalah bagian dari Negara yang paling kasat mata dan
dapat juga menjadi bagian paling penting dan paling aktif dari Negara,
tetapi pemerintah bukanlah keseluruhan dari Negara. Negara terdiri dari
berbagai institusi yang masing masing memiliki fungsi dan peran tersendiri
dalam tatanan kehidupan kenegaraan.
Menurut Dale, control Negara terhadap pendidikan umunnya
dilakukan melalui empat cara. Pertama, system pendidkan diatur secara
legal. Kedua, system pendidikan dijalankan sebagai birokrasi,
menekankan ketaatan pada aturan dan objektivitas. Ketiga, penerapan
wajib pendidikan (compulsory education). Keempat, reproduksi politik dan
ekonomi yang berlangsung disekolah berlangsung dalam konteks tertentu.
Dale menambahkan bahwa perangkat Negara dalam bidang pendidikan,
sepeti sekolah dan administrasi pendidikan memiliki efek tersendiri
terhadap pola, proses, dan praktik pendidikan.16
Setiap periode perkembangan pendidikan nasional adalah persoalan
penting bagi suatu bangsa karena perkembangan tersebut menentukan
tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknolgi, karakteristik, dan
kesadara politik yang banyak mempengaruhi masa depan bangsa
tersebut. Setiap periode perkembangan pendidikan adalah faktor politik
dan kekuatan politik karena pada hakikatnya pendidikan adalah cerminan
aspirasi, kepentingan, dan tatanan kekuasaan kekuatan – kekuatan politik
yang sedang berkuasa.
Ada empat strategi pokok pembangunan pendidikan nasional, yaitu : 17
1. Peningkatan pemerataan kesempatan pendidikan
2. Peningkatan relevansi pendidikan dengan pembangunan
3. Peningkatan kualitas pendidikan
4. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan.

16 Susanto, Jurnal :Politik Hukum Dam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia,


Surakarta : Universitas Muhammadiyah, 2016. hlm. 17
17 Ibid., hlm. 19
11

Sedangkan sketsa penyelenggaraan pendidikan di Negara ini dapat


dibagi atas enam periode perkembangan, yaitu :18
1. Periode pertama adalah periode awal atau periode prasejarah yang
berlangsung hingga pertengahan tahun 1800an. Pada masa ini
penyelenggaraan pendidikan di tanah air mengarah pada
sosialisasi nilai – nilai agama dan pembangunan keterampilan
hidup. Penyelenggaraan pendidikan pada periode ini dikelola dan
dikontrol oleh tokoh – tokoh agama.
2. Periode kedua adalah periode kolonial Belanda yang berlangsung
dari tahun 1800an hingga tahun 1945. Pada periode ini
penyelenggaraan pendidikan ditanah air diwarnai oleh proses
modernisasi dan pergumulan antara aktivitas pendidikan
pemerintahan colonial dan aktivitas pendidikan kaum pribumi.
Disatu pihak, pemerintah colonial berusaha menempuh segala cara
untuk memastikan bahwa berbagai kegiatan pendidikan tidak
bertentangan dengan kepentingan kolonialisme dan mencetak para
pekerja yang dapat diekploitasi untuk mendukung misi sosial,
politik, dan ekonomi pemerintah kolonial.
3. Periode ketiga adalah periode pendudukan Jepang yang
berlangsung dari tahun 1942 hingga tahun 1945. Berbagai kegiatan
pendidikan pada periode ini diarahkan pada upaya mendiseminasi
nilai – nilai dan semangat nasionalisme serta mengobarkan
semangat kemerdekaan ke seluruh lapisan masyarakat. Salah satu
aspek perkembangan dunia pendidikan pada masa periode ini
adalah dimulainya penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar dalam lingkungan pendidikan formal.
4. Periode keempat adalah periode Orde Lama yang berlangsung dari
tahun 1945 hungga tahun 1966. Pada periode ini kegiatan
pendidikan di tanah air lebih mengarah pada pemantapan nilai –
nilai nasionalisme, identitas bangsa, dan pembangunan fondasi
ideologis kehidupan berbangsa dan bernegara. Tujuan utama

18 Ibid., hlm. 21
12

pendidikan pada periode ini adalah nation and character building


dan kendali utama penyelenggaraan pendidikan nasional
dipengang oleh tokoh – tokoh nasionalis.
5. Periode kelima adalah periode Orde Baru yang berlangsung dari
tahun 1967 hingga tahun 1998. Pada periode ini pendidikan
menjadi instrument pelaksanaan program pembangunan di
berbagai bidang, khususnya bidang pedagogi, kurikulum, organiasi,
dan evaluasi pendidikan diarahkan pada akselerasi pelaksanaan
pembangunan. Karena focus utama pembagunan nasional pada
era Orde Baru adalah pada bidang ekonomi.
6. Periode keenam adalah periode Reformasi yang dimulai pada
tahun 1998. Pada periode ini semangat desentralisasi,
demokratisasi, dan globalisasi yang dibawa oleh gerakan reformasi
sehingga penataan system pendidikan nasional menjadi menu
utama. Dengan menelusuri prinsip – prinsip penerapan yang diatur
dalam berbagai peraturan perundang – undangan terkait
Pemerintah pusat mempunyai wewenang dalam mengatur
penyelenggaraan pendidikan nasional melalui standar-standar (peraturan
pemerintah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan) yang telah
disepakati. Standar-standar itu antara lain berupa penyusunan kurikulum
nasional. Sistem akreditasi dan evaluasi nasional. Sistem pemerataan
pendidikan, serta pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Konstitusi yang menjamin pendidikan nasional adalah Pancasila dan
Undang-Undang. Hal ini tercantum dalam Pasal 31 Undang-Undang
Dasar 1945 :19
1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan
2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan

19 Ibid., hlm. 21-22


13

serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa


yang diatur dengan undang-undang.
4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-
kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara
serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk
memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Titik awal dari manajemen akar rumput (grass root) pendidikan dan
pelatihan ialah lembaga pendidikan dengan mengikutsertakan masyarakat
sebagai salah satu stakeholder dari penyelenggaraan pendidikan. Apabila
ingin mempelajari arah kebijakan pendidikan nasional dewasa ini maka
kita menggunakan tiga sumber utama. Adapun dasar dari pendidikan
nasional kita yaitu : 20
1. GBHN 1999-2004 atau TAP MPR RI No. IV/MPR/1999 tentang
GBHN tahun 1999-2004 telah dikemukakan visi haluan negara
dalam bidang pendidikan dinyatakan bahwa :
a. Pendidikan yang bermakna diperlukan bagi pengembangan
pribadi dan watak bagi hidup kebersamaan dan toleransi.
b. Kita perlu membangun masyarakat yang demokratis, damai,
berkeadilan dan berdaya saing. Sedangkan misi pendidikan
nasional adalah menciptakan suatu sistem dan iklim pendidikan
nasional yang demokratis dan bermutu.
2. Program Pembangunan Nasional (Prolegnas 2000-2004)
pendidikan terdapat arah dan program-program sebagai berikut :
a. Memperluas dan pemerataan pendidikan dengan adanya dana
yang mencukupi.
b. Meningkatkan kemampuan dan mutu hidup para pendidikan
c. Membenahi kurikulum
d. Memberdayakan lembaga pendidikan

20 Ibid., hlm. 22
14

e. Meningkatkan manajemen pendidikan, termasuk upaya


desentralisasi dan otonomi pendidikan.
3. APBN 2001
APBN 2001 pada dasarnya adalah merupakan penjabaran dari
propenas yaitu kegiatan tahunan yang akan dilaksanakan dalam
tahun anggaran 2001. apabila dicermati APBN 2001 ada 8 kegiatan
pokok yaitu :
a. Pelaksanaan wajib belajar 9 tahun
b. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan
c. Pendidikan alternatif
d. Bea siswa
e. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
f. Peningkatan Profesionalisme Guru
g. Pembenahan Kurikulum
h. Pelaksanaan Demokrasi Dan Desentralisasi Melalui Komite
Sekolah Atau Dewan Sekolah
Politik hukum terhadap pendidikan di Indonesia, dapat dilihat dari
adanya kontrol Negara terhadap pendidikan yang pada umumnya
dilakukan melalui empat cara. Pertama, system pendidkan diatur secara
legal. Kedua, system pendidikan dijalankan sebagai birokrasi,
menekankan ketaatan pada aturan dan objektivitas. Ketiga, penerapan
wajib pendidikan (compulsory education). Keempat, reproduksi politik dan
ekonomi yang berlangsung disekolah berlangsung dalam konteks tertentu.
Disatu sisi Politik berpengaruh terhadap sumberdaya pendidikan
seperti gaji guru, sarana prasarana penunjang kegiatan belajar, dan
pelatihan guru Pendanaan Pendidikan seperti disebutkan dalam Pasal 31
ayat (4) UUD 1945 bahwa Negara meprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya 20% dari APBN/APBD dengan kenyataan dan praktik
pendanaan pendidikan. Kenyatannya bahwa anggran penyelenggaraan
pendidikan sebesar 20% APBN/APBD tersebut didalamnya sudah
termasuk gaji guru dan lain-lain. Ketidakonsistenan dalam pendanaan
pendidikan meyebabkan sarana pendukung pendidikan seperti gedung
15

sekolah, lapangan olahraga, dan alat prasarana lainnya menjadi tidak


sesuai dengan kebutuhan. Terlebih lagi anggaran pendidikan tahun 2016
sangatlah tinggi, pasalnya anggaran pendidikan dalam APBN 2016
mencapai Rp. 419, 2 triliun atau 20% dari total belanja negara RP. 2.095,7
triliun. Anggaran tersebut akan dikucurkan melalui belanja negara
pemerintah pusat untuk Kementrian Pendidikan dan Kebuadayaan
sebesar Rp. 49,2 triliun. Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan
Tinggi Rp. 39,5 triliun kementrian Agama Rp 46,8 triliun. Kemudian untuk
Kementrian Negara dan lembaga lainnya RP 10,7 triliun. Selain itu
anggaran pendidikan melalui transfer kedaerah dan dana desa mendapat
kucuran sebesar Rp 267,9 triliun dan anggaran pendidikan melalui
pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp 5 triliun. Dengan begitu total
seluruh anggaran pendidikan sebesar R 419,2 triliun dan dengan hal
tersebut amaka telah memenuhi Undang-Undang Dasar diamana
anggaran untuk pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN.
Disisi lain politik hukum di bidang pendidikan berpengaruh pada
sistem persekolahan seperti struktur sekolah, sistem penghargaan
terhadap guru, dan sistem penerimaan siswa, dimana perluasan akses
pendidikan merupakan pilar kebijakan yang diarahkan untuk memperluas
daya tampung satuan pendidikan dengan tujuan akhir agar semua warga
negara mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan layanan
pendidikan. Selama kurun waktu 2012-2015 telah dilaksanakan sejumlah
progam perluasan akses pendidikan sebagai implementasi dari kebijakan
pokok perluasan dan pemerataan akses pendidikan.
Di satu sisi Politik berpengaruh pada mutu lulusan yang diihat dari
bagaimana lulusan pendidikan berperilaku politik, berperilaku budaya,
berperilaku ekonomi dan berperilaku sosial, dimana Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 menganut model pembelajaran active learning dan
student center learning untuk mewujudkan sekolah sebagai pusat
pembudayaan kemampuan, nilai dan sikap. Ujian Nasional yang dilakukan
sekali pada akhir jenjang pendidikan dalam beberapa mata elajaran dalam
bentuk tes objektif sukar diharapkan dapat membudayakan berbagai
16

dimensi pembelajaran. Ekses dari ujian Nasional adalah terjadinya proses


belajar di Sekolah sebagai proses menghafal dan latihan menjawab soal.
Ujian Nasional hakekatnya memperkuat model pembelajaran yang
menggunakan kegiatan mendengar, mencatat, dan menghafal suatu
proses pembelajaran yang sejak tahun 1971 ingin ditinggalkan, tetapi
karena alasan ketersediaan dana model ini terus berjalan. Melalui
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mode semacam ini
sesungguhnya ingin ditinggalkan tetapi malah diperkuat dengan
ditetapkannya UN sebagai penentu kelulusan. Ujian Nasional disebut-
sebut sebagai cara menguji dimensi kognitif. Padahal, kemampuan
kognitif dalam arti luas yaitu meliputi kemampuan meneliti, kemampuan
menganalisis, kemampuan menilai, kemampuan mengidentifikasi
masalah, dan kemampuan memecahkan maslaah yang kesemuaannya
memerlukan kemampuan membaca kemampuan menuliskan pemikiran
dan laporan, kemampuan kalkulasi, yang kesemuannya perlu
dibudayakan sehingga segala kemampuan yang berkembang menjadi
bagian dari sistem kepribadian peserta didik yang meliputi watak dan
moralnya.
Namun kontrol negara terhadap perkembangan pendidikan di
Indonesia dewasa ini sudah tidak efektif lagi, hal ini dapat dilihat dari
kualitas pendidikan di Indonesia saat ini yang sangat memprihatinkan. Ini
dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat
Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu
komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan
penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan
manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia,
Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998),
dan ke-109 (1999).21
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC),
kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara
di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan

21 Ibid., hlm. 24
17

The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing
yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang
disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama
Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin
teknologi dari 53 negara di dunia.22
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah
masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut
masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun
permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
1. Rendahnya sarana fisik,
2. Rendahnya kualitas guru,
3. Rendahnya kesejahteraan guru,
4. Rendahnya prestasi siswa,
5. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
7. Mahalnya biaya pendidikan.
8. Pengaruh teknologi dan informasi yang mempengaruhi pola pikir
generasi muda,
9. Pergeseran pandangan di masyarakat mengenai makna
pendidikan, dimana lembaga pendidikan seperti sekolah,
universitas, dan Institusi pendidikan dipandang sebagai tempat
mencari gelar, bukan ilmu.
Faktor-faktor di atas berperan secara besar dalam mempengaruhi
mutu dan kualitas di Indonesia, dan hal ini kedepannya dapat menjadi
fokus bagi pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan yang bersifat
negatif di bidang pendidikan, guna mencegah terjadinya penurunan
kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

22 Ibid., hlm. 25
18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya dapat diketahui kesimpulan
pada karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat dibuat kesimpulan
bahwa Politik hukum adalah kebijakan Negara via institusi-institusi
negara yang berwenang untuk menetapkan peraturan yang
dikehendaki (yang selaras dengan nilai-nilai dan aspirasi
masyarakat) untuk mencapai tujuan negara.
2. Politik hukum terhadap pendidikan di Indonesia, dapat dilihat dari
adanya kontrol Negara terhadap pendidikan yang pada umumnya
dilakukan melalui empat cara. Pertama, system pendidkan diatur
secara legal. Kedua, system pendidikan dijalankan sebagai
birokrasi, menekankan ketaatan pada aturan dan objektivitas.
Ketiga, penerapan wajib pendidikan (compulsory education).
Keempat, reproduksi politik dan ekonomi yang berlangsung
disekolah berlangsung dalam konteks tertentu.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat dirumuskan mengenai
saran pada karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan kedepannya politik hukum yang akan atau telah
dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah Indonesia meliputi
Pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan
pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai
dengan kebutuhan serta pelaksanaan ketentuan hukum yang telah
ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para
penegak hukum.
2. Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing di masa depan
diharapkan dapat memberikan dampak bagi perwujudan eksistensi
manusia dan interaksinya sehingga dapat hidup bersama dalam
keragaman sosial dan budaya, meningkatnya taraf hidup
19

masyarakat, meningkatnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai


humanisme yang meliputi keteguhan iman dan taqwa serta
berakhlak mulia, etika, wawasan kebangsaan, kepribadian tangguh,
ekspresi estetika dan kualitas jasmani. Kebijakan peningkatan mutu
pendidikan diarahkan pada pencapaian mutu pendidikan yang
semakin meningkat yang mengacu pada standar nasional
pendidikan (isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan
dan penilaian). Untuk keperluan tersebut diharapkan kedepannya
pemerintah dalam pandangan politik hukumnya dapat menentukan
arah kebijaksanaan dibidang pendidikan yang dapat menunjang
kebutuhan masyarakat yang diimbangi dengan adanya efek
perkembangan jaman dibidang teknologi dan informasi, yang
sedikit banyaknya mempengaruhi perspektif masyarakat mengenai
pentingnya pendidikan.
20

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku
Abdul Hakim Siagian, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta : LP3ES, 2015.

Adi Rianto, Aspek Hukum Dalam Penelitian, Jakarta : Yayasan Obor,


2015

Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia Kesinambungan dan


Perubahan, Jakarta : LP3ES, 2012.

Mohammad Mahfud MD, etc., Naskah Komprehensif Perubahan Undang-


Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta : Sekretariat
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2010.

Novianto M. Hantoro, Politik Hukum : Sudut Pandang Hukum Tata


Negara, Jakarta : Sekretariat Jenderal DPR RI, 2014.

P. Anthonius Sitepu, Teori-Teori Politik, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2012.

Rachmad Baro, Penelitian Hukum Non Doktrinal, Cetakan Kelima,


Yogyakarta : Deeppublishing, 2016

Veri Junaidi, etc, Politik Hukum Sistem Pemilu,Jakarta : Yayasan


Perludem, 2016.

B. Undang-Undang
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945

Republik Indonesia, TAP MPR RI No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun


1999-2004

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003

C. Artikel

Susanto, Jurnal :Politik Hukum Dam Sistem Pendidikan Nasional Di


Indonesia, Surakarta : Universitas Muhammadiyah, 2016.